Work Text:
Satu hal yang akademi ini syukuri, juga hargai, ialah keberadaan siswa-siswi teladan dan berpotensi di dalam instansi mereka.
Para jenius. Para calon pemimpin. Para siswa yang dianggap mampu membawa nama instansi mereka semakin tinggi. Apa jadinya akademi ini jika tidak memiliki anak murid seperti mereka?
Namun...
“Oh? Lantas... Apa sangkut pautnya denganku? Mohon maaf jika terasa 'tidak sopan' atau apapun itu—tapi, aku benar-benar tidak ada kaitannya dengan kejadian tersebut.”
“Ah, aku tidak melihatmu tadi. Maaf ya? Lain kali jalanlah dengan benar~!”
“Omong kosong. Jelas-jelas aku tidak berkata seperti itu tadi.”
Di tempat sebesar ini, tentu selalu ada pengecualian.
Kebanyakan dari mereka tak mampu, atau mungkin—sanggup, untuk menghadapi sang pembangkang terkenal di akademi ini.
Tak mengikis kemungkinan anak bermasalah dalam suatu instansi. Mau itu sekolah terkenal, terbaik, atau terkemuka di dunia—pastinya akan ada, setidaknya, satu murid bermasalah yang membuat para guru di sana pusing tujuh keliling.
Lalu, dikemanakan tugas menjinakkan mereka jika Guru Konseling pun ikut angkat tangan? Jelas ke OSIS. Melalui OSIS, guru menaruh harapan tinggi agar mereka dapat menjadi contoh yang baik kepada siswa-siswi yang tidak ikut dalam anggota inti.
Termasuk 'mereka' itu. Hampir seluruh pengajar berharap dengan dilimpahkannya tugas ke OSIS—mereka dapat mengubah ‘mereka’ itu, perubahan sekecil apa pun sangat dihargai.
Lalu, apakah OSIS berhasil mengubah mereka?
Hm, jangan tanyakan kepada mereka—lebih baik kalian tanyakan kepada pemuda bersurai cokelat yang tengah bermuka masam itu.
“Apa?” desisnya kala seluruh atensi yang berada di meja bundar itu mengarah kepadanya. “Jika kalian ingin menanyakan tentang hal itu, maka, sayang sekali aku sedang pusing—lain kali saja.”
Erk... Baiklah. Lebih baik kita soroti teman-temannya yang saat ini menemani dirinya di kantin yang mulai sepi ini.
Helaan napas terdengar dari samping pemuda tersebut. “Okay, genius... Masalah apa lagi kali ini?”
Genius. Hampir seluruh orang-orang di wilayah akademi ini melabelinya seperti itu, karena... Ia memang seorang jenius.
“Oh, I wish I'm that genius—layaknya apa yang kalian nyatakan itu.” Sang Genius menenggelamkan kepalanya ke dalam lipatan tangannya. “Mengapa harus aku...”
Sebuah pertanyaan umum, yang semakin lama, terasa seperti keluhan hariannya, terlontar begitu saja dari mulutnya. Kedua temannya, yang—selalu—menjadi pendengar setia keluhannya itu, dapat bersumpah bahwa ini sudah yang kelima kalinya, dalam hari ini, ia mempertanyakan hal yang sama.
“Kesulitan yang lo alami pasti bakal ada timbal baliknya kok! Semangat dikit dong,” ujar salah satu kawannya. “Lagi pula, baru seminggu kita masuk kembali usai kenaikan kelas—masih ada puluhan hari menyenangkan yang menunggu!”
“Coba kamu balik posisi kita. Aku yang berbicara seperti itu ke kamu yang lagi puyeng kayak gini—apa tanggapanmu?” Sang pemuda bersurai cokelat itu mengangkat kepalanya dari lipatan tangannya, dan menoleh ke arah kirinya.
Kawannya yang 'menyemangati' dirinya tadi terdiam karena terkena sembur olehnya.
“That's what I thought.” Ia pun kembali membenamkan dirinya dalam lipatan tersebut. Jelas sekali sedang berada dalam mode dnd: do not disturb.
Teman yang kena sembur itu tadi saling bertukar pandang dengan yang berada di kanan pemuda tersebut. Melalui sorot keduanya, mereka sama-sama tahu bahwa tak ada cara apa pun yang mampu meredakan tensinya.
Tak kecuali...
“Eh, Ley, pulang sekolah nanti, DuFan nggak?” usul temannya yang memiliki surai belang. Dia ini adalah teman yang kena sembur tadi, kerap dipanggil Lylia. “Ajak yang lain juga. Kapan lagi kan seminggu masuk sekolah kita jalan-jalan? Katanya semester depan udah sibuk-sibuk baaaanget!”
Seketika, aura suram yang terpancar dari tubuhnya menghilang bagaikan gelembung yang pecah.
“Ayok!” Netra ambernya yang sebelumnya monoton juga datar, seketika memiliki gemerlap lucu di sana. “Istirahat kedua gua pesen tiketnya, jadi—sebelum jam istirahat kedua selesai, lo harus ngirim daftar nama siapa aja yang ikut.”
Lylia mengangguk, kuncir kembarnya yang berbeda warna itu bergoyang mengikuti pergerakannya. “Sebelum bel istirahat berbunyi, bakal kukirim siapa aja yang ikut kok.”
“Yosh!!”
Dengan semangat baru, Harley, sang pemuda jenius yang (sebelumnya) bermuka masam, beranjak dari posisinya. Emosinya berangsur-angsur membaik atas rencana ‘jalan-jalan’ yang Lylia buat tadinya.
“Oke, sekarang—apa yang membuatmu begitu bete di pagi hari ini?” Akhirnya, temannya kembali bersuara. “Kelas belum mulai sama sekali, lhoo...”
