Actions

Work Header

White Ferrari

Summary:

i'm sure we're taller in another dimension

inspired by frank ocean's song – white ferrari

Notes:

Martin as Kama
Juhoon as Asa

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Malam itu, gerimis baru saja menyisakan aspal basah yang berkilat di bawah sorot lampu jalan. 

Suara raungan knalpot motor yang lalu-lalang terdengar samar, bersahutan dengan riuh rendah obrolan yang ada. 

Lampu-lampu memantul cahaya acak pada genangan air di pelataran. 

Di salah satu meja paling pojok, tawa keras pecah. 

Beberapa anak sedang mengeluhkan dosen dan tumpukan tugas yang seperti sengaja diciptakan untuk membunuh masa muda mereka.

Dan di sanalah, di antara asap rokok yang mengepul tipis dan aroma sisa air hujan, Kama pertama kali melihat Asa.

“Eh, kenalin,” celetuk Kevin, menepuk bahu laki-laki yang duduk di sebelahnya dengan santai. “Ini Asa. Temen gue di arsi.”

Asa yang awalnya sedang sibuk mengaduk minumannya, mendongak pelan. 

Penerangan lampu yang temaram membuat siluet wajahnya terlihat lembut. 

Ketika matanya bertemu dengan mata Kama, seulas senyum kecil terbit di bibirnya. 

Senyum yang tipis, tidak berlebihan, tapi entah bagaimana punya daya magis yang langsung membuat atmosfer di sekitar mereka terasa lebih teduh.

“Kama,” balas Kama, mengulurkan tangan yang disambut dengan genggaman hangat namun santai oleh Asa. “Anak yang sering banget dibahas sama Kevin, ternyata ini wujudnya.”

Asa menaikkan satu alisnya, geli. “Yang dibahas jeleknya pasti kan?”

“Lah, justru kebalikannya. Katanya lo paling rajin seangkatan. Tugas maket lo sering dapat A, katanya.”

Asa terkekeh pelan, menggelengkan kepala sambil memalingkan wajah ragu. “Males ah dipuji. Biasanya ada maunya kalau Kevin yang muji.”

Mereka semua tertawa kecil setelah itu.

Sesederhana itu awalnya. 

Tidak ada instrumen musik romantis yang tiba-tiba berputar di udara. 

Tidak ada adegan tatapan mata dramatis berdurasi beberapa detik seperti di film-film roman picisan. 

Mereka hanya dua orang asing yang kebetulan berada di satu lingkaran pertemanan dan bertukar nama di sebuah malam yang biasa saja.

Namun, semesta kadang punya cara tersendiri untuk mengikat dua orang menjadi satu.

Setelah malam perkenalan itu, frekuensi pertemuan mereka meningkat tanpa direncanakan. 

Kampus yang luas itu mendadak terasa menyempit. 

Kadang, mereka hanya berpapasan di koridor yang ramai, saling melempar anggukan kecil. 

Di hari lain, mereka mengantre di kios kopi yang sama, bertukar sapa formalitas tentang bagaimana kabar kuliah masing-masing. 

Atau di hari yang melelahkan, mereka hanya saling melempar senyum kecil dari jarak jauh di antara kerumunan orang yang ada.

Lama-kelamaan, ada sesuatu yang mulai bergeser. 

Sapaan yang awalnya kebetulan, perlahan berubah menjadi antisipasi. 

Diam-diam, mata mereka mulai terbiasa mencari sosok satu sama lain di setiap sudut ramai yang mereka lewati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Waktu itu, jarum jam sudah merangkak hampir mendekati waktu magrib. 

Semburat jingga di langit mulai padam, digantikan warna abu-abu keunguan yang pekat. 

Asa baru saja melangkah keluar dari ruang kelasnya yang dingin ketika ponsel di saku celananya bergetar.

Satu pesan masuk. Dari Kama.

Kama: Masih di kampus?

Asa menghentikan langkahnya di undakan tangga koridor, jempolnya bergerak cepat mengetik balasan singkat.

Asa: Iya. Baru keluar kelas banget ini. Kenapa?

Balasan dari Kama datang seketika, seolah laki-laki itu memang sedang menggenggam ponselnya sambil menunggu.

Kama: Temenin gue di kantin arsi dong.

Asa mengernyitkan dahi, langkah kaki kembali bergerak membawa tubuhnya turun.

Asa: Ngapain di kantin jurusan gue? Gabut lo ya?

Kama: Tadinya mau nyamperin Kevin. Taunya anaknya udah cabut duluan sama Sean. Gue ditinggal anjir.

Asa terkekeh kecil menatap layar ponselnya. 

