Work Text:
Furin selalu menjadi tempat aman bagi seluruh warga di dalam perlindungan Bofurin. Namun, akhir-akhir ini banyak kabar burung tentang makhluk mitos yang suka disebutkan dalam dongeng anak-anak.
Vampir.
Sakura sebenarnya tidak percaya dengan keberadaan makhluk yang dipakai untuk menakuti anak-anak. Dia percaya selama makhluk itu bisa dihajar, apapun bentuknya, maka dia akan baik-baik saja. Tapi omongan warga tentang vampir yang berkeliaran di Furin itu sepertinya terlalu nyata untuk Sakura abaikan.
Sakura jadi agak takut.
Masalahnya ada warga yang bilang kalau dia melihat sendiri sosok itu sedang meminum darah dari temannya di gang gelap. Ketika temannya ditanya mengenai kejadian itu, dia bilang dia tidak ingat apa-apa. Dia hanya ingat kalau dia sedang berdiri di dekat gang itu untuk menunggu temannya datang.
Lalu sosok vampir tersebut? Hilang bagai ditelan kabut malam.
Cerita yang tidak masuk akal. Kalau bukan karena cerita Nirei di kelas tadi, mungkin Sakura tidak akan setakut ini. Lagipula informasi yang Nirei berikan biasanya dapat dipercayai, kenapa sekarang dia malah menyebarkan cerita yang belum tentu benar?
Gosip aneh.
Sekarang Sakura cuma bisa melawan rasa takutnya sendirian di kosan yang.. malah membuat cerita tadi makin seram. Tapi tidak apa-apa, kalau vampir itu memang nyata dan berkeliaran di Furin, Sakura akan langsung hajar sampai babak belur.
Atau mungkin setelah hajar nanti langsung kabur.
Anehnya, kabut malam ini terasa makin tebal. Bulan purnama bersinar terang, ranting kayu di sebelah jendela kosan Sakura membuat suara yang tidak nyaman dengan gesekannya. Kenapa sekarang Sakura merasa dia sedang berada di film horor?
Sakura memutuskan untuk bangun dari futonnya dan membasuh muka di wastafel. Suara air mengalir dari keran wastafel membuat Sakura lebih tenang, setidaknya ada suara yang dapat mendistraksi pikirannya.
Kalau aku basuh muka lalu muncul pas buka mata, gimana?
Pikiran horor yang dimiliki semua orang ketika mau membasuh muka. Sudah lah, yang penting pikiran Sakura harus terasa lebih segar dan waras setelah membasuh muka. Maka dia kumpulkan air yang mengalir itu pada tangannya sebagai wadah, kemudian dia bawa secara lembut pada wajahnya. Membiarkan air tersebut turun dari wajah ke lehernya, begitu pula pada air yang mengalir dari tangan ke lengannya.
Di saat yang bersamaan, Sakura bisa mendengar ada yang menggeser buka jendela kosannya.
Siapa itu, anjir?
Sakura buru-buru membuka mata dan melihat ke arah jendela. Memang terbuka, tapi tidak ada apa-apa, atau mungkin siapa-siapa. Sakura hanya bisa melihat ranting yang tadinya bergesekan dengan jendelanya, jadi masuk ke kosannya melalui celah tersebut.
Angin terdengar berhembus dengan lembut tetapi lebih sepi dari yang biasanya. Seperti ketenangan sebelum masalah utama muncul.
Oke, jangan takut, Sakura.
Sakura mengeringkan mukanya secepat kilat dengan ujung bajunya. Dia takut kejadian tidak terduga akan terjadi lagi kalau dia tutup matanya terlalu lama. Kemudian dengan segenap keberanian yang dia punya, Sakura berjalan ke arah jendelanya untuk mendorong ranting pohon itu keluar dan menutup jendelanya.
Sakura membalikkan badannya dan di saat itu lah Sakura merasa jiwanya keluar selama 5 detik. Kaki Sakura sangat lemas sehingga membuat dia terjatuh begitu saja dengan badan yang bersandar pada dinding.
Sejak kapan ada Suo?!
Sakura bisa melihat Suo berdiri di sebelah futonnya, tersenyum dengan lembut seperti biasa, tidak merasa bersalah sama sekali setelah menakuti Sakura dengan keberadaannya yang tiba-tiba.
“Suo! Ngapain sih?”
Sakura berteriak marah. Kaki dan badannya masih lemas, dia tidak punya kekuatan untuk menghajar Suo saat itu juga
Suo berjalan mendekat, membiarkan pertanyaan Sakura menggantung di udara yang terasa lebih dingin pada malam ini. Kemudian dia berjongkok di depan Sakura, memiringkan kepalanya sambil mempertahankan kontak matanya dengan Sakura.
