Actions

Work Header

Bayangan Origami

Summary:

Kadang kala ada beberapa masalah yang tidak bisa dipecahkan oleh kecerdikan otak. Di saat seperti itulah Arjuna Arkana akan dipanggil ke lokasi.

Atau

Arjuna punya 4 rekan kerja yang sedikit berbeda

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Di tengah hiruk pikuk kota dan hawa lembab musim panas, seorang pemuda duduk santai di kursi kantor, kedua kakinya dinaikkan di atas meja seraya ia menikmati sepoi-sepoi angin dari kipas bututnya. Sebuah papan besi duduk di dekat sepatunya—Arjuna Arkana, ditulis besar dengan font hitam Times New Roman.

Ia memejam mata, mencoba menepis hawa panas yang begitu mendidih dengan tidak menghiraukannya. Selama ia tidak peduli, tentu cuaca akan terasa lebih dingin, bukan?

Lebih mudah bicara daripada melakukan, sebab panasnya masih membuat badannya mendidih total.

“Jun,” Suara lembut membangunkannya dari semedi. Tanpa menengok pun Arjuna tahu itu suara Nakula, partner kerjanya yang paling cantik. “Kakimu tolong yang sopan toh.”

“Hmm.” Jawabnya singkat, masih dengan mata terpejam.

“Biarin aja lah mas, lagian kita nggak ada customer ini.” Suara lain menimpali, lebih kasar dan menggelegar. Memang tidak ada yang bisa menandingi suara Bima. “Mending beli gorengan dulu kita.”

“Kamu baru makan loh, Bim! Liat, itu si Yudis aja dari tadi anteng.” Sadewa ikut membalas.

Yudis yang dari tadi sibuk mengatur gitarnya langsung celingak-celinguk. “Loh kok bawa-bawa aku, mas?”

“Shh, udah, udah, kalian semua ribut aja dari tadi deh.”

“Lah Kul, itu si Bima tuh!”

“Kok gue lagi sih, mas?!”

Suasana kantor berukuran tiga kali tiga meter itu berubah ricuh, ramai karena suara mereka berempat. Hawanya malah bertambah panas. Arjuna akhirnya membuka mata.

“Bisa nggak sih diem sehari aja?” Wajahnya merah, amarah dan panas menjadi satu. Kakinya sampai diturunkan ke lantai. “Gue yang paling tersiksa di sini, sialan.”

“Juna,” Nakula mendekat, tersenyum lembut seraya ia menangkup pipi Arjuna dengan satu tangan. Hawa dingin merayap ke seluruh wajah Arjuna, membuatnya terkulai lemas di telapak tangan Nakula. “Gimana? Mendingan?”

“Hmm,” Arjuna membiarkan Nakula memanjakannya; menyapu rambutnya yang basah oleh keringat, serta mengelus pipinya pelan. “Enak…”

Ketenangan itu tidak berlangsung lama sebab Arjuna mendengar deru mesin mobil yang mendekat. Ia langsung lepas dari rangkulan Nakula, matanya mendapati sebuah mobil sedan hitam yang parkir di halaman. 

“Eh, siapa tuh mas?” Bima mengintip ke arah jendela.

“Hmm, kalo dari plat nomornya, itu Pak Tri.” Jawaban Nakula terbukti dengan keluarnya seorang laki-laki gemuk paruh baya dari dalam mobil. Ia tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruko. “Kayaknya ada kerjaan lagi nih.”

Tidak butuh lama bagi bapak itu untuk naik ke lantai kantor, membuka pintu tanpa basa-basi dan memanggil Arjuna dengan nada akrab. “Mas Juna, permisi.”

“Ya, masuk aja pak,” Arjuna membereskan mejanya, sementara yang lain langsung duduk di satu sofa usang yang sama. Mereka berempat tidak muat, sehingga harus duduk diatas pangkuan satu sama lain. “Ada yang bisa saya bantu?”

“Biasa mas, kasus lagi,” Lelaki bongsor itu langsung memberikannya sebuah file coklat, bibirnya manyun. Ia kembali bicara seraya Arjuna membaca. “Pelakunya sudah ditangkap dan sudah ngaku juga, tapi kepala jasadnya nggak bisa kita temui. Dia nggak mau ngasih tau disembunyikan dimana.”

