Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-29
Updated:
2026-05-29
Words:
3,241
Chapters:
3/?
Kudos:
15
Hits:
242

Art is a Magic

Summary:

Blimey, Dew Jirawat jatuh cinta dengan seorang pure-blood.

 

Muggle-born, Hufflepuff Dew Jirawat
Pure-blood, Slytherin Tee Teeradech

Chapter 1: Sketch of Yours

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Menjelang Oktober, Hogwarts terasa lebih dingin. Hujan turun hampir setiap hari, membasahi kaca-kaca tinggi kastil sampai pemandangan Black Lake di kejauhan berubah jadi bayangan abu-abu yang kabur.

Dengan pandangan yang kabur karena kabut tebal dan dingin yang menusuk di sekitar Black Lake tidak menghentikan Dew —seorang Hufflepuff tahun ke-7 dengan darah muggle — untuk tetap mendudukkan pantatnya di rumput yang sedikit basah.

Syal miliknya yang berwarna kuning itu kembali ia rekatkan dengan kuat, jubahnya ia peluk, berusaha untuk menghalangi dingin yang mulai menusuk tulangnya.

Dew menatap sebuah sketch book yang ia bawa. Sketch book. Karena ia benci tekstur perkamen yang begitu kasar. Buku ini adalah satu-satunya barang yang ia bawa dari dunia Muggle nya. Karena ia tau, mereka tidak tau apa itu lukisan mati.

Dew benci potret sihir. Dengan banyaknya potret sihir yang bergerak di sekitar kastil membuat ia merasa tidak berguna. Melukis dan menggambar adalah keahliannya, sebuah hobi yang ia tekuni sejak ia masih menganggap sihir itu hanyalah cerita fantasi yang dibacakan oleh kedua orang tuanya.

Ketika Dew mulai menginjakkan kaki dan memahami bahwa ia adalah penyihir, Dew lebih sering memegang tongkat sihir dari pada pensil . Tentu, karena mereka masih menggunakan pena bulu .

Ia berfikir minatnya terhadap seni akan mulai terkikis dengan hafalan spell dan resep ramuan. Tapi ternyata, ketika ia melihat siswa Slytherin yang sedang duduk sendiri di tepi Black Lake, membuat Dew ingin menyentuh pensil dan sketch book-nya kembali.

Tee Teeradech. Siswa dari asrama Slytherin. Sosoknya sangat menarik. Kulit putih pucat, rambut halus dan tatapan yang tajam. Postur tubuhnya terlihat sangat indah ketika ia melukisnya di sketch book miliknya.

Blimey, Dew Jirawat jatuh cinta dengan seorang pure-blood.

“Hey, Mudblood” Dew tersentak ketika sebuah pesawat kertas menabrak dahinya dengan keras, diiringi oleh tawa menghina dari sekumpulan murid Slytherin yang duduk tak jauh dengan dirinya.

Dew menghela nafasnya, berusaha meredam emosi yang sudah berada diujung kepala. Git, kalau ini bukan di kelas, Dew mungkin sudah melemparinya Hex. “Ada apa, Tee? Butuh sesuatu?”

“Kau masih membawa buku aneh dari dunia Muggle mu itu?” Tee bertanya sambil berjalan mendekat. Ia berdiri tepat disebelah Dew yang berusaha menyembunyikan sketch book miliknya.

Tee berbisik, mendekatkan wajahnya kesamping wajah Dew yang mulai memerah, entah karena dingin atau karena Tee Teeradech ada di sebelahnya. “Aku lihat dong, isinya seperti apa?”

“Bukan urusanmu, Teeradech” Dew mendesis, menjauhkan sketch book-nya dari pandangan Tee.

Tee menggerutu sebal, bibirnya sedikit maju menandakan bahwa ia merajuk. “Aku kan penasaran, kau itu pelit sekali”

Merlin’s Beard. Tee gemas sekali. Dew tidak bisa menahan senyum. Bagaimana bisa seorang pure-blood Slytherin dengan perilaku dan wajah seimut ini? Seharusnya Tee masuk ke Hufflepuff dan satu kamar dengan dirinya. Oh tunggu, Dew mulai halusinasi.

“Kamu mau tau isinya apa? Boleh. Temui aku di Black Lake setelah kelas”

Dew benar-benar tidak bisa menahan dirinya.

