Actions

Work Header

Hari Ini Jangan Cepat Malam

Summary:

Motoran satu tangan keliling Jogja, tangan satunya lagi ngelus lutut yang dibonceng.

Work Text:

Hari ini tanggal merah. Seperti pasangan pada umumnya, Keonho sudah merencanakan untuk pergi keluar bersama Martin seharian. Martin pun tidak menolak, bahkan sekarang dirinya sudah duduk di kamar kos Keonho membicarakan hari ini harus pergi kemana. 

"Menurutku, sekarang kita jalan ke geprek Bu Made. Makan. Abis itu, kita pacaran di JNM Bloc sampe malem sekalian nonton gigs temenku. Terus pulang ke rumahku, kamu nginep, kita ciuman!" Seru Martin lantang.

Keonho terkekeh, "Ah! Godean dan godaannya itu lagi"

Tidak kuasa menahan tawanya, Martin terbahak menunjukkan deretan giginya yang luar biasa rapi. 

"Tapi beneran, by. Nginep aja, yuk. Hari ini aku sendirian di rumah karena Bapak sama Ibu lagi pergi sampe besok"

"Yaudah, tapi aku gak mau bawa baju"

"Akal-akalan orang Jakarta biar pake baju aku, yah"

Memilih untuk tidak menjawab, Keonho berdiri, 

"Udah, ah. Berangkat. Nanti keburu siang"

Sekarang keduanya tengah berada di bawah terik matahari Jogja yang menusuk dengan motor Martin yang berhenti tepat di garis lampu merah, turut bersenandung bersama penyanyi jalanan kota yang sedang menyanyikan lagu Cantik dari Kahitna.

"Walau mentari terbit di utaraaaa. Hatiku hanya untukmuuu — tau aja nih yang nyanyi kalau di sini ada yang cantik. Gawat, by. Ada yang notis kamu" Ucap Martin sambil melihat spion yang telah diatur olehnya agar bisa melihat muka yang dibonceng.

Melirik Martin dari pantulan spion, Keonho menaikkan kedua alis tebalnya penuh percaya diri, "Jujur emang orang cakep kaga pernah tenang dah idupnya" 

"Duh, pacarku seleb" Ujar Martin sambil memutar perlahan gas motornya untuk kembali bergerak mengikuti arus jalan.


Bahkan hingga mereka sampai di Ayam Geprek Bu Made, panas masih turut serta mengikuti mereka.

"Anjing. Panas banget Jogja hari ini" gumam Keonho saat turun dari motor demi memudahkan Martin mencari parkiran.

"Bukannya di Jakarta sama aja?"

"Gak, ah. Di Jakarta gak ada kamu"

Sekarang gantian pipi Martin yang panas.


"Bu, ayam geprek e kalih, sing siji rawit e gangsal, sijine... -- kamu mau berapa cabenya?" tengok Martin ke Keonho.

"Dua"

"Sijine kalih, bu"

"Weak"

"Terserah aku?"


Setelah keduanya duduk berseberangan, sebelum Martin memulai pembicaraan, Keonho sudah lebih dahulu bersuara,

"Kamu ganteng kalau lagi ngomong bahasa jawa"

Walaupun rasanya ingin sekali tersenyum, Martin memilih untuk mendelik ke arah Keonho,

"Kamu kenapa hari ini... gak biasanya, loh..." 

"Muji aja kenapa, sihh?" Jawab Keonho cekikikan

"Kira-kira udah cocok jadi Sultan, belum?"

"Gak, ah. Kamu tetep jadi pacarku aja"

"Tuh. Mulai. Wis, dimaem sek"

"Iyaaaa, mas"

Kalah mutlak. Sepanjang makan siang hingga keduanya kenyang Martin cuma bisa senyum-senyum sendiri.


Selesai makan, Martin mengambil teh manis milik Keonho tanpa izin

"Eh! Punya aku..."