Arjuna membaca dokumen di tangannya secara singkat. Pelaku adalah seorang pengusaha telur, dan korbannya adalah karyawannya sendiri yang baru saja masuk bekerja. Menurut pengakuannya, karyawannya itu terlibat cekcok dengannya, sehingga akhirnya dibunuh. 

Keempat teman kerjanya mendekat, berdiri di belakang Arjuna untuk sama-sama membaca dokumennya. Arjuna langsung merasa sesak. Ia mendorong perut Sadewa yang terlalu maju. 

“Jadi, bagaimana mas? Sanggup kah?” Pak Tri condong ke depan, jarinya bertaut ragu.

“Insyaallah pak,” Arjuna tersenyum kecil. “Kita langsung ke TKP aja ya pak.”

“I-Iya, boleh mas,” Pak Tri langsung semangat lagi, tergopoh-gopoh mengeluarkan kunci mobil dari kantong celananya dan lari keluar. 

Arjuna berdiam sebentar di mejanya, menghela nafasnya panjang. Tanpa menoleh ke belakang pun ia sudah tahu rekan-rekan kerjanya sudah tidak sabaran, auranya begitu menusuk kepala. Untuk sepersekian detik, bentuk fisik mereka sudah tidak lagi normal.

“Woi, kalem,” Arjuna memukul perut Sadewa. Sontak aura berat yang menyelubungi kantor hilang seketika. “Yang professional dong.”

“Tch,” Sadewa menggelengkan kepala. “Iya, maaf deh.”

“Jaga sikap ya kalian,” Arjuna mengingatkan sekali lagi. “Ayo, kasian itu Pak Tri udah nungguin.”

000

Sebuah toko kelontong yang tadinya ramai pembeli kini terlihat sepi. Garis kuning polisi terbentang di pintu masuk, menghalang siapapun kecuali para petugas hukum untuk masuk. 

Kerumunan orang datang untuk melihat-lihat, berbisik-bisik dan berkonspirasi bersama. Suara mereka berubah pelan begitu mobil sedan Pak Tri parkir di dekat situ. 

Arjuna tidak ingin keluar, masih ingin menikmati AC mobil yang dingin, namun ia tidak ingin membuat Pak Tri menunggu. Ia keluar mobil, sedikit menyipitkan mata untuk menangkis cahaya matahari yang begitu terang.

“Mari mas.” Pak Tri mengangkat garis polisi, membiarkan Arjuna dan keempat rekannya masuk ke dalam.

Arjuna melihat-lihat isi toko, mencermati benda-benda yang terpajang di rak-rak, juga percikan darah kering yang kini dikelilingi oleh segerombolan polisi. Selain dari kejanggalan tersebut, toko ini masih terbilang rapi, bahkan terlihat normal.

Nakula dan Sadewa bergabung dengan rombongan polisi yang sedang menganalisa darah. Yudis berjalan keluyuran sendiri, mengamati rangkaian barang-barang yang tertata di rak. Hanya Bima yang diam bersama Arjuna, ragu untuk mengotori TKP.

Sementara Pak Tri bicara dengan yang lain, ia terdiam sebentar. Sembari tadi ia merasa sesak, dadanya seakan ditekan dari segala arah. Gaung detik-detik kematian menggema di dalam pikirannya.

Sakit. Perih. Takut.

Ia tidak mau mati!

“E-Eh, Mas Juna!” Bima memegang pundaknya sebelum ia jatuh. Hangat badannya memberikan tumpuan untuk berpijak. “Nggak apa-apa?”

Arjuna mengangguk pelan. Suara-suara gaib yang menginvasi kepalanya pelan-pelan hilang. Ia berpaling kepada Pak Tri yang memperhatikannya dengan khawatir. “Maaf pak, saya minta rundown lokasi, boleh?“

Pak Tri langsung membawa secarik kertas dan pena. Digambarnya tata letak bangunan serta berbagai barang bukti yang ditemukan di masing-masing ruangan secara kasar. 

