Work Text:
Siapa pun yang melewati lemari tua di pojok koridor gedung UKM tersebut pasti segera lari terbirit-birit. Maksudku, siapa yang tak akan lari, jika tiba-tiba mendengar suara berbisik serta cekikik dari dalam lemari itu pada pukul 21.00? Wajar sih sebenarnya dan lagipula beberapa lampu yang mengarah ke koridor juga sudah dimatikan, termasuk beberapa lampu dari ruangan-ruangan HIMA prodi maupun ruangan UKM lainnya. Hal ini menambah kengerian siapapun jika lewat pada area tersebut.
Koridor yang hampir gelap di malam hari, dengan suara berbisik dari lemari tua; kombinasi mantap untuk menulis kisah hantu penghuni bangunan.
Ya, seharusnya begitu sih. Namun, hal ini berbeda dengan dua anak Adam yang bersembunyi dalam lemari—si penyebab suara bisik dan cekikik; Alex dan Jisang.
Seharusnya mereka pulang dari 1 jam yang lalu ketika rapat HIMA sudah selesai, sayangnya jadwal piket menahan mereka berdua sehingga mereka menghabiskan waktu dalam ruang HIMA ilkom tersebut. Seharusnya.
Walau nyatanya, sekarang mereka bersembunyi dalam lemari tua di sebelah ruang HIMA yang masih menyala dengan pintu terbuka. Keduanya duduk berhadapan dalam ruang sempit pada lemari tersebut. Seharusnya sih mereka merasa pengap dan panas, tetapi hal tersebut salah karena nyatanya mereka malah asik berbincang walau harus berbisik dan cekikik dalam lemari itu.
“Gakpapa kan kita di sini?” tanya Alex.
Jisang mengangguk, ia menampilkan senyum lebarnya pada wajah berserinya—menunjukkan rasa senang dan lega atas saat ini. “Bisik-bisik aja ya, biar gak ketahuan, hihi.”
“Semoga pak satpam belum keliling dan semoga Khunpol sama Sam belum balik juga. Kita belum pacaran seharian ini, sumpah aku bisa gila…”
“Lebay ah, padahal kamu bisa ke kost ku dan kita pacaran di kost, kaya biasa.” Jisang terkikik.
“Gak yakin, hari ini capek banget dan kamu pasti langsung tidur sekalinya nyentuh kasur. I want to talk with you, a lot.” Alex memasang wajah sedih.
“Besok kamu ada jatah bolos gak? Kalau ada, pakai aja jatah bolosnya, nanti pacaran di kost ku. Kita bed rotting seharian, self reward buat kita seharian ini abis full acara HIMA. Sumpah, aku nyesel masuk perlengkapan, pinggangku kayanya mulai nyeri deh.” Jisang mengerucutkan bibirnya.
Alex gemas sendiri melihat pacarnya ngomel, aduh lucu. Rasanya ia lupa akan segala rasa lelahnya karena kelucuan pacarnya terpatri diingatannya, daripada ia mengingat segala kegiatan hari ini yang bikin capek.
Alex mengusap kepala Jisang dan mencubit pipinya gemas. “You did well, adekk!”
“JANGAN panggil adek ishh! Kan kita lagi berdua doaang.” Jisang menggerutu.
Alex menarik kedua tangan Jisang dan menyatukan dihadapannya, lalu mengecupnya. “Malu ya?”
Jisang mendengus, semburat merah di wajahnya muncul memberi tanda bahwa itulah jawabannya; malu. Alex hanya terkikik melihatnya sambil terus mengecup tangan Jisang—memberi apresiasi tangannya atas segala kerja keras hari ini sebagai sie perlengkapan dalam angkat-angkat barang.
“Alex.”
“Iyaa?”
“Do you want to hold my hand that much?”
“Hm?”
“Kamu mau banget ya pegang tangan aku, pas angkat barang tadi?”
Alex menoleh ke arah Jisang, pupil matanya membesar. Selanjutnya, tanpa bicara ia melepas kedua tangan Jisang secara perlahan.
“Oh, hehe… Dikit?”
“Maaf ya, aku reflek ngelepas.” Jisang menaruh dagunya di atas kedua lututnya yang ia dekap dengan tatapan sendu ke bawah.
“Kenapa minta maaf? It’s not a thing, I guess? Maaf juga udah tiba-tiba pegang tangan kamu dan bikin kamu kaget sampai kejatuhan kardus. Sakit gak?” Alex mendekat ke arah Jisang dan menyibak poni Jisang yang menutupi dahinya, lalu menyelipkannya pada belakang telinga Jisang. Alex mengusap dahi Jisang yang terdapat bekas merah akibat terkena kardus yang menimpanya.
