Actions

Work Header

Takdir yang Berusaha Ia Lawan

Summary:

Yudistira jatuh cinta terhadap tawa sehangat mentari milik Arjuna. Tapi satu yang harus ia ketahui-

Yang mencintai pria itu bukan hanya dirinya seorang.

Notes:

Hai! Work yang satu ini lumayan berat buat dikerjain, karena banyak referensi yang harus aku riset dulu. Agak panjang pula karena nulisnya asik juga wkwkwk. Kalau ada misinformasi atau kesalahan interpretasi dari semua referensi yang aku pake disini, feel free to correct me ya! I'm open to discuss! Terima kasih!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Kali pertama Yudistira melihat surai hitam legam berpadu dengan manik kelabu itu adalah ketika ia menghadiri makan malam perusahaan yang diadakan oleh kedua orang tuanya.

Bocah itu sudah mati kutu dilanda bosan. Sejak awal, ia tidak mengerti mengapa kedua orang tuanya bersikeras membawanya serta jika pada akhirnya ia hanya dibiarkan berdiri di antara mereka, mendengarkan percakapan orang-orang dewasa yang sama sekali tidak ia pahami.

Kali ini kedua orang tuanya tengah berbicara dengan seorang pria tua yang mengingatkannya pada seekor gagak. Yudistira tidak tahu kenapa. Mungkin karena matanya yang terus bergerak mengamati sekitar, atau senyum tipis di wajahnya yang terasa aneh. Pokoknya, pria itu membuatnya tidak nyaman.

Manik emerald-nya mengitari aula megah tempat perjamuan itu diadakan, memperhatikan setiap detail yang ada. Kain-kain sutra membentang di langit-langit, meja-meja panjang berlapis beludru dipenuhi aneka hidangan mewah, sementara sebuah chandelier raksasa menggantung anggun di tengah ruangan. Menara kue yang menjulang di salah satu meja tampak sangat menggoda. Sayangnya, tangan sang Ibu bertengger setia di bahunya — menahan setiap niat untuk kabur dan mendekati meja itu. Alhasil, Yudistira hanya bisa berdiri diam di tengah percakapan orang-orang dewasa yang terasa begitu membosankan.

Tak lama kemudian, sang Gagak berpamitan dan pergi, digantikan oleh pria dewasa lain yang juga tidak dikenali Yudistira. Kali ini pria yang mirip singa. Namun sang Singa tidak datang sendirian. Di sampingnya, seorang anak laki-laki berambut hitam berdiri diam. Sebelah tangannya menggenggam tangan seorang anak perempuan yang tampak beberapa tahun lebih muda. Adiknya, mungkin?

Entah apa yang begitu menarik dari anak laki-laki itu. Yudistira sendiri tidak tahu. Tapi begitu keduanya berdiri tepat di hadapannya, tatapan matanya tidak teralihkan. Ia mengamatinya lamat-lamat.

Surai hitam pendek itu disisir rapi ke satu sisi, dengan beberapa helai poni membingkai manik kelabu yang tampak tenang. Kemeja merah yang dikenakannya nyaris tanpa cela. Kerahnya terlipat sempurna, sementara bagian bawahnya terselip rapi ke dalam celana pendek hitam yang sama rapinya. Secara keseluruhan, anak laki-laki itu terlihat seperti anak orang kaya pada umumnya. Tidak jauh berbeda dengan dirinya yang malam itu mengenakan kemeja hijau muda dan celana pendek hitam.

Menyadari tatapan Yudistira yang tak kunjung beralih, sang Singa tersenyum. Entah mengapa, senyum itu tidak terlihat menyenangkan di matanya. Dengan satu tangan, pria itu menepuk pelan lalu mendorong punggung anak laki-laki di sampingnya, menyuruhnya melangkah maju.

“Perkenalkan, ini anak laki-laki saya, Arjuna. Dua tahun lebih tua dari Yudistira.” Sang Singa tersenyum — senyum yang masih terasa aneh di mata Yudistira. “Sepertinya Yudis menemukan teman baru yang menarik perhatiannya.”

Mendengar namanya disebut, Yudistira tergagap. Wajahnya memanas karena ketahuan menatap terlalu lama, tetapi ia tidak berusaha menyangkal ucapan sang Singa. Arjuna tadi namanya?

Sedangkan Arjuna hanya diam. Ia menatap balik ke arah Yudistira dengan manik kelabu yang tenang, nyaris tanpa riak emosi. Bahkan ketika diperkenalkan, satu tangannya tetap menggenggam erat tangan anak perempuan di sampingnya.

“Anak perempuan di sampingnya itu putrimu juga, Indra?”

Ayahnya berbicara lebih dulu. Pandangannya beralih kepada anak perempuan yang sedari tadi berdiri diam di sisi Arjuna. Tubuh mungilnya nyaris seluruhnya bersembunyi di balik sang kakak, sementara jemarinya mencengkeram erat lengan kemeja merah itu.

Untuk sesaat, senyum sang Singa goyah. Tatapannya jatuh pada anak perempuan tersebut, dan entah mengapa terlihat berbeda dari cara ia memandang Arjuna. Ada sesuatu di sana yang tidak mampu dijelaskan oleh Yudistira. Namun kedipan mata berikutnya sudah menghapus semuanya. Senyum itu kembali terpasang rapi di wajah pria tersebut.

“Ah, iya. Benar.” Tangannya terangkat, menunjuk pelan ke arah anak perempuan itu. “Ini anak perempuan saya, Aya.”

Anak perempuan yang dipanggil Aya itu menunduk semakin dalam. Sedangkan Arjuna justru menggeser tubuhnya sedikit ke samping. Seolah berusaha menutupi adiknya dari pandangan orang lain.

Yudistira hanya memperhatikan keduanya dalam diam.

Melihat putranya yang tampak begitu tertarik pada pasangan kakak beradik itu, sang Ibu menunduk lalu berjongkok di sampingnya.

“Yudis, sayang.” Suaranya terdengar lembut. “Ajak Kak Arjuna sama Aya keliling. Ajak mereka makan kue-kue di meja, oke?”

Yudistira langsung mengangguk antusias. Akhirnya. Mungkin inilah kesempatan yang ia tunggu-tunggu untuk mengusir rasa bosan yang sedari tadi menggerogotinya.

“Kau nggak keberatan, kan, Indra?” Ibunya melirik ke arah sang Singa — seolah meminta persetujuan. “Biar anak-anak bersenang-senang sendiri.”

Sang Singa hanya tersenyum. Tidak menolak maupun mengiyakan. Namun bagi Yudistira, itu sudah lebih dari cukup untuk dianggap sebagai izin. Tanpa menunggu lebih lama, ia segera meraih tangan Arjuna dan Aya.

“Ayo!” Manik emerald-nya berbinar penuh semangat. “Aku mau nunjukkin menara kue yang tinggi banget di sana!”

Jemari Arjuna sempat menegang. Hanya sebentar. Lalu melangkah mengikuti tarikan Yudistira tanpa protes, sementara tangan satunya tetap menggenggam Aya erat-erat.

