Actions

Work Header

manis, katanya

Summary:

Tentang Ryan yang penasaran dengan rasa rokok Dani, yang ternyata tidak perlu ia hisap untuk bisa merasakannya.

Notes:

disclaimer: wrote this with heavy javanese but the narrative stays in indo tho. hope you guys enjoy! :p

Work Text:

Bel pulang bergema, menyapu lorong sekolah dari ujung ke ujung. Dari dalam ruang kelas, derit kursi bersahutan dengan langkah kaki yang berhamburan. Ryan membiarkan teman-temannya sibuk bergegas sementara ia sendiri mengemasi buku catatan dengan tenang.

Di sudut kiri belakang, bangku Dani sudah kosong dari tadi. Tepatnya sejak jam istirahat kedua belum selesai. Laki-laki itu punya bakat aneh untuk menguap dari peredaran setiap kali Pak Joko dan buku matematikanya mulai kelihatan dari ujung lorong.

Bagi siapapun di sekolah ini, Ryan dan Dani adalah dua jenis orang yang berbeda terlalu jauh untuk dibandingkan. Ryan benar-benar wujud murid teladan dari semua yang diimpikan para guru. Kemeja selalu rapi masuk ke dalam sabuk, buku tugas yang hampir tiap minggu jadi penyelamat bagi teman sekelas yang lupa mengerjakan, dan namanya nyaris tak pernah absen dari daftar peringkat teratas.

Dani, di sisi lain, adalah kebalikannya. Rambutnya dibiarkan tumbuh melewati batas kerah (yang satu ini Ryan tidak protes, lebih ngguanteng katanya), seragamnya jarang terlihat utuh, kainnya menguning tanpa pernah diganti, dasinya ketinggalan, sabuknya hilang, dan ia sudah terlalu akrab dengan kursi di ruang BK.

Tapi tidak ada yang tahu bahwa sejak lima bulan terakhir, jarak antara keduanya tidak sejauh yang terlihat. Dari luar, tidak ada yang perlu dicurigai. Dua remaja laki-laki yang kebetulan berteman, tidak lebih.

Padahal tidak ada yang kebetulan dari satupun hal yang mereka lakukan. 

Lima bulan bukan waktu yang sebentar untuk menyimpan rahasia di tempat yang ramainya seperti sekolah. Tapi mereka berdua sudah terlatih. Sentuhan yang sekilas terasa wajar, kerlingan yang buru-buru dialihkan sebelum sempat terbaca, semuanya terjadi begitu rapi sampai mereka sendiri kadang lupa mana yang dibuat-buat dan mana yang tidak.

Hari itu tidak berbeda. Pagi berjalan seperti biasa dengan wajah-wajah yang sama. Bedanya, begitu bel istirahat berbunyi dan semua orang berhamburan ke kantin, Ryan justru berbelok ke arah sebaliknya. Ia tahu kantin sudah ramai duluan sebelum bel selesai terdengar. Ryan bahkan tidak sempat melirik ke arah sana.

Ruang OSIS terasa pengap siang itu. Kipas angin di sudut ruangan berputar malas, hanya mengaduk udara panas dari belasan tubuh yang berdesakan di kursi plastik. Agenda rapat hari itu cuma satu, tapi entah kenapa melahirkan perdebatan yang panjangnya melebihi acara itu sendiri. Ryan duduk tenang di posisinya, mencatat poin-poin yang perlu diperhatikan, menjawab kalau ditanya, dan sesekali melirik jam di dinding dengan tatapan yang ia usahakan terlihat biasa saja. Perutnya protes dua kali, ia pura-pura tidak dengar.

Sore itu koridor perlahan menjadi lengang. Kepala Ryan masih berdenyut saat ia kembali mampir ke ruang OSIS, menaruh balik map notulensi rapat yang dari tadi masih ia bawa. Setelah itu baru ia mengambil jalan memutar, melewati taman belakang, menuju tangga beton tua di balik gudang alat olahraga.