“Suo, apaan sih?”
Sakura menarik kakinya mendekat, menghindari kontak fisik dengan Suo yang memiliki gelagat aneh.
Jangan-jangan ini bukan Suo? Terus siapa? Sua?
Suo masih tidak menjawab omongan Sakura. Rasanya seperti semua perkataan Sakura masuk ke kuping kanan dan keluar mengudara. Kenapa Suo tiba-tiba tidak bisa mendengar Sakura?
Suo mendekatkan dirinya pada Sakura yang terpojok di antara dinding rapuh kosannya dengan Suo yang aneh di depannya. Kedua tangan Suo berada di sisi kepalanya, menahan pergerakan Sakura yang semakin terpojokan olehnya.
Saat kepala Suo mulai turun ke lehernya, Sakura merasa tubuhnya memberi peringatan bahaya, maka dia mendorong kepala Suo menjauh. Tapi Suo tidak mundur begitu saja, kepalanya dengan kuat mendorong tangan Sakura, berusaha kembali mendekati lehernya.
Pertarungan kecil antara tangan Sakura dengan wajah Suo yang dia acak-acak itu kemudian membuat penutup mata Suo terlempar jauh ke samping. Sakura baru saja akan meminta maaf sebelum dia melihat warna mata Suo yang selama ini tertutup.
Pupil semerah darah.
Tubuh Sakura membeku, matanya terbelalak, memandang lurus pada mata unik yang selama ini tertutup kain hitam itu. Senyuman yang Suo berikan sudah hilang dari wajah tegasnya. Sekarang Sakura bisa melihat berapa seramnya perpaduan mata tajam dengan wajah itu.
Ganteng.
Eh?
Ini bukan saat yang tepat untuk mengagumi wajah teman yang selama ini Sakura diam-diam sukai. Sakura tidak ingin membuat pertemanan antara dia, Suo, dan Nirei terpecah begitu saja karena perasaannya pada Suo, itu sebabnya dia pendam saja perasaan ini.
Tapi kalau disuguhi muka gebetan di depan mata gini, siapa yang tidak tergoda?
“Sakura suka sama wajah asliku?” Ucap Suo. Salah satu sudut bibirnya naik sehingga membuat kesan yang lebih menggoda di mata Sakura.
“Hah? Apaan sih kamu? Lagian kenapa deket-deket gini sih?” Ucap Sakura dengan cepat.
Sakura yakin wajahnya sangat merah sekarang. Dia memalingkan wajahnya untuk menutupi rasa malunya. Tapi sepertinya Sakura mengambil langkah yang salah, karena Suo tidak melewatkan kesempatan untuk mendekati lehernya secara langsung.
Sakura berjengit kaget. Kedua tangannya secara tidak sadar meremas bahu Suo. Sakura bisa mencium bau mint yang menguar dari tubuh Suo dari jarak sedekat ini.
Nyaman, tapi agak seram.
“Sakura, kamu tahu tentang vampir yang lagi diomongin warga?”
Sakura bisa merasakan nafas Suo yang dingin pada lehernya. Dia bisa merasakan bulu kuduknya merinding.
“Ke-kenapa memangnya? Kamu vampir?”
Suo memundurkan kepalanya untuk menatap Sakura kembali sambil terkekeh karena omongan Sakura. Suo mengambil satu tangan Sakura untuk dia genggam lembut dan dia bawa ke samping wajahnya dengan pupil semerah darah. Suo mengusap wajahnya dengan lembut pada tangan Sakura.
“Kalau iya, apakah kamu akan berhenti menyukaiku?”
Sakura menggeleng. Senyum Suo semakin lebar setelah melihat reaksi Sakura.
“Aku senang, tetap suka sama aku ya Sakura? Bahkan setelah ini.”
Sebelum Sakura bisa bertanya lebih lanjut tentang omongan Suo yang bikin bingung. Sakura bisa merasakan rasa sakit pada lehernya. Kulitnya seperti ditusuk oleh dua taring tajam. Darahnya yang hangat perlahan mengalir dari sisi lehernya kemudian turun ke dadanya.
“Sakura.”
“Ngh! Sakit.. Suo..”
Sakura bisa merasakan kekuatan dari tubuhnya menghilang. Penglihatannya perlahan dipenuhi oleh kegelapan. Sebelum kesadaran Sakura sepenuhnya hilang, dia dapat mendengar Suo berbisik.
“I love you, Sakura.”
