Chapter Text
Tahun Pertama.
"Martin! Martin! Martin!" Suara riang hadir diiringi dengan suara duk duk duk karena Juhoon memanggil Martin sambil menaiki tangga rumah temannya itu. Tadi, saat hendak meminta izin, Ayah dan Ibu Martin menyuruhnya langsung ke atas, membiarkan Juhoon dengan eforia bahagia memberitahukan Martin yang mereka dapatkan. Tawa menyenangkan hadir di tengah-tengah suasana tersebut.
Martin menunggu sampai pintu terbuka lebar dan memperlihatkan Juhoon yang tersenyum sambil memperlihatkan giginya yang tidak begitu rapih. Bahkan, di gigi depannya terdapat sisaan cokelat yang mungkin sedang dimakan sebelum buru-buru menghampiri dirinya.
Juhoon langsung menaikkan kasur Martin. Menghempaskan dirinya di samping Martin yang masih menguap karena terlalu mengantuk. Ia tidak seperti Juhoon yang bangun pagi sekali hanya untuk memberikan kabar bahagianya. Tetapi, melihat binar yang menerangkan di mata Juhoon, Martin meneguk ludah dan segera memperbaiki posisi duduknya. Wajah mengantuknya sebisa mungkin Martin disembunyikan.
Juhoon terkekeh kecil, "Tebak aku bawa apa ke sini?"
Martin berpikir, berpura-pura tidak tau apa yang akan diberitakan oleh Juhoon. Ia kemudian menggeleng lemah dan Juhoon langsung mengeluarkan tangan yang disembunyikannya. "TARAAA!" Teriak Juhoon memperlihatkan surat dari Hogwarts, surat penerimaan yang menyatakan apa saja perlengkapan dan buku yang dibutuhkan. Surat tersebut ditulis menggunakan tinta zamrud dan dicetak di atas kertas vellum, serta amplopnya tertutup lilin ungu dengan lambang Hogwarts.
Juhoon memeluk Martin erat sampai membuat Martin sesak napas, kebiasaan Juhoon kalau terlalu senang adalah memeluk orang sekitarnya. Sekarang, orang di sekitar Juhoon adalah Martin, ia harus mencoba sabar dengan kelakuan Juhoon. "Setelah ini, ayo kita Diagon Alley untuk menemukan tongkat sihir kita!" Juhoon berseru senang, tetapi senyumnya luntur ketika Martin tidak merespon Juhoon. Matanya sekarang berkata-kaca, mulut dalamnya ia gigit agar tidak terisak.
"Kamu... ngga keterima, ya? Cuman aku aja?" Tanya Juhoon kecil, kepalanya menunduk sedih. Ia senang disaat Martin sedang bersedih. Punggung tangannya menghapus air matanya yang mengalir pelan. "Maafkan aku, seharusnya aku-"
Martin memeluk Juhoon yang merasa bersalah, mengusap punggungnya lembut. "Tidak, aku tadi mengantuk. Aku keterima, kok. Tenang saja, nanti kita ke Diagon Alley bersama-sama."
Diagon Alley adalah desa khusus penyihir. Mereka menyediakan perlengkapan untuk bersekolah di Hogwarts, dan untuk pertama kalinya mereka ke sana untuk mendapatkan tongkat yang akan memilih mereka. Juhoon menjadi tidak sabar akan hal tersebut. Ia akan bepergian dengan Martin dan keluarga mereka untuk membeli semua yang dibutuhkan.
"Apa nanti kita satu asrama?" Tanya Juhoon gugup, memikirkan apa yang terjadi jika ia tidak satu asrama dengan Martin yang selalu berada di sisinya.
Martin melepaskan pelukkan tersebut. "Yah, walaupun ngga, memangnya ada yang mampu memisahkan kita?"
Hari ini adalah hari di mana mereka ke Diagon Alley sebagai penerima surat dari Hogwarts. Juhoon sudah tidak bisa tidur dari tadi malam karena rasa gugup yang memercik hatinya. Pagi-pagi buta bahkan sudah berada di kamar Martin tanpa berpamitan dengan orangtuanya. Ia duduk di bawah kasur, melihat Martin yang masih tertidur nyenyak di kasur, napasnya terdengar pas, Juhoon tersenyum kecil. Padahal, perjanjian untuk pergi adalah di siang hari.
Juhoon membuka matanya ketika telinganya menangkap suara air, ia merasakan punggungnya yang berat, selimut berwarna abu-abu sudah terlampir rapih di tubuhnya. Tidak lama kemudian, Martin keluar dengan pakaian yang sudah lengkap, rambutnya sedikit basah. Ia menatap Juhoon sebentar sebelum memutuskan pandangan tersebut. "Seharusnya bangunkan saja aku, atau tidur di sebelah tembok, jangan seperti itu. Tubuhmu akan sakit nanti." Ujarnya pelan melewati Juhoon dan membuka pintu kamar. "Turunlah, keluarga kita sudah di bawah." Perintah Martin lebih dulu, meninggalkan Juhoon di kamarnya yang sudah menampilkan wajah tidak senang karena justru dirinyalah yang tertidur.
Suara perbincangan terdengar ketika Juhoon keluar kamar, di ruang makan sudah ramai kedua orangtua mereka. Martin duduk di pojok dengan mata yang menonton televisi, tidak tertarik dengan obrolan orang dewasa. Ibunya bahwa sudah menyiapkan makanan ketika Martin memandangi Juhoon yang berjalan santai ke meja makan sambil tangannya menggaruk ketiaknya. Wajah Martin menjadi aneh waktu Juhoon menyium tangannya. "Kamu sungguh melakukan itu di rumahku?" Tanya Martin tidak senang dengan kelakuan Juhoon.
Tetapi, tatapan Juhoon justru hanyalah tatapan polos. "Melakukan apa?"
"Cuci tanganmu dan gunakan sabun. Setelahnya, gunakan serbet karena kamu makan berantakkan." Cibir Martin tidak senang, hal tersebut menarik perhatian empat orang dewasa di sekitar mereka yang tertawa kecil melihat reaksi Martin karena Juhoon mengesalkan.
"Martin begitu perhatian pada Juhoon," Ibu Juhoon mencoba bercanda.
Juhoon mengangguk-angguk walaupun ia berada di dapur yang jaraknya memang tidak jauh dari ruang makan. "Aku setuju. Martin memang tidak bisa hidup tanpaku."
"Kamu serius, 'kan?" Martin mendengus dan memutar bola matanya malas, merasa muak dengan sikap Juhoon yang seharusnya sadar diri. Bahwa dialah yang tidak bisa hidup tanpa Martin, bukan malah sebaliknya.
Juhoon sudah duduk rapih di seberang bangku Martin, tangannya sudah siap menyuapkan sendok ke dalam mulutnya sebelum ia menemukan Martin yang menatapnya tajam, seperti seekor singa yang menemukan mangsa. "Aku katakan sekali lagi, gunakan serbetmu."
"Iya!" Teriak Juhoon merasa jengkel.
Beberapa jam kemudian mereka tiba di Diagon Alley yang ramai oleh anak tahun pertama. Juhoon menatap bangunan toko dengan wajah yang berseri-seri, Martin di sampingnya menatap Juhoon datar, tidak habis pikir dengan reaksi Juhoon yang terlalu berlebihan. Padahal, mereka sudah sering ke Diagon Alley untuk membeli cokelat kesukaan Juhoon.
"Aku tidak sabar kalau kita ke Hogsmeade!" Seru Juhoon ketika mereka hendak menuju Ollivanders yang akan memberikan mereka tongkat sihir.
Martin mencibirkan bibirnya. "Bahkan tahun pertama saja belum kamu lewati." Balas Martin mencoba sabar, ia memejamkan matanya.
"Kamu pasti... tidak pernah membayangkan masa depan?!" Tuding Juhoon, tubuhnya condong ke arah Martin. Tetapi hal itu justru membuatnya tidak dapat menjaga keseimbangan dengan benar.
Martin segera menangkap tubuh Juhoon agar tidak terjatuh, dan tatapan memancarkan kemarahan yang dicoba ditekan. "Kamu selalu seperti ini! Ceroboh!" Cecar Martin dengan suara yang naik satu oktaf, membuat Juhoon terdiam di tempat.
Beberapa detik kemudian, Juhoon segera melangkahkan kakinya untuk cepat sampai ke Martin yang sudah berada di depan toko Ollivanders menunggu Juhoon. Senyuman lebar tidak pernah absen untuk menyambut Martin yang sedang kesal karena sikap Juhoon.
"Juhoon, kamu hanya akan membuat Martin semakin kesal." Ibu Juhoon memperingati anaknya karena tidak mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Martin yang sekarang menarik napas dalam.
Martin merasakan pundaknya dielus lembut oleh Ibunya sendiri. "Kamu baik, sayang?" Tanya Ibunya pelan.
Martin memaksakan senyumnya. Memandang pintu toko yang kembali tertutup ketika Juhoon dan keluarganya sudah masuk lebih dulu. "Aku hanya khawatir kalau dia terluka."
"Tongkat sihir yang memilih penyihirnya." Sambut Garrick Ollivander ketika Martin memasuki toko tersebut. Juhoon sudah menatap Martin penasaran, jenis tongkat apa yang sekiranya akan memilih seorang Martin yang menurut Juhoon sangat baik hati dan selalu menjaganya.
Rasa gugup Martin bahkan kalah dari Juhoon yang sudah berkeringat dingin. "Semoga sukses!" Bisik Juhoon pelan setengah menjerit ketika Martin mendekati meja Ollivander. Pria tua itu seakan menerawang Martin. Ia melirik Juhoon sekilas di belakang, "Kamu memiliki teman yang baik hati." Ujarnya sebelum memasuki tempat ribuan tongkat sihir tersedia.
"Ini," Beberapa menit kemudian, Ollivander memberikan tongkat sihir yang berwarna putih, menyuruh Martin memegangnya. Lalu, tidak perlu menunggu lama sampai Martin merasakan angin sejuk yang menerbangkan rambutnya. Ollivander tersenyum puas. "Inti jantung naga, tongkatnya sangat setia."
"Aku! Aku! Aku!" Juhoon berjinjit setelah melihat Martin yang sudah selesai. Ia menjadi tidak sabar.
Martin berterima kasih sebelum mengundurkan diri, memberikan tempatnya kepada Juhoon yang wajahnya sungguh merasa sangat bahagia, membuat Martin merasa hangat. Ollivander kembali ke dalam, mengambil beberapa jenis tongkat sihir, tetapi di tongkat pertama saat Juhoon mengayun, ia hampir membakar rambut Ollivander. "Bukan yang itu," Ollivander mengambil kembali tongkatnya.
"Wah! Itu menyenangkan, Martin!" Seru Juhoon merasa sangat bahagia kepada Martin yang hanya melihatnya.
"Bulu unicorn disatukan dengan sycamore," Ollivander mengulurkan tongkat tersebut, Juhoon melihat tongkat tersebut ragu-rabu, kemudian ia menghela napas dalam sebelum tangannya menyentuh ujung tongkat. Rasa hangat menjalar dari jemari Juhoon ke dadanya, dan ia tersenyum puas. "Jangan biarkan tongkatmu bosan, ajak berpetualang." Saran Ollivander sebelum mereka keluar dari toko.
"Kamu sudah menatapnya tiga puluh menit," Martin berujar pelan dan datar. Sejujurnya, baru jalan sebentar, Juhoon sudah terdiam dan menatap tongkatnya seakan-akan di dunia ini hanyalah Juhoon dan tongkat tersebut.
Juhoon menaik-turunkan alisnya, "Kamu merasa tersaingi karena aku punya hal baru, ya?"
Martin tidak menjawab, ia justru berjalan mendahului Juhoon dengan cepat. Respon Juhoon hanya tertawa terbahak-bahak di belakangnya, ia memukul lututnya karena merasa lucu dengan Martin. "Wah! Respon mu tidak nyenengin aku banget." Juhoon bahkan harus menghapus air matanya karena tertawa.
"Cepat! Kita harus beli buku agar otakmu ada isinya." Martin berujar tajam, menunggu Juhoon di depan sana karena Juhoon masih sibuk dengan rasa bahagianya.
Semua orang di sekitar mereka memperhatikan. Beberapa tertawa kecil karena merasa terhibur dengan sikap anak kecil yang sangat akrab. Juhoon bahkan harus digandeng oleh Ayahnya agar tidak teralihkan, menuntunnya ke tempat mereka akan membeli buku. Flourish dan Blotts terlihat sangat sempit di dalam sana, beberapa buku dibiarkan tertumpuk di lantai.
"Tetaplah di belakangku, jangan menyenggolnya." Nasihat Martin yang masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri Juhoon. "Aku serius, Kim Juhoon." Desis Martin dan Juhoon hanya mengangguk-angguk malas.
"Ambil saja dua," Saran Juhoon karena ia malas membawa buku-buku berat tersebut, biarkan saja Martin yang akan membawakannya.
"Tidak. Ambil milikmu sendiri, aku bukan pesuruhmu." Kemudian, Martin mengambil bukunya sendiri. Di belakangnya, Juhoon mencebik bibirnya kesal.
Mereka sekarang berada di stasiun King's Cross untuk menuju ke Hogwarts, mereka berdua merasakan debaran yang menyenangkan, terutama Juhoon yang sudah kepalang menahan jeritan, terlihat dari wajahnya yang memerah padam. Ia bahkan sudah hampir meremat lengan Martin karena terlalu senang.
"Boleh aku peluk kamu?"
"Sejak kapan kamu minta izin?" Tanya Martin balik. Membuat Juhoon langsung menghamburkan pelukkan yang membuat Martin melangkah mundur satu langkah karena menahan bobot Juhoon. Bahkan, Juhoon sudah meloncat-loncat dan membuat rambutnya mengenai pipi Martin.
Setelah beberapa detik yang keras bagi Martin, Juhoon akhirnya tenang, tetapi suara geraman tetap terdengar sebagai penutup. Ia melihat para Muggle yang menatap mereka bingung, tetapi Juhoon adalah Juhoon. Ia tidak peduli.
Juhoon menggerak-gerakkan tangannya, melihat peron 9 dan 10 secara bersamaan. Sebentar lagi, mereka akan masuk, Juhoon akan berpisah dari keluarganya. "Aku akan sedih," Juhoon menahan tangan menghadap sang Ibu.
"Tapi aku akan lebih sedih kalau tidak satu asrama dengan Martin." Jujur Juhoon mengungkap perasaannya. Martin hanya menggelengkan kepala mendengar hal tersebut, ia bahkan tidak ingin menatap orangtua Juhoon karena wajah mereka yang akan menatapnya dengan tatapan jahil mereka.
"Kamu masih satu bangunan," Ujar Ibunya sabar. Setelah Juhoon tenang, mereka akhirnya masuk menembus peron.
Suasana langsung menjadi ramai, banyak yang berpisah dari keluarga mereka. Suara kereta terdengar, kepulan asap terlihat. "Cari tempat kalian, kalau ada teman baru hubungi kami."
Martin dan Juhoon berjalan di lorong, mengintip kompartemen yang kosong. "Di sini, ngga papa?" Tanya Martin dan dibantu mengangkat koper-koper mereka. Juhoon mendudukan dirinya dengan tegang di dalam kompartemen.
Martin duduk di hadapannya, terkekeh kecil melihat seberapa gugup Juhoon sampai-sampai tangannya meremat jubah dengan erat. "Kamu terlihat gugup... dan tampan." Kata Martin memuji Juhoon, seragam tahun pertama sangat pas di tubuh Juhoon. Warna abu-abunya kontras dengan kulit putih susu milik Juhoon.
Juhoon menahan sakit perut, tetapi ia tetap menimpali perkataan Martin. "Kamu juga." Ujar Juhoon melihat penampilan Martin.
