Work Text:
Ruang tunggu acara musik sore itu jauh lebih ramai dibanding biasanya. Beberapa staf mondar-mandir membawa perlengkapan, ada suara hairdryer dari sudut ruangan, suara monitor yang memutar ulang penampilan grup lain, dan percakapan yang saling bertumpuk dari berbagai arah.
Di tengah semua keramaian itu, keenam anggota TWS sedang memanfaatkan waktu luang sebelum giliran mereka kembali dipanggil syuting konten tambahan untuk promosi mini album terbaru mereka.
Kamera vlog sudah menyala sejak beberapa menit lalu. Salah satu staf meminta mereka untuk mengambil beberapa footage santai yang nantinya akan dimasukkan ke dalam episode TWS:Series comeback mereka.
Seperti biasa, ketika tidak tau harus melakukan apa, sebagian besar anggota akan berakhir dengan ponsel masing-masing. Shinyu duduk di ujung sofa panjang berwarna abu-abu, di sebelahnya ada Dohoon. Lalu di samping Dohoon ada Kyungmin yang sedang mendengarkan lagu menggunakan earphone sambil sesekali mengangguk mengikuti irama musik yang hanya bisa didengarnya sendiri.
Kamera diletakkan tidak jauh dari mereka. Cukup dekat untuk menangkap aktivitas santai mereka.
“Ayo, hyung. Cepat.” Dohoon bahkan tidak mengangkat kepala saat berbicara. Tatapannya masih fokus ke layar ponselnya.
Shinyu menghela napas kecil, “Kamu kalau main game serius banget.”
“Aku kalah terus gara-gara hyung lama.” Dohoon mendengus pelan.
“Aku baru buka.”
“Karena itu, hyung.” Shinyu terkekeh mendengarnya.
Dohoon memang selalu seperti itu. Kalau sudah fokus terhadap sesuatu, dunia di sekelilingnya sering kali tidak lagi penting. Apalagi kalau sedang bermain game, jangankan mengobrol. Kadang dipanggil tiga kali saja belum tentu langsung menoleh.
Pertandingan mereka pun dimulai, suara efek game bercampur dengan suasana ruang tunggu yang ramai. Sesekali Dohoon mengeluh, sesekali Shinyu tertawa karena berhasil menang.
Lalu beberapa menit berlalu begitu saja. Sampai akhirnya perhatian Shinyu perlahan teralihkan. Awalnya bukan karena sesuatu yang besar, bahkan bisa dibilang sangat sepele. Saat sedang menunggu ronde berikutnya dimulai, matanya tanpa sengaja jatuh pada tangan Dohoon yang sedang memegang ponsel.
Lalu ia terdiam. Tangannya.. Kecil sekali. Shinyu menunduk melihat tangannya sendiri yang memegang ponsel secara horizontal hanya dengan jari-jari di sisi kanan dan kiri. Lalu ia melirik Dohoon lagi. Ponsel yang ukurannya sebenarnya standar itu terlihat jauh lebih besar di tangan Dohoon.
Kedua telapak tangannya benar-benar menopang perangkat tersebut. Jari-jarinya melengkung mengitari sisi ponsel agar tidak terlepas. Entah mengapa pemandangan itu terlihat lucu dan menggemaskan. Sangat menggemaskan.
Shinyu sampai harus menahan senyum yang hampir muncul begitu saja. Dohoon masih tidak sadar dirinya sedang diperhatikan. Jempolnya bergerak cepat di atas layar, ekspresinya serius. Bibirnya sedikit mengerucut saat fokus dan kedua tangan kecil itu terus bergerak lincah tanpa berhenti.
Shinyu melirik tangannya sendiri sekali lagi. Lalu kembali ke tangan Dohoon, lalu ke tangannya lagi. Perbedaannya cukup jelas dan semakin diperhatikan, semakin sulit baginya mengalihkan pandangan.
Lucu, kenapa bisa sekecil itu? Pikirannya bahkan mulai membandingkan hal-hal yang tidak penting. Kalau menggenggam gelas kopi mungkin kelihatan lebih kecil. Kalau memakai sarung tangan mungkin ukurannya jauh berbeda. Kalau telapak tangan mereka ditempelkan berdampingan..
Shinyu berkedip. Lalu buru-buru memalingkan wajah sebelum pikirannya semakin aneh.
“Apa?” Suara Dohoon tiba-tiba membuatnya tersadar.
“Hm?”
“Hyung lihat apa?” Dohoon bertanya tanpa menatap lama ke arah Shinyu.
“Gak ada kok.” Dohoon menyipitkan mata curiga.
“Tadi lihat ke sini.”
“Aku lihat game, Dohoon.” Shinyu mencoba berkilah sedikit dari pertanyaan Dohoon.
“Bohong.”
Shinyu tertawa kecil, “Main aja.”
