Work Text:
Bima Bayusena itu badannya tegap dan kekar. Tangannya besar dan kasar. Suaranya menggelegar. Hal-hal yang bahkan balita pun tau tidak mencerminkan omega. Mungkin alpha, mungkin beta. Tapi bukan omega yang lembut, kecil, dan cantik. Hal-hal itu tidak bisa digunakan untuk mendeskripsikan Bima. Bima tahu itu sejak pertama kali ia heat. Tahu kalau orang-orang tidak melihatnya sebagai omega.
Bahkan feromonnya yang seharusnya menjadi indikasi terbesar sub-gender seseorang masih suka membuat orang salah kira. Padahal teh bunga bukan hal yang tidak omega, kan? Cerita-cerita romansa yang ia sempat baca selalu membuat protagonis omeganya dengan wangi bunga yang lembut dan manis, memangnya scent roasted flower milk tea Bima tidak seperti itu? Se-berbeda itu kah dia?
(Tapi ya, mencium scent diri sendiri setiap hari bisa membuat opini yang tidak objektif. Namun siapa lagi yang harus Bima tanya? Satu orang yang sempat mencium scent-nya sudah tiada. Satu orang yang sempat mencium scent-nya juga tidak merasa wanginya seperti omega.)
Jadi Bima senang saat direkrut Mas Juna dengan perjanjian awal yang menguntungkan. Poin ketiga dari sepuluh poin yang dibahas saat mereka pertama berkumpul sebagai Pandavva.
Semua yang terlibat harus selalu menggunakan scent blockers.
Untuk meminimalisir konflik antar individu, katanya. Juga untuk memastikan keselamatan mereka. Scent mudah sekali dilacak dan mudah sekali menjadi pengenal identitas. Q-Ravva pasti akan tau keberadaan mereka tanpa scent blockers. Tapi yang paling buat Bima gembira adalah sub-gendernya tidak akan diketahui tanpa ia sengaja memberi tahu. Misi menjadi tidak personal, membuatnya lebih mudah bekerja dan melakukan apa yang harus dilakukan tanpa perasaan lebih. Bima lebih memilih menjadi Hanya Bima Bayusena, tanpa embel-embel sub-gender, tanpa cibiran kalau dia tidak pantas menjadi omega. Lebih baik orang-orang berasumsi daripada tahu ia kecewa dan jijik dengan kebenarannya. Ia tidak pernah mengiyakan, tapi tidak pernah membantah juga.
Namun yang tidak terpikiran sebelumnya oleh Bima (dan mungkin Arjuna, bahkan yang lainnya) adalah kemungkinan mereka berlima menjadi dekat— terlalu dekat. Kalau dipikir-pikir harusnya Bima tahu dari hari pertama mereka semua bertemu. Harusnya mereka semua tahu kalau mereka akan menjadi lebih dari sekadar tim. Suasana hangat dan lengkap yang dirasakan saat pertama kali berkumpul harusnya menjadi bukti kuat. Mungkin mereka semua sadar tapi belum berani memikirkannya, belum berani mencoba memiliki. Baru setelah Q-Ravva dikalahkan dan tatanan Jagat Maya bebas dari jaring laba-laba mereka, ketegangan di antara mereka terasa.
Mata yang lapar, tangan yang gatal untuk menyentuh, bibir yang tidak jadi bertemu, kehangatan yang dirindukan di tempat tidur yang sebenarnya tidak pernah ada. Mereka tahu mereka cinta dan sayang. Tahu mereka semua ingin memiliki, ingin sesuatu lebih. Tapi setelah bertahun-tahun dalam keadaan menakutkan dan bahaya, siapa yang akan mengambil langkah pertama? Mereka saling menunggu, saling meraba-raba.
Ternyata orang yang paling pertama muak dengan stagnasi tersebut dan mengambil langkah pertama adalah si Alpha yang paling tua— Sadewa Sagara. Dengan pertanyaan-pertanyaan kasual khas dirinya di sela-sela minuman memabukkan dan suara beratnya yang tenang ia mencoba membuka dunia mereka. Seolah semuanya biasa-biasa saja dan ia bukan lagi dalam fase pendekatan kepada teman-teman terdekatnya untuk membuat sebuah pack bersamanya dan kembarannya.
