Actions

Work Header

Terapi Waktu

Summary:

Studi kasus pada pasien "Janus" dan "Eros" dengan komplikasi pascaoperasi.

Notes:

Here's Januseros' angst yamg ditunggu-tunggu itu… Jujur gak kebayamg kalau bisa terselesaikan fanfic ini, tapi akhirnya selessi juga...

Sorry for making you all wait, tembakau nation. I was in such a drpressive episode and couldn't move from my bed due to a lack of motivation to live life SAHJSAHSAKHSK

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:


 

“Kamu tidak periksa ke dokter hari ini, Eros?” Ucap empunya mata bak rusa itu kepada nama yang tadi Ia sebut yang kini sedang asyik menyeruput teh hangat yang dipilihnya untuk menemani semangkuk bakso hambar miliknya itu.

“Hm? Enggak, hari ini dokternya kebetulan sekali sedang ada urusan mendadak jadi tidak bisa periksa di jadwal aku.” Dia menghentikan sejenak pergerakannya untuk menjawab pria di seberangnya. Sejujurnya Eros enggan untuk membahas dokter, dokter dan dokter lagi saat Ia bisa membicarakan tentang betapa indahnya pria di depannya itu. Janus Rakshandi. Lelaki tercantik di abad ini—dan abad-abad yang akan datang.

“Oh begitu, padahal aku sudah mengosongkan jadwal sekiranya kamu mau aku temani lagi seperti biasa.”

Terdiam Eros, lalu Ia melanjutkan memakan mangkuk bakso tanpa sodium miliknya secepat mungkin sembari terkekeh, membuat sosok di hadapannya menaikkan alis sebelah dan memandanginya dengan tatapan seakan Eros juga sakit di bagian akal sehatnya.

“Kalau begitu, pulang sekolah kamu berkencan dengan aku saja, ya? Kita nonton film.” Senyuman lebar mengiringi wajah merona Eros yang sangat antusias sebab Ia telah dirasuki oleh rezim jahat yang memonopoli dan memanipulasi rencana mereka sehingganya dapat terjadi kencan paling romantis sepanjang sejarah.

“Tidak usah, ah. Aku hari ini mau membaca.”

“Yasudah kalau begitu kita membaca saja, berdua.”

Janus kembali menatapnya dengan penuh mohon seakan berkata tolonglah, ini kesempatan sekali aku bisa membaca dengan tenang.

Tentu, pria mana yang bisa kuat melihat orang secantik ini melihat dengan mata bulat dan memelas itu?

“Ah, baiklah. Tapi hari Jum’at temani aku lagi ya, ke rumah sakit.” Senyum sumringah kembali menghiasi wajah Eros—Eros yang selalu sabar dan memberi ruang kepada Janus. Dibalasnya senyum itu dengan senyuman kecil—sial, kecil-kecil mematikan, pikir Eros.


 

“Kamu mau jadi apa nanti, Eros?”

“Mau jadi apa? Hmm, kekasihmu saja boleh juga, sih.”

“Dasar.”

Kedua remaja dengan kaki-kaki yang berjalan perlahan itu mengitari hampir dua puluh lima menit untuk mencapai Rumah Sakit Hosrasee, tempat Eros memeriksa ke dokter langganannya. Kedua rambut mereka terkibas oleh angin sepoi-sepoi. Langkah mereka terhenti di persimpangan jalan, sembari menunggu Janus membuka mulutnya.

“Aku… mau jadi seorang jurnalis.”

Eros bersenandung dengan nada mengerti. Keduanya melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. Sejujurnya, Eros juga tidak pernah menyukai rumah sakit dan wewangiannya. Pahit dan getir dan suasananya selalu mencekik Eros.

Sesampainya di rumah sakit Janus menunggu di tempat duduk yang disediakan, mengingat betapa memakan waktu lama pemeriksaan Eros, Ia memutuskan untuk membuka salah satu buku yang Ia suka dan mengubur diri.

“Hey.”

“Sudah?”

Yang ditanya mengangguk dan mengajak Janus untuk segera pergi dari rumah sakit itu. Hawanya tidak mengenakkan, ujarnya. Sehabis dari rumah sakit mereka berjalan dan berjalan. Mengunjungi perpustakaan daerah, ke tempat bakso dekat rumah Ratih, berbincang di taman, seharian mereka habiskan untuk mengobrol dan bersenang-senang berdua seakan tidak ada masalah di dunia ini. Hanya mereka.

 


 

“Eros, kamu mau masuk jurusan mana setelah lulus?”

“Kriminologi.”

“Oh.. Aku tidak kaget.”

“Oh ya? Kenapa begitu?”

Dilihat dari segi manapun Eros adalah orang yang suka memperhatikan segala sesuatu. Apalagi tentang Janus. Dengan tekad yang kuat dan Eros yang selalu bersikeras menyelesaikan masalah dan mencari sumbernya, mungkin Eros ingin menjadi detektif. Atau kepala desa, mungkin? Atau supir taksi yang—ah. Aneh sekali, Janus tidak bisa membayangkan seorang Eros Satya menjadi supir taksi.

“Aku seperti tahu kalo kamu pasti ingin hal ini atau itu.”

Tapi kamu apakah tahu seberapa inginnya aku memilikimu, Janus? Pikir Eros di benaknya. Ia mengalihkan pandangannya dari Janus ke tumpukan buku di samping temannya itu. Janus selalu suka mengubur dirinya dalam buku-buku yang kemudian Ia akan ceritakan kepada Eros dan beralih topik ke masalah-masalah berkaitan dengan ketidakadilan di negeri ini. Tidak mengherankan lagi kalau Janus selalu ingin menjadi seorang jurnalis.

“Kalau kamu? Masih mau menjadi jurnalis seperti impianmu sejak kecil itu?”

“Iya. Aku ingin tulisanku bisa mencapai orang-orang dan membuat mereka sadar akan masalah yang terjadi.”

“Mulia sekali.”

 


 

“Bajumu, Eros.”

“Kenapa bajuku?”

“Belum kutanda-tangani. Tapi sudah banyak saja tanda tangan perempuan kelas lain.”

“Kamu cemburu?”

Tanpa menjawab, Janus menarik perlahan baju Eros dan menoreh tanda tangannya tepat di sebelah kiri, letak jantung Eros berada. Keduanya berendam di warna-warni dari cat semprot murah yang dibeli anak-anak sekolah mereka. Entah kenapa wajah Janus terlihat sangat indah dihiasi warna biru.

“Nikahi aku sekarang, deh.”

“HAH?! Eros Satya kamu sudah gila, ya?”

“Sepertinya, iya.”

Ah, merah sekali wajah keduanya. Sungguh, Eros ingin menghabiskan seluruh hidupnya hanya memandangi Janus saja. Mungkin dunia tampak sangat indah karena ada Janus di dalamnya. Karena Eros bertemu dengan Janus dengan cara yang paling indah. Karena Eros bisa selalu menemani Janus dan sebaliknya. Tuhan tolong berikan Eros bertahun-tahun lagi bersama Janus.