Bocah dengan sejumput hijau di rambutnya itu menyeret mereka pergi seolah takut ada orang yang lebih dulu menghabiskan seluruh kue di ruangan tersebut. Sedangkan Arjuna dan Aya hanya mengikutinya tanpa protes.

Di depan menara kue yang dimaksud, Yudistira sibuk menyodorkan kue-kue favoritnya ke tangan kakak beradik yang baru ditemuinya itu. Sedari tadi mulutnya tidak berhenti mengoceh, menceritakan apa-apa saja yang bisa ia ceritakan.

“Kalian bosan nggak sih ikut acara kayak gini?” tanyanya di sela kunyahan kue. Jemarinya yang berlumuran remah dan krim cokelat bergerak ke sana kemari mengikuti ceritanya. “Ayah sama Ibu ngajak aku ke sini, tapi mereka malah sibuk sendiri. Aku bosen banget.”

Di hadapannya, Arjuna dan Aya menikmati sepotong kue cokelat yang sama. Atau lebih tepatnya, Aya yang makan dengan tenang sementara Arjuna sesekali memperhatikan adiknya untuk memastikan gadis kecil itu tidak kesulitan.

“Kami diajak Ayah.” Arjuna akhirnya menjawab. Ini kali pertama Yudistira mendengar anak itu berbicara. “Sebelumnya Ayah nggak pernah ajak kami ke pesta kayak gini.”

“Iya kah?” Yudistira berkedip lucu. Ia menelan potongan kue terakhir di mulutnya. “Kalian cuma bertiga? Ibu kalian nggak ikut?”

Mendengar pertanyaan itu, Arjuna mematung. Matanya melirik resah ke arah sang Singa yang masih sibuk mengobrol dengan orang tua Yudistira. Bocah itu bisa melihat bagaimana mata sang Singa dengan awas mengamati mereka. Seperti sedang memastikan anak-anaknya tidak membuat masalah. Arjuna meneguk ludahnya.

“Ibu…” Yudistira bisa melihat genggaman tangan Arjuna di tangan Aya mengerat. Ia memiringkan kepalanya. “Ibu sibuk. Jadi dia pergi ke tempat lain.”

Menurut Yudistira, jawaban Arjuna terdengar biasa saja. Orang dewasa memang sering pergi ke tempat lain untuk bekerja. Ayah dan Ibunya juga begitu. Tapi entah kenapa cara Arjuna mengucapkannya terasa aneh.

“Oh.” Ia hanya ber-oh singkat. Fokusnya sudah teralihkan ke deretan tart stroberi yang tersusun rapi di meja sebelah. “Eh, kue stroberi!”

“Stroberi!” Aya memekik senang. Kepalanya langsung menoleh ke arah meja tersebut, manik matanya berbinar menatap buah-buah merah yang menghiasi setiap kue. Di sampingnya, Arjuna terkekeh pelan melihat reaksi sang adik. Tangannya terangkat untuk mengusap sedikit krim cokelat yang menempel di sudut bibir Aya.

Namun ada sesuatu yang menangkap perhatian Yudistira.

“Loh, Kak Juna? Itu tangannya kenapa?” Yudistira menunjuk ke arah tangan kanan Arjuna. Sebuah perban terlilit di sana. Sedari tadi benda itu tidak terlihat, tersembunyi di balik lengan kemeja merah yang dikenakannya. Kini, karena tangannya terangkat, ujung perban itu mengintip keluar dan terlihat jelas.

Arjuna mematung. Untuk sepersekian detik, ia hanya menatap Yudistira dengan mata membelalak. Lalu, nyaris terburu-buru, tangannya menarik turun lengan kemeja yang dikenakannya hingga perban itu kembali tersembunyi.

Manik kelabunya bergetar gelisah. Pandangannya melesat ke arah sang Singa, mengintip diam-diam seolah takut pria itu melihat apa yang baru saja terjadi.

“Nggak apa-apa.” Ia menjawab singkat. Gerak tubuhnya masih tidak nyaman. Di sampingnya, Aya mulai menarik-narik ujung kemejanya. Perhatian gadis kecil itu sudah teralihkan sepenuhnya pada meja di sebelah yang dipenuhi tart stroberi.

Yudistira memiringkan kepalanya. Matanya berkedip penasaran. “Nggak apa-apa kok diperban? Kata Ibu perban itu buat nutupin luka. Kakak habis jatoh?”

Arjuna terdiam. Untuk beberapa saat, ia tampak kebingungan. Di satu sisi, Yudistira masih menunggu jawabannya. Di sisi lain, Aya terus menarik-narik kemejanya, mendesak agar mereka segera berpindah ke meja tart stroberi. Pada akhirnya, Arjuna mengembuskan napas pelan dan melemparkan senyum tipis yang entah mengapa terlihat getir.

“Iya ini jatoh dari sepeda kemarin.” Sebelum Yudistira sempat bertanya lebih jauh, Arjuna mulai melangkah mengikuti tarikan sang adik. Tangan yang tidak menggenggam Aya terulur, meraih pergelangan Yudistira dan mengajaknya ikut berpindah.

“Jangan bilang siapa-siapa ya. Aku malu.”

Yudistira terdiam sejenak. Manik emerald-nya mengamati wajah Arjuna, memperhatikan bagaimana senyum tipis itu tidak benar-benar terlihat seperti senyum. Entah kenapa, Arjuna tampak sedikit lebih pucat dibanding beberapa saat yang lalu. Aneh. Namun pada akhirnya, ia tetap mengangguk.

Oke.

Kalau memang itu rahasia, berarti ia tidak boleh menceritakannya kepada siapa pun. Lagi pula, Kak Juna yang memintanya sendiri. Dan Yudistira merasa cukup senang karena menjadi orang yang dipercaya untuk menyimpan sebuah rahasia.


Sejak pertemuan pertama mereka di acara makan malam perusahaan itu, kedua orang tua Yudistira mulai sesekali mengundang Arjuna dan Aya ke rumah. Mungkin mereka menganggap kedekatan yang terjalin di antara ketiganya cukup menjanjikan. Lagi pula, sudah lama sekali sejak terakhir kali Yudistira menunjukkan ketertarikan sebesar itu kepada anak lain.

Karena itu, bagi kedua orang tuanya, kehadiran Arjuna dan Aya terasa seperti kesempatan yang baik. Kesempatan untuk mengenalkan putra mereka pada pertemanan yang seharusnya dimiliki anak seusianya. Dan tanpa mereka sadari, undangan-undangan sederhana itu perlahan berubah menjadi kebiasaan.

Aya kini sudah jauh lebih ekspresif. Tidak ada lagi gadis kecil yang terus bersembunyi di balik punggung kakaknya setiap kali bertemu orang baru. Setelah mengenalnya lebih dekat, Yudistira justru menyadari bahwa Aya tidak kalah cerewet dibanding dirinya. Gadis itu selalu punya sesuatu untuk diceritakan. Dan entah bagaimana, sebagian besar cerita tersebut terdengar begitu konyol hingga membuat perut Yudistira sakit karena terlalu banyak tertawa.

