Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-25
Words:
760
Chapters:
1/1
Kudos:
10
Hits:
92

Rela

Summary:

Yudistira paham betul posisinya, ia bukan seseorang yang bisa memaksakan kehendaknya. Bahkan ketika Arjuna menghilang dengan misinya sekalipun, ia tidak bisa menghalangnya. Kesal dan amarah menyelimuti dirinya, ia mengira ia sudah merelakan 'kenangan indah' itu lalu kenapa si pujaan hati muncul tiba-tiba di tengah kerumunan orang di halte?

Notes:

authornya masih kepikiran buat dilanjutin, cuman gatau nanti jadi chapter baru atau ada modifikasi sikit

Work Text:

Yudis memandang kembali pemandangan di malam Kajarta hari ini. Selain macet yang tidak karuan, bahkan dua jam usai jam kantor selesai.

Ia masih terjebak di halte, menunggu untuk bus koridor 01 yang tak kunjung datang itu. Sekaligus menahan rasa ngilu di pundak usai bekerja seharian. Beruntung ia sempat mendudukan dirinya di bangku paling pojok, ia bisa bersandar sembari menunggu.

Menunggu itu bukan hal yang sulit, tapi perlahan Yudis harus melawan rasa kantuk mulai datang menghampiri. Yudis mengelap wajahnya berkali-kali, berusaha keras untuk menahan kedua kelopak matanya untuk tetap terbuka—khawatir kalau akan terjadi sesuatu kalau ia terlelap di halte bus. Ia hanyalah pengamen biasa di tengah-tengah pekerja kantor berkemeja yang lebih pintar dalam mencari kesempatan.

Tak jarang ia mendapati dirinya menatap ke arah bangunan apartemen di depannya, mengagumi cantiknya lampu-lampu yang tersu rapi itu. Yudis tidak suka perasaan yang ada di hatinya; perasaan yang biasa ia rasakan ketika merindukan sesuatu—atau bahkan seseorang.

“NIh, nanti kamu dari sini naik bus di koridor 9 ya? Jangan sampe lupa loh!” Yudis terbangun dari lamunannya, menyadari kalau di sebelahnya da sepasang kekasih yang tengah bercengkrama mesra.

“Iya sayang, iyaa.” 'Iya, Yudis. Nanti lah, kau kabarin kalau dah di koridor XX.'

Ah.. benar, mungkin karena itu..
“Arjuna ..” Kira-kira bagaimana kabar si mantan kekasih hati? Apakah ia sempat sukses di tengah-tengah kesibukannya? Aya bagaimana kabarnya? Biasanya Yudislah yang ikut menenemani Aya ketika Arjuna tengah “sibuk” atau sekedar membantu belanja…

Hal se-sime itu ternyata membawa kenangan paling banyak bagi Yudis. Namun sang pengamen tidak memiliki niatan untuk sekedar bertemu keduanya. Tidak dalam waktu dekat, tidak dalam waktu atau lama, Yudis tidak tahu kapan.

‘Pokoknya sampai reda ajalah!’ begitulah pikirnya. Kedua tangan Yudis mengepal di dalam kantong jaketnya, pertanda badai dalam hatinya belum berlalu.

Ia bisa saja marah dan memukul Arjuna di pipi, pria menyebalkan yang sudah mencuri hatinya lalu pergi tiba-tiba. Kalau saja ia berani, berbicara tanpa takut akan penolakan. Mungkin sekarang ia sibuk melawan orang-orang yang menginginkan Arjuna.

Walau sekarang, keberanian itu pupus menjadi debu. Yudis tidak akan bisa melawan kemauan Arjuna kalau dia ingin pergi.

kresek kresek..

Pupil mata Yudis melirik ke arah kanannya, tidak menggerakkan kepalanya sama sekali. Hanya penasaran dengan suara kresek plastik di sebelahnya. Ia tercengang melihat seseorang berusaha untuk mengambil kantong ciki yang ada di ujung gitarnya.

—pemisah cenah—

Arjuna bukan tipikal laki-laki yang membiarkan sesuatu hal mengganggunya. Apalagi hal kecil, ia sudah berusaha untuk mengurangi porsi kendalinya. Termasuk soal masalah transportasi umum yang tidak kooperatif ini. Misinya bisa di bilang hampir berhasil; tugas utamanya adalah melaporkan jadwal dari si terduga itu. Seseorang berinisial Rara, sekretaris dari seorang pejabat ternama. Arjuna sudah menghafal jadwal bekerja; ia bahkan mengikuti magang sebagai assisten untuk mendapatkan rutinitas penuh milik Rara. Namun, setelah melaporkan semua itu; klien anonimus masih menganggap kalau bukti yang Arjuna berikan masih kurang, mencurigai kalau Rara memiliki pekerjaan lain dliuar menjadi sekretaris.

Walau terpaksa menuruti permintaan klien, Arjuna sekarang terjebak di halte X. Menunggu di koridor 09 sambil sesekali memainkan ponselnya, entah mengabari adiknya atau sekedar melihat-lihat media sosial. Berusaha membaur dengan sekitarnya, target berada kurang lebih 3 meter darinya, sama-sama menunggu bus.

“PAK TOLONG ITU ADA YANG BERANTEM PAK!” Pandangan Arjuna sekarang berubah ke arah perempuan yang panik memanggil seorang satpam.

Biasanya Arjuna tidak akan ikut campur atau bahkan mendekat untuk melihat pertengkaran di halte bus—ia masih memiliki tugas yang harus ia lakukan. Tapi, manik abu Arjuna melihat warna rambut yang familiar, diantara kerumunan kepala surai hitam atau hijab bak ayam warna warni. Ia melihat helaian rambut hijau yang familiar, hijau miskin itu.

“Yudis?” Tiga detik kemudian barulah kepalanya berteriak panik. Ia melihat wajah Yudis sudah penuh lebam dan darah yang mulai mengucur dari hidungnya. Kedua kakinya langsung berlari ke arah Yudis ia berhasil membelah lautan orang itu. Tak lama jarak itu terhapus, Arjuna bisa melihat wajah yang sudah lama tidak ia lihat; wajah cantik yang sekarang penuh rona biru.

Beruntungnya, pelaku yang memukul Yudis berhasil diberhentikan oleh salah satu satpam. Walau si pelaku masih mengucapkan kata-kata kasar kepada Yudis, terlebih Arjuna yang ikut campur. “Woi! Kalem pak! Dek ini temennya boleh bawa dia ke pos security, nanti kita lanjutin di pos aja.” Bentak pak satpam ke si pelaku, walau nadanya melembut kepada dua korban itu.

Yudistira mendorong pelan pundak temannya, “Dia maling! Saya ngeliat dia mau ngambil plastik ciki saya!” Yudis membela dirinya sendiri, tangannya kemudian menunjuk ke arah pelaku.

“Bapak liat aja itu!” ujarnya sambil terengah-engah, sesekali mendesis karena perih di ujung bibirnya.

Akhirnya, mata satpam terarah ke si pelaku. “Kita ke pos aja dulu. Kita selesaikan di sana.”

Yudis bersumpah harinya tidak bisa semakin buruk.