Chapter Text
Di dunia yang tidak seharusnya saling bersinggungan bau darah dan angin laut justru bertemu di satu titik yang sama.
Cale Henituse berdiri santai di pinggir hutan Forks, tangannya masuk ke saku mantel, wajahnya seperti orang yang hanya sedang berjalan-jalan biasa. Padahal di sekelilingnya ada makhluk yang bisa merasakan energi supernatural sedang menahan napas.
Dia Jasper Hale
Atau Jasper Whitlock jika masih mengingat sisi manusianya.
Jasper muncul dari balik pepohonan dengan gerakan cepat, tetapi berhenti beberapa langkah dari Cale. Matanya sedikit menyipit, seolah sedang berjuang melawan sesuatu yang tidak bisa ia pahami.
"Emosi kamu... aneh," suara Jasper rendah tegang. "Aku tidak bisa membaca atau memengaruhinya dengan benar."
Cale meliriknya malas. "Itu karena aku tidak sedang merasa apa yang ingin kamu baca."
Jawaban itu seharusnya terdengar tidak masuk akal, tapi justru itu yang membuat Jasper semakin waspada.
Seharusnya semua manusia punya emosi takut, gugup, tertarik, atau setidaknya panik ketika berhadapan dengan vampir.
Tapi Cale seperti permukaan danau yang terlalu tenang.
Terlalu dalam untuk disentuh.
Jasper melangkah sedikit lebih dekat berhati-hati.
Instingnya sebagai prajurit Perang Saudara masih hidup di dalam dirinya, meskipun tubuhnya sudah bukan manusia lagi.
"Aku seharusnya bisa memengaruhi siapa pun di area ini, tapi kamu... seperti menolak semuanya." katanya pelan.
Cale menghela napas kecil "Kalau kamu mencoba mengendalikan emosi orang lain terus-menerus, kamu akan lelah sendiri."
"...Kamu tahu?" tanya Jasper
"Aku tidak bodoh." jawab Cale dengan datar
Hening
Angin melewati mereka membawa aroma hutan basah sesuatu yang membuat Jasper tanpa sadar lebih fokus pada Cale daripada seharusnya.
Haus yang berbeda
Bukan haus darah
Lebih seperti tarikan
Jasper menegang
Itu tidak normal
"Kenapa aku merasa seperti ini?" gumam Jasper, lebih kepada dirinya sendiri.
Cale menatapnya sekilas lalu mengangkat bahu. "Mungkin kamu akhirnya bertemu sesuatu yang tidak bisa kamu kontrol."
Kalimat itu seharusnya terdengar seperti ancaman.
Tapi entah kenapa, Jasper justru merasa itu seperti... undangan.
Tanpa sadar, langkahnya maju lagi.
Lebih dekat.
Lebih berbahaya.
Dan Cale tidak mundur sama sekali.
Saat jarak mereka tinggal satu langkah saja, Jasper berhenti.
"Ini tidak benar," Jasper berkata pelan, tapi suaranya tidak yakin.
Cale mendongak sedikit. "Apa yang tidak benar?"
Jasper menatapnya lama.
Terlalu lama.
Lalu, dengan suara hampir pecah oleh kebingungan yang tidak pernah ia rasakan selama hidup barunya sebagai vampir ia berkata: "Aku pikir... aku baru saja menemukan mate-ku."
Cale mengerjapkan mata sekali.
Hening.
Lalu ia mendesah pelan, seperti orang yang baru saja mendengar sesuatu yang merepotkan.
"Kalau itu masalahnya, kamu akan punya banyak masalah mulai sekarang." kata Cale santai
Jasper seharusnya mundur.
Seharusnya menolak.
Seharusnya lari dari sesuatu yang bahkan tidak bisa jelaskan.
Tapi ketika Cale akhirnya mengangkat tangan dan dengan santai menepuk dadanya sekali seolah itu hal paling normal di dunia Jasper tidak bergerak.
Karena di dalam dirinya, sesuatu sudah mengikat.
Bukan paksa.
Bukan sihir biasa.
Tapi seperti takdir yang akhirnya menemukan arah.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup barunya yang abadi Jasper Hale tidak tahu apakah ia sedang diselamatkan...
atau jatuh terlalu dalam pada sesuatu yang bahkan vampir tidak seharusnya miliki.
-
Sejak momen itu Forks tidak lagi terasa sama.
Bagi Jasper dunia menjadi lebih "berisik" daripada biasanya bukan karena emosi orang lain, tapi karena satu titik diam yang tidak bisa ia pahami.
Cale Henituse.
Dan itu mengganggu.
Bahkan di rumah Cullen, saat Edward membaca pikiran semua orang yang masuk ke ruangan, ada satu bagian yang selalu kosong ketika menyangkut Cale seolah pikirannya tidak bisa disentuh sama sekali.