“Beginilah kira-kira mas,” Ujar Pak Tri. “Apakah cukup?”

“Cukup pak.” Arjuna menganalisa denah ruangan dengan seksama. 

Semua ruangan tampak sama si matanya, kecuali ruang gudang di belakang. Sesuatu seakan menariknya ke sana. Ia melirik Yudis yang senyum-senyum ke arahnya. Sepertinya instingnya benar. 

“Saya boleh masuk ke dalam kan pak?”

“Boleh mas, saya temani ya.” 

Yudis menunggu sampai Arjuna mendekat sebelum menggandeng tangannya. Ia menuntun Arjuna ke gudang, menjauh dari tempat kejadian yang sudah dilumuri darah. Walaupun begitu, Arjuna malah semakin pusing di sini, kepalanya seakan mau pecah.

“Liat Jun,” Yudis menunjuk pada setumpuk kardus besar. “Coba kamu suruh Pak Tri angkat kardusnya deh.”

Arjuna memejamkan matanya. Ia bisa mendengar cakaran-cakaran putus asa para arwah gentayangan, suara mereka lirih meminta tolong. Untuk sesaat, Arjuna merasakan siksaan yang mereka lalui.

Gelap. Sakit. Bebaskan kami.

“Pak…” Arjuna bersandar pada dinding, kakinya sudah lemas. Untung ada Yudis dan Bima yang membantunya berdiri tegap. “Bisa tolong angkat kardus-kardus itu?”

Tanpa banyak bicara, Pak Tri menyuruh beberapa rekannya untuk memindahkan kardus-kardus itu ke samping. Mereka terkejut begitu menemukan pintu rahasia di lantai. Ketika dibuka, hanya terlihat sebuah tangga besi yang mengarah lebih dalam lagi. Sisanya hanya kegelapan tanpa dasar.

“Coba kamu turun ke bawah.” Pak Tri menyuruh salah satu bawahannya.

Dengan berbekal sebuah senter kecil, pemuda itu masuk ke dalam lubang, suara langkah kakinya perlahan menghilang. 

Sunyi datang melanda. 

Di tengah ketegangan yang begitu mencekam itu, Arjuna memutuskan untuk duduk di lantai, wajahnya pucat.

“Waduh, nggak kuat dia!” Bima langsung lari ke luar, memanggil Sadewa dan Nakula. Yudis dengan setia duduk di samping Arjuna, memijat tengkuknya dengan lembut.

“Jun, masih kuat?” Presensinya di sini mampu menghalau para arwah penasaran, tapi tidak signifikan. Arjuna yang keras kepala masih tidak membiarkannya berbuat lebih. “Kalo udah nggak kuat biar aku yang gerak aja.”

Arjuna menggeleng lemas. Ia masih ingin memegang kendali, setidaknya sampai pulang nanti. 

Tidak ada yang menyangka aura negatif di tempat ini akan membuatnya selemah ini. Tahu begitu ia tadi mempersiapkan jimat pelindung. 

“Masih kuat kok.” Arjuna melirik Sadewa dan Nakula yang datang mendekat. Hati Arjuna tenang sedikit, namun kepalanya masih terasa seperti ingin meledak. “Sebentar lagi juga selesai kan ini?”

Yudis tersenyum. “Kita tunggu aja dia teriak. Satu, dua—”

“Astaghfirullah, Pak Tri!” Benar saja, suara bawahan Pak Tri langsung menggema dari dalam lubang. “D-Di sini ada mayat lagi pak!”

“Astaghfirullah,” Ia langsung berbalik kepada bawahannya yang pucat pasi. “Kalian berdua, cepat bawa kantong mayat ke sini!”

000

Tiga jasad baru ditemukan di ruangan rahasia di bawah toko, dua diantaranya sudah menjadi tulang belulang. Kasus yang tadinya sudah terpecahkan kini menjadi lebih kusut, tersambung dengan beberapa kasus orang hilang yang muncul beberapa bulan lalu.

