Chapter Text
Teruntuk Arjuna dan Nakula, yang terus hidup dalam masa kejayaan yang berhasil mereka perjuangkan.
Musim penghujan datang lebih awal tahun itu.
Langit di atas Kota Adhiraja telah menggelap sejak siang. Awan-awan kelabu menggantung rendah di antara gedung pemerintahan dan deretan pertokoan tua yang memenuhi Jalan Aryamanggala. Sesekali kilat membelah cakrawala, disusul gemuruh yang mengguncang kaca-kaca jendela. Hujan turun tanpa ampun, membasahi jalan berbatu, papan reklame, tiang lampu, dan lambang Pohon Hayat yang terukir di berbagai sudut kota.
Air mengalir memenuhi selokan, membawa lembaran surat kabar yang terlepas dari ikatannya. Sebagian halaman menampilkan pidato Perdana Menteri Wirangga Cakrawangsa. Sebagian lainnya memuat berita hilangnya seorang aktivis mahasiswa di Kota Mandaraka tiga hari sebelumnya. Tak ada yang tahu apakah kedua berita itu saling berkaitan atau tidak.
Di tengah hujan yang mengguyur kota, sebuah sedan hitam berhenti di depan sebuah toko surat kabar dan majalah yang berdiri di sudut jalan. Tulisan emas di atas kanopinya telah memudar dimakan usia.
Taman Bacaan Tirta Aksara.
Pintu mobil pun terbuka. Seorang pria turun sambil memegang map kulit coklat tua di bawah lengannya. Mantel panjang yang dikenakannya segera terkena tempias hujan ketika ia berlari kecil menuju teras toko. Begitu masuk, lonceng kuningan di atas pintu berdenting pelan. Suara hujan langsung meredup, tergantikan aroma kertas, tinta, dan kayu jati tua.
Ruangan itu tidak besar. Rak-rak tinggi memenuhi dinding dari ujung ke ujung. Surat kabar dari berbagai daerah digantung berjajar menggunakan penjepit bambu, sementara majalah-majalah bulanan ditata rapi di meja tengah. Di sudut ruangan, sebuah radio tua memutar lagu keroncong dengan volume kecil.
Pria itu menepuk-nepuk bahunya yang basah. Lalu, sepasang matanya tertuju pada seseorang yang sedang duduk di balik meja kasir.
"Selamat sore, Tuan."
Suara itu terdengar menyapanya terlebih dahulu.
Nakula Nalendra, pria yang baru saja memasuki toko itu, mengangguk kecil membalas sapaan sosok itu.
Pria muda di balik meja itu tampak sebaya dengan mahasiswa tingkat akhir, mungkin sedikit lebih tua. Rambut hitamnya yang sedikit panjang jatuh rapi hingga tengkuk, sementara sepasang mata kelabunya menatapnya dengan tenang dari balik tumpukan naskah dan majalah. Ada pena yang terselip di saku kemejanya. Beberapa noda tinta menghiasi jemari putihnya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya lagi.
Nakula tersadar bahwa ia terlalu lama memperhatikan pemuda dengan paras, yang harus ia akui, cantik itu. Ia lantas melempar senyum tipis seraya berjalan mendekat. "Saya mencari beberapa surat kabar lama."
"Tuan mencari dari daerah mana?"
"Saya mencari dari Mandaraka. Kalau ada, mungkin juga dari wilayah Jayadrata bagian utara."
Pria muda itu mengangguk pelan.
"Mohon tunggu sebentar."
Ia menutup buku catatan yang sejak tadi terbuka di atas meja kasir, lalu berdiri dari kursinya. Cahaya temaram dari lampu gantung memantul pada rambut hitamnya ketika ia berjalan menuju rak-rak di bagian belakang toko. Lantai kayu berderit pelan di bawah langkahnya.
Nakula baru menyadari bahwa toko itu jauh lebih besar daripada yang terlihat dari luar. Rak-rak tinggi berjajar hingga mendekati langit-langit, dipenuhi surat kabar dari berbagai kota di Jagat Maya. Sebagian digulung dan diikat menggunakan tali rami, sebagian lain ditumpuk berdasarkan tanggal terbit. Aroma kertas tua dan tinta cetak memenuhi udara, bercampur dengan wangi teh melati yang entah berasal dari mana.
Ia alihkan pandangannya ke luar jendela. Di luar jendela, hujan masih mengguyur Jalan Aryamanggala tanpa ampun. Seorang tukang becak terlihat berteduh di bawah pohon trembesi. Beberapa orang berlarian menyeberangi jalan sambil menutupi kepala dengan tas atau koran. Sementara itu, di dalam toko kecil ini, waktu terasa berjalan lebih lambat. Seolah dunia luar dan dunia di dalam ruangan dipisahkan oleh tirai hujan yang tebal.
Tak lama kemudian, pemuda itu kembali. Di tangannya terdapat setumpuk surat kabar yang terlihat cukup berat. Ia kemudian meletakkannya di atas meja satu per satu.
"Harian Jagat edisi minggu lalu."
Suara kertas bergesekan terdengar lembut.
"Warta Jagat."
Satu lagi ditumpuk di atasnya.
"JagatPost.com."
Dan yang terakhir, ia mengangkat sebuah koran dengan sudut-sudut yang mulai menguning dimakan usia.
"Suara Jayadrata."
Nakula mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan terkejut. Ia mengambil koran tersebut dan membalik halamannya perlahan. "Saya kira koran ini sudah tidak dicetak lagi."
Pria muda itu tersenyum tipis melihat kilau antusias di manik secerah biru langit milik Nakula.
"Koran ini masih dicetak." Senyum yang tergurat di wajah itu lebih terlihat dari lengkungan matanya dibandingkan bibirnya. "Memang hanya saja tidak sebanyak dulu dan tidak di semua lokasi ada. Jadi, banyak orang tidak mengetahuinya."
Nakula menggumam pelan sebagai jawaban. Kertas koran itu terasa kasar di ujung jarinya. Halamannya dipenuhi berita yang sudah terlalu sering ia baca dalam berbagai bentuk.
Korupsi.
Penyalahgunaan dana pembangunan.
Demonstrasi mahasiswa.
Aktivis yang hilang.
Harga kebutuhan pokok yang terus naik.
Dan di sela-sela semuanya, pidato-pidato pejabat yang mengklaim keadaan negara baik-baik saja menjadi kontras bagi siapapun yang membacanya.
Nakula membalik halaman demi halaman, sampai akhirnya pandangannya berhenti pada sebuah kolom opini yang diselipkan di sudut kanan bawah halaman ketiga. Tidak ada nama penulis yang tercantum. Hanya beberapa paragraf pendek yang membahas kenaikan harga beras di wilayah pedalaman Jayadrata dan dampaknya terhadap para petani kecil.
Sekilas memang tidak ada yang istimewa. Namun semakin lama ia membaca, semakin jelas ketajaman yang tersembunyi di balik setiap kalimatnya. Penulis itu tidak pernah secara langsung menyalahkan pemerintah, ataupun menyebut nama pejabat tertentu. Sang penulis tidak pernah mengucapkan satupun kata yang dapat dijadikan alasan untuk menangkapnya.
Namun, justru tulisannya terasa begitu berbahaya karena setiap kalimat seolah mengajak pembaca menyimpulkan sendiri hal-hal yang tidak berani diucapkan secara lantang. Nakula tanpa sadar membaca ulang paragraf terakhir untuk kedua kalinya.
Kemudian ketiga kalinya.
"Tuan suka membaca berita politik?"
Suara yang tenang itu membuyarkan perhatiannya. Ia mengangkat kepala dari lembaran koran dan mengalihkan atensinya kembali ke pria di hadapannya.
Sosok yang tadi mengambilkan surat kabar untuknya kini telah kembali ke balik meja kasir. Di hadapannya terdapat sebuah buku catatan yang terbuka, beberapa lembar kertas yang dipenuhi coretan tinta, serta secangkir teh yang tampaknya sudah mulai dingin.
Ia menatap Nakula masih dengan senyum di matanya dan siku kirinya kini menopang dagu. Sementara jemari tangan kanannya memainkan sebuah pena hitam dengan gerakan yang luwes seolah terbiasa.
"Saya bekerja di bidang yang mengharuskan saya banyak membacanya," jawab Nakula ringan sambil melipat koran itu kembali.
"Jurnalis?"
Pertanyaan itu dilontarkan begitu saja, tetapi entah mengapa membuat Nakula tersenyum tipis. "Bukan."
Ia mendudukan dirinya pada kursi kayu di dekat rak. "Saya seorang detektif."
Pena yang berputar di antara jemari pria itu berhenti. Untuk pertama kalinya sejak Nakula memasuki toko tersebut, ekspresi terkejut tampak jelas di wajahnya. Nada suaranya pun terdengar sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. "Detektif?"
"Azure Investigation Co."
"Oh?"