Kepalanya menggeleng samar, membayangkan wajah gusar Kama yang ditinggal pergi begitu saja oleh temannya demi urusan asmara.

Lima menit kemudian, langkah kaki Asa membawanya sampai ke area kantin yang mulai lengang. 

Dari kejauhan, dia langsung bisa menemukan sosok Kama. 

Laki-laki itu sedang duduk sendirian, menopang dagu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menjepit sebatang rokok yang asapnya membubung tipis. 

Tatapannya kosong, menatap lurus ke arah jalanan.

Namun, begitu netra Kama menangkap kehadiran Asa yang berjalan mendekat, gestur tubuhnya langsung berubah. 

Kama buru-buru mematikan puntung rokoknya di asbak, mengibas-ngibaskan tangan di depan dada seolah ingin mengusir sisa asap yang menggantung.

“Hai,” sapa Asa, menarik kursi plastik di hadapan Kama lalu mendudukinya.

“Hai juga,” Kama membetulkan posisi duduknya, mendadak senyumnya mengembang lebar. 

“Ngapain lo sendirian di sini kayak orang ilang?” tanya Asa berbisik jenaka.

“Ya kan tadi gue bilang, gue gabut. Korban ditinggal temen yang bucin.”

“Kasihan banget.”

“Makanya ditemenin, biar gak kasihan-kasihan banget.”

Asa tertawa pelan. 

Suara tawanya renyah, berbaur dengan desau angin sore yang mulai mendingin. 

Setelah gurauan singkat itu, sebuah keheningan mendadak turun di antara mereka.

Anehnya, itu bukan jenis diam yang canggung atau mencekam yang membuat salah satu dari mereka ingin buru-buru pergi. 

Justru sebaliknya—diam itu terasa begitu lapang dan nyaman. 

Seolah-olah mereka sudah berbagi ruang yang sama selama bertahun-tahun, hingga kata-kata tidak lagi menjadi satu-satunya alat untuk menerjemahkan kehadiran.

Kama melipat tangannya di atas meja, menopang dagunya menggunakan kedua tangan sambil memperhatikan lamat-lamat profil samping wajah Asa yang diterpa lampu kantin.

“Sa… mau makan gak? Gue laper banget, sumpah.”

Asa menoleh, mendapati sepasang mata Kama yang menatapnya penuh harap. Dia memegangi perutnya sendiri yang memang sudah mulai protes. “Laper juga, belum makan dari siang.”

“Yaudah, ayo.”

“Ke mana?”

“Ada mie ayam enak di belakang kampus. Tempatnya agak nyempil, tapi rasanya juara dah.”

Asa mengangguk kecil, menyetujui. 

Karena sore itu Asa tidak membawa kendaraan dan biasanya memang dia hanya berjalan kaki dari kos ke kampus, dia akhirnya pasrah saat Kama menyerahkan sebuah helm hitam kepadanya.

“Pake, Sa.”

Malam itu, untuk pertama kalinya, Asa duduk di jok belakang motor Kama. 

Mesin motor berderum pelan, membelah jalanan setapak di area belakang kampus yang minim penerangan. 

Sepanjang perjalanan, angin malam bertiup cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Asa yang menyembul dari balik helm. 

Kama fokus menatap jalanan di depan, namun sepasang spion motornya tidak bisa berbohong—diam-diam, Kama memperhatikan pantulan wajah Asa dari sana, membiarkan seulas senyum tipis terukir di bibirnya sendiri di balik kaca helm.

Entah kenapa, dada Kama rasanya begitu ringan. 

Menyenangkan. 

Seperti ada getaran halus yang perlahan mulai berakar di tempat paling dalam, tumbuh tanpa bersuara, tanpa mereka sadari arahnya ke mana.

Warung mie ayam itu sangat sederhana, bahkan bisa dibilang agak kumuh. 

Terletak di gang sempit dengan atap terpal biru dan pencahayaan dari bohlam kuning yang redup. 

Kursi-kursi plastik berwarna merah berjejer mengelilingi meja kayu panjang yang permukaannya sudah mulai mengelupas. 

Tapi, Kama terlihat luar biasa bersemangat saat dua mangkuk mie ayam mengepul hangat dihidangkan di depan mereka.

“Nih,” kata Kama bangga, menyodorkan sepasang sumpit dan botol sambal ke arah Asa. “Mie ayam favorit gue sepanjang masa. Enak banget, lo harus coba.”

Asa menerima sumpit itu, mengaduk mienya perlahan hingga aroma kaldu gurih membubung ke penciumannya. “Kalau gak enak gimana?” tanyanya memprovokasi.

Kama mendekatkan wajahnya, menantang. “Kalau gak enak, gue traktir lo makan apa aja terserah lo selama sebulan penuh. Gimana?”