Karena kondisi sudah mulai tidak kondusif, Pak Tri mengantarkan Arjuna kembali ke kantornya, tidak lupa juga memberikannya uang saku karena sudah membantu.

“Nanti saya tambah sedikit ya,” Ujarnya seraya masuk kembali ke mobil. “Saya mau laporan ke pusat dulu.”

“Aman aja, pak.” Arjuna mengangguk pelan. “Semoga investigasinya lancar.”

Arjuna menunggu sampai Pak Tri pergi menjauh sebelum ia duduk di teras gedung kantor, kakinya gemetar hebat. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan pikiran sementara sisa-sisa energi negatif dari TKP terus menghantuinya.

Sendirian. Sakit. Temani kami!

“Woi, Jun,” Sadewa muncul di depannya. “Mau dibantu?”

Arjuna mengangguk pelan dan merentangkan kedua tangannya. Sadewa dengan sigap memapah punggungnya, sementara Bima memegang tangannya dengan lembut. Yudis yang membuka pintu, dan Nakula yang masuk ke kamar tidur mereka untuk mengambilkannya baju ganti.

“Waduh, banyak banget itu parasitnya…” Bima melihat ke kaki Arjuna, wajahnya muram. “Mas Juna, aku bantu cabut mereka ya.”

Arjuna sudah tidak kuat lagi. Kepalanya penuh dengan kata-kata negatif, umpatan dan doa agar ia segera menyusul mereka yang sudah duluan berpulang. Kalau ia mencoba menetralkan energi negatif itu sendirian, bisa-bisa ia kehilangan kendali tubuhnya.

“Terserahlah,” Arjuna merebahkan diri di sofa. “Atur aja.”

Bima langsung bekerja, dengan cepat mempreteli sisa-sisa energi negatif yang menempel di kaki Arjuna. Kebanyakan dari mereka sudah tidak berbentuk; hanya potongan tangan yang menempel pada kulitnya, meminta jatah energi positif. Bima hanya perlu menarik dan membuang mereka layaknya lintah yang menempel.

Setiap kali Bima mencabut anomali-anomali itu, Arjuna melenguh kesakitan. Parasit-parasit itu seakan garpu yang menancap di kulitnya, dan Bima mencabut mereka tanpa belas kasihan. 

Satu, dua kali tidak berasa, namun ini sudah yang kesepuluh. Masih banyak lagi yang belum dicabut.

Tangan Sadewa memegang dadanya, dahinya berkerut. “Ada satu sampai ke sini, Jun.”

“Hmm.” Juna tidak fokus, masih mencoba menahan sakit. 

“Saya bantu cabut ya?” Sadewa melebarkan telapak tangannya. Dengan mudahnya ia menutupi seluruh jantung Arjuna. “Kalo didiemin kamu bakal lemes banget.”

“Bentar mas,” Bima mencabut parasit yang terakhir. Ia melihat ke lantai, sedikit jijik dengan onggokan parasit yang kini berubah menjadi lendir tidak berbentuk. “Nah, aku udah selesai nih.”

“Tahan nafas,” Sadewa memperingatkan. Ia bisa merasakan parasitnya menggeliat di bawah tangannya, mencoba kabur namun sudah terlanjur terperangkap. “Saya tarik sekarang.”

Sadewa mengepalkan tangannya, mencabik parasit itu dengan tenaga dalam. Parasit itu menggeliat hebat, menyundul paru-paru dan jantung seperti seekor ular kepanasan. 

Arjuna mengerjap, tubuhnya kaku dan hampir melenting ke lantai, punggung berkelok karena sakit. Untung Bima menahannya.

“Fuck, oily bastard,” Sadewa terkekeh pelan, sebutir keringat jatuh dari pelipisnya. “Tahan ya, Jun.”

“Sade—ngh!” Arjuna mencakar sofa, nafasnya tertahan di kerongkongan. Ia ingin teriak, namun ia tahu membuat kericuhan hanya akan membawa lebih banyak masalah nantinya, jadi ia telan suaranya. 

Sadewa pelan-pelan mengarahkan parasit itu ke atas, melewati kerongkongan tegang Arjuna dan keluar dari mulutnya. Begitu berhasil ia ambil, Arjuna langsung lemas, terkulai tidak berdaya di sofa. 