“Yudis cantik, mau dimasakin apa saat pulang ke nest?” Tanyanya suatu sore. Karena iya, rumah Arjuna yang sering mereka gunakan sebagai basecamp itu sebenarnya nest mereka, kan? Mereka semua pulang kesana. Tertawa di meja makan di sana. Menangis bahagia setelah kemenangan mereka disana. Maka Sadewa mengajak Yudistira pulang ke nest mereka dengan jelas, sebagai tanda Yudistira sang beta memang bagian dari mereka. Setelah hari itu, Yudistira mulai meninggalkan scent mint dan kemanginya yang segar di seluruh rumah. Dari jaketnya di pintu depan dan selimutnya di sofa ruang tengah, wangi herbanya bercampur dengan scent para alpha yang sudah lebih dulu menandakan kepemilikan di rumah ini.
“Juna, saya dan Nakula lagi di minimarket. Heat pad-mu masih ada atau mau nitip?” Kata Sadewa di lain hari. Memang rahasia umum kalau Arjuna— pemimpin mereka, dalang dari kehancuran Q-Ravva yang keras, pemarah, namun peduli— adalah seorang omega. Setelah misi selesai ia tidak pernah menutup-nutupinya. Ia bilang secara terang-terangan kalau ia akan pergi ke rumah Aya selama beberapa untuk mengisolasi diri saat masa heat. Maka Sadewa dan Nakula sebagai alpha berusaha memberitahu Arjuna kalau sekarang, ia ada Alpha yang mau merawatnya saat heat. Bahwa ada pack yang siap membantu. Akhirnya setelah masa kawinnya selesai, Arjuna juga mulai meninggalkan aroma air mawarnya di rumah sambil menata nest mereka di ruang tengah. Bersama dengan wangi kembang dan asin laut Nakula, karamel dan whiskey Sadewa, serta mint dan kemangi Yudistira, wangi mawar dan sinar mentari hangatnya bercampur menjadi satu. Seperti pack pada umumnya, seperti kekasih pada umumnya.
“Bima, kamu rut kapan? Mas bisa bantu apa?”
Ah. Tapi kenapa saat giliran Bima yang dirangkul, diundang, dan disambut ke kawanan, sang Alpha salah mengambil langkah? Selama ini asumsinya— nalurinya sebagai alpha yang dekat dengan pack-to-be-nya selalu benar. Apakah Bima se-tidak omega itu? Ia merasa bersalah karena sedih. Kan salahnya juga, tidak memberi tahu yang lain. Salahnya juga, tidak terlihat dan menjadi omega yang benar. Salahnya tidak becus menjadi omega.
Maka Bima hanya menjawab, “Gue gak rut, Mas.” Samar-samar, tidak pasti. Tapi sebuah jawaban.
Mata Sadewa membelalak, caught off guard. Ada beberapa opsi yang bisa diartikan dari jawaban Bima. Suppressants, yang pertama. Tapi Bima bukan orang yang suka dokter atau obat-obatan, seperti anak kecil. Kedua, kemungkinan bahwa Bima adalah seorang beta. Tapi ia izin pulang ke kosan untuk beberapa hari setiap tiga bulan. Beta tidak memiliki siklus kawin. Berarti—
“You’re an omega?”
Bima merengut, tidak menduga Sadewa akan menarik benang merahnya, tidak menduga akan ditelaah saat ini juga di tengah sesi closing bar. Matanya bergerak kesana-kemari mencari jalan keluar.
“Don’t avoid me, come on, pup.”
Lemas. Kaki Bima yang hendak beranjak dan kabur lemas saat itu juga. Pup? Inimah pembunuhan berencana! Targeting! Mata Sadewa terasa panas, alisnya menukik ke atas menunggu— memaksanya untuk menjawab. Bahkan melalui scent blocker yang wajib digunakannya saat di bar, Bima dapat mencium intensitas pertanyaan Sadewa. Dapat merasakan hawa paksaannya.
“Kalau aku jawab iya…” Bima melihat ke arah pintu keluar. “Aku masih boleh jadi pack bareng yang lain?”
Scent Sadewa seketika berubah. Pahit, menyengat. Wangi slight karamel khas liquor-nya terganti dengan pure ethanol, lebih tajam, lebih keras.