Dengan emosi yang perlahan membaik, Harley menoleh ke arah kanannya. “Ah, you know, the usual. Heran deh, masa gua disuruh ngawasin dia, sih? KAN ITU HARUSNYA TUGAS OSIS...!”
“Kamu bukannya mantan OSIS?”
“Justru itu, Na!” Harley menunjuk ke arah kawannya yang ia sebut ‘Na’. “Karena aku udah gak OSIS lagi, harusnya apa yang dia lakuin gaada sangkut pautnya sama aku, dong?”
Lylia yang mendengar dengan seksama sembari menyereput minumannya tiba-tiba menyeletuk, “Karena lo murid unggulan tau, Ley—mage unggulan juga malah, setara ama dia. Makanya, jangan mencolok kalau nggak mau jadi babu.”
Mendengar itu, atensi Harley yang awalnya tertuju pada gadis leonin dengan cepat teralih menuju dirinya. “Kalau ngomong dipikir-pikir dulu, an—” Harley menahan lidahnya kala melihat ekspresi Lylia yang seolah menantangnya. “—anak bulu menggonggong!”
Sang gadis bersurai belang tertawa remeh mendengar plesetan yang digunakannya.
“Lia, udah, Li. Nanti makin meledak-ledak emosi dia—kasian, baru membaik itu,” timpa sang gadis leonin. “Not to mention, kelas pertama dia kan bareng sama si pembuat onar itu.”
Ekspresi Harley langsung tertekuk begitu mendengarnya, hingga gadis leonin di antara mereka tak mampu menahan kekehannya.
Namun...
“HAHAHAHA—nice one, Na!”
Pecahlah ketawa Lylia pada detik itu juga. Untungnya kantin akademi di pagi hari ini begitu sepi, jadi—tak akan ada yang merasa terganggu dengan kebisingan yang ketiga sekawan ini buat.
“I hate both of you so much, sincerely, dari lubuk hati terdalam ku.”
“Awww~ kita sayang kamu juga, kok, Arls!”
“ENYAH GAK KALIAN, AH, MALES.”
· · ─ ·✶· ─ · ·
Tud. Tud.
Matanya berkedut di saat ia merasakan dua bola kertas dilempar ke arahnya. Ia kenal betul siapa pelaku pelemparan ini. Sangat kenal.
Pengumuman rapat yang secara tiba-tiba diumumkan itu membuat banyak guru, yang tengah mengajar, mau nggak mau meninggalkan kelas mereka—menghentikan kelas dengan menitipkan tugas sebagai pengganti. Tapi, tentunya mereka juga tidak lupa menaruh wejangan untuk tidak membuat keributan kepada mereka yang dapat dipercayai.
Salah satunya adalah Harley.
Ia memiliki kelas Penyembuhan sebagai kelas pertamanya. Hari ini, kelas Penyembuhan tengah mempelajari Penyembuhan Manual—teknik self-regen yang mengajarkan para mage menyembuhkan diri sendiri dengan menggunakan mana secukupnya tanpa harus menunggu seorang Support datang membantu.
Kelas ini sering sekali melakukan uji coba teorinya, dan Harley sangat menantikan uji coba tersebut.
Ia senang sekali dengan hal-hal yang berbau percobaan, eksperimen, dan semacamnya. Ditambah lagi, guru yang mengajar begitu baik dan peduli. Sebuah poin plus untuk kelas Penyembuhan.
Bapak Estes, sang elf bulan tertua yang mengajar pada kelas mapel khusus; Penyembuhan untuk mage dan support, serta mapel umum; sejarah juga bahasa kuno.
Mengingat ia yang berasal dari ras moon elf, tak heran jika ia memilih untuk menjadi guru pada kemampuan yang ia tekuni serta bahasa kuno, dan sejarah-sejarah lama—secara ia telah hidup ribuan tahun. Ia melihat perkembangan dunia selama ribuan tahun dengan kedua matanya sendiri.
Bapak Estes itu sangat lembut kepada murid-muridnya.
Termasuk kepada sang berandalan akademi yang begitu populer.
Tak pernah ada yang mampu memicu kemurkaan seorang elf seperti dirinya. Kesabarannya bagaikan samudera yang begitu luas—sangat luas hingga banyak guru yang segan terhadap beliau.
Legends say, “Air tenang menghanyutkan.”
Balik ke situasi sang jenius saat ini, hampir seluruh mage yang berada di kelas ini sibuk dengan teman maupun diri mereka masing-masing. Ada yang sedang mengerjakan tugas yang diberikan, mengobrol, bermain, you name it.
Namun, ada satu murid yang senang sekali mengusik ketenangannya. Seseorang yang tidak peduli di mana ia berada—ia akan terus mengusiknya kapan pun, dan di mana pun.
Harith.
Sang leonin pemberontak yang, sayangnya, harus ia awasi.
Ia duduk tak begitu jauh darinya. Mejanya berada dua bangku ke belakang dari tempatnya saat ini. Tempat favorit kedua yang sering sekali ia tempati, jika bagian belakangnya—persis—telah terisi oleh murid lain.
Entah kenapa tapi semenjak sang leonin ini dipasangkan dengannya oleh guru konseling—ia jadi semakin sering mengambil tempat yang tidak begitu jauh dari tempatnya. Biasanya, ia kerap sekali memojok di belakang, entah itu pojok dekat jendela maupun yang dekat tembok; ia akan menyendiri di sana.
Tapi sekarang...
“Harith, kamu gangguin Harley mulu. Kasian tahu dianya,” tegur salah satu teman kelasnya.