Juhoon memandangi pemandangan di depannya ketika kereta akhirnya berangkat. Kemudian, ia merengek kecil dan menutup matanya dengan lengan tangan karena tidak ingin Martin mengetahui bahwa ia menangis. Padahal, di hadapannya yang tidak tertutup apapun, Martin menatap Juhoon dengan khawatir.
"Tidak ingin menenangkan teman kecilmu?" Perkataan itu hadir ketika pintu digeser, menampilkan seorang anak dengan seragam yang sama, tahun pertama. Ia duduk di sebalah Juhoon, memiringkan kepalanya. "Kalau kamu tidak nyaman di sini... kompartemenku ada tiga orang lain, gabung saja kalau memang mau."
Martin tidak terima temannya hendak direbut. "Kau memangnya siapa?" Tanya Martin tidak senang. "Jauhkan tanganmu darinya." Martin hendak berdiri ketika anak tersebut hendak menyentuh bahu Juhoon yang gemetar.
"Kamu harus menenangkan temanmu kalau menangis!" Ujar anak tersebut, tidak senang dengan kelakuan Martin padahal dia senang mencoba menghibur Juhoon. "Seharusnya kamu berterima kasih aku mau melakukan tugasmu."
Martin berdiri, menahan geraman amarah melihat anak tersebut sok akrab. "Kamu tidak tau apapun!" Desis Martin, matanya menusuk tatapan anak tersebut.
Anak tersebut mendengus kesal, "Aku tau dia menangis." Balasnya dengan mata yang melirik Juhoon. "Kenapa jadi kamu yang marah?!" Anak itu bertanya dengan rasa marah yang membuncah.
Martin terkekeh, melirik Juhoon sekilas yang masih menangis.
"Kamu tidak khawatir kalau dia berisik?" Anak itu menurunkan suaranya, seperti mencicit.
Martin mengeraskan rahangnya. Tidak suka dengan pertanyaan dari satu pandangan tersebut. "Juhoon bahkan sekarang menggigit bibirnya—" Martin memotong ucapannya, tatapan kesal ia layangkan kepada Juhoon. "Berhenti menggigit bibirmu, Juhoon! Kau akan terluka!" Perkataan itu sukses membuat Juhoon menegang.
Martin dengan wajahnya masih mengeras, menatap anak di sebelah Juhoon yang tidak gentar membalas tatapannya. "Aku hanya ingin temanku bisa mengekspresikan perasaannya. Dan di sini juga hanya ada aku, itu urusanku jika suaranya mengganggu atau tidak."
Anak tersebut berdiri pelan-pelan, menyengir lebar sambil mengangkat kedua tangannya. "Hei, hei, tenang... aku hanya khawatir? Kamu tau. Namaku Keonho! Dari Korea Selatan." Ia mengulurkan tangannya yang tidak diterima oleh Martin.
Justru Martin melirik pintu dan membuat Keonho merasa diusir secara tidak langsung. "Baiklah-baiklah, aku akan keluar."
"Sudah selesai?"
Martin menatap Juhoon datar dari seberang kursinya ketika Juhoon mengelap ingusnya menggunakan jubahnya sendiri. Juhoon mengangguk sambil sesekali mengeluarkan ingusnya.
Di jendela mereka, rerumputan yang membentak hadir dan digantikan pepohon yang tinggi. "Masih lama untuk sampai, tidur saja karena kamu akan mengantuk."
Juhoon menggeleng tidak mau. "Masa aku harus melewatkan ini, kamu tau kalau ini pertama kalinya untukku." Protes Juhoon pada Martin.
Martin hendak membalas.
"Ingin sesuatu yang manis untuk kalian?" Penyihir Troli hadir di tengah-tengah mereka yang mungkin akan memanas. Martin mengangguk, memberitahukan cokelat dan membayarnya menggunakan satu Galleon yang membuat Penyihur itu menahan kesal.
"Itu untukmu," Martin berujar sambil memberikan cokelat kodok kepada Juhoon. Juhoon menatapnya berbinar dengan mata yang bengkak. "Sebentar," Ujar Martin dan langsung berdiri dengan cepat, tangannya membuka mulut Juhoon. Bercak darah terlihat di sana.
"Sepertinya aku harus belajar mantra Episkey lebih cepat agar kamu tidak sering terluka." Juhoon dapat merasakan suara Martin yang melemah. Tatapan mata pun ikut menurun setelah melihat luka di dalam mulut Juhoon.
Juhoon kemudian menghempaskan tangan Martin di pipinya, ia tanpa rasa sakit menguncah cokelat tersebut. Walaupun sempat bergerak, itu tidak sampai kabur dan terbang, karena badan Martin yang menghalangi, cokelat kodongnya loncat dan terjatuh di paha Juhoon.
"Ya. Lakukan saja itu," Juhoon tidak mengambil pusing perkataan Martin yang sepertinya terlalu serius. Martin adalah anak yang pintar, mungkin dia akan masuk Ravenclaw dan kemungkinan besar tidak satu asrama dengannya.
Martin duduk di sebelah Juhoon, membuat Juhoon kembali bingung dengan tingkah teman sebayanya itu. "Setelah ini kamu akan tidur."
Juhoon melongo menatap bergantian antara cokelat dan Martin. Kebiasaan itu, kebiasaan setelah ia memakan cokelat adalah tertidur. "Kamu sungguh menjebakku." Ucap Juhoon lemah, matanya memelas menatap pemandangan yang akan ia tinggal tidur sebentar lagi.
Ia kemudian menggeleng keras, berketad bahwa Juhoon tidak akan kalah dari rasa kantuknya. "Aku tau kebiasaanmu Juhoon. Dengan wajah bengkakmu, kamu tidak akan sanggup untuk terjaga." Final Martin merasa menang. Membuat wajah Juhoon berubah kecut.
"Aneh, kamu selalu tau kebiasaanku."
Perkataan itu membuat Martin menegang, padahal di sampingnya Juhoon hanya melumat cokelatnya dengan belepotan.
Langit sudah berubah gelap ketika mereka akhirnya sampai di stasiun Hogmeade yaitu pemberhentian terakhir mereka. Siswa tahun pertama dikumpulkan oleh pria berbadan besar dengan janggut yang lebat, serta membawa lentera sebagai penerangan mereka.
"Namaku Hagrid, kalian siswa tahun pertama memiliki jalur khusus. Kita akan menggunakan perahu membelah Danau Hitam untuk menuju Kastil Hogwarts!" Ujar Hagrid dengan suaranya yang berat.
"Satu perahu tiga penumpang," Hagrid menjelaskan mekanismenya sambil berjalan mendahului mereka.
Juhoon di samping Martin langsung melebarkan matanya yang penuh kekaguman. Ia mengalihkan pandangannya kepada Martin dengan mata yang menghilang dan senyum berseri yang tidak absen. "Martin..." Suara Juhoon tertahan, takut menganggu siswa lain. "Aku benaran ada di Hogwarts!" Ujar Juhoon kepada Martin yang hanya bisa menganggukkan kepala, tidak ingin menunjukkan bahwa ia juga senang melihat hal tersebut.
Lalu, Keonho yang mendengar bahwa perahu hanya bisa 3 orang dan matanya melihat Juhoon yang begitu membuat hatinya tersentuh menjadikan Keonho mendekatkan diri. "Aku akan ke tempat lain!" Keonho berpamitan kepada temannya, Seonghyeon dan James.
"Bukankah dia mengkhianati kita?" Tanya James bingung dan Seonghyeon berjalan begitu saja. Biarkan Keonho bergabung dengan orang lain, toh nanti ada orang yang menggantikan posisi Keonho di perahu mereka.
"Bukankah ini indah?" Sapa Keonho kepada Juhoon yang langsung memberikan makan ego Juhoon. Juhoon mengangguk antusias, dan tanpa menunggu sedetik ia mengalihkan fokusnya kepada Keonho sepenuhnya.
"Iya! Aku tidak sabar menaiki perahu karena ini kesempatan kita satu-satunya." Ujar Juhoon memberitahukan perasaannya dan Keonho menyeringai mendapati hal tersebut.
Keonho menatap Danau Hitam yang sudah berada di hadapan mereka. Kastil diterangi oleh sinar bulan dan membuatnya semakin megah walaupun pada dasarnya Hogwarts sudah megah tanpa perlu disinari sinar bulan. Juhoon terpaku di tempatnya, menikmati suasana di hadapannya.
"Aku juga tidak sabar," Balas Keonho sambil melihat Juhoon. Di sebelah Juhoon, wajah Martin sudah sangat menunjukkan bahwa anak itu merasa jengkel dengan kehadiran Keonho.
"Baiklah, giliran kalian." Hagrid sudah mengulurkan tangannya membantu Keonho, Juhoon, dan Martin berada di peruhu.
Keonho lebih dulu melangkah menaiki perahu, kemudian ia mengulurkan tangannya ingin membantu Juhoon. Tetapi, tubuh Juhoon justru terdorong oleh Martin yang menaiki perahu secara tiba-tiba. "Lain kali bilang!" Juhoon menyindir Martin, sedikit memarahinya.
"Katanya peruhu ini bisa berjalan sendiri?" Tanya Juhoon antusias.
Keonho menimpali dengan cepat. "Benar! Sihir begitu menakjubkan, 'kan?"
Martin yang sudah membuka mulutnya langsung mengatup rapat. Suasana hatinya mendadak menjadi muram, keindahan Hogwarts di hari pertamanya mendadak hancur.
Perahu mereka tidak lama bergerak sendiri. Lenteranya disematkan di masing-masing perahu, Hogwarts sungguh indah di lihat dari Danau Hitam.
Di tengah-tengah Keonho dan Juhoon, Martin menyeringai lebar karena berhasil memisahkan Juhoon dari Keonho yang baru pertama kali kenal sudah menyebalkan. Bahkan, Juhoon belum mengetahui nama anak itu, tapi gayanya sudah setinggi langit.
Mereka akhirnya sampai di pintu menuju Aula. Di hadapan mereka sekarang berganti. Seorang wanita tua yang keriput, tetapi masih dalam semangat. Wanita itu menggunakan topi kerucut yang menciut di ujung, tatapan matanya tajam menelisik semua murid tahun pertama. "Aku Minerva McGonagall." Sambutnya, ia menutupi pintu yang menjulang.
Martin menahan Juhoon, ia menggenggam lengan Juhoon yang wajahnya semakin berseri karena tidak sabar. Di depan sana McGonagall sudah mempersilahkan mereka memasuki aula. Di dalam aula, ramai suara anak Hogwarts yang berteriak dan menyebutkan nama asrama mereka. Juhoon meliriknya dan kemudian melihat ke atas, terlihat cuaca yang kelam, awan dibalut oleh petir.
"Itu sihir," Keonho menjelaskan sesuatu yang sudah Juhoon ketahui karena Martin menceritakan tentang Hogwarts padanya.
"Kamu masih di sini?" Tanya Martin tajam, merasakan wilayahnya yang dikunjungi makhluk asing.
Keonho tidak menjawab, ia hanya menggaruk telinganya merasa gatal. Melihat itu Juhoon terkekeh kecil, ia melirik Martin yang wajahnya sudah memerah padam. "Kamu selalu marah akhir-akhir ini," Bisik Juhoon di telinga Martin dengan sedikit berjinjit.
Suara interupsi dari McGonagall menghentikan mereka. Ia menjelaskan tentang Topi Seleksi yang akan menentukan asrama di mana mereka tinggal. Semua anak di sana ada yang tidak sabar menantikan asrama mereka, ada juga yang merasa takut.
Hogwarts terdapat empat asrama berbeda. Gryffindor yang dilambangkan dengan singa, Hufflepuff yang dilambangkan dengan musang, Ravenclaw yang dilambangkan dengan burung, dan yang terakhir Slytherin yang dilambangkan dengan ular.
"Ahn Keonho," McGonaggal mulai memanggil. Keonho berjalan dengan percaya diri, wajahnya tidak menunjukkan bahwa ia gugup sedikit. Ketika Topi Seleksi diletakkan di atas kepala Keonho. Ia langsung berteriak.
"SLYTHERIN!" Keonho tersenyum puas dan berjalan ke meja Slytherin.
"Edwards, Martin," Panggil McGonagall dengan suara pelan namun tajam. Juhoon menarap Martin lebar, ia gugup setengah mati karena Martin dipanggil.
Sebelum maju, Martin memegang jemari Juhoon yang tersembunyi di balik jubahnya. Senyum simpul hadir di wajah Martin untuk menenangkan Juhoon. Setelahnya, ia maju selangkah, mendudukkan diri, matanya menatap lurus Juhoon dengan mantap.
Topi Seleksi diletakkan di kepala Martin. "Hm... aku merasakan kesetian dan keberanian untuk melindungi... GRYFFINDOR!"
Mendengar kata Gryffindor Juhoon menjerit tertekan merasa senang. Martin kemudian jalan ke asrama barunya, ia disambut hangat dengan bahu yang diguncang-guncangkan.
Kemudian, Juhoon menegang ketika namanya disebut dengan lantang oleh McGonagall. Ia menatap Martin yang juga menatapnya khawatir. Ia kemudian maju dengan langkah perlahan-lahan, duduk dikursi dengan keringat yang bercucuran.
Aku ingin sama Martin kata Juhoon dalam hati.
"Kamu baik hati, loyal... HUFFLEPUFF!" Tatapan Juhoon seketika pecah saat itu juga. Juhoon berjalan menghampiri meja Hufflepuff, ia mendudukan dirinya dan bahunya merosot turun, walaupun sudah disenggol untuk membuatnya sedikit terhibur.
"Jangan seperti harimu berhenti sekarang," Perempuan itu berujar lembut. Rambutnya berwarna putih, sama dengan kulitnya yang juga berwarna putih. Juhoon tersenyum kecil tetapi ia tetap tidak bersemangat.
Ia tersenyum kecil sambil mengulurkan tangannya, "Naomi Mackenzie."
Juhoon menerima uluran itu, rasa hangat hadir di sekitar mereka. "Kim Juhoon..." Ujarnya pelan, matanya sesekali melihat Martin yang sudah mulai berbaur bersama teman-temannya.
Setelah beberapa menit, Juhoon sudah beradaptasi, ia ikut mengobrol dan tertawa. Menimpali candaan Naomi dan membuat meja menjadi ramai. Ketika hari semakin larut, mereka dibimbing menuju asrama. Juhoon mengikuti Prefek mereka, asrama Hufflepuff dekat dengan dapur.
Perempuan dan laki-laki dipisahkan. Juhoon menaiki kasurnya dan terduduk, ia menatap langit-langit kamarnya. Dan tidak lama, Juhoon memiringkan badannya ke pintu yang berbentuk bundar sempurna. Seketika perasaan sedihnya hadir, ia merindukan temannya. Juhoon ingin Martin ada di sini. Tetapi, sedalam apapun ia berharap, Martin tidak kunjung membuka pintu sampai Juhoon memejamkan matanya.
"Kamu nangis?" Martin bertanya khawatir ketika melihat mata Juhoon yang memerah dan bengkak. Juhoon ingin menggeleng, ingin mengatakan ia tidak menangis, tetapi bahkan Juhoon tidak tau apakah dirinya menangis atau tidak.
Martin mengeraskan wajahnya, terlihat kesal ketika mendapati Juhoon yang diam saja dan tidak berani menatap mata Martin. Kemudian, Martin menghela napasnya kasar dan menyentuh wajahnya kasar. "Aku tidak marah..." Ujar Martin, ia harus menahan diri.
"Kalian tidak ingin sarapan?" Keonho berjalan melewati mereka dengan wajah yang kelewat menyebalkan bagi Martin. "Jangan menakuti temanmu sendiri."
"Orang itu menyebalkan," Desis Martin. Ia kembali fokus kepada Juhoon yang sekarang memainkan jemarinya.