Asa tertawa lagi. “Deal. Awas aja kalo bohong.”

Dan malam itu menjelma menjadi lembar pertama di mana mereka benar-benar membuka diri. 

Di bawah temaram lampu kuning warung mie ayam, obrolan mereka mengalir tanpa saringan. 

Mereka bicara tentang pusingnya tekanan di jurusan masing-masing, tentang cerita keluarga di rumah, hingga kebiasaan-kebiasaan buruk yang memalukan. 

Hal-hal receh yang sebenarnya sama sekali tidak penting bagi orang lain, malam itu justru menjadi bahan bakar yang membuat tawa mereka enggan reda.

Ketika malam beranjak semakin larut, Kama mengantarkan Asa pulang. 

Motor berhenti tepat di depan gerbang kosan kayu berlantai dua milik Asa. 

Kama menurunkan kakinya untuk menahan bobot motor, membiarkan mesinnya tetap menyala stasioner, menunggu sampai Asa benar-benar melepas helm dan melangkah ke dekat pagar.

“Asa.”

Asa berbalik, tangannya memegang besi pagar yang dingin. “Hm?”

Kama menatap wajah Asa di bawah temaram lampu jalan. 

Ada jeda beberapa detik sebelum dia berbicara, suaranya melembut, tenggelam di antara deru mesin motor. “Masuk langsung tidur istirahat, jangan begadang.”

Asa mematung sejenak, sebelum akhirnya senyum termanis yang pernah Kama lihat malam itu terukir di wajahnya. “Iya, Kama. Lo juga hati-hati di jalan balik ya. Kabarin kalau udah sampai.”

Sejak malam itu, garis batas di antara mereka resmi melebur. 

Semuanya berubah total. 

Intensitas pesan singkat di ponsel mereka tumbuh eksponensial.

Awalnya hanya sebatas pertanyaan formalitas. 

“Udah makan belum?”

Beberapa minggu kemudian bergeser menjadi lebih kasual.

“Lapi apa? Sibuk gak?”

Hingga akhirnya, tanpa sadar, kalimatnya bermutasi menjadi sebuah pengakuan jujur yang dikirim tengah malam saat salah satu dari mereka terjaga. 

“Kangen.”

Mereka mulai sering menghabiskan waktu berdua. 

Kadang di malam minggu saat kota sedang padat-padatnya, kadang hanya beberapa menit di koridor sepi sehabis kelas mereka bubar, atau kadang tanpa alasan apa pun—hanya karena ego masing-masing tidak tahan jika harus melewati satu hari tanpa melihat wajah satu sama lain. 

Dan yang paling disadari oleh lingkaran pertemanan mereka, Kama dan Asa tidak lagi membutuhkan keberadaan Kevin, Sean, atau siapa pun sebagai jembatan untuk bertemu. 

Mereka sudah punya dunia mereka sendiri.

Tiga bulan setelah kedekatan yang intens itu, takdir membawa mereka kembali ke sebuah malam di tepian sungai kota.

Cahaya lampu dari gedung-gedung tinggi memantul di permukaan air sungai yang bergerak pelan, menciptakan riak-riak keemasan yang cantik. 

Angin malam berhembus cukup menusuk tulang. 

Asa sedang duduk di undakan semen, sibuk mengunyah jajanan yang tadi mereka beli di pasar malam, sementara Kama duduk tepat di sebelahnya, memegang segelas minuman dingin yang mulai mengembun.

“Asa,” panggil Kama tiba-tiba.

“Hm?” Asa menyahut tanpa menoleh, mulutnya masih penuh.

Untuk pertama kalinya sejak mereka kenal, Kama terlihat luar biasa gugup. 

Sepasang tangannya saling menggenggam erat satu sama lain hingga buku-buku jarinya memutih. 

Tatapannya lurus menatap riak air di depan mereka, tidak berani menoleh ke samping. 

Jakunnya naik turun, mencoba mengumpulkan pasokan udara ke parunya sebelum akhirnya dia berbicara, pelan namun penuh penekanan di setiap suku katanya.

“Gue… boleh gak jadi pacar lo?”

Asa mendadak tersedak kecil. 

Dia langsung menoleh ke arah Kama dengan mata membelalak, sedetik kemudian tawa lepas keluar dari bibirnya karena rasa kaget yang teramat sangat. “Kok lo langsung banget sih, Kama? Gak ada aba-abanya anjir!”

Kama merengut, wajahnya memerah padam hingga ke telinga. “Iya terus harus gimana? Gue bingung cara mulainya.”

“Ya romantis dikit kek, cari momen yang pas gitu,” kata Asa sambil menyeka sudut bibirnya dengan tisu, sisa-sawa tawanya masih ada.