Teman sekelasnya yang menegurnya tadi berada di kirinya Harley. Ia awalnya ingin sekali mengabaikan apa yang berandalan itu lakukan, namun, ujung matanya kerap menangkap gumpalan kertas tersebut terlempar ke sang korban.
Dan itu membuatnya tak nyaman.
“Lalu? Apa kaitannya sama dirimu?” tanya Harith, “yang aku ganggu itu dia”—Harley dapat merasakan jari telunjuk Harith yang mengarah ke dirinya—“bukan kamu. Lantas, kenapa malah kamu yang repot, sih?”
“Walau bukan aku yang diganggu, kamu tetep aja ngeganggu kenyamanan kelas, tau!”
Harith tak menjawab, dan Harley berharap ia tidak sedang merencanakan hal-hal aneh—karena jika iya... ia sedang malas untuk berhadapan dengan tingkah laku nyelenehnya itu!
Diamnya Harith adalah sesuatu yang saaaangat sang jenius hindari. Mengapa? Ada dua kemungkinan; pertama, ia sedang merencanakan bagaimana ia akan membalas, dan kedua, ia diam-diam menyiapkan kejutan untuk mereka.
Kedua kemungkinan itu sama buruknya, entah untuk Harith sendiri—maupun Harley, yang diutus untuk mengawasi tiap gerak-gerik dan perilakunya.
Jadi! Sebelum hal tersebut benar-benar terjadi, lebih baik ia menghentikannya.
“Harith.”
Meski Harley terus terpaku pada buku yang tengah ia baca itu, ia dapat merasakan seluruh mata tertuju kepadanya. Kebisingan yang awalnya berpendar di udara pun perlahan menghilang. Menyisakan kesunyian penasaran akan apa yang bakal ia lakukan selanjutnya.
Harley menarik napas melalui hidungnya, dan menghembuskannya melalui mulut. “Jangan berulah sekarang,” tuturnya pelan. Pendengaran leonin begitu tajam, pastinya Harith tak akan begitu kesusahan menangkap apa yang baru saja ia ucapkan, kan?
Salah.
“Hm? Apa kau mengatakan sesuatu, Harleeyyy~?”
Leonin ini... batinnya masam.
Seharusnya ia sudah tahu ini akan terjadi. Semingguan bersama sang berandalan ini telah membuatnya hafal dengan segala tingkah lakunya yang di luar ekspektasi semua orang terhadap mage class S umumnya.
Harley tak bergeming, membiarkan pertanyaan darinya itu melayang di udara begitu saja.
Namun, entah kenapa, Harith sama sekali tidak mempermasalahkan kediaman sang jenius. Malah (menurut pandangan teman sekelasnya) ia terlihat seolah menantikan sesuatu. Sesuatu yang diyakini dapat membuat Harley sulit berkata-kata.
“Ah...” Tak mendapati jawaban dari pemuda tersebut, sang leonin justru menyenderkan dirinya pada bangku. “Sayang sekali, padahal jelas-jelas aku mendengarmu bersuara tadi.” Ia terdengar seperti tengah memainkan gumpalan kertas yang telah dibuat pada telapaknya.
“Well, don’t mind if I do—”
“Harith, jangan berulah sekarang,” selanya keras.
Dengusan yang terasa seperti, ‘gitu dong’ terdengar dari belakangnya. Tanpa menoleh pun Harley sudah tahu ekspresi apa yang terpampar pada raut wajah sang leonin itu. Sebuah seringai nakal yang puas karena telah mendapatkan apa yang ia inginkan.
Harusnya.
“What’s the magic word?”
Darah di tubuhnya seketika terasa membeku, memberikannya sensasi panas-dingin yang terasa aneh. Untuk sesaat, ia menyesali akan fakta bahwa pendengaran ras leonin memang setajam itu.
Mendadak, sang jenius tidak tahu harus berbuat apa. Pikiran rasionalnya berteriak untuk tidak menuruti keinginan sang leonin itu, namun di satu sisi, Harith tidak akan tinggal diam jika sudah seperti ini!
Seharusnya aku gak usah ngomong tadi!!
Dalam diam, Harley menyesali apa yang baru saja ia perbuat. Untungnya, raut tertekuknya itu terhalang oleh topi yang selalu ia kenakan. Tak hanya itu, semburat merah yang menjalar ke kupingnya pun juga ikut tersembunyi dari pandangan yang menatap.
Pandangan yang menunggu responnya.
Samar-samar, Harley dapat mendengar bisikan seperti...
“Kira-kira, apa yang Harley perbuat sampai-sampai Harith seberani itu, ya?”
“Ih... Leonin itu kurang ajar banget, aku jadi kasihan sama Harley...”
Dan semacamnya.
Perempatan imajiner muncul di pelipisnya, diikuti dengan bulir keringat yang menggulir dengan bebas.
“Ayolah, Harls, apa kata ajaibnyaaa~?”
Persetan.
“Oh, quit it, leonin!” Suara baru terdengar dari pintu kelas. Suara feminim yang terasa begitu lembut tetapi tajam di ujungnya itu sangat ia kenali. “You nggak ngeganggu Hare selama sehari kayaknya gak bakal tenang, ya? Cari hiburan lain napa, ‘cah gendeng.”
Tunggu... bukannya ini...?
“Kak Gwen?”
Suasana kelas yang awalnya tegang, seketika semakin tegang dengan kedatangan bangsawan Baroque, Guinevere Baroque.
Dan Harley, entah kenapa, tidak dapat menahan dirinya untuk menampar wajahnya sendiri.
Tidak bisakah kejadian hari ini bersabar sedikit?! Jeritnya dalam batinnya sendiri.
Daripada membuat keributan yang tidak diinginkan, lebih baik ia tunaikan apa yang leonin sialan itu inginkan!
