Actions

Work Header

Next Page

Summary:

Just SkyNani and their married life.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: Their Daily Basis

Chapter Text

Empat tahun bukan waktu yang lama untuk sebuah pernikahan. Setidaknya menurut kebanyakan orang. Usia pernikahan mereka hanya terdengar seperti masa ketika pasangan masih berada di tahap manis-manisnya, semuanya masih terasa baru, ketika orang masih diam-diam tersenyum hanya karena melihat nama pasangannya muncul di layar ponsel.

Tetapi kalau orang melihat Sky dan Nani, tidak ada yang akan menebak mereka baru menikah empat tahun. Bukan karena mereka terlihat membosankan, justru sebaliknya. Rumah mereka terlalu hidup untuk disebut membosankan. Hanya saja kehidupan mereka dipenuhi kebiasaan-kebiasaan kecil yang sudah terlalu melekat satu sama lain sampai terlihat seperti sesuatu yang dibangun selama puluhan tahun.

Sky selalu bangun lebih pagi. Tubuhnya seperti memiliki jam otomatis yang menyebalkan. Bahkan saat hari libur dan tidak ada jadwal apa pun, matanya tetap terbuka di jam yang sama. Selalu begitu, dia akan bangun pelan-pelan, memastikan kasur tidak terlalu bergoyang, lalu otomatis menoleh ke samping dan seperti biasa, Nani hampir tidak pernah tidur dengan posisi yang sama seperti saat mereka memejamkan mata semalam.

Seperti, selimut sudah terlilit setengah badan, bantal sudah jatuh ke lantai, kepalanya berpindah ke sisi tempat tidur Sky, tangannya memegang ujung kaus Sky tanpa sadar. Awalnya Sky pernah mencoba memperbaiki posisi tidur Nani dan sekarang dia menyerah. Empat tahun membuatnya belajar bahwa melawan kebiasaan tidur Nani sama sia-sianya dengan berdebat dengan tembok.

Jadi sekarang dia hanya akan menarik selimut ke bahu Nani, menatap wajah tidurnya beberapa detik, lalu keluar kamar dan menyiapkan sarapan. Mereka selalu bergantian memasak. Meski rasa masakan yang dihasilkan berubah-ubah, rasanya tetap bisa dinikmati.

Sekitar dua puluh menit kemudian langkah pelan akan terdengar dari lorong. Nani tidak pernah benar-benar bangun dengan cepat. Dia seperti orang yang jiwanya tertinggal setengah di tempat tidur. Rambut berantakan, mata setengah terbuka, langkah lambat seperti sedang berjalan dalam mimpi. Lalu dia akan berhenti di dekat dapur dan menatap Sky.

Sky tahu artinya. Tentu saja berarti Nani sedang minta dipeluk. Jadi tanpa menoleh dia akan membuka sebelah tangan, dan Nani akan langsung masuk ke pelukannya, menempelkan pipi ke bahunya sambil diam.

Kedua orang ini bahkan tidak menyadari bahwa kebiasaan tersebut terbilang aneh sampai di suatu pagi saat liburan dengan salah satu teman mereka, sebut saja Win, datang terlalu awal dan melihat pemandangan itu. Win berdiri cukup lama di depan pintu dengan ekspresi menggoda karena baru saja menyaksikan sesuatu yang terlalu manis untuk jam delapan pagi.

Seperti kebiasaan Sky mengeluh soal punggungnya padahal usianya belum setua itu. Setiap habis olahraga, dia akan berjalan pulang sambil memegang bahu atau lehernya sendiri seolah habis melakukan pekerjaan fisik selama lima belas tahun. Nani, yang bahkan tidak terlalu suka aktivitas berat, entah bagaimana langsung berubah menjadi seseorang dengan energi usia yang sama, dalam hal datang membantu Sky untuk mengurusnya sambil membawa balsem, infused water, lalu mulai memijat bahu Sky dengan wajah datarnya yang khas namun penuh perhatian sambil mengomel sedikit.

Masalahnya kehidupan rumah tangga mereka tidak berjalan tanpa adanya konflik, bahkan terlalu kecil untuk disebut konflik dan yang sering dilakukan adalah perang suhu pendingin ruangan.

Nani menyukai udara dingin karena dia tidak bisa berada di ruangan yang panas. Apalagi dengan cuaca terik di luar seperti sekarang, bisa menimbulkan ruam merah di kulitnya.

Menurut Nani tidur paling nyaman terjadi ketika ruangan terasa seperti kutub. Sedangkan Sky adalah manusia yang bisa menggigil sementara orang lain masih merasa biasa saja. Maka setiap malam perang kecil dimulai.