“Why… Why would you think that? Iyalah! Yang saya— kami mau itu kamu. No one else. No matter what or who you are.” Sadewa tekankan. Mengapa Bima pikir menjadi omega akan membuatnya tidak dicintai oleh mereka? Bima matanya terbuka kaget, menggenang di sana air mata. Mulutnya meringis menahan tangis, tangannya mengepal di pangkuannya.
“Dengerin saya. Mau kamu omega, beta, atau apapun… We loved you before even knowing all of that. We loved each other before that and will love each other despite that.” Mata Sadewa masih menatapnya intens. Scent blocker yang dipakai masih tidak berguna. Penciuman Bima penuh dengan wangi karamel khas whiskey, hilang sudah alkohol murni yang menyengat. Hangat, wangi Mas Dewa yang tidak ditutupi itu hangat dan memabukkan. Mas Dewa benar-benar wangi seperti ia menyayanginya.
Kepala Bima menggantung lemas kebawah. Ia mengangguk kecil di antara gerakan naik turun bahunya yang eratik. Sadewa memutari meja bar, menghampiri sang omega. Tangan besarnya menyapu surai ungu dari wajah cantik yang lebih muda. “Don’t cry— I'm sorry for assuming. I'm sorry, Omega. Let’s go home, ya? Ke nest kamu, bersama yang lain.”
Bayangan rumah Arjuna sangat menggoda di kepala Bima. Ruang tengah yang perlahan penuh dengan bantal dan selimut dari kamar masing-masing, wangi mereka yang perlahan tercampur. Hanya wanginya yang belum ada, hanya dia yang masih takut untuk membuka diri. Ia bukan omega yang ideal. Ia bukan ekspektasi orang-orang saat mendengar kata omega. Ia bukan ekspektasi Mas Dewa. Kalau yang lain malah kecewa gimana?
Ia baru mau menolak. Memilih pulang ke kosnya yang sepi dan tak terurus, yang terakhir ia tinggali hampir tiga bulan lalu. Sadewa langsung menyela jalan pikirnya. “Don’t even think about it. Kita pulang, Bima. Ke nest yang ditata Juna. Ke nest yang penuh dengan scent saya, Yudis, Nakula, dan Juna. Ke nest yang akan ada scent kamu.”
Bima reflek memegang tengkuknya, memeriksa keberadaan scent blocker patch-nya. Kok Mas Dewa bisa tau apa yang aku pikirin? Blocker-nya rusak, kah?!
“Masih ada, Bim, patch-nya. I can't smell you just yet. I just know you.”
Muka Bima memerah malu, seperti anak kecil yang kepergok mengambil permen. Tangannya digenggam oleh yang lebih tua dan dituntun keluar Di Antara untuk mengunci dan menutup bar seperti hari-hari lain. Gemerincing kunci mobil Sadewa dan gesekan ban ke aspal mendistraksi si omega dari pikiran buruknya. Ia tidak mau berprasangka buruk pada soon-to-be pack-nya, tapi some things happen for a reason, kan? Mungkin memang dirinya yang salah, dirinya yang terlalu besar, terlalu keras, terlalu—
“Bima? Ayo turun.” Ajak Sadewa dari pintu penumpang yang sudah terbuka lebar, menahan pikirannya dari berlari lebih jauh. Sebelum sampai ke foyer yang masih menyala lampunya, Sadewa meremas tangannya pelan tanda meyakinkan. “Mas gak bakal bilang apa-apa soal sub-gender kamu. It’s your choice, but you need to know nothing will change between all of us. I will be right here with you.”
Bima hanya bisa mengangguk ragu. Ia membenarkan pernyataan itu di kepalanya, but it’s hard to believe something when you’ve experienced something contradictory your whole life. It really is easier said than done. Mereka masuk ke rumah Arjuna (Rumah kita, kalau kata Sadewa) dan menemukan kalau bukan hanya lampu depan yang masih menyala, tetapi juga lampu ruang tengah. Apakah penghuni rumah yang lain masih beraktifitas?