Harley—akhirnya—menoleh ke belakangnya. Netra amber miliknya bertabrakan dengan netra ungu milik sang leonin. Sang pemuda rambut cokelat ini dapat melihat secara langsung bagaimana iris miliknya itu berbinar nakal, menantikan apa yang baru saja dimintanya.
“If I said it, will you do it?”
Harith berseru, “Perchance.”
Harley yang mendengar itu menyipitkan matanya pada sang leonin, seakan mengancamnya jika dirinya tidak melakukan apa yang ia minta. “Aku serius, Harith.”
“God, eh—pantau luar kelas, takutnya ada guru!” Ini sahutan dari salah satu dari puluhan teman kelasnya lagi.
“Guru-guru kan pada rapat, bodoh!!” Ini juga sama.
“Lebih baik siap siaga daripada kagak!” Yang ini sekali pun.
Alis gadis bangsawan yang masih setia di ambang pintu itu berkedut. Apa-apaan ini? Ia datang dengan niat menghantarkan titipan dari Lesley ke adiknya—kenapa ia malah disuguhi drama aneh seolah-olah kedua mage ini ialah pasangan lama yang tengah bertikai??
Hare tidak mungkin memilihnya sebagai partner hidup, batin Guinevere disaat gagasan itu terbesit. Tapi... sifatnya akhir-akhir ini malah keliatan tertarik sama Hare.
Guinevere menggelengkan kepalanya.
Mana mungkin, merupakan apa yang dapat ia simpulkan.
Kekehan keluar dari mulutnya. Sang leonin mengabaikan tiap hiru pikuk yang teman sekelasnya perbuat. Semua orang yang berada di dalam menantikan apa yang akan ditanggapinya. Bahkan Guinevere, yang baru saja datang, ikutan menunggu tanggapannya itu.
“Hare kayaknya mustahil deh—”
“For you, tentunya. Tinggal katakan kata ajaibnya dan aku akan mengabulinya.” Apa yang ingin bangsawan Baroque sampaikan terpotong begitu saja oleh Harith yang tiba-tiba berujar seperti itu.
Sang gadis dapat merasakan mulutnya yang ingin menganga, namun, ia menahannya. Apa cuma itu pengecualiannya?!
Ingin sekali ia bersuara di detik itu juga, untuk bilang, ‘fat chance, udah Hare—jangan ladenin leonin ini,’ namun...
“Please, Harith. Jangan berulah sekarang...”
“Mm, granted, darling~!”
Detik itu juga, mulutnya ternganga lebar.
· · ─ ·✶· ─ · ·
Apa jadinya jika kalian memasangkan top student dengan top troublemaker?
Pastinya banyak yang mengira bahwa mereka akan menimbulkan pertengkaran yang begitu dahsyat sampai satu-satunya cara untuk menghentikan ‘kenakalannya’ itu ialah meng-DO kan sang berandalan.
Ah, namun, pembuat onar terkenal di akademi ini berbeda dengan stereotip tersebut.
Sepertinya.
Surai nyentriknya dengan tiga warna berbeda bergerak lembut mengikuti pergerakan kepalanya. Disusul dengan telinga leoninnya yang berayun pelan, ekor miliknya pun bahkan terlihat berkibas dengan senang.
Hari ini, ia tengah mendengarkan pembelajaran dengan seksama.
Mengejutkan, bukan?
Itu yang dipikirkan seluruh teman sekelas juga guru pelajarannya saat ini.
“Harith,” Bu Aurora berujar, “bolehkah ibu berbicara sebentar denganmu?”
Masih dengan seringai dan kepala yang bergerak samar ke kanan kiri, ia menjawab, “Sayangnya, tidak.”
“Baiklah.”
Aneh, merupakan apa yang Aurora ucapkan dalam batinnya. Apa Sang Vance itu berhasil mengubah dirinya?
Sepanjang pembelajaran, sang pembuat onar—yang dikenal gemar berulah kapan pun tnapa mengenal tempat—benar-benar memerhatikan pembelajaran hari ini. Ia bahkan terlihat tengah mencatat bagian-bagian yang menurutnya itu penting.
Hal ini membuat hampir seluruh isi ruangan, tanpa sadar, bergidik ngeri. Apa dia sedang tersambat, atau apa? Mengapa ia berperilaku begitu teladan, yang berbanding terbalik dengan perilaku biasanya!?
Sang empu yang kini tengah menjadi kekhawatiran tiap insan di dalam sana sama sekali tidak mengetahui hal tersebut. Entah ia yang memang tidak menyadarinya, atau memang sengaja mengabaikannya, tidak ada yang benar-benar tau pasti akan apa yang berada di dalam pikiran sang leonin itu.
Huh, jika saja mereka memiliki nyali untuk bertanya pada teman satunya itu, mereka pasti akan mengetahui alasan di balik kepatuhannya.
Tapi... meski mereka mendengarkannya pun, tak menjamin mereka akan percaya di detik itu juga. Siapa sih yang mau percaya omongan teman seperkongkolan sang leonin itu? Hanya mereka yang telah hilang akal yang akan percaya.
“Untuk materi hari ini, apa ada yang masih ingin ditanyakan?” Aurora mengalihkan pandangannya dari papan tulis yang penuh berbagai kalimat ke murid-muridnya yang memiliki berbagai ekspresi.
Kecuali sang leonin itu lagi.
Ekspresinya tetap sama semenjak ia melangkah masuk ke dalam kelas; seringai kemenangan dengan mata yang berbinar samar, ritme gerakan yang teratur.
Huh.
“Harith?” panggilnya, “apa kau benar-benar memerhatikan pembelajaran?”
