Work Text:
I. Kim Ryul
Ryul tidak pernah percaya pada konsep before and after.
Terapis ketiga — atau keempat, ia sudah lupa — pernah bilang bahwa hidup manusia bukan garis lurus. Bukan sebelum dan sesudah. Bukan titik balik tunggal yang membelah segalanya menjadi dua era berbeda. Tapi Ryul selalu merasa hidupnya terbagi begitu yaitu masa sebelum racun itu datang dan masa sesudah racun itu bercampur dan mengalir di darahnya.
Racun itu bukan penyakit yang bisa diberi nama. Bukan depresi saja, bukan anxiety saja, dokter selalu kesulitan menemukan satu kata yang cukup, dan Ryul benci sekali saat mereka berkerut di depan DSM-nya dan mengatakan kemungkinan ini adalah kombinasi dari… seolah-olah ia adalah teka-teki yang mustahil untuk dipecahkan.
Yang ia tahu hanyalah ada sesuatu di dalam kepalanya yang terasa seperti air racun yang kotor keruh. Selalu menggenang memenuhi benak dan otaknya. Kadang tenang, kadang bergolak, tapi tidak pernah benar-benar bersih. Ia bisa bangun di pagi hari yang cerah, cahaya matahari masuk dari celah tirai, dan tetap merasakan beratnya — beban yang tidak kasat mata tapi nyata seperti tangan yang menekan dadanya ke bawah.
Papanya direktur di perusahaan multinasional. Mamanya dosen di dua universitas sekaligus. Mereka berbicara setidaknya tiga bahasa dengan fasih, berlangganan jurnal akademik, dan percaya bahwa semua masalah memiliki solusi intelektual.
Begitulah kenapa akhirnya mereka mengirimkan anak semata wayangnya ke terapis.
Terapis pertama terlalu banyak bicara tentang masa kecil. Terapis kedua meresepkan obat yang membuat Ryul merasa seperti berjalan di bawah air. Terapis ketiga cukup bagus dan membantu, tapi beliau pindah kota. Terapis keempat — yang sekarang — masih dalam proses.
Di sela semua itu, Ryul kuliah dengan nilai yang cukup memuaskan. Ia punya teman-teman baik yang tidak tahu betapa sulitnya hanya untuk bangun dan beraktivitas di pagi hari. Ia punya hidup yang dari luar terlihat seperti hidup yang orang-orang impikan.
Dan seperti hidupnya yang selalu lurus mengikuti tatanan kedua orangtuanya, Ryul selama dua puluh tahun hidup, percaya bahwa ia pun lurus.
Bukan karena ia tidak pernah benar-benar memperhatikan. Bukan karena tidak ada momen-momen kecil seperti tatapan yang bertahan sedikit lebih lama, gejolak perasaan yang terasa berbeda dari sekadar kekaguman. Tapi otak yang dipenuhi racun dan tidak menyisakan ruang berpikir untuk kemungkinan yang lain. Jadi ia percaya bahwa ia harus menyukai lawan jenis sebagaimana yang sudah diajarkan Papa dan Mama.
Sampai ia tidak bisa lagi benar-benar percaya hal itu lagi.
II. Kwon Ohyul
Kwon Ohyul duduk di sudut kafe dengan laptop dan secangkir kopi yang sudah dingin, dan Ryul yang duduk di meja sebelahnya, hampir tidak memperhatikannya kalau saja Ohyul tidak tertawa. Tawa yang tiba-tiba dan lantang, walau sekon selanjutnya ia langsung menahan diri dan menutup mulutnya dengan tangan karena baru sadar ia tertawa sendirian di tempat umum.
Ryul memperhatikannya, dengan ujung bibir yang tiba-tiba naik.
Ohyul terlihat sadar dan menoleh, dan ekspresi aduh diketawain orang terlukis jelas di wajahnya, pipi gembil sedikit memerah, senyum yang masih tertahan di sudut bibirnya — membuat sesuatu di dada Ryul berdetak dengan cara yang tidak familiar.
“Sorry,” ucap Ohyul ke arahnya, meski Ryul bukan satu-satunya yang menyaksikan. “Ini filmnya lucu banget, soalnya.”
“3 idiots ya?” tebak Ryul setelah melirik pada layar laptop Ohyul. Yang ditanya mengangguk antusias, “Udah nonton?”
Ryul tersenyum tipis, “one of my comfort movies.”