Dohoon mendengus pelan lalu kembali fokus ke layar. Namun sekarang justru Shinyu yang tidak bisa lagi fokus. Sepanjang sisa permainan, matanya beberapa kali kembali jatuh ke tangan kecil itu dan setiap kali melihatnya, ia selalu merasa geli sendiri.
Bukan karena mengejek, bukan karena aneh. Hanya saja.. Menggemaskan. Sangat menggemaskan. Bahkan sampai Kyungmin yang sejak tadi diam mendengarkan lagu akhirnya melepas salah satu earphone dan menoleh.
“Kalian belum selesai?”
“Belum.” Dohoon menjawab tanpa berpaling. Kyungmin mengangguk lalu memasang earphone kembali.
Sementara Shinyu hanya bersandar sedikit di sofa. Namun kali ini ia tidak benar-benar memperhatikan permainan lagi, karena tanpa sadar, pikirannya masih tertinggal pada satu hal yang sangat sederhana.
Tangan Dohoon dan entah mengapa, semakin ia berusaha melupakannya, semakin jelas gambaran itu bertahan di kepalanya. Bahkan ketika syuting konten selesai. Bahkan ketika mereka harus kembali berdiri untuk rehearsal berikutnya. Bahkan ketika acara musik akhirnya berakhir beberapa jam kemudian.
—
Di perjalanan pulang menuju dorm, Shinyu masih teringat bagaimana kedua tangan kecil itu hampir sepenuhnya menutupi sisi ponsel saat Dohoon bermain game. Sampai akhirnya ia menghela napas kecil sambil menatap keluar jendela mobil. Lalu tertawa pelan sendirian.
Membuat Youngjae yang duduk di depannya menoleh bingung, “Kenapa, hyung?”
Shinyu menggeleng, “Gak apa, hanya.. Ingin.”
“Ketawa sendiri?”
“Biasa.” Shinyu menjawab dengan canggung dan tersenyum tipis.
Youngjae mengangkat bahu lalu kembali melihat ponselnya. Sementara Shinyu kembali menatap malam di luar kaca. Mencoba mengalihkan pikirannya. Meski jauh di dalam hati, ia sudah tau satu hal.
Malam ini, sebelum tidur, kemungkinan besar ia akan kembali memikirkan tangan kecil itu lagi.
—
Perjalanan pulang menuju dorm berlangsung seperti biasanya. Setelah jadwal acara musik selesai, energi para anggota seolah ikut habis bersama lampu panggung yang padam.
Tidak banyak percakapan di dalam mobil. Sebagian sibuk dengan ponsel masing-masing, sebagian lagi memilih menyenderkan kepala dan beristirahat selama perjalanan.
Namun berbeda dengan yang lain, Shinyu justru mendapati dirinya masih memikirkan hal yang sama sejak sore tadi. Tangan Dohoon, sungguh tidak masuk akal.
Dari sekian banyak hal yang bisa diingat setelah jadwal panjang seharian, justru itu yang terus muncul di kepalanya. Ia bahkan sempat beberapa kali menggelengkan kepala sendiri, merasa pikirannya terlalu jauh memperhatikan sesuatu yang begitu sederhana.
Tapi memang begitulah, kadang seseorang bisa tiba-tiba terjebak pada detail kecil yang bahkan tidak pernah dianggap penting sebelumnya, dan untuk Shinyu, detail itu adalah tangan Dohoon.
Saat mereka akhirnya tiba di dorm, suasana langsung sedikit lebih ramai. Youngjae, Jihoon, dan Hanjin sudah lebih dulu membicarakan rencana makan malam mereka sejak masih di perjalanan. Begitu sampai, ketiganya segera berganti pakaian dengan cepat sebelum pergi keluar bersama.
Kyungmin yang biasanya cukup mudah diajak ternyata kali ini memilih menyerah, “Aku mau tidur.”
“Kamu belum makan.” Shinyu menatap skeptis pada sang maknae.
“Nanti aku makan, hyung.”
“Kalau kelaparan?”
“Bangunin aja kalau yang lain udah pulang ya!” Setelah mengatakan itu, Kyungmin benar-benar menghilang ke kamar seperti orang yang sudah kehabisan baterai.
Tidak lama kemudian dorm menjadi jauh lebih sepi. Hanya tersisa Shinyu, Dohoon, dan Kyungmin yang kemungkinan besar sudah tertidur sekarang.
“Aku mau bikin ramen.” Dohoon membuka kulkas sambil berbicara santai.
Shinyu yang sedang mengambil minuman menoleh sekilas, “Jam segini?”
“Lapar.”
“Kenapa gak ikut yang lain keluar tadi?”
“Males, hyung. Kamu mau?” Dohoon terkekeh pelan sambil menawari Shinyu untuk makan ramen bersamanya.
Shinyu menggeleng, “Aku kenyang.”
Padahal sebenarnya tidak terlalu kenyang. Namun melihat cara Dohoon langsung fokus mencari bahan-bahan di dapur kecil dorm membuat Shinyu memilih membiarkannya saja.