“Oh! Sadew sama Bimbul pulang!” Sahut Arjuna dari sofa tengah dimana ia duduk di tengah bantal-bantal dan berbagai macam kain serta baju yang terlihat nyaman. Tidak jauh dari sofa seven seater di tengah ruangan, Bima bisa lihat Yudistira yang masih terjaga, berkutat dengan gitarnya di kursi meja makan dan Nakula dengan berkasnya di sebelah yang lebih muda. Lampu yang memang dibuat remang-remang (“Biar gak kayak ruang operasi.” Kata Arjuna. Yudistira menyangkal, “Bikin ngantuk, tau.” Bima lebih setuju dengan Yudistira.) menyinari mereka dengan lembut membuat pemandangan yang domestic. Seperti mereka sudah melakukan ini bertahun-tahun, seperti memang ini yang seharusnya terjadi.
“Kok masih pada bangun?” Tanya Sadewa. Alpha yang lebih muda mengalihkan dirinya dari tumpukan kertas-kertas di meja dan berjalan menghampiri Arjuna di sofa. Mereka semua memang night owl, tapi jadwal pekerjaan mereka terkadang menuntut mereka menutup dan membuka mata pada jam manusia normal. So this is a rare sight, mereka semua masih terjaga di pukul tiga pagi untuk menyambut Bima serta Sadewa dari bar.
“Juna bilang mau ngomong sesuatu—harus bareng-bareng kita semua katanya. Karena besok pada libur, i suggested we wait for you.” Kata Nakula. Ia duduk di sebelah si omega berambut hitam, diikuti oleh Yudistira yang merebahkan diri di sebelah Arjuna.
Sadewa tersenyum dan menggenggam tangan Bima lebih erat sebelum melepaskannya untuk duduk di karpet berbulu empuk, menyandarkan dirinya pada kaki Nakula. Alpha berambut biru itu langsung menyisir jari-jarinya di antara surai hitam-kuning kakaknya. Di tengah-tengah semua intimasi itu, Bima berdiri canggung. Tempat mereka bercengkrama sudah penuh dengan scent masing-masing, bercampur, melengkapi satu sama lain. Apakah scent Bima dapat cocok diantara mereka? Atau malah merusak irama yang sudah ditulis dan dimainkan selama ini?
Lamunannya dirusak oleh Sadewa yang memanggilnya untuk bergabung. “Here, pup.”
Dengan kaku, ia mendudukkan diri di depan Arjuna yang langsung menariknya untuk bersandar. Tangannya mengelus dan mencengkram bulu-bulu karpet di bawah tangannya dengan cemas. Bima harus mengingatkan dirinya kalau ini Mas Juna, yang ia sayangi, kalau orang-orang ini adalah orang-orang terdekatnya yang kata Mas Dewa sudah memilihnya. Barulah ia bisa melemaskan badannya dan membiarkan Arjuna menyentuhnya.
Sunyi melanda ruang tengah. Bukan yang mencekam atau yang membuat Nakula merasa harus bicara, tapi diam yang nyaman dan tenang. Mungkin karena sudah dini hari, mungkin karena mereka akhirnya bersama lagi, dan mungkin karena Arjuna memang menunggu momen yang pas sebelum menyatakan permintaannya.
“Aku mau scenting kalian.”
Oh?
“Scenting beneran. Bukan cuma barang-barang dan nest kita.” Memecah keheningan, Arjuna melanjutkan permintaannya. Scenting antar anggota pack itu suatu hal yang intim karena melibatkan titik-titik paling rentan manusia— scent glands— baik yang di pergelangan, tengkuk, atau perpotongan leher. Biasa dilakukan oleh orang tua ke anak dan antar kekasih. Jadi karena Arjuna mengajak mereka semua scenting dengan baik dan benar… artinya mereka pack? secara resmi?
“I thought you would never ask.” Jawab Nakula lembut. Yudistira tersenyum lebar dan mengangguk kegirangan. Satu per satu, mereka membuka scent patch dari tengkuk mereka. Mint, karamel, dan laut segar menyeruak, lebih tajam dan jelas dari sekadar scent di barang-barang milik mereka di dalam nest. Arjuna juga perlahan menarik patch-nya, membuat ruangan seketika penuh dengan wangi air mawar di siang yang hangat, manis dan menyegarkan, mencerminkan rasa posesif dan ingin memiliki. Matanya tertutup untuk beberapa detik, menikmati pelukan hangat scent pack-nya, sebelum terbuka lagi untuk kembali meminta. Karena ini masih kurang. Masih belum lengkap. Matanya memicing tepat ke bawah, tepat ke arah Bima. Scent-nya berubah, menjadi bertanya-tanya dan bingung. Apakah Bima tidak ingin menjadi pack?