Hanya satu kata sederhana, namun cara pria itu mengucapkannya membuat Nakula terkekeh pelan. Ia sudah cukup lama berada di profesi ini untuk melihat berbagai macam reaksi ketika ia memperkenalkan dirinya. Ada yang langsung antusias, ada yang curiga, ada pula yang mendadak gugup karena takut menyimpan sesuatu yang seharusnya tidak diketahui seorang detektif.
Reaksi pria ini justru terasa berbeda, lebih menyerupai rasa penasaran.
"Saya pernah mendengar nama itu," katanya setelah beberapa saat terdiam.
"Semoga bukan dari halaman kriminal."
"Hm, saya rasa bukan." Sepasang netra kelabu itu sedikit menyipit karena menahan senyum. "Kalau yang saya dengar benar, pemimpin dari Azure Investigation Co. adalah sosok yang berhasil mengungkap kasus penyelundupan artefak di Pelabuhan Raja tahun lalu. Apakah benar?"
Nakula menghela napas dan lanjut menjawab, "Surat kabar benar-benar suka membesar-besarkan cerita."
"Berarti kabar itu tidak benar?"
"Oh, kasusnya benar." Nakula mengedikkan bahunya singkat. "Yang dilebih-lebihkan adalah bagian ketika mereka menulis seolah saya memecahkan semuanya sendirian."
Pria itu terkekeh pelan mendengar jawabannya. Suara tawanya tidak keras, nyaris tenggelam di antara bunyi hujan yang memukul atap dan dengung radio tua yang mengalunkan lagu keroncong dari sudut ruangan. Namun entah mengapa, suara itu membuat suasana toko terasa sedikit lebih hangat daripada sebelumnya.
Nakula tidak bisa mengingat kapan terakhir kali ia menikmati percakapan dengan orang asing seperti ini. Pekerjaannya membuat ia bertemu banyak orang setiap hari, tetapi sebagian besar pertemuan itu selalu diawali oleh sesuatu yang buruk. Orang-orang banyak mendatanginya setelah kehilangan anggota keluarga, menjadi korban penipuan, atau kebobolan pencuri.
Bahkan ketika berhadapan dengan para pejabat dan pengusaha terpandang, percakapan yang terjadi jarang sekali benar-benar jujur. Selalu ada sesuatu yang disembunyikan di balik senyum sopan dan jabatan yang mereka sandang. Karena itulah, percakapan ringan di sebuah toko surat kabar pada sore yang diguyur hujan terasa begitu asing baginya.
Ia sama sekali tidak membencinya. Entahlah. Barangkali kerlipan cahaya yang seakan muncul di mata lawan bicaranya itu terlalu mempesona untuk dilewatkan, atau karena cara pria itu secara seksama mendengarkan dirinya sedikit menggugah hati dan pikirannya.
Ia tidak terburu-buru menyela, tidak pula berusaha mengarahkan pembicaraan ke topik yang diinginkannya. Ia hanya mendengarkan dengan penuh perhatian, seolah setiap jawaban yang diberikan Nakula memang menarik untuk didengar.
Suasana hujan juga entah bagaimana mungkin sedikit mempengaruhinya.
Ada sesuatu tentang hujan yang membuat orang lebih mudah membuka diri. Tirai air yang jatuh dari langit seakan memisahkan dunia luar dari ruang kecil tempat mereka berada sekarang, membuat waktu bergerak sedikit lebih lambat dan percakapan mengalir sedikit lebih mudah.
"Kalau boleh tahu," tanya Nakula sambil melipat koran di tangannya, "Tuan ini sudah bekerja di sini berapa lama?"
"Hampir dua tahun."
"Dua tahun?"
Pria itu mengangguk. Pandangannya sempat beralih ke rak-rak buku di belakangnya, seolah sedang menghitung kembali rentang waktu yang telah berlalu, sebelum akhirnya kembali kepada Nakula. "Sebelumnya saya membantu di tempat lain."
"Sebagai penjaga toko juga?"
Kali ini jawaban tidak langsung datang.
Jeda yang muncul sebenarnya singkat, hanya beberapa detik, tetapi cukup untuk menarik perhatian Nakula. Dalam pekerjaannya, ia terbiasa memperhatikan hal-hal kecil. Perubahan nada suara, arah pandangan mata, atau jeda sepersekian detik sebelum seseorang menjawab pertanyaan.
Saat itu, ia tahu pria di depannya sedang mempertimbangkan sesuatu, barangkali ia sedang memilih bagian mana dari dirinya yang pantas dibagikan kepada orang asing yang baru dikenalnya kurang dari satu jam.
"Yah, bisa dikatakan saya adalah seorang penulis."
Pada akhirnya, hanya itu yang ia katakan. Namun, Nakula merasa jawaban itu menyimpan lebih banyak hal daripada yang diucapkan.
Ia pernah mengenal beberapa penulis terkenal. Sebagian besar dari mereka gemar membicarakan karya sendiri. Mereka akan menyebut judul buku, nama penerbit, jumlah cetakan, penghargaan yang pernah diraih, atau setidaknya topik yang sedang mereka tulis.
Pria ini tidak melakukan semua itu. Ia hanya mengatakan bahwa dirinya menulis, membiarkan kalimat tersebut berhenti di sana dan menggantung di antara mereka seperti halaman buku yang belum selesai dibuka.
Tanpa sadar, pandangan Nakula beralih ke belakang meja kasir.
Baru sekarang ia memperhatikan rak yang menempati hampir seluruh sisi dinding di belakang pria itu. Tidak seperti rak-rak lain yang dipenuhi surat kabar harian dan majalah populer, rak tersebut berisi kumpulan puisi, jurnal budaya, naskah drama, esai politik, hingga sejumlah buku sastra yang bahkan sulit ditemukan di toko buku besar.
Beberapa sampulnya tampak kusam karena terlalu sering disentuh. Ada halaman yang sudutnya terlipat. Ada pula buku-buku yang dipenuhi secarik kertas kecil sebagai penanda.
"Apakah Tuan ini menyukai suka sastra?" tanyanya.
Pria itu mengikuti arah pandang Nakula, lalu tersenyum kecil ketika menyadari apa yang sedang diperhatikan. "Lebih tepatnya, saya menyukai pemikiran orang-orang berani yang menulis karya-karya ini."
Jawaban itu membuat Nakula mengangkat sebelah alis. "Meskipun itu berbahaya?"
Ia tidak tahu mengapa pertanyaan itu keluar begitu saja. Mungkin karena beberapa tahun terakhir ia terlalu sering menyaksikan bagaimana nasib orang-orang yang memilih berbicara lebih keras daripada yang diperbolehkan negara.
Jurnalis yang ditemukan tewas di pinggir jalan.
Aktivis yang hilang tanpa kabar.
Mahasiswa yang mendadak ditangkap karena tulisan atau pidato mereka.
Negara ini memiliki berbagai cara yang sangat efektif untuk membungkam suara-suara yang dianggap mengganggu. Namun, pria di depannya tampaknya mengetahui semua itu dan tetap tidak gentar. "Justru itu."
Nakula terdiam selama beberapa saat. Di luar jendela, hujan masih turun membasahi jalan-jalan Kota Adhiraja. Air mengalir di sepanjang trotoar, membawa daun-daun kering menuju selokan yang bermuara ke Sungai Sarita.
Sementara itu, di dalam toko kecil yang dipenuhi aroma kertas, tinta, dan kayu tua ini, pria di hadapannya tampak tenang. Namun di balik ketenangan itu terdapat keyakinan yang mengingatkannya pada nyala lampu minyak saat malam hari. Tidak cukup terang untuk menarik perhatian seluruh kota, tetapi cukup kuat untuk terus menyala meski diterpa angin.
Keyakinan semacam itu jarang ditemukan dan justru seringkali berakhir membawa pemiliknya menuju masalah. Anehnya, hal itu justru membuat Nakula semakin ingin mengenal sosok di hadapannya.
"Ngomong-ngomong." Pria muda itu memutar penanya sekali sebelum meletakkannya di atas meja. "Saya belum tahu nama Tuan."
Baru saja Nakula berpikir demikian, pemuda itu sudah mengajak berkenalan terlebih dahulu. Mereka sudah berbicara cukup lama hingga ia bahkan lupa bahwa mereka masih orang asing. Ia pun terkekeh pelan dan mengulurkan tangan.
"Nakula Nalendra."
Pria itu menerima uluran tangannya. Telapak tangannya hangat, dengan kapalan tipis di ruas jari yang biasanya hanya dimiliki orang-orang yang terlalu sering menulis.
"Arjuna." Matanya sedikit menyipit karena senyum. "Arjuna Arkana."
Nakula menggumamkan nama itu dalam hati.
Arjuna.
Nama yang bagus. Terdengar seperti nama pahlawan hebat dalam kisah-kisah lama yang sering dibacakan neneknya saat ia masih kecil.
"Senang bertemu denganmu, Tuan Nakula."