Tidak butuh waktu lama sampai aroma ramen mulai memenuhi ruangan. Dohoon memasak dengan gerakan yang sudah sangat terbiasa. Rambutnya yang sedikit berantakan karena seharian beraktivitas membuat penampilannya jauh lebih santai dibanding saat berada di depan kamera beberapa jam lalu.
Shinyu duduk di meja makan sambil minum air dingin dan tanpa sadar memperhatikannya. Dohoon sama sekali tidak menyadari hal itu. Ia sibuk menuang ramen ke mangkuk, menambahkan telur, lalu membawanya ke meja dengan ekspresi puas.
“Kelihatan enak.” Junghwan memicing pelan melihat semangkuk ramen di depannya.
“Memang enak.” Dohoon langsung menyuapkan ramen ke mulutnya sendiri.
Shinyu tertawa kecil, “Aku cuma komentar.”
“Mhm.”
Percakapan mereka berhenti di situ. Dohoon menikmati makan malam sederhananya sementara Shinyu sesekali memainkan ponsel.
Setelah selesai makan, Dohoon mencuci mangkuknya sendiri, mengucapkan selamat malam singkat, lalu berjalan menuju kamar yang ia tempati bersama Jihoon. Tanpa sadar, mata Shinyu mengikuti langkah itu sampai menghilang di balik pintu.
Dorm kembali sunyi, sangat sunyi. Shinyu meminum sisa air dinginnya lalu bersandar di kursi. Beberapa menit berlalu, lalu sepuluh menit, lalu lima belas menit.
Namun anehnya, pikirannya tetap tidak tenang. Ia sudah mencoba membuka media sosial. Sudah mencoba menonton video pendek. Sudah mencoba mengalihkan perhatian ke hal lain. Tetapi yang muncul justru bayangan Dohoon yang sedang bermain game sore tadi.
Tentu saja.. Tangan kecil itu lagi. Shinyu akhirnya menutup ponselnya dengan pasrah.
“Kenapa sih.” Ia menggumam pelan sambil tertawa kecil pada dirinya sendiri.
Rasanya konyol, sangat konyol. Namun semakin dipikirkan, semakin ia merasa gemas sendiri. Pada akhirnya ia berdiri dari kursinya, berjalan menuju dapur, lalu mengambil sebotol air dingin dari kulkas.
Tujuannya sebenarnya tidak jelas. Setidaknya sampai ia menyadari langkahnya justru mengarah ke kamar Dohoon dan Jihoon. Pintu kamar tidak tertutup rapat, mungkin karena Jihoon sedang tidak ada atau mungkin karena Dohoon memang tidak terlalu peduli.
Shinyu mengetuk pelan sebelum mendorong pintu sedikit. Pemandangan yang ia lihat langsung membuat sudut bibirnya terangkat. Dohoon sedang duduk bersandar pada headboard ranjangnya.
Satu kaki ditekuk. Ponsel berada di depan wajahnya dan seperti yang sudah diduga, ia sedang memainkan game yang sama seperti tadi sore. Wajahnya terlihat sangat serius, ibu jarinya bergerak cepat di atas layar. Bahkan saat Shinyu masuk ke kamar, Dohoon tidak langsung menyadarinya.
Shinyu berdiri diam beberapa saat, memperhatikan dari tempatnya berdiri. Lalu matanya kembali jatuh ke hal yang sama. Kedua tangan itu, tangan kecil yang memegang ponsel dengan penuh konsentrasi. Jari-jari ramping yang bergerak cepat di atas layar dan cara ponsel itu terlihat jauh lebih besar di tangannya dibanding saat berada di tangan Shinyu sendiri.
Entah mengapa, pemandangan itu terasa lebih menggemaskan sekarang. Mungkin karena suasana kamar jauh lebih tenang dibanding ruang tunggu tadi atau mungkin karena sekarang ia bisa memperhatikannya tanpa ada banyak gangguan. Dohoon akhirnya menyadari keberadaannya beberapa saat kemudian.
Ia mengangkat kepala sekilas, “Shinyu hyung? Kok di sini?”
Shinyu mengangkat botol air di tangannya, “Mau minum.”
“Alasan hyung jelek banget.”
“Aku memang lagi minum, Dohoonie.”
Dohoon mendengus kecil lalu kembali fokus ke layar. Anehnya, respons santai itu justru membuat Shinyu semakin ingin mendekat, karena sekarang, dari jarak yang lebih dekat, ia bisa melihat jelas bagaimana jemari Dohoon bergerak lincah di atas layar ponselnya.
Sekali lagi, ia tidak bisa berhenti memperhatikannya. Sama sekali tidak bisa.
—
Dohoon sama sekali tidak menyadari bahwa sejak beberapa menit yang lalu dirinya sedang diamati seperti objek penelitian. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada layar ponsel yang berada di kedua tangannya.
Setelah seharian menjalani jadwal comeback, menghadapi kamera, latihan, dan berbagai aktivitas lainnya, bermain game sebelum tidur sudah menjadi salah satu cara paling sederhana untuk mengistirahatkan pikirannya.