 


 

Ruang kerja Eros memang kecil, mejanya dikelilingi tumpukan kertas dan beberapa mesin tik. Ada beberapa asbak yang terisi penuh dan kursi-kursi yang tidak pernah di tempat seharusnya. Lampu kecil yang dibeli Eros bersama Janus dipajang secara bangga dan selalu Ia pakai. Berguna sekali setiap Eros lembur untuk menyelesaikan kasus atau sekedar menulis laporan.

Selama 2 minggu dia bolak-balik dari satu tempat kejadian perkara ke tempat kejadian perkara lainnya. Terkadang Ia membuntu, terkadang Ia dapat menyelesaikan kasus dengan cepat mengingat betapa bodohnya beberapa pelaku yang diselidikinya.

Rekannya Hendro memberikan secangkir kopi dan mengajaknya berbincang.

“Umurmu berapa sekarang, Eros?”

“Dua puluh empat.”

“Hmm.. Kami beruntung sekali mendapat seseorang seperti kamu. Susah sekali mencari pekerja yang masih jujur dan adil sepertimu, Eros. Kamu seperti keluar dari film noir saja. Atau buku pendidikan Pancasila, hahaha.”

Tawa kecil dilepaskan oleh Hendro setelah mengakhiri kalimatnya. Mas Hendro dan segala kenaifannya yang terkadang terlalu mempercayai sifat manusia. Mas Hendro dengan tatapannya yang sangat tahu setiap Eros pulang untuk menjemput seseorang di gedung lain.

Seseorang yang sekarang mungkin sedang mengalami kenaikan gaji karena berita yang diliputnya sedang naik daun.

 


 

Artikel yang disusun Janus selama hampir sebulan itu kini sudah dirilis ke media publik. Tidak lama setelahnya, tulisannya itu dilirik oleh banyak mata. Kasus penghentian paksa pekerja swasta yang diliputnya menjadi topik hangat di khalayak dan seminggu kemudian para pekerja yang kehilangan pekerjaannya ditarik oleh beberapa perusahaan dan usaha lokal.

Berkat artikel Janus juga pemilik perusahaan tersebut diadili dan mendapatkan hukuman yang setimpal. Betapa bahagianya Janus, mengetahui bahwa tulisannya membawa keadilan ke jalan yang benar bagi orang-orang yang tertindas. Ia ingin menghabiskan seluruh hidupnya menulis dan menulis dan membawa suara masyarakat yang terbenam.

Tapi sebelum itu mungkin Janus butuh menyegarkan diri dulu.

Diputarnya digit-digit itu hingga berbunyi suara berdering. Sudah agak lama Janus tidak melihatnya, beberapa kali mereka merencanakan pertemuan tapi terlalu sibuk untuk bertemu.

“Halo?”

“Eros. Ingin ke kedai kopi? Setelahnya mungkin kita bisa ke perpustakaan daerah seperti biasa.”

“Boleh, mau aku jemput?”

“Ah, boleh. Pukul 5 sore apakah bisa?”

“Kapanpun aku bisa.”

“Baiklah. Sampai jumpa, Eros.”

 


 

Suara mesin mobil yang menderu lembut mengisi kesunyian nyaman di antara mereka.

“Aku baca artikelmu, bagus sekali. Beberapa rekan kerjaku juga memujinya. Kata-katamu berdampak sekali bagi mereka, Janus.”

Merahmerahmerah pipi Janus mendengar pujian tersebut. Padahal sebelumnya dia sudah sering mendengar artikel-artikelnya dipuji oleh banyak orang. Ternama, bahkan. Namun, entah kenapa semua pujian yang keluar dari Eros. Janus merasa aneh, merasa bahwa hal ini salah. Apakah perasaan Janus salah?

“Terima kasih banyak, Eros. Besok-besok kamu akan jadi orang pertama yang akan saya tunjukkan tulisan berikutnya.”

“Spesial sekali aku bagimu, Janus?”

Janus tidak menjawab pertanyaan tersebut, melainkan hanya membalas dengan senyuman kecil khasnya. Eros adalah teman terbaik Janus. Eros adalah orang pertama yang ada di pikiran Janus setiap saat. Memang, Eros adalah orang paling spesial bagi Janus. Tapi, sampai batas mana kespesialan Eros itu bagi Janus? Janus tidak bisa memberi label pada perasaannya sendiri.

Sesampainya di kedai kopi mereka menghabiskan waktu berbincang mengenai apa saja yang telah mereka kerjakan. Eros dengan kasus-kasusnya dan Janus dengan liputan-liputannya. Terkadang mereka juga membahas tentang masa-masa sekolah mereka.

Mata Janus tak sengaja melirik ke arah sekelompok remaja yang tampaknya sedang menertawakan dan berbisik-bisik sembari menunjuk ke arah mereka berdua. Hati Janus terasa sangat sesak dan nafasnya mulai tercengat, seperti setiap Ia ingin menghirup udara, bukan oksigen yang dihirup melainkan paku dan besi, menginvasi tenggorokan dan paru paru Janus karena tatapan-tatapan mereka yang sangat—

“Janus, ikuti nafas aku.”

Empunya nama mengalihkan pandangan dari meja ke Eros yang ada di depannya. Matanya melirik tak karuan ke segala penjuru lalu berhenti di naik-turun dada Eros. Setelah mencoba mengimbangi nafas Eros yang pelan, Janus pun perlahan mulai tenang.

“Maaf… Aku merusak suasana.”

Matanya menunduk dan wajahnya malu.

“Tidak apa-apa, aku yang minta maaf,. Seharusnya aku memilih tempat yang pelanggannya lebih sopan.” Sindir Eros yang kemudian mengajak Janus kembali ke mobilnya.

Sepanjang perjalanan menuju perpustakaan daerah diisi oleh suara musik pelan dari radio mobil dan nafas Janus yang berusaha distabilkan.

Tak terasa, mobil Eros telah berhenti di depan perpustakaan daerah, tempat favorit Janus di seluruh kota. Posisi kedua mungkin diisi oleh kamar Eros ketika Ia menginap untuk mengerjakan pekerjaan rumah saat SMA dulu.

Seperti biasa, Janus langsung bergegas untuk mencari buku-buku favorit nya beserta buku-buku baru yang ingin Ia baca. Setidaknya dengan menenggelamkan diri Ia bisa melupakan kejadian tadi. Apa yang mereka bicarakan? Apa yang mereka tuduh? Bahwa Janus dan Eros…

Janus bingung, takut, gelisah. Bagaimana jika kata-kata tersebar ke tempat kerjanya? Bagaimana jika mereka berdua ditunjuk seperti penyihir-penyihir di buku cerita anak-anak yang dibakar dan dimusnahkan hanya karena melakukan sesuatu yang berbeda dari lainnya?

Dengan sifat kemanusiaan rendah di masyarakat kota mereka, Janus dihantui oleh rasa kacau dan panik. Mungkin saat sekolah maupun kuliah dulu Janus tidak menghiraukannya karena mereka punya teman-teman yang selalu hangat. Tak terlintas di kepala Janus bahwa akan ada kekhawatiran begini.

Sekarang Janus punya pekerjaan. Punya nama yang ingin dia bangun dan suara yang digunakan untuk mewakili pihak kecil yang tertindas. Tanpa liputan Janus, bagaimana mereka bisa mendapat keadilan?