"Oke. Ayo sarapan."
Martin menuntun Juhoon. "Setelah ini kamu pelajaran apa?" Tanya Martin mengubah topik.
Juhoon lalu menyengir mendengar hal itu. "Terbang, pakai sapu terbang."
Martin mengangguk, pelajaran mereka setelah ini sama. Dari itu, ia akan memastikan bahwa Juhoon jangan terlalu senang... karena jika temannya ini terlalu senang, Juhoon akan menjadi sangat ceroboh dan berakhir menyakiti dirinya sendiri.
Setelah sarapan. Kedua anak siswa tahun pertama asrama Hufflepuff dan Gryffindor segera menuju ke Halaman Kastil Hogwarts tempat dilangsungkan Pelajaran Terbang. Madam Hooch menyuruh mereka berdiri di samping sapu terbang.
Juhoon dan Martin berhadapan.
Tangan Juhoon sudah ingin menyentuh sapunya sendiri, rasa senang membakar semangat Juhoon untuk menyuruh Madam Hooch melakukan intruksi agar mereka memulai pelajaran.
"Martin," Panggil Juhoon pelan.
Panggilan itu membuat seluruh badan Martin merinding, ia memincingkan matanya curiga ketika Juhoon memanggilnya seperti itu. "Apa?" Tetapi, Martin tetap memilih untuk menimpali Juhoon.
"Menurutmu... apa kita akan bisa mencapai titik tertinggi kastil? Atau apa aku bisa ke Menara Astronomi?" Juhoon memperdengarkan apa yang ia pikirkan kepada Martin yang sudah bersiap-siap untuk tidak membuat Juhoon merealistiskan pikirannya.
"Kalau kamu bisa itu keren!" Naomi berbeda pendapat, ia berdiri di samping Juhoon yang sekarang menatap Naomi seperti keajaiban.
"Sungguh?" Ujarnya, Juhoon membayangkan bahwa dirinya akan menjadi anggota Quidditch. Senyuman menyeringai hadir.
Martin di depannya menggerakkan wajahnya. Ingin mengatakan bahwa sekarang Juhoon harus berhenti sejenak.
"Setelah aku hitung satu sampai tiga, kalian katakan 'Up' dengan posisi telapang tangan terbuka lebar di atas sapu terbang!" Madam Hooch menginterupsi kegiatan mereka.
Juhoon berdeham, merapikan kerah seragam dan jubahnya seperti seseorang yang profesional. Ia menunggu intruksi Madam Hooch dengan wajah nakalnya.
"Satu, dua, tiga."
"UP!" Semua berucap secara bersamaan. Juhoon merasakan kerasnya sapu yang sudah berada di tangannya. Ia menatapnya berbinar dengan tubuh yang merinding karena bisa sampai ke tahap seperti ini.
Mereka diajarkan cara duduk yang benar di sapu terbang, dan disaat cara melayang, Juhoon justru membuat sapu terbangnya maju. "WOAH!" Teriak Juhoon antusias, walaupun Juhoon berpegang erat, ia tetap merasa senang.
"Diam di tempatmu, Mr. Edwards." Madam Hooch memerintah pelan dan dalam, Martin yang mencoba menolong Juhoon merasa tersiksa. "Temanmu tidak butuh pertolongan." Itu benar, karena beberapa menit kemudian, Juhoon mendarat dengan tidak estetik. Kakinya hampir tergelincir jika Martin tidak segera menangkap tubuh Juhoon.
Wajah Juhoon terlalu lebar, ia ingin membuka mulut ketika Martin malah mengguncang tubuhnya. "ITU BERBAHAYA!" Martin berteriak frustasi, ia memarahi Juhoon yang tidak berpikir panjang.
Melihat Martin yang begitu frustasi, Juhoon melunturkan senyumnya. Ia kemudian berjalan pelan menyingkir dari hadapan Martin. "Kamu dengar perkataanku?" Martin bertanya tajam, hendak menghalau Juhoon.
"Awas," Usir Juhoon pelan. Membuat Martin terdiam di tempatnya. Pelajaran Terbang diakhiri dengan pertemuan pertama yang bagi Martin... tidak begitu buruk. Temannya bahagia saat terbang, Martin juga sempat merasakan kebahagiaan sesaat. Tetapi, waktu Juhoon hampir terjatuh dan melukakan dirinya sendiri, Martin memarahi Juhoon tanpa sebab.
Naomi mendekati Juhoon perlahan saat mereka berada di tempat Rekreasi Hufflepuff. "Mungkin temanmu hanya khawatir," Naomi mencoba memberikan Juhoon pengertian kenapa Martin memarahi Juhoon.
Juhoon menggigit bibir dalamnya, tidak ingin menunjukkan dirinya yang lemah. Ia menggeleng keras, "Aku tau. Aku yang membuatnya marah." Itu adalah alasan kenapa sekarang Juhoon merasa sedih dan ingin menangis. Ia sudah membuat Martin meledak dan berujung memarahinya. Ia tau bahwa Martin tidak bermaksud seperti itu.
Jadi, ia semakin menekan pipi dalamnya karena merasa bahwa semuanya karena Juhoon yang tidak bisa diam.
"Itu juga bukan salahmu," Perkataan Naomi membuat Juhoon mengedipkan matanya bingung.
Ketika Juhoon hendak membuka mulutnya, lidahnya merasakan rasa asin, ah aku berdarah lagi, Juhoon berkata dalam hati.
Beberapa hari berlalu dengan cepat. Juhoon mengikuti mata pelajaran wajibnya tanpa absen sedikitpun. Hanya saja, jarak membentang hadir di tengah dirinya dan Martin, Juhoon menjauhkan diri, ia ingin intropeksi diri. Tetapi, itu membuat Martin tersiksa dan ingin cepat-cepat mengakhiri semuanya. Ketika mereka akhirnya berada di kelas Herbologi yang sama, selesai kelas Martin segera menarik Juhoon menjauhi kerumunan.
"Aku sudah tidak tahan. Baiklah, aku akan minta maaf." Martin lebih dulu menyerah, ia tidak ingin menjauh dari Juhoon lebih lama lagi. Juhoon di hadapannya sudah siap dengan mata yang berkaca-kaca. Lalu, segera menghamburkan pelukkannya kepada Martin dengan erat.
"Kamu tau aku tidak bisa menahannya lagi!" Juhoon menangis, ia terisak-isak dipelukkan Martin dan membuat Martin harus menenangkan temannya itu. "Aku merindukan kita yang dulu," Cicit Juhoon tidak tahan. Juhoon tidak menyukai ini, ia lebih suka berada di rumah Martin dan mengganggu Martin setiap saat.
"Jalankan saja harimu kayak biasa...." Martin mengepalkan tangannya di kedua sisi tubuhnya. "Waktu akan berlalu dengan cepat dan kita akan pulang ke rumah."
Tahun Kedua.
Waktu memang berlalu begitu cepat. Diusia mereka yang sudah beranjak satu tahun lebih dewasa, Juhoon tetap menempel kepada Martin saat liburan tahun ajaran. Ia tetap kabur di malam hari untuk tidur di kasur yang sama, suatu malam Juhoon terbangun, ia sudah mencoba untuk tertidur ketika matanya justru terbuka lebar. Jadi, ia memutuskan untuk keluar rumah dan pergi ke rumah Martin yang hanya di sebelah rumahnya.
Juhoon membuka pintu utama rumah Martin, menutupnya dan menguncinya. Ia naik ke atas dan membuka pintu kamar Martin. Martin sudah tertidur pulas, Juhoon mengendap-endap agar tidak membangunkan Martin yang mulutnya terbuka kecil. Sesuai perintah Martin, tidur saja di dekat tembok maka Juhoon menidurkan tubuh di dekat tembol. Menempel. Kasur Martin sempit, jadi ia tidak ingin Martin merasa sempit.
Sinar matahari membuat Juhoon membuka matanya ketika masur sudah kosong-melompong, hanya ada dirinya dengan posisi tidur telentang, tangan dan kaki terbuka lebar—menguasai tempat tidur—dan suara burung yang terdengar menganggu telinga.
"Cepat ke bawah," Martin membuka pintu, ia melihat Juhoon masih terdiam di atas kasurnya. "Aku tidak tau bisa bangun sesiang ini..." Kata Juhoon pelan dan mampu didengar oleh Martin.
"Ada yang salah dari kamu bangun siang?" Martin bertanya penasaran, ia kemudian segera menuju kasurnya. Tangan dilipat di dada, menunggu Juhoon yang akan lama terbangun. "Jangan membuat semua orang menunggu." Juhoon melirik Martin sekilas, ia kemudian mendengus malas mendengar omelan Martin.
"Ya, ya, duluan saja. Aku akan makan di rumah." Juhoon menutup tubuhnya menggunakan selimut, ingin kembali tertidur. Hari ini, entah kenapa Juhoon tidak ingin menggerakkan tubuhnya terlalu sering, ia hanya akan berada di kasur sepanjang hari.
Martin melirik meja belajarnya, memikirkan cara untuk membujuk Juhoon untuk segera makan. Ide cemerlang hadir di kepalanya ketika Juhoon malah menyamankan posisi di kasur, ia bahkan menggeliat kecil untuk mencari kenyamanan itu. "Makan saja di sini, atau pintu kamar akan aku kunci dan kamu tidak akan masuk."
"Kamu sering mengancam selama belasan kali, tapi tidak pernah tuh?"
Martin seperti berbicara pada selimutnya. Juhoon di dalam sana bahkan sudah siap untuk kembali tertidur dengan guling yang sudah ia peluk erat. "Oke. Aku traktir kamu di Hogsmeade." Martin berujar penuh kemenangan ketika Juhoon menurunkan selimutnya sampai di bawah mata, rambutnya yang berantakkan memberikan kesan yang menggemaskan.
Juhoon memincingkan matanya, "Itu masih satu tahun lagi. Kamu sudah mau berjanji dari sekarang hanya karena aku ngga mau makan? Ucapanmu bisa dipegang banget berarti."
Martin sekarang berkacak pinggang, matanya menatap Juhoon malas yang tidak ada niatan untuk bergerak keluar dari kasur dan menuju meja makan. "Serius deh, lambungmu akan sakit." Martin akhirnya menurunkan nada bicaranya.
Juhoon terdiam sejenak, kemudian menggeleng kaku. "Tidak tuh. Kamu jangan sok tau." Katanya, hendak menutup seluruh tubuhnya kembali ketika mendapati Martin yang diam saja tidak merespon.
Suara pintu ditutup akhirnya terdengar. Martin kalah. Ia memilih membiarkan Juhoon menguasai kasurnya dan ia memilih untuk pergi. Juhoon sendiri sudah akan kembali tertidur, atau kalaupun dia tidak bisa, Juhoon hanya akan mengacak-acak kamar Martin dengan eksperimennya.
Beberapa jam berlalu. Martin tidak kunjung datang, perut Juhoon bahkan sudah berbunyi kelaparan, meminta haknya untuk mendapatkan makanan. Juhoon hendak bangun, hendak pulang, ia lapar, mau makan dan akan makan di rumahnya. Tetapi, ketika tubuhnya berdiri, rasa pusing menghampiri kepalanya. Membuatnya buru-buru terduduk di pinggir kasur.
Setelah beberapa menit berpikir bahwa Juhoon bisa menahan diri, ia akhirnya berdiri kembali. Tangannya bersandar pada dinding agar tubuhnya tidak linglung. Ia membuka pintu kamar, dan Martin sudah berdiri dengan wajah datarnya. Di tangan Martin, sudah ada piring yang berisikan makanan dan air putih. Wajah Juhoon seketika berseri memikirkan bahwa Martin begitu mengasihannya sampai-sampai membawa makanan ke kamar untuk Juhoon.
"Apa?" Tanya Martin, tatapannya tetap datar, tidak peduli dengan kondisi Juhoon yang sudah kelaparan.
Juhoon menyengir. "Aku lapar."
Martin mengangguk mengerti, "Pulang saja. Katanya mau makan di rumah." Martin memberikan Juhoon jalan, hal itu membuat Juhoon sukses melongo. Ia kemudian berjalan melewati Martin yang masih menunggu Juhoon sampai Juhoon di depan tangga.
Juhoon menatap Martin sekilas, masih berharap bahwa makanan itu untuknya. Bahwa Martin masih peduli padanya yang menggemaskan ini. Tetapi, Martin hanya masuk ke kamar dan menutup pintu, hal itu seperti menjauhkan Juhoon.
Alih-alih marah, Juhoon merasa kesal dan berakhir berlari menentuk pintu kamar Martin yang tidak terbuka. Membuat kakinya sendiri kesakitan, "Aduh! Aduh! Aduh!" Juhoon mengangkat kakinya, ia berputar-putar menahan keseimbangan.
Sesampainya di rumah. Juhoon langsung menuju meja makan yang sudah disiapkan makananya. Ia hendak membuka Tutup Saji, wajahnya melongo melihat isinya kosong.
"Lho? Makanan kamu udah dibawain sama Martin ke sana."
Juhoon menengok ke arah Ibunya dengan cepat, matanya menatap tidak percaya dan ia langsung menghentakkan kakinya kesal menuju rumah Martin kembali. Ia membuka pintu kamar dengan kasar dan suara brak terdengar memekakkan telinga.
"Silahkan makan," Sambut Martin dengan senyum cerahnya. Juhoon hendak marah karena dipermainkan oleh Martin. Tetapi, hidangan makanan yang menggiurkan membuatnya duduk di hadapan Martin yang membuka tangannya.
"Bolehkan aku memakan milikku, Martin?" Tanya Juhoon tajam, diam-diam ingin memukul Martin.
"Tentu," Martin menggeser piring tersebut mendekati Juhoon yang sekarang langsung memakannya. Martin mengawasi, dan sesekali memijat pelipis melihat Juhoon makan masih dengan berantakkan. Padahal ia sudah tinggal di Hogwarts selama ini, tetapi di hadapan Martin, juga tetaplah Juhoon yang berantakkan.
"Kamu masih belum bisa makan dengan benar?" Tanya Martin ketika Juhoon sudah menghabiskan makanannya dan meminum air putih dengan rakus. Juhoon memiringkan kepalanya memandang Martin bingung, ia melirik bajunya yang tidak belepotan, makanan tidak berjatuhan di baju, Juhoon sudah belajar hidup mandiri.
Martin mengangkat tangannya, menyentuh sudut bibir Juhoon yang terdapat sisa makanan. "Ini," Cibir Martin memperlihatkan saus yang tersisa. Juhoon menegang dan ia segera terbatuk ketika sadar apa yang dilakukan oleh Martin.
"Sebentar lagi kita masuk, siapkan keperluanmu." Martin menambahkan, ia berdiri hendak meninggalkan Juhoon yang masih diam memproses apa yang terjadi.
"Aku akan menjaga diriku dan Juhoon, jangan khawatir." Martin tersenyum hangat, mengatakan bahwa mereka tidak perlu khawatir berlebihan kepada Juhoon yang masih belum bisa dibilangin.
Akhirnya, Martin dan Juhoon memasuki Kereta Express yang akan menuju Hogwarts, mereka jalan menyusuri lorong dan berakhir di kompartemen kosong. Tetapi, ketenangan itu tidak berlangsung lama ketika Keonho menggeser pintu dengan seringai yang lebar. "Kita duduk di sini," Putusan itu mutlak, Juhoon menyambutnya dengan hangat, menggeser tubuhnya agar Keonho bisa duduk bersama.
"Temanku, Seonghyeon dan James." Keonho memperkenalkan temannya sendiri. Juhoon memiringkan wajahnya untuk melihat teman-teman Keonho, lalu ia melirik Keonho.