Tempat itu sudah lama ditinggalkan, tertutup rapat oleh bayang-bayang pohon beringin besar, dan jauh dari jangkauan kamera pengawas sekolah. Tapi bukan itu satu-satunya alasan mengapa area ini selalu sepi. Ada rumor yang sudah beredar entah sejak angkatan berapa, tentang sebuah ruangan tersembunyi di balik pintu berkarat di ujung tangga atas, ruangan yang tak pernah tercantum di denah manapun.

Beberapa kakak kelas mengaku pernah mendengar langkah kaki dari balik dindingnya saat gedung sudah kosong. Yang lebih berani bercerita bilang pernah melihat bayangan berdiri di jendela yang dari dulu sudah dipaku mati. Kata mereka, demit penjaga ruangan itu memang begitu, tak suka diganggu.

Ryan sendiri tak tahu mana yang nyata dan mana yang hanya cerita karangan dari mulut ke mulut. Yang ia tahu, berkat rumor itu, tak ada yang bakal iseng datang ke sini.

Selain Dani dan Ryan, tentunya.

Aroma tembakau menyambut hidungnya begitu kakinya menginjak anak tangga terakhir.

Di pelataran sempit lantai atas, Dani duduk bersandar santai pada dinding kusam. Kemeja seragamnya dibiarkan terbuka, menampakkan kaos hitam di baliknya. Sebatang rokok terselip di antara jarinya, asapnya mengepul tipis ke udara sore.

Bunyi langkah kaki membuat Dani menoleh. Belum apa-apa sudut bibirnya sudah naik duluan, memperlihatkan senyum miring yang dari dulu selalu membuat Ryan lupa mau bicara apa.

“Suwene, Cil. Dengaren,” sapa Dani santai, lalu mengembuskan asap kelabu ke udara, membiarkannya menyatu dengan angin.

Ryan duduk tepat di sebelahnya, menjaga jarak yang aman namun cukup dekat untuk merasakan hawa tubuh kekasihnya. “Mau kan ono rapat dhisik pas istirahat. Lha, map’e ketinggalan neng tasku, langsung tak balekno sedilut neng ruang OSIS.” Ryan mendengus. “Kamu lak enak langsung ngacir pas jamnya Pak Joko.”

“Lha opo’o aku ngrungokno Pak tuwek iku ngomel,” sahut Dani, terkekeh pelan mendengar celoteh Ryan. Tangannya dengan luwes mematikan sisa rokok ke kaleng minuman bekas di dekat kakinya. “Utekku wes ra ngatasi mikir rumus. Mending tak sebat ae ngenteni pacarku.”

Ryan mendengus. Ia membuka kancing paling atas seragamnya, berusaha mengusir gerah yang menempel di badannya. “Ndasmu wi. Awake dhewe minggu ngarep ulangan harian, lho.”

“Santai bos, ono cah sregep sing siap mulang aku,” goda Dani, menaikkan sebelah alisnya. Lengan kanannya melingkari pinggang Ryan, menarik tubuh lelaki itu agar duduk lebih merapat.

“Gundulmu iku,” balas Ryan cepat, meski wajahnya mulai terasa memanas. Kapasitas otaknya yang terbiasa berpikir runut kehilangan fungsinya tiap kali dihadapkan pada celetukan usil sang kekasih.

Dani tertawa, serak dan berat, selalu terdengar pas di telinga Ryan. Jari-jarinya mulai bermain di tengkuk Ryan, mengusap rambut pendeknya. Sentuhan itu bekerja layaknya penenang bagi segala keruwetan di kepalanya. Seluruh ketegangan yang sedari pagi merantai tubuh Ryan seketika sirna, terlarut di bawah sentuhan yang sudah ia hafal di luar kepala.