Dew duduk di tepian Black Lake dengan jubah yang menutupi sebagian kakinya. Angin kencang menerbangkan rambutnya dan syal kuning miliknya.

Ia masih menunggu Tee untuk datang menemuinya, sesuai janji yang ia katakan ketika berada di kelas. Sebenarnya, Dew tidak yakin Tee akan benar-benar datang.

“Hey,” sapaan lembut masuk kedalam telinga Dew yang memerah karena dingin. Ia menolehkan wajahnya, Tee sedang mendudukkan diri disamping Dew.

Dew terdiam cukup lama, matanya fokus kedalam kilauan bola mata ke abu-abuan milik Tee. Persis seperti kabut yang mengitari mereka dan Black Lake. Lalu beralih ke pipi Tee yang mulai memerah karena dingin yang mulai menusuk, syal hijau perak yang mencolok itu ia gunakan dengan asal-asalan. Membuat Dew secara tak sadar mengangkat tangannya dan membenahi lilitan syal yang Tee pakai.

“Oh, sorry” ucap Dew saat ia tersadar dari kegiatannya yang secara tiba-tiba.

Tee hanya mengangguk pelan, “Aku mau lihat buku Muggle mu itu, ”

“Kamu bawa tongkat sihir mu, kan?” pertanyaan Dew membuat Tee mengerutkan dahinya bingung, “Tentu, kenapa?”

“Siapa tau kamu mau mengutukku setelah melihat sketch book ini, aku sudah mempersiapkan diri”

“Oh, jadi namanya sketch book? Dan kenapa juga aku harus mengutukmu”

“Kamu itu benar-benar gak tau ini apa?” Dew bertanya yang dijawab oleh gelengan pelan oleh Tee.

“Aku hidup dengan sihir sejak lahir. Tidak pernah menggunakan barang-barang Muggle, Father tidak terlalu menyukainya. Ya, sebenarnya aku cukup tertarik dengan dunia mu. Terutama dengan celana biru gelap mu dan buku yang selalu kau bawa kemana-mana itu”

Jawaban panjang dari Tee membuat Dew terdiam. Dunia Dew dan Tee benar-benar berbeda, walau ada secarik cahaya yang berada ditengah-tengah kehidupan mereka. Sihir. Satu-satunya hal yang bisa mempertemukan mereka.

Dew menghelas nafasnya pelan, asap dingin keluar dari mulutnya. “Celana itu namanya Jeans, aku sering pakai saat di duniaku” Dew dengan sedikit gemetar memberikan sketch book-nya ke hadapan Tee, yang diterima dengan semangat oleh Tee.

Tangan Tee perhalan membuka lembaran sketch book itu. Halaman pertama diisi oleh coretan gambar Hogwarts yang begitu detail dan indah, “Gambar ini tidak bergerak?”

“Enggak, enggak ada sihir di gambar itu. Murni hasil karya tanganku,”

Tee mengangguk wajahnya, ia kembali membuka halaman kedua. Halaman itu diisi oleh coretan gambar siluet belakang seorang laki-laki. Tee tidak bisa mengenali itu siapa, pun juga dari asrama mana. Karena semua gambar yang di buat oleh Dew hanya berwarna abu-abu.

Dan di halaman ketiga, Tee merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Karena di halaman itu, Dew menggambar dirinya. Dirinya ketika masih di tahun pertama, disini, di tepi Black Lake. Lalu halaman-halaman selanjutnya masih diisi oleh dirinya, dari tahun ke tahun.

Tee yang sedang makan di Great Hall, Tee sedang merenung bosan di kelas Sejarah Sihir, Tee yang sedang memotong tanaman sihir di kelas Herbologi, Tee yang sedang mengucapkan mantra sihir, Tee yang terlilit lucu dengan syal hijau peraknya, Tee yang sedang tertawa dengan temannya.

Dew mengigit bibirnya ketika menyadai Tee menatap kosong buku sketch book miliknya. Ia sudah siap dilempari mantra kutukan oleh pure-blood disebelah nya.

“Bloody hell, Dew ” Tee mengucapkannya dengan suara yang parau. “Apa.. Kau menyukaiku?”

