Work Text:
“Yudis! Apa maksudnya kamu sengaja?” tanya Nakula tegas, ia tidak pernah sekeras ini bertanya kepada Yudis. Seseorang yang sudah dekat dengannya, namun, untuk kali ini ia putus asa. Kenapa ini terjadi? Kenapa Yudis melakukan ini semua? Pertanyaan itu berulang kali bergema di batinnya tanpa terjawab.
Nakula menggenggam erat kedua pundak Yudis, tidak ingin si pengamen itu untuk lari lagi ari hadapannya. Di bawah tatapan intens Nakula, si surai hitam itu mengulum bibirnya sendiri..
“Yudistira Yogendra!” Sekali lagi, Nakula memanggil nama pria di depannya—hanya berbalas dengan satu kata maaf yang keluar dari bibir Yudis.
“Maaf…” Seakan ketakutannya terjadi, Nakula menyaksikan sendiri di depan matanya. Sebuah cahaya terang tiba-tiba menyelimuti Yudis dan mengambilnya itu dari si detektif. Tidak perlu waktu lama untuk amarah memakan sang detektif, tidak ke Yudis tapi ke dirinya sendiri—tersangka utama dari kejadian aneh ini berhasil kabur tanpa jejak.
“SIALAN!” umpatnya, menghantamkan tangannya sendiri ke dinding di sebelahnya.
—
“Dis? Bangun woi!” Telingaku mendengar suara yang familiar itu, bergema lantang seolah marah. Ah itu pasti Juna.
“BANGUN WOII! Bangun!”
“hah.. iya iya..” ucapku, menurut kali ini. “Bagus, hampir lu gue piting!”
Mataku tidak sengaja menatap ke jam digital yang ada di sebelah kasur berwarna coklat ini—ini kasurnya Juna?
“Sekarang hari apa?” tanyaku.
“Kamis, kenapa?”
Aku menggeleng, “Bukan, maksudnya tanggalannya berapa?”
“Lu kenapa dah? Tiba-tiba peduli sama tanggalan? Sekarang tanggal 2 Februari by the way.” jelas Juna sambil memakai jaketnya.
Dua Februari. Tanggalan baru..’ ingatku. Terakhir kali, aku terlempar ke waktu setelah kelima anggota mengalahkan Kuravva—sekarang sebelum mengalahkan Kuravva.
“Gue keluar ke bar. Jagain Aya, dia masih trauma soal kejadian kemarin. Gue ketemu orang.” pinta Arjuna ke sawit di depannya.
Sayangnya tanpa diberi tahu, aku sudah tahu sedikit, Arjuna akan bertemu Sadewa di bar miliknya, Di Antara, kalau tidak salah. Benefit ikut time loop berulang kali, jadi hafal tujuan destinasi teman sendiri.
Tidak recommended, karena ini loop mimpi buruk.
“Semua benda tajam udah gue pindahin ke laci, usahain jangan motong sesuatu dulu di depan Aya. Dia ngga inget apa-apa soal kemarin, cuman… jangan sampe ke-trigger.” Nada Arjuna perlahan menurun di kalimat akhir. Seolah dia tidak hanya mengingatkan aku soal keadaan Aya, tapi juga ke Arjuna sendiri.
“Terus kerjaan lu gimana? Mundur?”
Arjuna mengangkat alisnya, keningnya berkerut dan menatapku aneh, “Eh? Gue ada ngomong ke elu ya? Tau dari mana lu gue mundur?” Sorot mata Arjuna menipis dan menatap tajam ke arah–
LAH KOCAK BUNGUL!
“Lah kamu cerita waktu itu.” jawabku cepat. ‘Ikam bungul Yudiss!!’ Bahkan setelah mengulang timeline, ini mulut masih bergerak lebih cepat daripada otaknya.
Tatapan Arjuna terarah ke langit-langit, bibirnya tertutup rapat sambil bergumam kecil, lagi mikir dia.
“Iya kali ya, gue lupa. Tapi, kurang lebih gitu… gue mundur dari kerjaan—mau fokus jagain Aya dulu.”
“Nah pas! Kau sekarang pengganguran, nah nanti kamu ikut ngamen aja~” usulku, berusaha mengembalikan suasana yang awalnya tegang menjadi familiar—alias Juna yang kembali marah-marah.
“Kocak lu!” Ah, itu dia.. musik di telingaku
“Ya, pokoknya jagain Aya.” Seperti biasanya, jawabanku yang penuh guyon nyawit kembali menyulut emosi si merah.
Arjuna memberikan selembar uang kertas jaga-jaga kalau Aya mau jajan makanan. Alhamdulillah tapi kok cuman tiga puluh ribu, dan mengulang pidato yang tidak boleh dilakukan ketika ada Aya.
—
BRAK BRAK BRAK!!
Suara langkah kaki itu memecah suasana sepi di ruang tamu.
“KAK JUNA!”
“Hah?! kenapa?”
“Loh? Yudis–kak Juna mana?” tanya aya sambil celingak-celinguk, baru saja Yudis ingin menjawab. Namun, ia malah melihat sang perempuan naik ke lantai dua; hendak mengecek sendiri keberadaan kakaknya.
Yudis kemudian mengejar Aya ke lantai dua, “Si Juna keluar, lagi ada kerjaan.”
Raut kebingungan muncul di wajah Aya, “Loh? Kak Juna udah dapet kerjaan lagi? Cepet banget!” tuturnya sambil mencebikkan bibirnya.
“Lah, bagus dong?” Aya belum tau soal kerjaan Arjuna di timeline ini kayaknya. Ada perbedaan di timelinenya, di perjalanannya sebelumnya; Aya tau soal pekerjaan Arjuna. Tidak semuanya, tapi cukup untuk membuatnya tutup mulut ketika penyekapan itu terjadi. Walau sayangnya..
Aya..
Dada Yudis tiba-tiba berkedut sakit. Ia gagal. Kalau saja ia tidak lalai waktu itu, ia tidak akan gagal menjaga Aya. Butterfly effects.
“...dis? Yudis– kamu kok bengong? Haloo~”
“ah..? iya?” binar mata Yudis terarah ke tangan Aya yang terayun di depan mukanya. “Ah, sorry–kurang tidur kayaknya..”
Sekali lagi, Aya mencebikkan bibirnya. “Lagian kalo ngamen jangan sampe larut!” tegasnya sebelum memutar tumitnya untuk turun ke lantai bawah. Yudis tidak bisa membalas apa-apa, selain helaan nafas dan senyuman tipis di wajahnya.
‘Dah lama ngga ada yang ngomel gini..’ pikirnya, tidak sadar kalau tatapannya berubah sendu.
“Yudisss! Saya ketemu snack kak Juna, mau gaa?”
“Mauuu!”