Dan Arjuna — yang pada malam perjamuan itu terlihat seperti anak laki-laki yang sempurna dan sulit didekati— ternyata jauh lebih manusiawi daripada yang ia bayangkan. Tawa kini bukan lagi sesuatu yang langka terdengar darinya. Sesekali, Arjuna akan terkekeh pelan mendengar tingkah Aya atau ocehan Yudistira yang tidak ada habisnya.

Dan sekarang Yudistira tahu satu hal penting. Mata Arjuna akan menyipit menjadi dua bulan sabit kecil setiap kali ia tertawa lepas. Terkadang, saat tawa itu benar-benar sampai ke matanya, Yudistira merasa seolah ada cahaya hangat yang ikut menyala di sana. Ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Namun setiap kali melihatnya, Yudistira selalu ikut tersenyum.

Ia menyukai itu.

Hari itu, ketiganya bermain di perpustakaan pribadi milik keluarga Yogendra. Yudistira selalu menyukai tempat itu. Bukan karena ia suka membaca, tapi karena perpustakaan itu adalah tempat persembunyian terbaik di seluruh rumah. Rak-rak buku yang menjulang tinggi menciptakan lorong-lorong sempit yang sempurna untuk bersembunyi. Dan tidak ada hal yang lebih menyenangkan bagi Yudistira selain melihat kepala pelayannya kelimpungan mencarinya dari satu rak ke rak lainnya.

Kali ini, ia tidak datang untuk bermain petak umpet. Yudistira justru tengah duduk manis di samping Arjuna yang tengah tenggelam dalam sebuah buku tebal. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat berbagai ilustrasi yang menghiasi setiap halaman. Sepertinya buku tentang mitologi Yunani.

Di sisi lain karpet, Aya bertelungkup sambil menggerak-gerakkan kakinya ke udara. Di hadapannya terbuka sebuah buku mewarnai yang ia temukan di sela-sela rak berisi buku-buku yang sama sekali tidak ia pahami.

Untuk beberapa saat, satu-satunya suara yang terdengar hanyalah bunyi halaman yang dibalik dan gesekan krayon milik Aya di atas kertas.

“Kak Juna suka dewa-dewa?” Akhirnya Yudistira angkat suara. Memang dasarnya ia tidak pernah cocok dengan kesunyian, jadi melihat kedua temannya sibuk sendiri membuatnya mulai gelisah. Ia membawa tubuhnya lebih dekat ke arah Arjuna. “Itu dewa siapa?”

Buku di hadapannya terbuka pada satu halaman berisi tiga orang perempuan — satu sedang memintal, satu sedang mengukur benang yang tengah dipintal, dan satu lagi memegang gunting. Yudistira tidak pernah benar-benar tertarik pada ensiklopedia atau buku-buku tebal semacam itu. Namun gambar tersebut cukup aneh untuk membuatnya penasaran. Ia belum pernah melihatnya sebelumnya.

“Ini Moirai bersaudara.” Arjuna menjawab. Kini ada suatu binar yang menyala di kedua manik kelabunya. Ia mendekatkan buku di pangkuannya ke arah Yudistira, menunjukkan gambar yang dimaksud dengan lebih jelas.

“Yang lagi mintal benang itu namanya Clotho.” Jemarinya menunjuk perempuan pertama. “Dia yang nentuin siapa yang boleh lahir ke dunia.”

Lalu jarinya berpindah ke perempuan berikutnya.

“Kalau yang ini Lachesis. Tugasnya ngukur benang kehidupan manusia. Jadi dia yang nentuin berapa lama seseorang hidup.”

Terakhir, ia menunjuk perempuan yang menggenggam gunting.

“Nah, yang ini Atropos.” Suaranya terdengar sedikit lebih pelan. “Dia yang motong benangnya.”

Yudistira berkedip bingung.

“Benangnya?”

“Iya.” Arjuna mengangguk. “Benang kehidupan. Kalau benangnya dipotong, berarti hidup orang itu selesai.”

Sesaat kemudian, senyum kecil muncul di wajahnya.

“Pokoknya mereka bertiga yang ngatur kapan manusia lahir, berapa lama mereka hidup, sama kapan mereka mati.”

Yudistira memperhatikan Arjuna dalam diam. Ia memperhatikan bagaimana manik kelabu itu berbinar setiap kali membicarakan sesuatu yang disukainya, bagaimana jemarinya bergerak penuh semangat saat menunjuk gambar-gambar di dalam buku, dan bagaimana senyum kecil yang jarang terlihat itu kini muncul tanpa dipaksa.

Saat Arjuna tertawa, Yudistira selalu merasa ada cahaya lembut yang ikut terpancar darinya. Namun ketika anak laki-laki itu berbicara tentang hal-hal yang ia sukai, perasaan itu terasa berbeda.

Lebih hangat.

Rasanya seperti berdiri di tengah ladang bunga matahari pada pagi hari, ketika matahari baru terbit dan sinarnya belum terlalu terik. Hangat, terang, dan entah kenapa membuat Yudistira tidak ingin berpaling.

Yudistira kembali mengamati gambar-gambar di buku itu. Tatapannya berpindah dari Clotho ke Lachesis, lalu berhenti pada Atropos yang menggenggam gunting. Tak lama kemudian, ia mendengus. Dengusan yang mengundang tanda tanya dari yang lebih tua.

“Kenapa kamu dengus-dengus kayak kambing begitu?”

“Mereka jahat.”

“Hah?”

Yudistira menunjuk ke arah bukunya dengan ekspresi tidak suka.

“Mereka jahat. Katanya mereka yang nentuin takdir manusia. Kalau gitu mereka yang udah mutusin buat nyakitin Kak Juna. Makanya setiap Kak Juna dateng ke sini selalu ada perban baru di badannya.”

Arjuna terdiam. Jemarinya diam-diam bergerak ke arah lengan kirinya — mengusap bagian yang tertutup kain perban di balik lengan bajunya. Gerakan itu begitu kecil hingga nyaris tidak terlihat. Manik kelabunya menatap ke arah Yudistira dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Terkejut, mungkin. Karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memperhatikan.

“Yang ini lebih jahat lagi.”

Yudistira tiba-tiba menunjuk ke arah Atropos. Wajahnya menunjukkan aura permusuhan yang kentara.

“Kenapa?” Arjuna bertanya pelan.

“Karena dia motong benang orang.” Yudistira mengerucutkan bibir. “Kalau semua orang benangnya dipotong, nanti nggak bisa ketemu lagi dong.”

Arjuna terkekeh pelan. “Ya nggak semua dipotong sekarang juga.”

“Tapi tetep aja.” Yudistira menyandarkan dagunya ke lutut. “Kalau aku ketemu orang yang suka motong benang orang, aku bakal marahin dia.”

Tawa Arjuna kali ini terdengar sedikit lebih jelas.

“Ya kan itu udah tugasnya.”

“Tetep aja aku nggak suka.” Bibirnya mencebik. Tatapannya masih tertuju pada gambar Atropos seolah perempuan dalam buku itu benar-benar bisa melihat ekspresi tidak sukanya.