"Kamu sendiri namanya siapa?" Tanya Juhoon ke Keonho, memicu tawa Martin yang sudah terbahak-bahak. Keonho menatap Juhoon tidak percaya. Selama ini, satu tahun, mereka satu sekolah... Juhoon tidak mengenali Ahn Keonho, Siswa Slytherin yang paling tampan bagaikan pangeran es.
Seonghyeon memberhentikan tawanya paksa, ia duduk di sebelah Martin. "Panggil saja Keonho." Keonho duduk di sebelah Juhoon, hal itu membuat Martin menatapnya tidak senang. Seharusnya, di sini adalah teman asrama Martin atau kenalan Juhoon—bukan orang-orang dari asrama Slytherin yang menunjukkan muka.
Juhoon meminta maaf karena baru mengetahui nama Keonho sekarang. Hal itu membuat Keonho menggeleng kencang dan ribut, mengatakan bahwa ia baik-baik saja bahkan ketika Juhoon baru tau namanya setelah mereka lulus.
James yang sudah tahu dengan wajah Keonho yang seperti itu, dirinya yakin bahwa Keonho sedang sarkas tetapi harus menahan diri. "Kamu pindah," Perintah Martin dingin, suasana di sekitar mereka menjadi tidak mengenakkan.
Juhoon bertanya kepada Martin melalui tatapan. Ia memandang semua orang, dan dari tatapan yang ada di kompartemen, Juhoon mengetahui satu hal: ia tidak tau apa yang mereka rebutkan. Juhoon meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, menyuruh Martin diam.
Keonho menyeringai, "Tidak mau." Ia menjulurkan lidahnya.
James dan Seonghyeon menahan tawa. Apakah mereka sedang berebut untuk siapa yang paling dekat dengan Juhoon? Jawaban dari sudut pandang Keonho adalah iya. Sedangkan kalau dari sudut pandang Martin, jawabannya adalah tidak, untuk apa merebut sesuatu yang memang sudah dekat darinya.
Martin berdiri, menghampiri Keonho, mencoba mengintimidasi. Juhoon menghalangi Martin, "Jangan seperti ini. Keonho hanya ingin berteman." Harap Juhoon bahwa Martin akan menghentikan kegiatannya.
Seringaian di wajah Keonho menghilang ketika Martin menuruti apa keinginan Juhoon. Laki-laki tersebut bahkan tidak perlu disuruh dua kali ketika ucapan itu keluar dari Kim Juhoon.
Serius deh, kamu ngga akan bisa ambil Juhoon dari temannya yang lengket itu kata James dalam hati. Tidak ingin pikirannya diketahui, ia hanya akan meledek Keonho ketika mereka sudah tiba di asrama.
Karena mereka sudah tahun kedua di Hogwarts, perjalan menuju kastil dilalui dengan menaiki kereta tanpa kuda. "Jangan terlalu dekat dengannya." Perintah Martin kepada Juhoon yang sibuk melihat jalanan di depannya.
"Jangan melarangku berteman dengan siapapun," Balas Juhoon kesal. Memangnya salah ketika punya teman yang banyak? Kenapa Martin tidak suka? Seharusnya temannya ini senang karena Juhoon akan mengurangi mengganggu waktu Martin.
"Terserah kamu saja," Martin menyandarkan punggungnya, membiarkan saja Juhoon melakukan sesuka hatinya. Karena ingin marahpun, sekarang Juhoon sudah menyenderkan kepalanya di bahu Martin, Juhoon sudah memejamkan matanya merasa lelah selama perjalanan menggunakan kereta Express.
Hari-hari di tahun kedua tidak berbeda jauh dari tahun pertama. Hanya saja, mereka sudah bisa beradaptasi, tidak terlalu sulit melakukannya saat sudah terbiasa dengan lingkungan sekitar. Satu hal yang menyenangkan di tahun kedua adalah kamu bisa menjadi anggota tim Quidditch dan membanggakan nama asrama.
"Juhoon," Di suatu siang Martin memanggil Juhoon lembut. Nada itu digunakan jika Martin ingin memberitahukan sesuatu kepada Juhoon.
"Kenapa?" Balas Juhoon.
Martin, "Aku mendaftar jadi anggota Quidditch, jadi... karena sebentar lagi ada seleksi. Aku harus banyak berlatih, kemungkinan besar tidak bisa bertemu denganmu sesering dulu."
Juhoon berpikir sejenak. Ia kemudian mengangguk semangat dan memberikan dua jempol kepada Martin, karena kakinya sekarang dibaluti sepatu, ia tidak bisa menunjukkan kepada Martin bahwa jempol kakinya juga naik ke atas. Ketika Martin berkedip, Juhoon sudah memeluk tubuhnya erat, ia menggerakkan tubuh mereka.
"Aku bangga sama kamu! Kamu pasti bisa jadi anggota. Jadi, ngga masalah kalau kamu ngga ketemu aku dulu selama yang kamu butuhkan." Balasan dari Juhoon sebenarnya bulan seperti yang diinginkan Martin.
Ngga ketemu aku dulu selama yang kamu butuhkan kalimat itu jelas mengganjal Martin. Martin mengerutkan keningnya, wajahnya tampaj tidak senang dengan kalimat yang dikatakan Juhoon. Seakan-akan temannya memang tidak mau bertemu dengan Martin lebih lama dari yang dibayangkan.
"Oke," Balas Martin datar, membuat Juhoon tersentak karrna ia pikir... Martin tidak akan mengiyakan ucapannya segampang itu. Seharusnya, Martin mengatakan bahwa dia akan menemui Juhoon sebisa mungkin. "Kalau gitu, aku pergi dulu."
Martin mengepalkan tangannya erat. Juhoon melihat punggung Martin dengan sedih, karena sebentar lagi Juhoon akan sulit menemui Martin yang sibuk latihan. Setelah Martin berhasil menjauhi Juhoon, ia bersandar pada dinding kastil yang dingin, mengusap wajahnya kasar karena tidak habis pikir bahwa Martin mengikuti egonya. Hanya karena Juhoon yang ingin mendukung Martin sepenuhnya tidak sesuai yang ia inginkan.
"Hei," Keonho merangkul bahu Juhoon dengan ceria. "Kamu sedih ditinggalkan oleh sahabatmu itu? Jangan seperti kamu ditinggalkan oleh pasanganmu yang lebih memilih hal lain." Lanjut Keonho.
Juhoon memincingkan matanya kesal. Apa-apaan pola pikir Ahn Keonho, kenapa menjadi pasangan padahal mereka hanya berteman dan terlalu dekat. "Ayolah, mau sesuatu yang menyenangkan?" Tanya Keonho menarik perhatian Juhoon.
Ia mengendarkan pandangan ke seluruh penjuru kastil, memastikan bahwa saat ini tidak ada yang memperhatikan mereka. "Apa?" Tanya Juhoon penasaran.
Keonho melirik Seonghyeon dan James di belakang mereka. Kemudian, mereka membawa Juhoon yang menyesuaikan langkah, "Ini akan menyenangkan." Ujar Keonho jahil.
Beberapa menit berlalu, Juhoon terdiam di perbatasan. Keonho dan teman-temannya membawa Juhoon ke Hutan Terlarang, Juhoon menatap mereka bertiga tidak percaya. "Kalian seriusan?" Tanya Juhoon sambil menunjuk Hutan Terlarang yang terlihat gelap di dalam sana.
Keonho mengangguk antusias, "Masa kita ngga serius? Yah, walaupun mana keluargaku bukan Sirius."
Juhoon menampilkan wajah anehnya, dan tidak lama ia tertawa setelah mengetahui maksud perkataan Keonho. "Ngga lucu sama sekali," Balasnya sambil mengelap matanya pelan.
"Ngga lucu tapi ketawa," Sindir Seonghyeon, ia ikut tertawa kecil.
Juhoon kemudian melangkah maju, rasa penasarannya membuat keberanian Juhoon meningkat drastis. "Mumpung masih siang, ayo?" Ajak Juhoon dan tiga temannya mengangguk semangat.
Mereka di larang mendekati Hutan Terlarang. Tetapi, rasa nakal mereka membuat mereka nekat memasuki Hutan Terlarang. Juhoon ingin bertemu dengan makhluk-makhluk yang diceritakan pada buku, ingin bertemu manusia setengah kuda atau Centaur. Langkah pertama, mereka masih semangat. Langkah ke sepuluh, Seonghyeon sudah merinding melihat dalam Hutan Terlarang yang gelap, cahaya hanya memasuki celah dedaunan.
"Hei... lebih baik kita pulang..." Lirih Seonghyeon, tangannya menunjuk ke belakang. Juhoon melirik, di belakang mereka, cahaya seperti mengundang mereka untuk keluar dari kegelapan Hutan Terlarang.
"Kalau kamu takut keluar sana duluan," Usir Keonho, ia masuk lebih dalam. "Aku masih mau berkeliling."
"Ini bukan pariwisata, Ahn Keonho." Peringat Seonghyeon tajam, wajahnya gemetar antara memilih apakah ia akan meinggalkan teman-temannya atau ikut semakin dalam. "Ah, sudahlah. Aku pergi duluan!" Seonghyeon kabur dengan terburu-buru, wajahnya panik ketika mendengar pekikkan dari dalam hutan.
Keonho berkacak pinggang. "Jadi, ada yang mau kabur lagi? Karena kalau salah satu dari kalian akan kabur lagi... aku ikut!"
James berjalan pelan, "Sudahlah. Lebih cepat lebih baik, ayo sebelum kita ketahuan."
Jadilah mereka masih menyusuri Hutan Terlarang, Juhoon mengamati semua pohon yang ada di sini. Rasa kagumnya pada dunia sihir benar-benar besar.
"Jangan norak," Cibir Keonho mendapati Juhoon yang hampir mendekati batang yang sudah jatuh. Juhoon mengerucutkan bibirnya mendengar hal tersebut. Ia memaki Keonho dalam hati dengan cepat. James hanya tertawa kecil.
Berjam-jam mereka menyurusi hutan, tetapi seakan-akan hutan mengetahui kehadirannya, tidak ada apapun yang sampai mereka temuai. Hal hasil, dari saran James mereka pulang dengan selamat. Juhoon merahasiakan perjalanan mematikannya, yang sejujurnya tidak mematikan, hanya kalau ketauan akan mendapatkan pengurangan poin asrama.
Selama Martin berlatih, mereka bertiga selalu ke Hutan Terlarang dengan mengendap-endap. Sampai suatu sore, Hagrid menemui mereka yang membawa lentera. "Kalian ngapain di sini?" Tanya Hagrid tajam. Menatap James, Juhoon dan Keonho bergantian. Tentu mereka tegang.
Keonho tersenyum tegang, ia menggaruk lehernya tidak gatal. Kemudian melirik Juhoon yang sudah menatap ke arah atas, seperti itu adalah hal paling menarik daripada situasi mereka yang sudah ketahuan.
"Hm... belajar?" Juhoon menyampaikan alasannya yang terdengar sangat meragukan bagi Hagrid. James di samping Juhoon menunduk dalam merasa malu.
"Iya! Belajar. Kita lagi belajar tentang... Herbologi." Lanjut Keonho untuk meyakinkan alasan yang dilempar Juhoon, padahal mereka memang sudah ketahuan dari awal.
Setelah beberapa menit yang mematikan. Hagrid mengangguk. "Baiklah, aku akan coba percaya pada kalian," Ucapan itu terdengar sakras dipendengaran mereka bertiga.
"Kalau gitu, ikuti aku." Hagrid jalan lebih dulu. James, Juhoon dan Keonho saling melirik apakah mereka harus mengikutinya atau balik, tetapi mereka takut dihukum lebih jauh. Jadi, mereka memilih mengikuti dalam diam.
Mereka bertiga kompak membelalakkan matanya ketika mereka diperlihatkan laba-laba hitam dengan jumlah mata delapan. Wajah Keonho sudah pucat pasi, James sudah mengalihkan pandangan karena tidak mampu melihatnya. Di depan mereka, itu adalah jenis Acromantula.
"Hagrid," Sambut Acromantula paling besar di antara semua jenis yang ada. Dengan begitu, mereka bertiga dengan cepat bersembunyi di balik tubuh Hagrid.
"Aragog!" Hagrid hendak menghampirinya, itu membuat Keonho menjerit ketakutan ketika persembunyiannya hampir ketahuan.
Aragog melihat mereka bertiga. Ketika tatapannya bertemu dengan Keonho, laki-laki itu pingsan. Membuat Juhoon panik dan segera menolongnya. "Taruh saja dulu, nanti aku yang bawa."
Di balik tubuh Aragog, ada suara laba-laba yang keras. Dengan kakinya yang besar, Aragog segera menggeser. "Kata anakku, kau menyelamatkannya." Aragog berkata dalam, hal itu membuat James dan Juhoon melirik satu sama lain dengan tubuh yang menjadi gemetar ketakutan.
"Yang wajahnya imut," Jelasnya.
James menunjuk Juhoon. Mendapatkan reaksi James membuat Juhoon menunjuk dirinya sendiri, bertanya-tanya apakah memang dia pernah menyelamatkan laba-laba... Juhoon memiringkan kepalanya dan tidak dapat menyembunyikan wajah anehnya yang terpampang jelas.
Hagrid yang melihat itu segera membawa mereka keluar. Juhoon berjalan dengan rasa penasaran yang aneh, sungguh dia tidak ingat apa yang terjadi, kenapa laba-laba itu mengatakan bahwa Juhoon pernah menyelamatkannya.
Mereka membawa Keonho ke Hospital Wing dan Juhoon langsung keluar. Seonghyeon sedikit mencak-mencak mendapati temannya keluar dari Hutan Terlarang dalam kondisi tidak sadarkan diri. Tetapi, bukan itu pikiran Juhoon. Ia takut bahwa Martin akan mengetahuinya masuk Hutan Terlarang, bagaimana reaksi Martin... apakah temannya itu akan marah besar. Juhoon sebenarnya tidak mau ambil pusing, ia tidak ingin masalah itu menjadi besar. Toh, Hagrid bilang mereka tidak akan diberitahukan.
"Juhoon, kamu di panggil sama Profesor Sprout." Naomi menepuk bahu Juhoon yang sedang berada di ruang rekreasi. "Setelah itu, ayo kita mengambil makanan di dapur, aku lapar."
Juhoon merasa kaku, ia berdiri tetapi kakinya seperti tidak terpijak. Walaupun begitu, Juhoon tetap menghampiri Madam Sprout. Entah apa yang akan dikatakan, Juhoon hanya akan berdoa bahwa dirinya akan baik-baik saja. Juhoon tidak peduli selagi Martin tidak tau apa yang terjadi.
Juhoon mengetuk dinding rumah kaca, mencuri perhatian Madam Sprout yang sibuk dengan tanamannya. Ia tersenyum menyambut kehadiran Juhoon, tangannya melambai menyuruh Juhoon untuk mendekatinya.
"Ada yang ingin kamu katakan padaku, Juhoon?" Tanya Madam Sprout sopan, matanya melembut menatap Juhoon yang memainkan jemarinya takut.
"Maafkan aku... rasa penasaranku sudah tidak bisa dibendung." Juhoon semakin menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya. Ia siap menerima konsekuensi dari perbuatannya.
Madam Sprout menggeleng ringan. "Tidak sampai masuk ke daerah yang memang sudah di larang oleh kepala sekolah, Juhoon."
Juhoon meneguk ludah. Ia ketauan, tetapi Madam Sprout bahkan tidak memarahinya. "Kamu akan menjadi asistenku selama 2 minggu ke depan," Ungkap Madam Sprout dan Juhoon mengangguk semangat, ia tidak akan membujuk karena ini murni kesalahannya.
"Juhoon!" Juhoon yang sudah keluar dari Rumah Kaca mengalihkan pandangan dan melihat Martin yang sudah melambaikan tangannya, senyuman yang memperlihatkan gigi Martin yang rapih hadir menyambut hari Juhoon yang suram. Juhoon membalas lambaian tangan Martin pelan, tidak bersemangat dengan apa yang terjadi.