Ryan menyandarkan kepalanya di paha sosok jangkung tersebut, sedikit menggeser posisi untuk mencari tumpuan paling pas di atas lipatan celana abu-abu itu. Kainnya terasa sedikit kasar, tapi usapan lembut jemari Dani di sela-sela rambutnya membuat Ryan enggan beranjak. Matanya memperhatikan langit dari ketinggian gedung. Jingga kemerahan perlahan merayap menggantikan biru sore.

Senja membekap mereka dalam diam, meluruhkan kepenatan yang menggantung di pundak dua remaja itu. Keduanya tenggelam begitu saja, ditemani angin sore yang datang dan pergi, membawa serta sisa-sisa hari yang panjang itu.

Dani melirik ke bawah, memperhatikan wajah Ryan yang setengah terpejam. Gurat lelah di rupa ayu itu selalu menggelitik sesuatu di dadanya yang tidak pernah ia undang.

Tanpa banyak bicara, Dani merogoh tas bututnya yang tergeletak di samping. Sebuah roti dengan isian selai stroberi muncul di tangannya, masih terbungkus rapi. Ia mengetukkan ujungnya ke pipi Ryan.

“Ma’em sek.”

Ryan membuka satu mata. “Seko ngendi iku?”

“Kantin. Mau tak tukokno pas awakmu rapat.” Dani mengangkat bahu, nadanya datar seperti menyerahkan sesuatu yang tidak penting. “Ojo nganti ambruk neng kene, mesakke aku sing nggendong.”

Ryan duduk perlahan, mengambil roti itu. Ada jeda sebentar sebelum ia membuka bungkusnya, matanya menahan senyum yang berusaha ia sembunyikan. “Makasih, Dan.”

Dani hanya mengangguk santai. “Rapat OSIS-mu bar jam piro, Cil?” tanyanya, jemari panjangnya masih bergerak di tengkuk Ryan.

“Setengah loro,” jawab Ryan sambil mengunyah. “Suwe banget, geger pokok’e. Sirahku meh copot, Dan.”

“Ooh, lha pantes, seko mau rupamu koyok wong arep semaput,” ucapnya jahil.

“Cocote lho,” gerutu Ryan. Ia diam sebentar menghabiskan makanannya, kepalanya sedikit bergerak, mencari kehangatan tubuh Dani lagi.

Dani merespons dengan dengusan geli. Tangannya bergeser turun, telapaknya disandarkan pada lengan Ryan, membiarkan lelaki itu memejamkan mata tanpa berniat mengganggunya lagi. Obrolan mereka menguap, tergantikan oleh deru kendaraan dari jalan raya yang terdengar samar dari ketinggian sini.

Beberapa menit berselang, Dani merogoh saku celananya. Bunyi gemerincing pemantik hitam yang muncul bersama sebungkus rokok sontak membangunkan Ryan.

Dani menjepit sebatang di antara bibirnya, bunyi gesekan logam memecah kesunyian, disusul nyala api kecil yang segera membakar ujung rokok.

Ryan mencuri pandang dari sudut matanya. Rahang Dani tampak sangat tegas saat ia menghisap dalam-dalam, kepulan asap putih menyembur dari bibirnya sebelum lenyap disapu angin. Ada pesona yang selalu memancar setiap kali Dani menyalakan rokoknya. Gerakannya santai, terlalu menguasai, dan hari ini Ryan merasa efeknya lebih susah diabaikan dari biasanya.

Rasa penasaran itu mulai merayap naik ke dadanya.

“Dani,” panggilnya.

Dani menoleh, matanya sedikit menyipit menghindari asap yang mengepul. “Opo, Cil?”

“Aku meh njajal sisan.”

Tangan Dani langsung berhenti. Ia menjauhkan rokok dari bibirnya dan menatap Ryan dengan raut tak percaya. “Njajal opo? Udud?”

Ryan mengangguk. “He’eh. Boleh ya?”

Alis Dani berkerut. “Ora sah kemaki. Kowe cah alim, ra pantes nyekel udud.”

“Cah lanang liyane yo pada ngudud kok. Aku mung kepo pengen ngerti rasane,” desak Ryan sedikit merengek, ia memutar posisi duduknya hingga menghadap penuh ke arah kekasihnya.