Saat berkeliling dan melamun sembari memegang beberapa buku untuk dibaca, Janus melihat Eros yang nampaknya berdiri di samping sebuah rak, membaca buku tentang suatu studi kasus yang judulnya sedikit buram di mata Janus. Namun, Janus melihat ke arah Eros dan memandanginya untuk sesaat.

Merasa ada yang memperhatikannya, Eros langsung menengok ke arah Janus. Dengan sedikit senyum, Eros menutup buku dan menghampirinya.

“Besok aku mau terapi lagi. Kamu kosong tidak, Janus?”

“Hmm.. Besok, ya. Sepertinya tidak ada urusan. Aku temani, ya.”

“Aku jemput di rumahmu atau tempat kerja?”

“Rumahku saja. Aku besok pulang lebih cepat.”

“Baiklah.”

Menghabiskan malam di perpustakaan sampai tutup, dua insan itu beranjak untuk pulang menuju rumah Janus terlebih dahulu. Memulangkan tuan putri, kata Eros—menyebabkan pria yang disebut tuan putri itu mengeluh dan memerah. Janus tampak sangat cantik seperti ini.

Persimpangan mulai sepi dan toko-toko sudah menutup papan pintu, menandakan waktu sudah hampir dini hari.

Begitu turun dari mobil Eros, Janus langsung melirik ke belakang. Bertukar kata-kata sampai bertemu besok. Entah kenapa perasaan Janus masih tidak mengenakkan, mungkin hanya perasaannya saja. Janus memang bukan orang yang religius, tapi Tuhan, tolong jangan terjadi apa-apa besok dan ini semua hanyalah perasaan tidak enak karena kejadian tadi. Ia bergegas masuk ke rumahnya dan memutuskan untuk segera mandi dan menutup mata. Ia harus punya energi untuk menemani Eros periksa dan terapi besok.

 


 

Keesokan sore begitu pulang dari tempat kerjanya, Janus langsung berpakaian rapi dan menunggu Eros yang katanya akan menjemputnya itu. Entah kenapa jantung Janus masih berdegup kencang dengan cara yang benar-benar salah. Tidak seperti biasanya yang terasa familiar dan nyaman. Ini terasa lebih seperti dikejar oleh sesuatu yang tidak diketahui Janus di lorong gelap dimana Janus tidak dapat melihat sekelilingnya.

Beberapa menit berlalu sampai mobil Eros terdengar dari dalam rumah Janus. entah kenapa langkah kaki Janus terasa sangat berat untuk melangkah dan membukakan pintu. Ah, tapi rasa inginnya untuk melihat Eros jauh lebih besar. Dibukakanlah pintu itu untuk Eros yang sudah menunggunya tepat di depan dengan senyumannya yang khas.

“Sudah siap?”

“Kamu seperti mengajak berkencan saja padahal kamu yang ingin kemo.”

“Lagian, rapi sekali kamu berpakaian.”

Memang, pria yang di depannya ini berdandan sangat menawan dengan kemeja putih yang kancingnya dibuka dua dari atas dan rompi biru yang membawa kesan lucu. Bahkan dilengkapi dengan arloji silver dengan celana panjang berwarna abu-abu. Tuhan, apakah Engkau sedang tertawa bahagia saat mencipta Janus karena bagaimana seseorang bisa seindah ini?

Waktu terasa berlari ketika mereka berada di ruang periksa tempat Eros biasa berkonsultasi. Degup jantung Janus semakin kencang. Tuhan, tolong jangan biarkan perasaan jahat yang menginvasi dan menjajah benak Janus ini menjadi kenyataan.

Janus melihat dokter itu membuka map hasil pemeriksaan secara perlahan setelah menjalankan beberapa scan pada tubuh Eros. Dokter itu lalu memutar monitor CT scan agar lebih mudah terlihat dari sisi Janus dan Eros. Cahaya putih kebiruan dari layar memantul samar di dinding ruang konsultasi yang sunyi.

"Saya sudah membandingkan hasil scan terbaru dengan pemeriksaan Anda tiga bulan lalu,” ujarnya tenang.

Sial, mengapa bisa dia tenang dalam keadaan seperti ini? Sialan para dokter dan profesionalitas mereka.

Kursor di layar bergerak menuju bayangan pucat di area ginjal kiri.

“Pada pemeriksaan sebelumnya, massa tumornya masih terlokalisasi di ginjal dan ukurannya relatif kecil, sehingga saat itu masih kami kategorikan sebagai stadium satu.”

Ia berhenti sejenak, memberi waktu agar informasi itu dicerna. Perasaan Janus makin tidak enak, makin gelisahgelisahgelisah. Ia melirik ke arah Eros yang nampak sangat tenang, mengapa Ia sangat tenang? Janus saja rasanya ingin mengeluarkan makan siangnya tadi ke kotak sampah dan meluap.

“Namun dari hasil CT scan terbaru, terlihat adanya pertumbuhan ukuran tumor serta indikasi penyebaran ke jaringan di sekitar ginjal.”

Suara pendingin ruangan terdengar semakin jelas di tengah jeda itu. Dingin. Sangat dingin seperti butir-butir keringat yang mengaliri tubuh Janus. Pertumbuhan ukuran tumor, katanya? Apa maksudnya? Nafas Janus semakin tak karuan, seperti ingin membelah diri dan kabur dari ruangan ini tapi tak bisa. Ia harus tetap berada di sisi Eros dan menemaninya.

“Karena perkembangan tersebut, kondisi Anda sekarang masuk ke stadium tiga.”

Jemari Eros di atas paha yang tadinya menegang karena antisipasi sekarang perlahan melemas.

“Stadium… tiga?”

Dokter mengangguk kecil. Janus melirik kembali ke arah Eros yang tatapannya sangat kosong. Ah, panik menyulut seluruh tubuh Janus. Ia merasa sangat bersalah, mengapa jadi Ia yang panik sendiri? Ah tidak, Eros juga pasti panik. Eros. Apa yang akan terjadi pada Eros?

“Artinya kanker ini tidak lagi sepenuhnya terbatas di organ ginjal. Ada keterlibatan jaringan sekitar, kemungkinan juga pembuluh darah atau kelenjar getah bening terdekat.”

Ia tidak terburu-buru berbicara setelahnya, membiarkan keheningan singkat memenuhi ruangan sebelum melanjutkan penjelasan berikutnya sembari membuka halaman lain dari berkas pemeriksaan.

“Tapi bukan berarti kondisi bapak Eros tanpa harapan. Justru kami sangat menyarankan untuk terus berjuang melawan penyakit ini. Kemungkinan sembuh masih sangat besar sekitar 40-50%. Kami akan merekomendasikan evaluasi lanjutan dengan tim onkologi untuk menentukan langkah terbaik, apakah melalui operasi, terapi target, imunoterapi, atau kombinasi penanganan lainnya.”

Entah lamunan apa yang membuat Janus begitu tak sadar hingga semua suara yang didengarnya terasa buram dan semua yang dilihatnya seakan pahit, namun saat Ia diguncang oleh Eros tiba-tiba saja tubuhnya sudah berada di rumahnya sendiri. Menginjak lantai dan karpet, penanda bahwa alas kakinya sudah dilepas oleh Eros.

“Hey, Janus. Dengar suara aku?”

Empunya nama mengangguk.

“Baik, baik kalau begitu. Bisa dengar nafasku?”