Obrolan ringan itu lalu mengalir begitu saja, sampai Ohyul tidak melanjutkan agenda menontonnya dengan wifi gratis kafe dan sampai Ryul tidak melanjutkan agenda membaca artikelnya yang membosankan. Karena dari masing-masing agenda yang seharusnya dikerjakan keduanya, tidak ada yang lebih menyenangkan dari percakapan dua stranger yang baru sepuluh menit berbincang.
Ohyul tidak seperti siapapun yang pernah Ryul kenal.
Bukan dalam arti kiasan yang berlebihan, Ohyul secara literal berbeda dari semua orang di orbit Ryul. Ia tidak berbicara dengan kecepatan orang-orang ambisius. Tidak pernah memposisikan dirinya dalam percakapan sebagai orang yang paling tahu. Ohyul adalah mahasiswa desain interior yang mencintai jurusannya dengan cara yang menyenangkan, dan ketika ia berbicara tentang ruang dan cahaya dan bagaimana sebuah sudut ruangan bisa membuat seseorang merasa aman atau tidak aman, Ryul hanya bisa mendengarkan dengan perhatian yang tidak pernah ia berikan kepada siapapun sebelumnya.
“Gimana caranya ruangan punya energi?” tanya Ryul suatu malam, di pinggir kolam air mancur di taman kota, desiran angin membawa bau hujan yang baru saja mereda.
“Bukan energi dalam arti mistis, loh ya,” Ohyul nyengir. “Tapi iya, ruangan itu bisa nyimpan perasaan dan energi, tau. Kamu pernah gak masuk ke suatu tempat dan rasanya langsung kayak bisa napas lebih lega? Nah, kurang lebih kayak gitu.”
Ryul diam sebentar. “Kayak sekarang?”
Ohyul menoleh kepadanya.
“Maksudnya,” Ryul berdeham, “ Taman kota ini nyaman. Adem. Tenang.”
Ohyul tersenyum lebar, setuju. Tapi kilat matanya mengatakan ia tau Ryul tidak hanya bicara tentang taman kota.
Sudah dua tahun hari-hari Ryul diwarnai oleh keberadaan Ohyul. Mereka tidak memberi nama pada apa yang mereka punya.
Itu cara Ryul mempertahankan kewarasan — selama tidak ada nama, tidak ada yang perlu ia akui kepada dirinya sendiri. Mereka hanya bertemu. Sepasang teman yang menghabiskan waktu bersama karena Ohyul adalah satu-satunya teman yang kebetulan selalu membuat Ryul merasa seperti versi dirinya yang lebih ringan.
Tapi tangannya selalu mencari dekap Ohyul di hari-hari gelap. Dan ketika Ohyul menyentuh bahunya, merengkuh tubuh Ryul yang tegap dan selalu kaku, sesuatu di saraf Ryul terasa melunak dan melemah seperti jendela yang dibuka setelah musim panjang tanpa udara segar.
Pada akhirnya, Ohyul tahu tentang racun di kepala Ryul.
Ryul tidak pernah berencana memberitahunya. Tapi suatu malam ia menghubungi Ohyul jam dua belas lewat — bukan karena terjadi sesuatu, hanya karena beratnya sudah terlalu menekan dan ia butuh suara manusia yang tidak akan langsung merekomendasikan jurnal ilmiah atau nomor terapis baru.
Malam itu Ryul akhirnya bicara — bukan dengan bahasa yang rapi dan terstruktur seperti yang biasa ia pakai di sesi terapi, tapi dengan kata-kata yang berantakan dan tidak berurutan, tentang air kotor di kepalanya, tentang hari-hari yang terasa seperti berjalan dengan batu di dada, tentang kelelahan yang tidak bisa dijelaskan kepada orang-orang yang belum pernah merasakannya.
Ohyul mendengarkan semuanya. Tidak menyela. Tidak langsung menawarkan solusi.
Ketika Ryul selesai bicara, Ohyul berkata pelan di ujung sana. “Ryul, you don’t have to be cured first in order to be loved. Everyone deserves to be loved, and so are you.”
Ryul tidak bisa menjawab apa-apa setelahnya. Tapi itu adalah malam pertama dalam waktu yang sangat lama ketika ia bisa tidur tanpa mimpi buruk.
III. The Cure
Perlahan, Ryul mulai memercayai Ohyul adalah obat dari racunnya.