"Ada apa?" Martin tepat di hadapan Juhoon. Menatap Juhoon dengan khawatir karena tidak pernah melihat Juhoon yang seperti ini. "Kamu dimarahi?" Lanjut Martin, Juhoon menggeleng cepat karena tidak ingin Martin mengetahuinya.
"Bagaimana latihanmu? Sebentar lagi pemilihan, kan?"
Martin menyengir, "Maaf karena aku sibuk, kita sudah satu bulan tidak ketemu."
Wajah Juhoon seketika layu mendengar bahwa mereka sudah satu bulan tidak ketemu. "Be—benar." Balas Juhoon tidak semangat.
Mereka berjalan beriringan. "Nanti kalau asramaku menang... ayo habiskan waktu sebanyak mungkin. Aku akan membalasnya di masa depan."
"Tentu."
Waktu berlalu begitu cepat, Martin menyiapkan dirinya untuk turnamen Quidditch, setelah selesai pelajaran, ia akan segera berlari menuju lapangan Quidditch dan berlatih. Martin sekadang menjadi seorang Seeker, yang akan mencari dan menangkap bola kecil berwarna emas dan memiliki sayap, atau biasanya disebut dengan Golden Snitch.
Martin sebenarnya ingin sekali menghabiskan waktunya bersama Juhoon, tetapi ketika kakinya sudah ingin beranjak, teman satu timnya, Eugene segera menariknya menuju lapangan. Oleh karena itu, Martin hanya bisa menatap kesaharian Juhoon dari jauh. Temannya itu ketika menangkap tatapan dari Martin akan tersenyum sampai matanya yang cantik menghilang.
Makanya, ketika hari turnamen tiba, Martin senang bukan main, karena sebentar lagi ia akan bisa menghampiri Juhoon dan menghabiskan semua waktu yang terbuang karena tidak ada Juhoon di dalamnya. Martin merasakan debaran di jantungnya, ia menatap semua siswa Hogwarts yang berteriak dan menyematkan yel-yel mereka. Matanya melirik asrama Hufflepuff, Juhoon berdiri paling depan memakai kacamata, mungkin karena angin yang terlalu kencang. Sekarang sedang pertandingan antara Hufflepuff dan Ravenclaw. Setelahnya, jika yang menang akan kembali bertanding.
Juhoon menepuk tangannya kecewa ketika teman satu asramanya tidak berhasip menangkap Golden Snitch, ia hampir kehilangan keseimbangan. Hal itu membuat Martin tertawa terhibur.
"Itu temanmu?" Tanya Eungene melihat Martin yang selalu memperhatikan Juhoon. Martin mengangguk.
"Aku sempat melihatnya... di mana, ya?" Eungene bertanya pada dirinya sendiri.
"Di kelas? Kita ada satu kelas dengannya."
Eungene menggeleng, ia berpikir sejenak, ia sendiri tau bahwa Juhoon memang satu kelas dengannya di pelajaran Terbang tahun lalu. "Sebentar... ah! Aku melihatnya memasuki Hutan Terlarang bersama Keonho dan James!" Seakan menemukan penerangan di tengah kegelapan.
Martin langsung menengokkan wajahnya kaget menatap Eungene yang melihat itu langsung menegukkan ludahnya kasar. Wajah Martin mengeras dengan cepat.
"Hei... kau kenapa?"
"Kapan kau melihatnya?" Tanya Martin dalam.
Eungene membuang muka ketakutan. "Sudah lumayan lama... hampir tiga bulan yang lalu." Balasnya sambil mengecilkan suaranya takut.
Martin membuang mukanya kesal. Selama pertandangin, Martin mencoba menahan dirinya agar tidak kasar karena kesal dengan sikap Juhoon. Di pertandingan final, Gryffindor menang melawan Hufflepuff. Juhoon bersorak kecil, sedikit kecewa karena asramanya tidak menang, kalau asrama Juhoon menang, Juhoon pasti akan menyombongkan hal itu kepada Martin. Tetapi, walaupun begitu Juhoom kerap senang karena Martin berhasil mendapatkan Golden Snitch.
Ketika pertandingan sudah selesai, Juhoon hendak menghampiri Martin dengan senyuman lebar dan memeluk tubuh temannya itu erat. Tetapi, ketika Juhoon hendak memanggil namanya, Martin pergi begitu saja tanpa melirik Juhoon sedikitpun, membuatnya merasakan nyeri di dadanya yang datang karena penolakkan seperti itu.
Hanya saja, beberapa detik kemudian, Juhoon tersenyum menyemangati dirinya sendiri. Mungkin Martin lagi cape aja... pikir Juhoon kaku. Tatapannya masih mengamati punggung Martin yang menjauh darinya.
Selama beberapa bulan sebelum mereka libur tahunan. Juhoon kerap kali menghampiri Martin yang enggan berada di dalam radius Juhoon. Saat itu pelajaran mantra, mantra dari temannya hampir meleset kepada Juhoon jika saja Martin tidak menariknya dan melindungi dirinya. Hal itu membuat Juhoon berpikir bahwa Martin mungkin sudah tidak lelah, tetapi sebelum Juhoon bisa mendongakkan kepalanya, Martin sudah pergi.
Hal terakhir yang membuat Juhoon menangis adalah di kereta Express, Martin tidak satu kompartemen dengannya. Martin mengatakan bahwa laki-laki itu memerlukan waktu bersama tim Quidditch, tetapi Juhoon bahwa melihat Eungene berbeda kompartemen dengan Martin.
"Juhoon," Naomi berbicara kecil, hendak menyentuh bahu Juhoon yang gemetar. Tetapi, suara isakan tidak terdengar.
Naomi akhirnya membiarkan Juhoon dengan perasaannya. Waktu sampai di statius King's Cross, Martin terlihat biasa saja. Juhoon mencoba menjangkau Martin yang menjauh, tetapi Martin bahkan tidak menengok ke arahnya.
Tahun Ketiga.
Juhoon mengetuk pintu kamar Martin. Beberapa menit tidak dibukakan pintu. Juhoon mengetuk lebih keras.
"Martin," Juhoon memanggil lebih keras, berharap Martin tidak berpura-pura untuk tidak menulikan pendengarannya.
Tangannya bergetar ketika mengetuk pintu, matanya memerah. Selama seminggu lebih setelah mereka pulang dari Hogwarts, hanya satu pikiran Juhoon, kenapa Martin mendiaminya? Kenapa Martin tidak membalas ucapannya, Martin tidak pernah seperti itu. Martin selalu mendahului Juhoon, Martin selalu mendukung dan membalas Juhoon semangat mungkin.
Tetapi sekarang... pikiran itu membuat Juhoon kembali menggigit bibirnya keras, rasa asin tanpa perlu lama-lama hadir. Darah, Juhoon berdarah. Juhoon mengelap bibirnya, tidak ingin membuat Martin marah lebih besar.
"Martin... jangan seperti ini." Juhoon berkata pelan, suaranya lirih dan begitu memohon kepada Martin yang ada di dalam kamar. "Martin! Jangan mendiamiku!" Dengan begitu, Juhoon menendang pintu kamar Martin dan pergi begitu saja dengan air mata yang menderai.
Di dalam kamar, Martin mengepalkan tangannya di atas meja belajar. Ia menunduk dalam, dirinya juga tidak bisa. Ia ingin menghampiri Juhoon, hanya saja rasa marahnya kepada Juhoon lebih besar, rasa kecewanya... ketika tau Juhoon ke Hutan Terlarang bukan dari mulut Juhoon langsung. Membuat Martin begitu marah.
Di malam harinya ketika Martin hendak menjelang tidur. Martin berdiri di depan pintu, matanya melihat dengan pandangan kosong ke arah gagang pintu, tepatnya di silinder kunci. Di sana, kuncinya sudah tertanam, Martin hanya perlu memutarnya untuk pintu terkunci. Tetapi, ia takut tengah malam Juhoon akan ke rumahnya dan menemukan kamarnya di kunci. Martin tidak semarah itu.
Jadi, tanpa memutar kuncinya, Martin pergi berlalu dan berbaring di atas kasurnya. Matanya melihat langit-langit kamar, napasnya terdengar berat, ia merindukan tawa Juhoon yang menenangkan di telinganya.
Tangan Juhoon melayang, ia sedang perang batin apakah harus membuka pintu kamar Juhoon atau ia kembali saja ke rumahnya karena Juhoon takut jika itu menyangkut tentang Martin.
Pada akhirnya, Juhoon menyentuh gagang pintu. Rasa dingin menjalar ke kulit tangannya, membuat Juhoon merinding. Kemudian, ia memutarnya perlahan, seiring putaran pada kenop pintu, rasa deg-degan semakin meningkat, Juhoon mendorong pintu sambil matanya tertutup, takut-takut jika pintu tersebut dikunci.
Matanya mengintip sedikit, pintu kamar Martin terbuka kecil. Mata Juhoon melebar mendapatkan hal tersebut, seperti mendapatkan hadiah besar. Ia kemudian maju selangkah, tetapi berhenti sejenak, tangannya saling bermain kasar, giginya menekan bibirnya lebih keras dari yang biasa ia lakukan. Luka tadi pagi yang belum mengering sempurna kembali terbuka.
Juhoon membukanya lebar, ia melihat Martin yang sudah tertidur pulas. Kakinya mengendap-endap memasuki kamar Martin, di samping kiri Martin—dekat tembok—begitu kosong. Juhoon mengingat perkataan Martin dua tahun lalu, Jangan tidur di lantai, tidur saja dekat tembok, nanti aku akan ganti kasur agar kamu tidak kesempitan.
Juhoon menaiki kasur, sebisa mungkin meminimalisir gerakkannya agar tidak membangunkan Martin yang tertidur pulang. Ketika sudah berhasil merebahkan dirinya, Juhoon mendekat sedikit demi sedikit mengikis jarak antara dirinya dengan Martin. Kemudian, tubuhnya ia miringkan menatap Martin yang memunggunginya.
"Martin... aku minta maaf karena membuatmu marah dan tidak ingin berbicara denganku." Lirih Juhoon dengan mata yang sudah mengantuk berat.
Juhoon tertidur dengan cepat, ia bahkan mendengkur kecil. Di sampingnya, Martin bergerak membalikkan badan. Ia menatap wajah Juhoon dengan suasana kamar yang remang-remang. Kemudian, tangannya mengambil tongkat sihirnya yang ia sembunyikan di bawah kasur.
"Episkey," Martin mengucapnya jelas, ujung tongkat ia arahkan ke bibir Juhoon yang berdarah dan terlihat pecah-pecah. Martin menyembuhkan Juhoon, seperti janjinya. "Kamu selalu berhasil membuatku khawatir," gumam Martin.
Suasana kamar kembali menjadi hangat, setelah Martin memastikan Juhoon baik-baik saja. Ia segera membenarkan selimut pada tubuh Juhoon dan ikut terlelap setelahnya. Pagi hari begitu berisik, Juhoon terbangun lebih dulu dan saat ke kamar mandi untuk cuci muka, Juhoon melihat bibirnya sudah tidak pecah-pecah, ia kemudian keluar dengan cepat membuat pintu terbanting kencang.
"Martin...." Panggil Juhoon, matanya memerah dengan cepat, ia hendak menangis. Martin di pinggir kasur menatap Juhoon datar, tidak berniat menghampiri Juhoon. Bahkan, ia sudah berdiri untuk keluar kamar.
"Jangan gigit bibirmu lagi, aku tidak suka." Tutup Martin sebelum dirinya benar-benar meninggalkan Juhoon sendirian di dalam kamar. Sukses membuat Juhoon merasa bingung bukan main. Ia mengacak rambutnya frustasi.
Lihat saja! Aku akan membalasmu nanti saat di Hogwarts! Aku punya Keonho, James, dan Seonghyeon. Naomi juga! Temanku bukan hanya si Martin sok dingin itu! Ujar Juhoon mencak-mencak dalam hati, kesabaran seorang Kim Juhoon sudah habis di tahun ketiganya di Hogwarts.
Wajah Juhoon cemberut bukan main selama melewati lorong kereta Express, dalam hatinya ia berharap segera sampai di Hogwarts dan belajar apapun yang bisa ia pelajari, Juhoon terlalu kesal dengan sikap Martin yang tidak jelas. Ia mengecek satu persatu kompartemen yang sudah hampir terisi semuanya.
"Juhoon!" Keonho menyembulkan kepalanya di pintu geser kompartemen, melambaikan tangan menyuruh Juhoon ikut dengannya bersamaan dengan yang lain. Juhoon yang melihat hal itu langsung mengikuti Keonho tanpa menengok sama sekali ke Martin.
Martin di belakangnya mendengus.
Di dalam kompartemen, terdapat James, Seonghyeon dan juga Naomi yang melambaikan tangan menyapa Juhoon dengan menyengir canggung karena perempuan itupun tidak tau akan diajak bersama dengan anak Slytherin.
"Kamu udah bilang ke orangtua kalau musim dingin ini kita akan ke Hogsmeade?" Tanya James penasaran kepada Juhoon.
Juhoon tentu saja sudah mengatakannya kepada orangtuanya, bahkan ia sudah tidak sabar untuk hal itu, dan sudah menyusun apa saja yang akan ia coba di Hogsmeade untuk pertama kalinya di pada tahun ketiga ini. Juhoon mengangguk, dan mereka menyusun rencana untuk agenda ke Hogsmeade bersama-sama.
"Nanti kita harus mencoba butterbeer!" Ajak Juhoon bersemangat, lidahnya sudah mengilar untuk mencoba minuman itu. Hampir semua siswa tahun ketiga yang Hogsmeade akan mencoba butterbeer. Jadi, mereka yang juga pertama kali tidak akan melewatkan kesempatan itu.
Mereka bercerita ringan selama perjalanan. Bahkan, Keonho menyenggol pembahasan tentang mereka yang ke Hutan Terlarang dan membuat Naomi menatap mereka tidak percaya. Mereka semua tertawa, dan dengan jahil Juhoon mengajak Naomi untuk ke Hutan Terlarang saat sore hari menjelang matahari terbenam agar nyali mereka menjadi besar jika ada waktu, itu adalah alasan yang begitu konyol.
"Kita nanti ada pelajaran di Hutan Terlarang, pasti tidak begitu menguji nyali di siang hari." Lirih Juhoon sedih dan mereka semua terkekeh mendengar hal tersebut.
"Hutan Terlarang itu luas," Timpal Naomi dan membuat semua terkejut dan melirik satu sama lain. Seakan mengerti pikiran masing-masing, mereka menyeringai lebar.
Di pelajaran mereka: Perawatan Makhluk Gaib. Hufflepuff berpasangan dengan Gryffindor. Membuat Juhoon mendengus kesal, 'kan Juhoon ingin menjauhi Martin sesuai dengan keinginan temannya itu.
Hagrid mengajar pelajaran tersebut. Juhoon tentu dengan semangat mengikutinya, di depan mereka sudah ada hippogriff.
Juhoon mengikuti pelajaran dengan baik. Hatinya bergetar ketika Hagrid menyuruh Martin untuk menyentuh makhluk itu dengan lembut agar Martin tidak terluka. Martin melakukannya dengan sangat baik. Juhoon menatapnya tidak percaya, ia ingin sekali memberikan Martin dua jempol tangannya, tetapi segera diurungkan karena mereka masih marahan.
"Tidak seru," Ujar Juhoon selesainya mereka mengikuti pelajaran. Saat ini, Juhoon hendak mengikuti pelajaran pilihan lainnya. Aritmatika. Tadinya, ia hendak mengambil pelajaran ramalan, tetapi pikirannya mengatakan kalau ikut pelajaran itu, masa depan kemungkinan bisa ditebak dan tidak seru.