“Kalau gitu kamu nggak bakal suka sama dewa yang ini juga dong.” Arjuna menurunkan bukunya. Tangannya mulai membalik setiap halaman, sampai akhirnya berhenti di salah satunya. Kali ini gambar seorang laki-laki berjubah gelap memenuhi halaman. Sebilah pedang tergenggam di tangannya, sementara bayangan hitam berputar-putar di sekeliling tubuhnya. Yudistira bergidik ngeri.

“Itu siapa?”

“Ini Thanatos.” Jari Arjuna mengusap pelan gambar tersebut. “Yang ini baru namanya Dewa Kematian.”

Kerutan di dahi Yudistira semakin dalam. Jelas tidak suka.

“Kan yang nentuin kematian manusia si Atropos tadi. Kok malah dia yang disebut Dewa Kematian?”

“Karena tugas mereka beda.” Arjuna menjelaskan sabar. “Atropos yang mutusin kapan benang kehidupan seseorang dipotong.”

Jemarinya mengetuk gambar Thanatos.

“Nah, nanti Thanatos yang bakal jemput jiwanya.”

Yudistira menatap gambar laki-laki berjubah hitam tersebut cukup lama. Semakin lama dilihat, semakin tidak menyenangkan.

“Aku nggak suka dia.”

“Kenapa?”

Yudistira menunjuk pedang di tangan Thanatos.

“Mukanya serem. Dia bawa pedang, pasti orang jahat.” Kerucut bibirnya semakin maju. Kini tatapannya beralih ke arah Arjuna, bersiap merengek. “Kak Juna kenapa suka banget sama yang mati-mati sih?”

Arjuna terkekeh, lagi.

“Loh kata siapa? Orang aku sukanya sama Clotho kok.”

Perkataan itu kembali menarik minat Yudistira. Ia menggeser tubuhnya semakin dekat.

“Kenapa Kak Juna suka sama Clotho?”

“Soalnya kan dia yang bawa manusia ke kehidupan.” Arjuna kembali membalik bukunya, kembali ke halaman berisi gambar Moirai bersaudara. Jemarinya menunjuk ke arah perempuan dengan alat pintal di tangannya.

“Jadi secara nggak langsung, kita ada di dunia itu karena Clotho mutusin kalau kita layak buat hidup. Keren nggak sih? Kayak, wow, aku dapet pengakuan dari Dewi loh.”

Yudistira mengernyit bingung.

“Emang kenapa harus nunggu Clotho bilang layak? Kalau Clotho bilang nggak layak emangnya kenapa? Aku juga bisa bilang kalau Kak Juna layak hidup.”

Arjuna berkedip. Untuk sesaat ia hanya menatap Yudistira. Seolah sedang mencoba memahami apakah anak itu benar-benar serius.

“Ya nggak gitu juga cara kerjanya.”

Suara Arjuna terdengar jauh lebih pelan. Tapi, ia tidak lagi menatap gambar Clotho dalam buku. Ia menutup bukunya, meletakkannya di samping tubuhnya. Kepalanya kini ia sandarkan ke lututnya, menyamping agar bisa memperhatikan wajah Yudistira.

“Yudis kamu tau nggak?”

“Apa?”

“Dewa juga bisa jatuh cinta, loh.” Ia menggumam pelan. Sebuah senyum terbit dari bibirnya. “Kayaknya kamu dicintai sama Philophrosyne.”


Kalimat terakhir Arjuna hari itu selalu tersimpan rapi dalam kepala Yudistira. Berkali-kali kalimat itu diputar dalam kepalanya, sampai rasanya seperti sebuah mantra yang sengaja dirapalkan untuk mencuci otaknya. Yudistira tidak protes. Ia dengan senang hati akan mendengarkan suara Arjuna setiap harinya.

Sejak saat itu, Yudistira datang ke perpustakaan keluarganya bukan hanya untuk bermain petak umpet dengan kepala pelayannya saja. Rak-rak yang sebelumnya hanya ia jadikan tempat persembunyian kini mulai ia jelajahi satu per satu. Buku-buku mitologi Yunani yang dahulu terasa membosankan perlahan memenuhi waktu luangnya. Ia mulai membaca kisah para dewa yang panjangnya mungkin melebihi Sungai Nil yang mengalir di Mesir sana. Tapi tidak apa-apa — karena Kak Junanya menyukai ini, maka Yudistira juga menyukainya.

Arjuna dan Aya masih sering berkunjung ke rumahnya. Terkadang Yudistira akan menyeret Arjuna ke sudut perpustakaan dan memintanya membacakan kisah-kisah dewa yang baru saja ia temukan. Aya sesekali ikut mendengarkan, meski pada akhirnya gadis kecil itu hampir selalu tertidur di atas karpet sebelum cerita selesai.

Waktu berlalu tanpa banyak perubahan. Hari berganti bulan, lalu bulan berganti tahun. Lima tahun telah lewat sejak pertemuan pertama itu. Ketiganya mulai beranjak remaja. Dan tanpa Yudistira sadari, ada satu kebiasaan lain yang ikut tumbuh bersamanya.

Ia mulai memperhatikan Arjuna.

Bukan hanya tawanya, atau caranya berbicara tentang hal-hal yang ia sukai. Melainkan juga perban-perban baru yang terus bermunculan di tubuh anak laki-laki itu. Kadang terlilit di pergelangan tangan. Kadang mengintip dari balik lengan baju. Di hari lain, sebuah plester besar menempel di pipi atau dahinya. Tapi berapa kali pun Yudistira bertanya, anak laki-laki itu tidak pernah mau menjawabnya.

Yudistira pikir, Oh mungkin Kak Juna belum mau cerita. Hingga pada akhirnya ia tidak bertanya lebih jauh lagi. Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa suatu hari nanti, ia akan menyesali keputusan itu.

Dan hari itu akhirnya datang begitu cepat tanpa sempat ia antisipasi.

Hari itu, langit di luar sedang mengamuk. Hujan deras mengguyur seluruh penjuru kota, sementara angin tak henti-hentinya menerjang, memaksa setiap dahan pohon menukik tajam. Seolah semesta tengah murka kepada dunia dan segala isinya.

Yudistira tengah melamun di samping jendela, menatap langit kelabu yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera cerah. Hujan sialan itu membuat Arjuna tidak bisa datang ke rumahnya hari ini. Ia mendesah pelan sambil menyandarkan kepala ke kaca jendela. Andai saja ada keajaiban. Mungkin tiba-tiba pintu rumahnya diketuk, lalu Arjuna berdiri di sana sambil bilang kalau hujannya tidak jadi masalah.

Petir menyambar sekali, membuat langit seketika putih selama beberapa detik. Tak lama setelah suara menggelegar itu, suara ribut lain muncul dari luar kamarnya. Yudistira bisa mendengar pintu yang digedor kasar, kemudian disusul dengan suara keributan lain yang terdengar seperti kerumunan orang yang sedang berkumpul. Ia mengernyit, sebelum melangkahkan kakinya keluar.

Pekikan pelayannya terdengar paling dulu — “Astaga!” — disusul suara kepala pelayan yang panik memerintahkan pelayan lain mengambil handuk dan menyiapkan air panas. Lalu, suara ibunya ikut menyusul. Lebih tinggi. Lebih panik.

