Work Text:
Jikalau namamu Biru, bukan berarti kau harus berakhir biru.
Kau lontarkan pertanyaan "Bila tubuhku membiru apakah kau datang, Sayang?" lalu kujawab dengan candaan bahwa kau mungkin menjadi tokoh kartun di televisi.
Dan kau kembali menanyakan pertanyaan yang sama, sekali lagi. Aku menatap netra indahmu dan aku menjawab pelan "Sebelum tubuhmu membiru, aku sudah datang. Aku selalu ada di sisimu"
Namun untaian takdir tertulis lain, aku terlambat datang, terlambat tahu. Sekali lagi aku terlambat datang di masa terakhirmu. Jikalau aku bisa cepat menyelamatkanmu, menggantikanmu, dan menukar milikku dengan kehidupanmu. Aku tidak akan kehilanganmu, membenci diriku dan menyalahkan takdir. Walau taruhannya kau akan membenciku seumur hidup.
Biru, warnamu indah. Langit, lautan, dan sekumpulan bunga di taman yang kita kunjungi setiap akhir pekan.
Tak pernah terlintas di benakku bahwa biru mu adalah tubuh yang tak bisa kuraih lagi. Jikalau namamu Biru, bukan berarti tubuhmu harus berakhir biru dengan secepat ini, kan?
Tunggu aku, tunggu aku disana. Aku pasti akan datang. Tunggu waktu datang menjemputku. Atau mungkin aku yang datang menjemput waktuku.
