Actions

Work Header

Simpan Aku, di Titik Paling Indah

Summary:

Ovian benci bau rumah sakit, benci tubuhnya yang mendadak rapuh, dan paling benci diperlakukan seperti orang sakit. Ia tetap ingin berlari, melompat, dan merayakan hidup, meski itu artinya membuat Richie nyaris gila karena panik.

Menjaga keras kepalanya seorang Ovian butuh kesabaran ekstra. Di antara banyaknya hal lain yang menjadi ketakutan terbesar, ini adalah cara Richie merengkuh dunianya.

Chapter 1: Anything You Want

Summary:

"Aku cuma pengen nyanyi bareng Reality Club, Riri."
"Dengan kondisi kamu yang bisa mimisan kapan aja? Nggak."

Untuk Richie, masih ada kenangan indah yang harus diingat hari ini

Notes:

tolong bantu jagain Ovian ya, dia cuma mau ikut nyanyi bareng. dan tolong juga peluk Richie, karena cuma dia yang sanggup ngurus si keras kepala itu 🫧

read at your own risk

Chapter Text

"Ri!!!! Cepetan itu udah mau mulai!!" 

"Iya… tunggu."

"Buruan Riri! Kamu nunggu apa sih?? Kalau nggak mau maju, ya udah aku sendiri aja." 

"Mau, tapi kita berdiri di pinggir aja ya?"

"Nggak mau! Aku kan pengen nyanyi bareng Reality Club -
Gema yang berasal dari panggung turut memberikan atensi dan sorak antusias bersahutan, penonton konser festival hari itu serentak mendekat di titik tengah. Berlomba ingin menikmati sedari dekat untuk memantik samudra euforia. 

AAA!! UDAH MULAAII!" Sontak berlari sekuat tenaga mendekat kerumunan yang sesak dan penuh itu.

Sudah tahu tubuh itu ramping dan menggunakan outfit serba hip-hop yang sedikit dilebih-lebihkan itu, bahkan dengan mudahnya ia menyelip semakin dalam dan dekat panggung tanpa peduli Richie sudah kehilangan jejaknya. 

Ia juga menyukai pemusik di hadapannya yang sudah mulai menyapa orang-orang di sekitarnya. Sial, Richie bahkan terjebak dan sama sekali tidak bisa bergerak. 

Musik pertama mulai mengalun, namun Richie gusar memburu membuka hp-nya. Seperti sudah menduga hal ini akan terjadi, untungnya ia sudah mewanti untuk menghidupkan fitur live location. 

Ternyata jaraknya masih terlalu di pinggir, bahkan dirinya sedikit melebarkan mata setelah melihat. Bahwa ternyata si keras kepala itu sudah berada di tengah crowd. Tidak tahu apa dia Richie benar-benar khawatir sekarang? Padahal tadi janjinya saat di perjalanan, ingin Richie memeluknya dari belakang dan menjaganya seraya disakiti sekaligus dicintai bersama Reality Club.

Entah ke mana perginya janji itu, Richie dibuat mendengus kasar. Ia tidak suka sifat yang seperti ini, yang tidak memikirkan risiko, yang tidak memikirkan diri sendiri, dan tentu saja yang tidak memikirkan kekhawatiran Richie. 

Etika menonton konser, tidak seharusnya Richie terus menggeser badan untuk mencari-cari di tengah riuh begini. 

Bener-bener susah dikasih tau. 

Akhirnya Richie terus merapalkan lindung seraya mencoba perlahan mencari celah ketika kerumunan ini berloncat, ia juga berulang kali meminta maaf karena beberapa orang melayangkan protes terdistraksi tak suka. Menahan ketika tubuhnya terkena siku atau bahkan kakinya yang sudah ke-sekian kali menjadi tumpuan tidak sengaja. Tidak apa, ia sangat kuat kok karena rajin berolahraga.

Sudah hampir satu jam berlalu, sudah selama itu juga Richie tak lepas memantau live location. Berdasarkan informasi yang diberikan layar persegi panjang itu, jaraknya sudah tidak terlalu jauh lagi. Setidaknya ia masih bisa menunggu sedikit - tidak sabar sama sekali - lebih lama dan melihat stage. Lagu yang saat ini merdu adalah lagu kesukaannya, Anything You Want. Richie sempat terlena, ia hafal betul setiap lirik dan ketukan musik ini. 

The same song on repeat. 

You can call me anything you want. 

It's fine by me.

Akan tetapi dirinya tidak bernyanyi, kekhawatiran itu benar-benar habis melahap isi kepalanya. Membawa ia kembali menoleh ke sana-ke mari dan memastikan bahwa titik ini masih berada dalam radius awas. Ia kembali menggeser tubuh perlahan ketika sorak meriah tepuk tangan yang ia pikir bahwa akhirnya ia bisa menghampiri secepatnya.