Jisang menggelengkan kepala. “No… Still, I’m sorry. Hold my hand again, please?” suaranya berbisik.
Alex kembali memegang kedua tangan Jisang dan mengusapnya perlahan. “Hey… Did I do something wrong, today?”
Jisang langsung terisak kencang sehingga Alex kaget, dirinya langsung menarik Jisang ke pelukannya dan mengusap kepalanya.
“Hey hey, Jisang… I got you… Adek…” Alex berbisik.
“Aku… Aku marah banget. Marah sama aku, marah sama HIMA, aku marah sama semua. Aku kesel banget.”
“Kenapa harus marah, sayang? You did something wrong? Aku perlu marah juga gak ke yang lainnya?”
Jisang menggeleng, “Kenapa sih harus ada aturan gak boleh pacaran se-HIMA? Kita jadi backstreet. Pun kita gak backstreet, kenapa sih gay people can’t express their love loudly? Am I wrong for being a MAN and for loving another MAN? Kenapa sih aku gak bisa marah setiap anak-anak HIMA ada aja yang being queerphobic despite of kita ada di fakultas dan di jurusan yang SHOULD be queer friendly? Kenapa sih aku harus takut kalau sama kamu di kampus? Harus act like we’re friend, we’re nothing setiap ada yang curiga? Aku juga mau pegang tangan kamu, aku juga mau bisa peluk kamu setiap ngerasa bangga atas keberhasilan suatu hal. Aku juga mau… Aku… Aku mau semua tau kalau kita pacaran, kak.”
“Jisang…”
Jisang menarik badannya pelan dari dekapan Alex dan membawa wajahnya mengadah untuk menatap Alex. “Kamu tuh, pernah ngerasa marah juga gak sih? Kamu ngerasa sesak juga gak, kak? Kamu—”
CUP.
Alex mengecup bibir Jisang.
Jisang diam, tak ada reaksi. Ia biarkan bibir Alex mengecupnya selama beberapa detik sebelum akhirnya Alex menarik bibirnya kembali dan menatap wajah Jisang.
Kini keduanya bertatapan; wajah Jisang merah dengan matanya yang basah dan sedikit merah karena menangis. Sedangkan Alex, matanya kini ikut basah—dirinya ikut menangis. Wajah keduanya sangat dekat, bahkan mereka bisa saling merasakan nafas masing-masing.
Satu detik, dua detik, tiga detik… Dan sampai detik berubah menjadi 1 menit kemudian, keduanya masih bertahan dengan posisinya, sampai akhirnya Alex buka suara lebih dulu.
“Adek… Maaf… Maaf kalau kamu ngerasa kamu ngerasain semuanya sendiri, tapi adek… Jisang… Sumpah, apa yang kamu rasain adalah hal yang sama kaya apa yang aku rasain setiap saat di kampus. Setiap aku harus tahan diri buat gak pegang tangan kamu, setiap aku harus tahan diri buat gak reflek peluk kamu lama, atau bahkan setiap aku harus tahan diri buat gak reflek ribut setiap bercandaan anak-anak bawa-bawa soal gay dengan nada yang fobik. Maaf aku gak pernah bilang ke kamu dan maaf gak pernah tanya ke kamu. Maaf buat kamu sampai takut, sampai sesak.”
“Aku kira kamu gak pernah kepikiran soal hal ini karena ya… kadang kamu berani-berani aja pegang tanganku walau sekadar reflek. Atau entah gimana kamu bisa aja nemu celah buat peluk atau bahkan manggil aku bukan nama, tapi beneran bilang sayang walau kadang aku kaget, jadi aku suruh kamu diam. Maaf aku banyak takutnya sampai ngerasa sesak banget sama hubungan kita…”
“Enggak sayang, udah yaa minta maafnya? Aku sakit banget liat kamu nangis soal hal ini. A man can be in love with another man and no need to be hide juga soal cintanya. Nanti kalau udah demis, aku gak ada niat lanjut HIMA kok. Mau cari kegiatan lain. Kita mungkin bisa coming out tipis-tipis? Ya… atau… mungkin bisa pelan dulu aja ke yang deket-deket buat ngasih tau kalau kita pacaran?”
“Aku gak tau, kak… Masih takut. Maaf belum bisa bersuara kenceng banget banget banget kalau soal cinta kita walau aku tuh mau banget bisa teriak kalau kita pacaran, biar semua tau. Maaf kalau bersuaranya masih bisik-bisik, di tempat kecil kaya gini.”