“Ya. Sejak tahun pertama”

“Tapi— kau seorang mud— maksudku Muggle-born,”

“Aku tau, Tee. Aku tau betul darah yang mengalir dalam diriku dan dirimu itu berbeda. Itu alasan kenapa aku merahasiakan ini selama 7 tahun. Karena aku sadar. Tapi ini tahun terakhir kita di Hogwarts, dan mungkin setelah lulus NEWT aku akan kembali ke duniaku. Jadi ya, tidak ada ruginya aku memberitau mu sekarang”

“Jangan,” Tee mengucapkannya dengan samar, suaranya kabur di bawa oleh kabut.

“Apa, Tee?”

“Jangan tinggalkan aku,” Tee mengangkat tangannya pelan menuju jubah Dew, menggenggamnya kuat, hampir meremasnya. Ia menatap mata Dew yang memancarkan tatapan kebingungan. “Kalau kau mau ke dunia muggle, bawa aku. Aku mau ikut”

Dew perlahan menggenggam tangan Tee yang dingin, mengelusnya pelan dan menghantarkan rasa hangat ke tangan putih pucat milik Tee. “Bukannya kamu mau jadi healer disini?”

“Kau tau mimpiku?”

“Ya, aku tau semua tentang kamu, Tee”

“Tapi aku mau sama kamu, Dew. A— aku tidak tau sejak kapan, mungkin sekarang atau mungkin sejak lama tapi aku terlalu bodoh untuk sadar. Tapi, aku juga suka dirimu…” Tee menatap Dew dengan air mata yang menggenang. Membuat bola mata abu-abu milik Tee berkilau begitu indah.

Merlin’s Beard. Dew benar-benar kehilangan akalnya.

Jari jemari Dew terangkat untuk menyentuh wajah Tee, ibu jarinya dengan lembut mengusap pipi merah itu. Dengan perlahan Dew mendekatkan wajahnya dengan wajah Tee. Hembusan hangat dari keduanya terasa lembut di kulit wajah mereka. Tee menutup matanya ketika merasakan bibir Dew yang meyentuh bibir miliknya, genggaman di jubah Dew semakin kuat ketika Dew menjilat bibirnya dan mencoba membuka mulutnya.

Ciuman itu terasa sangat hangat. Menghangatkan kedua tubuh yang hampir membeku di tepi Black Lake yang diselimuti kabut.

Tee menepuk bahu Dew ketika ia kehabisan nafas. Membuat Dew terpaksa melepaskan pangutan di bibirmya. “Dew… Apakah kita pasangan sekarang?”

Dew terkekeh, jarinya masih berada di pipi Tee, berusaha menghangatkan wajah pemuda Slytherin didepannya, “Kalau kamu mau, Tee”

“Mau. Aku mau.”

“Baiklah, sayangku. Sekarang kita adalah pasangan. Untuk masa depan kita pikirkan nanti, okay? Sekarang kita harus kembali ke Hogwarts sebelum kita berdua mati membeku”

Tee tersenyum malu. Merah di pipinya bertambah dua kali lipat, dan Dew tau persis itu bukan karena dingin. Dew tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencubit pipi merah Tee.

Mereka berjalan kembali ke Hogwarts sambil berpegangan tangan dengan erat, tidak ada percakapan. Hanya ada senyuman malu yang terpasang di kedua wajah mereka.

“Dew,” Tee memanggil Dew pelan, ketika mereka sudah berada di depan pintu masuk Asrama Slytherin.

“Kenapa, sayang?”

“Apakah aku boleh meminjam celana biru— eh, Jeans mu?”

Dew tertawa, menahan untuk tidak menculik Tee dan membawanya ke Asrama Hufflepuff dan menyembunyikan dibawah selimurnya.

“Boleh, sayang. Kamu boleh memakai semua pakaian ku” Dew membalas sambil tersenyum manis, ia dekatkan wajahnya dan memberikan ciuman singkat di kening Tee. “Masuk, Tee. Hangatkan dirimu”

“Um, okay. Sampai ketemu, Dew!” Tee terdiam sebentar didepan Dew. Ia dengan cepat memberikan kecupan ringan di pipi milik Dew, lalu berlari kencang dan menyebutkan password asrama Slytherin dengan panik agar cepat terbuka.

Dew rasanya hilang akal, lagi.

Notes:

hi guys this is my first attempt to write after a LOOOOONG time. Maaf kalau ada kesalahan dalam dunia harpot nyaa. Let me know kalau kalian mau dewtee Hogwarts lagi :p