“Gue udah gugup setengah mati ini, jangan diketawain dong!” keluh Kama frustrasi, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan.

Melihat tingkah Kama, tawa Asa perlahan mereda, digantikan oleh binar hangat yang memenuhi sepasang matanya. 

Di tengah suara gemercik air sungai dan dinginnya angin malam yang menusuk, Asa menggeser duduknya menjadi lebih dekat. Dia mengulurkan tangan, menarik pelan pergelangan tangan Kama agar laki-laki itu mau membuka wajahnya.

Asa mengangguk kecil. “Iya.”

Kama kedip-kedip, otaknya mendadak nge-blank. “Iya apa?”

Asa tersenyum tipis, menatap lurus ke dalam manik mata Kama. “Iya… boleh. Lo boleh jadi pacar gue, dan gue mau jadi pacar lo.”

Dan malam itu, senyum lebar yang begitu tulus mengembang di wajah Kama, mengalahkan terangnya lampu-lampu kota di sekitar mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dua tahun berlalu seperti kedipan mata.

Tentu saja, hubungan mereka tidak pernah luput dari badai. 

Mereka bukan pasangan di negeri dongeng. 

Kama dan Asa pernah mengalami fase berantem hebat hanya karena ego masing-masing, pernah sama-sama keras kepala mempertahankan pendapat, bahkan pernah saling mendiamkan satu sama lain selama berhari-hari hingga ruang obrolan mereka sepi.

Tapi anehnya, seburuk apa pun badai yang menghantam, mereka selalu menemukan jalan untuk pulang. 

Seolah-olah sejauh apa pun mereka mencoba menjauh, hati mereka sudah terlanjur mengunci nama satu sama lain sebagai satu-satunya tempat pemberhentian terakhir. 

Suatu sore di akhir pekan, Asa berkunjung ke rumah Kama. 

Mereka menghabiskan waktu di dalam kamar Kama, duduk berdampingan di karpet bulu sambil bermain game konsol. 

Kama terlihat sangat fokus menatap layar televisi besar di depan mereka, jarinya bergerak lincah menekan tombol stik game. 

Sementara itu, Asa yang karakternya baru saja kalah, menaruh stiknya berdebam di lantai dan melirik Kama dengan tatapan sebal.

“Kama, kita ini sebentar lagi masuk semester tujuh loh.”

“Hmm,” sahut Kama singkat, matanya tidak berkedip sedikit pun dari layar.

“Tugas akhir kamu gimana? Udah dapet draf judul belum?”

“Santai, Sa. Masih banyak waktu.”

Asa langsung menolehkan seluruh tubuhnya menghadap Kama, bersedekap dada. “Santai mulu hidup kamu dari dulu. Ini urusan kelulusan, Kama!”

“Ya kelar juga nanti pas waktunya,” jawab Kama enteng, masih berusaha memenangkan pertandingan di game-nya.

“Kalau tiba-tiba kamu mentok terus gak kelar-kelar gimana?”

Kama akhirnya menekan tombol pause. Dia menoleh ke arah Asa, menatap pacarnya dengan seringai jahil yang khas. “Ya kalau aku gak kelar, kan ada kamu. Kamu kan pinter, nanti kamu yang bantuin aku bikin skripsi.”

“Najis banget ya jawabannya, ogah!” Asa mengambil bantal sofa di dekatnya dan memukulkannya ke bahu Kama gemas.

Kama hanya tertawa terbahak-bahak, membiarkan dirinya dipukuli berkali-kali. 

Asa akhirnya mengomel panjang lebar tentang manajemen waktu, tentang masa depan, sementara Kama hanya mendengarkan dengan kepala bertumpu pada lengan, matanya menatap Asa dengan binar penuh cinta yang amat dalam.

Setelah lelah mengomel, Asa menghela napas panjang. 

Tubuhnya merosot, lalu menyandarkan kepalanya di bahu lebar Kama. 

Kama merangkulkan lengannya ke pinggang Asa, menariknya agar semakin merapat. 

Mereka kembali menatap layar televisi yang kini menampilkan menu utama game yang terjeda.

Suasana kamar mendadak hening, hanya ada suara helaan napas teratur dari keduanya.

“Kama,” panggil Asa pelan, jemarinya memainkan ujung kaos hitam yang dikenakan Kama.

“Hm?”

“Kalau nanti kita udah lulus kuliah…” Asa menggantung kalimatnya sejenak, matanya menatap kosong ke arah depan. “Kira-kira hidup kita bakal gimana ya?”