Janus mengangguk untuk kedua kalinya.

“Ikuti nafasku ya. Tarik…. Hembus. Tarik…. Hembus. Perlahan-lahan.”

Tidak bisa. Sekuat apapun Janus berusaha dia tidak bisa mengambil nafas. Bagaimana kalau detik berikutnya Eros bisa saja jatuh terkapar tak sadarkan diri? Apa yang harus Janus lakukan jika terjadi hal tersebut? Apa bisa Janus membayangkannya? Perih, perih sekali, Eros.

“Iya, iya aku paham. Coba beritahu aku apa yang bisa kamu lihat sekarang.”

“Kamu.”

“Bagus. Apa yang bisa kamu dengar?”

“Kamu, Eros…”

“Pintar, kamu bisa merasakan aku?”

Janus mengangguk yang ketiga kalinya. Ia bisa merasa bahwa nafasnya sudah lebih lega dibandingkan sebelumnya.

“Maaf, Eros. Aku mengacau lagi.”

“Untuk apa meminta maaf? Tidak ada salahmu, Janus.”

“Tapi, kamu—”

“Tidak. Tidak ada tapi.”

Melihat tubuh Janus yang gemetar dan nafasnya yang jelas sekali tersedak, Eros bahkan tidak menyadari lagi bahwa tadi Ia diberitahu oleh dokter bahwa penyakitnya menjalar dan naik tingkat ke stadium 3. Yang Ia pedulikan kini hanyalah Janus. Janus dan kekhawatirannya. Janus dan segala paniknya. Janus yang begitu perhatian kepada Eros dan takut untuk Eros.

Malam itu Eros memutuskan untuk tidur di rumah Janus. Jaga-jaga jika nanti kepanikan Janus menyerang kembali, katanya.

Saat mereka hendak saling menutup mata tiba-tiba Eros berucap. Sialan Eros dan mulutnya yang tidak tahu waktu.

“Janus. Aku suka kamu.”

“Aku… juga suka?”

“Bukan seperti itu. Maksudku seperti aku yang menginginkanmu menjadi milikku seorang.”

Janus yang membelakangi Eros tidak menjawab. Tidak bisa menjawab. Bagaimana Ia harus menjawab hal tersebut dengan berbagai kejadian yang telah Ia lalui? Lagipula Janus bukan.. Bukan.. Seperti itu. Kan? Kalaupun iya, bagaimana dengan nasib pekerjaannya jika sampai orang-orang tahu? Tidak, bagaimana dengan kesehatan Eros? Seharusnya Ia lebih mementingkan hal itu kan daripada perasaan dia kepada Janus?

Ia memutuskan untuk berdiam diri dan berpura-pura sudah tertidur. Semoga saja insting detektif milik Eros tidak menyadari kepura-puraan nya itu.

 


 

Malam berikutnya Janus kembali terbaring di kasurnya. Hanya saja kali ini tanpa Eros karena memang mereka berdua ada pekerjaan yang harus diselesaikan maka dari itu Eros tidak bisa menginap di rumah Janus.

Lucu sekali bagaimana Ia terus menerus memikirkan Eros. Lucu dalam artian dia tidak tahu perasaan apa yang harus dirasa oleh Janus sebenarnya. Umur Janus sekarang sudah dua puluh lima. Ia sudah punya pekerjaan impiannya, punya tanggung jawab berat yang dipikul, dan image yang stabil. Kejam sekali isi pikiran Janus, ya Tuhan. Tetapi itu yang selalu dipikirkan oleh Janus setiap hari. Karena cepat atau lambat pasti Janus harus memilih salah satunya. Eros atau artikel-artikel Janus yang membawa suara orang-orang nya.

Nafasnya tercekat. Kamar Janus terasa sunyi, sangat sunyi. Janus membolak-balikkan badan beberapa kali sampai akhirnya Ia menatap langit-langit kosong di kamarnya sambil menelan ludah berkali-kali. Seolah ada sesuatu yang mengganjal tenggorokannya dan membuat dadanya terasa ketat dan sesak.

Ia duduk perlahan-lahan di tepi kasur, kedua sikunya Ia tumpukan di lutut. Rambutnya berantakan, kaus hitam tipis di tubuhnya mulai lengket karena keringat dingin. Ia berusaha mengingat mantra yang sering diucapkan oleh Eros. Tarik…. Hempas. Tarik…. Hempas—

Tidak. Tidak bisa. Nafasnya tidak pernah sampai sepenuhnya ke paru-paru Janus. Setiap nafas berikutnya malah patah di tengah percobaannya. Janus menunduk dan mencengkeram dadanya sendiri. Perih. Sakit. Sesak sekali rasanya memikirkan semua hal yang berenang di kepalanya. Kenapa dunianya harus seperti ini? Kalau semuanya baik-baik saja mungkin Janus dapat merasakan kebahagiaan dengan tenang tanpa harus berjuang untuk salah satu dari dua sumber tenang miliknya.

Detak jantungnya sangat cepat, dan keras. Melaju tanpa henti seperti pikiran-pikiran yang melintasi kepala Janus.

Kalau kantornya tahu, bagaimana? Kalau teman-teman kerjanya tahu, bagaimana? Kalau keluarga mereka tahu, bagaimana? Kalau orang-orang sekitar mereka sebenarnya sadar dari dulu, bagaimana? Kalau semua orang menunggu momen pas untuk melihat Janus gagal karena ini, bagaimana?

Ia meraih dompetnya yang tergeletak berantakan di meja samping kasur dan membuka kulit coklat tua itu. Diambilnya secarik kertas yang tertuang foto mereka berdua di hari kelulusan. Dengan baju berwarna-warni dan senyuman yang tidak terbebani apapun. Kala itu.

Kala semuanya masih mudah dan aman. Kala mereka saat itu hanya dua lelaki yang pulang bersamaan dan berhenti di tukang bakso langganan dekat rumah Ratih, kawan mereka. Kala dimana saling tidur berseberangan di kamar Eros masih sebuah hal yang wajar bagi mereka. Dulu Janus belum membenci dirinya sendiri separah ini.

Dada Janus semakin sesak dan tak karuan. Ia langsung berdiri dan menyesali perbuatannya karena sekarang kepalanya terlalu ringan dan tubuhnya sempoyongan. Gemetar. Janus berjalan mondar-mandir di kamar sempit itu sambil menarik napas cepat, jemarinya dingin. Ada rasa panik yang menjalar pelan tapi pasti, seperti ada serangga-serangga yang mendaki leher Janus.

Butir-butir menetes ke pipi Janus. Kacau sekali pikirannya malam itu. Dan dengan tubuh yang masih gemetar dan tenggorokan yang masih tersumbat sesuatu, Ia memaksa dirinya sendiri untuk tidur. Merapal ratusan mantra agar tubuhnya menuruti kemauan Janus dan tidur.

 


 

Beberapa minggu kemudian dihabiskan tanpa ada pertemuan panjang antara mereka berdua. Dengan Janus yang mendapat liputan berita baru dan Eros yang harus menyelidiki suatu kasus yang lumayan besar di kota mereka.