Mencium aroma sinar mentari yang nyaris berubah menjadi api heat wave, Bima panik. Semua mata tertuju padanya, menunggu. Ia sadar ia tidak bisa kabur kali ini.
“Mas… serius?” Tanya Bima tak percaya. “Mas mau scenting gue?”
Arjuna mengangguk, “Yang lain juga mau.”
“Kalian bahkan gak tau subgender gue apa dan kalian mau?”
Sadewa menyela, “Dibilang juga apa, Bim. We chose you, we will continue to. No matter what or who you are.”
Hening sejenak. Air wajah Bima penuh konflik, matanya bergulir dan bibirnya tergigit. Memikiran ini, itu, semua cibiran orang dan pengalaman masa lalu, semua kehangatan kekasihnya dan kemungkinan masa depan. Ia hanya takut mereka sama seperti yang lain. Seperti keluarga angkatnya, seperti dia saat heat pertamanya melanda. Tapi sejak kapan mereka seperti orang-orang lain? Orang-orang di depannya ini adalah pahlawan Jagat Maya, yang menaklukkan kekuatan satu negara saat semua membutuhkan. Mereka bukan orang lain. Maka Bima perlahan meraih tengkuknya, membuka scent patch-nya dengan hati-hati dan ragu.
Wangi yang pertama keluar adalah pahit. Pahit teh yang terlalu lama diseduh, pahit bunga teh yang terlalu lama disangrai. Terlalu kuat, terlalu tajam.
“A-alpha…?” Utar Yudistira dengan bingung. Alpha… benar, bukan?
Kan. Lagi. Harusnya ia tidak berekspektasi apa-apa. Mereka sama saja. Semuanya sama saja. Ia memang bukan omega yang baik, bukan omega yang ideal, seharusnya ia bukan omega, seharusnya ia tidak disi—
“Bukan.” Potong Arjuna. Ia perlahan menarik tangan Bima, mengelus pergelangannya dan dengan hati-hati membawanya ke hidung. Satu detik, dua detik. Bima masih tegang, masih takut. Namun scent Arjuna mulai berubah manis, berubah tenang menjadi matahari di pagi yang cerah.
“Bukan alpha. Omega.”
Aroma susu memenuhi hidung Arjuna. Manis, menenangkan, lembut. Bercampur dengan teh yang hampir pahit dan floral, membuka scent Bima yang sebenarnya. Berbunga-bunga, legit, menyenangkan. Bima Bayusena.
“Bima…” Arjuna menarik seluruh 190 centimeter Bima ke dalam pelukannya. Mengeratkan lengannya, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher yang lebih muda. “Pack omega kita.”
“Omega… maaf. Maaf salah.” Di samping Arjuna, Yudistira mengambil tangan Bima dan mulai menempelkan pipinya ke telapak tangan yang lebih tua, membubuhkan ciuman kecil penuh belas, dari ujung jari kelingking sampai ibu jari, memenuhi semua kubu-kubunya. “Bima, maaf.”
Bima hanya mengangguk canggung dengan pipi yang memerah. Inikah rasanya disayangi seperti ini? Ia akan selalu memaafkan orang-orang ini. Bagaimana tidak, ia dibanjiri permintaan maaf penuh cinta, penuh ciuman dan usapan. Ia ingin menangis lagi. Semuanya terlalu hangat dan nyaman. Scent-nya sekarang sudah menyatu menjadi suatu aroma yang menenangkan, seperti pack pada umumnya. Seperti kekasih-kekasih pada umumnya. Namun sekarang dengan scent-nya.
Tangannya dilepaskan dari Arjuna oleh Nakula, yang menempelkannya ke hidungnya sendiri. Menghirup, mencumbu. Sadewa dari bawah melakukan yang sama pada Yudistira, yang sedang menghaluskan lehernya ke milik Arjuna.