Ketika Shinyu masuk ke kamar, Dohoon tidak terlalu memikirkannya. Ia mengira sang leader hanya mampir sebentar, mengobrol beberapa menit, lalu pergi seperti biasa. Nyatanya tidak, Shinyu justru masih berdiri di sana. Masih memperhatikan.
Hal yang lebih aneh lagi, tidak mengatakan apa-apa. Beberapa menit pertama Dohoon masih berusaha mengabaikannya. Namun semakin lama, ia mulai bisa merasakan tatapan itu. Bukan karena Shinyu menatapnya dengan intens atau menyeramkan. Justru sebaliknya, tatapan itu terasa ringan, santai, bahkan hampir seperti seseorang yang sedang memperhatikan sesuatu yang menurutnya lucu.
Itu jauh lebih mengganggu, karena Dohoon tidak tau apa yang sedang diperhatikan. Akhirnya ia menghela napas pelan tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
“Hyung.” Ia menatap jengah pada Shinyu.
“Iya, Dohoonie?”
“Kenapa lihat aku terus?”
Shinyu terlihat tidak merasa bersalah sedikit pun, “Aku lihat game kok.”
“Kamu bohong.”
“Aku lihat kamu main.” Shinyu berujar dengan jujur kali itu.
“Itu lebih aneh.”
Shinyu hanya tertawa kecil pada akhirnya, Dohoon hanya mendecak pelan lalu kembali fokus bermain. Namun beberapa saat kemudian, ia mendengar suara langkah mendekat.
Kasurnya sedikit bergerak, lalu ada seseorang yang duduk di belakangnya. Dohoon bahkan tidak perlu menoleh untuk tau siapa itu.
“Hyuuung.” Dohoon menyerah, akhirnya ia merengek sebal karena terus diganggu.
“Hm?”
“Mau apa lagi?”
“Gak ngapa-ngapain.” Shinyu hanya menjawab dengan nada biasa, lalu tetap memperhatikan Dohoon dengan intens.
“Itu bohong kedua hari ini.”
Shinyu akhirnya terkekeh pelan, Dohoon menggeleng pasrah melihatnya. Kadang-kadang leader mereka memang seperti ini. Tiba-tiba usil tanpa alasan yang jelas. Namun sebelum ia sempat melanjutkan protes, sepasang lengan tiba-tiba melingkar di pinggangnya dari belakang.
Dohoon segera membeku untuk sesaat. Bukan karena terkejut, lebih karena tidak menyangka. Shinyu menarik tubuhnya sedikit ke belakang dengan gerakan santai hingga punggung Dohoon bersandar pada dadanya. Posisi duduk mereka berubah begitu saja. Kini Dohoon berada di antara kedua kaki Shinyu, sementara sang leader bersandar nyaman di headboard ranjang di belakang mereka.
Dohoon menoleh setengah, “Hah? Hyung ngapain?”
Shinyu hanya terlihat sangat santai, “Lanjut main aja.”
“Kalau mau lihat, lihat aja. Kenapa harus begini posisinya?”
“Nyaman.”
“Hyung yang nyaman.” Rengekan demi rengekan terus keluar dari bilah bibir Dohoon.
“Memang, Dohoonie. Makanya hyung duduk di posisi ini.”
Dohoon menatapnya tidak percaya. Namun pada akhirnya ia menyerah, karena mengenal Shinyu sudah cukup lama membuatnya tau satu hal. Kalau leader mereka sedang ingin melakukan sesuatu, membantah biasanya tidak terlalu membantu.
Akhirnya ia kembali fokus ke game atau setidaknya mencoba, karena beberapa saat kemudian dagu Shinyu bertumpu di bahunya. Lalu suara napas pelan itu terdengar begitu dekat, dengan salah satu lengannya masih melingkar santai di pinggang Dohoon.
Situasi itu membuat konsentrasinya sedikit berantakan, “Shinyu hyung.”
“Iya, Dohoonie?”
“Kamu berat.”
“Aku gak berat.” Senyum kecil terbit di bibir Shinyu saat menjawab rengekan demi rengekan yang Dohoon lontarkan.
“Dagu kamu berat.”
Shinyu tertawa kecil. Alih-alih menjauh, ia justru semakin nyaman menyandarkan dirinya, karena hal itu Dohoon mendengus. Namun sudut bibirnya tanpa sadar ikut terangkat sedikit.
Mereka tetap seperti itu selama beberapa menit. Shinyu memperhatikan layar dan Dohoon bermain game. Suasana kamar terasa tenang. Hanya ada suara game yang sesekali terdengar dari ponsel dan suara pendingin ruangan yang berdengung pelan di sudut kamar.
Sampai akhirnya perhatian Shinyu kembali jatuh pada tangan itu. Tangan kecil yang sejak sore tadi terus mengganggu pikirannya. Dari jarak sedekat ini, perbedaannya terlihat lebih jelas.