Mendengar itu, Yudistira mulai melangkah mendekat. Kepalanya mengintip dari ujung anak tangga, memperhatikan keributan yang terjadi di pintu depan rumahnya. Tubuhnya membeku seketika.

Yudistira bersumpah.

Ia melihat bilah pedang milik Thanatos menempel di leher Arjuna.

Arjuna muncul di depan rumahnya — menggendong tubuh Aya yang tidak sadarkan diri di punggungnya — dalam keadaan basah kuyup. Darah mengalir dari luka di perutnya, menyusuri kain yang melekat di tubuhnya. Mata kanannya lebam dan membengkak, sementara memar-memar gelap tampak di lengan dan kakinya, tersembunyi setengah terbuka di balik kaus dan celana pendek yang sobek di beberapa bagian. Kakinya penuh luka lecet, seolah ia berlari menembus badai tanpa alas kaki, memaksa tubuhnya sendiri untuk terus bertahan.

Oh Tuhan — siapa yang tidak akan berteriak melihat pemandangan seperti itu?

Tubuh lemas Aya segera diambil alih oleh kepala pelayan, yang dengan sigap melilitkannya dengan selimut sebelum membawanya menuju kamar tamu. Sementara itu, tubuh Arjuna yang mulai ambruk berhasil ditahan oleh ibunya tepat sebelum jatuh ke lantai.

Butuh beberapa menit sampai Yudistira bisa menggerakkan kakinya kembali. Dengan langkah tergesa ia berlari menuruni tangga. Hampir saja ia berguling jika tangannya tidak dengan sigap mencengkram pinggirannya.

“KAK JUNA!” Suaranya meledak begitu mencapai anak tangga terakhir. Ia menghampiri ibunya dan Arjuna yang bersimpuh di depan pintu. Sebelah tangan sang Ibu masih gemetar, menempelkan ponsel ke telinga — menelepon ambulans.

Yudistira ikut bersimpuh. Tangannya dengan gemetar menangkup tangan Arjuna yang terlampau pucat. Ia sedikit terlonjak merasakan dingin yang menjalar dari telapak tangannya. Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi di sini?

“Kak Jun, jangan tidur! Pokoknya jangan merem!”

Arjuna tidak menjawab. Mulutnya sibuk mengeluarkan rintihan-rintihan kecil. Tangannya mencengkram lubang di perutnya yang tidak berhenti mengeluarkan cairan merah. Bagian depan rumah Yudistira kini dipenuhi bau besi. Yudistira menelan napasnya, rasanya ingin muntah.

“Nak, kenapa? Ada apa?” Ibunya yang sudah selesai menelepon ambulans kini beralih ke arah Arjuna. Tangannya ikut menekan luka itu dengan secarik handuk yang sempat diberikan sang kepala pelayan, berusaha menghentikan pendarahan meskipun hanya sedikit.

“Ayah-” Ucapan Arjuna terputus-putus, begitu pula dengan napasnya yang tersengal.

“Ayah? Indra yang lakuin semua ini?”

Arjuna hanya mengangguk pelan. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan rasa sakit yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Selama di perjalanan tadi, tidak ada satupun yang terasa. Tujuan utamanya adalah membawa Aya sejauh mungkin dari bangunan kecil yang tidak bisa disebut rumah lagi. Dan satu-satunya tempat yang muncul di kepalanya adalah kediaman Yogendra.

Yudistira tertegun. Genggamannya mengerat di tangan Arjuna. Memang instingnya tidak pernah salah. Singa adalah hewan yang haus kekuasaan. Dia tidak akan segan membunuh anaknya kalau itu memang bisa menunjukkan dominasi.

Arjuna masih setengah bersandar di lantai. Darah yang terus keluar membuat handuk di tangan ibunya sudah tidak lagi putih. Yudistira masih memegang tangan Arjuna. Tapi sekarang genggamannya bukan lagi panik lebih seperti seseorang yang takut kalau ia melepaskan, maka orang di depannya benar-benar akan hilang.

Sirene ambulans mulai terdengar dari kejauhan sebelum akhirnya benar-benar memecah udara di depan rumah. Lampu biru-merah memantul di kaca jendela, berputar seperti kilatan peringatan yang tidak memberi ruang untuk berpikir. Beberapa tetangga mulai keluar rumah, mengamati keributan yang terjadi.

Pintu ambulans terbuka dengan suara keras. Dua paramedis segera turun, sepatu mereka menghantam genangan air di halaman rumah. Tanpa banyak kata, mereka langsung bergerak.

“Tekanan darahnya turun! Pendarahan abdomen, siapkan penanganan segera!”

Tubuh Arjuna diangkat ke atas tandu. Gerakannya cepat dan presisi. Yudistira ikut berdiri, tapi pergerakannya tertahan oleh tangan gemetar sang Ibu di bahunya.

“Yudis. Biarin mereka kerja.”

Tapi Yudistira tidak benar-benar mendengar. Matanya hanya terpaku pada tubuh Arjuna yang dibawa masuk ke dalam mobil. Cahaya merah dan biru menerangi wajahnya.

Sebelum pintu ambulans ditutup, matanya sempat terbuka sedikit — hanya sepersekian detik, cukup untuk menangkap Yudistira di tengah kekacauan itu. Dan mungkin, kalau itu bukan halusinasi karena kehilangan darah, bibirnya bergerak sangat kecil. Seperti ingin berkata: aku sudah berusaha sampai akhir.

Pintu ambulans tertutup. Sirene meraung lagi.


Yudistira selalu membenci rumah sakit.

Bau antiseptik menusuk hidung, lampu-lampu putih yang terlalu terang, pokoknya rumah sakit selalu memberi Yudistira bayang-bayang yang terasa dingin dan asing. Bahkan suara langkah kaki para perawat yang berlalu lalang di koridor terdengar berbeda di tempat seperti ini.

Sudah tiga hari sejak badai itu. Tiga hari sejak Arjuna datang ke rumahnya dengan darah mengalir dari tubuhnya. Dan selama tiga hari itu pula Arjuna belum membuka matanya.

“Yudis, nak.” Ibunya menepuk pundaknya pelan. Yudistira mendongak, menatap wajah lelah sang ibu yang tak jauh berbeda dengan miliknya. “Pulang dulu ya. Biar Juna Ibu yang jaga.”

Yudistira bergeming. Tatapannya beralih ke sosok yang masih terbaring di atas ranjang berwarna putih.

“Kak Juna nanti bangun kalau aku pulang.”

“Kak Juna juga nggak bakal bangun kalau kamu ikut sakit.”

Yudistira mengerucutkan bibir. Biasanya argumen seperti itu berhasil membuatnya menyerah. Tapi hari ini tidak. Untuk pertama kalinya, Yudistira benar-benar takut.

Aya duduk di kursi tunggu tidak jauh darinya. Gadis itu sudah siuman sejak kemarin. Tubuhnya masih lemah dan demamnya masih tersisa. Tapi ia bersikeras untuk tetap menjaga Arjuna di sisinya. Tangannya menggenggam boneka ayam yang dibawakan ibunya.