Nani menurunkan suhu.

Sky diam-diam menaikkan lagi.

Jika Nani terbangun untuk ke toilet dan melihat remote AC, dia coba menurunkan lagi. Sky tidak lama akan bangun dan menaikkan suhunya. 

Tetapi pada saat melihat Sky menggulung diri di bawah selimut seperti ulat kecil, rasa ingin menang dalam diri Nani tiba-tiba menghilang. Dia tetap akan mengomel diam-diam dalam hati dan lima menit kemudian memeluk Sky mendekat sambil pura-pura tidak sadar. Jika seperti ini, maka waktunya Nani menjadi big spoon dan Sky adalah little spoon.

Ada juga konflik tentang merawat tanaman. Sky tidak mengerti kenapa Nani tiba-tiba mulai membeli tanaman kecil untuk rumah, bukan sekedar bunga-bunga yang biasa Sky beli untuk Nani setiap minggunya. Satu tanaman berubah menjadi tiga. Tiga berubah menjadi enam. Enam berubah menjadi sebelas.

Sky mulai curiga rumah mereka perlahan berubah menjadi hutan kecil. Tetapi Nani terlihat senang, jadi dia tidak terlalu banyak protes. Sampai suatu hari Nani pergi sebentar dan meminta Sky menyiram tanaman. Permintaannya sederhana tetapi Sky memiliki pemahaman yang salah karena menurutnya semakin banyak air semakin bagus.

Saat Nani pulang, salah satu tanaman terlihat seperti sedang mengalami krisis hidup. Nani berhenti di depan pot itu lalu menatap tanamannya dan suaminya itu bergantian berulang kali. Sky merasa seperti anak kecil yang baru ketahuan merusak sesuatu.

Sejak hari itu, Sky diam-diam mencari cara merawat tanaman selama hampir satu jam hingga beberapa hari kemudian dia malah menjadi terlalu serius. Dia mulai mengingat jadwal menyiram, memindahkan pot ke tempat yang menurutnya pencahayaannya lebih bagus, sampai membaca artikel panjang tentang tanaman. Sekarang justru Nani yang menatapnya bingung karena orang yang awalnya mengeluh sekarang terlihat lebih perhatian daripada dirinya sendiri.

Suatu malam hujan turun cukup deras disertai petir. Nani tertidur di sofa sambil menonton film romance tahun 90-an kesukaannya. Selimut menutupi setengah badan, televisi masih menyala pelan.

Sky keluar dari kamar setelah mandi lalu berhenti beberapa detik. Pemandangan itu terlalu biasa. Terlalu sering dia lihat. Tetapi anehnya, setelah empat tahun, sesuatu di dadanya masih menghangat setiap kali melihatnya.

Pada saat tidur, Nani bergerak sedikit mencari posisi nyaman lalu mendekat tanpa membuka mata dan tangannya bergerak pelan, mencari sesuatu, lebih tepatnya mencari Sky. 

Bahkan dalam keadaan setengah sadar, tangannya menemukannya dengan mudah. Jemarinya menggenggam ujung kaus Sky seperti memastikan dia masih ada.

Sky menunduk pelan lalu tersenyum kecil. Mungkin orang lain memang benar. Energi mereka memang seperti pasangan menikah empat puluh tahun yang hidup berdua saja.

Ada hal ketika Sky yang lupa di mana menyimpan dokumen, charger, atau kaus kaki sendiri tetapi Nani selalu ingat.

Nani membeli barang mahal atau pun murah di marketplace meskipun tidak membutuhkannya, seperti mug berbagai macam karakter, pakaian, dan peralatan dapur yang “katanya penting" sekaligus lego yang dia rasa bisa untuk menambah estetika rumah.

Sky yang enggan membeli banyak makanan dan berujung memakan setengah dari milik Nani. Dengan wajah polos dan beralasan Nani agak lambat saat makan, dia berpikir jika Nani tidak menyukai makanan tersebut.

Perebutan sofa di ruang tengah yang seperti punya area “tempat duduk masing-masing”, sisi tempat tidur masing-masing, atau meja kerja yang diam-diam sudah diklaim karena terlihat perbedaan barang-barang antara milik Sky dan Nani.

Satu orang diam saat stres, yang lain langsung panik karena sudah hafal perubahan kecil namun masih memberi ruang untuk sendiri terlebih dahulu.

Kalau empat puluh tahun ke depan terlihat seperti ini, Sky rasa dia tidak akan bosan sama sekali.