Alex tersenyum, ia mengusap air mata Jisang. “Gak perlu buru-buru, adek and you don’t have to be worry, ada aku, sama aku. Gak perlu dipaksa juga buat teriak yang kencang, I mean… Ya, kita cari aman dulu ya? Di tempat kecil kaya gini juga udah bersuara kok, bahkan lebih kencang juga. Our love should be the brightest thing in the room, right? Semoga kalau nanti kita bisa teriak yang kencang, bakal banyak yang berpihak buat kita, ya. I do love you so much and I want to let the world know.”
Jisang tersenyum, dirinya merasa lebih lega sekarang. Keduanya bertatapan dan melempar senyum.
“I love you and thank you for choosing me.” Jisang menarik dagu Alex mendekat dan mengecup bibirnya.
Sekali, cup.
Dua kali, cup.
Ke-tiga kali kecupan tersebut berubah menjadi ciuman. Jisang mencium Alex. Bukan ciuman yang terburu, melainkan ciuman hangat yang dibubuhkan secara perlahan. Ciuman untuk mengantarkan isi hati yang penuh cinta dan sayang pada sang kasih.
Sedang Alex, dirinya reflek menangkup pipi kanan Jisang dan mengusapnya. Bibirnya perlahan mulai menuntun Jisang untuk membawa ciuman tersebut dengan lumatan ringan, sesekali dirinya juga kembali mencium.
Debu dalam lemari, udara yang pengap, serta serangga kecil seperti kecoa dan telur-telurnya dalam pojok lemari tersebut seakan enggan untuk bergerak melingkupi lemari tersebut karena ada dua anak Adam yang sedang bercumbu mesra.
Sayangnya cumbuan tersebut harus berhenti karena teriakkan yang memanggil nama mereka dari luar.
“ALEXX!!”
“JISANGG!!”
Keduanya reflek membuka mata dan menarik bibir mereka menjauh. “Anjir, udah balik si Sam sama Khunpol. Tai ah, ganggu.” Alex menggerutu.
“Ini pada kemana dah berdua? Kok ruangan HIMA dibuka sih, mana kuncinya nyantol di luar.” Khunpol mengomel sambil menekan kontak Alex, berusaha menghubunginya.
“Pol, HP nya Alex di charge tuh.” Sam menunjuk ke pojok ruangan, tempat stop kontak berada. Di sana ponsel Alex bergetar dan menunjukkan nomor pemanggil, Khunpol. Sedang HP Jisang berada di sebelahnya.
“Aduh, ini apa kita kunciin aja ya barang mereka, Sam? Gue mau balik njir, ngantuk.”
“Cari dulu yuk, kali aja jajan.”
Di dalam lemari itu, dua anak Adam tersebut kembali terkikik mendengar perdebatan antara Khunpol dan Sam yang menebak-nebak di mana keberadaan mereka.
“Tunggu mereka pergi aja, baru kita keluar.” bisik Alex sambil mengintip dari celah pintu lemari.
Jisang terkikik, “Sumpah, aku kaget. Ada-ada aja deh. Oh iya, kita sekalian pulang aja yaa abis ini. Gak mau kaya berasa kegep gini lagi.”
Setelah Khunpol dan Sam memutuskan akhirnya pulang lebih dulu dengan meninggalkan barang-barang Alex dan Jisang di ruang HIMA, Alex baru akhirnya membuka lemari dan mengajak Jisang keluar.
Keduanya masuk ke ruang HIMA dengan tertawa lepas. Merasa konyol akan hal yang terjadi barusan.
“Jisang.”
“Iyaa?”
“Aku beneran jadi pake jatah bolosku buat besok deh.”
“Terus kamu gak jadi nyuci kah?”
“Nanti aja kalau nyuci, aku bisa pake laundry asrama juga kok. Ada yang lebih penting di kost kamu yang aku harus ada di sana.”
Jisang memiringkan kepalanya, “Apa tuh?”
“Yang di lemari tadi, masih kurang dikit. Hehe.” Alex nyengir.
Jisang mengernyitkan alisnya, ia bingung. Namun, sedetik kemudian ia membuka mulutnya membentuk huruf O—tanda dirinya sudah tau.
“APASIHH?! Udah ah! Ayo buruan matiin lampunya, kita pulang. Aku ngantuk, mau tidur.” Jisang keluar dari ruang HIMA dengan terburu-buru, meninggalkan Alex yang menertawainya.
“MALU YAAA ADEK?”
“OY, JANGAN DI ADEK-ADEKKANN!!” seru Jisang dari luar dengan wajahnya yang kini bagaikan kepiting rebus, merah merona dan sedikit panas akibat rasa malu yang menggilas.