Bukan dalam arti yang bergantung secara tidak sehat, atau setidaknya begitu yang ia katakan kepada dirinya sendiri. Hanya dalam arti bahwa bersama Ohyul, air kotor di kepalanya terasa sedikit lebih jernih. Hari-hari tidak terasa seberat biasanya. Terapis keempatnya bahkan berkomentar bahwa Ryul terlihat lebih hidup dua tahun belakangan ini.
Ryul tentu tidak mengatakan nama Ohyul barang sekali di sesi terapisnya.
Mereka terus bertemu dengan cara-cara yang tidak bisa dilihat orang lain. Ryul tidak memberi nama pada perasaan itu, tapi karena lebih mudah begini. Lebih sederhana karena Ryul tidak perlu repot-repot memberikan penjelasan kepada siapapun.
Ohyul tidak pernah memprotes. Tidak pernah meminta lebih dari yang Ryul mampu berikan. Ia datang ketika dipanggil, pergi ketika Ryul butuh ruang, dan selalu, selalu ada di ujung telepon pada hari-hari gelap yang tidak Ryul minta tapi terkadang datang juga.
“Kamu nggak bosan?” tanya Ryul, saat mereka duduk berjam-jam di apartemennya, tidak melakukan apa-apa yang istimewa — hanya ada di sana, Ryul membaca, Ohyul menggambar sketsa kasar di buku gambarnya.
“Bosan gambar?” Ohyul merengut sembari memajang hasil sketsanya di hadapan Ryul. “Kamu nggak lihat nih, gambar aku udah secakep ini masa bosan sih?!”
Ryul menggeleng sambil terkekeh. “Bukan. Bosan sama situasi ini, maksudku. Semua ini.” Ryul menggerakkan tangannya dengan samar.
Ohyul meletakkan pensilnya. Memandang Ryul dengan cara yang selalu membuat Ryul merasa seperti sedang dilihat, bukan sekadar dilihat oleh mata tapi dilihat secara keseluruhan — semua bagiannya, termasuk yang kotor dan berantakan.
“Nggak,” katanya akhirnya. “You are worth fighting for.”
Ada momen-momen kecil yang selalu Ryul ingat kemudian, ketika segala di antaranya dan Ohyul sudah terlanjur lebur menjadi satu.
Ohyul menghapalkan pesanan kopinya tanpa pernah ditanya. Ohyul yang selalu mengingat detail kecil yang Ryul sebutkan sebulan lalu — kamu kan pernah bilang kamu suka aroma setelah hujan, jadi jendelanya dibuka aja — dan Ryul yang tidak tahu harus bereaksi apa selain diam dan merasa dadanya sesak dengan sesuatu yang tidak punya nama.
Ryul juga hapal Ohyul yang sering bicara tentang Paris.
“Kayaknya seru banget ya tinggal di Paris,” kata Ohyul, matanya setengah tertutup seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang belum nyata. “Bayangin deh kamu menua di sana.”
“Kenapa Paris?”
“Karena di Paris orang-orang nggak malu mencintai hal-hal yang mereka cintai.” Ohyul tersenyum ke arah langit-langit. “Makanan, seni, orang, dan semuanya yang bahkan nggak terpikir sebelumnya. Semuanya dicintai. I want to feel that too.”
Ryul menatapnya lama. “Kamu cocok tinggal di sana.”
Ryul bisa membayangkan Ohyul akan bangun pagi-pagi hanya untuk merasakan desiran angin dingin yang bersih, menaiki trem tanpa tujuan jelas, menggambar setiap bangunan yang dilewati dan mengakhiri malam dengan pemandangan Menara Eiffel.
Ohyul meliriknya, matanya berbinar. “Kamu mau ikut?”
Ryul tidak menjawab. Pertanyaan itu terlalu besar untuk kerangka ini-bukan-apa-apa-hanya-teman yang masih Ryul pertahankan.
Tapi ia memikirkan pertanyaan itu selama berminggu-minggu setelahnya.
IV. Toxins
Mama yang pertama melihat.
Ryul sedang tidak di apartemennya ketika semalam Ohyul tidak sengaja meninggalkan buku sketsanya dengan halaman gambaran kasar kedua lelaki berdiri saling merangkul dengan Menara Eiffel sebagai latarnya terbuka di meja kerjanya.
Ketika Ryul pulang, papa sudah ada di sana juga.
