Chapter Text
SOMEWHERE, 2026
“i love you”
julian tersenyum lebar saat mendengar kalimat manis itu terucap dari belah ranum keenan untuk kesekian kalinya. memabukkan rasanya saat mendengar ungkapan cinta diutarakan oleh seseorang yang sangat berarti di hidupnya, terlebih memandang paras manis keenan dengan senyuman lebar dan semburat jingga di jendela kamar apartemen mereka. julian berani bilang, inilah pemadangan setiap sore yang dia nantikan setelah berkelut dengan segudang aktivitas di kampus. keduanya berbaring saling menghadap satu sama lain di kasur single milik keenan.
jemari lentik julius mengurai satu persatu legam keenan yang tebal sambil tertawa ringan, “kenapa kamu hari ini manis banget, sih?”
“nothing. cuma mau bilang itu, sebanyak dan sesering mungkin.” ucap keenan dengan senyum jahilnya sembari merebahkan badannya telentang dengan kedua lengannya di belakang kepala. julian meringsut mendekat meletakkan kepalanya di atas dada keenan, kebiasaannya saat sedang bersama sang kekasih.
diletakkan tangannya pada dada keenan, tepat di atas jantung yang berdetak yang tanpa dia sadari, entah sejak kapan sudah menjadi suara yang paling disenanginya selama hampir lima tahun bersama. hampir lima tahun bersama dan itu bukan waktu yang singkat untuk mengetahui dan memahami keenan, termasuk seluruh kebiasaannya.
bagaimana keenan lebih senang renang di pagi hari, meski cuaca dingin dan hampir membeku. bagaimana keenan lebih suka meminum segelas strawberry milkshake setelah seharian di lapangan, bermain bola dengan samudera dan marvin. bagaimana keenan suka menghabiskan waktu bersama julian setiap senja di apartemen kecil milik mereka bersama.
menurut julian, cinta dan segala bentuknya selalu mudah dipahami saat bersama keenan. semudah menghirup udara segar di pagi hari. julian selalu mengaminkan seluruh doa yang terujar dari semua orang, semoga kalian selalu bersama ya. mungkin itulah kenapa, setiap saat julian berharap dan berdoa pada Tuhan, hal ini untuk tetap sama selamanya. selama yang dia harapkan dan selama yang Tuhan izinkan.
namun, jauh di dalam hatinya, julian sadar betul tiga kata yang diucapkan keenan sore ini, hanyalah bualan. bualan besar yang selama ini selalu julian yakini.
and if keenan is a liar, julian is the best believer.
SOMEWHERE, MARCH 2021
julian ingat kali pertama saat semua hal di hidupnya mulai bersinggungan dengan keenan. semua itu dimulai di suatu hari yang cerah dan hangat di bulan maret tahun 2021. keenan berlari dan tertawa keras di sepanjang koridor sekolah mereka, saling kejar dengan samudera dan marvin seperti orang gila.
such a child, pikir julian.
saat itu, julian hanya sekadar tahu namanya. hanya sekadar tahu dan curi dengar tentang anak populer dari kelas sebelah yang juga merupakan teman dekat marvin, sepupunya dari pihak ayah. kali kedua julian bersinggungan dengan keenan adalah saat pesta ulang tahun marvin. sejatinya sangat ingin julian hindari karena terlalu banyak orang yang diundang dan membuatnya agak malas untuk berbaur.
kali itu juga menjadi kali pertama bagi julian dan keenan bersitatap langsung. julian ingat saat marvin menghampirinya dan berbisik di telinganya, “kamu harus ketemu sama teman - temanku ini. mereka baik banget, loh.”
julian hanya mengangguk kecil. sejujurnya bukan karena dia tidak mau berkenalan, tetapi memang bukan tipe yang suka berbicara banyak seperti marvin. datanglah keenan dan samudera dengan cengiran jahil khas mereka yang ditujukan untuk marvin sembari berbincang tipis yang lolos ke pendengaran julian, selamat ulang tahun, bro marvin!
keenan menyadari presensi julian lebih dahulu dibanding samudera. tangan kanannya menjulur pada julian, mengajaknya berkenalan sembari lengan kirinya merangkul ringan pinggang samudera.