Tak terasa sudah hampir dua bulan berlalu. Saat kedua jadwal dikiranya sudah kosong, Janus berjanji untuk bertemu dengan Eros di perpustakaan daerah seperti biasa. Katanya ada berita gembira yang ingin disampaikan oleh Eros. Tentu, Janus senang tak kepalang karena tak biasanya temannya ini menyampaikan berita bahagia. Semoga yang ini tentang kesehatannya.

Saat keduanya duduk berhadapan pada salah satu pasang meja kursi yang tersedia di perpustakaan tersebut, Janus langsung menanyakan berita bahagia yang dibawa oleh Eros.

“Jadi, berita baiknya apa?”

“Tumornya mulai mati.”

Tentu, Janus yang mendengar berita itu bahagia sekali. Sangking bahagianya Ia bisa mencumbu Eros sekarang juga tanpa memperdulikan sekitar. Ah, tidak… Mungkin tidak se-berlebihan itu…

“Apa kata dokternya?”

“Begini, kemarin aku habis pemeriksaan lagi ke dokter dan… katanya dia sudah membandingkan hasil scan bulan lalu dengan hasil bulan ini. Katanya, tumornya menunjukkan respons yang baik dan sekarang sudah terlihat ada nekrosis pada jaringan tumor. Artinya sebagian besar selnya sudah mulai mati.”

Janus memberikannya senyuman terbesar yang pernah Ia bagikan kepada siapapun di dunia sebab berita ini jauh lebih besar daripada berita liputan Janus pertama yang dilirik media publik. Beberapa buku Ia lewati untuk mendengarkan Eros berbicara. Selepas Eros berbagi cerita, Ia menanyakan kepada Janus perihal buku terbaru yang sedang Ia baca. Namun, Eros mengeluarkan pernyataan yang menyela pembicaraan Janus tentang bukunya.

“Menurutmu, kita ini apa, Janus?”

“... Tentu, kita teman.”

“Teman mana yang seperti kita?”

Pertanyaan itu menusuk Janus tepat di jantungnya sehingga tidak ada kata-kata yang dapat dilontarkan kembali kepada Eros. Lagipula, apa yang harus Ia jawab? Aku ingin kamu dan juga artikel ku secara bersamaan tapi aku takut kita ketahuan dan dibakar hidup-hidup? Ia berusaha sekuat mungkin untuk mencari alasan agar Ia dapat menghindari pertanyaan itu.

“Ah, Eros. Sepertinya ini sudah terlalu sore. Boleh aku izin pulang duluan?”

“...Baiklah.”

Oh, Eros dan segala kesabarannya untuk Janus. Eros yang mulia dan penyayang. Eros yang perhatian dan baik. Eros yang tidak pernah memaksa Janus untuk melakukan segala sesuatu. Sungguh sialnya Eros mencintai seseorang sepertinya, pikir Janus.

Eros yang menyadari betapa Janus sangat menghindar untuk membahas tentang mereka bersama Eros. Eros yang menyadari betapa Janus hendak kabur setiap Ia merasakan hal-hal tentang Eros. Eros yang ingin memaksa Janus untuk melihat dirinya saja dan buang semua orang di hidupnya namun Eros terlalu cinta pada Janus sehingganya Ia tidak tega merenggut kebahagiaannya seperti itu—dengan cara yang paling egois.

 


 

“Kalau kamu? Masih mau menjadi jurnalis seperti impianmu sejak kecil itu?”

Entah kenapa pertanyaan itu kembali menyerang benak Janus saat Ia sedang menyunting artikel terbarunya tentang pembakaran area di taman kota nya. Di satu sisi, Janus sangat tidak ingin kehilangan sosok Eros di hidupnya. Tapi di sisi lainnya semuanya terasa salah. Karena semua di sekitarnya mencap hal tersebut sebagai sesuatu yang salah. Janus takut. Sangat, sangat takut akan pandangan rekan-rekannya yang menghakimi dan menodong pistol tak kasat mata ke arah mereka berdua.

Janus tidak bisa membayangkan betapa pedas dan perihnya ucapan-ucapan mereka, terlebih jika publik tahu tentang ketidaknormalan Janus menurut mereka. Artikel Janus bisa-bisa ditarik dan Ia diberhentikan paksa dari pekerjaannya sama seperti berita yang dulu pernah Ia liput. Lalu tanpanya, bagaimana Ia bisa mewakili suara-suara yang sengaja dipendam?

Manusia kan lebih gampang membenci daripada memahami, pikir Janus.

Di tempat lain dan di hati yang lain, Eros—yang sedang menyibukkan diri dengan mengambil banyak kasus untuk diselidiki—terpaksa berhenti melakukan pekerjaannya karena ada perasaan mengganjal yang bukan hanya di ginjal tetapi di hatinya. Entah itu dari penyakitnya atau dari ketidakpahaman Janus terhadap perasaannya.

Sore itu Eros bergegas menuju telepon umum dan menekan nomor rumah Janus. Entah kenapa tapi dia sangat membutuhkan ini. Membutuhkan Janus. Ia butuh melihat Janus lagi dan lagi dan lagi. Janus yang entah menganggap mereka ini apa. Janus yang tidak menghiraukan perasaan Eros. Janus yang enggan memahami satu sama lain. Janus yang selalu terkesan ketakutan setiap bersama Eros. Eros tetap butuh keberadaan Janus. Meneguk racun yang membawa ekstasi tingkat tinggi pada Eros adalah memandangi mata dan tubuh Janus.

Begitu teleponnya diangkat, Eros buru-buru mencurahkan hal pertama yang ada di benaknya sekarang.

“Apa boleh aku menginap malam ini?”

 


 

Janus yang mendapat telepon masuk itu langsung mengangkat. Suara serak Eros terdengar di telinga. Apa boleh aku menginap malam ini? Cobaan apalagi ini ya Tuhan. Apakah Janus harus menolak? Tapi Ia sangat rindu dengan Eros. Rindu antar teman, maksudnya. Janus ingin bertemu Eros. Sangat, sangat ingin. Tapi… Ah, persetan tentang orang-orang hanya untuk hari ini saja. Janus ingin Eros menginap, berada di kamarnya, berbincang dengannya sampai matahari ditelan gelap dan mereka tenggelam dalam kelam malam.

Sesampainya di kamar Janus, Eros langsung mendekap Janus. Bukan hal yang tidak lazim bagi mereka untuk saling merengkuh dan merapatkan tubuh agar melebur menjadi satu. Mereka bertaut sampai lagu yang terputar di radio berganti beberapa kali dan cahaya oranye mentari sore bergerak dari barat daya ke barat laut.

“Aku rindu, Janus.”

“....”

“Aku rindu sekali.”

Janus tidak pernah menjawab ungkapan-ungkapan Eros. Entah kenapa mulutnya tak mampu berucap walau tubuhnya semakin mendekat. Berat rasanya, seperti ada jangkar yang menahan dan menarik bibir Janus sehingganya Ia tidak dapat berbicara. Ia seperti dibuat bisu oleh dunia. Ironis sekali, sang jurnalis yang biasa menyuarakan suara-suara yang dibungkam, kini menjadi terbungkam oleh dirinya sendiri.