Ryul tahu dari cara mereka duduk — tegak, tangan terlipat di atas meja, ekspresi dingin yang tidak akan melunak barang sedetik — bahwa ini bukan percakapan biasa.
Ada bagian dari malam itu yang Ryul tidak bisa ingat dengan jelas. Mungkin otaknya memutuskan untuk melindunginya dari beberapa detail. Tapi ada bagian-bagian yang terukir terlalu dalam untuk dilupakan.
“Mau bilang apa mama ke teman-teman mama kalau anak tunggal mama mau nikah dan kabur ke Paris sama laki-laki?”
Suara mama tidak keras. Justru itu yang membuatnya lebih menyakitkan, diucapkan dengan nada yang sama seperti ketika beliau mengkritik tugas akhir mahasiswanya. Dingin dan faktual. Seperti ini adalah masalah kerjaan bukan percakapan tentang sang anak.
“Kami sudah sekolahkan kamu dengan uang yang tidak sedikit. Terapi yang tidak murah. Semua itu untuk apa, Kim Ryul?” Papa akhirnya buka suara. “Untuk apa kalau semuanya gak bisa menyembuhkan penyakit homo kamu?”
Penyakit homo, katanya.
“Kami tidak membesarkan kamu untuk ini.” Papa dan mamanya berdiri, dan Ryul hanya bisa mengikuti pergerakannya dengan tatapan kosong. “Kita akan cari terapis lain. Yang lebih baik. Yang lebih kompeten. Yang lebih mahal.”
Mama mencengkram pundaknya pelan, “Kalau perlu berobat di luar negeri pun, Mama dan Papa sanggupi, Ryul.”
Papa meliriknya tajam. Sebelum benar-benar meninggalkan pintu apartemennya, ia keluarkan satu titah yang tidak bisa dibantah.
“Tapi kamu harus putus dari orang itu. Sekarang juga. Atau kamu sendiri yang tanggung akibatnya. Kamu tahu Papa nggak akan bercanda soal hal ini.”
Ryul termenung di kamarnya sepeninggalan orang tuanya. Mendengarkan orang-orang yang paling ia cintai di dunia ini bicara tentang bagian dirinya yang paling rapuh seolah-olah itu adalah diagnosis medis yang perlu ditangani.
Di dalam kepalanya, air kotor itu bergolak menjadi hitam pekat.
Sesuatu di dalam dirinya mulai membolak-balikkan logika.
Selama ini Ryul percaya penyakitnya adalah yang ada di kepalanya — depresi, anxiety, dan campuran tak bernama dari semuanya. Selama ini ia pergi ke terapis, minum obat, berjuang untuk sembuh. Dan selama itu semua, ia merasa ada bagian dirinya yang tidak pernah ikut sembuh, bagian yang selalu terasa asing.
Bagian yang menyukai presensi Ohyul.
Dan sekarang papanya berkata penyakit homo dengan nada yang sama seperti ketika beliau berkata kolesterol tinggi — sesuatu yang ada, nyata, bisa dan harus ditangani.
Apa mungkin selama ini mereka benar?
Apa mungkin bagian dirinya yang menyukai Ohyul adalah sumber dari semua racun itu? Apa mungkin bertahun-tahun terapi yang tidak berhasil itu karena mereka mengobati gejala, bukan akarnya? Apa mungkin ini adalah penyakitnya yang sesungguhnya?
Apa mungkin Ohyul yang selama ini yakini adalah obatnya, justru adalah racunnya.
Ryul menghubungi Ohyul keesokan harinya. Mengajaknya bertemu di taman kota.
Ohyul datang dalam sepuluh puluh menit — padahal jarak rumah dengan taman kota memakan waktu hampir setengah jam — dan ketika ia melihat ekspresi Ryul, ia tahu sesuatu di mimpi buruk Ryul terjadi.
“Are you okay?” tanya Ohyul pelan. “Ada apa?”
Mereka duduk bersampingan di kursi kayu di depan kolam air mancur.
“We should stop this.”
Ohyul terhenyak karena Ryul barusan tidak seperti Ryul yang biasanya. Kali ini pria Kim terdengar kaku dan dingin persis seperti orang tuanya yang pernah ia ceritakan.
“Stop what?”
“Us.” Ryul menahan napas. “We should stop us.”
Napas Ohyul tercekat.
“I’ve thought about this for a long time.” Ryul menatap kosong ke depan. “Ini nggak sehat. Untuk kita. Untuk aku.”