“hai, julian! aku keenan, kalau ini samudera. pacarku.”
oh, pantas romantis begini, pikir julian.
entah kenapa dan bagaimana, julian seperti mendengar suara patahan dari dalam dirinya. bingung menyelimuti pikirannya, kenapa perasaan aneh ini muncul. ah! mungkin karena pasangan kekasih di hadapannya terlalu manis dan menggemaskan atau mungkin karena dia sendirian untuk waktu yang sudah terlalu lama. julian bahkan sudah lupa, kapan kali terakhir dia berpacaran.
dengan anggukan singkat, dijabatnya tangan keenan pelan. dia pikir prosesi kenalannya hanya sampai situ saja, ternyata salah.
“kamu anggota OSIS sekolah ‘kan?”
“iya, kenapa?”
jujur saja, julian malas kalau sudah membahas ini. bukan apa, sudah terkenal di sekolah mereka, bahwasanya hanya anak - anak terlalu rajin dan jarang bergaul yang melibatkan diri secara aktif dan sukarela di organisasi sekolah mereka. jadi, saat itu di pikiran julian hanya berputar pikiran negatif tentang keenan yang akan mengoloknya seperti murid - murid lain.
nyatanya, keenan tersenyum begitu manis sembari berucap, “nothing. aku dengar dari samudera, kalau kamu yang punya ide untuk perayaan valentine bulan lalu. itu hari ulang tahun aku juga! jadi, yah somehow aku merasa dirayakan juga sama orang satu sekolah. terima kasih, ya!”
keenan tertawa merdu dan halus setelahnya. julian tidak tahu harus merespon seperti apa karena sejujurnya itu hanya ide remeh yang dia lontarkan dengan asal - asalan yang entah mengapa dan bagaimana, pihak sekolah mengizinkannya begitu saja.
jadi, julian hanya mengangguk dan tersenyum singkat, “well, you’re very welcome, i guess?”
keenan semakin tersenyum lebar dan mengangguk singkat, sebelum menarik lembut pinggang samudera untuk pergi menghampiri temannya yang lain. samudera hanya mengangguk ringan, gestur pamitan sederhana. sejauh yang julian tahu, samudera sedikit lebih tenang dibandingkan keenan. mungkin benar adanya seperti kata orang - orang, your partner completes you and makes you a whole.
setelah pertemuan resmi mereka, entah bagaimana caranya, julian mulai berbaur dengan keenan, samudera, dan marvin. terlebih keenan yang selalu menyapanya dimana pun mereka bertemu dan mengajaknya untuk makan bersama di cafetaria bersama samudera dan marvin.
“samu agak aneh akhir - akhir ini.” ucap keenan sambil mengunyah pelan mochi strawberry sore itu, di taman komplek rumah julian.
alis julian berkerut tipis, “no, he is not? kemarin aku ngobrol sama dia and nothing’s weird tho.”
keenan mengggelengkan kepalanya sembari duduk di samping julian, “bukan aneh yang kayak biasanya, ju. dia reject semua calls, gak balas chat, bahkan gak mau dekat - dekat sama aku di sekolah!”
“mungkin kamu ada buat salah? atau kamu lupa janji nge-date kalian?” tanya julian dengan nada bingung karena hal ini juga cukup aneh untuknya. samudera jelas bukan tipe yang menghindari masalah, justru dia yang akan datang dan meluruskan semua salah paham pada keenan. namun, jika sudah begini, jelas ada hal yang mengganggu samudera sampai mengabaikan keenan.
keenan hanya menggelengkan kepalanya, clueless. keenan tidak tahu apa yang salah kali ini di hubungannya dengan samudera. sampai tiga hari setelah percakapannya dengan julian di sore itu, samudera membalas pesannya dan meminta bertemu di lapangan belakang sekolah, hanya untuk melontarkan kalimat yang keenan sendiri tidak pernah duga sebelumnya.
“let’s break up, keenan.”