Telapak tangan Dohoon memang jauh lebih kecil dibanding miliknya, jari-jarinya ramping, buku-buku jarinya tidak terlalu menonjol.
Saat menggenggam ponsel, kedua tangannya terlihat hampir sepenuhnya terisi oleh perangkat itu. Shinyu menatap beberapa saat lebih lama. Lalu tanpa sadar mengangkat salah satu tangannya. Menempelkan telapak tangannya di samping tangan Dohoon yang sedang memegang ponsel.
Dohoon segera melirik, “Apa lagi?”
Shinyu terlihat puas, “Kecil.”
“Astaga.” Seruan frustrasi akhirnya keluar lagi dari bibir Dohoon.
“Serius.”
“Aku lagi main.”
“Kok bisa sekecil ini?”
Dohoon mengerang pelan, “Hyung, udah. Aku mau main dengan tenang.”
“Kenapa?”
“Jangan ganggu, kamu bawel banget.”
Shinyu tertawa lagi mendengarnya. Namun bukannya berhenti, ia justru menyelipkan jarinya ke sela-sela jemari Dohoon sebentar lalu melepaskannya lagi. Seolah hanya ingin membandingkan ukuran tangan mereka.
Tentu saja hal itu berhasil membuat Dohoon kehilangan fokus. Karakternya di dalam game langsung kalah beberapa saat kemudian.
“HYUNG!” Dohoon merengek sebal dan menyengkram jemari Shinyu dengan kuat.
Shinyu langsung tertawa lebih keras, “Itu salah kamu.”
“Itu salah hyung!”
“Kan aku cuma lihat.”
“Hyung pegang tangan aku!”
“Aku lagi penelitian.”
Dohoon menatapnya dengan ekspresi tidak percaya, “Penelitian apaan?”
“Tangan kamu kecil.” Shinyu akhirnya berujar dengan nada minat sambil terus mengamati jemari Dohoon yang begitu kecil.
“Itu bukan penelitian, hyung!”
“Itu observasi.”
Dohoon benar-benar ingin melempar bantal saat itu. Namun sebelum sempat melakukan apa pun, Shinyu justru tertawa sendiri sambil menunduk sedikit. Sesaat Dohoon menyadari sesuatu, leader mereka benar-benar sedang gemas.
Bukan iseng biasa, bukan sekadar mengganggu. Shinyu benar-benar terlihat terhibur hanya karena melihat tangannya. Kesadaran itu justru membuat Dohoon semakin malu, karena sekarang setiap kali ia memegang ponsel, ia jadi sadar bahwa Shinyu memperhatikannya.
Sayangnya, itu membuatnya semakin sulit bermain game dengan tenang. Sementara Shinyu yang berada tepat di belakangnya tampaknya tidak punya niat sedikit pun untuk berhenti mengganggu malam ini. Bahkan sebaliknya.
Melihat Dohoon yang mulai kesal justru membuat senyumnya semakin lebar, karena bagi Shinyu, tidak ada yang lebih menggemaskan daripada Dohoon yang berusaha fokus pada sesuatu sambil mengomel pelan setiap kali diganggu. Malam itu, tampaknya ia berniat menikmati pemandangan itu selama mungkin.
—
Dohoon mulai yakin bahwa malam ini Shinyu memang datang ke kamarnya hanya untuk mengganggunya. Tidak ada tujuan lain, tidak ada alasan penting, dan tidak ada percakapan serius.
Setiap kali ia berhasil kembali fokus pada permainan di layar ponselnya, leader mereka selalu menemukan cara baru untuk mengalihkan perhatiannya. Awalnya masih bisa ditoleransi. Shinyu hanya memperhatikan dari belakang sambil sesekali berkomentar tentang permainan yang sedang berlangsung.
Namun semakin lama, perhatian pria itu sama sekali tidak tertuju pada game yang dimainkan Dohoon. Melainkan pada Dohoon sendiri atau lebih tepatnya, pada kedua tangan kecil yang sejak sore tadi berhasil mencuri perhatiannya.
“Aku serius deh.”
Dohoon segera menghela napas panjang begitu mendengar suara itu lagi, “Apa lagi sekarang?”
“Tangan kamu memang kecil, Dohoonie.”
“Hyung masih mau bahas itu?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena lucu.” Shinyu mengatakan kata demi kata dengan ringan, tidak melepaskan pandangannya dari kedua tangan Dohoon yang tengah memegang ponsel kala itu.
Dohoon memejamkan mata sebentar. Ia bahkan tidak tau harus menjawab apa lagi. Beberapa menit lalu Shinyu sudah membandingkan ukuran telapak tangan mereka. Setelah itu membandingkan panjang jari mereka. Lalu mengangkat salah satu tangan Dohoon hanya untuk melihat apakah benar perbedaannya sejauh yang ia kira.
Sekarang topik itu kembali muncul, menimbulkan rasa sebal dan jengkel pada diri Dohoon, “Hyung.”