"Kenapa, sih? Sama pacarnya sendiri kok perhitungan"

Berjalan keluar setelah membayar dan mengucapkan terima kasih, mereka siap untuk pergi ke tujuan selanjutnya. Martin yang sibuk mengunci chinstrap Keonho, sementara Keonho sedang memilih lagu yang ingin diputar selama perjalanan menggunakan earphone.

"Kamu mau dengerin lagu juga, gak? Mau pake earphone yang kiri atau kanan?"

"Apa aja, by. Dah!" Sahut Martin senang sambil menepuk pelan helm Keonho. 

Di bawah senja kota Jogja, hanya ada Martin, Keonho, dan motor kesayangan Martin yang ditemani alunan lagu Nothin' On You.

"I COULD BE CHASIN BUT MY TIME WOULD BE WASTED, THEY GOT NOTHIN ON YOOOOUUUUUU BABBYYYY"

"By, berisik banget sumpah..." ucap Keonho sambil melirik tangan kiri Martin yang sedari mengelus lututnya selama perjalanannya. 

"Kamu emangnya gak capek nyetir satu tangan?" Lanjut Keonho

"Capek, sih" jawab Martin santai,

"Tapi gak tau kenapa tangan kiriku sukanya ada di lutut kamu."

"Di JNM ada gelato enak, kamu mau gak?" Lanjut Martin

"Apa aja, deh. Tapi sharing, ya. Aku masih kenyaaang"

"Aku siap sharing semuanya sama kamu sampe kiamat, by"


"Duduk sini, by" Sahut Martin yang akhirnya menemukan tempat duduk di tengah keramaian JNM malam itu sambil sibuk memegang gelato matcha dan satu slice pizza untuk mereka berdua. 

"Nanti temen kamu manggung jam berapa?"

"Jam setengah delapan. Nanti selesai manggung aku kenalin kamu ke mereka, ya"

"Boleh" Jawab Keonho setuju. 

Untuk beberapa saat, mereka cuma duduk menikmati suasana malam hari di JNM di mana banyak orang berlalu lalang, suara tawa bercampur musik dari berbagai arah sambil pelan-pelan keduanya menghabiskan gelato dan pizza yang juga perlahan menjadi dingin itu. 


Entah apa lagu yang dibawakan oleh teman-teman Martin sekarang. Keonho tidak mampu mendengarkan lagunya dengan jelas karena dikelilingi oleh senandung dan teriakan. Mereka berada di tengah kerumunan gigs, dengan badan yang saling menempel, Martin memastikan Keonho tidak pergi jauh darinya. Tangan Martin selalu berada di pundak Keonho. 


"Aku ada untukmu" Bisik Martin sedikit teriak di telinga Keonho.

Keonho mendongak, melihat Martin yang tepat di belakangnya

"Apa?"

"Itu. Lagunya Perunggu!"

Hah?!" Teriak Keonho kembali,

Martin akhirnya mendekat lagi, kali ini sampai bibirnya nyaris menyentuh telinga Keonho.

"Lagunya Perunggu," ulangnya pelan. "Judulnya Aku Ada Untukmu."


"Oi!" Teriak Martin sambil berjalan ke arah teman-temannya saat melihat mereka.

"Ayo, by" Ajak Martin kepada Keonho sambil menggandeng tangan Keonho


"Gacor, lur. Apik pol. Latiane pirang dino?"

Martin langsung tertawa keras mendengar jawaban temannya. Sementara Keonho cuma memperhatikan dari samping. Martin memang selalu jadi pusat keramaian apabila sedang bersama teman-temannya; usil, berisik, dan gampang menyatu.

Jadi seperti ini Martin kalau sedang bersama teman-temannya.

"Eh, ini," ujar Martin tiba-tiba.

Tangannya menarik Keonho sedikit maju.

"Kenalin. Pacarku."


Keonho menjadi sedikit pemalu apabila bertemu orang baru. Maka ia menerima jabat tangan teman Martin dengan canggung.

"Keonho," Jawab Keonho pelan saat ditanyakan namanya.