"Dia bukan manusia biasa," gumam Edward suatu malam
Carlisle menatapnya tenang. "Aku sudah menyadarinya sejak pertama kali dia muncul."
Alice yang biasanya ceria, justru diam lebih lama dari biasanya. "Aku tidak bisa melihat masa depannya dengan jelas... hanya potongan-potongan yang berubah setiap kali aku mencoba mendekatinya."
Dan Jasper... Jasper hanya diam.
Karena yang paling mengganggunya bukan ketidakjelasan itu.
Tapi tarikan di dadanya setiap kali Cale berada terlalu dekat.
-
Hari itu hujan turun lebih deras dari biasanya di Forks.
Cale berdiri di bawah atap perpustakaan sekolah tidak terburu-buru masuk. Seolah dunia tidak pernah punya hak untuk mendesaknya.
Jasper datang tanpa suara di sampingnya "Kamu selalu berdiri di tempat seperti ini," kata Jasper pelan.
Cale tidak menoleh "Dan kamu selalu muncul tanpa permisi."
"Itu kebiasaan." jawab Jasper
"Buruk." ujar Cale
Jasper mendengus kecil.
Hanya sedikit.
Hampir tidak terlihat.
Tapi itu cukup untuk membuat Cale meliriknya sekilas.
Dan di saat itu Jasper merasa sesuatu di dalam dirinya mengencang lebih kuat dari sebelumnya. Seperti ikatan yang tidak sabar menunggu pengakuan.
"Aku mencoba menjauh," Jasper akhirnya berkata
Cale mengangkat alis. "Kenapa?"
"Karena ini tidak normal." jawab Jasper
"Dunia kamu memang penuh hal tidak normal." ujar Cale
Jasper terdiam lalu menatap lurus ke depan. "Ini berbeda."
Hening beberapa detik.
Hujan jatuh di antara mereka tapi tidak ada satu pun yang bergerak.
"Aku tidak bisa memengaruhi emosimu, tapi anehnya... aku mulai merasa tenang hanya karena kamu ada di dekatku." Jasper berkata lagi lebih rendah.
Cale menghela napas pelan seperti sedang menilai sesuatu yang merepotkan, tapi menarik.
"Jadi kamu ingin aku pergi?" tanya Cale
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi Jasper langsung menegang.
"...Tidak." Jawab Jasper dengan cepat
Cale akhirnya menoleh penuh sekarang benar-benar menatapnya. Mata emas vampir itu bertemu dengan mata merah permata yang terlalu dingin untuk manusia biasa.
Dan untuk pertama kalinya Jasper merasa seperti dialah yang sedang dibaca.
Bukan pikirannya
Tapi dirinya
"Aku tidak mengerti kamu," Jasper mengakui akhirnya
Cale sedikit tersenyum bukan hangat, tapi seperti seseorang yang sudah tahu hasil akhir percakapan ini sejak awal.
"Itu bagus, karena kalau kamu mengerti aku, kamu mungkin akan menyesal" katanya ringan.
Jasper tidak mundur.
Sebaliknya, ia melangkah lebih dekat lagi.
Kali ini cukup dekat sampai Cale bisa merasakan keberadaan dingin vampir itu dengan jelas.
"Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu dan itu tidak pernah terjadi sebelumnya." Jasper berkata jujur suaranya lebih serak dari biasanya.
Cale menatapnya lama.
Lalu dengan tenang berkata, "Kalau begitu, kamu sudah kalah sejak awal."
Jasper mengernyit. "Kalah?"
Cale mengangkat bahu kecil. "Dari rasa yang tidak kamu pahami."
Hening.
Dan di detik itu Jasper akhirnya mengerti beberapa hal:
Ini bukan sekadar ikatan biasa.
Ini seperti sesuatu yang lebih tua dari vampir, lebih dalam dari naluri dan lebih berbahaya dari perang mana pun yang pernah ia lewati.
Dan Cale tampaknya sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini.
Jasper menurunkan pandangannya sedikit, lalu berkata pelan:
"Kalau aku tidak bisa menjauh... apa yang harus aku lakukan?"
Cale menjawab tanpa ragu, seolah itu pertanyaan paling mudah di dunia.
"Bertahan."
Lalu ia melangkah melewati Jasper masuk ke dalam hujan, seakan tidak pernah memicu badai apa pun.
Tapi Jasper tetap berdiri di sana.
Karena untuk pertama kalinya, ia tidak mengejar mangsa.
Ia mengejar sesuatu yang bahkan tidak bisa ia definisikan.
Dan itu membuatnya lebih berbahaya daripada sebelumnya.