“Gah,” tolak Dani. “Mengko awakmu watuk-watuk. Terus nek ketahuan ibumu piye? Iso kena semprot no aku.”

“Nggak akan ketahuan. Cuma sebatang. Beneran.” Ryan menatap Dani dengan sorot memohon yang terbukti sangat ampuh meluluhkan segala pertahanan berandal sekolah ini. “Please? Dikit tok ae wis, tenan.” bujuknya tak habis-habis.

Dani tidak menjawab. Ia tahu Ryan bahkan belum pernah pegang rokok seumur hidupnya, apalagi menghisapnya. Dani hanya tidak ingin Ryan menyesal karena rasa penasaran sesaat.

Ryan masih belum menyerah, bibirnya terus mencebik. “Dan, ojo nesu mbek aku, saitik wae, lho.” 

Dani mengangkat alis, mukanya bicara lebih banyak dari mulutnya. “Kamu ae nek tuku jajan geleme sing manis-manis tok. Ngko lak nggak seneng sing pait sepet ngene ki.”

Ryan cemberut. “Kamu wes nggak sayang mbek aku, ya?”

Dani membuang napas kasar. Dipandanginya bergantian antara rokok di tangannya dan wajah memelas Ryan. Keras kepala lelaki ini kadang jauh lebih melelahkan dibandingkan hukuman piket dari guru manapun.

“Ayu menthik ngene kok ngeyelan,” omel Dani, akhirnya menyerah. Ia menggeser posisi tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan Ryan. “Yowes, mreneo. Tapi dengerin aku sek, ojo ujug-ujug mbok tarik kenceng ngono napasmu.”

Ryan tersenyum antusias dan langsung mengulurkan tangan untuk mengambil rokok itu, tapi Dani lebih cepat menjauhkannya.

“Ojo, Cil. Aku wae sing nyekel,” instruksinya dengan nada yang sedikit lebih memerintah dari biasanya. “Kamu majuo sithik.”

Ryan menurut, memajukan wajahnya hingga jarak mereka terkikis jauh. Dani mengangkat lengannya, mendekatkan ujung rokok ke bibir Ryan, jari telunjuk serta tengahnya menyentuh dagu Ryan. Detak jantung Ryan langsung tidak karuan.

“Jepit pake bibirmu, ojo nganti kenek untu, terus mok isep pelan-pelan,” bisik Dani. Pandangannya terkunci pada bibir Ryan. “Inget, pelan ae narike.”

Dengan sedikit ragu, Ryan membuka mulut dan menjepit ujung rokok itu. Bau tembakau langsung memenuhi rongga hidungnya. Ia menarik napas perlahan mengikuti instruksi, ujung rokok menyala kemerahan tanda asap panas sedang bergerak masuk.

Begitu asap itu menyentuh bagian belakang tenggorokannya, rasa pahit dan perih menyerang sekaligus. Ryan langsung menjauh dan terbatuk keras. Paru-parunya menolak mentah-mentah benda asing itu. Batuknya begitu kencang hingga matanya berair.

Tawa Dani langsung meledak. Ia membuang rokok ke tanah dan menginjaknya, lalu tangannya menepuk-nepuk punggung Ryan.

“Wes tak kandani pait, malah ngeyel,” ucapnya di sela tawa yang renyah, lebih mirip gemas daripada mengejek.

Ryan masih berjuang menetralkan napasnya. Tenggorokannya terasa gatal luar biasa. “Asu,” umpat Ryan pelan, suaranya serak. Ia mengusap sudut matanya yang basah dengan punggung tangan. “Rasane koyok nguntal asep knalpot.”

Tawa Dani semakin keras. “Lambemu, cah pinter kok misuh.”

Dani menarik tubuh Ryan mendekat, membiarkan dirinya yang masih terbatuk kecil itu bersandar di dadanya. Jari-jari besarnya menggosok punggung Ryan. “Makane, lek dikandani pacare iku nurut. Ojo melu-melu dadi kreak.”