Parasitnya menggeliat di tangan Sadewa, mencoba kabur walau sia-sia. Dengan mudah, Sadewa merobek badannya yang berlendir menjadi dua. 

“Ah…hah…” Wajah Arjuna merah total, nafasnya berderu. Tubuhnya masih terasa sakit, tapi setidaknya dia sudah tidak dihantui makhluk-makhluk asing lagi. 

“Mas,” Bima mendekat, wajahnya hanya berbayang satu inci dari miliknya. “A-Aku bantu buat…itu…mau nggak?”

Arjuna malu bukan kepalang, tapi ia membutuhkannya, jadi ia terima tawaran Bima dengan anggukan pelan. Bima meneguk ludah, wajahnya sama merah dengan Arjuna. Sadewa yang dari tadi memperhatikan hanya geleng kepala.

“Enjoy your date, lovebirds.” Ia berjalan keluar, menemui Nakula yang tengah sibuk di kamar.

Bima merangkul wajah Arjuna, jempolnya meraba pipinya yang memerah. Seluruh tubuh Arjuna panas karena lelah, matanya sayu, bibirnya terbuka sedikit. Kalau saja bukan karena sakit pasti sudah terlihat seksi.

Pelan-pelan Bima menurunkan wajahnya, menyatukan bibir dengan Arjuna.

Hal seperti ini sudah biasa Arjuna lakukan, namun tetap saja ia malu. Walaupun menutup mata, Arjuna bisa merasakan lidah Bima yang masuk ke dalam, menyusuri mulut dan memijat lidahnya lembut. Lenguhan pelan keluar dari bibir mereka, diiringi decak bibir yang begitu panas.

Pelan-pelan tenaga Arjuna kembali. Ia sudah bisa bergerak, namun ia membiarkan dirinya dimanja lebih lama. Bima punya banyak tenaga, dan ia masih ingin memberikannya kepada Arjuna.

“Cie, ciumannya mesra amat.” Suara Yudis membuat Bima mundur sedikit. Arjuna mengeluarkan suara protes pelan. “Sampe basah begitu.”

“Abisnya Mas Juna enak banget! Bikin nagih!” Bima balik menciumi Arjuna, kini lebih liar dari sebelumnya. Tangannya meraba pinggang empunya yang begitu ramping. Kalau ada ekor, pasti ekor Bima sudah bergoyang cepat.

Yudis jongkok di samping mereka tanpa rasa malu, mencubit lengan Bima kasar. Begitu Bima mundur, ia menarik kepala Arjuna dan menciumnya juga. Arjuna tidak melawan, membiarkan Yudis menikmati tubuhnya untuk sebentar saja.

“Cantik banget kalo kayak gini,” Yudis menyapu bibir Arjuna dengan lidahnya. “Mau makan Juna malam ini, boleh?”

“Nggak.” Arjuna yang sudah bisa bergerak lagi langsung mendorong kepala Yudis ke belakang. Temannya itu langsung terjungkal, jatuh ke lantai dengan pose bintang laut. “Sialan, aji mumpung banget kalian pas gue lagi lemes.”

“Lagian Mas Juna nggak pernah mau disayang!” Bima manyun. 

Bima ada benarnya. Selama ini Arjuna tidak pernah mau dimanja kecuali saat ia membutuhkan tenaga tambahan, tapi itu bukan tanpa alasan. Kalau ada yang melihatnya bercumbu brutal seperti itu, bisa-bisa ia langsung dicap jadi orang gila.

“Jangan lupa ya, kalian itu nggak keliatan!” Arjuna menunjuk-nunjuk. “Gue kayak orang mesum sendirian kalo kita lagi main tau!”

“Yaelah, biarin aja sih,” Yudis menimpali, senyumannya usil. Bima wajahnya malah semakin merah. “Kali mereka exhibitionist.”

“Ah, males debat sama kalian!”

Notes:

Maaf ya gaes endingnya tiba-tiba, soalnya penulis lagi penat sedikit hehe ( ;∀;)