Work Text:
Suara televisi menyala menjadi latar suara di rumah keluarga kecil Nathaniel dan Chrissy yang damai.
Ruby, anak bungsu dari pasangan itu memainkan boneka barbie yang sudah cantik karena ia meriasnya dengan hati-hati dan penuh perhatian.
Sedangkan si sulung, Kenneth, sedang memisahkan permen sesuai warna untuk Ruby. Sorotnya begitu fokus dengan permen-permen tersebut, namun beberapa permen ada yang salah tempat warna.
Nathaniel?
Ia berbaring di karpet lantai sambil memperhatikan anak kembarnya yang sedang asyik pada dunianya sendiri. Suaminya sedang berbelanja bulanan sendirian.
Tadinya, Nathaniel ingin ikut tapi Chrissy menolak karena si kembar tidak ada yang menjaga. Di luar sangat panas, terlebih Ruby sering mengeluh jika kepanasan.
“Dada.” Suara manis itu memanggil Nathaniel. Ia berdiri dan berjalan mendekati Nathaniel yang masih berbaring malas.
“Iya?”
Tangan mungil Ruby menyerahkan satu karet kecil berwarna merah muda pada Nathaniel. Sang Dada duduk, diikuti oleh Ruby yang duduk membelakangi Dada-nya.
Keringat-keringat membasahi tengkuk si cantik, Ruby pasti kepanasan. Nathaniel mengambil sisir yang tak jauh dari meja khusus televisi.
Sisir perlahan-lahan berseluncur di rambut hitam berkilau milik Ruby. Rambut anak gadisnya itu sedikit panjang, Chrissy-lah yang selalu merias dan merawat rambutnya itu.
Setelah disisir dengan rapi, jari-jari Nathaniel mengumpulkan helai-helai rambut Ruby hingga satu kepalan kecil. Kemudian, ia mengingat rambut itu dengan ikat rambut yang Ruby berikan.
Selesai.
Pipi anaknya yang berisi itu tampak lebih menggemaskan ketika rambutnya diikat seperti ini. Pantas saja semua orang menyukai anak gadisnya.
Tangan mungil Ruby menyentuh ikatan hasil Nathaniel. Mata sang Dada memperhatikan gerakan si cantik. Anaknya itu menoleh ke arahnya, matanya berkaca-kaca.
“Ruby?” Jantung Nathaniel seakan-akan pindah tempat. Apa ada yang salah dengan ikatan itu? Apa ia terlalu kencang sehingga rambut Ruby kesakitan? Apa Ruby tidak nyaman?
Kenneth menghampiri Nathaniel, iris birunya memperhatikan Ruby yang sepertinya akan menangis. Dan benar saja, adiknya menangis.
“Ruby kenapa?” tanya si sulung. Nathaniel hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia tidak mengerti. Keduanya terdiam lama.
Tangan Nathaniel meraih tubuh Ruby dan memangkunya di paha. Tangisannya semakin kencang, Kenneth diam memperhatikan adiknya, mencari tahu alasan Ruby menangis.
“Shh, Cantik. Dada salah, ya? Sakit?” Tangan Nathaniel mengusap-usap kepala Ruby. Ikatan itu sudah terlepas karena Ruby memaksa menariknya.
Sepertinya Ruby memang tidak nyaman.
Nathaniel menggigit bibir dalamnya sambil terus mengusap kepala si cantik. Kenneth memberikan kipas berkarakter pada Nathaniel.
“Ruby kepanasan, Dada.”
Nathaniel menerima kipas tersebut. Ia menggerakan kipas agar Ruby tidak kepanasan lagi. Mungkin ini risiko memiliki rambut panjang ketika musim panas.
Tidak.
Bukan salah Ruby.
“Papa, papa!”
Tangan Ruby terkepal, memukul-mukul lengan dan dada Nathaniel sambil terus memanggil Chrissy. Iris ungu gelap Nathaniel melirik jam dinding, Chrissy belum pulang.
“Ken, boleh minta tolong nyalain AC?”
“Boleh, Dada.” Kenneth langsung mencari remot AC. Ia sudah diajarkan untuk menyalakan dan mematikan AC oleh Nathaniel beberapa bulan sebelumnya.
“Sayang, nanti makin panas loh kalau kamu nangis terus,” ucap Nathaniel. Tangannya sambil mengipasi Ruby, sesekali mengusap keringat dan air mata yang membasahi wajah dan leher si cantik.
Rambut indah Ruby juga basah.
“Dada jelek!”
Nathaniel mematung.
Tangisan anak gadisnya tak kunjung reda. Hatinya terasa tertusuk ketika Ruby menyebutnya jelek. Memang jika urusan rambut, Nathaniel bukan ahlinya.
Pintu terbuka.
“Papa pulang!"
“Papa!" Kenneth langsung menoleh. Si sulung mendekati Chrissy yang membawa banyak paper bag belanjaannya.
“Mau Ken bantu?” tawar Kenneth.