"Let's have fun everyone for the last song tonight." ternyata penampilan itu baru akan ditutup dengan lagu Am I Bothering You? Semakin membuat Richie terus mendekat, yakinnya besar bahwa lagu ini akan menghabiskan seluruh tenaga dengan ketukan yang sangat ceria itu. Sudahlah, ia pikir Reality Club masih bisa ia tonton kapan-kapan lagi, bersama orang yang susah diatur ini.

Permasalahannya memang hanya dia itu, Richie mana mau kalau pergi sendiri. Namun ketika bersama, selalu saja begini. Mau marah juga ia yakin akan masuk kanan lalu ke luar kiri, alias hanya dianggap angin lalu seraya mengeluarkan cengiran andalannya - yang kata Richie, akan terlihat seperti bakpao yang baru keluar dari kukusan. No one can handle your attitude.

Ia terus bergerak mengandalkan titik hijau ini berdesakan dan berkali-kali terdorong mundur oleh penonton yang sedang hype melompat-lompat.

Hingga akhirnya, lagu terakhir selesai. Panggung itu ditutup dengan kebahagiaan yang meledak-ledak. Perlahan gemuruh tepuk tangan mereda, dan lampu panggung mulai meredup. Kerumunan yang tadinya sangat padat perlahan mulai mengendur dan melebar sedikit demi sedikit karena beberapa orang mulai berjalan keluar.

Richie memanfaatkan kesempatan ini, ia melebarkan langkah bahkan setengah berlari kecil. Jaraknya sudah benar-benar dekat. Sedikit lagi. 

Tepat ketika Richie hendak mendongak untuk memanggil namanya, titik hijau di layarnya mendadak hilang.

Live location ended.

"Sialan…" pasti baterai hp anak itu habis untuk merekam penampilan Reality Club sedari tadi. Titik paling memuakkan dari rasa khawatir adalah ketika ia kehilangan kendali seperti ini.

Panik kembali merajai isi kepala Richie. Ke mana ia harus mencari sekarang? Lautan manusia ini masih terlalu luas dan gelap. Ia mulai memutar tubuhnya kalut, bersiap untuk menerobos barisan mana pun di depannya secara brutal.

Namun, belum sempat langkahnya terbuka, sebuah suara jeritan melengking tinggi dari arah sebelah kanan tengah menyobek riuhnya suara obrolan penonton.

"MEDIS! SOS! TOLONG ADA YANG PINGSAN DI SINI! MEDIS!!"

Suara itu terdengar tidak terlalu jauh dari tempat Richie berdiri.

Sebuah firasat buruk yang teramat ngeri mendadak merayap hingga tengkuknya, kaki refleks berlari menerobos kerumunan ke arah sumber suara tersebut, mengabaikan umpatan orang-orang yang ia tabrak bahunya.

Jangan, tolong. Richie takut. Ia benar-benar takut setengah mati kalau firasatnya dibenarkan oleh alam. 

Kerumunan di depan sana akhirnya terbelah paksa oleh bahu Richie yang menerjang membabi buta. Dan tepat saat matanya menangkap sosok di tengah lingkaran penonton yang panik itu, napas Richie seolah direnggut paksa dari paru-parunya.

Benar. Ternyata firasatnya tidak pernah salah.

Tubuh itu kini merosot lemah di atas rerumputan. Seorang terduduk dengan kepala tertunduk, sebelah tangannya gemetar memegangi hidung. Sama sekali tidak membantu. Darah segar terus menetes deras - terlalu deras - dari sela-sela jarinya, jatuh menodai celana dan sepatu kanvasnya.

"Ovi…" Suara Richie tercekat.

Tidak ada waktu untuk membeku ngeri. Tidak ada waktu untuk marah karena susah dikasih tahu. Richie membuang ponselnya asal ke dalam saku dan melesat maju, bergerak jauh lebih cepat dari dua orang tim medis yang baru saja berlari mendekat.

Tanpa peduli pada darah yang ikut menetes, Richie langsung berjongkok dan merengkuh tubuh ramping itu. Ia menyelipkan satu tangan di punggung dan satu lagi di bawah lipatan lututnya, mengangkat dalam satu gerakan panik.

Ovian terlalu lemas. Matanya setengah terpejam dengan napas yang putus-putus. Kesadarannya sudah begitu kabur sampai-sampai ia bahkan tidak menyadari bahwa lengan yang menopangnya dengan gemetar saat ini adalah milik Richie. Kepalanya hanya terkulai pasrah bersandar di dada Richie, meninggalkan jejak merah yang anyir.

"Minggir! Tolong minggir!!" teriak Richie dengan suara serak yang hampir pecah, kaki panjangnya berlari sekuat tenaga membawanya menuju tenda medis yang tak jauh dari sana.