Sang leonin tak langsung menjawab. Atensinya masih terpaku pada buku catatannya yang tengah ia tulis itu. Ujung pena miliknya terus bergerak santai di atas buku. Barulah beberapa detik kemudian ia menjawab, “Mm,” tanpa menoleh ke guru yang bersangkutan.
Meski masih sedikit curiga, namun Aurora memilih untuk membiarkannya. Momen seperti ini tidak akan datang dua kali, jadi... daripada mempertanyakannya, lebih baik dinikmati.
“Kalau begitu—ibu harap kalian benar-benar paham dengan materi kali ini, ya? Selanjutnya ...”
Suara Bu Aurora melebur bersama dengan suara latar hari ini. Masih dengan fokus yang sama, ia menarik penanya untuk menulis materi yang ada di papan tulis.
Ketenangan ialah keadaan prima tiap mage. Mereka yang dapat menguasai ketenangan tubuh mereka sendiri tentunya akan sulit untuk ditaklukkan maupun diserang, seolah mereka tidak ada celah sama sekali untuk ditembus—sama halnya dengan Harle...
Penanya berhenti bergerak.
Apa ini? Apa ia teringat kembali akan momen tadi pagi??
“Please, Harith. Jangan berulah sekarang.”
Jika ia boleh jujur... bagaimana mungkin ia tidak teringat, sih? Reaksi sang jenius pada saat itu benar-benar menggemaskan! Ia perlu menahan setiap inci dari dirinya untuk tidak menerjang sang jenius dan memeluknya di saat, dan detik itu juga.
Tanpa disuruh, ingatan tadi pagi terputar—lagi—di dalam benaknya. Netra ambernya yang terlihat tak kuat menahan rasa malu. Telinga memerahnya yang tak sepenuhnya terhalang. Raut wajah yang mati-matian menahan kesabaran. Dan...
“Please, Harith—”
Mungkin ia memang sudah tak memiliki kewarasan lagi, tetapi... cara suara Harley bergetar hingga terasa seperti merengek itu terdengar seperti musik di telinganya.
Mmn, benar-benar... chef’s kiss.
Sial, ia harus mengubur ingatan itu dalam-dalam jika tidak ingin dicap sebagai orang yang hilang akal. Memalukan.
“Dude... pikiranmu berisik sekali.” Suara yang terasa serak-serak basah itu terdengar tepat dari belakangnya. “Lain kali tolong simpan itu semua di dalam benakmu itu.”
Harith hanya mendengus mendengarnya.
Popol ini—sangat tidak asik. “No promises, Pol.”
“Tuhan...”
· · ─ ·✶· ─ · ·
Seperti apa yang dijanjikan, Harley juga kawan-kawannya—Lylia dan Nana—kini tengah menikmati waktu mereka di taman hiburan yang begitu terkenal.
Berbagai macam wahana telah mereka naiki, dimulai dari wahana Ontang-Anting yang menyambut saat mereka menginjakkan kaki di sana, diikuti dengan turbo drop, dan berbagai wahana lainnya.
Mereka berkunjung tepat saat hari kerja, sehingga kepadatannya relatif rendah dibandingkan dengan hari libur maupun weekend. Oleh karena itu, mereka dapat dengan mudahnya menaiki berbagai wahana tanpa perlu mengenakan jalur ‘curang’ (katanya.)
Selain itu, yang benar-benar ikut pun hanya mereka bertiga. Rata-rata dari mereka beralasan sibuk lah, ada urusan lah, dananya kurang lah, dan semacamnya. Kalau kata Lylia, “Lha... KOCAK. Nyesel tuh pasti karena ga dapet kesempatan ditraktir lo—ya lagian lo juga mendadak banget sih, ah!”
Ya. Sesampainya mereka di tempat tujuan, Harley ternyata telah menanggung semua biaya; seperti tiket masuk, dan makan minum—itupun kalau mereka memang menginginkannya. Mereka tak semata-mata datang dan bermain. No. Mereka datang dengan persiapan.
Persiapan energi. Persiapan makan dan juga minum.
Karena, menurut mereka, makanan yang ada di dalam sana rata-rata pasaran dan dapat dijumpai di luar taman hiburan dengan harga yang jauh lebih masuk akal. Memang masing-masing tempat itu memiliki harga yang berbeda-beda tergantung tempatnya sendiri—namun masa iya lima belas ribu untuk sebotol air?
Mending bawa minum sendiri.
“Abis ini mau ke mana?” tanya Nana sembari menyeruput es teh yang ia sembunyikan pada ranselnya sebelum masuk.
Kini mereka tengah berjalan tanpa arah setelah menaiki wahana ice age. Mereka datang tepat saat semua wahana telah dibuka, jadi mereka tidak perlu menunggu wahana yang buka pada jam tertentu.
“Apa aja sih yang belum dinaikin? Kayaknya udah semua deh...”
Gadis leonin itu tampak berpikir sebentar, matanya menyapu tiap kawasan yang dapat matanya terawang sebelum menangkap salah satu wahana air. “Wahana air belom, kan?” Nana menunjuk ke arah perahu yang kini tengah berada di puncak slider-nya. “Gimana kalau kita naikin Niagara-gara?”
Lylia mengangguk setuju. “Boleh tuh, nanti pas dah selesai kita istirahat sebentar buat isi perut, gimana?”
“Oke, oke.”
Keduanya segera menoleh ke arah pemuda bersurai cokelat yang tengah sibuk dengan gawainya sendiri. Lylia memutar kedua bola matanya malas. Harley ini tipikal orang yang jarang sekali menyentuh gawai, namun sekalinya ia menyentuh mereka—ia akan sangat sulit sekali dipisahkan.
Ia sempat, technically, tak sengaja, melihat apa yang ada di ponselnya itu: nihil. Tak ada sesuatu yang menarik selain dirinya yang tengah menggulir di salah satu platform sosial media.