“Gak usah, Sayang. Ruby kenapa nangis?” Chrissy berjalan ke arah dapur untuk menyimpan belanjaannya sebelum menghampiri sang suami dan anak gadisnya, diikuti oleh Kenneth.
“Ruby minta Dada buat iketin rambutnya, tapi kayaknya Ruby gak nyaman.”
Chrissy tertawa kecil mendengar cerita dari si ganteng dan mengusap rambut pirang platinumnya. Ruby menginginkan rambut panjang sejak kecil, jadi Chrissy menuruti keinginan anaknya dan merawat rambut itu.
Ia selalu merias rambut Ruby agar anaknya merasa nyaman setiap saat. Musim panas memang sedikit menyebalkan bagi pemilik rambut panjang seperti Ruby.
Chrissy lupa mengikat rambut Ruby sebelum ia pergi ke swalayan. Tidak menyangka anak gadisnya akan semenderita ini.
“Ruby.” Chrissy menghampiri Nathaniel dan Ruby. Jari telunjuknya digenggam oleh Kenneth. Melihat raut wajah Nathaniel yang frustasi, ia menahan tawanya.
“Jangan ketawa,” tegur Nathaniel. Chrissy tertangkap basah. Ia duduk di depan Nathaniel, menatap Ruby yang menangis, rambut dan pakaian Ruby kacau.
“Papa!” Ruby merentangkan kedua lengannya, meminta sang Papa untuk menggendongnya. Chrissy pun mengambil alih Ruby.
Kenneth duduk di pangkuan Nathaniel, bersandar di dadanya. Nathaniel mengusap rambut yang memiliki warna yang sama dengannya.
“Cup, cup, Sayang. Maafin Papa, ya. Papa lupa iketin rambut Ruby. Gerah, ya?” Punggung tangan Chrissy mengusap bagian yang basah oleh keringat dan air mata.
Tangisan Ruby mereda, namun masih terdengar segukannya. Nathaniel masih terdiam memperhatikan suaminya yang tanpa usaha menenangkan anak gadisnya.
Chrissy mengambil karet merah muda yang tergeletak, ia mengambil satu lagi di dekat boneka barbie milik Ruby. Chrissy mendudukkan anak gadisnya di depannya, dengan telaten menguncir rambut Ruby menjadi dua.
“Udah~” seru Chrissy.
“Nyaman? Gak gerah, kan?” Ruby kembali sumringah walau kedua mata dan hidungnya memerah akibat menangis.
“Papa terbaik!” Ruby mengacungkan jari telunjuknya, ia masih belum bisa mengacungkan jari jempolnya. Menggemaskan.
“Dada jelek.” Perubahan suasana hati Ruby membuat Nathaniel kembali berbaring meringkuk sambil memeluk Kenneth.
Chrissy tertawa lepas.
“Kok jelek?” Chrissy bertanya di sela-sela tawanya.
“Dada jelek iketnya! Ruby kesel!” Alis Ruby mengkerut, amarahnya terlihat jelas.
“Iya, Dada salah,” sahut Nathaniel lesu.
Kenneth terkekeh kecil. “Dada jangan nangis. Dada harus berguru sama Papa.”
“Iya, ya? Dada mau balas dendam.” Nathaniel dan Kenneth saling melemparkan rencana, tentu saja Chrissy dan Ruby mengetahui rencana itu.
“Agen apaan kalian?” tanya Chrissy, tak habis pikir. Ia ikut berbaring di karpet, menghela napas lega. Di rumah sedikit lebih dingin dibanding di luar.
Ruby tidak ikut berbaring, ia berjalan ke arah mainan yang berserakan. Nathaniel, Chrissy, dan Kenneth diam memperhatikan si kecil. Gadis itu mengambil permen yang sudah ditata sesuai warna oleh Kenneth.
“Satu, dua, tiga, empat!” Ruby mengambil empat permen berbagai warna. Ia kembali duduk di tengah-tengah keluarganya yang terbaring.
“Yang biru buat Ken, yang kuning buat Dada, yang oren buat Papa, dan merah buat Ruby!” Gadis itu memberikan keluarganya masing-masing permen.
“Makasih banyak, Cantik.” Chrissy menerima permen tersebut sambil tersenyum.
“Makasih, jelek.” Nathaniel lebih ketus.
“Ih, Dada! Balikin sini kalau Dada jahat sama Ruby!” protes Ruby, ia sedikit berdiri untuk mengambil kembali permennya.
Nathaniel menyembunyikan permennya. “Ruby bilang Dada jelek, Dada terima. Kenapa Ruby enggak?”
Ruby menggeram. Ia membuang napas kasar dan membuka plastik permen dengan mudahnya. Chrissy memilih permen tersebut agar si kembar tidak kesulitan.
Nathaniel, Chrissy, dan Kenneth tersenyum melihat Ruby. Suasana hati si kecil telah kembali membaik oleh satu permen. Nathaniel sempat ingin membuka suara, tapi perutnya disikut oleh anak sulungnya.