Merasa tidak mendengar, teman Martin mendekat untuk mendengar suara Keonho lebih jelas, "Sopo?"

 

Raut muka Martin langsung berubah. Ia gak suka. Martin langsung menempelkan tangannya ke muka temannya, mendorong, memintanya untuk menjauh.

"Ojo cedak-cedak, su"

Hal ini menimbulkan sorakan dari teman-teman Martin,

"Woooo Posesif saikii"

"Ampun, mas Martin... Ora tak rebutt!"

"Ngeri tenan og saiki Martin"

Setelah perbincangan yang menurut Keonho cukup panjang, Martin akhirnya memutuskan untuk pulang duluan. Selama perjalanan mereka menuju parkiran, Martin masih sempat membalas teriakan teman-temannya.

"Ati-ati, lur!"

"Pacaran terus!"

Martin cuma ngakak sambil mengangkat tangan asal.

 
"Capek, ya?" Akhirnya Martin memusatkan perhatiannya ke Keonho

Tidak menjawab, Keonho malah langsung menyenderkan kepalanya ke Martin

Martin tersenyum hangat akan gestur pacar kecilnya itu.

"Yaudah. Kita langsung pulang aja, yuk"


"Laperr! Masak Indomie, yuk?"  Teriak Keonho merengek saat Martin sedang menutup gerbang rumahnya.

"Boleh. Gih, kamu ke dapur duluan cari Indomie nya. Ada di lemari makanan, ya."

Masuk ke rumah, Martin menemukan Keonho yang sedang mengisi panci dengan air. Disediakannya juga Indomie dan piring yang sudah ada di meja.

"By, aku mau Indomie nya pedes. Kamu punya cabe rawit?"

"Ada. Di kulkas. Aku bantu cari, ya?"

"Aku ajaa! Nih, tolong kamu nyalain kompornya"

Beranjak menggantikan pekerjaan Keonho, Martin dengan mudahnya menyalakan kompor lalu menaruh panci itu ke atas kompor

"Belum nemu? Kok lama banget, by?"

Ragu akan pacarnya bisa menemukan cabai rawit di kulkas, Martin memutuskan untuk menyusul Keonho.


Martin mengintip sedikit dari depan pintu kulkas, melihat Keonho yang sedang berjongkok. Masih mengorek-orek salah satu kompartemen kulkas rumah Martin.

"Gimanaa? Nemu gak?"

"Nemu!" Seru Keonho buru-buru menegakkan badan sambil mengangkat sebungkus cabai rawit.

Martin yang berada di depan kulkas menjadi terdiam.

Kini jarak muka mereka sangat dekat. Martin yang menunduk, sementara Keonho menengadah. Bahkan mereka bisa saling merasakan hembusan napas satu sama lain.

Pintu kulkas masih terbuka, menjadi pembatas di antara mereka. Lampu kulkas jadi satu-satunya penerangan di dapur.

"Kamu hari ini cantik." Tukas Martin.

Keonho berkedip pelan.

Martin tertawa kecil, kalah.

"Boleh gak kalau aku cium kamu?"

Sama kalahnya dengan Martin, Keonho cuma tersenyum kecil.

"Take it as you will, sayang."

Maka Martin menautkan bibirnya pada Keonho. Pelan, namun tetap menuntun seakan dirinya sudah merencanakan hal ini. Dan memang, tidak ada yang benar-benar kaget saat mereka berciuman. Karena hal yang sedari tadi mereka tahan akhirnya terjadi juga. 

Kehabisan napas dan kedinginan karena masih berada di antara kompartemen dan pintu kulkas, Keonho memutuskan untuk melepaskan tautannya dengan Martin.


"Yah? Kok udahan?" Ungkap Martin kecewa

"Dingin! Kalau mau ciuman jangan di kulkas!"

Tawa Martin pecah, "Yaudah, abis ini makan mienya dulu"


"Abis itu?"

"Ciuman sampe subuh"