Ketika bulan sudah berada tepat di tengah-tengah, Janus membelakangi Eros sekali lagi. Seperti yang selalu Ia lakukan setiap Eros menginap sejak masa sekolah mereka. Bagaimana sanggup Janus menatap wajah yang membuat hatinya sangat berantakan berkali-kali seperti ini? Malam semakin tua dan Janus tidak dapat mengedip sekalipun. Kantuk tidak berbaik hati padanya malam ini. Ia harus mendengar suara nafas Eros yang pelan.

Keesokan paginya Eros mendapati sisi kiri kasur Janus sudah dingin.

 


 

Eros tidak pernah merasakan rasa sakit sepedih ini. Tidak saat terapi, tidak saat mendapat berita bahwa temannya tiada. Tidak juga saat Ia menonton film-film sedih di bioskop atau kasus yang merobek isi perut. Atau saat isi perutnya dirobek secara harfiah. Tidak, ini lebih sakit dari apapun dan Eros tahu betul bagaimana rasanya hidup dalam rasa sakit sampai Ia terbiasa dengan perasaan familiar itu.

Dibilang sedih, Eros sudah pasti. Tujuh tahun mereka bersama. Lebih, bahkan jika Eros menghitung waktu sedari mereka saling mengenal saat bermain perosotan di taman kota. Saat itu Eros kecil yang melihat Janus sudah yakin akan menjadikannya pengantin. Tapi, harapan itu kian merosot seiring dengan sikap Janus yang semakin menjauh darinya. Sejujurnya Eros sangat lelah. Apa arti mereka bagi Janus sebenarnya?

Eros mengelilingi kamar Janus untuk mencari kertas, surat, apapun itu sebagai tanda kepergian Janus tapi Ia tidak menemukan apa-apa. Tidak ada kalimat ‘aku duluan' atau ‘sampai bertemu di perpustakaan’. Tidak. Kosong. Tidak ada apa-apa seakan Janus segera melarikan diri begitu ayam berkokok lantang dan cahaya lembut menimpah wajahnya.

Ramalan cuaca hari ini akan hujan. Pasti Janus hari ini di kantornya.

 


 

Janus tenggelam. Tenggelam dalam tumpukan kertas dan beberapa cangkir kertas yang dulunya diisi kopi namun sekarang hanya terisi pahitnya saja. Ia tidak beranjak dari tempat duduknya dan Ia tahu seberapa runtuh wajahnya sekarang. Mungkin jika orang-orang melihatnya mereka akan berkata “kasihan sekali dia”. Iya, dia memang menyedihkan. Dan jahat. Dan menyebalkan. Dan keji. Tak berperasaan.

Sore itu akan datang hujan. Beruntung sekali nasibnya yang lupa membawa payung itu. Di kepalanya, dia memaksa dirinya untuk dipenuhi oleh artikel, artikel dan artikel. Ia harus terdistraksi agar tidak memikirkan Eros dan orang-orang dan seisi bumi. Ia sangat lelah berpikir dan berpikir lagi. Tidak bisakah Ia menutup mata dan tidak pernah bangun lagi? Tuhan, cabutlah Janus sekarang.

Lepas beberapa jam rekan-rekannya sudah satu persatu keluar dari kantor sedangkan Ia masih sibuk mengetik dan mencatat tentang antah-berantah. Ia baru pergi dari ruangannya saat seorang pekerja pembersih mengusirnya keluar. Hujan masih turun dengan deras, pikirnya. Sepertinya Ia harus menerobos hujan dan jatuh sakit esok harinya. Ia merapikan barangnya dan meninggalkan berkas di meja sebab Ia tidak ingin folder-folder berharga itu basah kuyup saat Ia menghadap tangisan langit.

Sepatunya sudah melangkah keluar, namun hatinya tertinggal dan terhempas sangat jauh karena sekarang, yang ada di seberangnya dan terguyur hujan adalah Eros. Yang baju dan jaketnya sudah bergelimang tetes-tetes hujan. Rasa bersalah Janus langsung turun sekaligus, tidak perlahan dan tidak pula ramah padanya. Rasa bersalahnya akibat tadi pagi langsung menabrak Janus tanpa ampun.

“Ayo pulang!”

Eros harus berteriak sebab hujan yang deras itu menutup suaranya. Ia mengamati gerak-gerik Janus yang ragu-ragu hingga akhirnya Janus mau juga dan melangkah lebih dekat. Kini keduanya dihujani air mata Ibu Pertiwi. Keduanya saling bertatapan sebelum Eros lebih dulu menoleh dan berjalan menuju mobilnya dengan langkah hati-hati. Janus mengikuti langkahnya dari belakang. Tanpa harus melihat pun Eros tahu pasti wajah manis tersebut sedang menunduk, andai Eros bisa menghilangkan rasa sedih itu dari hatinya.

Janus harus menghentikan langkah sebab orang di depannya berhenti tiba-tiba. Hatinya semakin mengencang. Ia tidak kuasa mendengar apa yang akan Eros sampaikan karena Ia tahu pasti Eros akan berkata sesuatu.

“Sebenarnya, bagi kamu kita ini apa, Janus?”

Janus terdiam. Kaku. Membeku. Apa yang harus Ia jawab? Lagi-lagi si bisu ini tidak bisa berkata. Janus menginginkan Eros, tapi Ia tidak tahu apakah Ia menginginkan Eros lebih dari Ia menginginkan tetap pada pekerjaannya? Mereka sudah menghabiskan waktu lama bersama-sama. Tapi Ia juga selalu menginginkan menjadi jurnalis. Tidak bisakah Ia egois dan mengambil keduanya? Tapi tidak termasuk penghakiman dan penuduhan asal dari masyarakat.

“Tentu kita teman, kan?” yang mampu di ucap Janus hanya itu. Untuk sekarang.

“Kamu pasti tahu betul apa maksudku, Janus. Kamu ingin aku atau tidak?”

Sial. Sialan. Sialan dunia dan segala kejahatan hati mereka. Sialan Eros yang mencintainya begitu dalam sampai bertanya seperti ini. Sialan Janus yang pengecut dan brengsek. Sialan mulutmya yang hanya diam. Sialan hujan yang membuat kedua matanya berair dan basah.

“Aku… butuh artikel-artikel ku, Eros.”

Sialan kata-kata yang Ia lontarkan sehingga Eros mengambil posisinya sebagai si bisu dan berbalik badan. Eros tidak berkata apa-apa dari saat masuk ke mobil sampai Janus diturunkan di rumahnya. Kesunyian ini menusuk Janus. Badannya gemetar bukan karena dingin air hujan tetapi dari Eros yang enggan menatap mata Janus. Padahal Janus tahu menatap mata Janus adalah salah satu aktivitas favorit Eros. Selama perjalanan berlangsung hati Janus semakin turun dan turun sampai ke lambung dan dicerna asam.

Saat menurunkan Janus dari mobil pun Eros masih tetap diam. Sial, Janus tidak pernah suka ketika temannya itu diam. Sungguh sebuah perasaan yang sangat tidak mengenakkan. Sepertinya malam ini Janus tidak akan bisa makan dan minum karena rasa-rasanya Ia akan muntah sekarang juga.

“... Sampai jumpa besok, Eros…”

Empunya nama hanya menjawab dengan senyuman kecil. Matilah Janus hari itu.