Kama melepaskan stik game dari genggamannya, menaruhnya di lantai. Dia memiringkan kepalanya, mencium pucuk kepala Asa. “Ya kita nikah lah. Kita tinggal bareng.”

Asa langsung tertawa kecil, meskipun matanya berkaca-kaca entah karena apa. “Males banget jawabannya, realistis dikit dong. Kita ini laki-laki, Kama.”

“Aku serius, Asa,” suara Kama mendadak berubah berat dan dalam, menyingkirkan semua nada bercanda yang biasanya ada. 

“Kita pindah ke luar negeri kalau perlu. Kita bangun rumah kecil yang ada taman belakangnya buat kamu gambar maket. Kita kerja, hidup sederhana yang dipenuhi hal-hal kecil berdua sampai kita tua. Aku gak peduli dunia mau ngomong apa, yang penting ada kamu.”

Di tengah kehangatan pelukan itu, tawa Asa kembali terdengar, namun kali ini terdengar getir yang samar. 

Asa tiba-tiba menegakkan tubuhnya, menatap Kama dengan raut wajah yang mendadak sulit diartikan. 

Ada kekosongan yang ganjil di dalam sepasang matanya.

“Kama.”

“Hm? Kenapa lagi sayang?”

“Kalau… suatu hari nanti aku berubah jadi batu… kamu masih bakal sayang gak sama aku?”

Kama sempat tertegun, namun sedetik kemudian dia tertawa renyah, mengacak rambut Asa gemas. 

“Apaan sih, Sa? Pertanyaan kamu makin hari makin absurd aja. Kebanyakan nonton film fantasi kamu ya?”

“Jawab aja, Kama. Serius.” Asa tidak ikut tertawa. Tatapannya menuntut, seolah jawaban dari Kama adalah hal paling krusial dalam hidupnya saat itu.

Kama menghentikan tawa kecilnya. 

Dia memandangi wajah Asa selama beberapa detik, merekam setiap detail pahatan wajah orang yang paling dicintainya itu ke dalam memorinya. 

Senyum lembut kemudian terukir di wajah Kama. Dia mengulurkan tangan, mengusap pipi Asa dengan ibu jarinya lembut.

“Sayang. Aku bakal tetep sayang sama kamu.”

“Beneran? Walaupun aku udah gak bisa ngomong, gak bisa meluk kamu lagi?”

“Iya, Asa. Aku bakal sayang sama kamu terus, mau wujud kamu jadi apa pun, perasaan aku gak bakal berkurang sedikit pun.”

Asa tersenyum mendengar jawaban itu. 

Sebuah senyuman yang terlihat begitu lega, seolah seisi bebannya baru saja diangkat dari pundaknya.

Asa tidak membalas lagi dengan kata-kata. 

Dia hanya menatap lurus ke dalam sepasang mata Kama, sebelum perlahan bergerak maju memangkas jarak di antara mereka. 

Gerakannya begitu tenang, mengalir tanpa keraguan. 

Tangan Asa naik, bertumpu halus di rahang Kama, menuntun wajah laki-laki itu untuk mendekat.

Detik berikutnya, bibir mereka bertemu.

Itu hanya sebuah ciuman singkat. 

Lembut, penuh penekanan, dan sarat akan perasaan mendalam yang tidak bisa diwakili oleh deretan kalimat khayalan mereka tadi. 

Kama memejamkan matanya, menikmati kehangatan yang menyalur dari bibir Asa, meresapi aroma yang familiar, serta detak jantung Asa yang terasa konstan berdenyut di balik dadanya yang bersandar rapat. 

Ciuman itu terasa begitu nyata, begitu erat mengikat mereka dalam sebuah janji tak tertulis bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan selalu baik-baik saja selama mereka saling memiliki.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kama tersentak bangun dari tidurnya dengan napas yang memburu hebat. 

Jantungnya berdegup kencang berkejaran di dalam rongga dadanya. 

Keringat dingin membasahi dahi dan punggungnya. 

Laki-laki itu memaku pandangannya pada langit-langit kamar yang berwarna putih bersih selama beberapa menit.

Mimpi itu lagi.

Mimpi tentang kilas balik sore itu. 

Tentang Asa yang mengomelinya. 

Tentang pertanyaan aneh itu. 

Dan tentang sentuhan bibir Asa yang rasanya masih begitu membekas, menyisakan kehangatan fana yang langsung lenyap begitu matanya terbuka lebar. 

Kama menghela napas panjang, buru-buru menyugar rambutnya yang berantakan. 

Dia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang. 

Hari ini dia punya janji penting. 

Dia sudah berjanji akan menemui Asa siang ini setelah berhari-hari mereka disibukkan oleh urusan masing-masing.