Oleh karena itu, melihat dirinya yang sibuk sendiri, Lylia dapat mengambil kesimpulan bahwa ia tengah sibuk menggulir vidio pendek yang muncul di berandanya. Namun... mengapa jarinya tidak bergerak seakan tengah menggulir?
“Asik banget tuh diliat-liat, kamu lagi ngeliatin apa, Arls?”
Seolah menyadari kehadiran kedua teman gadisnya itu, Harley mengalihkan pandangannya ke mereka. “Bukan apa-apa, hanya kakakku dan kak Gwen yang mengingatkan untuk tidak pulang terlalu larut.”
“Oohh—oh ya! Omong-omong, gimana kabar kakakmu?” tanya Nana. Tangannya yang tengah memegang krep ia arahkan ke mulutnya. “Pasti sangat membosankan jika di rumah tidak ada siapa-siapa.”
Harley mengangguk. “Jujur iya... Cuma, Kak Gwen sering mampir kalau orang tuaku sedang sibuk-sibuknya. Tau nggak sih kalau timing Kak Gwen itu selalu tepat mulu?”
“Tepat gimana?”
“Ya—pas gitu kedatangannya, seakan-akan dia tahu kapan orang tuaku bakal pergi ke luar kota karena urusan bisnis.”
“Insting seorang kakak mah gausah diraguin, Ley.” Lylia merotasikan kedua bola matanya. Serius deh, Harley kayak gatau kakaknya sendiri gimana. “Kakakmu aja punya insting yang di luar akal sehat, tau. Ga ngikis kemungkinan kalau Kak Guin juga sama.”
“For your information, Lia...” Nana mengangkat jari telunjuknya. “Kak Guinevere itu anak bungsunya bangsawan Baroque.”
Lylia terdiam.
Iya juga ya, pikirnya. Huh, mungkin seseorang seperti mereka memang terlahir dengan insting liar seperti itu? Entahlah. Lylia mengendikkan kedua bahunya. “Kalau begitu—bisa saja itu memang naluri seorang perempuan, entah mereka seorang kakak maupun adik.”
Harley menggelengkan kepalanya pelan. Gawai yang berada di tangannya ia masukkan kembali pada saku celananya. Matanya menoleh ke sana kemari, mencari papan tanda tempat yang ingin ia tujui saat ini.
“Eh, Lia, Na—gua ke toilet dulu, deh. Kalian duluan aja kalau mau.”
“Tumben,” ujar Nana, “ga biasanya kamu ada urusan gitu.”
“Panggilan alam mana bisa ditahan sih.” Kini, giliran Harley yang memutar kedua bola matanya itu. Temennya ini kalau lagi pinter ya pinter banget, tapi kalau lagi bodoh—bodohnya bodoh banget.
“Nanti ketemuan di pintu masuk wahananya, ya!”
Sebelum benar-benar pergi sendiri menuju toilet, Harley menitipkan barang bawaannya yang dianggap tidak perlu dibawa ke toilet umum. Jadi, yang akan ia bawa hanya ponsel pintarnya, dan dompet—untuk jaga-jaga jika sekira-kiranya matanya menangkap sesuatu yang menarik untuk dibeli.
“Jangan ampe ilang itu barang, berharga soalnya.”
“Kayak ama siapa aja lo,” cemooh Lylia, “udah sono, ah!”
“Ih ngusir.”
· · ─ ·✶· ─ · ·
Sesaat ia keluar dari bilik toilet itu, dengan rasa lega yang nikmat, ia bergegas menuju wastafel untuk mencuci tangannya.
Toilet di sini sedang sepi pengunjung, entah mereka yang memang memiliki organ pencernaan yang kuat atau proses mencernanya sedang lambat. Meski begitu, pemuda bersurai cokelat ini tak terlalu mengambil pusing. Lebih baik ia selesaikan urusannya, dan bergegas kembali—kedua temannya pasti suntuk karena menunggu. Ditambah lagi, toilet yang dia ambil sedikit jauh dari tempat awalnya.
Tempat ini begitu luas, toilet pastinya ada di tiap-tiap sisi—namun entah kenapa, mereka seolah sedang bersembunyi agar tidak ketahuan. Jangan salahkan dirinya jika ia sedikit lebih lama untuk kembali.
Sesampainya di depan wastafel, ia menghidupkan sang keran dan menyodorkan tangannya pada air yang mengalir. Satu-satunya pemuda bersurai cokelat di sana membilas kedua tangannya itu dengan telaten—memastikan semuanya terbilas bersih.
Disaat ia tengah membersihkan sabun yang masih tersisa, sepasang tangan tiba-tiba melingkari pinggangnya.
Aksi yang tiba-tiba ini tentunya membuatnya bergidik ngeri dan reflek menoleh ke arah pantulan cermin. Namun, sebelum ia sempat melihat siapa sosok yang memeluknya secara tiba-tiba itu—suara yang begitu ia kenali menyapa pendengarannya.
“Darling!”
Tepat saat sosok itu berseru, sesuatu berbulu yang bergerak meringkuk di pergelangan kakinya. Termasuk kepala sosok tersebut yang bersandar di atas kepalanya, membuatnya kesulitan untuk mengonfirmasi identitas sosok ini.
Meski begitu, tanpa perlu menoleh pun pemuda yang tengah dipeluk ini sudah tahu siapa dalangnya.
“Aku sama sekali enggak bertingkah sepanjang hari ini, persis dengan apa yang kamu minta!”
Ia dapat merasakan sosok itu menggesekkan pipinya pada surai cokelat miliknya yang bebas dari topi khas yang selalu ia kenakan. Itu menggilitik, dan membuatnya semakin sulit menghilangkan sisa-sisa sabun yang masih ada. Pergerakannya benar-benar dikunci oleh kucing yang haus akan perhatian ini!