“Ryul — ”
“Don’t cut me off, Ohyul.” Suaranya tidak meninggi tapi ada sesuatu di dalamnya yang seperti kawat yang ditarik terlalu kencang. “I’ve spent years trying to get better it just hasn’t worked. And maybe, maybe this is why. Maybe this is what needs to be fixed first.”
Ohyul masih diam. Ryul akhirnya menatapnya, dan ekspresi itu ada di wajah Ohyul. Ekspresi pahit dan kecewa yang sama dengan milik orang tuanya kemarin.
“Jadi kamu lebih percaya apa yang mereka bilang,” kata Ohyul akhirnya.
“Ini bukan tentang percaya atau nggak percaya, Ohyul. Ini tentang apa yang terbaik untuk penyembuhanku.”
“Mereka yang bilang ini, kan?” Ohyul berkata tenang. “Orang tuamu.”
“Sekarang aku tanya ke kamu, emang apa sih yang salah dari kamu? Answer with your own heart and believe.” Suara Ohyul bergetar. “Aku emang cuma kenal kamu dua tahun tapi nggak butuh waktu berpuluh-puluh tahun untuk tahu nggak ada yang salah di diri kamu. Or at least, aku tahu kamu nggak sakit karena ini. Karena kita.”
“Jangan.” Suara Ryul tiba-tiba meninggi. Ada sesuatu yang bergerak di dalam dadanya, panas dan tidak terkontrol. “Jangan bicara seolah-olah kamu tahu semuanya, Ohyul. Kamu nyalahin orang tuaku sekarang? Setelah akhirnya aku paham apa yang ternyata salah di kepalaku?”
“Aku tahu apa yang salah di kepalamu.” Ohyul mengigit bibir bawahnya sekuat yang ia bisa. Menahan genangan air di pelupuk mata untuk tidak meluncur. “You’re a coward. You never had the courage to stand by your own words, your actions, or what you claim to believe in because you’ve always hidden behind your parents. And after everything we’ve been through, you still chose to leave me simply because they told you to.”
“Don’t talk like you know what it’s like, Ohyul. You don’t know what it feels like to live with poison running through every drop of my blood. And all of this happened because of you.”
“Oh iya?” Untuk pertama kalinya ada sesuatu yang retak di suara Ohyul.
Ryul menyadari bicaranya salah. “Maaf, bukan, bukan gitu maksudku. Tapi kamu tahu sendiri kan, mereka orang tuaku, Ohyul, I can’t just go against them like it’s nothing.”
“Yes, and you’re still your own person.” Ohyul berdiri dari duduknya. “Ryul, penyakitmu itu nggak ada hubungannya sama aku. Sama segala yang kita punya selama dua tahun belakang. Bukan, bukan itu sumbernya. Aku tahu kamu tahu itu, but you chose to not believe it because your parents said so.”
Ryul menggeleng cepat. Gerakannya frantik.
“For fuck’s sake, stop acting like you know everything about my life, Kwon Ohyul!” Suara Ryul akhirnya meninggi, dan kata-kata yang keluar bukan kata-kata yang direncanakan, bukan kata-kata yang adil — tapi rasa sakit tidak pernah adil dalam memilih ekspresinya. “Aku yang terlalu naif dan bodoh dari awal. You always had everything so easy. You could love whoever you wanted, say whatever you wanted, fight for what you believed in. You had choices.”
Ryul merasakan matanya kian memanas. Ia berdiri menghadap Ohyul.
“But me? I don’t get that luxury.” Ryul tertawa pahit. “You made me want things I was never supposed to have. You made me think I could choose for myself. You made me believe that maybe, just maybe, I could have a future that belonged to me.”
Ryul bisa melihat dengan jelas bagaimana satu tetes air akhirnya meluncur perlahan dari pelupuk mata Ohyul yang memerah.
“You were never going to be the cure, Ohyul. I was just stupid enough to believe you could be.” Ryul menelan ludah kesusahan. “If anything, you only made everything more complicated.”
Ohyul mengangguk sekali, membuat air matanya menurun mengejar satu sama lain. Membasahi pipi gembilnya yang dulu selalu merona kemerahan saat keduanya menghabiskan waktu bersama. Sebelum akhirnya ia benar-benar melangkah pergi dari titik ia berdiri.