“Kenapa?”
“Kalau aku menang pertandingan ini, hyung berhenti ganggu aku.”
Shinyu berpikir sejenak, “Lihat nanti. Kalau kamu menang, kalau kalah?”
“Itu bukan jawaban, hyung.”
“Itu jawaban.”
Dohoon mendesah pasrah, kadang berbicara dengan Shinyu memang seperti itu. Tenang dan santai. Namun keras kepala di saat yang sama, karena tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan, Dohoon memilih kembali fokus pada permainan.
Ibu jarinya bergerak cepat di atas layar sementara matanya mengikuti setiap pergerakan karakter di dalam game. Setidaknya selama tiga puluh detik pertama.
Sampai ia merasakan sesuatu yang lembut dan kenyal menyentuh pipinya. Dohoon membeku, lalu perlahan menoleh. Shinyu yang berada tepat di belakangnya hanya tersenyum kecil seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun Dohoon tahu persis apa yang baru saja terjadi, “Hyung?”
“Hm?” Shinyu hanya berguman sambil lalu, mengusak gemas pipi Dohoon dengan ujung hidungnya.
“Kamu barusan ngapain?”
“Hyung kenapa?”
“Hyung tau apa maksudku.”
Shinyu terlihat menahan tawa, “Aku gak ngapa-ngapain tuh.”
“Bohong.”
“Aku cuma gemas.”
“Apa hubungannya gemas sama ganggu orang? Sampai cium pipi?” Dohoon menatap frustrasi pada Shinyu, sedikit lagi jika diteruskan adegan ganggu-mengganggu ini, maka Dohoon akan menangis sambil merengek kencang.
“Hubungannya banyak, kamu aja yang gak tau.”
Dohoon menatapnya selama beberapa saat, lalu kembali melihat layar. Pada akhirnya ia memutuskan untuk tidak meladeni.
Sayangnya keputusan itu tidak bertahan lama, karena beberapa menit kemudian, ketika ia sedang fokus mengejar objektif dalam permainan, Shinyu kembali menyentuh tangannya.
Kali ini bukan untuk membandingkan ukuran. Pria itu hanya menggenggam salah satu tangan Dohoon sebentar sebelum melepaskannya lagi. Dohoon segera kehilangan fokus setelahnya. Karakter di layar kembali kalah.
Kali ini ia benar-benar mengeluh keras, “Ah, serius!”
Shinyu malah tertawa, “Tuh kamu kalah lagi.”
“Karena hyung!” Jika bisa menangis dengan bebas tanpa rasa malu, rasanya Dohoon ingin menangis kencang saja melihat tingkah random yang Shinyu lakukan.
“Bukan salah aku.”
“Ini salah hyung seratus persen.”
Shinyu tidak terlihat menyesal sedikit pun. Sebaliknya, ia justru terlihat puas melihat reaksi Dohoon, pemandangan itu membuat Dohoon semakin kesal.
Namun kesal yang aneh, karena di balik semua protesnya, ia tidak benar-benar ingin menyuruh Shinyu pergi. Kalau benar-benar terganggu, ia pasti sudah mengusir leader mereka keluar kamar sejak tadi.
Tapi kenyataannya tidak, ia tetap membiarkan Shinyu duduk di sana. Tetap membiarkan lengan yang melingkar di pinggangnya. Tetap membiarkan dagu yang sesekali bertumpu di bahunya dan tetap membiarkan dirinya berada dalam pelukan santai itu selama hampir satu jam.
Mungkin karena terasa nyaman atau mungkin karena kehadiran Shinyu memang selalu terasa menenangkan dengan caranya sendiri. Meski malam ini pria itu sangat menyebalkan.
Dohoon sedang memikirkan hal tersebut ketika tiba-tiba Shinyu kembali berbicara, “Adek.”
Dohoon segera menoleh refleks. Panggilan itu masih terasa asing di telinganya. Bukan karena Shinyu tidak pernah menggunakannya. Namun karena setiap kali dipanggil seperti itu, selalu ada rasa malu yang sulit dijelaskan.
“Apa?”
“Tangan kamu dingin.”
“Terus?”
Shinyu mengangkat salah satu tangannya. Lalu menggenggam tangan Dohoon perlahan, “Gak apa-apa, cuma mau ngasih tau.”
“Hah?” Lagi, Dohoon hanya bisa menatap Shinyu dengan bingung dan jengah.
“Mau pegang aja.”
Dohoon segera memalingkan wajah. Untung posisi mereka membuat Shinyu tidak bisa melihat jelas wajahnya, karena ia yakin telinganya pasti mulai memerah sekarang.
Tentu saja Shinyu menyadarinya, senyumnya semakin lebar. “Dohoon.”
“Apa lagi?”
“Kamu malu ya?”
“Gak, ngapain malu.” Sejujurnya Dohoon memang malu, terlebih Shinyu memergokinya dengan begitu cermat.
