Actions

Work Header

The Doctor Who Couldn’t Ignore Him

Summary:

Baek Kang-hyuk dikenal sebagai dokter trauma yang gila kerja, dingin, dan nyaris tidak punya rasa takut. Seorang ahli bedah yang terbiasa menghadapi zona perang dan pasien di ambang kematian.

Sementara Cale Henituse hanya menginginkan satu hal sederhana:
Tidur nyenyak tanpa masalah.
Sayangnya, hidup tidak pernah semudah itu bagi Cale.

Chapter 1: Awal Pertemuan

Chapter Text

Malam itu hujan deras mengguyur kota Seoul.
Cale berdiri di trotoar dengan wajah pucat sambil menatap layar ponselnya yang mati. Jas hitam mahalnya sedikit basah, rambut merahnya menempel di dahinya.

“…Kenapa aku harus terseret ke dunia ini…” gumamnya lelah.
Ia baru saja lolos dari kelompok pria bersenjata yang mengejarnya karena salah paham aneh terkait barang berharga yang sebenarnya bahkan tidak ia inginkan.

Lalu—
BRAKKK!
Sebuah mobil terguling di persimpangan.
Orang-orang menjerit.
Asap mengepul.

Dan sebelum Cale sempat memutuskan untuk kabur dari kekacauan itu—
“HEY! Kau yang di sana! Pegang infus ini!” Sebuah suara tajam memotong pikirannya.

Cale menoleh lambat, seorang pria tinggi memakai pakaian operasi penuh darah berlari ke arahnya sambil membawa tas medis.
Tatapan mereka bertemu.
Mata tajam dingin.
Aura menekan.
Dan ekspresi seseorang yang sudah terlalu sering melihat kematian.

Itulah pertama kali Cale bertemu dengan Baek Kang-hyuk.
“Kau bicara padaku?” tanya Cale datar.
“Tidak ada orang lain di sini yang terlihat cukup sadar untuk membantu.” Baek langsung menyerahkan kantung infus ke tangan Cale tanpa izin. “Pegang lebih tinggi.”

Cale menatap kantung infus itu seolah sedang mempertimbangkan membuangnya.
“…Aku bukan tenaga medis.”
“Bagus.” jawab Baek cepat sambil membuka pintu mobil penyok. “Kalau begitu kau belum belajar jadi lambat.”
Cale: “…” Kurang ajar sekali.

Namun sebelum ia sempat membalas—
Baek masuk setengah badan ke dalam mobil yang hancur. Tangan pria itu bergerak cepat, stabil, tanpa ragu sedikit pun meski darah mengalir deras.
“Tekan bagian sini.”
Sekarang Cale malah diberi tugas kedua.
Alisnya berkedut.
“Aku terlihat seperti sukarelawan?”
“Tidak.” jawab Baek tanpa melihatnya. “Kau terlihat seperti orang yang tidak akan pingsan melihat darah.”

…Sayangnya benar.
Cale menghela napas panjang lalu membantu dengan malas. Di tengah hujan lampu ambulans, dan suara panik di sekitar mereka, keduanya bekerja bersama dengan ritme aneh yang surprisingly cocok.
Baek memberi instruksi singkat. Cale melakukannya dengan efisien.
Tidak banyak bicara.
Tidak banyak drama.

Untuk pertama kalinya malam itu, Baek melirik penuh pada pria berambut merah di sampingnya.
Pakaian mahal.
Wajah tampan pucat.
Gerakan tenang meski situasi kacau.
Aneh.
Sangat aneh.
“Kau benar-benar bukan dokter?” tanya Baek.
“Bukan.”
“Kau tentara?”
“Juga bukan.”
“Pembunuh bayaran?”
Cale menatapnya datar. “…Apa dokter zaman sekarang suka menuduh orang sembarangan?”
“Biasanya orang normal gemetar saat melihat organ tubuh keluar.”
“Biasanya aku sedang tidur jam segini.”

Baek terdiam sesaat.
Lalu—
Ia tertawa kecil.
Tawa pertama yang keluar dari mulutnya sejak masuk Korea dan entah kenapa itu membuat Cale merinding.
Karena tatapan dokter itu berubah.
Bukan lagi sekadar melihat orang asing.
Melainkan ketertarikan.
Seperti predator yang menemukan sesuatu menarik.

“Aku Baek Kang-hyuk.”
Cale diam beberapa detik sebelum menjawab malas. “Cale Henituse.”
Baek mengangguk pelan.

“Kalau nanti kau hampir mati, cari aku.”
“…Kalimat perkenalanmu buruk sekali.”
“Dan kau terlalu tenang untuk orang normal.”
Sirene ambulans kembali meraung.
Namun di tengah malam penuh hujan itu, keduanya belum sadar—
Bahwa pertemuan pertama mereka akan menjadi awal hubungan yang jauh lebih rumit daripada sekadar dokter dan pasien.