"Ah, tidak perlu terlalu formal. Kalau terus memanggil saya Tuan, saya akan merasa jauh lebih tua daripada usia saya sebenarnya."
Tawa kecil lolos dari bibir Arjuna. "Tetapi saya menyukainya.”
Ada kilatan jahil yang muncul sesaat di matanya ketika Arjuna mengatakan hal tersebut.
Suara hujan yang mengguyur lebih deras, membuat percakapan mereka terhenti sejenak. Air menghantam kanopi di luar toko dengan suara berisik yang nyaris menenggelamkan lagu dari radio tua di sudut ruangan.
Arjuna menoleh ke arah jendela, lalu berkata seolah baru menyadari sesuatu. "Ngomong-ngomong, Tuan bukan orang Adhiraja, ya?"
Nakula tersenyum sedikit malu. "Kentara sekali, kah?"
"Iya, logatnya terdengar khas." Arjuna menunjuk dirinya sendiri dengan ujung pena. "Saya cukup sering mendengarnya. Tetapi, saya tidak bisa secara tepat mengingat dari mana logat tersebut berasal.”
Nakula tertawa kecil. "Banyak orang dari kampung halaman saya pergi merantau. Tuan mungkin menjumpai salah satu dari mereka. Saya berasal dari pesisir Jaladri."
Sepasang manik silver Arjuna langsung berbinar. Pesisir memang selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang tumbuh jauh dari laut. "Oh, wilayah pesisir..."
"Iya, benar."
Nakula menyandarkan punggungnya pada kursi. Ia mendapati dirinya berbicara panjang lebar mengenai kampung halamannya. Ia berbcerita tentang desa-desa nelayan yang berjajar di sepanjang garis pantai. Ia bercerita soal perahu-perahu kayu yang berangkat sebelum matahari terbit dan kembali saat langit mulai berubah keemasan. Ia bercerita bagaimana anak-anak yang berlarian tanpa alas kaki di tepi pantai, hingga aroma garam laut menempel pada pakaian bahkan setelah dicuci berkali-kali.
Ia juga bercerita tentang hamparan samudra biru yang membentang sejauh mata memandang.
Arjuna mendengarkan semuanya dengan saksama. Ia sesekali tersenyum dan mengajukan pertanyaan. Barangkali, pemuda manis itu tengah membayangkan pemandangan yang belum pernah dilihatnya sendiri.
"Lautnya benar-benar sebiru itu?" tanyanya suatu ketika.
"Iya. Itu warna yang benar-benar tidak akan pernah Tuan jumpai kecuali Tuan melihatnya secara langsung." Nakula menjawab rasa penasaran pria itu sambil tertawa. "Kami juga punya sesuatu yang lebih indah."
Arjuna memiringkan kepalanya, seakan mendorong Nakula untuk menceritakan lebih. Pemuda bersurai biru itu pun menunjuk ke arah jendela yang dipenuhi tetesan hujan. "Pada malam tertentu, laut akan bercahaya."
"Bercahaya?"
"Bioluminesens."
Arjuna mengulang kata itu perlahan, seolah sedang mengecap bunyinya. "Uh huh, seperti apa itu?"
Nakula terdiam sesaat, mencoba mencari cara menjelaskan sesuatu yang bahkan penduduk kampung halamannya sendiri sering kesulitan gambarkan dengan kata-kata. "Lautnya akan berubah seakan ribuan bintang jatuh ke air."
Ruangan itu mendadak terasa sunyi, bahkan suara radio tua di sudut toko seolah menjauh. Arjuna memandang keluar jendela, ke arah hujan yang masih turun di atas jalanan Kota Adhiraja. Ia seakan sedang mencoba membayangkan lautan yang belum pernah ia lihat, membayangkan cahaya-cahaya biru yang menari di atas ombak.
Senyum kecil terulas di paras ayunya. "Saya ingin melihatnya suatu hari nanti, bioluminesens itu yang Tuan ceritakan itu."
Kalimat itu diucapkan begitu saja. Namun, Nakula menjawab lebih cepat daripada yang sempat ia pikirkan. "Kalau begitu saya akan mengajakmu melihat-lihat."
Begitu kata-kata itu keluar, ia langsung menyadari betapa anehnya ajakan tersebut. Mereka baru saja saling mengenal hari ini. Namun, sudah terdengar seperti dua sahabat lama yang sedang membuat janji.
Arjuna tampaknya menyadari hal yang sama. Ia menatap Nakula selama beberapa detik, lalu tergelak lepas. "Tuan baru mengenal saya kurang dari satu jam dan sudah mengajak saya pergi ke ujung negeri."
Nakula ikut tertawa.
"Kalau begitu anggap saja saya sedang merencanakan masa depan."
Hujan masih turun sesekali di kota besar itu, tetapi tidak lagi seintens beberapa pekan lalu ketika Nakula pertama kali berteduh di toko surat kabar kecil milik pria bernama Arjuna Arkana. Langit kini lebih sering dihiasi awan putih tipis yang berarak lambat di atas atap-atap bangunan tua, sementara matahari sore memantulkan cahaya keemasan pada kubah-kubah gedung pemerintahan dan jendela-jendela tinggi pertokoan di pusat kota.
Kehidupan di ibu kota tetap berjalan seperti biasa.
Pedagang kaki lima memenuhi trotoar menjelang senja. Kereta kuda dan kendaraan bermotor saling berebut jalan. Para pegawai negeri bergegas pulang dengan map-map tebal di bawah lengan mereka. Di alun-alun pusat kota, spanduk-spanduk baru berisi slogan pembangunan dipasang hampir setiap minggu, sementara surat kabar terus memberitakan kemajuan ekonomi yang konon membuat Jagat Maya semakin makmur dari hari ke hari.
Setidaknya itulah yang tertulis di halaman depan. Nakula sudah cukup lama bekerja sebagai detektif untuk percaya begitu saja pada apa yang tercetak di atas kertas. Namun, memang ada satu hal yang memang berubah dalam beberapa minggu terakhir. Ia mulai sering mengunjungi toko surat kabar di Jalan Aryamanggala. Awalnya memang karena kebutuhan pekerjaan, namun kini ia pergi ke sana karena memang ingin saja.
Kawasan itu memang berada tidak jauh dari lokasi investigasi yang sedang ditanganinya. Beberapa aktivis dan jurnalis yang menghilang terakhir kali terlihat di sekitar distrik perdagangan lama, dan toko itu menjadi tempat yang cukup nyaman untuk beristirahat sambil membaca koran sebelum melanjutkan penyelidikan. Namun, alasan tersebut perlahan terasa semakin lemah setiap kali ia mendapati dirinya tetap datang bahkan ketika tidak ada pekerjaan di daerah itu.
Sore itu, ketika lonceng kuningan di atas pintu kembali berdenting pelan, aroma khas kertas, tinta, dan teh melati yang familiar menyambut dari balik rak-rak buku. Nakula melangkah masuk dan seperti yang sudah diduganya, Arjuna berada di sana. Pria muda itu duduk di belakang meja kasir dengan kepala sedikit tertunduk. Cahaya senja yang masuk dari jendela depan jatuh tepat di atas meja kerjanya, menerangi tumpukan kertas yang berserakan di sekelilingnya.
Tangannya bergerak cepat di atas halaman. Pena hitam yang biasa digunakan menari lincah dari satu baris ke baris berikutnya. Pria itu begitu fokus hingga tidak menyadari kedatangan Nakula. Untuk sesaat, Nakula tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri di dekat rak majalah sambil memperhatikannya. Ada sesuatu yang menenangkan dari pemandangan itu.
Mungkin karena hampir setiap hari pekerjaannya memperlihatkan sisi terburuk manusia. Sedangkan di sini, di antara aroma buku dan suara halaman yang dibalik, dunia terasa sedikit lebih sederhana.
Beberapa menit kemudian Arjuna mengangkat kepalanya. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menyadari siapa yang berdiri tidak jauh darinya. Senyum kecil pun terulas manis di wajahnya. "Selamat sore, Tuan Nakula."
"Nah, saya kira kita sudah sepakat untuk menghilangkan kata 'Tuan' itu."
Arjuna tertawa pelan. "Tapi saya senang melihat Tuan mengeluh setiap kali saya mengatakannya."
Nakula menggelengkan kepala sambil mengulum senyum. Ia lantas mengambil sebuah koran dari rak terdekat dan duduk di kursi kayu yang biasa ditempatinya. Mereka pun mulai mengobrol seperti biasa tentang banyak hal.
Di luar jendela, matahari mulai turun mendekati cakrawala. Cahaya jingga memenuhi jalanan dan bayang-bayang memanjang berjajar di atas batu-batu trotoar yang masih menyimpan sisa kelembapan hujan siang tadi. Arjuna akhirnya meletakkan penanya dan meregangkan bahu. Ekspresi lelah sekilas muncul di wajahnya.
"Kau terlihat seperti belum beristirahat sejak pagi,” komentar Nakula.