“Bohong.”
“Hyung yang bohong dari tadi.”
Shinyu terkekeh pelan. Suara tawanya terdengar dekat sekali, hangat. Membuat suasana kamar terasa lebih tenang dibanding sebelumnya.
Malam terus berjalan. Waktu menunjukkan hampir tengah malam ketika Dohoon akhirnya menyerah dan meletakkan ponselnya di samping bantal. Ia tidak berhasil menyelesaikan banyak pertandingan. Sebagian besar karena gangguan yang terus datang tanpa henti. Namun sekarang ia sudah terlalu lelah untuk memikirkan hal itu.
“Kamu selesai?” Shinyu bertanya sambil kembali mengusak hidungnya dengan nyaman di pipi Dohoon.
“Iya.”
“Menang?”
“Menurut hyung? Aku kalah terus karena hyung!”
“Kasihan.”
Dohoon langsung menoleh dengan ekspresi tidak percaya, “Siapa yang bikin aku kalah?”
Shinyu tertawa tanpa rasa bersalah dan saat melihat wajah kesal itu lagi, ia benar-benar tidak bisa menahan diri. Tangannya naik untuk mengusap rambut Dohoon pelan. Bukan usapan yang berlebihan. Hanya sentuhan singkat yang penuh rasa sayang.
Lalu ia berkata dengan nada santai seolah sedang menyampaikan fakta sederhana, “Yaudah, besok bisa main lagi.”
Dohoon mendecak pelan. Namun kali ini tidak ada protes lanjutan, karena meski malamnya berakhir dengan jumlah kekalahan yang jauh lebih banyak dari biasanya, ada satu hal yang tidak bisa ia sangkal.
Malam ini terasa menyenangkan, sederhana. Tidak ada jadwal, tidak ada kamera, tidak ada staf yang memanggil mereka ke sana kemari. Hanya suara pendingin ruangan, cahaya lampu kamar yang redup, dan seseorang yang sejak sore tidak bisa berhenti memperhatikan hal paling sederhana tentang dirinya.
Sementara Shinyu, yang akhirnya berdiri untuk kembali ke kamarnya sendiri, masih sempat melirik sekali lagi ke arah tangan Dohoon yang kini terlipat di atas pangkuannya.
Lalu tanpa sadar tersenyum kecil, karena ternyata, setelah memikirkannya selama berjam-jam, kesimpulannya tetap sama. Tangan Dohoon memang kecil dan entah mentapa, ia masih menganggap itu sangat menggemaskan.
—
Pada akhirnya, malam itu benar-benar berakhir lebih tenang daripada yang Dohoon bayangkan. Setelah hampir satu jam menjadi korban gangguan tanpa henti dari Shinyu, energi yang tersisa di tubuhnya sudah habis. Jadwal seharian, syuting konten, latihan, perjalanan pulang, ditambah pertandingan game yang tidak pernah benar-benar bisa ia selesaikan dengan damai membuat rasa kantuk perlahan mulai mengambil alih.
Kamarnya hanya diterangi lampu tidur kecil di sudut ruangan. Suasananya tenang, hening, dan nyaman. Dohoon bersandar pada headboard beberapa saat sambil mengucek matanya pelan. Rambutnya sedikit berantakan, piyama longgar yang dipakainya terlihat kusut setelah duduk terlalu lama, dan wajahnya menunjukkan tanda-tanda seseorang yang sudah hampir tertidur.
Shinyu yang masih berdiri di dekat ranjang memperhatikan pemandangan itu sambil tersenyum kecil, “Ngantuk?”
Dohoon mengangguk pelan, “Iya.”
“Sekarang ayo tidur, Dohoonie.”
“Padahal siapa yang ganggu dari tadi?”
“Aku gak ganggu kamu, adek.”
Dohoon dengan segera mendengus pelan. Ekspresi tidak percayanya membuat Shinyu kembali tertawa. Namun kali ini tawanya jauh lebih lembut, tidak ada lagi usil-usil kecil seperti sebelumnya.
Melihat Dohoon yang mulai mengantuk memang selalu membuat suasana hati seseorang ikut melunak. Tentu Shinyu orangnya.
“Selamat malam, hyung.” Suara Dohoon sedikit serak karena kantuk.
“Iya, Dohoonie.”
“Jangan ganggu aku lagi besok.”
“Itu permintaan yang sulit.” Shinyu menyeringai jahil saat menjawab pernyataan itu.
Dohoon memejamkan mata sesaat. Lalu menggeleng pasrah, “Kamu memang gak bisa diajak kompromi.”
“Katanya mau tidur.”
“Aku memang mau tidur, hyung.”
“Yaudah.”
Dohoon akhirnya bergeser turun dari posisi duduknya dan membaringkan tubuh di atas kasur. Selimut masih terlipat di bagian kaki ranjang dan bantalnya bahkan sudah bergeser entah ke mana sejak tadi. Biasanya Jihoon akan mengomel kalau melihat kondisi tempat tidur seperti itu.