“Harith... aku beresin ini dulu,” tuturnya pasrah. “You’ll get your praises, later.”
Sang empu sama sekali tak bergeming, malah ia semakin mengeratkan dekapannya pada sang jenius. Hal ini justru malah membuat Harley memerah karena malu dan tersipu—tak akan ada yang dapat menemukan perbedaan dari raut wajahnya. Tak kecuali sang pelaku yang masih setia dalam mengurungnya ini.
Dengan pergerakannya yang terkunci ini, Harley mau nggak mau harus membujuk sang anak kecil dengan tubuh yang sedikit lebih tinggi darinya jika ingin bebas dari jerujinya ini. “Harith, ayolah.”
“Mmn...”
Di sela-sela membujuk sang berandalan-yang-sekarang-seperti anak kecil, Harley—akhirnya—berhasil membilas keseluruhan sabun yang tersisa. Ia sama sekali tak kepikiran akan merasakan cuci tangan yang begitu sulit karena terbungkus dengan leonin yang dikenal nakal, usil, pembuat onar, dan semacamnya.
Harley menghela napas lelah.
Ia baru saja menghadapi sikap normalnya selama jam sekolah tadi, dan sekarang? Ia malah harus menghadapi sikap aslinya! Honestly, tidak bisakah dunia memberinya istirahat sebentar??
Harley perlahan berusaha berjalan menuju mesin pengering untuk mengeringkan tangannya yang masih basah ini dengan beban tambahan yang membungkusi tubuhnya. Dengan langkah pasti, ia bergerak menuju mesin yang dimaksud.
Sang leonin dengan surai nyentrik itu otomatis mengikuti sang jenius tanpa tanda-tanda ingin melepaskankan dirinya.
Setelah mengeringkan tangannya, ia dengan susah payan memutar badannya agar berhadapan kepada tersangka yang masih tetap mengurungnya. Ekor miliknya bahkan masih terus melingkari pergelangan kakinya, sesekali Harley dapat merasakan ekor leonin miliknya itu menggeliat.
Ia tak dapat menahan dirinya untuk tak merotasikan kedua bola matanya kala ia melihat ekspresi sok polos dan lugu yang terpampar pada raut sang leonin. “Apa?” Ia menaikkan salah satu alisnya, menatapnya dengan pandangan datar.
“Mana?”
“Kenapa malah saling tanya menanya, sih?”
Ouch. Harley, sepertinya kamu harus sedikit mengontrol lidahmu itu.
Tepat di saat Harley melontarkan hal tersebut, ekspresi sok polos yang dipertahankan oleh Harith berangsur-angsur runtuh menjadi memelas. “Harrrrlllsss.... I’ve been well...”
Untuk menambah kesan dramatisnya, sang leonin ini dengan sengaja menurunkan kedua telinganya—membuatnya semakin terlihat menyedihkan. Dengan mata yang menunduk, dan bibir cemberut, ia kembali berujar, “Kamu masih marah perkara tadi pagi, kah...? ‘m sorry.”
Tadi pagi?
Sang jenius menelusuri ingatannya kembali tentang hal apa yang dimaksud olehnya ini.
Oh.
“What’s the magic word?”
“Ayolah, Harls, apa kata ajaibnyaaa~?”
Yang itu ternyata.
Entah apa yang baru saja terjadi sehingga pembuat onar terkenal di akademi ini mampu mengira bahwa perilakunya saat ini disebabkan oleh hal sepeleh seperti itu. Hah, jika teman-temannya yang lain melihat sang leonin di saat seperti ini, Harley yakin sekali mereka tak akan mempercayai pengliihatan mereka sendiri.
Harley tak dapat menahan tawanya—tawa kecil berhasil lepas dari mulutnya. “... Leonin bodoh, mengapa bisa ngira begitu sih? Ada-ada aja.”
Masih dengan ekspresi bak kucing tertendangnya, ia berujar, “Lagian nadanya datar gitu...” Harith semakin memajukan cemberutnya. “Jangan marah, ah!”
Lepas sudah tawa yang berusaha dia tahan itu.
“Haha! Sayang, buat apa juga aku marah? Pada dasarnya kamu memang usil, kan, aku berusaha ngikutin alur kamu cuma... banyak orang yang liat.” Harley memelankan akhir kalimatnya. Jika diingat-ingat lagi, memori tersebut mampu membuatnya memerah malu.
Mendengar itu, ekspresinya yang terlihat murung tiba-tiba saja berubah menjadi terkesima. “Ehhh? Harley jadi nggak marah—”
Cup.
“Enggak kok. Anak baik pantas mendapatkan hadiah, kan? There’s your reward~!”
Kecupan singkat yang diberikan sang pemuda bersurai cokelat pada pemuda yang memiliki surai nyentrik itu mampu membuat otaknya mengalami muatan yang berlebih. Dengan perlahan, semburat merah menghiasi parasnya—dan Harley melihatnya secara langsung akan dirinya yang memerah mirip dengan salah satu warna surainya.
“Hehe, Harith lucu deh kalau tersipu gini.”
Sebuah rengekan keluar dari mulutnya, ia tak bisa mempercayai mulutnya untuk mengucapkan apa pun. Sebagai gantinya, ia memutuskan untuk membenamkan wajahnya pada ceruk leher sang jenius. Tentunya tak lupa mengeratkan tangannya yang masih merengkuh tubuhnya yang sedikit lebih pendek dari dirinya.
“Harleyyyyy, kamu ga bisa tiba-tiba nyodor gitu aja....”