Arjuna memijat pangkal hidungnya sejenak. "Mungkin karena memang belum."
"Sudah makan siang?"
"Saya lupa."
Nakula menatapnya selama beberapa saat, lalu berdecak beberapa kali sambil menyandarkan punggung ke kursi yang didudukinya. "Saya mulai mengerti mengapa para penulis sering digambarkan menyedihkan dalam novel."
Arjuna mendengus pelan. "Tuan mengejek saya?"
"Bukan ejekan. Ini adalah kesimpulan yang diambil setelah serangkaian pengamatan atas kejadian yang berulang."
Tawa kecil lolos dari bibir mungil Arjuna. Hal itu membuat Nakula lagi-lagi harus menahan senyumnya. Sepasang netra biru miliknya melirik ke arah jendela. Ia dapat melihat lampu-lampu pertokoan sudah mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya kuning hangat ke atas aspal yang masih basah. Ia pun melirik jam tangannya dan menyadari kalau saat ini sudah lewat waktu makan malam.
"Lebih baik kau menutup tokomu sekarang, Jun. Saya akan traktir makan malam."
"Hm? Seorang detektif terkenal tiba-tiba mengajak saya makan malam. Biasanya dalam cerita seperti itu, orang yang diajak makan berakhir menjadi tersangka."
Nakula menggelengkan kepala sambil tertawa. "Astaga, kau dan imajinasimu itu. Rasanya seperti kau tidak pernah berhenti menulis, bahkan ketika berbicara."
Arjuna tampak hendak membalas, tetapi akhirnya hanya mengangkat bahu kecil. "Mungkin saja. Senjata seorang penulis adalah kata-katanya. Saya harus tetap mengasahnya supaya tetap tajam."
"Kalau begitu cepat bereskan pekerjaanmu sebelum saya berubah pikiran."
"Ancaman yang sangat tidak elegan, Tuan Nakula."
"Tapi cukup efektif, bukan?"
Tawa Arjuna kembali mengisi ruangan itu. Beberapa menit kemudian, pemuda itu mulai membereskan meja kerjanya. Tidak banyak orang yang pernah melihat seorang penulis bekerja dari dekat. Nakula pun sebenarnya tidak pernah terlalu memerhatikan hal semacam itu sebelumnya. Namun entah mengapa, sore itu pandangannya terus mengikuti setiap gerakan Arjuna.
Pria muda itu mengumpulkan lembaran-lembaran kertas yang tersebar di meja, menyusunnya menjadi satu tumpukan rapi, lalu membacanya kembali halaman demi halaman. Sesekali ujung penanya bergerak menambahkan beberapa kata di pinggir naskah. Sesekali ia mencoret satu kalimat lalu menggantinya dengan kalimat lain.
Ketika akhirnya selesai, Arjuna mengetukkan ujung naskah ke permukaan meja untuk merapikan halaman-halamannya, lalu melipat seluruh manuskrip itu dan memasukkannya ke dalam sebuah amplop coklat. Nakula yang berdiri di dekat pintu sebenarnya tidak berniat mengintip. Namun, saat Arjuna mengambil pena dan mulai menulis sesuatu di bagian depan amplop, pandangannya tanpa sengaja jatuh pada nama yang perlahan terbentuk oleh tinta hitam itu.
Dananjaya.
Jemari Nakula yang sedang membetulkan manset jasnya berhenti di udara. Untuk sesaat, ia mengira dirinya salah baca. Namun, ketika Arjuna memiringkan amplop itu sedikit ke arah cahaya lampu, nama tersebut tetap berada di sana, ditulis dengan tinta hitam yang masih basah.
Dananjaya.
Nama yang belakangan ini semakin sering ia jumpai dalam pekerjaannya. Nama yang muncul di halaman-halaman opini berbagai penerbit kecil yang masih berani menyinggung keadaan negara. Nama yang beredar dari tangan ke tangan dikalangan aktivis dan mahasiswa dan dicetak ulang secara diam-diam oleh kelompok-kelompok diskusi yang mulai bermunculan di berbagai sudut Kota Adhiraja.
Dananjaya menulis tentang musim kemarau yang terlalu panjang, tetapi semua orang tahu ia sedang membicarakan keserakahan para penguasa yang terus menimbun air sementara rakyat dibiarkan kehausan.
Ia menulis tentang sebuah istana yang sibuk mengecat ulang dindingnya setiap tahun, tetapi fondasinya perlahan retak dan tenggelam ke dalam tanah.
Ia menulis tentang taman yang tampak indah dari kejauhan, sementara akar-akar busuk di bawahnya perlahan membunuh seluruh pohon yang ada di sana.
Dalam salah satu esainya yang paling terkenal, ia bahkan menulis tentang seekor singa yang gemar memamerkan kehebatannya kepada seluruh hutan sambil mengklaim dirinya sebagai raja hutan, padahal para hewan kecil di bawah kakinya mati terinjak satu per satu.
Dananjaya tidak menulis tentang revolusi atau pemberontakan secara tersurat. Ia mengambil penanya untuk bercerita tentang lentera yang tetap menyala meski diterpa badai, tentang benih yang terkubur selama bertahun-tahun sebelum akhirnya memecah tanah, dan tentang sungai yang terus mengalir diam-diam hingga suatu hari mampu merobohkan bendungan batu yang membendungnya.
Ia tak pernah secara gamblang menyebut nama ataupun menyudutkan pihak tertentu. Tidak ada tuduhan terhadapnya yang bisa dibuktikan. Namun, setiap orang yang membaca setiap tulisannya pulang dengan pemikiran yang tidak sama seperti saat mereka membuka halaman pertama.
Alasan itulah yang membuat banyak pejabat membencinya. Sebab pedang dapat dipatahkan, tetapi gagasan yang telah hidup di kepala ribuan orang jauh lebih sulit untuk dibungkam. Di tangan Dananjaya, setiap bait terasa seperti kritik yang dibungkus begitu indah hingga nyaris tidak terlihat sebagai kritik sama sekali.
Selama berbulan-bulan Nakula sempat bertanya-tanya siapa sosok di balik nama tersebut. Ia pernah menduga seorang profesor atau mungkin seorang jurnalis senior. Pernah pula menduga bahwa Dananjaya sebenarnya adalah nama samaran yang digunakan oleh beberapa penulis sekaligus. Namun, ia tidak pernah membayangkan bahwa orang yang selama ini dicarinya ternyata adalah pria yang beberapa minggu terakhir menghabiskan sore bersamanya sambil membicarakan buku, hujan, dan laut.
"Kau mengenal Dananjaya?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja sebelum sempat dipikirkan. Arjuna yang sedang meniup tinta di atas amplopnya menghentikan gerakannya, lalu mengikuti arah pandangan Nakula menuju nama yang baru saja ia tulis di permukaan kertas coklat itu. Beberapa detik berlalu sebelum sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Saya mengenalnya cukup baik. Sangat baik, sebenarnya."
Ia menutup pena lalu mengangkat amplop itu sedikit.
"Karena saya adalah Dananjaya."
Untuk sesaat suara jalanan di luar seakan menjauh. Dentang trem yang melintas di ujung jalan, seruan para pedagang, dan lagu keroncong yang mengalun samar dari radio tua di sudut toko tenggelam di balik kalimat itu.
Nakula hanya menatapnya beberapa saat sebelum menghembuskan napas panjang. "Tentu saja."
Arjuna mengangkat sebelah alisnya. "Tentu saja?"
"Tentu saja itu dirimu."
"Saya tidak yakin apakah itu pujian atau ejekan."
Nakula menggeleng sambil tertawa pelan. "Saya juga tidak yakin, yang jelas saya merasa sedikit bodoh. Karena jika dipikirkan kembali, ternyata petunjuknya ada di mana-mana."
Ia menunjuk rak buku di belakang meja kasir.
"Sastra."
Lalu pada tumpukan manuskrip yang belum sempat dibereskan.
"Artikel."
Dan akhirnya kembali menunjuk Arjuna.
"Seorang pria yang menganggap menulis kebenaran lebih penting daripada apapun."
Arjuna terkekeh pelan. Ada sesuatu yang tampak lebih ringan di wajahnya kali ini, seolah sebuah beban yang selama ini disembunyikan akhirnya boleh diletakkan untuk sesaat. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka berkenalan, Nakula merasa sedang berbicara dengan Arjuna Arkana yang sesungguhnya, bukan sekadar bagian-bagian dirinya yang biasa ia perlihatkan kepada dunia.
Mereka meninggalkan toko tidak lama kemudian.
Malam telah turun sepenuhnya ketika keduanya berjalan menyusuri tepian Sungai Sarita. Lampu-lampu jalan memantul di permukaan air yang gelap, pecah menjadi serpihan cahaya mengikuti arus yang bergerak perlahan menuju laut. Di sepanjang trotoar, para pedagang mulai memenuhi sisi jalan. Sayup-sayup ia dapat mendengar sebuah siaran berita malam dari sebuah angkringan di sudut jalan, sementara sekelompok mahasiswa di bawah halte berdebat pelan mengenai sesuatu dengan suara pelan.