Namun karena kamar sedang kosong, Dohoon tidak terlalu peduli, yang penting bisa rebahan. Beberapa saat kemudian matanya sudah hampir terpejam. Mungkin kalau dibiarkan seperti itu, ia benar-benar akan tertidur dalam posisi yang tidak nyaman.
Shinyu memperhatikannya sebentar sebelum akhirnya menghela napas kecil. Lalu tanpa banyak bicara ia melangkah mendekat ke sisi ranjang. Tangannya bergerak pelan membenarkan posisi bantal yang hampir jatuh dari kepala Dohoon. Ia mengangkat sedikit kepala pemuda itu dengan hati-hati lalu menyelipkan bantal dengan benar di bawahnya.
Dohoon membuka satu mata, “Apa lagi..”
“Bantal kamu miring.”
“Hng?” Lalu matanya tertutup lagi.
Shinyu hanya tersenyum kecil. Setelah itu ia menarik selimut yang masih kusut di ujung kasur dan menyelimutinya hingga ke dada, gerakannya santai dan alami. Seolah sudah sering dilakukan, padahal sebenarnya tidak juga.
Hanya saja ada sesuatu dalam dirinya yang selalu ingin memastikan orang-orang yang ia sayangi merasa nyaman. Terutama Dohoon. Saat semuanya selesai, Shinyu sempat berpikir untuk langsung keluar kamar.
Namun langkahnya justru berhenti. Matanya jatuh pada wajah Dohoon yang setengah mengantuk, rambut sedikit berantakan, pipi yang masih menyisakan bekas tekanan bantal, dan ekspresi lelah yang perlahan mulai berubah menjadi tenang.
Senyum kecil tanpa sadar muncul di wajah Shinyu. Lalu ia menunduk, mendekat perlahan, dan mengecup dahi Dohoon cukup lama. Bukan kecupan yang terburu-buru. Melainkan sentuhan hangat yang terasa seperti ucapan selamat malam tanpa kata-kata.
Dohoon yang setengah mengantuk hanya mengeluarkan suara pelan, “Hng, hyung..”
Namun sebelum dirinya benar-benar memproses apa yang terjadi, Shinyu masih belum bergerak menjauh. Tatapannya turun sedikit. Lalu tanpa peringatan apa pun, ia memberikan kecupan singkat di bibir Dohoon, lembut, hangat, dan cukup lama untuk membuat Dohoon yang mengantuk segera membuka mata.
Bahkan sebelum otaknya berhasil mencerna situasi, Shinyu sempat tersenyum kecil dan memberi lumatan singkat yang nyaris terasa seperti godaan terakhir malam itu. Dohoon membeku, benar-benar membeku.
Selama beberapa saat ia hanya menatap kosong ke depan. Sementara Shinyu sudah berdiri tegak lagi dengan ekspresi yang terlalu puas untuk seseorang yang baru saja membuat orang lain kehilangan kemampuan berpikir.
Dohoon berkedip, sekali, dua kali.
Lalu matanya membesar, “... Hyung?”
Shinyu hanya tertawa. Tawa yang berusaha ditahan namun tetap terdengar jelas, “Selamat malam, adek. Tolong mimpi indah ya, Dohoonie.”
“Eh?”
“Tidur yang nyenyak.”
“Sebentar.” Apa itu tadi.. Sebuah ciuman?
“Besok main game lagi, sama hyung.”
“HYUNG.”
Namun sebelum Dohoon sempat mengatakan hal lain, Shinyu sudah berjalan menuju pintu kamar, langkahnya ringan, bahunya bahkan sedikit bergetar karena masih menahan tawa.
Sementara Dohoon yang baru benar-benar sadar apa yang terjadi beberapa detik kemudian langsung menutupi wajahnya dengan selimut.
“Astaga..” Suara protesnya terdengar pelan dari balik kain.
Pintu kamar terbuka, lalu tertutup kembali. Menyisakan keheningan yang hangat dan seorang Dohoon yang kini sama sekali tidak bisa langsung tidur karena seseorang baru saja meninggalkan kekacauan kecil di dalam hatinya sebelum mengucapkan selamat malam.
Di ruang tengah dorm, Shinyu masih tersenyum kecil saat berjalan menuju kamarnya sendiri. Sedangkan di balik pintu yang baru saja ditinggalkannya, Dohoon hanya bisa berbaring memandangi langit-langit kamar dengan wajah yang semakin panas.
Game yang tadi begitu penting sudah terlupakan. Rasa kesal pun entah ke mana, yang tersisa hanya satu pikiran sederhana yang terus berputar di kepalanya sampai kantuk akhirnya datang.
Shinyu hyung benar-benar menyebalkan. Malam itu, pemikiran tersebut justru membuat sudut bibirnya ikut terangkat menjadi senyum kecil sebelum akhirnya ia tertidur.
— fin.
⋆⭒ berrybluewies — dudiztam⭒⋆