Sejak tadi gadis itu tidak banyak bicara. Mereka hanya duduk bersama. Yudistira tidak pernah tahu kalau menunggu bisa terasa selama ini.

“Kak Yudis.” Suara Aya terdengar pelan. Yudistira berdeham singkat. “Kak Juna bakal bangun.”

Yudistira akhirnya menoleh. Aya masih menatap lurus ke depan. Tidak ada keraguan dalam suaranya. Hanya keyakinan yang begitu sederhana. Seolah fakta bahwa Arjuna akan bangun sama pastinya dengan matahari yang terbit setiap pagi.

“Iya.” Yudistira berucap singkat. Aya benar. Arjuna pasti akan selalu bangun lagi. Setelah semua yang terjadi. Setelah semua rasa sakit yang tidak pernah ia ceritakan. Arjuna selalu bangun lagi.

Malam itu, Yudistira mulai membenci mitologi Yunani. Mungkin Arjuna benar. Mungkin para dewa memang jatuh cinta. Karena tidak ada penjelasan lain yang masuk akal mengapa kematian terus kembali mengejar orang yang sama.

Yudistira meraih tangan Arjuna yang tidak terpasang infus. Dahinya menempel di atasnya.

“Aku nggak peduli kalau Thanatos suka sama Kak Juna.” Ia berbisik sangat pelan, bahkan dirinya sendiri hampir tidak mendengarnya. “Pokoknya aku yang menang.”

Yudistira membuat keputusan besar. Kalau ada sesuatu yang terus mencoba mengambil Arjuna darinya, maka ia akan terus berdiri di jalannya. Sampai kapan pun.


Arjuna siuman satu minggu setelahnya. Yang pertama kali keluar dari bibir pemuda itu setelah sadar adalah menanyakan kabar Aya — yang tidak pernah sehari pun beranjak dari sisinya. Yudistira ingat sekali bagaimana tangis Aya pecah ketika Arjuna membuka matanya. Padahal hari-hari sebelumnya, gadis itu tidak meneteskan satu pun air mata. Akhirnya pertahanannya hancur, dan Yudistira tidak jauh berbeda.

Sejak hari itu, Arjuna dan Aya mulai tinggal di rumahnya. Yudistira akhirnya tahu, kenapa semasa ia kecil, ia menganggap Indra sebagai seekor singa. Singa bisa membunuh anak-anaknya hanya untuk menunjukkan dominasinya.

Dengan fakta yang akhirnya terungkap, sangat tidak mungkin akan ada seseorang yang membiarkan kedua anak itu kembali tinggal di neraka. Ibunya akhirnya memutuskan untuk membawa keduanya ke dalam keluarganya. Yudistira tidak protes. Dia justru sangat bersyukur.

Sangat disayangkan sekali ketika polisi sampai ke rumah yang terasa seperti penjara itu, yang mereka temukan justru tubuh Indra yang sudah kaku dengan pisau yang tertancap di dadanya.

Tidak ada saksi. Tidak ada bukti. Hanya mayat seorang pria yang tersisa di sana. Pada akhirnya, penyelidikan berjalan lambat. Sampai perlahan menghilang dari kehidupan mereka.

Yudistira tidak pernah benar-benar melupakannya. Ada satu hal yang terus mengganggunya. Arjuna tidak pernah sekali pun bertanya tentang ayahnya. Tidak ketika pertama kali sadar. Tidak ketika diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Tidak ketika polisi datang meminta keterangan.

Tapi ada satu hal yang Yudistira syukuri di sini. Kali ini bukan Arjuna yang diambil Thanatos. Ia akhirnya memenangkan peperangannya dengan Thanatos.

Atau setidaknya itu yang Yudistira pikirkan saat berusia 12 tahun.

Kehidupan mereka selanjutnya justru jauh dari kata damai.

Selama bertahun-tahun mereka tinggal bersama, Yudistira, Arjuna, dan Aya melewati banyak hal. Beberapa di antaranya bahkan bisa disebut membahagiakan.

Aya akhirnya tumbuh menjadi gadis muda yang cantik, masih sama cerewetnya seperti saat pertama kali menginjakkan kaki di kediaman Yogendra. Terkadang Yudistira berpikir bahwa semesta sedang bercanda. Pertama kali dia bertemu dengan Aya, gadis itu nyaris tidak pernah berbicara. Sekarang, jika diberi kesempatan, Aya bisa mengoceh selama tiga jam penuh tanpa berhenti mengambil napas.

Arjuna juga berubah. Sedikit demi sedikit. Luka-luka di tubuhnya memang sembuh. Tidak ada lagi perban baru yang muncul setiap minggu. Namun beberapa luka rupanya tidak tinggal di kulit. Yudistira menyadari hal itu jauh lebih cepat daripada siapa pun.

Arjuna tidak suka suara pintu dibanting. Ia tidak suka seseorang berdiri terlalu dekat di belakangnya. Ia akan langsung terbangun jika mendengar suara benda pecah di tengah malam. Dan selama bertahun-tahun. Arjuna tidak pernah bisa tidur ketika hujan turun terlalu deras.

Malam-malam seperti itu biasanya berakhir dengan satu pola yang sama. Yudistira akan menemukan lampu kamar Arjuna masih menyala pukul tiga pagi. Kadang pemuda itu sedang membaca, atau menggambar sesuatu yang tidak pernah diperlihatkan kepada siapa pun, atau hanya duduk diam di dekat jendela sambil memandangi hujan.

Awalnya Yudistira tidak mengerti. Lalu suatu malam, ketika ia berusia 15 tahun, ia menemukan jawabannya.

Hari itu hujan turun sangat deras. Persis seperti badai tiga tahun yang lalu. Yudistira terbangun karena haus. Ketika kakinya melangkah menuju dapur, matanya menangkap seberkas cahaya dari bawah pintu perpustakaan.

Aneh.

Jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Ketika kepalanya mengintip dari celah pintu, ia menemukan Arjuna duduk sendirian di lantai, memeluk kedua lututnya erat. Tatapannya kosong mengarah ke jendela yang dipenuhi air hujan. Tak lama, telinganya mendengar sesuatu.

Arjuna sedang menghitung napasnya sendiri.

Suara itu begitu pelan, nyaris tenggelam di balik suara hujan. Arjuna sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia masih berada di sini. Tidak lagi berada di rumah itu. Semuanya sudah berakhir. Tapi tubuhnya belum mempercayainya.

Jantung Yudistira terasa seperti diremas sesuatu yang tidak terlihat. Tubuh Arjuna memang masih di sini, menjalani kehidupannya seperti biasa, seolah tidak pernah ada mimpi buruk yang membayanginya. Yudistira tidak tahu seberapa besar badai yang masih berkecamuk di dalamnya.

Nama Thanatos kembali bergaung menyebalkan di dalam kepalanya. Bahkan setelah gagal mengambil nyawanya, ia masih meninggalkan bayangannya di belakang.

Yudistira akhirnya melangkahkan kakinya masuk. Menghampiri Arjuna yang masih sibuk dengan hitungannya.