Kota Adhiraja selalu terasa berbeda setelah matahari terbenam. Pada siang hari kota itu milik kementerian, kantor pemerintahan, dan orang-orang yang mengenakan jas mahal. Namun ketika malam datang, jalan-jalan kembali dipenuhi penjual makanan, buruh yang baru pulang kerja, dan mahasiswa yang belum ingin kembali ke kos. Termasuk juga di dalamnya sepasang detektif dan penulis yang kini asyik menelusuri kios pedagang untuk mencari makan malam.
Mereka akhirnya memilih sebuah warung nasi liwet di bawah pohon beringin tua yang tumbuh di tepi sungai. Akar-akarnya menjulur hingga menonjol ke permukaan jalan, sementara sebuah lampu gantung bergoyang pelan diterpa angin malam. Begitu pesanan datang dan dua gelas wedang teh diletakkan di atas meja, percakapan di antara mereka pun terhenti sejenak.
Barulah setelah selesai makan, Nakula kembali bertanya, "Jadi, bagaimana seorang penulis terkenal berakhir menjaga toko surat kabar?"
Pertanyaan itu membuat senyum tipis di wajah Arjuna memudar. Bukan karena tersinggung, melainkan karena pertanyaan tersebut tampaknya membuka sebuah pintu yang selama ini sengaja ia tutup rapat. Ia menunduk menatap uap yang mengepul dari permukaan wedang tehnya. Di sekitar mereka, suara pelanggan lain, denting peralatan makan, dan gemericik sungai terus terdengar, namun Arjuna tetap diam cukup lama hingga Nakula hampir mengira ia tidak akan menjawab.
Ketika akhirnya berbicara, suaranya jauh lebih pelan daripada biasanya.
"Dua tahun lalu, saya masih bekerja di Delik."
Nakula langsung mengenali nama itu. Delik adalah salah satu majalah politik paling berpengaruh di Jagat Maya. Majalah itu dicintai baik aktivis maupun mahasiswa, dibenci pejabat, dan berkali-kali nyaris dibungkam sebelum berhasil terbit kembali.
"Saya kira Delik sekarang dikelola keluarga Surianata."
"Sekarang pun masih."
Arjuna tersenyum tipis, tetapi matanya tetap tertuju pada aliran Sungai Sarita yang bergerak tenang dalam gelap. "Ayah saya merupakan pendirinya. Kini, Paman saya yang melanjutkannya."
Pria muda itu memilih untuk memandangi sungai. Seolah sebagian dirinya sedang berada jauh di tempat lain.
"Keluarga saya memiliki beberapa percetakan besar di Adhiraja," katanya akhirnya. "Surat kabar, majalah, rumah penerbitan. Delik adalah salah satunya."
"Menurut rencana keluarga, saya seharusnya menjadi penerus." Senyum tipis muncul di wajahnya. "Saya harus belajar bisnis dan mengelola perusahaan, harus menikah dengan seseorang yang dianggap tepat. Intinya, saya diharapkan menjalani hidup yang sudah direncanakan sejak lahir."
"Tetapi, dirimu tidak melakukannya."
"Oh, saya mencoba."
Jawaban itu membuat Nakula sedikit terkejut. Arjuna pun tertawa pelan melihat reaksi tersebut. "Sungguh. Saya mencoba."
Ia mengangkat gelasnya lalu memutarnya perlahan di antara kedua telapak tangan. "Tetapi semakin banyak saya melihat dunia di luaran sana, semakin sulit rasanya untuk berpura-pura tidak melihat apa pun."
Matanya beralih menatap tepat ke arah Nakula.
"Adhiraja adalah kota yang aneh. Di satu sisi ada hotel-hotel mewah, pesta para pejabat, dan orang-orang yang membicarakan kemajuan negara sambil mengangkat gelas anggur mereka. Di sisi lain ada mahasiswa yang dipenjara karena membagikan selebaran, buruh yang bekerja dua belas jam sehari untuk upah yang tidak cukup membeli beras, dan surat kabar yang menghilang dari peredaran hanya karena memuat satu artikel yang tidak disukai seseorang."
Ia berhenti sejenak.
"Ironisnya, semua itu terjadi di kota yang sama."
Nakula memperhatikan wajahnya dalam diam. Api lampu minyak dari warung memantul samar di mata sewarna silver itu.
"Saya pernah berpikir bahwa jika cukup banyak orang melihat kenyataan yang sama, sesuatu akan berubah."
"Lalu, apakah semuanya berubah?"
Arjuna tersenyum pahit. "Kita masih duduk di sini, bukan?"
Pria itu kemudian melanjutkan, "Ketika kedua orang tua saya dibunuh, Delik mulai mendapat tekanan yang sangat besar. Akhirnya, Paman saya memilih untuk lebih berhati-hati. Tentunya itu adalah keputusan yang masuk akal. Mereka memiliki perusahaan, karyawan, dan keluarga yang harus dilindungi."
"Tetapi saya kurang setuju." Lanjutnya tanpa ragu. "Saya tidak pernah bisa menerima gagasan bahwa kebenaran hanya layak diperjuangkan selama tidak merugikan siapa pun."
Suara sungai mengalir pelan di belakang mereka. Untuk sesaat Nakula merasa seolah seluruh warung menjadi sunyi.
"Jadi, dirimu memilih pergi?"
"Saya hanya memilih untuk dapat menulis apa yang saya inginkan. Pergi hanya akibat sampingannya."
Ia menyesap sedikit teh dalam gelasnya sebelum melanjutkan.
"Orang-orang sering membayangkan penulis sebagai seseorang yang bisa mengubah dunia." Nada suaranya terdengar nyaris geli. "Padahal kenyataannya tidak seperti itu."
"Lalu, seperti apa rasanya?"
"Seperti melempar batu kecil ke sungai. Batu itu mungkin tenggelam dan hilang."
Arjuna menunjuk ke arah permukaan Sarita yang gelap. "Atau mungkin menciptakan riak. Setidaknya seseorang harus memulainya."
Jawaban itu keluar begitu lancar. Nakula tidak mendengar ada kebanggaan maupun romantisme dalam nadanya, hanya keyakinan yang tenang dan tak tergoyahkan. Saat itulah Nakula memahami sesuatu. Ia akhirnya mengerti mengapa tulisan-tulisan Dananjaya terasa berbeda dari para penulis lain.
Karena pria ini tidak menulis untuk menjadi terkenal ataupun dipuji. Ia tidak pula menulis karena percaya dirinya akan menang. Ia menulis karena, di matanya, tidak menulis jauh lebih tidak dapat diterima daripada segala risiko yang menyertainya.
Bertahun-tahun kemudian, ketika Nakula berusaha mengingat kapan tepatnya ia mulai jatuh cinta kepada Arjuna Arkana, pikirannya akan selalu kembali pada malam itu.
Pada warung nasi liwet di tepi Sungai Sarita.
Pada uap wedang teh yang perlahan menghilang ke udara malam.
Dan pada cahaya yang menyala tenang di mata seorang pria yang memilih melawan dunia hanya dengan pena dan kata-kata.
Jamuan akhir tahun selalu menjadi musim tersibuk bagi para pejabat Kota Adhiraja. Undangan makan malam, acara penghargaan, pertemuan bisnis, hingga pesta-pesta yang dibungkus dengan nama silaturahmi memenuhi kalender sepanjang pekan terakhir bulan Desember.
Setelah itu, para petinggi kementerian akan mengambil cuti tahun baru, para pengusaha besar berangkat berlibur bersama keluarga mereka, dan kota akhirnya mendapat kesempatan bernapas selama beberapa hari sebelum kembali bergerak seperti biasa.
Tak terkecuali malam itu, Hotel Mahardika, yang merupakan hotel bintang lima termegah di ibu kota, dipenuhi sorak-sorai dan cahaya gemerlapan.
Lampu gantung kristal berkilauan, tergantung di bawah langit-langit aula yang tinggi. Musik orkestra mengalun pelan dari sudut ruangan. Para pelayan bergerak membawa nampan berisi minuman dan makanan, sementara para tamu berdiri berkelompok membentuk lingkaran-lingkaran percakapan yang tampak hangat dari kejauhan.
Nakula berdiri di antara mereka sambil memegang secangkir kopi yang mulai dingin. Keberhasilan Azure Investigation Co. membongkar beberapa kasus besar sepanjang tahun membuat namanya masuk ke daftar tamu undangan. Secara resmi, malam ini adalah bentuk apresiasi kepada orang-orang yang dianggap berjasa bagi kota. Secara tidak resmi, semua orang tahu ini hanyalah kesempatan untuk berjejaring.
Di atas panggung, seorang pejabat senior sedang menyampaikan pidato tentang kemajuan ekonomi, stabilitas nasional, dan masa depan yang cerah. Nakula mengenali setidaknya tiga orang yang berdiri di barisan depan.