RiriOvi | Anything You Want

Kalau di bandingkan mana lebih banyak buih di lautan atau mulut Richie, sepertinya Tuhan juga tahu kalau Richie pemenang telak penghargaan itu. Bahkan ini sudah ke seratus kalinya ia menghela napas, ntah untuk definisi helaan seperti apa sekarang.

Satu minggu penuh. Seminggu sebelum konser festival ini digelar, Richie sudah berulang kali menasihati dan memaksa Ovi untuk berjanji.

"Jangan egois lari sana-sini. Tetap sama aku. Jangan lompat-lompat, jaga stamina, Ovi. Nggak boleh kecapekan apalagi sampe sesek napas."

Semua larangan itu sudah diwanti-wanti di luar kepala. Namun buktinya sekarang?

Di dalam tenda medis yang berbau khas obat antiseptik itu, Richie menyandarkan punggungnya ke tiang besi, memejamkan mata sebentar untuk meredam gemuruh di dadanya yang masih bertalu-talu kacau. Di depannya, beberapa petugas medis mengerubungi tubuh Ovian yang terbaring lemah di atas velbed. Mereka sibuk membersihkan sisa darah yang mengotori wajahnya.

Ovian tidak sepenuhnya pingsan. Matanya yang sayu dan kelelahan terbuka perlahan. Di tengah sisa-sisa pusing yang mendera akibat mimisan hebat barusan, kepalanya bergerak patah-patah menoleh ke sisi kiri. Mencari-cari eksistensi seseorang.

Begitu pandangannya bertubrukan dengan wajah Richie yang memucat menahan panik dan amarah, tebak apa yang si keras kepala itu lakukan? Ia malah menarik sudut bibirnya.

Ovian tersenyum tipis.

Sinting, emang sudah gila. batin Richie frustrasi.

Bagaimana bisa masih bisa tersenyum setelah membuat jantung Richie nyaris lepas dari tempatnya?

"Aduh, tadi excited banget ya?" tegur salah satu petugas medis ramah, menyela lamunan Richie sambil memasangkan masker oksigen tipis menutupi hidung dan mulut Ovian. Yang diajak bicara hanya tertawa lemah seraya mengangguk kecil. 

"Napasnya sesak banget karena dipaksa aktivitas berat. Pusingnya ini murni karena kecapekan dan banyak darah yang keluar. Untuk sekarang kami bantu hentikan pendarahannya dulu, tapi kalau sepuluh menit ke depan ternyata ada komplikasi lain, kami sarankan langsung dibawa ke IGD rumah sakit terdekat aja, ya."

Ia menghela napas panjang, mengangguk kaku ke arah petugas medis itu. Kakinya yang sedari tadi lemas kini dipaksa melangkah mendekati pinggiran velbed. Richie menatap Ovian yang masih menyunggingkan senyum yang sedikit mengesalkan itu di balik masker oksigennya.

Richie tidak berniat marah hari ini. Tenaganya sudah habis dimakan ketakutan. Perlahan, tangannya terulur mengusap rambut Ovian yang basah oleh keringat dingin, mencoba menenangkan debar jantungnya sendiri.

"Selalu gini kan, kalau kamu nggak dengerin omongan aku?" 

Ovian tidak membalas ucapan Richie yang perlahan sudah melembut, ia memilih memejamkan mata dan mengatur napas dengan bantuan oksigen ini. Tangannya yang begitu dingin mengambil tangan Richie untuk ia peluk. "Aku lagi nggak mau denger kamu ngomel, Riri."

Ia hanya bisa pasrah, membiarkan tangan besarnya didekap erat. Dingin. Tangannya benar-benar dingin, dan untuk pertama kalinya malam itu, Richie menyadari bahwa tangannya sendirilah yang kini bergetar hebat. Segala sisa kepanikan yang sedari tadi ia tahan mati-matian akhirnya merangsek naik, membuat napasnya tersendat memburu kelegaan yang terasa menyakitkan. Bahunya merosot turun, seolah seluruh tulangnya baru saja dicabut paksa.

"Siapa yang mau ngomel…" gumam Richie. Suaranya serak, nyaris terdengar seperti isakan yang tertahan. Ia harus menelan ludah susah payah agar pertahanannya tidak benar-benar pecah di depan Ovian. Ibu jarinya secara naluriah mengusap punggung tangan pucat itu. 

"Istirahat. Tolong, jangan bikin aku khawatir lagi."

Merasa tak lagi punya tenaga untuk berdebat, akhirnya ia melepaskan jaket bomber yang sejak tadi dipakainya, lalu menggunakannya untuk menyelimuti tubuh yang terbaring di sampingnya. Ia sengaja menarik kerahnya hingga sedikit menutupi wajah Ovian, masih menyiratkan khawatir yang bercampur sedikit kesal, namun besar sekali beratnya.