“Aku kira perpustakaan rumah aku sekarang ada hantunya.”

Arjuna tersentak kecil. Ia menoleh sebelum mengeluarkan kekehan pelan.

“Kalau aku jadi hantu, berarti kamu harus pindah kamar.”

“Nggak mau.”

“Kenapa?”

“Takut hantunya cerewet.”

Kali ini Arjuna benar-benar tertawa. Suara yang masih mampu membuat dadanya menghangat meski sudah mendengarnya selama bertahun-tahun. Ia kemudian menjatuhkan diri di samping Arjuna. Mereka duduk berdampingan.

Hujan memantulkan bayangan mereka di kaca jendela. Dua siluet yang tumbuh bersama begitu lama hingga terkadang Yudistira kesulitan mengingat seperti apa hidupnya sebelum Arjuna hadir di dalamnya.

“Kak Juna.” Arjuna hanya berdeham kecil. “Kalau aku dijemput sama Thanatos duluan gimana?”

Arjuna menoleh cepat. Ekspresi wajahnya langsung berubah tidak suka.

“Amit-amit. Kalau ngomong jangan sembarangan.”

“Kan cuma nanya.” Yudistira tertawa kecil. Mengundang decihan dari yang lebih tua.

“Nggak usah.”

Mata kelabunya menatap kembali ke arah hujan. Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara.

“Menurut aku,” Suara Arjuna terdengar pelan. “Orang yang kadar rasa sayangnya paling gede itu yang bakal pergi duluan.”

Yudistira mengernyit. Menatap bingung ke arah Arjuna. “Gimana maksudnya?”

“Kalau kamu sayang sama seseorang, kamu pasti pengennya dia hidup lebih lama dari kamu kan?”

“Iya lah!”

“Nah.” Arjuna tersenyum kecil. Senyum yang tidak sampai ke matanya. “Makanya aku pikir orang yang paling sayang biasanya yang pergi duluan.”

“Logika Kak Juna aneh.”

“Kata siapa harus logis?”

“Kata aku.”

“Ya udah berarti salah.”

Yudistira memutar bola matanya, lalu mendengus. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Arjuna, memainkan jemarinya di atas kaki.

“Kalau ngikutin logika itu, berarti Kak Juna yang pergi duluan.” Ucapannya tertahan sesaat. Tangannya mengepal. “Nggak mau.”

Arjuna yang semula sedang memperhatikan hujan perlahan menoleh ke arahnya. Ekspresinya sulit ditebak.

“Kenapa bisa gitu?”

“Soalnya Kak Juna paling sayang sama semua orang.” Jawaban itu keluar begitu saja. Sesederhan fakta bahwa langit sedang hujan di luar sana. “Kak Juna sayang Aya, sayang sama Ibu, sayang sama Ayah, sayang aku juga. Banyak banget.”

Untuk sesaat, Arjuna tidak menjawab. Ia hanya menatap Yudistira cukup lama, hingga pemuda dengan sejumput rambut hijau itu mulai merasa aneh.

“Apa?”

Arjuna menggeleng pelan. Kemudian kembali menatap jendela.

Yudistira tahu itu bohong. Sudah bertahun-tahun mereka bersama. Ia tahu persis seperti apa wajah Arjuna ketika sedang menyembunyikan sesuatu. Namun malam itu ia tidak memaksa.

Mereka akhirnya duduk berdampingan sampai hujan reda. Sampai kantuk mulai menarik kelopak mata mereka turun perlahan.

Yudistira tidak tahu kalau beberapa tahun kemudian, ia akan mengingat malam itu berulang kali. Karena itulah pertama kalinya Arjuna terlihat seperti seseorang yang menerima sesuatu yang belum siap diterima oleh siapa pun. Termasuk dirinya sendiri.


Sepuluh tahun berlalu, hidup Yudistira diisi dengan beberapa momen yang ia anggap sebagai kemenangan.

Di umurnya yang ke-16, ia menemukan Arjuna kembali di rumah sakit. Kali ini — setidaknya — pemuda itu duduk sambil melemparkan tawa canggung ke arahnya, sedangkan tangan kirinya yang masih berdarah-darah tengah dijahit oleh dokter. Perban lain terlihat melilit kepalanya.

“Tabrakan kecil aja tadi pas pulang sekolah.” Itu yang diucapkannya kepada Yudistira.

Sedangkan yang diberi penjelasan, mengepalkan tangannya erat. Ia ingin marah. Memarahi surai hitam di hadapannya ini agar lebih berhati-hati dan tidak ceroboh. Tapi semua amarahnya ia telan bulat-bulat. Ia menjatuhkan dirinya di kursi tunggu.

“Aku yang menang.” Ia berbisik kecil, sambil mengamati setiap tindakan yang diberikan dokter.


Kemudian di suatu hari ketika ia berusia 17 tahun, lagi-lagi Yudistira menemukan Arjuna di rumah sakit. Kali ini bukan karena kecelakaan, melainkan kelelahan ketika menjaga Aya yang dirawat akibat demam berdarah.

Arjuna menolak pulang dari rumah sakit selama seminggu penuh. Tidurnya berantakan, makannya berantakan. Dan pada hari ke-10, ia pingsan karena kelelahan.

Yudistira ingat sekali. Ketika ia membuka pintu ruangan rawat inap, yang pertama kali menyapanya adalah tubuh Arjuna yang tergeletak di lantai. Wajahnya pucat pasi seperti selembar kertas. Yudistira bahkan sempat mengira semuanya terulang lagi.

Untung saja tidak.

Ketika malam itu ia menatap selang infus yang menetes, ia kembali bergumam.

“Aku lagi yang menang.”


Kemudian mereka beranjak dewasa, Arjuna masuk ke akademi intelijen. Yudistira membencinya.

Bukan karena Arjuna tidak cocok, justru karena Arjuna terlalu cocok. Pemuda itu cerdas, tenang, cepat beradaptasi. Ia juga memiliki kemampuan luar biasa untuk tetap berpikir jernih dalam situasi berbahaya.

Pekerjaan itu terasa seperti mengulurkan tangan kepada Thanatos setiap hari, lalu berharap sang Dewa Kematian sedang tidak berminat untuk menyambutnya. Mereka bertengkar untuk pertama kalinya karena hal itu.

“Kenapa sih harus milih ini?”

“Soalnya aku mau.”

“Kenapa mau?”

“Mau aja.”

“Bukan itu maksudnya!”

Arjuna terdiam cukup lama. Kemudian tersenyum tipis.

“Kamu tau nggak hal paling lucu?”

Yudistira menaikkan sebelah alisnya. Napasnya masih menggebu.

“Aku udah hampir mati berkali-kali, bahkan sebelum kerja di sana.”

Yudistira membencinya ketika Arjuna benar.


Tahun berikutnya, Arjuna tertembak dalam misi pertamanya. Tidak fatal. Pelurunya meleset beberapa sentimeter dari organ vital.

Dokter menyebutnya keberuntungan. Yudistira menyebutnya kegagalan. Kegagalan Thanatos.

