Chapter Text
Kalo kata Hyunjin, jangan benci orang berlebihan, karena repot jadinya kalo perasaan itu berubah jadi cinta. Dulu Jeongin cuma bakal ketawa ngeremehin— tapi sekarang dia sedikit-banyak harus mengakui kalo jelas ada kebenaran dalam kata-kata konyol itu.
Walau sebenernya sih yang ia rasakan sama sekali bukan cinta, tapi cuma ketertarikan biasa.
Subjek benci-tertarik ini adalah Han Jisung, teman sekelasnya yang nyebelin mampus. Sebetulnya, secara objektif, gak ada alasan untuk membenci Han Jisung. Itu secara objektif. Tapi bagi Jeongin, Jisung adalah batu penghalang paling besar di hidupnya.
Ada banyak kasus, tetapi salah satunya dan yang paling krusial adalah dalam perebutan nilai mata pelajaran Biologi yang sangat dia sukai. Tiap kali Jeongin sudah yakin akan kemampuannya dan percaya diri akan nilai-nilainya, dengan mudah keyakinan itu Jisung patahkan — padahal cowok itu gak pernah kelihatan benar-benar serius belajar di kelas; makanya itu lebih bikin Jeongin benci dia.
Tapi itu bahkan belum selesai — contoh lainnya adalah di kelas Musik. Jeongin amat pandai bermain piano, dan semua orang memujinya — terang dia menikmati perhatian yang mereka beri karenanya. Tetapi kemudian Han Jisung datang dengan gitar sialannya, memetiknya dan menyanyikan satu-dua-tiga lagu, dan begitu aja orang-orang jatuh cinta lagi padanya.
Atau juga pada kelas Olahraga… mereka sama-sama gak pandai dalam hal ini, tapi bahkan Jisung pun masih lebih baik darinya yang berlari satu putaran aja bisa jatuh sepuluh kali saking cerobohnya (seenggaknya Jisung maksimal jatuh tujuh kali karena anehnya kakinya memang jarang bisa menapak dengan benar di tanah).
Yang terakhir itu memang rada gak seimbang karena sejak awal Jeongin benci olahraga, tetapi tetap saja Jisung masih lebih baik darinya, dan kenapa dia selalu lebih sempurna dalam segala hal — benar-benar nyaris semuanya? Yah… dengan berbagai fakta itu, secara singkat, dapat dikatakan bahwa ‘kesempurnaan’ Jisung-lah yang bikin Jeongin benci dia. Bahkan kelemahannya pun masuk ke dalam kategori kesempurnaan karena Jisung gak pernah menutupi atau malu pada hal itu— beda sama Jeongin yang mati-matian berusaha menutupinya.
Tapi terlepas dari semua kebenciannya, hal yang paling menyebalkan dalam situasi ini adalah bahwa kayak NPC-NPC yang lain, sekarang Jeongin mulai dan terpaksa harus mengakui berbagai sisi ‘manis’ dan gentle yang ternyata beneran Jisung punya.
Tiga bulan lalu, saat melewati sisi kantin, Jeongin tanpa sengaja melihat Jisung memberi makan kucing di sana. Kemudian di jalan pulang pada hari yang sama, cowok itu membantu anak-anak kecil dan orang tua menyebrang, barangkali menghabiskan nyaris tiga puluh menit sebelum dia sendiri melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya.
Dua bulan lalu, Jeongin berpapasan dengan cowok itu di supermarket, di mana ia mengaku membeli bahan makanan dan biasa memasak sendiri karena ibunya sibuk bekerja (meski dia langsung nambahin dengan gugup kalo masakannya jarang terasa enak).
Sebulan lalu, Jeongin tahu bahwa Jisung membagi waktunya untuk mengajari sekumpulan siswa terbelakang di kelas mereka — sekali lagi, bahkan walau dia lebih banyak kelihatan gak peduli sama mereka.
Semuanya terjadi begitu apik, seperti seakan semesta ingin Jeongin tahu bahwa Han Jisung itu memang sempurna dari sananya.
Dan kali ini Jeongin gak bisa membantah — Jisung memang mencuri perhatiannya.
“Gue bilang juga apa,” bisik Hyunjin di sisi telinganya.
“Hah?”
“Lo ngelamunin Jisung, ‘kan?”
Jeongin mengerjap. “Tahu dari mana?”
Aduh, dia salah bicara — sial!
“Oh, jadi bener?” Iris hazel Hyunjin berkilat senang.
“Bukan, maksud gue — “
“CIEEE, JEONGIN, CIEEE.”
“Hyunjin — diem, ah!” Jeongin berusaha menekap mulut ember sobatnya, tapi gagal. Dia menghembuskan napas dan mengambil buku teks lain di meja. “Udahlah, gue ke perpus aja!”
“CIE, JEONGIN MAU KETEMU YAYANG, YA?”
“BERISIK!”
“Eh, tapi memangnya Jisung ada di perpus sekarang?”
“NGGAK ADA YANG MAU KETEMU DIA!”
✎ᝰ✎ᝰ✎ᝰ
Dan itulah kenapa Jeongin berakhir di perpustakaan sekarang. Sayangnya, tujuan menenangkan diri tadi justru gatot alias gagal total karena apa yang ia dengar saat hendak mengambil buku di rak langsung membuatnya terpaku.
“Jadi, lo suka atau gak sama Jeongin, Ji?”
Jeongin tahu jelas bahwa itu suara Felix, kecengan Hyunjin sekaligus salah satu pentolan sekolah yang anehnya bisa akrab dengan Jisung yang meski sedikit nyentrik tapi juga gak sekece itu dan Seungmin yang image-nya nerdy abis.
Tangannya yang hendak meraih buku terpaksa ia tahan, karena biar bagaimanapun, Jeongin kepo — dan itu bukan dosa, ‘kan? Toh topik pembicaraan itu memang dia.
“… Belum, sih…”
Oh, begitu. Yah, apa pedulinya juga? Jeongin menekan-nekan ujung buku, menunggu kalimat selanjutnya karena sepertinya yang barusan Jisung lontarkan belum sepenuhnya selesai.
“… Gak tahu kalo besok.” Jisung melanjutkan, lalu tertawa dengan jenaka yang sialnya kedengaran ganteng juga — itu kalo ‘ganteng’ bisa punya suara.
“Ah, lo mah! Serius dong!” sela yang lain sebal.
Jeongin menyandarkan punggung di rak, bola matanya berotasi hingga menatap langit-langit perpustakaan.
Yang namanya Han Jisung itu memang lebih baik dibenci saja.
