Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-06-06
Words:
925
Chapters:
1/1
Kudos:
5
Hits:
47

at least have the decency to stay

Summary:

Karmen dan Alya sudah lama menjadi dekat. Malam ini, untuk menghindari Papa-nya, Alya pergi ke rumah Karmen. Di sana mereka menghabiskan waktu.

Notes:

did not revise. did not put much thought. probably ass, but i did it for the love of the game.

Work Text:

Cinta sibuk dengan hubungannya yang tidak jelas dengan Rangga. Milly dan Maura entah sedang apa. Yang pasti, hanya ada aku dan Karmen di sini. Kami berdua duduk di pinggir kolam, melihat pantulan bulan di air yang meriak. 

Aku menyenderkan kepalaku ke pundaknya. Sudah lama kami menjadi lebih intim. Aku juga lupa awal dari hubungan ini. Berawal dari satu tatap yang lebih dalam lalu berlanjut ke bentuk-bentuk lainnya. Meski begitu, Karmen masih enggan memberi nama kepada hubungan kami. 

Kemarin, Papa mengancam untuk membunuhku dengan Mama. Ia masih berprasangka bahwa Mama selingkuh. Entah apa yang ada di pikirannya. Jelas-jelas, ia yang membawa perempuan lain ke rumah lalu bersenggama di kamar yang ia tempati dengan Mama. Terkadang, alih-alih membuatku takut, pemikiran Papa menghasilkan tawa miris di mulutku.

Diriku sangat beruntung karena memiliki Karmen. Tanpanya, aku tak mungkin berada di rumahnya, menikmati malam yang tenang. Mungkin aku sudah berada dua meter di bawah tanah, dikubur dalam peti bersama mimpi-mimpiku. Apa aku masih boleh bermimpi?

Karmen tiba-tiba meraih tanganku. Ia mengelusnya dengan jemarinya yang lembut. Aku terkesiap. Aku pun menoleh kepadanya dan bertanya, “Kenapa?”

“Nggak apa-apa. Kamu nggak banyak pikiran, ‘kan?”

Hatiku meronta-ronta ingin mengatakan yang sesungguhnya, tetapi hanya satu kata yang keluar dari mulutku: “Nggak.”

Tak ada perkataan lain yang keluar dari mulutnya. Kami berdua pun terdiam. Aku juga tak tahu harus berkata apa. Rasanya seperti sekitarku melaju dengan cepat, sedangkan aku tertinggal dalam ruang hampa. Memang tak masuk akal. Aku pun tidak bisa mencernanya. 

Tiba-tiba terdengar gemuruh petir. Awan gelap mulai menutupi bulan. Mataku dan Karmen langsung bertemu. Ia membuka mulutnya, “Sebentar lagi hujan. Ayo masuk.”

Ia berdiri menarik tanganku, namun aku tak mau mengikuti tuntunannya. “Aku nggak apa-apa kalau kehujanan.”

“Aku yang apa-apa, Al. Ayo.”

“Aku nggak mau,” jawabku tetap bersikeras. Aku tak tahu mengapa aku ingin membantahnya. Aku rasa karena perasaan yang kupendam memuncak juga pada akhirnya.

“Nanti kamu sakit,” jawabnya datar. Hujan rintik-rintik mulai turun. “Ayo, Al!”

Segala ketidakpastian dan amarahku seketika meledak. “Bisa nggak sih kamu berhenti nyuruh-nyuruh aku.”

“Ini semua demi kebaikan kamu, Al. Kamu kenapa sih? Aku udah minta kamu cerita tadi.”

“Aku nggak kenapa-kenapa, aku cuman capek. Kita itu apa sih?”

What do you mean? Ya, kita itu kita. Aku bisa jadi apa pun yang kamu mau.”

“Aku nggak butuh jawaban setengah-setengah kayak gitu.” Hujan turun semakin deras. Hidungku mulai memerah. “Aku butuh kepastian dari kamu.”

“Terus apa?” jawabnya tak sabar. “Pacaran? Kita pacaran juga buat apa, Al? Kamu tau sendiri akhirnya bakal gimana.”

“Aku nggak peduli soal itu. Aku cuman pengen kamu ada—”

Belum selesai mengutarakan pendapatku, Karmen malah berlari ke dalam rumah. Teleponnya berdering. Entah bagaimana ia bisa mendengarnya. 