Seorang kontraktor yang pernah menyuap anggota dewan.
Seorang direktur perusahaan yang lolos dari tuntutan hukum karena memiliki koneksi politik.
Dan seorang pejabat yang namanya muncul berulang kali dalam investigasi korupsi sebelum seluruh berkas perkara mendadak menghilang.
Mereka semua tersenyum dan bertepuk tangan pada momen yang tepat. Semua orang di sana seolah berlomba untuk tampak seperti warga negara teladan atau barangkali untuk mendapatkan berkat supaya dapat melanggengkan kepentingan pribadi dan kelompok mereka.
Nakula menyesap kopinya.
Rasanya pahit.
Sepahit suasana hatinya saja yang sedang buruk.
Pidato kini telah memasuki menit kedua puluh. Ketika pembicara mulai menjelaskan visi pembangunan lima tahun ke depan untuk ketiga kalinya dengan kalimat yang berbeda, Nakula akhirnya menyerah. Ia meninggalkan aula tanpa menarik perhatian siapa pun. Udara malam langsung menyambutnya begitu pintu balkon terbuka.
Dari balkon lantai lima hotel itu, Kota Adhiraja terbentang luas di bawah sana. Lampu-lampu jalan membentuk jalur emas yang berkelok mengikuti Sungai Sarita. Di kejauhan, beberapa kembang api percobaan sudah mulai ditembakkan untuk persiapan tengah malam nanti. Ledakannya kecil dan jarang, hanya cukup untuk meninggalkan bunga-bunga cahaya sesaat sebelum lenyap kembali ke langit.
Angin pun membawa aroma hujan. Mungkin tak lama lagi malam langit akan benar-benar turun membasahi kota.
"Ternyata saya tidak sendirian."
Ia menoleh dan mendapati Arjuna berdiri beberapa meter darinya. Untuk sesaat, Nakula hanya memandang pria itu lamat-lamat. Mungkin karena ini pertama kalinya ia melihat pria itu di luar toko surat kabar sehingga tampak berbeda malam ini.
Turtleneck merah yang biasa dikenakannya telah digantikan oleh kemeja merah berkerah tinggi. Tubuh rampingnya kini terbalut jas gelap yang tersampir rapi di bahunya dengan rambut hitamnya tersisir lebih teratur. Cahaya lampu balkon memantul di mata kelabunya dan membuat warna itu tampak lebih terang daripada yang pernah Nakula ingat.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya akhirnya.
Arjuna melambaikan tangannya sambil berjalan ke arah pria tersebut. "Saya bisa menanyakan hal yang sama."
"Saya diundang."
"Begitu pun saya."
Kening Nakula langsung berkerut. Reaksi ini rupanya cukup menghibur bagi Arjuna, membuatnya tanpa sadar mengangkat sudut bibirnya. "Ada urusan yang harus saya selesaikan dengan keluarga saya."
Jawaban itu membuat Nakula menggangguk paham. Namun melihat cara Arjuna mengalihkan pandangan ke arah lampu-lampu kota di bawah sana, ia memutuskan tidak bertanya lebih jauh.
Belum sekarang.
Keduanya tidak langsung meninggalkan balkon. Setelah hampir satu jam terjebak di dalam aula yang dipenuhi pidato, tepuk tangan sopan, dan percakapan yang terdengar lebih seperti transaksi daripada percakapan sungguhan, berdiri di bawah langit malam terasa jauh lebih menyenangkan daripada kembali masuk ke dalam.
"Jadi," kata Arjuna sambil menyandarkan siku di pagar balkon, "apakah para pejabat selalu sesulit itu diajak berhenti bicara?"
Nakula mendengus, "Saya curiga sebagian dari mereka akan tetap berpidato bahkan saat dunia berakhir."
Arjuna tertawa pelan. Angin malam segera membawa suara tawanya menjauh ke atas angkasa. Suara hangat nan ringan itu jauh lebih menyenangkan didengar daripada seluruh orkestra yang sedang memainkan lagu-lagu patriotik di aula belakang mereka. Nakula sedang mempertimbangkan apakah mereka bisa meninggalkan hotel tanpa harus berpamitan kepada siapapun ketika sebuah suara memanggil dari belakang.
"Arjuna."
Suara itu tidak keras, namun cukup untuk membuat Arjuna langsung menoleh.
Nakula mengikuti arah pandangan Arjuna dan melihat seorang pria paruh baya berjalan keluar dari aula menuju balkon tempat mereka berdiri. Dari cara para pelayan memberi jalan dan beberapa tamu yang tanpa sadar menundukkan kepala ketika berpapasan dengannya, jelas bahwa pria itu bukan orang sembarangan.
Rambut di pelipisnya telah dipenuhi uban, sementara jas hitam yang dikenakannya tampak mahal dan dijahit dengan sempurna, tetapi semua itu tidak mampu menyembunyikan kelelahan yang samar-samar tergambar di wajahnya.
Begitu melihat siapa yang datang, senyuman memudar dari wajah manis itu dan helaan napas pelan pun terdengar. Reaksinya begitu singkat hingga mungkin tidak akan diperhatikan orang lain, tetapi Nakula sudah cukup lama mengenalnya untuk memahami bahwa itu bukanlah sambutan yang diberikan kepada seseorang yang ingin ditemui.
Pria itu berhenti beberapa langkah di depan mereka sebelum akhirnya berkata, "Aku mencarimu dari tadi."
Nada suaranya tenang, namun ada sedikit ketidaksabaran yang tidak berhasil disembunyikan. Arjuna hanya mengangguk kecil seolah memang sudah menduga percakapan ini akan terjadi cepat atau lambat. "Saya tahu."
"Kau tahu dan tetap menghindariku?"
"Saya hanya keluar mencari udara segar."
Jawaban itu terdengar sopan, tetapi tidak cukup sopan untuk menutupi fakta bahwa ia sengaja menghindari seseorang. Sang paman tampaknya memahami hal tersebut. Ia menatap keponakannya selama beberapa saat, lalu menghela napas pendek sebelum menggelengkan kepala seperti seseorang yang sudah terlalu sering menghadapi situasi serupa.
"Aya menitip salam."
Di antara semua hal yang bisa diucapkan pria itu, rupanya hanya satu nama tersebut yang mampu mengubah ekspresi Arjuna. Tatapannya yang semula datar seketika melunak, dan untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, ada sesuatu yang menyerupai kehangatan muncul di wajahnya.
"Bagaimana kabarnya?"
"Baik. Dia baru menyelesaikan sidangnya minggu lalu dan sejak itu tidak berhenti mengeluh karena kakaknya bahkan tidak muncul sekali pun."
Sudut bibir Arjuna sedikit terangkat. "Itu terdengar seperti Aya."
"Memang Aya." Pria itu menggeleng pelan, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih rendah. "Dia masih berharap kau pulang tahun ini."
Senyum kecil itu perlahan memudar. Arjuna mengalihkan pandangannya ke arah sungai yang berkilauan di kejauhan, seolah menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik di sana daripada percakapan yang sedang berlangsung.
"Saya sedang sibuk."
"Kau selalu sibuk. Itu saja alasanmu selama dua tahun terakhir."
"Kebetulan kali ini memang benar. Banyak hal yang harus saya urus."
Pamannya mengamati wajahnya cukup lama sebelum akhirnya tertawa hambar. "Sudah bertahun-tahun, Arjuna. Setiap kali seseorang menyuruhmu pulang, jawabannya selalu pekerjaan, toko, tulisan, atau alasan lain yang berbeda namanya tetapi intinya tetap sama."
Arjuna tidak langsung menjawab. Angin malam berhembus melewati balkon, membawa suara musik dari aula dan ledakan kembang api percobaan dari arah tepian Sungai Sarita. Ketika akhirnya berbicara, suaranya tetap tenang seperti biasa.
"Paman tahu itu. Saya pun tidak pernah menyembunyikan alasan saya."
"Itulah masalahnya." Pria itu menatapnya lurus-lurus. "Kau terlalu keras kepala untuk kembali. Kau membuang percuma masa depanmu dengan bertingkah kekanakan seperti ini."
Untuk sesaat tidak ada yang berbicara. Akhirnya, pria paruh baya itu menghembuskan napas panjang dan menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu apakah kau sedang mempertahankan prinsipmu atau hanya menghukum dirimu sendiri."
Barulah beberapa saat kemudian sang paman menyadari keberadaan Nakula yang sejak tadi berdiri di samping Arjuna. Tatapannya beralih kepada pria itu, mengamatinya selama beberapa detik sebelum kembali menoleh kepada keponakannya.
"Dan ini?"
"Teman saya." Jawaban tersebut datang begitu cepat hingga bahkan Nakula sendiri sempat melirik Arjuna dengan heran. Pamannya tampaknya menangkap hal yang sama karena satu alisnya terangkat sedikit, meskipun ia cukup bijaksana untuk tidak mengomentarinya.
"Begitu."
Ekspresi yang sulit diartikan muncul di wajahnya, tetapi hanya sesaat sebelum menghilang kembali.
"Aku harus kembali ke dalam sebelum mereka mulai mencariku juga." Ia melirik jam tangannya, lalu kembali memandang Arjuna. "Apa pun yang kau pikirkan tentang keluarga ini, Aya tetap menunggumu."
Kali ini Arjuna tidak menjawab. Namun ketika pria itu berbalik dan berjalan kembali menuju aula, Nakula sempat melihat bagaimana tatapan Arjuna mengikuti sosok tersebut hingga menghilang di balik pintu kaca. Ia baru mengendurkan ketegangan di wajah dan bahunya ketika balkon kembali sepi.
"Orang tua yang keras kepala," gumamnya pelan.
Nakula terkekeh pelan, senyum maklum terukir di wajah cantiknya. "Saya tidak yakin kamu berhak mengatakan itu."
Hal itu berhasil memancing senyum kecil di wajah Arjuna.
"Sudahlah, ayo."
"Ayo ke mana?"
"Ke pasar malam."
"Kamu mengajak saya kabur dari pesta ini?"
"Tepat sekali." Arjuna mulai melangkah menuju tangga dengan kedua tangan dimasukkan ke saku jasnya. "Saya pribadi tidak ingin merusak malam tahun baru dengan kembali ke sana."
Tanpa sadar, Nakula mengikuti langkahnya meninggalkan balkon dan segala kemegahan hotel itu, sementara dari kejauhan suara kembang api kembali meledak di atas langit kota, menerangi langit malam dengan warna-warna yang perlahan menyambut pergantian tahun.
Begitu keluar dari hotel, suasana di sekitar mereka berubah hampir sepenuhnya.
Lampu-lampu kristal, pelayan bersarung tangan putih, dan suara pidato yang terus mengalun dari pengeras suara perlahan tertinggal di belakang. Jalanan menuju Alun-Alun Arcapada justru dipenuhi orang-orang yang tampaknya tidak peduli sedikitpun pada perayaan resmi yang sedang berlangsung di hotel-hotel mewah kota.
Keluarga berjalan sambil menggandeng anak-anak mereka. Sekelompok mahasiswa berdesakan di atas becak motor yang dihiasi pita warna-warni. Pedagang kaki lima memenuhi hampir seluruh sisi jalan dengan gerobak-gerobak yang dipenuhi makanan, mainan, dan lampion kertas.
Semakin dekat mereka ke alun-alun, semakin ramai suasananya.
Suara musik tradisional bercampur dengan teriakan pedagang, tawa anak-anak, dan sesekali letupan petasan kecil yang membuat orang-orang di sekitar menoleh kesal sebelum kembali tertawa. Nakula memasukkan kedua tangan ke dalam saku jasnya.
"Saya rasa kita lebih cocok berada di tempat seperti ini."
"Tempat ini memang jauh lebih menyenangkan." Jawab Arjuna ringan.
Mereka memasuki kawasan pasar malam beberapa menit kemudian. Lampion warna-warni digantung melintang di atas jalan setinggi beberapa meter, menciptakan lautan cahaya yang berayun pelan setiap kali tertiup angin malam. Aroma gulali, bakaran, dan berbagai rempah bercampur menjadi satu hingga hampir mustahil dibedakan.
Arjuna berhenti tepat di depan sebuah gerobak yang menjual serabi. Tanpa mengatakan apa pun, ia langsung mengeluarkan beberapa lembar uang sementara Nakula hanya memandangnya geli
"Kita baru saja masuk, lho."
"Kenapa? Tidak terima? Saya makan salah, tidak makan salah."
Penjual serabi yang mendengar percakapan mereka tertawa kecil sambil menyerahkan dua bingkisan. Arjuna menerima keduanya lalu memberikan salah satunya kepada Nakula.
"Ini bagian dari pengalaman budaya.”
"Alasan saja. Kamu cuma lapar, kan?”
Nakula akhirnya menerima bingkisan tersebut sambil menggelengkan kepala. Beberapa bulan lalu, ia mungkin tidak akan pernah membayangkan dirinya menghabiskan malam tahun baru dengan cara seperti ini. Yang lebih mengherankan lagi, ia ternyata tidak keberatan dengan semua itu. Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri deretan kios yang menjual berbagai macam kuliner.
Setelah serabi habis, Arjuna membeli klepon.
Setelah klepon habis, ia berhenti untuk mencoba cenil.
Lima belas menit kemudian, Nakula mulai curiga bahwa tujuan utama pria itu datang ke pasar malam memang untuk makan.
"Ternyata kamu itu rakus ya."
Arjuna yang sedang memegang sebungkus getuk menoleh dengan ekspresi tidak setuju. "Ini namanya menghargai warisan kuliner bangsa."
"Itu alasan yang jelas kau buat-buat. Pantas saja saya lihat pipimu semakin gembil."
Pria itu lantas melotot kesal ke arahnya begitu mendengar komentar yang menurutnya tidak benar itu. "Sialan kau. Pipiku tidak gembil ya!”
"Lho, kenapa? Saya justru suk– AW!"
Arjuna tersenyum puas ketika berhasil membungkam pria itu dengan cubitan di lengan atasnya. Sementara itu, Nakula sibuk merintih kesakitan sambil mengelus pelan area bekas cubitan pria itu. Namun, saat kedua netra sewarna langit cerah dan kelabu itu bertemu, tawa mereka pun pecah bersamaan.
Suasana pasar malam yang ramai membuat percakapan mereka mengalir jauh lebih ringan daripada sebelumnya. Mereka berbicara tentang buku-buku yang baru terbit, artikel politik yang membuat setengah kota marah minggu lalu, sampai teori absurd Arjuna bahwa kualitas suatu kota dapat diukur dari kualitas jajanan kaki limanya.
Nakula sedang berusaha menjelaskan mengapa teori itu kurang masuk akal ketika mereka melewati sebuah kios permainan lempar gelang.
Pemilik kios langsung memanggil mereka.
"Coba keberuntungan, Tuan-Tuan! Hadiahnya boneka dan lampion!"
Arjuna melambat.
Nakula langsung tahu itu pertanda buruk.
"Jun… Juna… Tidak boleh ya!"
"Lho, kenapa Tuan jadi ngatur-ngatur saya?"
"Alasan pertama, karena saya punya perasaan kamu cuma bakal buang-buang uang di sini. Alasan yang kedua, kamu memanggilku tuan tapi nadamu kasar sekali ya sekarang."
Arjuna memasang raut wajah sewotnya sambil melenggang pergi ke arah kios permainan tersebut. "Itu tuduhan yang cukup serius ya, Tuan Nakula Nalendra. Saya jago kok dalam permainan ini. Kamu lihat saja."
Namun, lima menit kemudian Arjuna tetap berdiri di depan kios tersebut.
Sepuluh menit setelah itu, ia masih gagal memasukkan satu gelang pun ke sasaran.
Nakula pun tertawa tanpa ampun.
"Saya rasa kemampuan kamu memang hanya sebatas menulis."
"Saya menolak menerima penghinaan ini."
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?"
Arjuna mengambil satu set gelang lagi.
"Kau lihat saja..." gumamnya pelan.
Hasilnya pun tidak jauh lebih baik. Pada akhirnya, bahkan pemilik kios tampak kasihan dan memberikan sebuah lampion kecil kepada Arjuna sebagai hadiah hiburan. Nakula tertawa begitu keras hingga harus memalingkan wajah, apalagi ketika melihat wajah Arjuna sudah semerah kepiting rebus dengan ekspresi merengut kesal.
Sangat menggemaskan.
"Jangan mengatakan apa-apa!"
"Saya belum mengatakan apa pun, lho."
Mereka kembali berjalan sambil membawa lampion tersebut. Angin malam bertiup lebih dingin sekarang. Di kejauhan, jam besar di balai kota menunjukkan bahwa pergantian tahun tinggal kurang dari setengah jam lagi.
Menjelang tengah malam, suasana di sekitar pasar malam memang mulai berubah perlahan. Jika beberapa jam sebelumnya orang-orang masih sibuk berpindah dari satu kios ke kios lain, kini sebagian besar kerumunan bergerak menuju tepian Sungai Sarita untuk menunggu pertunjukan kembang api yang akan menandai pergantian tahun. Bahkan mereka yang sejak sore berdiri di belakang gerobak dagangan kini ikut menoleh ke arah sungai, seolah tak ingin melewatkan momen yang hanya datang sekali dalam setahun itu.
Arjuna dan Nakula membiarkan diri mereka terbawa bersama arus manusia yang berjalan menuju bantaran sungai. Tidak ada tujuan khusus selain mencari tempat yang cukup nyaman untuk berdiri. Pada akhirnya mereka berhenti di dekat pagar batu yang menghadap langsung ke badan sungai. Dari sana, bentangan langit di atas Sarita terlihat jelas tanpa terhalang apa pun.
Malam itu terasa semakin dingin. Angin yang bertiup dari arah sungai membawa aroma air, tanah basah, dan sisa-sisa asap makanan dari pasar malam yang perlahan mulai ditinggalkan pengunjungnya. Cahaya lampu kota memantul di permukaan sungai yang gelap, pecah menjadi ribuan serpihan emas setiap kali arus bergerak.
Untuk beberapa saat mereka hanya berdiri berdampingan tanpa banyak bicara. Entah karena keramaian di sekitar mereka sudah cukup berisik atau karena keheningan yang tercipta terasa terlalu nyaman untuk diganggu.
Nakula menyandarkan kedua tangannya di atas pagar batu dan memandangi aliran sungai di hadapannya. Dari sudut matanya, ia sempat melihat Arjuna sedikit mengangkat bahu ketika embusan angin yang lebih dingin menerpa mereka. Gerakan itu begitu kecil hingga mungkin tidak akan diperhatikan orang lain, namun Nakula tetap melihatnya.
"Kedinginan?" tanyanya pelan.
Arjuna langsung menggeleng.
"Bohong sekali. Kamu menggigil begitu."
"Saya tidak bohong."
Arjuna menoleh dan menatapnya beberapa detik, seolah sedang mempertimbangkan apakah perdebatan tersebut layak dilanjutkan. Kemudian ia menghela napas pendek.
"Kau sangat menyebalkan malam ini."
"Saya sering mendengar itu." Nakula terkekeh pelan sebelum melepaskan mantelnya. Gerakan itu langsung membuat Arjuna mengernyit, seakan mampu menebak apa yang akan pria itu lakukan selanjutnya.
"Aduh, jangan!"
"Kenapa?"
"Nanti kau yang justru kedinginan–"
Sebelum Arjuna sempat melanjutkan bantahannya, Nakula sudah lebih dulu menyampirkan mantelnya yang lebih besar itu ke tubuh ramping Arjuna. Jarak di antara mereka mendadak menjadi jauh lebih dekat.
Arjuna membeku sesaat. Meski pemuda itu telah menebak apa yang akan pemuda bersurai biru itu lakukan, ia tetap tidak menyangka pria itu benar-benar rela menahan dinginnya angin malam untuknya. Mungkin, sudah terlalu lama juga sejak seseorang melakukan hal sesederhana itu untuknya.
Nakula sendiri baru menyadari apa yang sedang ia lakukan setelah tangannya selesai merapikan kerah mantelnya supaya lebih rapat menutupi Arjuna. Untuk beberapa detik yang aneh, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Keramaian di sekitar mereka masih berlangsung seperti biasa.
"Terima kasih," kata Arjuna akhirnya. Suaranya lebih pelan daripada biasanya.
Nakula segera menarik tangannya dan berdehem ringan.
"Saya hanya tidak ingin kamu sakit."
"Saya tidak selemah itu."
"Sebenarnya, saya juga melakukannya karena saya pikir kamu akan tampak sedikit konyol mengenakan dua mantel sekaligus– ADUH! Kenapa sih?!"
Celetukan itu berhasil membuat Nakula kembali mendapatkan cubitan sayang di lengannya. Belum sempat melanjutkan perdebatan mereka, Sorak-sorai kerumunan telah mengalihkan atensi keduanya terlebih dahulu.
Di kejauhan, suara pengeras suara mulai menghitung menit terakhir sebelum pergantian tahun. Orang-orang di sekitar mereka mulai bersiap. Beberapa mengangkat kamera. Sebagian lainnya memanggil anggota keluarga mereka agar berkumpul lebih dekat.
Arjuna mendongakkan kepala ke arah langit yang masih gelap.
Sementara itu, tanpa sadar, Nakula justru memperhatikannya.
Mungkin karena cahaya lampion yang bergantung di sepanjang jalan membuat wajah pria itu terlihat lebih lembut. Mungkin juga, karena untuk pertama kalinya malam itu, tidak ada bayangan kesedihan yang tersisa di matanya setelah pertemuannya dengan sang paman.
Atau mungkin karena Arjuna tampak begitu damai hingga sulit dipercaya bahwa pria yang sama pernah berdiri di hadapannya sambil berbicara tentang kehilangan keluarga, tentang rumah yang tidak lagi bisa disebut rumah, dan tentang hidup yang dijalani sendirian selama bertahun-tahun.
Nakula tidak tahu, yang ia tahu hanyalah bahwa pandangan matanya bertahan sedikit lebih lama daripada yang seharusnya ketika menatap pria itu.
Kemudian suara hitung mundur menggema dari segala arah.
"Sepuluh!"
Kerumunan langsung menyambutnya dengan sorak-sorai yang lebih meriah.
"Sembilan!"
"Delapan!"
Arjuna ikut menoleh ke arah langit.
Cahaya dari lampion memantul samar di matanya, membuat pendar keperakan di matanya semakin terang.
"Tujuh!"
"Enam!"
Tanpa memalingkan pandangan dari langit, ia berkata pelan, "Terima kasih sudah datang malam ini."
Nakula tersenyum kecil.
"Lima!"
"Empat!"
"Saya juga bisa mengatakan hal yang sama."
Arjuna menoleh dan tatapan mereka pun bertemu.
"Tiga!"
"Dua!"
"Satu!"
Ledakan pertama memenuhi langit malam.
Kembang api meluncur tinggi ke udara sebelum mekar menjadi bunga cahaya raksasa berwarna emas yang membentang di atas Sungai Sarita. Dalam hitungan detik, ledakan-ledakan berikutnya menyusul, memenuhi langit dengan warna merah, biru, perak, dan ungu. Sorak-sorai ribuan orang langsung bergema dari segala arah.
Semua orang mendongak untuk menatap langit dengan ribuan cahayanya.
Kedua insan yang berdiri berdampingan dengan bersandarkan pagar batu itu juga seharusnya begitu. Namun, kedua pasang netra sewarna langit dengan cuacanya yang berbeda, yang satu cerah yang satu kelabu, nampak terpaut dan enggan berpisah.
Cahaya kembang api berganti-ganti menerangi wajah keduanya. Sesaat warna emas memantul melalui pantulan mata mereka, lalu berubah menjadi biru, kemudian merah, lalu ungu. Di tengah hujan cahaya yang memenuhi langit, Arjuna tanpa sadar mengulas senyum lembutnya sambil terus menatap ke arah Nakula.
Untuk satu alasan yang tidak dapat dijelaskan, pemandangan itu membuat dada Nakula terasa penuh.
Ia pernah melihat kembang api sebelumnya. Berkali-kali, bahkan hampir setiap tahun. Namun untuk pertama kalinya, ia mendapati dirinya tidak terlalu peduli pada apa yang sedang terjadi di langit. Karena dengan kesadaran penuh, ia menyadari bahwa ada seseorang yang terasa jauh lebih menarik untuk dilihat ada di sisinya. Kesadaran itu datang begitu tiba-tiba hingga membuatnya nyaris mengalihkan pandangan.
Namun, ia tidak melakukannya.
Ia hanya berdiri di sana, membiarkan suara kembang api dan sorak-sorai kerumunan memenuhi udara, sementara pikirannya perlahan menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin ia pikirkan.
Mungkin selama ini semuanya terjadi begitu terlalu alami. Dimulai dari percakapan-percakapan singkat di toko kecil itu, dari secangkir teh yang dibagikan saat hujan turun, dari kebiasaan berjalan bersama tanpa tujuan setiap kali pekerjaan selesai.
Namun sekarang, berdiri di tengah ribuan orang yang merayakan tahun baru, Nakula tiba-tiba menyadari bahwa bagian terbaik dari malam ini bukanlah pasar malam, bukan makanan yang mereka coba, bahkan bukan kembang api yang sedang memenuhi langit.
Bagian terbaik dari malam ini adalah fakta bahwa Arjuna ada di sini bersamanya.
Untuk sesaat, dunia terasa sangat kecil. Hanya ada suara sungai, cahaya kembang api, dan pria yang berdiri beberapa langkah darinya.
"Selamat tahun baru, Mas Nakula."
Suara itu nyaris tenggelam oleh ledakan warna-warni di atas kepala mereka. Namun Nakula tetap mendengarnya dengan jelas. Dan ketika ia membalas senyum itu, ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa berbeda dari sebelumnya.
Sesuatu yang mungkin sudah memiliki nama, hanya saja ia belum cukup berani untuk mengakuinya.
"Selamat tahun baru, Arjuna."
Di atas mereka, langit terus bermekaran dalam cahaya. Di bawah mereka, Sungai Sarita mengalir tenang menuju laut. Sementara di antara ribuan orang yang memenuhi tepian sungai malam itu, keduanya tetap berdiri berdampingan, menikmati menit-menit pertama tahun yang baru tanpa menyadari bahwa sesuatu yang lain juga baru saja dimulai.
TBC