Letak kelas Aritmatika lumayan membutuhkan waktu. Jadi, ia berjalan setengah berlari agar sempat sampai dan tidaj ada di sekitar Martin.
"Kak Martin," Panggilan itu membuat langkah Juhoon berhenti. Suara perempuan itu mendayu, dan justru membuat Juhoon merasakan hatinya tidak senang.
Martin yang entah kenapa ada di dekat Juhoon membalas sapaan itu dengan senyuman ramahnya.
"Cih," Juhoon berujar sebal, kemudian langsung berlari meninggalkan mereka.
Selama kelas Aritmatika, yang sialnya hampir mirip seperti kelas ramalan karena mereka menghitung angka mistis yang ada di kehidupan mereka. Juhoon menaruh dagunya di tangan, kelas ini begitu sulit dan memusingkan. Makanya, ketika kelas selesai perut Juhoon sudah berbunyi keras merasa lapar.
Di aula, makanan sudah tersaji dan sangat menggugah selera Juhoon. Ia langsung memasukkan ayam ke dalam mulutnya dengan suapan yang lebar, membuat beberap temannya geleng-geleng kepala melihat itu.
"Ya... aku bisa maklum sama orang yang selesai kelas aritmatika." Ujar salah satu temannya dan menepuk bahu Juhoon.
Juhoon terlalu sibuk makan, tetapi saat matanya melirik hal lain di meja Gryffindor membuat darah Juhoon mendidih dan mood nya hilang ke antah beranta. Martin membiarkan seorang perempuan menyender di bahunya! Sekarang, bukan hanya hatinya yang berdenyut, wajahnya pun ikut berdenyut menahan gejolak amarah dan ingin menjambak rambut perempuan itu.
Jadi, Juhoon memilih sisa ayamnya untuk dihabiskan dalam satu kali suapan daripada membuangnya. Tulang ayamnya ia lempar ke piring kotornya dan Juhoon langsung keluar dari aula.
Martin, sialan. Kenapa perempuan itu dibiarkan menyender pada bahu tegapnya? Juhoon ingin menjambak rambutnya, ia cemburu, Juhoon cemburu temannya punya teman dekat lain—TIDAK! Martin bahkan membiarkan perempuan itu menyender padanya, selama ini hanya Juhoon yang pernah.
Juhoon sekarang berlari ke Danau Hitam. Ia menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon yang tidak begitu dekat dengan Danau Hitam, yang terpenting mampu membuatnya terlindung dari sinar matahari—yang sudah hilang—karena langit berwarna abu-abu. Sebentar lagi hujan, Juhoon tidak berniat kembali.
Toh setelah ini Juhoon akan kembali ke asrama.
Juhoon menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya yang ia tekuk. Dadanya naik turun karena amarah yang bergejolak.
Beberapa menit kemudian, Juhoon memandang Danau Hitam. Ia hanya setengah mengangkat wajahnya, Juhoon tidak menangis, dia tidak akan menangis.
"Ah, sial... menyebalkan! Tiba-tiba marah, sok peduli, dan diam hampir lima bulan, sekarang laki-laki itu memiliki teman?!" Juhoon berteriak marah meluapkan emosinya walaupun mulutnya yang tersembunyi membuat suaranya samar-samar.
Juhoon meluruskan kakinya kemudian, ia menunjuk-nunjuk Danau Hitam dengan sebal. "MEMANGNYA APA SALAHKU, SIALAN?! KAU... KAU MENDIAMIKU TANPA ALASAN! KENAPA TIDAK MARAH SAJA SEKALIAN DAN... dan... memakiku saja." Juhoon menangis. Air matanya menderai deras tidak ingin berhenti walaupun sudah dihapus berkali-kali.
"Aku tidak suka seperti ini," Juhoon kembali menyembunyikan wajahnya, bersamaan dengan itu hujan turun, tidak terlalu deras, tetapi mampu membuat jubah dan tubuh Juhoon basah. "Martin menyebalkan, kalau dia memang tidak mau lagi berteman seharusnya bilang."
"JUHOON!" Naomi menunggu Juhoon cemas di ruang rekreasi. Dari tadi ia menggigit kuku jarinya karena Juhoon menghilang dengan cepat.
"Ada apa?" Tanya Naomi khawatir melihat Juhoon yang sudah menggigil kedinginan. Hari sudah gelap dan hujan semakin deras, tetapi Juhoon tidak mencoba bergerak sebelum jam sembilan malam.
Matanya bengkak bukan main, "Naomi..." Panggilnya lirih, berharap bahwa Naomi akan mengerti maksudnya.
Naomi langsung memeluk Juhoon erat. "Ada aku," Balasnya cepat.
"Martin, dia... dia tidak ingin berteman denganku lagi." Juhoon mengutarakan pemikirannya dengan cepat walaupun masih sesegukan. Naomi tidak bisa membalas apapun, karena dirinya tau bahwa Juhoon dan Martin berteman dari mereka masih kecil. Tumbuh bersama-sama.
"Kamu berantemn sama Juhoon?" Eugene bertanya penasaran. Martin melirik lantai Hogwarts yang tidak menarik.
"Kalian tidak sedekat dulu." Lanjut Eugene pelan, mencoba mendekati Martin hati-hati. Memberikan ruang agar Martin percaya padanya.
Martin sendiri terlihat lelah, pelajaran yang semakin berat, latihan Quidditch dan permasalahan Juhoon yang ia ketahui dari orang lain. "Martin," Eugene mencoba menyadarkan Martin.
Martin melirik kesal.
"Kamu marah karena Juhoon ke Hutan Terlarang?" Eugene membuka topik yang bagi Martin adalah hal sensitif.
Ia berdiri, mengusap wajahnya kasar. "Aku marah karena taunya dari orang lain," Martin menjelaskan seakan tidak minat.
"Kamu udah tanya alasannya ke Juhoon?"
Martin terdiam.
Ia menegang.
Eugene menghela napas melihat Martin yang terlihat menyedihkan. "Kamu membiarkan Briony mendekatimu tadi... jangan katakan padaku bahwa kamu balas dendam? Kamu cemburu Juhoon punya teman baru?"
Martin mengeraskan rahangnya. Tidak terima dengan tuduhan Eugene.
"Kamu menyakiti temanmu sendiri, Martin. Jangan egois, Juhoon juga punya perasaan. Aku minta maaf karena tidak tau kalau Juhoon ke Hutan Terlarang tanpa memberitahumu." Eugene memukul bahu Martin ringan. Kemudian ia menaiki tangga untuk menuju kamarnya dan tertidur pulas.
Martin duduk di sofa. Wajahnya ia sembunyikan di telapak tangannya. Martin memikirkan perkataan Eugene.
Hari berlalu dengan cepat. Musim berganti.
Anak tahun ketiga sibuk mempersiapkan diri menuju Hogsmeade. Juhoon akan bersenang-seneng, mereka akan ke Honeydukes dan membeli banyak makanan manis. Juhoon sudah berkumpul dengan teman-temannya.
Seonghyeon dan Keonho menjahili James. Membuat suasana mereka mencari cair. Juhoon dapat tertawa lepas setelah malam itu.
Cuaca begitu dingin, salju tidak berhenti turun dari kemarin, salju tertumpuk di pinggir jalan. Mereka menggunakan mantel, menghalau rasa dingin. Martin melihat Juhoon yang tertawa ringan, walaupun begitu ia dapat mengetahui bahwa temannya sedang dalam kondisi tidak baik. Dapat dilihat dari matanya yang tidak sampai tutup dan tubuhnya yang terjungkal.
Perjalan menuju Hogsmeade terlihat menyenangkan. Martin dan Juhoon berpisah, mereka berdua mengikuti rombongan asrama masing-masing.
Di tempat Honeydukes yang hangat dan berjajar makanan manis, Juhoon menjilati bibirnya merasa tidak sabar memakan semua itu. Biarkan saja malam ini dirinya akan tertidur nyenyak karena memakan cokelat yang banyak.
"Kamu sangat suka cokelat, ya?" Seonghyeon bertanya penasaran, tangannya mengambil cokelat pada rak di dekatnya. Juhoon tentu saja mengangguk, ia juga mengambil cokelatnya. Tangannya hampir meraup semua jenis cokelat di Honeydukes.
"Setelah ini kita ke Gubuk Menjerit setelah ini," Keonho berbisik di telinga mereka. Gubuk Menjerit terkenal berhantu, beberapa anak Hogwarts akan memilih untuk tidak ke sana, bukan berarti tidak ada, tetapi lebih sepi. Jadi, mereka memutuskan ke sana agar dapat merencanakan ekspedisi mereka yang menyenangkan.
Tentu mereka mengangguk dalam diam.
"Katanya kita mau coba Butterbeer?" James bertanya pelan, ia berharap temannya tidak melupakan tujuan utama mereka ke Hogsmeade.
"Oh iya, berarti Butterbeer saja dulu baru ke Gubuk Menjerit." Seonghyeon mengusulkan hal tersebut dan mereka nengikut saja.
Juhoon membawa dirinya untuk membayar beberapa cokelat kodok yang memenuhi tangannya, permen, dan beberapa permen dengan berbagai rasa aneh. Ketika dirinya hendak mengeluarkan 2 Galleon, seseorang mendahuluinya.
Wangi pinus khas Martin memenuhi pernapasan Juhoon. "Aku yang duluan," Desis Juhoon tidak suka antriannya diselak begitu saja.
Petugas memandang mereka bingung dan dengan canggung mengambilnya dari tangan Martin. Tanpa berbicara sedikitpun Martin meninggalkan Juhoon yang mematung di depan kasir. Seakan tersadar dengan cepat, Juhoon menyusul Martin dengan cepat.
Cemilannya yang memenuhi tangan ia berikan ke Keonho. Tangannya menyentuh lengan Martin, menariknya dan memutar tubuh Martin. Juhoon bernapas dengan cepat, hidungnya mengeluarkan asap karena cuaca yang dingin. Tetapi, matanya tetap menatap Martin tajam.
"Kalau kamu mau nepatin janji tahun kemarin, aku sudah tidak perlu! Aku tidak butuh apapun dari orang yang tiba-tiba pergi begitu saja." Juhoon berujar kasar, tetapi di dalam hatinya ia merasakan rasa nyeri yang tidak menyenangkan.
"Lagi pula... kamu bisa berikan uangmu ke seseorang yang kamu sukai itu." Lanjut Juhoon.
Suasana hening.
Martin mendiami Juhoon.
Juhoon menggeram kesal.
"Daripada aku nungguin kamu yang ngga bisa ngomong. Ayo kita putuskan saja pertemanan kita yang lebih dari 10 tahun itu. Aku tidak butuh!" Juhoon berkata pelan, pandangannya menurun, tenggorakannya tercekat.
Martin melirik teman-teman Juhoon yang menunggu Juhoon dengan wajah cemas yang dicoba untuk tidak begitu terlihat. Martin kembali melihat Juhoon yang menunduk. "Temanmu menunggu di belakang." Martin berlalu begitu saja.
Juhoon merasakan kakinya yang seperti tidak ada tulang sebagai menyangga. Wajahnya mengkerut bingung dengan perkataan Martin. Kamu menyakitiku, Martin. Juhoon berujar lirih. Suasana di Hogsmeade seketika menjadi tidak menyenangkan bagi Juhoon.
Juhoon berlari, tubuhnya menyentuh Martin kasar. Juhoon ingin pulang, ia ingin ke Hogwarts, sekolahnya pasti sedang sepi karena hanya tersisa tahun pertama dan kedua, dan selebihnya pada berkunjung ke Hogsmeade.
Satu minggu berlalu dengan cepat. Juhoon, James, Seonghyeon, Keonho dan Naomi berkumpul saat matahari hanpir terbenam sepenuhnya.
"Kita akan kembali sebelum makan malam," Ujar James memperingati mereka semua.
Sebenarnya, Hutan Terlarang tidak begitu seram saat siang hari. Tetapi sekarang hampir malam, yang membuat mereka ketakutan adalah kalau ketauan dan dapat pengurangan poin. "Jangan sampai ketauan," Timpal Juhoon berbisik dan mereka mengangguk semangat.
Di perbatasan antara Hutan Terlarang dan Kastil Hogwarts, mereka mengendap memasuki Hutan Terlarang karena takut mencuri perhatian Hagrid yang sibuk mengurus tanamanannya.
"Lumos!" Ujung tongkat mereka mengeluarkan cahaya. Seketika sekitar mereka bersinar.
Selama perjalanan, mereka tidak menemukan apapun yang menyenangkan. Sampai akhirnya ketika mereka hendak kembali pulang, mereka menemukan sebuah pohon willow yang menghantam. Juhoon merentangkan kedua tangannya, membuat teman-temannya memberhentikan langkahnya.
"Kalian tau 'kan itu pohon apa?" Tanya Juhoon memastikan, wajahnya menyeringai menyeramkan.
Naomi menunjukkan wajah takutnya. "Kamu tidak berniat ke sana, kan?"
"YA! KIM JUHOON!" Seonghyeon berteriak ketika Juhoon berlari begitu saja. Ketika Juhoon mendekatinya, ia membuat suara sekecil mungkin agar tidak membangunkan pohon yang terlihat tentram tersebut.
James menarik tangan Keonho mundur ketika laki-laki itu ingin mengikuti rasa nekat Juhoon. "Ayolah, kita harus bisa menyentuh batang pohon itu." Keonho mendesah kesal ketika tangannya tetap digenggam.
Pohon itu bergerak ketika Juhoon dalam radiusnya. Batang-batangnya yang besar dan panjang hendak mencoba menghempaskan tubuh Juhoon menjauh. Juhoon dengan gesit menghindar, mereka berempat menonton dengan rasa gugup dan sesekali bergumam kagum.
Tubuh Juhoon terhempas, membuat wajahnya terkena tanah. Naomi hendak menolongnya, tetap Juhoon langsung bangkit.
"Bukankah Juhoon sangat bersemangat? Aku akan terima kita bermain di sini kalau siang hari..." Cicit Naomi, Seonghyeon mengangguk menyetujuinya karena dirinya juga penasaran.
Juhoon hampir berhasil ketika ia melihat laba-laba yang hampir terkena batang pohon tersebut sebelum Juhoon dapat memeluknya dan membuat tubuh mereka berdua terhempas ke arah bebatuan. Punggung Juhoon menghantam tebing lebih dulu, dikarena guncangan yang kencang, batu besar jatuh tepat di kaki Juhoon.
Walaupun begitu, Juhoon memastikan hewan tersebut aman. "Kau itu anaknya Aragog, ya? Tidak ada yang terluka?"
"Aku baik," Balasnya singkat dan pergi begitu saja.
Teman-temannya langsung menghampiri dengan cepat. Wajah mereka berempat terlihat pucat mendapatkan kondisi tubuh Juhoon yang tidak baik-baik saja.
"Wingardium Leviosa!" James yang masih dapat berpikir rasional mengayunkan tongkatnya yang sedang dicoba angkat oleh mereka bertiga.
"OH, kita punya sihir itu." Celetuk Seonghyeon seakan sudah tersadar dari rasa paniknya.
Juhoon mencoba berdiri, tetapi ia langsung kehilangan keseimbangan. Ia mendesis kencang saat merasakan nyeri di kakinya, "Ini sakit." Ujar Juhoon sambil menyengir, seperti tidak merasa bersalah.
"Aku minta maaf karena jadi merepotkan kalian..." Juhoon mengerucutkan bibirnya sedih ketika teman-temannya sekarang justru menjadi kerepoton menolong Juhoon.
"Sudahlah, lagian kan emang kita yang mau ke sini. Ingat, katakan saja bahwa Juhoon terjatuh saat hendak memanjat pohon."