Kama bangkit dari tempat tidur dengan tergesa-gesa. Dia melangkah ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin, lalu mengenakan jaket denim hitam kesukaannya.

Saat dia turun ke lantai bawah, aroma masakan tercium samar. Mamanya sedang berdiri di depan kompor, menyiapkan makanan.

“Kamu baru bangun, Kama?” tanya Mamanya tanpa menoleh.

“Iya, Ma. Agak kesiangan.” Kama mendudukkan dirinya di kursi makan, menyendok nasi dan lauknya dengan cepat.

“Makan yang banyak. Badan kamu makin kurus akhir-akhir ini.”

Kama hanya mengangguk sembari menghabiskan makanannya. Setelah selesai, dia berdiri, meraih kunci motornya yang tergeletak di atas meja.

“Mau pergi sekarang, Kam?” tanya Mamanya, menghentikan aktivitas mencuci piring.

“Iya, Mah. Kasihan, takutnya Asa udah nungguin dari tadi.”

Gerakan tangan Mamanya mematung sejenak mendengar nama itu disebut. 

Perlahan, wanita paruh baya itu membalikkan badan, memaksakan seulas senyum tipis di wajahnya yang mulai dihiasi kerutan halus. 

Ada binar ganjil di matanya, semacam rasa haru atau rindu yang tertahan.

“Iya… hati-hati ya di jalan,” kata Mamanya, suaranya agak berat.

Kama mengangguk, bersiap melangkah keluar menuju teras.

“Kam,” panggil Mamanya lagi, membuat langkah Kama terhenti. “Salam… buat Asa, ya. Bilang Mama kangen.”

Kama tersenym tipis. “Iya, Ma. Nanti aku sampaikan.”

Di perjalanan, Kama menghentikan motornya di depan sebuah toko bunga langganannya di sudut jalan. 

Dia membeli sebuket bunga lili putih yang masih segar, kelopak-kelapaknya masih menyisakan tetesan air.

Masih sama seperti dulu. 

Karena sejak awal mereka resmi berpacaran, Kama selalu membawa bunga setiap kali mereka akan bertemu untuk menghabiskan waktu bersama. 

Kebiasaan manis yang tidak pernah dia lupakan.

Jantung Kama berdegup sedikit lebih cepat seiring motornya membelah jalanan kota yang cukup ramai siang itu. 

Dia sudah tidak sabar ingin melihat wajah Asa, ingin menceritakan mimpi aneh yang dialaminya tadi, dan ingin mendengar suara tawa renyah pacarnya yang selalu berhasil meleburkan semua rasa lelahnya.

Kama memarkir motornya di sebuah area teduh di bawah pohon besar yang rindang. 

Dia turun dari motor, merapikan jaket denimnya, dan berjalan dengan langkah ringan sambil mendekap buket bunga lili putih di dadanya.

Namun, pemandangan di depannya perlahan berubah.

Bukan teras kosan Asa yang biasa dia datangi. Bukan pula bangku kantin kampus tempat mereka biasa janjian.

Langkah kaki Kama melambat, melewati gerbang besi tua yang berkarat, menyusuri jalanan setapak yang dikelilingi oleh hamparan rumput hijau yang luas. 

Di sana-sini, terhampar ratusan batu nisan yang membisu di bawah naungan pohon-pohon kamboja.

Dunia seolah mendadak kehilangan suaranya.

Langkah Kama akhirnya berhenti total di depan sebuah gundukan tanah berselimut rumput rapi dengan sebuah batu nisan marmer hitam yang berkilat diterpa cahaya matahari siang.

Asa Giovanni (2008 - 2028)

Kama menekuk lututnya, mendudukkan dirinya di atas tanah kering di sebelah makam itu. 

Dia meletakkan buket bunga lili putih itu dengan sangat hati-hati di atas nisan, merapikan letak daun-daunnya seolah sedang merapikan poni rambut Asa yang berantakan karena terkena angin.

Dan seperti ritual yang biasa dia lakukan setiap minggu, Kama terdiam sejenak.

Dia membiarkan keheningan makam merengkuhnya. 

Hanya ada suara desau angin sore yang memainkan daun-daun kering. 

Kama hanya menatap ukiran nama Asa di atas marmer hitam itu dengan pandangan kosong.

Hingga akhirnya, bibir Kama bergerak tipis, membentuk sebuah senyuman yang paling menyedihkan di dunia.

“Tadi aku mimpiin kamu lagi, Sa,” bisiknya pelan, suaranya serak, nyaris tenggelam oleh embusan angin. “Aku mimpi waktu kita di kamar… waktu kamu nanya hal konyol itu.”

Kama menghentikan kalimatnya. 

