Work Text:
Entah kenapa malam ini terasa lebih sunyi dari biasanya, mungkin karena kamar yang seharusnya dihuni oleh tiga orang kekurangan salah satu penghuninya. Benar saja, lagi-lagi Martin menginap di studio, entah project mana lagi yang sedang ia kerjakan. Dormitory hanya berisi James, Juhoon, dan managernim yang mungkin sudah terlelap di kamar masing-masing, menyisakan Keonho dan Seonghyeon yang masih saja terjaga pada pukul dua dini hari ini.
Entah sudah berapa kali Keonho membolak balikkan tubuh untuk membuat dirinya senyaman mungkin agar bisa terlelap, namun tetap saja usahanya sia-sia. Keonho hampir menyerah, sedari tadi ia menahan diri untuk tidak mengajak bicara Seonghyeon yang masih berkutat dengan macbook, takut mengganggu kegiatannya. Kedua teman sekamar Keonho memang produser dan lirikis berbakat yang diam-diam ia kagumi kecerdikannya dalam bermusik. Tak jarang mereka berdua pulang lebih lama dari yang lain, terutama Martin yang secara tidak resmi telah menjadikan studio musik agensi sebagai rumah ketiganya, bahkan lelaki itu meninggalkan beberapa pasang baju dan membeli selimut khusus untuk ia gunakan di sana saking betahnya. Berbeda dengan Seonghyeon yang cenderung lebih sering pulang, meskipun sudah hampir pagi lelaki itu akan tetap kembali dengan keadaan seperti zombie karena lelah dan kurang tidur.
Keheningan yang membosankan.
Handphone Keonho telah dimatikan demi meminimalisir gangguan pada malam hari, pun dirinya tak terlalu suka bermain ponsel lama-lama. Ah dengan terpaksa ia melihat ke arah Seonghyeon yang tengah berkutik dengan macbook, ia masih tampak fokus, mungkin tak menyadari bahwa dirinya masih terjaga. Keonho akui, lelaki yang sebulan sehari lebih tua itu memiliki paras menarik, tampan nan indah yang tak bisa ia katakan. Tak sekali dua kalk Keonho mendapati dirinya terpana pada sosok bermarga Eom di seberang sana.
Ah persetan.
"Hyeon" ia mengajak Seonghyeon bicara, membuat pertahanannya selama ini sia-sia
"Hmmm? Belum tidur?" yang diajak bicara menyahut sembari mengalihkan pandangannya yang semula pada layar macbook
"Ga nyenyak" keluh Keonho apa adanya sambil menggeleng, mungkin karena saat pulang latihan tadi ia mengkonsumsi americano kaleng di kulkas yang dibeli kemarin di FamilyMart
Seonghyeon menghela napas panjang sebelum berdiri sambil membawa macbook hitamnya dan berjalan menuju ranjang milik Keonho, semua gerakan itu tak lepas dari pandangan yang lebih muda.
"Ngapain?" tanya Keonho sembari tetap menggeser tubuh, memberi tempat pada Seonghyeon yang mulai menyamankan duduk pada springbed miliknya. Yang ditanya tidak menjawab secara verbal, namun ia mengangkat bahu ringan, lalu kembali berkutat pada macbook.
Keonho yang memiliki rasa ingin tahu cukup tinggi membuat dirinya tengkurap untuk ikut melihat layar macbook Seonghyeon, sepertinya lelaki itu tengah menulis lirik lagu lagi, bisa dilihat dari beberapa kali ia menghapus atau mengubah setiap kata dari kalimat-kalimat yang tersusun. Empunya tidak masalah sama sekali, ia membiarkan yang lebih muda melakukan apapun.
