Actions

Work Header

besok datang lagi, ya.

Summary:

Martin cuma ingin membeli kopi untuk bertahan hidup dari deadline kantor.

Yang tidak ia duga, ternyata ada seorang barista manis yang perlahan menjadi bagian dari rutinitas pulangnya.

Work Text:

Malam itu menjadi malam yang buruk bagi Martin, pekerja agensi yang sedang dikejar tiga deadline beruntun yang harus diselesaikan malam itu juga.

Tiga deadline begini mah bukan kerja, anjing. Ini namanya dibunuh pelan-pelan.

Terlalu lama memikirkan daripada mengerjakan hal tersebut, Martin memutuskan untuk pergi ke salah satu kafe di ujung jalan dekat rumahnya.

Kafe di ujung jalan ini terasa hangat. Dengan fasad modern minimalis di mana hampir seluruh bagian depannya dilapisi kaca. Dari trotoar, Martin bisa melihat isi dalamnya dengan jelas. Lampu-lampu kuning hangat, beberapa orang yang sibuk dengan laptop mereka, termasuk bagian kasir. Semua terlihat dengan jelas. 


Denting pintu kafe menandakan kedatangan seseorang. Keonho yang tengah duduk di belakang kasir langsung berdiri, mempersiapkan diri menyapa pelanggan.

"Malam, kak. Mau order apa?"

Sementara itu, Martin yang tengah menyibukkan diri dengan gawainya menengok ke arah kasir. Melihat laki-laki yang menggunakan kemeja boxy stripe berwarna sage yang tertutup apron, dipadukan dengan topi yang senada.

'manisnya' celetuk Martin dalam hati.

"Iced Cappucino nya satu, kak. Take away, ya."
"Okay, kak. Sebentar"

Menurut Martin, menunggu merupakan kegiatan yang sangat membuang waktu. Namun entah mengapa, malam ini, Martin ingin menunggu.

"Kak? Here's your iced cappucino"
Menerima kopi tersebut, tidak lupa juga Martin untuk mengucapkan terima kasih.
"Sama-sama, kak" Celetuk Keonho.

Keluar dari kafe yang ditemani dengan denting bel pintu, untuk pertama kalinya minggu ini, Martin merasa harinya tidak seburuk itu karena ia pulang senyum-senyum sendiri kayak orang bego.


Hari-hari Martin sekarang menjadi lebih berwarna. Dirinya sekarang sering sekali melewati kafe di ujung jalan. Pelan-pelan, tanpa Martin sadari, kafe tersebut mulai menjadi bagian dari rutinitasnya. Berkali-kali ia melemparkan pandangannya ke kafe itu demi melihat lelaki yang ada di belakang kasir. Hampir setiap hari.

Hingga akhirnya Martin mulai hafal dengan shift barista manisnya. Berkali-kali diirinya sengaja mendatangi kafe tersebut tepat saat Keonho sedang bekerja. 

"Iced Cappucino, satu, take away. Bener, kan?"
Martin tertawa kecil mendengar kesoktahuan barista itu.

"Bener. Tapi hari ini gak take away. Sama Cinnamon Croissant nya satu."

"On it, kak.  Bayarnya QRIS, like usual?"

"Yep"

"Okay, nanti pesenannya silakan diambil kalau sudah selesai, ya"

"Aku tunggu sampe pesenannya jadi aja, baru aku duduk" Basi. Martin cuma ingin mencari alasan untuk bisa melihat barista itu bekerja.


Mengangguk setuju, Keonho langsung membuatkan pesanan sesuai keinginan Martin.

"Kak, pesenannya, ya." seru Keonho

"Loh, croissant nya belum?"

Meringis karena kesalahannya, Keonho langsung memberikan Cinnamon Croissant tersebut ke Martin 

"Hehehe. Maaf, kak. Ketinggalan"


Menerima senyuman hangat Keonho, Martin mengembalikan senyumannya 
"Iya, gapapa."


Satu hal yang tidak diketahui Keonho, Martin enggan berhenti tersenyum bahkan setelah ia sudah duduk di salah satu kursi kosong di kafe itu. Martin ingin mengenal lelaki itu lebih jauh lagi.

"Apaan... Masa di struk bayaran namanya kepotong. 'Keon' doang tulisannya? Gimana gua bisa tau namanya, dah..." celetuk Martin kecewa. 