Sosok Ohyul menghilang ditelan keramaian pengunjung taman kota sore itu dan Ryul merasakan air kotor di kepalanya bergolak dengan keganasan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya — karena sekarang di dalamnya ada bukan hanya racun lama tapi juga sesuatu yang baru, sesuatu yang mengendap seperti wajah Ohyul dengan ekspresi yang tidak akan pernah bisa Ryul hapus dari ingatannya.
V. Paris
Tahun-tahun setelahnya berjalan dengan cara yang membosankan. Tidak lagi berwarna-warni seperti dua tahun lalu, warnanya kusam dan monoton.
Ryul pergi ke terapis baru. Bukan yang dicarikan orang tuanya — terapis itu ia tolak diam-diam — tapi terapis yang ia temukan sendiri, yang ternyata jauh lebih baik dari sebelumnya.
Ia kembali dari sesi terapisnya ke apartemen. Apartemen yang berbeda karena ia memutuskan untuk pindah dari apartemen sebelumnya karena yang ia rasakan hanya sesak dan kenangan bersama Ohyul di unit itu.
Terhitung sudah lima tahun sejak terakhir kali ia melihat Ohyul di taman kota saat itu. Terhitung lima tahun pula, Ryul mendengar kabar Ohyul.
Ryul tidak mencoba menghubungi Ohyul. Pun, ia tidak tahu bagaimana caranya karena seluruh sosial media dan kontaknya diblock, dan yang lebih penting, ia tidak tahu apa yang ingin ia katakan apabila nanti dihadapkan dengan si Kwon. Kata maaf terasa terlalu kecil dan aku salah terasa terlalu terlambat. Jadi Ryul memilih sekali lagi menjadi pengecut dan menjalani hidupnya dengan membawa rasa bersalah itu seperti batu di dada. Selalu ada, selalu terasa beratnya, tapi sudah menjadi bagian dari ritme berjalannya.
Ponsel di sampingnya tiba-tiba bergetar. Notifikasi pesan dari nomor yang tidak ia kenal.
Halo, Kim Ryul. Perkenalkan, saya Lee Jaeho, penghuni apartemen unit 212 saat ini, yang sebelumnya merupakan unit yang Anda tempati. Saya mendapatkan nomor Anda dari agen apartemen. Ada sebuah surat yang ditujukan atas nama Anda, jadi saya menduga ada kenalan Anda yang mungkin masih mengira Anda tinggal di alamat ini.
Esoknya, sebuah amplop cokelat dengan sudut kirinya bertuliskan Untuk, Kim Ryul sudah di tangannya. Di dalamnya tidak ada apa-apa kecuali selembar kertas yang dilipat dengan rapi.
Kim Ryul,
Aku nggak tahu kamu bakal baca ini atau nggak. Mungkin kamu udah pindah dan surat ini bakal dibuang sama siapapun yang tinggal di sana sekarang. Mungkin itu lebih baik juga, entahlah.
But, I need to let this out of my chest. Five years turns out to be enough time to realize that some things have to be let out of you before you can breathe properly again. And this is one of them.
There’s something I don’t think you ever knew.
Waktu kita masih bareng, aku selalu bangun lebih pagi dari kamu kalau kamu ketiduran di rumahku, dan kamu tahu nggak? aku nggak langsung bangunin kamu. Aku cuma duduk dan liatin kamu tidur. Bukan dengan cara yang aneh, kok, haha. Tapi waktu aku lihat wajah kamu yang tenang dan tanpa beban waktu tidur, aku ikut lega kamu setidaknya bisa tidur dengan pulas tanpa harus kepikiran tentang semua yang jahat-jahat di otak kamu.
Tapi, di satu sisi, aku juga tahu kalau cepat atau lambat, kamu nggak bisa selamanya di hidupku. Kayak sewaktu-waktu ada yang bakal dateng dan nagih balik kamu dari genggamanku.
Ternyata memang ada. Dulu, aku pikir, orang tua kamu yang bakal pisahin kita. Ternyata aku salah, ya. Karena kamu sendiri yang milih untuk mengakhiri semua yang kita punya.
Aku tahu hubungan kita nggak pernah punya nama. Kamu nggak pernah ngomong apa-apa dan aku nggak pernah minta kamu ngomong, karena aku bisa lihat betapa kerasnya kamu lagi berjuang dan aku nggak mau nambah beban. Mungkin itu salahku juga. Mungkin kalau aku lebih berani waktu itu semuanya bisa beda.