"What's wrong?" tanya Seonghyeon sembari terus menggulirkan jari, mencari entah artikel atau prosa untuk referensi lirik yang tengah ia kerjakan, padahal sebenarnya lelaki itu telah kehilangan fokusnya sejak berada di dekat si bungsu, sebisa mungkin Seonghyeon menahan tangannya untuk tidak membenarkan surai hitam dan tebal milik Keonho yang berantakan
"Hah? Apanya?" tanya Keonho tak paham dengan konteks pertanyaan Seonghyeon
"Repost kamu di tiktok" jawab Seonghyeon sembari mengalihkan pandangannya lagi, ia menatap si Februari
"Which one?" Keonho tak paham repost mana yang Seonghyeon maksud. Repost keyring Chikawa yang ia mau atau repostnya tentang singa laut?
"Homesick lagi?" tembak Seonghyeon tepat sasaran
Sial, Seonghyeon membaca repostnya yang itu
"I don't know" sahut Keonho dengan suara kecil, ia tak mau memperlihatkan sisi ini pada yang lebih tua sekarang. Pun dirinya tau Seonghyeon tidak akan memaksa untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan
Si Januari mengacak puncak kepala Keonho asal asalan, ia agak frustasi pada si Bungsu yang jarang terbuka pada dirinya, entah mengapa Keonho lebih terbuka pada Juhoon atau Martin.
Padahal 'kan Seonghyeon juga mau jadi tempat Keonho bercerita, mau jadi tempat yang nyaman bagi Keonho.
"Aaaa Hyeon...." rengek Keonho sebal, namun ia tak menepis tangan Seonghyeon yang masih berada pada puncak kepalanya. Acakan Seonghyeon perlahan melembut, lebih terkesan seperti mengelusnya perlahan-lahan.
Pada akhirnya, Seonghyeon menuruti kata hatinya sendiri.
Ia mengusap rambut Keonho hati-hati, takut kalau dirinya membuat yang lebih muda tak nyaman.
Keonho tak mengeluarkan protes apapun, dan tak lama kemudian lelaki itu mengubah posisinya lagi menjadi telentang agar bisa melihat Seonghyeon dengan jelas. Tangan si Januari yang semula terangkat dan terhenti di udara akibat gerakan Keonho kembali ditarik pada kepalanya sendiri, si Bungsu yang menariknya.
Keonho yang meminta kepalanya diusap oleh Seonghyeon.
Catat!
Seonghyeon berdeham untuk menghilangkan salah tingkahnya. Puji Tuhan dirinya terlahir kidal, sehingga tangan kanannya ia gunakan untuk terus memenuhi permintaan Keonho, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk mengendalikan touchpad yang sebenarnya telah hilang arah, entah apa yang Seonghyeon gulir.
Sial, sial, sial.
Bagaimana Seonghyeon bisa fokus jika Keonho terus memperhatikannya seperti ini?
God for fuck sake.
Sekarang Keonho malah mendusalkan wajahnya pada hasta Seonghyeon, seperti mencari kenyamanan di sana.
Seonghyeon menurunkan telapak tangannya yang semula mengusap rambut Keonho kini pada wajah menawan si Februari.
Ibu jari Seonghyeon mengelus pipi yang lebih muda pelan sekali, seperti takut membuatnya terluka, hingga tatapan keduanya bertemu. Dapat Seonghyeon rasakan saat ini wajah Keonho menghangat, pun pipinya bersemu merah.
Cantik, cantik sekali Ahn Keonho.
Kedua matanya yang berkilau indah meskipun dalam redup cahaya kamar, hidungnya yang tak terlalu mancung amat pas disandingkan dengan semua fitur wajahnya, lalu terakhir, kedua ranum merah mudanya yang penuh dan selalu lembab, mungkin hasil dari usaha Keonho yang rajin menggunakan pelembab pada bibirnya.
How delicate he is, so fucking breathtaking.
Entah apa yang ada dalam diri Seonghyeon sehingga ia menutup macbooknya perlahan sebelum mencuri satu kecupan kecil pada pipi kanan Keonho, yang mana membuat mata si empunya membelalak.
Seonghyeon baru saja menciumnya.