Meskipun begitu, bagi Martin, ini menjadi kesempatannya untuk mencari tau eksistensi orang berinisial 'Keon' di berbagai sosial media. Sayangnya, dirinya tak kunjung menemukannya di semua situs sosial media. Ini malah bikin Martin makin sering datang.

Masa iya gak bisa nemuin nama lengkap barista satu itu?


Malam setelahnya, Martin sebenarnya berniat untuk kembali menyambangi kafe tersebut demi melihat 'eye candy' nya. Sepanjang perjalanan pulang dari kantor, Martin terus-terusan mempertimbangkan pilihannya untuk harus pergi ke kafe tersebut atau tidak.

"Ngopi mulu sebenernya gua takut kena ginjal, dah... Tapi kalo gak beli kopi gak bisa ketemu si manis."

Namun pada akhirnya Martin menyerah juga. Ya gimana ya… dia pengen lihat si manis itu lagi...

Sekarang dirinya sudah berdiri di sebrang kafe tersebut. Dari kejauhan, ia melihat lelaki yang dicari-cari olehnya mengenakan kacamata, sedang duduk di luar bermain dengan handphone nya. Suntuk, mungkin. 

"Buset. Cakep banget, jir pake kacamata... Grogi dah" celetuknya.


Tidak lama kemudian, Keonho beranjak berdiri, menemukan Martin di seberang jalan. Dibatasi oleh lalu lintas yang tidak terlalu ramai, mata mereka bertemu. 

'manis banget, cuk...' begitu lah isi hati Martin sesaat mata mereka bertemu. Di seberang, Keonho hanya tersenyum formal ke Martin, lalu masuk ke dalam kafe. 


Setelah eye contact absurd barusan, Martin jadi salah tingkah sendiri di depan kasir. Sebisa mungkin Martin membuang muka saat berhadapan dengan Keonho di depan kasir. Namun mungkin ini hari keberuntungan Martin. Karena tiba-tiba, 

"Kerja atau kuliah, kak?" 

Kaget dengan ucapan yang keluar dari mulut barista itu, Martin membalasnya dengan terbata,

"K-kerja, kak" 

"Kakaknya influencer, ya?"

Terkekeh mendengarnya, Martin merasa harus melanjutkan obrolan ini lebih lanjut. Menarik.

"Kenapa bisa bilang aku influencer?"

"Kakak keren soalnya. Kalcer. Outfit nya bagus-bagus" 

"Gak, kak. Aku kebetulan kerjanya di agensi. Jadi emang bajunya gak se-formal orang kantor lainnya"

Mengangguk sembari mengunci porta di mesin espresso, Keonho memutuskan untuk mengajak ngobrol Martin lagi,

"Emang kalau kerja di agensi pulangnya malem terus, kak? Aku suka liat kakaknya di ujung jalan baru pulang malem. Kadang kesini pas shift ku juga udah mau selesai"

Pernyataan ini sebenarnya membuat hati Martin terasa hangat.

Jir.. Jadi selama ini si manis sadar kalau gua sering dateng?

Namun demi melanjutkan obrolan, Martin memilih untuk menahan senyumannya.

"Haha. Gak juga, cuma aku lebih suka selesaiin semua kerjaanku di kantor daripada di rumah. Jadi kadang sendirian di kantor sampe malem. BTW, kamu suka Oasis, ya?"

"Ya?" Tanya Keonho memastikan

"Kamu. Kamu suka Oasis? Setiap dilayanin sama kamu, lagu yang keputer selalu lagu Oasis"

"Oh. Iya. I like them a lot. kakak gak suka Oasis, ya?"

"Kata siapaa?" Martin terkekeh

"Takutnya kakak gak nyaman..."

"Suka kok"

"Bagus deh kalau gitu. Ini ya kak kopinya. Terima kasih"

"Makasih juga, ya"

Tersenyum hangat, Martin berjalan menuju pintu kafe tersebut. Alih-alih mendengar dentingan bel pintu yang biasa didengar, Martin malah mendengar Keonho memanggilnya,

"Kak?"

"Eh, iya? Kenapa?" Sahut Martin sedikit berteriak dari pintu kafe

"Hati-hati. Besok datang lagi, ya"

Series this work belongs to: