Work Text:
aduh sepertinya arjuna sudah gila.
atau barangkali sudah konslet otaknya akibat terlalu banyak bekerja.
arjuna mengipasi wajahnya yang terasa panas dengan kertas berisi lembaran lirik lagu yang penuh coretan tinta di sana-sini. setitik keringat jatuh di sisi wajahnya yang rupawan. arjuna kegerahan walau pendingin ruangan menderu dengan kencang melawan hawa panas yang—sepertinya—merembes dari luar, atau justru berasal dari dalam dirinya.
yudistira duduk di depannya. memunggungi arjuna setelah puas meluapkan rasa kesalnya melalui gerutuan marah. yudistira kembali menyibukkan diri dengan monitor yang menyala dengan porsi per potong rekaman suara indah milih rekan-rekannya yang sudah dipoles hingga mencapai kata hampir sempurna oleh otak kanannya yang terampil. tanpa tahu-menahu arjuna sibuk salah tingkah di belakangnya.
aduh sepertinya arjuna sudah gila.
karena, orang waras mana yang akan berahi setelah dimarahi?
yudistira itu jarang sekali marah. seringnya dia akan diam jika ada rasa kesal mengganggu dirinya.
yudistira itu jarang sekali marah. tapi, sekali dia mulai mengeluarkan amarahnya, lawannya akan terdiam. yudistira begitu menyeramkan jika dia sudah marah.
lantas kenapa arjuna malah menjadi salah tingkah begitu mendapati yudistira sedang marah. wajah tertekuk dengan geraman kesal yudistira membuat arjuna panas dingin sebadan-badan.
arjuna duduk dengan gelisah. keningnya mengerut dalam dengan bibir cemberut maju lima senti. suara-suara dalam kepalanya sibuk beradu. turuti nafsu atau turuti gengsi.
ah, persetan.
arjuna bangkit dari duduknya. berderap maju menuju yudistira yang masih tidak menyadari pergerakan arjuna di belakangnya sebab ia terlalu fokus dengan pekerjaannya. arjuna menggigit bibirnya. yudistira yang sedang fokus begini juga terlihat begitu tampan.
tepukan pelan—dan ragu-ragu—arjuna daratkan pada pundak yudistira. yang lebih muda menoleh, melemparkan tatapan bertanya tanpa repot membuka mulut untuk melayangkan pertanyaan. sisa kekesalan dan amarah masih dapat arjuna temukan pada sepasang zamrud menawan milik yudistira.
“um, y-yud … gini, itu …” sialan. arjuna tergagap. harga dirinya masih begitu tinggi. rasa malunya meroket naik. gengsi membuatnya sulit mengutarakan keinginannya. ah, arjuna ingin menangis saking malunya dia.
“apa sih, jun? ngomong yang jelas. jangan ganggu. kalo gak penting mending kau duduk manis aja di sana. aku sibuk.” yudistira menyahut ketus. arjuna merengek kecil. rengekan yang tak terlewat dari telinga tajam yang lebih muda. yudistira mengangkat sebelah alisnya yang bertindik. yudis sialan. dia jadi berkali lipat lebih ganteng kalo kayak gini.
“ngomong.” titah yudistira singkat. bibir cemberut juna semakin maju. aduh, yudistira yang begini terasa begitu mendominasi. arjuna lagi-lagi diporak-porandakan oleh berondong tampan ini.
“yud …”
“hmmm?”
“mau,”
“mau apa?”
“mau dipangku yudis …”
malu. malu sekali. arjuna rasa wajahnya bisa meledak kapan saja saking panasnya. mungkin saat ini wajahnya semerah kepiting matang, seperti yang biasa yudistira bilang setiap kali yang lebih muda menggodanya.
yudistira di sisi lain, tengah melongo. rasa kesalnya menguap, hilang entah kemana. bibirnya digigit menahan agar senyumnya tak terbit. arjuna saat ini di matanya terlihat menggemaskan sekali, dua ratus juta kali lipat lebih menggemaskan dari yang biasanya.
“aku sibuk loh, jun.” yudistira putuskan untuk bermain-main sedikit. “behave dong. duduk diem di situ tungguin aku selesai kerja.”
mata hijau zamrud yudistira menatap lurus wajah arjuna yang kini dihiasi mendung. oh tidak. arjunanya sedih karena ditolak saat ingin bermanja dengannya. yudistira diam-diam mengepalkan tangannya. kakak cantiknya ini begitu menggemaskan.
“oh,” arjuna mencicit, pelan. “ya udah aku pulang duluan aja. kamu jangan lupa istirahat ya, yud.”
arjuna baru hendak melangkah menjauh sebelum tangannya diraih dan ditarik oleh yang lebih muda. arjuna jatuh terduduk di paha yudistira.
“bercanda.” seloroh yudistira. kepalanya bersandar pada dada bidang arjuna yang duduk di pangkuannya, mengusakkan wajahnya di sana. “kangen banget. maaf ya tadi aku marah-marah.” yang lebih muda mendongak, dagunya bertumpu pada dada arjuna yang begitu merah wajahnya. yudistira tertawa kecil.
arjuna menghela napas. wajahnya masih memerah malu. tangannya yang dingin menangkup pipi yudistira, arjuna maju bubuhkan kecupan ringan pada dahi yudistira yang terekspos sebab poninya dijepit asal ke atas.
“maaf juga tadi aku ngeyel jadinya bikin kamu marah.” gumam arjuna pelan.
yudistira tertawa pelan. vibrasinya langsung terasa di dada arjuna yang menempel dengan wajah yang lebih muda. yudistira memeluk arjuna semakin erat, telinganya menangkap degup jantung yang lebih tua berpacu semakin keras.
“tumben loh, kamu manja begini minta dipangku duluan.” yudistira terkekeh. “aku kira kamu bakalan kesal habis aku marahin tadi.”
arjuna bungkam. entah sadar atau tidak, tubuhnya bergerak gelisah di pangkuan yudistira. yang lebih muda terheran, lantas ia longgarkan pelukannya pada yang lebih tua. kepalanya mendongak menatap arjuna yang posisinya lebih tinggi dari dirinya. mencoba bertemu tatap dengan wajah arjuna yang merah dengan matanya yang bergerak liar menghindari tatapan menyelidik yudistira.
“hmm …”
“a-apa?!”
satu cengiran menyebalkan khas milik yudistira tersungging apik pada wajahnya yang rupawan.
“jun?”
“apaaa, yudisss?”
“kau sange ya liat aku marah-marah kayak tadi?”
celetukan asbun yudistira dihadiahi tepukan—tamparan—penuh cinta di kedua pipi oleh arjuna yang wajahnya panas sekali dengan mata membulat penuh dan berkaca-kaca saking malunya dia.
“KOCAK LU YUDIS!!”
