Work Text:
Pesan dari seseorang muncul tepat ketika Khaslana baru melangkah keluar dari gerbang sekolah. “Jangan pulang malam ini,” begitulah katanya, dan rasanya sudah tidak perlu dijelaskan lagi. Wanita itu pasti membawa pria asing lain lagi ke rumah. Kalau sudah begitu, Khaslana—seperti biasa—harus menghilang.
Ia mematikan layar tanpa ekspresi. Bukan karena tak peduli; ia hanya terlalu terbiasa. Yang lebih menusuk justru satu hal kecil yang selalu ia benci: namanya. Khaslana. Mirip Khasla Nanook, tapi sengaja nama miliknya tidak diselesaikan. Nama tak sempurna yang sama seperti ayahnya—yang baginya sudah lama mati, meski tubuhnya entah di mana.
Biasanya, ia akan nongkrong di bar murahan bersama "teman-teman", lalu tidur di suatu tempat, di sini atau ujung dunia, tidak menentu, tidak peduli juga. Tak ada kenyamanan, tapi lebih baik daripada pulang dan mendengar suara ranjang dari kamar sang ibu tak sedarahnya.
Namun, di malam ini ia bahkan terlalu lelah untuk pura-pura ramah di antara orang-orang itu. Jadi, ia memilih suatu halte bus paling terpencil sebagai tujuan pulang. Jangan salah, meski agak tidak terawat, itu adalah tempat sunyi yang jarang dipijaki siapa pun—ini poin plus untuk Khaslana. Dan dengan hawa senja yang perlahan membekukan, ia duduk tertunduk, sambil berharap untuk bisa pergi ke dunia mimpi tanpa gangguan.
Ketika ia mulai merapatkan hoodie kuningnya dan memejamkan mata, suara mesin bus mendekat; bus terakhir malam itu. Tapi Khaslana tidak berniat naik. Ia hanya ingin malam lewat tanpa perlu berbicara dengan siapa pun.
Di luar ekspektasinya, tiba-tiba seseorang memanggil dari pintu bus.
“Haikas?”
Tak ada orang lain selain Khaslana yang tengah duduk memprihatinkan di situ. Sadar bahwa orang yang dipanggil adalah dirinya, matanya terbuka setengah, kesal—meski lebih ke mood yang rusak. Hai... Apa tadi? Itu bahasa daerah mana?
Namun, yang berdiri di pintu bus bukan pegawai kantoran, bukan pula bapak-bapak lelah yang ingin pulang, melainkan... seorang laki-laki berseragam putih abu yang sama dengan Khaslana. Rambut pirang sebahu berantakan, tas selempang, dan kemeja sekolah yang diikat di pinggang. Wajahnya, jujur saja, cukup mengintimidasi, tapi sorot matanya terlalu sipit seperti sedang menebak bentuk wajah orang.
Begitu hujan turun, bocah itu juga turun dari bus, tidak mendapat jawaban dari Khaslana, lalu duduk—dengan satu kursi kosong di antara mereka—tanpa banyak suara. Hening hanya bertahan beberapa detik sebelum ia membuka ponsel, dan suara game mengisi ruangan kecil itu. Khaslana mencoba tidur lagi, tapi gangguan kecil itu anehnya membuat pikirannya semakin terjaga.
Ia membuka mata sedikit dan memperhatikan bocah itu dari ekor mata—tatapannya fokus ke layar, seperti sedang mencoba menahan jarak pandang yang buruk. Orang rabun, toh, pikir Khaslana singkat, sebelum kembali menutup mata begitu udara makin menusuk; hujannya membesar.
“Kata gua, mah, entar lu sakit kalau tidur sambil nunduk begitu,” ujarnya tanpa menoleh, tanpa aba-aba. Nada suaranya datar, seperti komentar otomatis yang keluar tanpa dipikirkan. Khaslana mendengus pelan, malas.
“Bukannya dia rabun, ya...” gerutu pelan si rambut putih.
“Gua rabun, bukan buta,” timpal si rambut pirang santai. Mungkin saja, pendengarannya lebih tajam sebagai ganti dari mata yang kabur. “Dan makanya tadi gua kira lu Haikas.”
“...Siapa Haikas?”
“Ya elu.”
Khaslana mendengus panjang, hampir tertawa kehabisan sabar. “Tapi mirip dikit banget, sih—nama gua Khaslana.”
Kedua mata rabun itu menatapnys sebentar, tampak memproses, dan dalam seperkian detik, ia mendapatkan hasil. Lalu, ia mengangguk sekali. “Oke. Gua Mydei.”
Khaslana terpaku satu detik. “Apa?” His dih...?
“Mydei.”
“Nama lu?”
“Iya. Mydei.”
Hening.
“...Oke.” Mydei, ulangnya dalam hati.
Wangi tanah basah menyelubungi jarak di antara mereka kembali. Khaslana menatap kosong ke depan, sementara bocah aneh itu sibuk dengan dunianya sendiri (lagi), seolah percakapan barusan bukan apa-apa.
Sekilas, pandangan Mydei menembus hujan di depan. Lalu, ia menaruh ponselnya di kursi sebelah, diikuti dengan jemarinya membuka bungkus kecil yang ternyata berisi roti manis. Tanpa melihat Khaslana, ia memotek dan menaruh sisa roti beserta plastiknya di kursi kosong yang memisahkan mereka sejak tadi. “Ambil kalau mau. Lu kelihatan kayak belum makan.” Ada jeda; ia ber-eh pelan dan menambahkan, ”No offense. Serius.”
Khaslana hampir menolak, tapi perutnya sudah berbicara lebih dulu. Ia mengambil roti itu pelan, tanpa komentar. Begitu lidahnya menyentuh permukaan yang begitu lembut, terasa hangat dan sederhananya, tapi entah kenapa seakan memberikan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan: perhatian kecil yang tidak menghakimi.
Tatapan Mydei melekat pada butiran air yang mengamuk tanpa henti, menghantam jalanan kosong sejak tadi. “Kayaknya, kita bakal lama di sini.” Khaslana mengangguk sekali.
Di dunia luar, hujan terus jatuh. Di bawah atap halte, dua insan yang seharusnya tidak pernah bersinggungan justru duduk bersama dalam diam. Meski tidak berdampingan, tapi selangkah lebih familiar dari yang lalu.
Semuanya dimulai dari hujan sebagai cupid dengan taktik yang begitu klise. Tapi siapa peduli? A win is still a win.