Di Hospital Wings, Juhoon menggigit bibirnya kesakitan ketika Madam Pomfrey sedang meracik ramuan mematikan untuk tulang Juhoon.
"Padahal kalau ke Professor pasti lebih cepat," Ujar Seonghyeon.
"Kamu mau kita ketauan?!" Desis Keonho tidak senang.
"Eugene, sekarang kamu sudah boleh keluar." Madam Pomfrey berujar kepada orang lain. Juhoon yang tidak menggunakan tirai bersitatap dengan Eugene yang melebarkan matanya kaget melihat Juhoon di rumah sakit.
"Sebaiknya kalian kembali, ini sudah larut malam." Tutur Juhoon pelan, takut mengganggu orang lain.
"Ya, Anak Muda. Sebaiknya kalian kembali!" Madam Pomfrey memarahi mereka. "Minum ramuanmu, Mr. Kim. Jangan sampai kau memuntahkannya!"
"Baiklah, Juhoon. Kami akan kembali."
"JUHOON!" Pintu rumah sakit terbuka lebar dan membuat Juhoon tersedak.
Martin berdiri di sana.
Matanya mendengarkan pandangan ke seluruh ruangan dan berhenti tepat pada Juhoon yang memegang gelas berisikan ramuan mematikan.
Martin dengan langkah lebarnya menghampiri ranjang Juhoon. Juhoon di tempatnya mengelap air mata yang tiba-tiba turun dengan deras.
"Ngapain kamu di sini?" Tanyanya dengan suara tercekat dan ia harus berpura untuk terlihat baik-baik saja.
Martin berhenti.
Tubuhnya kaku.
"Kenapa membahayakan diri sendiri?" Martin bertanya tajam.
"Karena aku tau kamu bakalan datang kalau aku sakit." Balas Juhoon, wajahnya menunduk, ia membiarkan air matanya mengalir deras membasahi selimut rumah sakit.
"Kamu gila?!"
Juhoon mengeraskan wajahnya, ia menggigit bibir merasakan takut dengan aura Martin yang marah bercampur khawatir.
"Kim Juhoon. Jawab aku."
Juhoon membungkam mulutnya.
Martin mengangkat wajah Juhoon kasar. Pipinya memerah.
"Kim Juhoon," Suaranya rendah.
"Kamu bahkan ngga ngejelasin apapun ke aku. Buat apa aku jawab kamu, Martin?"
Perkataan Juhoon menghantam hati Martin. "Kamu..." Tangan Juhoon menyentuh dada Martin, mendorongnya menjauh. "Ah, sudahlah. Aku ngga mau lihat wajah kamu."
Juhoon menarik lengan Martin dari wajahnya. Ia membuang muka, hal itu membuat Martin mengepalkan tangannya merasa marah.
Entah ke Juhoon atau dirinya sendiri.
Malam itu, ketika Martin memilih untuk pergi dari Juhoon. Juhoon menangis sesegukkan dengan bahu yang terguncang hebat, tangannya meremas selimut. Pahitnya ramuan dan sakit di kakinya tidak bisa menutupi Juhoon yang merasa hancur karena pertemanannya dengan Martin yang hampir kandas.
Juhoon tidak suka.
Juhoon suka dirinya yang bersama Martin.
Tetapi, Martin pergi.
Martin meninggalkan Juhoon sendirian tanpa penjelasan apapun.
Tahun Keempat.
Perasaan Juhoon buruk. Sangat buruk. Amat buruk.
"Ayo, cepat! Kamu ngga mau bersiap?" Ibunya sudah berkali-kali memperingati Juhoon berkali-kali. Juhoon memasang wajah cemberutnya, ia tidak mau.
"Ah! Aku tidak mau!" Juhoon melempar tubuhnya di sofa, membuat orangtuanya merasa ada yang salah dengan sikap Juhoon yang tantrum di usianya sekarang.
"Kamu lagu kenapa, sih? Ada masalah?" Ibunya mencoba bersama. Pasalnya Juhoon hanya menggunakan piyama tidurnya dan mereka sudah hampir telat. "Ada Martin di sana," Ibu memberikan pengertian, biasanya Juhoon akan semangat jika ada Martin.
Juhoon mendecih di dalam hati. Justru karena ada Martin aku tidak mau sesalnya dalam hati, tidak ingin mengatakannya langsung.
"Cepat, jangan membuat orang lain menunggu kita." Suruh Ibunya tegas, membuat Juhoon menghentakkan kakinya tetapi tetap menurut melakukan perintah.
Dunia sihir sedang ramai karena Pertandingan Quidditch Dunia. Walaupun begitu, Juhoon sebenarnya mau bangey nonton pertandingannya dan akan menceritakannya kembali bersama yang lain. Tetapi ketika ia teringat bahwa Martin akan ikut—keluarga mereka selalu pergi bersama—membuat Martin tidak nyaman.
Martin tidak nyaman.
Pemikiran itu membuat Juhoon tersentak sendiri. Di mana diri mereka yang akan selalu menempel, sampai membuat semua orang ingin memisahkannya. Sekarang, yang ada hanyalah Juhoon yang menghindar secepat mungkin dari Martin. Ke mana Martin yang akan selalu menyempatkan dirinya menemani Juhoon?
Ke mana perginya Martin?
"Sudah?" Ibunya bertanya dan hal itu membuat Juhoon tersadar.
Di hadapannya, keluarga Martin sudah berkumpul.
Juhoon bersembunyi di tubuh Ibunya. Tidak berani menatap Martin. Martin juga tidak terlihat... mencoba. Martin membuang muka, tidak ingin memandangi wajah Juhoon. Hal itu membuat Juhoon merasa kecewa dan sakit hati. Juhoon merindukan Martin nya.
Selama perjalanan. Suasana terlihat begitu canggung, apalagi antara Martin dan Juhoon. Mereka tidak mencoba mengobrol ataupun bertegur sapa. Juhoon jika ditanyai hanya akan berdeham dan menggelengkan kepala. Martin sesekali mengeluarkan suaranya yang tidak ada ketika Juhoon meminta penjelasan.
Mereka akan menggunakan benda sehari-hari sudah yang disihir, teleportasi sihir untuk berada di tempat Pertandingan yang akan sangat meriah tersebut. Mereka menggunakan sepatu usang yang sudah disihir agar membawa mereka, Juhoon berhenti sebentar karena jalanan yang menanjak.
Juhoon mengatur napas, ia tidak sanggup berjalan menanjak. Keringat bahkan sudah keluar dengan deras. "Tunggu sebentar," Juhoon mengulurkan tangannya, ia menundukkan tubuhnya perlahan.
Martin bergerak, sedikit, pergerakkan tersebut saking kecilnya tidak disadari oleh Juhoon yang sibuk dengan dirinya sendiri.
"Sudah, ayo." Juhoon berjalan lebih dulu, di dalam hati mencoba untuk tidak bersedih hanya karena Martin yang sekarang tidak peduli kepada Juhoon.
Beberapa langkah di depan mereka terdapat sepatu usang yang sudah di sihir. Ayah Martin menyuruh mereka berpegangan dengan sangat erat. Untuk pertama kalinya—setelah sekian lama—Martin menggenggam jemari Juhoon. Menautkannya dengan erat, hal itu membuat Juhoon di sampingnya mendongok karena Martin begitu tinggi untuk tubuhnya.
Perasaan asing merayap di dada Juhoon.
Perasaan yang begitu aneh... dan tidak Juhoon mengerti.
Dadanya mendesir, bergetar karena sudah menantikan hal ini setelah sekian lama mereka tidak dekat.
Martin menatap lurus ke Ayahnya, seakan sudah tau kondisi Juhoon, Martin mengangguk mantap. Sesaat mereka langsung mencuat cepat ketika sudah waktunya. Mereka terjun.
Juhoon yang tidak begitu tau tubuh harus bagaimana jika terjun, ditarik mendekat ke arah tubuh Martin. Juhoon memejamkan matanya, tetapi ia tau bahwa dirinya sekarang sudah aman bersama Martin.
Sesampainya mereka di darat. Juhoon berlari menjauhi keluarganya, tubuhnya bergejolak meminta isinya dikeluarkan. Juhoon muntah.
"Aish! Sial," Ujar Juhoon kesal sambil mengelap mulutnya.
"Martin di mana?" Tanya Juhoon kepada Ibunya, mereka menuju ke tenda untuk bersiap-siap karena pertandingan baru akan dimulai beberapa jam lagi.
Ibu Juhoon menatap Juhoon lembut. "Katanya dia sudah ditunggu oleh temannya yang lain." Balasnya membuat Juhoon menurunkan bahunya sedih.
Dia pikir... Martin sudah memaafkannya.
Dia pikir... Martin akan mengkhawatirkannya.
"Oh," Hembus Juhoon pelan.
Ibunya justru tertawa, "Kamu cemburu Martin punya teman lain?" Tudingnya percaya diri.
Juhoon berdecak kesal. "Buat apa? Ibu 'kan tau aku juga punya teman lain!"
Tangan Ibunya dengan jahil mencolek dagu Juhoon. "Oh ayolah~ Ibu tau Juhoon sedang mencak-mencak."
Hal itu justru membuat Juhoon mempercepat langkah sampai mendahului keluarganya. "Hei, Juhoon! Jalanmu cepat sekali."
Perkataan itu muncul dari Ibu Martin, dan sukses membuat Juhoon merasa malu karena telah melewati tenda mereka yang tidak bersalah. Di dalam tenda begitu luas, terbagi beberapa ruangan.
"Martin dan Juhoon satu kamar, ya." Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan yang ingin Juhoon sobek-sobek. Bahkan, dirinya mau saja mengajukan diri untuk tidur di dapur, atau bahkan... di ruang tengah saja yang untuk bersantai.
"Ibu, aku—" Juhoon hendak menjelaskan.
Martin di belakangnya memotong, "Aku dan Juhoon sudah dewasa, lebih baik kalau berpisah."
Kedua pasangan orangtua saling melirik. Kemudian, kompak menggeleng. Juhoon menghela napas kecewa, dia sudah memikirkan seberapa canggungnya kamar mereka berdua.
"Kasurnya ada dua, itupun hanya jaga-jaga. Biasanya kalian kan tidak butuh." Dan orangtua mereka tertawa senang tanpa melihat juhoon yang menderita.
Di tempat pertandingan, Juhoon melihat Briony yang menghampiri mereka—lebih tepatnya Martin—yang sekarang melangkah menghampiri Briony lebih dulu. Perempuan itu tersenyum hangat, cantik, dan Martin... ketika Juhoon melirik mantan temannya itu, Martin tersenyum dengan tatapan yang sudah diartikan.
Juhoon mengepalkan tangannya, ia menunduk.
Jadi, Martin memiliki seseorang yang disukai? Tetapi, kenapa Martin tidak memberitahukan padanya? Bukankah Juhoon masih bisa diberikan kabar bahagia itu?
"Kekasihmu, Martin?" Ibu Juhoon di sampingnya berbicara. Juhoon merasakan telinganya berdenging mendengar kejelasan dari kesamaran yang menimpa Juhoon.
Martin menghadap mereka, satu tangannya ia taruh di belakang pinggang Briony. Merangkulnya. Dan sedetik kemudian, Martin mengangguk mantap, membuat Juhoon mengerutkan keningnya tidak percaya.
"Juhoon!" Panggilan itu seperti membuat Juhoon merasa terselamatkan di tengah tekanan.
Naomi melambaikan tangannya dan meloncat-loncat, ketiga laki-laki di belakangnya hanya menggelengkan kepala merasa malu dengan tingkah Naomi padahal mereka bukan di Hogwarts.
"Ibu, aku harus ke temanku."
"Eh? Kan kita mau liburan keluarga?"
"Sebentar saja," Mohon Juhoon pelan karena dirinya tidak sanggup.
Ibu Juhoon akhirnya mengangguk memberi izin.
Sepergi Juhoon, Martin melepaskan rangkulannya. Briony memutar bola matanya malas. "Aku tidak ikut campur jika Juhoon marah padamu, sialan!" Bisiknya yang membuat Juhoon terkekeh.
"Kamu ngga liat mata dia seperti akan membunuhku? Wah, seharusnya aku tidak mengikuti rencanamu." Briony menginjak kaki Martin ketika keluarga Martin sedang memperhatikan hal lain, kemudian ia pamit dan pergi ke keluarganya.
Martin menatap Juhoon yang sibuk bertegur sama dengan teman-temannya. Sejujurnya, Briony pernah mengajak Martin kencan, tetapi perempuan itu beberapa hari kemudian membatalkannya karena melihat tingkah Martin di depan Juhoon.
Martin sendiripun bingung dengan tingkahnya kepada Juhoon, memangnya apa yang aneh dari persahabatan mereka?
Jadi, ketika mendapatkan penjelasan yang memang masih belum Martin mengerti, Martin menjauhi Juhoon kembali. Apalagi ketika dirinya mendapatkan ketakutan terbesarnya untuk mendapatkan Petronus adalah kematian Juhoon di hadapannya.
Walaupun sudah berkali-kali dikatakan bahwa itu hanyalah ketakutan terbesar dan tidak nyata. Martin tetap merasa itu adalah salahnya.
Di kamar mereka, Martin menaiki kasur lebih dulu.
Juhoon berada di dekat tirai, memikirkan apakah dirinya akan masuk atau tidak. Melihat Martin yang tidak peduli, Juhoon akhirnya ikut menaiki kasurnya dan mencoba memejamkan matanya.
Tetapi, Juhoon tetaplah Juhoon, dirinya masih ingin penjelasan dari Martin. Jadi, Juhoin melirik Martin yang membelakanginya.
"Muffliato!" Juhoon melambaikan tongkatnya untuk membentuk sihir pelindung suara di sekitar dirinya dan Martin.
"Martin? Aku tau kamu belum tidur." Juhoon merasakan tubuhnya yang gugup bukan main. Bahkan, Juhoon sekarang sudah kembali menggigit gigit kecil bibirnya.
Suasana hening. Juhoon duduk di kasurnya menatap punggung Martin yang naik turun teratur.
"Martin, aku minta maaf atas kesalahan yang aku perbuat padamu... apapun itu, yang membuatmu mendiamiku," Juhoon menelan ludahnya kasar, ia mencoba mengatur emosi yang hampir meledak. "Kamu mendiamiku lebih dari satu tahun, apakah kesalahan yang aku perbuat sebesar itu, Martin?" Lirih Juhoon.
"Aku tidak akan meminta mu untuk menjelaskannya sekarang. Aku hanya ingin kamu mendengar apa yang aku rasakan selama ini. Aku sedih. Aku sedih kamu punya kekasih tapi aku tidak tau." Kemudian, Juhoon tertawa menyakitkan ketika memperdengar hal tersebut.
"Aku takut, aku takut hubungan kita akan sungguh berakhir." Juhoon mengelap air matanya yang sudah tidak bisa ia tahan. Martin masih dalam posisinya. "Martin, aku sungguh minta maaf!" Pada akhirnya, Juhoon berteriak membiarkan Martin mendengarnya menangis.
"Aku tidak mau menangis! Tenang, Martin. Kamu tidak menyakitiku." Juhoon menarik rambutnya frustasi dengan tingkah Martin yang masih tetap tenang disaat Juhoon sudah meledak. Kamu benar-benar membuat semuanya terasa menyakitkan bagiku Juhoon melanjutkan dalam hati, tidak ingin membebani pikiran Martin.
Pada akhirnya, Juhoon tidak sanggup.
Martin di tempatnya membiarkan air matanya mengalir. Aku menyakiti Juhoon Lirih Martin dalam hatinya.
"Hanya satu kata, Martin, aku mohon satu kata saja." Aku Juhoon, masih berhadap pada sahabatnya yang akan kembali pada Juhoon.