Atau mungkin nggak. Aku udah berhenti main-mainin kemungkinan itu.
Entahlah.
Yang aku tahu pasti saat itu adalah aku sayang kamu. Bukan dengan cara yang setengah-setengah atau yang bisa aku rasionalisasi jadi ya kita memang temen deket aja. Aku sayang kamu dengan perasaan penuh dan membuncah. Dengan cara yang bikin aku hafal cara kamu pegang cangkir kopi sebelum kopinya dingin, dengan dua tangan dan agak membungkuk, karena begitulah yang diajarkan ke kamu. Dengan cara yang bikin aku sengaja buka jendela habis hujan karena aku tahu kamu suka baunya. Dengan cara laptopku yang mulai membuka tab-tab tentang artikel ilmiah yang sering kamu baca.
Dan, aku nggak nyesel melakukan semua itu.
But I’d be lying if I said that day didn’t break something in me.
When you told me I wasn’t the cure, I just stood there, and I understood, Ryul. I really did. I could see that you were repeating words that had been planted inside you long before I came along. And the part of me that loved you understood that completely.
Tapi ketika aku pulang ke rumah aku cuma bisa terduduk di depan pintu dan nangis.
Bukan cuma karena kita berakhir.
Tapi karena aku takut buat kamu. Aku nggak tahu kamu bakal gimana setelah itu. Aku nggak tahu apakah ada orang yang bakal duduk di sofa ruang tengah di apartemen sama kamu di jam-jam yang gelap itu. I didn’t know if you’d be okay after I left you.
And I couldn’t check up on you. Because you were the one who asked me to leave.
That was the hardest part, Ryul. Harder than anything you said that night.
Aku pindah ke Paris enam bulan setelahnya.
It wasn’t just running away, or maybe it was, a little. I won’t pretend otherwise. But you knew me the best. Paris memang udah selalu jadi tujuanku, dan lima tahun lalu, setelah aku kehilangan kamu, aku pikir inilah waktu yang tepat buat berhenti nunggu hidup yang aku mau dateng sendiri.
Di sini aku belajar banyak hal. One of the hardest things was learning that you can’t save someone who isn’t ready to save themselves. That your presence can’t replace the work they have to do on their own.
I wasn’t your cure, Ryul.
You were right about that. Meskipun maksud kamu waktu itu jauh lebih kejam dari kebenaran yang sebenernya ada di balik kalimat itu.
But I wasn’t your poison, either.
Dan aku butuh waktu yang nggak sebentar buat beneran percaya itu. Buat beneran nggak mempertanyakan diri sendiri — apa yang kurang dari aku, apa yang salah dari aku, kenapa aku nggak cukup buat bikin kamu milih keputusan yang berbeda.
Sekarang aku tahu jawabannya adalah karena memang itu bukan tentang aku. It was never about me. It never was.
Aku udah maafin diriku sendiri.
Aku juga udah maafin kamu.
Bukan karena kamu minta, kamu nggak pernah minta, dan aku nggak tahu apakah kamu bahkan sadar betapa dalamnya yang kamu tinggalin ke aku. But holding onto anger toward someone who was dying inside themselves was one of the most exhausting things I’ve ever tried to do.
So I let it go.
I let you go, Ryul.
Aku harap kamu baik-baik aja sekarang. I truly hope you are.
Aku harap kamu udah nemuin jalan keluar dari semua yang ada di kepala kamu, yang beneran milik kamu, bukan yang dibangun dari kata-kata orang lain tentang siapa kamu seharusnya.
Aku harap kamu akhirnya tahu bahwa kamu nggak sakit karena mencintai siapa yang kamu cintai.
Aku harap kamu nggak terlalu keras sama diri sendiri soal semua yang terjadi. Karena ada banyak momen yang baik, Ryul. Lebih banyak dari yang mungkin kamu inget. Dan aku inget semuanya, aku simpen semuanya, bahkan kalau kamu udah nggak mau.
I’m doing okay here. More than okay, actually. I found someone who wants to build a life with me in the way I’ve always wanted.
Paris ternyata memang seperti yang aku bayangkan. You were the one who told me I’d fit here. Back then in the city park, when the wind carried the smell of rain.
And I still believe you when you said that.
Aku seneng di sini, Ryul. Aku harap kamu juga rasakan yang sama ya, di manapun sekarang kamu berada.
Jaga diri kamu baik-baik, ya.
— Kim Ohyul. Paris, 2031