Ketika Arjuna sadar dari operasi, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Yudistira yang kusut karena kurang tidur.

“Yud, mukamu jelek.”

“Kamu juga jelek.”

“Kamu nangis?”

“Nggak.”

“Bohong.”

“Diem.”

Arjuna terkekeh. Yudistira tidak ikut tertawa, tapi dalam hatinya, ia kembali mengejek kegagalan Thanatos.


Tahun-tahun berikutnya tidak jauh berbeda. Ledakan, kecelakaan, operasi rahasia yang berakhir buruk, pengejaran, baku tembak, keracunan — daftarnya semakin panjang. Namun hasilnya selalu sama.

Arjuna tetap hidup. Arjuna selalu kembali. Yudistira mulai percaya bahwa tidak ada apa pun di dunia ini yang mampu mengambilnya. Bahkan Thanatos. Karena setiap kali sang Dewa Kematian datang mengetuk pintu, Arjuna selalu memilih tinggal. Dan setiap kali Arjuna kembali pulang dengan senyum lelah di wajahnya, Yudistira selalu merasa telah memenangkan peperangan yang bahkan tidak diketahui lawannya.

Mereka masih menikmati makan malam yang hangat. Penuh candaan dan obrolan. Lagi-lagi Yudistira jatuh cinta pada tawa sehangat mentari milik Arjuna. Terkadang di kepalanya, ia sudah menyusun rencana tentang hidup bersama. Bukan hanya sebagai teman masa kecil tentunya. Yang jelas, otaknya sudah menyusun semua gambaran masa depan yang ingin ia jalani bersama Arjuna.

Yudistira sudah terbiasa.

Dulu setiap telepon dari nomor tak dikenal membuat jantungnya berhenti selama beberapa detik. Setiap mendengar kata “misi”, “operasi”, atau “tugas”, ia selalu dihantui kemungkinan terburuk.

Tapi manusia adalah makhluk yang aneh. Mereka bahkan bisa terbiasa hidup berdampingan dengan ketakutan.

Sampai ponselnya berdering di pagi buta. Telepon itu datang pukul tiga lewat dua puluh tiga menit. Di luar, hujan turun pelan, mengetuk jendela kamarnya dengan irama yang berantakan. Ia terbangun karena suara dering yang tidak berhenti. Bahkan ruangannya masih gelap ketika ia meraih ponselnya.

Nama Aya muncul di layar.

“Ya?” Suaranya masih terdengar serak, dengan ponsel menempel di sebelah telinganya. Matanya bahkan belum sepenuhnya terbuka. Tidak ada jawaban dari seberang sana, hanya suara napas yang terdengar cepat — seperti seseorang yang baru selesai berlari.

“Aya?”

Yudistira mulai bangkit, terduduk di atas ranjangnya. Menunggu Aya mulai berbicara. Lalu suara itu muncul. Pelan. Pecah.

“Kak Yudis.”

Saat itu Yudistira tahu. Sebelum satu kata pun dikeluarkan, sebelum dunia memberitahunya apa yang terjadi, ia sudah tahu.

Tidak. Yudistira tidak mau mengakuinya.

“Kak Yudis.” Suara Aya kembali terdengar. Kali ini tangisnya ikut pecah. “Kak Juna nggak pulang.”

Yudistira tidak mendengar apa pun setelah itu. Tidak suara napasnya sendiri. Tidak suara hujan di luar. Tidak suara Aya yang masih menangis di seberang sana.

Untuk pertama kali sejak perang yang ia nyatakan pada Thanatos, Yudistira merasakan sesuatu yang selama ini selalu berhasil ia hindari.

Kekalahan.


Pemakaman diadakan tiga hari kemudian. Orang-orang datang, meninggalkan bunga, mengucapkan bela sungkawa. Aya menerima tamunya dengan ekspresi gelap. Sesekali tangisnya pecah, mengamuk memukuli foto Arjuna ketika tidak ada seorang pun di sisinya. Sedikit yang dia tahu bahwa Yudistira ikut menonton setiap episode kehancurannya dalam diam.

Yudistira tidak mengingat wajah satu pun dari tamu yang datang. Yang ia ingat hanyalah batu nisan di depannya, dengan satu nama yang terukir di atasnya — Arjuna Arkana.

Sesederhana itu. Seluruh kehidupan seseorang ternyata bisa diringkas menjadi beberapa huruf di atas batu.

Lucu sekali. Dia membenci Atropos karena memotong benang kehidupan manusia. Lalu ia membenci Thanatos karena menjemput jiwa mereka. Sekarang ia tidak punya tenaga untuk membenci siapapun. Karena ternyata mereka memang pemenangnya. Dan Yudistira kalah.

Matanya jatuh pada buket bunga matahari yang tergeletak di depan batu nisan. Bunga yang selalu mengingatkan Yudistira pada mentarinya. Orang yang selama bertahun-tahun ia coba pertahankan dari kematian.

Tiba-tiba sebuah kenangan lama muncul begitu saja. Suara Arjuna, usia 17 tahun. Duduk di lantai perpustakaan sambil mendengarkan hujan.

Menurut aku, orang yang kadar rasa sayangnya paling gede itu yang bakal pergi duluan.

Saat itu Yudistira mencibirnya. Menganggap logika itu tidak masuk akal. Sekarang, ia berharap Arjuna salah. Sangat berharap. Karena kalau Arjuna benar, berarti selama ini — selama bertahun-tahun, Arjuna sudah mencintai setiap luka, mimpi buruk, malam tanpa tidur, dan usaha untuk tetap hidup jauh lebih besar daripada yang pernah mereka sadari.

Dulu Yudistira berpikir ini adalah peperangan. Bahwa setiap kali Arjuna selamat, berarti ia menang. Dan setiap kali Arjuna terluka, berarti Thanatos sedang berusaha merebut cintanya.

Namun sekarang, berdiri di depan batu nisan yang sunyi itu, Yudistira akhirnya mengerti. Ia menunduk, isakannya mulai terdengar. Pilu dan menyakitkan. Tangisnya kali ini bukan karena kalah, bukan karena marah, bukan karena ia membenci Thanatos.

Thanatos tidak pernah berperang dengannya. Ia bahkan tidak pernah melihat ke arahnya. Yang dilakukan sang Dewa Kematian sejak awal hanyalah menunggu. Dengan sabar dan tenang. Sampai tiba waktunya membawa pulang seseorang yang sangat dicintainya.

Selama ini ia mengira semuanya sudah berakhir. Rupanya tidak. Cinta saja tidak selalu cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal.

Notes:

Glossary:

Moirai Sisters
Clotho - bungsu dari moirai sisters, ia merepresentasikan kelahiran dan awal mula eksistensi.
Lachesis - anak tengah dari moirai sisters, ia menentukan durasi nyawa seseorang dan takdir apa saja yang akan mengiringi orang tersebut.
Atropos - sulung dari moirai sisters, ia melambangkan kematian mutlak dan akhir dari takdir.
Thanatos - dewa yang identik dengan kematian yang damai.
Philoprosyne - dewi yang merepresentasikan keramahan, kebaikan hati, dan sambutan yang hangat.