Ryan mendongak dengan wajah sedikit cemberut. “Cangkeman. Lha, aku ki cuma pengen tau apa yang kamu rasain tiap hari,” ujarnya jujur. “Tak kiro enak, soale kamu jago banget.”

Tawa itu perlahan padam. Dani menundukkan kepala, matanya menatap Ryan dengan sorot yang berbeda dari tadi, lebih gelap, lebih berat. Suasana santai yang sedari tadi menyelimuti mereka hilang. Hening yang jatuh di antara mereka membuat Ryan mendadak tidak ingat cara bernapas yang benar.

“Tenan iki, Yan? Meh ngrasakno ududku?” tanya Dani, suaranya yang berat seolah bergaung di dada Ryan.

Ia seperti terhipnotis oleh binar mata di hadapannya, tak sempat mengangguk maupun menggeleng. Napasnya masih sedikit memburu akibat batuk tadi, dadanya naik turun sementara sepasang mata itu menguncinya rapat.

“Tak ajari sing bener ya, Cil. Ben ora watuk neh,” bisik Dani, dan jarak di antara wajah mereka sudah hampir tak bersisa.

Tanpa memberi Ryan waktu untuk mencerna kalimat itu, Dani menangkup kedua sisi rahangnya dan menyatukan bibir mereka.

Sentuhan pertama itu datang terlalu cepat, tapi Dani tidak terburu-buru. Dia melumat bibir bawah Ryan dengan sangat hati-hati, sama sekali tidak cocok dengan kesan pertama yang ia berikan. Ryan hampir tidak bergerak. Tangannya sendiri yang beringsut duluan, jari-jarinya mencengkeram kerah kaos hitam itu sebelum otaknya sempat menyuruh.

Ciuman itu bergerak semakin dalam. Dani memberikan tekanan, meminta izin tanpa suara. Begitu Ryan mengendurkan gigitannya, lidah Dani menyusup masuk, membawa sisa rasa nikotin yang pekat bercampur aroma mint dari permen karet yang entah sejak kapan ia simpan. Rasa perih di tenggorokan Ryan buyar, terganti sengatan panas yang menjalar sampai ke lutut.

Ryan memejamkan mata. Ia membalas dengan gerakan yang canggung namun penuh rasa ingin yang lama tertahan. Tangan Dani menyusuri leher Ryan, ibu jarinya menelusuri kulit sensitif di perpotongan rahang. Erangan tertahan lolos begitu saja dari pangkal tenggorokan Ryan, tertelan habis oleh lumatan mereka.

Dunia di luar terasa berhenti berputar. Di atas pijakan beton yang dingin ini, mereka hanya dua remaja yang sedang berusaha menyalurkan perasaan yang tumpah ruah lewat bahasa tubuh.

Kecupan Dani mulai bergerak lebih berani. Ia menggigit bibir atas Ryan, memancing napas lelaki itu menjadi terputus-putus. Ryan meremas kerah baju Dani semakin kuat. Rasa pahit tembakau dan mentol yang sebelumnya sangat ia benci kini terasa memabukkan.

Beberapa menit berlalu, atau mungkin lebih lama dari itu, Dani akhirnya menarik wajahnya mundur. Pagutan mereka terputus perlahan, memberi Ryan ruang untuk meraup oksigen. Keduanya terengah-engah dengan kening yang masih saling bersandar.

Mata Ryan terbuka. Pandangannya sayu menatap lekuk wajah Dani yang berada tepat di depan hidungnya. Bibirnya sedikit membengkak dan mengkilap basah.

Dani mengusap sudut bibir Ryan dengan ujung ibu jarinya. Senyum tipis merekah di wajahnya, menyimpan seribu macam rasa sayang yang tak akan pernah ia tunjukkan pada siapapun di luar tempat ini.