 


 

Janus meluapkan emosinya dalam aksi-aksi kecil yang beruntun. Ia mulai lembur di tempat kerja dan jarang makan. Janus mengubur diri dengan pekerjaan dari panas terik siang hari sampai angin membawa aroma tanah basah setiap pagi. Malam dilewatinya tanpa peduli akan lelap yang menantinya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk melupakan semua yang pernah terjadi di hidupnya. Ia harus mendistraksi dirinya sendiri agar tidak ada pikiran melelahkan yang melintas.

Ia mengabaikan panggilan-panggilan dari teman, Ia tidak menghiraukan ajakan makan, dan tidak pernah menolak jika ada kasus baru yang harus Ia liput tak peduli seberapa berbahaya aksi yang diambilnya itu. Yang terpenting baginya sekarang adalah Ia harus lupa.

Tetapi pada suatu purnama, saat Janus menyerah pada berat mata yang menghantui Janus memutuskan untuk pulang dan bersemayam di kasur kesayangannya. Saat itulah Ia membuka dompet yang tidak pernah Ia ganti bertahun-tahun itu, entah hantu mana yang merasukinya saat itu yang membuat Ia membuka secarik kertas berisi foto dia dan Eros pada masa sekolah dulu.

Tak tertampung lagi air mata yang telah ditelantarkan oleh Janus sejak beberapa hari yang lalu. Melihat wajah Eros yang tidak pernah berubah saat memandang Janus membuatnya tersadar akan betapa berharganya Eros baginya. Bagaimana Ia bisa sekejam ini pada orang yang Ia ingin?

Oh, Tuhan! Oh semesta. Janus sangat menginginkan Eros. Sangat, sangat ingin Eros. Janus ingin mendekap Eros dan menghabiskan waktu hanya bersama Eros. Persetan dengan pandangan orang-orang! Benci Janus sesuka hati mereka karena Janus tidak akan peduli. Janus akan jujur kepada dirinya sendiri. Lagipula apa guna Ia membela kejujuran rakyat lain jika kejujurannya saja diabaikan oleh Ia?

Janus secepat mungkin berlari menuju telepon umum terdekat dan menelepon nomor rumah Eros.

Satu dering.

Dua dering.

Tiga dering.

Dua puluh lima menit Eros tidak menjawab. Ah, Eros pasti sangat marah sekarang. Sial. Sialan Janus dan sikap bodohnya selama ini. Janus langsung menelepon semua orang yang Ia kenal untuk menanyakan keberadaan Eros. Ia harus bertemu dengan Eros. Ia harus meminta maaf kepada orang yang sangat Ia cintai, demi Tuhan. Janus harus melihat kedua mata Eros yang selalu memandangnya dengan penuh cinta dan damba.

Apa Janus harus menunggu sampai besok pagi? Tidak ada satupun orang yang mengetahui dimana Eros berada. Janus takut. Sangat, sangat takut. Ia tidak ingin kepanikannya menghalangi jalan Janus menuju Eros. Rumah sakit! Jangan-jangan Eros sedang berada di rumah sakit andalannya. Ia harus cepat, sepertinya masih ada taksi yang beroperasi di jam segini.

Perjalanan mencari dan mengarahkan taksi terasa seperti buram cepat yang melewati Janus. Sialan supir itu yang memiliki wajah seperti Eros jika dilihat sekilas. Emosinya hampir terancam menjadi tak terkendali tapi demi mencapai Eros lebih cepat, Ia harus menahan dirinya sendiri. Ini harapan terakhir Janus untuk menemukan Eros. Erosnya. Eros yang selalu berada di samping Janus. Eros yang cinta Janus.

Sesampainya di rumah sakit, Ia langsung beranjak setelah membayar supir taksi tersebut dengan jumlah uang yang entah berapa. Ia berlari tanpa henti, menabrak satu dua orang sambil mencari ruangan yang biasanya mereka kunjungi.

Si bodoh ini mengarah ke ruangan dokter sedangkan harusnya Ia pergi ke s

resepsionis. Jelas sekali otaknya yang berjalan dengan kecepatan dua ratus kilometer per jam itu tidak berfungsi dengan baik. Ia lamgsung manuver ke arah resepsionis di lantai dasar dan segera menanyakan tentang pasien atas nama Eros Satya.

Jemari petugas yang mengonfirmasi nama Eros dan mencari di komputernya itu berhenti di atas keyboard beberapa detik.

“Untuk pasien tersebut, perawatan di rumah sakit ini sudah dihentikan sejak minggu lalu.”

“Dihentikan?”

“Beliau mengajukan perpindahan rumah sakit atas permintaan pribadi.”

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi setelah kalimat itu keluar. Janus hampir merasakan sesak familiar kembali ke dadanya.

Petugas berambut pendek dan berias tipis itu kembali melihat layar di depannya sebelum melanjutkan dengan nada formal yang sopan.

“Di sistem tercatat bahwa pasien sendiri yang mengonfirmasi proses transfer dan persetujuan administrasinya.”

“Dia… menghentikan penanganan sendiri?

“Iya.”

Ada bunyi klik pelan dari mouse komputer. Sepertinya petugas itu membuka folder lain di komputernya. Ah, sialan. Lama sekali petugas itu mengotak-atik komputernya.

“Permintaan perpindahan diajukan sekitar tujuh hari lalu dikarenakan alasan pribadi dari pasien.”

Pupus sudah harapan Janus untuk bertemu Eros. Bagaimana kalau Eros sudah menyerah pada mereka? Bagaimana kalau Eros kabur dan tidak ingin menghadapi Janus lagi? Bagaimana jika Eros akan selamanya mengira Janus tidak akan oernah mencintainya? Sialan. Sialan dunia ini. Sialan semua yang pernah bernafas di muka bumi ini. Terkutuklah semua manusia di bumi ini kecuali Eros.

Mungkin Eros ingin kehidupan yang lebih bahagia. Mungkin Eros akhirnya menyadari betapa lebih baiknya hidup tanpa Janus. Janus ingin menangis seperti anak kecil. Entah kakinya yang memperoleh kesadaran sendiri atau bagaimana caranya Ia sekarang telentang di kasurnya. Janus ingin menangis seperti anak kecil. Janus rindu Eros.

 


 

“Janus.”

“Iya, Ratih? Sudah lama ya kita tidak bertemu.”

“Iya.. Janus. Kabarmu bagaimana?”

“Baik, baik. Kamu?”

“Aku selalu baik.”

“Baguslah, ada apa tiba-tiba menelpon?”

“Janus.”

“..Iya?”

Kesunyian mengisi siang terik itu dengan cara paling aneh. Seperti ada laba-laba yang meraba jantung Janus dari dalam. Panas hari itu membuat keringat dingin Janus mengucur. Sudah lama sekali Janus tidak bertemu dengan Ratih. Sekitar dua atau tiga tahun mungkin. Apakah temannya itu akan menikah? Kalau begitu bahagia sekali pasti dirinya.

“Eros dari sebulan yang lalu keadaannya semakin parah. Kankernya sudah mencapai stadium empat dan... Ia meninggal kemarin.”

 

Apa?

 

“Bercandamu gak lucu, Ratih.”

“Aku tidak sedang bercanda, Janus. Kakak Eros kemarin memberi tahu aku—”

“Kenapa- kenapa aku tidak tahu?”