Dia mengulurkan tangannya yang gemetar, menyentuh permukaan batu nisan yang terasa sangat dingin di bawah jarinya.

“Mimpi waktu kamu nanya… kalau kamu jadi batu, aku masih bakal sayang gak sama kamu…”

Napas Kama mulai bergetar hebat. 

Dadanya naik turun tidak beraturan. 

Sepasang matanya memerah seketika, air mata yang sejak tadi dia bendung kini mulai merebak di sudut kelopak matanya.

“Dulu aku ketawa waktu jawab itu, Sa… karena aku pikir itu cuma candaan random kamu yang gak bermutu…”

Tenggorokan Kama tercekat sepenuhnya. 

Air mata pertamanya jatuh, menetes tepat di atas ukiran nama Asa, membasahi batu marmer yang membeku itu.

“Kok… kok kamu sekarang beneran jadi batu sih, Sa? Kenapa kamu ninggalin aku sendirian di sini…”

Dan pertahanan yang dia bangun mati-matian sejak dari rumah tadi runtuh total. 

Bahu lebar Kama berguncang hebat, dia menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas lututnya, menangis sejadi-jadinya di samping gundukan tanah itu. 

Isakan-isakan pilu yang selama ini dia sembunyikan dari dunia akhirnya pecah, bergema pilu di antara nisan-nisan yang membisu.

Memori itu mendadak berputar secara brutal di otaknya, memaksanya kembali ke kejadian satu tahun yang lalu.

Sebulan setelah percakapan mereka tentang masa depan di kamar itu, libur semester akhir telah tiba. 

Asa pamit untuk pulang ke kampung halamannya menggunakan jalur udara. 

Hari itu, Kama sendiri yang mengantarkannya sampai ke bandara. 

Di depan gerbang keberangkatan, mereka masih sempat bercanda, masih sempat tertawa keras meributkan oleh-oleh apa yang harus Asa bawa nanti, bahkan mereka saling berjanji untuk melakukan video call begitu Asa mendarat malam harinya.

Tidak ada firasat buruk. Tidak ada tanda-tanda mistis. Langit hari itu bahkan terlihat sangat cerah tanpa awan hitam.

Sampai pada malam harinya, ketika Kama sedang duduk di ruang tengah sambil memainkan ponselnya, menunggu notifikasi dari Asa, sebuah breaking news di televisi menghancurkan seluruh hidupnya dalam satu detik. 

Pesawat dengan nomor penerbangan yang ditumpangi Asa dilaporkan hilang kontak dan diduga kuat jatuh di perairan dalam.

Dunia Kama runtuh seketika. 

Jiwanya seperti dicabut paksa dari tubuhnya.

Hari-hari berikutnya berubah menjadi neraka jahanam bagi Kama. 

Berita di televisi dipenuhi oleh proses evakuasi yang berjalan lambat dan dramatis.

Orang tua Asa, Kevin, Sean, seluruh teman kampus mereka berkumpul di posko, menangis dan saling menguatkan. 

Di tengah kerumunan itu, Kama adalah orang yang paling hancur. 

Dia tidak makan, tidak tidur, matanya merah karena terus menatap layar informasi korban. 

Dalam setiap detak jantungnya, Kama berdoa dengan sangat keras kepada Tuhan—dia bahkan bersumpah rela menukar sisa umurnya, rela kehilangan apa saja, asalkan Asa ditemukan dalam keadaan selamat.

Namun, semesta tidak sedang berbaik hati. 

Ketika daftar manifes korban yang berhasil diidentifikasi dirilis beberapa hari kemudian… nama Asa berada di urutan teratas.

Sejak hari itu, hidup Kama tidak pernah benar-benar sama lagi. 

Dia berubah menjadi selongsong kosong tanpa jiwa. 

Dia kehilangan seluruh minat pada dunianya. 

Skripsinya terbengkalai, dia sengaja menunda kelulusannya hingga telat satu tahun lebih dari teman-teman seangkatannya. 

Bukan karena dia bodoh, tapi karena otaknya selalu menolak untuk melangkah maju.

Untuk apa dia lulus cepat-cepat? 

Untuk apa dia mengejar gelar sarjana, jika seluruh masa depan yang menjadi tujuannya—rumah kecil dengan taman belakang, hidup sederhana sampai tua—sudah hancur berkeping-keping di dasar laut bersama jasad orang yang dicintainya?

Kama tersadar dari kilas balik yang menyakitkan itu. 

Dia mendongak, menyeka air mata yang terus mengalir deras di pipinya menggunakan lengan jaketnya, namun air mata itu seolah enggan berhenti. 

Laki-laki itu kembali mengusap permukaan nisan marmer dingin di depannya dengan telapak tangannya, mencoba menyalurkan kehangatan tubuhnya yang tersisa ke sana.