Seonghyeon, lelaki yang diam-diam ia sukai selama ini.
Mengecup pipinya.
Keonho segera menangkupkan kedua tangan pada wajahnya, ia malu setengah mati. Meskipun dirinya yakin Seonghyeon terlanjur melihat dirinya bersemu merah bak sebuah strawberry.
Yang lebih muda merasa perutnya tergelitik, padahal Seonghyeon tak melakukannya. Keonho mengigit pipi bagian dalamnya, menahan gejolak perasaan yang asing dan aneh (?) ini.
Yang lebih tua terkekeh pelan, sepertinya Seonghyeon tak menyesali perbuatannya barusan. Mengikuti insting, ia memindahkan macbook di atas headboard milik Keonho sebelum kembali menunduk.
"Keonii, kok ditutup mukanya?" usil Seonghyeon sembari meraih kedua telapak tangan Keonho yang masih setia menutup wajahnya
"Shut up, moron" sungut Keonho sebal, bagaimana bisa Seonghyeon sesantai ini setelah menciumnya tepat di pipi??!!?
Seonghyeon tergelak lagi, kali ini lebih keras. Ia berhasil membuat Keonho menurunkan kedua telapak tangannya dengan cara mencium punggung tangan Keonho bergantian.
Keonho isn't your strongest soldier.
Eom Sialan Seonghyeon, tega sekali meluluhlantakkan perasaan yang Keonho pendam sejak lama. Kalau hanya berteman saja, bolehkah sampai cium-cium begini?
Yang lebih muda memiringkan tubuh membelakangi Seonghyeon, karena sejujurnya ia masih belum bisa memproses semua yang terjadi secara tiba-tiba. Terutama perasaannya, ia harus kembali menata itu dari awal, sungguh merepotkan.
Seonghyeon tak lagi memaksa Keonho menghadap dirinya, ia mengistirahatkan tubuh di samping Keonho sembari mulai mengelus punggungnya pelan, hal yang biasa ia lakukan saat yang lebih muda mengalami panik atau nervous sebelum perform, agar Keonho merasa lebih tenang.
Empunya tidak menolak, ia membiarkan Seonghyeon mengelus punggungnya lembut tanpa sepatah katapun.
Hening, keduanya sama-sama diam.
Keonho masih sibuk menata perasaannya sendiri, sementara Seonghyeon mulai mempertanyakan apa yang baru saja ia lakukan? Apakah itu keputusan yang benar?
Seonghyeon tau Keonho menyukainya, pun ia tak ambil pusing karena sejauh yang ia tau Keonho hanya sebatas menyukainya saja, dan banyak orang di dunia ini yang menyukai Seonghyeon. Jadi, bukan masalah besar, kan? Meskipun Seonghyeon agak berharap bahwa Keonho menyukainya dengan konteks berbeda.
Sosok lelaki yang tumbuh bersama selama beberapa tahun terakhir ini sejujurnya menghabiskan banyak ruang di kepala Seonghyeon. Terlebih ia tak ingin Keonho merasakan kenyamanan yang lebih bersama orang selain dirinya, apakah hal itu egois? Wajar bukan jika kita cemburu dengan teman sendiri?
Huftt......
Terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing, perlahan kantuk menjemput keduanya. Nafas Keonho mulai menderu pelan dan stabil, ia terlelap lebih dulu. Disusul dengan Seonghyeon yang mencuri satu kecupan lagi pada bahu Keonho sebelum ikut terlelap. Yang sebenarnya masih bisa Keonho ketahui meskipun setengah sadar.
Batinnya mengumpat lagi, mungkin ia akan memukul Seonghyeon di alam mimpi.
Keonho berharap Seonghyeon pun hadir dalam mimpinya, menggantikan sosok menyeramkan yang kerap membuat dirinya tercekik dan sulit bergerak di alam bawah sadar sana.
Dan malam ini, Keonho berhasil tidur nyenyak di samping Seonghyeon.
He cured my fear, again.