“Janus-”

Sudah cukup Janus mendengar berita itu. Janus mematikan telepon dengan tangan yang semakin melemas. Kakinya Ia paksa berjalan ke rumahnya sendiri.

Mati.

Matilah Janus. Mati seluruh tubuh dan jiwa Janus saat itu juga. Jika ini lelucon maka ini adalah lelucon paling tidak lucu sejagat raya. Eros. Eros. Eros. Erosnya yang sabar. Erosnya yang penyayang. Eros yang kecewa dengan Janus. Sialan. Sialan Janus dan ketololannya. Matilah Janus. Matilah semua orang yang membuat mereka seperti ini. Seharusnya Janus berada di sisi Eros setidaknya di nafas-nafas terakhirnya. Tapi dengan bodohnya Ia mengecewakan Eros berkali-kali.

Janus hancur sehancur-hancurnya. Bukan Eros saja yang mati namun Janus pun mati hari itu. Ini semua salah Janus. Semuanya salah Janus. Seharusnya dari awal Janus jujur kepada dirinya sendiri bukan demi pandangan manusia manusia laknat terhadap mereka. Memangnya kenapa kalau mereka saling mencintai? Tidak ada yang mencaci kalian di saat kalian bercumbu dan berdekap mesra hanya karena kalian Adam dan Hawa. Sialan. Brengsek semuanya.

Janus mengacak-acak isi kamarnya dengan frustasi. Air matanya tidak berhenti mengalir. Sampai menangis darah pun bisa dilakukan oleh Janus. Tuhan. Tuhan tolong kembalikan Erosku. Eros milikku. Mama. Mama Janus ingin bertemu Eros lagi. Mama, Janus kehilangan Eros. Mama, Janus bersalah, ma. Janus berdosa kepada Eros dan sekarang Eros sudah tiada. Janus harus menebus dosanya dengan cara apa? Kalau Janus tebus apa Eros bisa kembali?

Janus pun tidak akan tahu bagaimana ekspresi terakhir Eros yang entah berada di mana itu. Janus bersama Eros sepanjang hidupnya tetapi Ia tidak ada di saat-saat terakhirnya. Lelucon apa yang dilempar dunia kepada Janus? Kebangsatan apa yang Janus lakukan di kehidupan sebelumnya sehingga Ia dimain-mainkan seperti ini? Apakah dulu Ia pemimpin sekte? Atau Iblis? Makanya Ia diberi takdir sekejam ini? Eros tidak pantas mendapatkan akhir begini. Eros seharusnya.. Eros.

Eros tidak akan pernah tahu bahwa Janus juga mencintainya sangat dalam.

Oh, Tuhan. Tuhan yang baik dan penyayang. Eros tidak pernah tahu perasaan Janus yang sebenarnya.

Janus yang jahat.

Janus yang keji.

Janus yang bejat.

Janus yang terlalu takut untuk mencintai Eros secara terbuka ini sekarang kehilangan sosok paling Ia cintai.

 


 

Hari-hari Janus dijalani dengan abu-abu. Mendung menghiasi pagi dan bintang disumputkan oleh hitam malam. Janus menghabiskan waktunya untuk tenggelam dalam kesedihan di kamar dan sesekali keluar hanya untuk menghirup batang rokok. Aktivitasnya hanyalah bangun, menangis. Merokok, menangis. Menangis lagi. Dan lagi. Dan lagi sampai Ia terlalu lelah untuk tidur.

Habisnya, apa yang harus Ia lakukan? Ia tidak ingin mendatangi tempat peristirahatan terakhir Eros. Setidaknya, tidak sekarang. Dia belum bisa. Dia belum melepas Eros sama sekali. Eros masih ada di hidupnya, pikir Janus. Eros masih tertawa dan memandangi Janus dengan tatapan khasnya yang penuh rasa sayang.

Eros yang malam itu ada, sehat, dan hangat. Berada di samping kasur Janus sambil mengusap pelan rambutnya. Sialan. Janus tidak menyangka akan berhalusinasi seperti ini. Tapi setidaknya ini cukup untuk sedikit menambal hatinya yang bocor karena Erosnya sudah tiada. Eros halusinasi itu mendekatkan dirinya kepada Janus.

“Terima kasih sudah mencintaiku juga, Janus.”

Matilah Janus saat itu. Dan matilah keegoisan Janus yang belum melepas Eros. Sialan. Bahagialah kamu disana. Sementara Janus disini terbawa kantuk, kali ini tanpa mimpi yang biasa menghantuinya dalam bentuk wajah Eros yang kecewa.

 


 

Kalender sudah berganti angka di ujung. Janus sibuk membolak-balikkan halaman buku yang sudah Ia isi dengan coretan sejak tiga atau lima jam yang lalu. Janus berhenti dari pekerjaannya sebagai jurnalis. Secara realistis siapa yang sanggup bertahan di dalam ruangan menyesakkan yang hanya mengingatkannya pada kesalahannya yang dulu? Yang membuat Ia kehilangan cintanya?

Sekarang Janus hanya menulis secara lepas. Untuk dirinya sendiri, mungkin. Tentang Eros. Hampir semuanya tentang Eros. Beberapa ada yang tentang kota dimana mereka bisa menjadi satu tanpa ada kekhawatiran. Andai dunia itu ada. Mungkin suatu saat nanti. Atau mungkin ada dunia dimana mereka berdua tidak bisa merasakan luka dan terikat selama-lamanya. Yang satu lahir dengan tujuan berdampingan dengan yang lain, begitu pula sebaliknya.

Hari itu, Janus mengunjungi makam Eros untuk pertama kalinya. Tidak ada bunga-bunga yang tertabur. Hanya rerumputan dan nama Eros di atas batu. Janus teringat bahwa dulu Eros pernah bertanya apakah Ia masih mau berteman jika Eros menjadi batu. Ternyata mau jadi apapun itu, Janus akan tetap mencintai Eros.

Hari itu Janus bersorai bahwa Janus telah bertemu seseorang sehebat dan sebaik Eros yang memilih Janus sebagai orang yang dicinta sampai akhir hayatnya. Ia memang bukan orang yang religius. Tapi Tuhan, tolong. Kalau mereka dilahirkan kembali, jadikan Janus dan Eros sebagai dua insan yang dapat mencintai tanpa ada tragedi lagi.

Sampai hari itu tiba, Janus akan membawa Eros abadi dalam buku-buku nya.

Semoga di kehidupan selanjutnya mereka teduh.

 


 

Di sebuah kafe, di siang hari.

“Berarti lu nyimpen rahasia dari gue?” pria yang bertanya itu kemudian menyeruput kopinya.

“Pasti.” Dasar pengikut, yang diseberangnya ini pun menyeruput kopi dengan gerakan yang mirip.

“Apa? Lu tidur sama bini gue?”

“Gak lucu.”

“Jadi apa, dong? Gue gak kebayang ada sesuatu dari lo yang gak gue suka.” Jawab Pria yang sekarang sedang tertawa dengan kacamata kotak kecilnya itu.

“Termasuk kalo gue tidur sama bini lo?”

“Gak lucu.” Giliran lelaki dengan rambut yang sedikit lebih panjang di bagian depan itu yang marah.

Notes:

KELAAARRR, user Yeumshsa officiakky free fro this fanfic seneng banget HSJAHJSAHJH