Mereka bergantian melakukan ini. Leher yang satu ke yang lain, membubuhkan scent tanda kepunyaan. Bima diantara semua itu tidak bergerak banyak, pasif di antara sensasi yang asing ini. Benar gak apa yang ia lakukan? Aneh gak ya? Salah gak sih caranya melakukan ini? Semua pikiran negatif itu mengubah scent-nya secara tiba-tiba. Lagi-lagi menjadi pahit, sepat dan getir.
Arjuna langsung berbalik ke arahnya. “Bima? Gak suka, kah? Belum nyaman? Belum mau?”
Bima langsung menggeleng, “Eh! Nggak! Nggak… gak papa. Lanjut aja, maaf!”
“Gak papa gimana, scent-mu tiba-tiba pahit gini.” Arjuna mendecih dengan kasar.
“Aku…” Bima menundukkan kepalanya malu. “Aku gak tau caranya scenting? Aku dari tadi takut salah, aku gak tau harus gimana. I’ve never… I've never been scented before.”
Tidak ada yang membuka suara. Sepertinya ini momen langka mereka banyak memiliki waktu-waktu sunyi saat bersama. Sadewa yang pertama kali memecah keheningan itu. “Serius?”
Bima tidak menjawab. Malu membanjiri satu tubuhnya. Bagaimana ia, orang dewasa berumur 24 tahun, belum pernah merasakan scenting sebelumnya? Semua orang pernah— saat kecil, bersama ibu, bersama ayah, bersama pack saat awal. Bahkan Yudistira sang beta yang ibu dan ayahnya tidak terlalu perhatian bercerita ia saat kecil scenting oleh butler yang sudah menganggapnya anak sendiri. Belum sempat lebih ia melepaskan diri dari tumpukan badan di sofa ini dan kabur, omega yang lebih tua kembali menarik tengkuknya ke ceruk lehernya sendiri.
“Just let yourself feel. Jangan dipikirin terlalu banyak. Rasain aja, dihirup, dan badanmu akan tau apa yang kamu mau lakuin.”
Beberapa menit ia diam di situ, sementara yang lain lanjut bertukar wangi dan menandai satu sama lain. Ia bisa merasakan tangan kuat Sadewa di tengkuknya sebelum tangan kanannya digenggam Yudistira, mengelus lembut, menyatukan scent mereka. Perlahan ia juga mencoba. Usapan kecil di ceruk leher Arjuna, lalu tangannya bergerak ke tangan Sadewa yang menggenggam Nakula, dibawa kedua tangan itu ke bibir dan di kecup satu-satu sebelum dibawa bertemu scent gland-nya yang di ceruk leher. Mereka semua diam, menikmati intimasi ini. Beberapa menit— bahkan mungkin sampai satu jam mereka bergantian melakukan ritual ini. Saling mencium kecil, tanpa hasrat apapun selain memiliki dan mencintai.
Saat merasa cukup, Sadewa kembali mendudukkan diri di karpet, menatap anggota pack-nya dengan penuh cinta. Mereka seakan bersatu, menyentuh dan berpelukkan. Tapi Bima, di tengah semua itu, masih menunjukkan ekspresi yang… khawatir. Seperti tidak percaya kalau semua ini terjadi. Bimanya ini, apa yang sudah ia lalui, seberapa banyak yang sudah ia lalui sebelum semua ini sampai ia tidak kunjung percaya pada semua afeksi ini?
“You don’t need to worry anymore, Bim.” Mulai Sadewa. “Tell us, what’s on your mind, omega? Jangan khawatir sendirian. Kau punya pack sekarang.”
Bima terlihat terkejut, ngapain sih Mas Dewa nanyain pertanyaan begini pas lagi enak-enak pelukan? Kan jadi harus mikirin perasaan dan hal-hal yang tidak ingin dipikirkan!
Nakula mendekat ke arahnya, mengelus rambut ungu, seolah membujuknya untuk menjawab. Bima menutup matanya. Mungkin tidak apa-apa, membuka diri sekarang. Like ripping a band-aid, right?