Aku mengeringkan diri sebisaku, berdiri di dekatnya. Samar-samar aku mendengar suara perempuan. Yang dapat kudengar jelas hanyalah jawaban Karmen, “Okay, Ta. Gue ke sana.”

Karmen menutup teleponnya. Aku langsung mendekat tanpa memikirkan lantai yang akan basah. “Kamu mau ke mana?”

“Jemput Cinta. Taksi nggak ada semua. Kalau aku nggak jemput, aku takut dia—”

“Kamu nggak pernah segitunya buat aku. Apa itu alasan kamu nggak mau namain hubungan kita?” potongku. Aku tahu ini terdengar konyol di telinga orang dewasa, tetapi inilah yang aku rasakan. 

“Apaan sih, Al? Aku pergi dulu, ya? Nanti sebentar doang kok,” ucapnya sambil meraih kunci mobilnya. 

“Tunggu!” perintahku. “Aku belum selesai ngomong.”

“Apa?” balasnya kesal. 

“Aku belum ada dua puluh menit di sini terus kamu mau pergi begitu aja?”

“Iya…” jawabnya seperti orang bodoh. “Kenapa?”

“Ya, kamu mikir aja dong. Nggak ada sopan santunnya sama sekali. Mau gimana pun, aku ini tamu!" balasku dengan nada yang semakin meninggi. 

“Terus kamu mau aku ngapain?” tanyanya balik dengan nada yang lebih tinggi lagi.

At least have the decency to stay and continue our conversation!” seruku. 

Ia menurunkan nadanya lalu berkata, “Cinta lebih butuh sama aku. Kamu aman di rumah. Dia di luar sana.”

“Oh, aku emang bukan prioritas kamu, ya?” balasku.

“Lo kenapa sih? Pacar aja bukan!”

Karmen tak menggubrisku. Ia keluar dengan cepat. Pintunya malah dibanting. Semua itu membuat segala kenangan buruk dengan Papa menghantui. Meski begitu, suara mobilnya malah menjauh. Aku pun mulai memeluk kaki, menggoyangkan badan dari depan ke belakang. 

Apa yang dirasa seperti berjam-jam berlalu hingga akhirnya suara mobilnya dapat terdengar lagi. Aku yakin durasinya tak lebih dari sepuluh menit. Karmen masuk dengan muka panik. Sekiranya ia lupa soal masalahku tadi. 

Ia menghampiriku dan berusaha memeluk. Aku langsung mendorongnya. “Jangan deket-deket,” ucapku dengan suara tak jelas. Air mataku masih keluar. Mata dan hidungku perih. Aku tak punya waktu untuk ini. 

“Aku nggak jadi jemput Cinta, Al. Aku sadar kamu yang lebih butuh aku.”

“Aku nggak peduli, aku mau pulang,” balasku. 

“Al, ayolah.”

Aku menghela nafas mencoba menenangkan diri. Air mata dan ingusku kuusap menggunakan tangan. “Aku capek. Aku mau pulang.”

Okay, aku anterin,” usulnya. 

“Aku bisa sendiri,” jawabku. Aku pun berusaha berdiri, tetapi malah hampir jatuh. Ia membantuku menjaga keseimbangan. 

“Kamu nggak harus pergi sekarang kalau masih lemes. Aku minta maaf—”

“Nggak usah minta maaf. Kamu cuman bikin aku tambah marah.”

“Terus aku harus ngapain? Biarin kamu nangis? Aku juga nggak enak, Al.”

“Kamu nggak ada bedanya sama Papa. Cuman bisa bikin aku ngerasa bersalah aja.”

Setelah ucapan itu, aku mengambil barang-barangku dan menerobos hujan. Persetan dengan baju yang basah, dengan Papa yang pasti akan menghabisiku. Kenyataan bahwa Karmen lebih peduli soal Cinta sudah mengakhiri hidupku. 

Yang kuinginkan hanyalah untuk cepat pulang—segera pulang. Aku tak kuasa digerogoti perasaan tak cukup. Ia takkan pernah bisa puas denganku. Aku takkan bisa menjadi lebih dari Cinta. 

Dalam perjalanan kembali ke rumah, aku biarkan air hujan samarkan air mataku. Aku biarkan hatiku terus meraungkan satu nama. Semuanya kacau.