Lihat lah, sang berandalan yang disegani hampir oleh seluruh penjuru akademi tengah merasa malu hanya karena kecupan singkat yang kekasihnya berikan untuknya! Sungguh tak ada harga dirinya citra ‘berandalan’ miliknya itu jika sudah berada di hadapan sang kekasih.
“Why not? Kamu yang sering ngecup aku tiba-tiba aja enggak ada aku protes, kan.”
“Soalnya beda!”
“Beda gimana, sih?” Tangannya yang sedari tadi berada di sisinya pun bergerak untuk mengelus punggung juga tengkuk sang leonin. “Kamunya aja yang dramatis.”
“Soalnya, kalau aku yang mulai duluan—yang ngerasa malu itu kamu, bukan aku! Jadi...!”
Harith benar-benar salah tingkah tingkat maks hingga tak dapat mengucapkan kata-kata yang jelas. Harley tertawa kecil karena caranya salting itu benar-benar lucu. Dan banyak yang bilang kalau dia ini seorang penggoda.
Penggoda apaan kalau digoda balik langsung jadi kayak gini?
Dering panggilan yang berasal dari ponselnya menghancurkan momen memalukan yang tengah Harith alami. Hal itu membuat Harley tersadar bahwa ia telah berada di toilet sedikit lama dari yang diduga.
Harley dapat merasakan telinga leonin Harith terangkat dan menyentuh telinganya sendiri karena suara dering tersebut.
“Apa itu panggilan dari teman-temanmu?”
“Sepertinya. Lagian juga, aku di toilet lama banget—wajar kalau mereka heran,” jawabnya. “Mereka pastinya bakal ngoceh pas aku balik ke sana.”
“Well—” Harith mengeratkan dekapannya, Harley bahkan dapat merasakan hidung leonin yang menghirup aromanya dalam-dalam, sebelum melepaskannya. “—lebih baik kembali, kan? Wouldn’t want them to suspect anything~”
Pemuda bernetra amber itu merotasikan kedua bola matanya. “Dan karena siapa aku tertahan di toilet ini lebih lama dari yang kuharapkan, huh-?”
Sesuatu yang kenyal secara tiba-tiba menempel pada bibir miliknya. Matanya terbelalak seketika disaat benda kenyal itu bergerak melumati bibir miliknya sepersekian menit. Harley dapat merasakan otak dan juga tubuhnya yang perlahan memanas.
Sebelum dirinya dapat memproses lebih lanjut, sang leonin telah lebih dulu memutuskan tautannya.
“Hehe! See you tomorrow, darling~!”
· · ─ ·✶· ─ · ·
“Panjang umur. You ditelpon kenapa kagak diangkat, sih? Berjam-jam kita nungguin elo nyuci tangan, tau!”
“Uh... ga nyampe berjam-jam juga sih, Lia—”
“SHH!!!” Lylia menaruh jari telunjuknya tepat di depan mulut sag gadis leonin, Nana. “Intinya, ni anak satu lama banget di toilet! Ngapain sih? Perutmu mules kah?”
Harley diam tak berkutik. Ia tak mengindahkan kedua teman gadisnya yang komplen karena dirinya yang begitu lama di toilet. Ingatannya terus menerus memutar apa yang baru saja leonin sialan itu lakukan—untungnya hanya ada mereka berdua di dalam toilet pada waktu itu.
Gimana jadinya kalau ada orang?
Gimana kalau ternyata mereka ada di salah satu bilik toilet, terus gak berani keluar karena perbuatan tak senonoh mereka itu...?!
Huaaa! Ia tak dapat membayangkannya sama sekali!
“Hm? NA TEMENLU KENAPA EGE??? KOK TIBA-TIBA MEMERAH DAH.”
“EH—Arls! Kamu demam kah?? Jawab, hei!”
Ahh! Harith sialan! Awas aja nanti!!
· · ─ ·✶· ─ · ·
Derap langkah kaki menggema di koridor akademi yang sepi. Pada waktu seperti ini, hampir seluruh siswa-siswi juga guru tengah melakukan kegiatan belajar mengajar.
Namun, berbeda dengannya—kali ini.
Di tengahnya kesunyian mengerjakan tugas, ia tiba-tiba saja dipanggil. Melalui pengeras suara yang ada di tiap kelas, sebuah panggilan diberikan kepadanya untuk segera menuju ruangan konseling.
Ia merupakan murid ternama di akademi ini, sudah pasti yang lain dapat menyimpulkan bahwa kehadirannya itu bukan disebabkan dirinya yang berulah. Tidak.
Melainkan...
“Now, apakah ada alasan khusus atas apa yang telah kau sebabkan, dear troublemaker?”
Ia melontarkan pertanyaan tersebut secara tiba-tiba tepat di saat memasuki ruangan konseling. Di ruangan ini, hanya ada dia, dan juga sang terdakwa yang sepertinya baru saja diceramahi oleh Guru Konseling.
Bukannya merasa bersalah, sang pembuat onar itu malah membalas dengan antusias. “Uh, koreksi, sayang—your favorite troublemaker! Hehe, apa kau akan marah jika mengetahui alasanku?”
Sang siswa terbaik berdiri tepat di hadapannya. Di hadapan murid yang dicap sebagai Rebel Emberfang. “Cepat katakan, aku masih harus mengerjakan tugasku, tau.”
“Feisty in the morning. Tentu saja, karena ingin melihat wajahmu yang cantik, hehe~!”
“We saw each other this morning, Harith!”
“Melihat sekilas aja nggak cukup, Harley! I need to see you whole!”
Karena sang sosok pembuat onar yang hobi sekali membuat berbagai macam masalah agar dapat bertemu dengan sosok siswa terbaik ini.
Dasar.
FIN.