“It’s just… I know I'm claimed and scented already. I just can't get the fact that… aku bukan omega beneran out of my head.” Ucap Bima, lalu ia melanjutkan. “I’m too… brash. Too big, too harsh. Yang aku bisa lakuin cuma kelahi dan menyakiti orang. It's all I've ever known. I didn't even know how scenting works. Aku masih gak tau caranya nesting. Kalian gak pernah liat aku kebingungan bikin nest kalau lagi heat. Nestku jelek. Aku gak tau caranya. Masa omega gak bisa bikin nest? Aku—“
“Bim! Tarik nafas.” Sebelum Bima semakin terpuruk dan melanjutkan rentetan kata yang merendahkan dirinya sendiri, Yudistira memotongnya. “Bima, jangan bilang gitu. Gila kali, kau? Juna juga omega, bukan? Dia leader kita. Dia yang memimpin semua misi, semua kelahi kita. Dia secret agent. Yang ngajarin aku kelahi emang siapa? Juna. Jadi menurut kamu, Juna bukan omega beneran?”
“Ya nggak gitu, Yud! Itu beda!”
“Beda dari mana?” Tanya Arjuna. “Gak ada yang beda, Bima. Kamu tetap kamu, kamu tetap omega. Kenapa kamu harus ngebedain diri sendiri begitu?”
Bima menghela nafas, “Ya tapi kan—“
“Apa? Badan? Aku tinggi juga, cuma beda dua senti sama alpha-alpha ini. Apa lagi? Kelahi? Aku yang certified secret agent.” Semua poin Bima disangkal oleh omega yang lebih tua.
“Tapi katanya… katanya aku gak akan jadi omega beneran. Dulu katanya, aku bakal jadi terlalu kuat. Bakal tumbuh terlalu besar. Terus bener. Aku jadi begini, sekarang.”
“Kata siapa coba?” Suara julid nakula meninggi kesal, aroma air laut dan kembangnya menjadi tajam— seperti air asin laut yang membuat hidung perih, bau kembang yang busuk dan mengengat. Bima diam, namun scent-nya tercium seperti ia ingin mengatakan sesuatu. Spesifikasi siapa yang mengatakannya tidak lagi penting. Orang yang menanamkan pandangan ini telah tiada, hanya meninggalkan benih rasa ketidakpastian pada dirinya. Melihat wajah Bima yang makin semrawut ditambah mulutnya yang tertutup rapat, Nakula melanjutkan. Mungkin itu cerita untuk lain hari.
“Kalau katanya orang, aku terlalu kemayu. Terlalu soft spoken dan lembut untuk menjadi alpha. Beda sama si onoh.” Kepalanya mengangguk ke arah kembarannya. “Tapi nyatanya, aku tetap alpha. Aku tetap bisa klaim kalian sebagai pack. Kalau aku tetap alpha dan Juna tetap omega, kenapa kamu bukan omega?”
“Kau kalau dengar apa yang Arjuna bilang di kamar juga pasti kaget. Dia omega, tapi dia pengen masukin tititnya ke dalam ka—“ Mulut Yudistira yang ingin ikut menambahi dibekap oleh omega yang lebih tua, bermuka merah dan marah. Beta yang bersangkutan hanya terkekeh geli, diikuti dengusan penuh cinta dari yang lain. Suasana menjadi lebih ringan, scent di udara tidak mencekam penuh aroma alpha seperti tadi. Leave it up to Yudis to know when to tone things down.
“Ya, gitu deh, intinya. None of us fit society’s standards, Bim. Gak perlu juga. We have each other and it’s enough.” Nakula akhiri dengan lembut. Yang lain mengangguk kecil, menyetujui si alpha berambut biru. Sadewa beranjak dari lantai dan ikut mendudukkan diri di sebelah adiknya, lalu Yudistira semakin menempelkan diri di sebelah Arjuna. Bima yang masih di pelukan Arjuna, ditarik ke atas untuk duduk diantaranya dan Nakula yang sudah bergeser sedikit.
Lengkap. Berlima, di nest bersama. Lima scent— karamel whiskey yang hangat, laut pesisir dan kembang yang menyegarkan, air mawar manis di bawah mentari cerah, mint herbal bersama kemangi wangi, dan yang melengkapi, teh bunga roasted dengan sedikit susu. Serempak, terikat bersama, saling memiliki dan mendekap tanpa tahu dimana satu memulai dan yang lain berakhir. Bima akhirnya tahu, ia bisa melengkapi. Ia adalah omega yang diinginkan, dengan scent yang cocok— wangi, lengkap, penuh cinta.