“Waktu itu… kamu nanya ke aku…”

Kama menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan suaranya yang gemetar parah di tengah sisa tangisnya.

“Kalau kamu jadi batu… aku masih bakal sayang gak sama kamu.”

Dimatanya yang terpejam erat, dia bisa merasakan sisa kehangatan terakhir mereka dalam mimpi tadi, seolah Asa baru saja berbisik di telinganya. 

Kama tersenyum kecil di antara tangisnya yang memilukan, sebuah senyuman penuh kepatuhan pada janji masa lalu.

“Aku udah jawab kan, Sa… jawaban aku gak akan pernah berubah. Aku bakal selalu sayang sama kamu.”

Kama mendekatkan wajahnya, membisikkan kalimat terakhirnya tepat di depan batu nisan itu, membiarkan angin malam membawa suaranya pergi entah ke mana.

“Selalu. Gak bakal berubah sedikit pun. Sampai kapan pun… sampai nanti giliran aku yang menyusul kamu ke sini, aku bakal tetep sayang sama kamu, Asa.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di dalam kabin pesawat yang mendadak dipenuhi oleh guncangan hebat, alarm peringatan darurat berbunyi nyaring, bersahutan dengan pekikan histeris dan tangis ketakutan dari penjuru ruangan. 

Masker oksigen telah berjatuhan dari langit-langit, dan lampu kabin berkedip-kedip tidak menentu sebelum akhirnya padam sepenuhnya, menyisakan kegelapan yang mencekam.

Asa mencengkeram erat lengan kursinya. Tubuhnya terguncang hebat seiring dengan posisi pesawat yang mulai menukik tajam secara tidak terkendali ke arah laut lepas.

Di tengah kekacauan yang memekakkan telinga itu, anehnya, pikiran Asa mendadak menjadi sangat sunyi.

Jauh di dalam lubuk hatinya, Asa tahu. 

Dia tahu bahwa perjalanan ini tidak akan pernah mencapai tujuannya. 

Dia tahu bahwa sebentar lagi, raganya akan melebur bersama dinginnya ombak. 

Air matanya jatuh melewati pipi, bukan karena dia takut akan kematian, melainkan karena rasa sesak yang luar biasa saat membayangkan satu nama yang memenuhi seluruh kepalanya.

Asa tahu, setelah malam ini, dunia Kama akan runtuh. Laki-laki yang dicintainya itu pasti akan menangis hebat, mengutuk takdir, dan mungkin akan mengunci diri dalam kesedihan yang tak berdasar.

Dengan sisa kesadaran yang semakin menipis di tengah guncangan yang semakin brutal, Asa memejamkan matanya erat-erat. 

Dia tidak lagi memohon pada Tuhan untuk menyelamatkan nyawanya. 

Di bawah cengkeraman rasa takut yang luar biasa, Asa menangkupkan tangannya yang gemetar di atas pangkuan, merapalkan doa dan harapan terakhir yang tersisa di dalam jiwanya.

“Tuhan…” batin Asa menjerit di antara gemuruh mesin pesawat yang meraung hebat. “Aku tahu aku gak bisa balik lagi ke dia. Tapi aku mohon… apa pun yang terjadi setelah ini, tolong selalu kuatkan Kama.”

Asa menarik napasnya yang terasa semakin berat, menyatukan seluruh sisa cintanya dalam bait-bait doa itu.

“Aku berharap, walaupun raga aku udah gak ada di dunia ini, Kama bakal tetep sayang sama aku. Aku pengen nama aku tetep abadi di tempat paling indah di hatinya…”

Setitik air mata murni kembali menetes, tenggelam di sela-sela jarinya yang mendingin.

“Tapi Tuhan… aku juga gak mau Kama mati bersama kenangan tentang aku. Tolong kasih dia kekuatan buat tetep tegak, buat tetep napas, dan buat melanjutkan hidupnya. Aku mau dia tetap ngejar mimpinya, dan tetep bahagia sampai tua nanti, meskipun jalannya udah gak sama aku lagi. Tolong jangan biarkan dia hancur sendirian… Jaga Kama, kuatkan dia… buat aku.”

Bayangan senyum jenaka Kama dan kehangatan mereka menjadi memori terakhir yang berputar di benak Asa.

Tepat ketika guncangan hebat terakhir menghantam dan seluruh kabin kehilangan gravitasinya, Asa mengembuskan napas terakhirnya dalam keheningan terdalam, merelakan segalanya, dengan satu nama yang tertinggal sebagai detak terakhir di nadinya.

Kama, aku sayang kamu, selalu.

 

 

 

Notes:

x @chichochachechu