“Piye? Isih pait?” tanyanya, suaranya serak parau.

Ryan menggeleng, masih berusaha mengatur napasnya. Rona kemerahan di wajahnya menjalar panas hingga ke ujung telinga. “Manis,” cicit Ryan, nyaris seperti hembusan angin.

Sepercik kehangatan memenuhi rongga dada Dani. Muncul rasa nyaman yang sayangnya, ia tidak tahu harus disebut apa. Ia mendaratkan kecupan di kening Ryan cukup lama.

Ryan menggeser posisi duduknya, miring menghadap Dani, telunjuknya iseng menekan-nekan pipi kekasihnya yang masih sedikit memerah menahan tawa. “Raimu abang,” kata Ryan dengan nada serius yang dibuat-buat.

“Sopo sing abang. Kowe yak’e,” balas Dani, menepis jari Ryan dengan cuek, meski ujung telinganya memang sedikit lebih hangat dari biasanya.

“Ngakuo, Dan.”

“Opo sih cah cilik iki, nyangkem ae.”

Ryan terkikik. Dani meliriknya dari sudut mata, lalu tangannya bergerak sendiri, mengacak-acak rambut Ryan yang sudah rapi sampai berantakan. Ryan mengaduh protes, tangannya sibuk membenahi, sementara Dani hanya cengengesan puas seperti kucing yang baru saja mencuri lauk dari meja.

“Wes, ojo njajal udud meneh,” ucap Dani sembari memeluk bahu Ryan, menyandarkan tubuh kecil itu kembali ke dadanya. “Nek pengen, ngomongo mbek aku. Mengko tak ke’i ngerti rasane.”

“Lambemu sumpah,” gerutu Ryan, meski ia sama sekali tak bergerak menjauh saat Dani mendekapnya semakin erat. Ia menyembunyikan wajahnya di lekuk leher Dani, menghirup dalam-dalam aroma parfum murah yang entah bagaimana lama kelamaan ikut ia sukai.

Langit sore sepenuhnya berubah. Jingga yang tadi membara kini memudar menjadi ungu kehitaman. Angin malam mulai berembus, mengelus permukaan kulit mereka dengan dingin yang pelan-pelan menggigit.

Ryan memejamkan mata. Rasanya aneh. Berada di tempat angker yang konon dihuni demit sekolah, berdampingan dengan orang yang paling sering bikin kepalanya pening... nyatanya, di sinilah ia bisa bernapas lega. 

Dagu Dani berlabuh di atas kepala Ryan, jemarinya mengusap lengan lelaki itu. Ia tahu ke depannya jalan mereka tidak akan mudah. Ia tidak naif untuk berharap realita di bawah sana akan sudi berbaik hati kepada mereka berdua. Tapi, selama laki-laki di pelukannya ini masih sanggup menyusuri undakan beton reyot ini untuk mencarinya, Dani pastikan ia selalu memegang erat rahasia mereka tanpa peduli seberat apa pun risikonya kelak.

Nanti juga ada caranya. Pasti. Belum sekarang, mungkin belum besok, tapi suatu hari nanti mereka akan punya ruang yang tidak perlu disembunyikan. Dani percaya itu, dan untuk saat ini, kepercayaan itu sudah cukup.

“Ayo mulih,” bisik Dani memecah kesunyian, ia merogoh kunci motor di saku celananya. “Mengko digoleki ibumu, dikiro aku nyulik anake.”

Ryan menggeleng malas, tak berniat memindahkan kepalanya. “Lima menit lagi. Aku isih kesel.

“Kesel sinau opo kesel tak ambung?” goda Dani terlampau usil.

Sebuah cubitan keras langsung mendarat di perutnya. Dani mengaduh, lalu tertawa, keras dan lepas. Ryan ikut tertawa, suara mereka melebur bersama di udara malam yang mulai dingin. Bagi keduanya, tambahan lima menit yang singkat ini jauh lebih berharga dari sederet angka sempurna di atas kertas ujian manapun.