"Juhoon,"
Suara Martin begitu pelan, Martin mengatur dirinya agar tidak ketauan ia menangis. Juhoon di belakang Martin menatap punggung Martin seoalah-olah berharap.
"Aku tidak tau. Aku minta maaf karena tidak tau."
Setelahnya, tidak ada apapun yang Martin katakan padanya. Satu menit, 30 menit, 60 menit... Juhoon menunggu sampai akhirnya ia tertidur.
"Cepat sana!" Naomi menyuruh Juhoon sambil kakinya berselonjoran di lantai.
Juhoon menatap Naomi kesal. Tetapi, Juhoon ia tetap berdiri dan menggeram. Mereka sedang bermain, lalu Juhoon kalah dan harus menuruti mereka, mengambil makanan di tengah malam. Mengendap-endap ke dapur.
"Aku sendiri? Membawa makanan untuk kalian berempat?" Juhoon memastikan.
Temannya yang lain, Justin, mengangguk. "Jangan mengeluh. Kemarin aku sendiri dan kamu menertawakanku." Ujarnya sambil tertawa lebar, seperti tawa Juhoon waktu Justin mengambil makanan.
Juhoon langsung keluar dari asrama. Lorong terlihat sepi, tong-tong berjejeran. Lalu, ketika Juhoon berhasil mengambil cemilan yang akan mereka makan, ia harus mengetuk tong kedua yang membentuk Helga Hufflepuff. Juhoon menaruh makanannya lebih dulu, ia akan mengetuknya sampai akhirnya Juhoon terperanjat kaget dan membuat ketukan yang tidak perlu.
"AKH, SIALAN!" Teriak Juhoon ketika tong pertama menyembutkan cairan cuka yang sangat bau ke tubuh Juhoon.
"Kenapa dia—" Naomi yang daritadi menunggu memutuskan untuk menyusul Juhoon. Lalu, ketika sadar, ia tertawa sampai terbahak-bahak dan memegang perutnya melihat Juhoon yang sudah basah kuyup oleh cuka.
"Dia bau! Bukan Juhoon!" Justin di belakang Naomi ikut menimpali, membuat Juhoon menahan pintu dan menghampiri Justin untuk menendang laki-laki tersebut. Melupakan makanannya yang diambil oleh Naomi.
Malam itu, seperti malam anak muda biasanya. Ruang rekreasi Hufflepuff hangat dan ramai oleh gelak tawa.
"Perasaanku saja atau memang ada bau aneh, ya?" Briony menanyai hal tersebut ketika mereka lagi ada di pelajaran Astronomi.
Sialnya, di samping Briony ada Juhoon yang sekarang menyiumi tubuhnya. Sialan, aku sudah mandi tadi malam lima kali! Juhoon mengatakannya dalam hati karena memang bau cukanya masih menguar dari tubuhnya.
Hari ini, Gryffindor dan Hufflepuff bergabung untuk pelajaran Astronomi di Menara Astronomi. Juhoon yang hampir telat, tadi pagi tidak begitu serius membersihkan tubuhnya, toh di malam hari dirinya sudah mandi.
Naomi dan Justine yang mengetahui kejadian itu menahan tawa, merasa lucu karena wajah Juhoon yang kesal.
"Itu perasaanmu saja," Balas Martin di samping Briony.
Juhoon yang mendengarnya justru mendengus tidak senang dengan yang Martin lakukan. Sok peduli, Juhoon ingin mencabik-cabik Martin.
Briony melirik Martin, lalu wajahnya kesal karena Martin yang setengah-setengah. Untungnya, tidak lama kemudian kelas mereka selesai. Juhoon dengan cepat menghilang. Membiarkan Martin dengan Briony itu.
Naomi yang melihatnya mengikuti Juhoon, temannya itu menuju Danau Hitam yang tenang. Juhoon menahan diri, tubuhnya naik turun dengan cepat. "Kamu cemburu sama Briony?" Tanya Naomi hati-hati.
Juhoon meloncat kaget, matanya memincing tidak senang karena Naomi yang muncul tiba-tiba. "Tidak ada yang cemburu," Balasnya menggebu.
Naomi berjalan mendekati Juhoon, ia mendudukkan dirinya di atas rerumputan, membuat Juhoon mengikuti. "Bukan itu. Maksudku... cemburu yang seperti mantan kekasihmu memiliki yang baru."
"Aku dan Martin bersahabat." Juhoon membenarkan pemikiran Naomi.
Naomi memiringkan kepalanya, menantang Juhoon yang sekarang tergagap. "Sahabat yang temannya merangkul orang lain dia sedih dan marah?"
"Wa-wah! Kamu nuduh aku yang punya perasaan ke Martin? Itu tidak benar!"
Naomi tersenyum lembut. "Pikiranku terbuka, kok. Jangan malu-malu. Lagian kalian kayak anak umur sebelas tahun saja."
"Aku tidak cemburu!"
"Aku liat Martin dan Briony ciuman."
Juhoon dengan cepat menengok ke arah Naomi. Matanya dengan cepat memerah tipis.
"Kamu kena!" Seakan tidak bersalah, Naomi berlari menjauhi Juhoon yang akan menerkamnya setelah temannya itu sadar. "Kim Juhoon, kamu cemburu!" Naomi berteriak sambil berlari menuju kastil.
Berbeda di ruang rekreasi Gryffindor. Eugene lelah mengurusi Martin. "Serius deh, kamu kenapa sih sama Juhoon?"
Martin menggeleng. Ia tidak tau. Kenapa semua orang menanyakan hal tersebut.
"Kamu dan Briony sepasang kekasih?"
Martin menggeleng.
"Kamu lagi mau buat Juhoon cemburu?"
Martin menggeleng.
"GUNAKAN MULUTMU, MARTIN EDWARDS!" Kesal Eugene membuat Martin tersentak. "Kesabaranku habis! Kamu selalu diam ketika ditanya soal Juhoon."
"Aku hanya... bingung," Martin akhirnya berbicara. Melihat hal tersebut, Eugene diam, tidak memaksa, karena jika ia memaksa Martin tidak akan mau lagi menggunakan mulutnya.
"Tubuhku aneh. Aku selalu berdebar berlebihan ketika di dekat Juhoon. Aku juga takut kalau itu membuatnya risih. Aku lebih khawatir dia pergi ke Hutan Terlarang daripada marah, aku takut Juhoon terluka. Aku selalu memastikan Juhoon makan dengan baik, suasana hatinya senang. Aku cemburu Juhoon dekat dengan laki-laki lain... Juhoon—bagiku lebih dari apapun. Dan perasaanku ke Juhoon, membuatku takut." Martin menjelaskan dengan wajahnya yang menangis.
"Kamu suka sama Juhoon?" Eugene mengambil benang merah.
Martin terdiam. Apakah dia suka dengan Juhoon? Dirinya bahkan tidak tau apa itu perasaan suka yang sebenarnya.
"Aku tidak tau," Pada akhirnya, hanya itu yang dapat Martin berikan kepada Eugene.
Beberapa jam kemudian, mereka harus kembali bersatu ke pelajaran Ramuan. Saat Martin memasuki kelas, Juhoon sudah diperebutkan oleh dua orang yang akan menjadi temannya di pembuatan ramuan saat ini.
Martin melirik Juhoon, tubuhnya melangkah dengan sendirinya di dekat meja Juhoon. Hatinya menghangat untuk sesuatu yang masih tidak bisa Martin mengerti, ia hanya merasa bahwa dirinya senang Juhoon baik-baik saja.
"Kamu pintar di pelajaran ini, Naomi! Biarkan aku bersama Juhoon!" Justin menyatukan kedua tangannya memohon kepada Naomi yang masih belum mau memberikan Juhoon padanya.
"Nanti aku traktir di Hogmeade! Ya?" Pinta Justin, dan Naomi tanpa berperasaan mendorong Juhoon berdekatan dengan Justin.
"Gitu dong daritadi!" Protes Naomi yang membuat Juhoon tertawa singkat. Naomi hanya ingin tidak mengeluarkan uang di hari sabtu mereka janjian ke Hogmeade.
Juhoon kemudian merapihkan mejanya—yang sudah rapih—agar terlihat sibuk. Justin di sampingnya sudah bergerak-gerak karena merasa bahwa nilainya di Ramuan akan bagus kalau bersama Juhoon.
Juhoon merasakan tatapan yang memperhatikan dirinya. Ia melirik kecil dan terkejut ketika Martin tertangkap basah sedang menatapnya dengan tatapan yang Juhoon sendiri tidak tau maksudnya. Tetapi, Juhoon justru menyeringkai dan merapihkan jubahnya. Jadi kamu merindukan temanmu ini entah kenapa memikirkan itu Juhoon ingin menyengir lebar.
Profesor Snape memasuki kelas dengan aura yang mencekam, membuat mereka menjadi harus lebih serius.
Selama pelajaran, Juhoon merasakan semuanya baik-baik saja. Justin mengikuti perintah Juhoon dengan sangat baik. "Biar aku yang mengaduknya," Kata Juhoon meminta bergantian. Justin memberikan ruang kepada Juhoon, sekarang Juhoon sedang memutar tongkatnya searah jarum jam.
"Masukkan Leeches," Justin memberikan intruksi kepada Juhoon yang fokus. Tetapi, entah apa yang terjadi pada mereka, terutama Juhoon, yang sepertinya keberuntungan tidak lagi ada di sisinya. Ramuan yang bahkan belum jadi itu meledak tepat ketika Juhoon sedang mengecek warna ramuan tersebut.
Wajahnya dipenuhi cairan kental berwarna hijau yang menjijikkan. Hidungnya menghirup aroma aneh yang menguar, wajah Juhoon berdenyut marah. Semisal orang dapat melihatnya, mereka akan disambut oleh kepala dan kedua telinga Juhoon yang sudah berasap.
Profesor Snape menghampiri mereka. "Tidak biasanya seperti ini, Mr. Kim. Kau mengacau di kelasku, pengurangan lima poin untuk Hufflepuff."
Juhoon hendak perotes. Tetapi Justin memberhentikannya, bisa lebih banyak poin yang akan dikurangi dari Hufflepuff kalau Juhoon mengucapkan satu kata. Bahkan, wajahnya belum bersih dari ramuan.
Juhoon merasakan tangannya ditarik pelan. Martin menariknya dengan lembut tetapi erat. Juhoon menundukkan wajahnya merasa malu.
Di kamar mandi yang sepi, Juhoon memilih untuk melepaskan genggaman tangan itu. "Sebaiknya kamu kembali, aku bisa sendiri."
Martin menatap Juhoon, ia berhadapan dengan Juhoon. Tangannya tanpa ragu membersihkan ramuan hijau menjijikkan dari wajah Juhoon. "Jangan, tanganmu kotor dan akan bau seperti sampah bertumpuk lima tahun." Juhoon menyingkarkan tangan Martin.
Sekarang, Juhoon menjadi emosional. Melihat Martin dengan segala tindakannya yang tidak sesuai dengan ucapan laki-laki tersebut membuat Juhoon bertanya-tanya. Bahkan, Martin hendak mengulurkan tangannya kembali.
"Sudah aku katakan aku bisa sendiri!" Juhoon melebarkan matanya, ia marah, ia akan memberitahu Martin bahwa dirinya marah. Sialnya, yang Martin lihat justru Juhoon yang sedang menutupi kesedihan.
"Biarkan aku bantu," Kalimat itu... untuk sekian lama Juhoon tidak dengar, membuat pertahanan Juhoon runtuh.
Martin mengambil sarung tangan di saku celananya, ia membasahi di air mengalir. Tangannya dengan lembut mengelap wajah Juhoon yang menangis hebat. "Kamu jahat," Raung Juhoon ingin melepaskan diri.
Martin menahannya, ia tetap dalam posisi membersihkan wajah Juhoon.
"Kamu kenapa? Aku ada salah?" Juhoon menatap Martin dengan matanya yang mengeluarkan air mata.
Martin merasakan hatinya yang nyeri. Genggamannya pada sarung tangan mengeras.
"Kamu bantuin aku, aku kira kamu marah. Aku nungguin kamu!" Juhoon berujar lirih, tangannya menggenggam lengan seragam Martin yang berada di wajahnya.
Martin menunduk dalam, membiarkan tangannya di udara.
"Beri aku penjelasan, ya?" Mohon Juhoon, tubuhnya maju selangkah. Martin—yang masih tidak tau apa perasaannya—ikut mundur selangkah dari Juhoon.
Hal itu sukses membuat Juhoon terdiam. Mungkin, mungkin... Martin merasa jijik karena Juhoon bau seperti sampah dan cuka dari tadi malam yang akan bertahan seminggu ke depan.
"Juhoon, aku—kita bersihkan dulu wajah kamu, ya?" Martin yang seakan tersadar dan menatap Juhoon, yang sekarang terlihat kosong, kembali membersihkan wajahnya.
Juhoon hanya diam, dia tidak meraung seperti tadi, Juhoon tidak bergerak, airnya masih mengalir, tetapi tatapannya tetap kosong. Menatap lurus ke dinding yang dingin.
Bahkan, ketika Martin membuka jubah Juhoon yang terkena ramuan, Juhoon tetap diam. Martin melampirkan jubah Gryffindornya pada tubuh Juhoon. Juhoon menunduk, suaranya seketika hilang. Tubuhnya sudah ingin memutar balik dan keluar dari kamar mandi.
"Juhoon. Biarkan aku... memastikan perasaanku." Martin menahan tubuh Juhoon, dengan segala keberanian miliknya, Martin memeluk tubuh Juhoon erat.
"Aku lelah," Juhoon berujar pelan, terlalu pelan.
Martin mengangguk, ia tau bahwa Juhoon lelah dengan semua ini. Tetapi, Martin tidak bisa bertindak gegabah untuk sesuatu yang Martin sendiri masih mencari-cari.
"Martin..." Panggil Juhoon. Tangannya ia taruh di punggung Martin, membalas pelukkan sabahatnya itu.
"Iya?"
"Aku cuman butuh sahabatku ada di sisiku." Juhoon tersenyum kecil dipelukkan itu. Juhoon memerlukan sahabatnya.
"Juhoon, aku—" Martin merasa tercekat, ia takut.
Juhoon membutuhkan dirinya, sahabatnya, tetapi Martin bahkan sudah merasa pandangannya terhadap Juhoon mulai berbeda. Martin ingin sekali merengkuh Juhoon, hanya saja dirinya harus kembali kekenyataan bahwa Juhoon hanya membutuhkan sahabatnya.
"Ya, aku juga membutuhkan sahabatku." Pada akhirnya, hanya itu yang dapat Martin lakukan agar tidak menyakiti mereka berdua.
Hari pertama setelah mereka menjauh. Martin merasakan kesulitan, bukan berarti Martin tidak menyukai kedekatannya selama ini bersama Juhoon. Martin hanya tidak tau memposisikan dirinya sebagai sahabat. Juhoon kerap kali menyapa saat sedang mengobrol ringan dengan Naomi atau saat berjalan berdua bersama Keonho setelah kelas Herbologi.
"Martin!" Juhoon berlari kecil setelah sarapan selesai. Senyuman yang terbit setelah sekian lama, Martin sampai mengalihkan pandang dengan pikirannya sendiri karena Martin sendiri pun masih tidak ingin mengakui.
"Kamu habis ini kelas apa?" Juhoon bertanya antusias.
Martin menenangkan jantungnya, "Telaah Muggle."
Juhoon mengangguk-angguk. "Setelah itu?"
"Latihan Quidditch," Balas Martin tidak bersemangat.
Hal itu membuat Juhoon mengulum bibirnya, pikirannya sudah ke mana-mana. Martin yang tidak lagi merasa sparks di hubungan, atau Martin yang memang lagi lelah. "Ah, begitu. Kamu pasti lelah setelah itu, yaa? Kalau gitu, aku duluan."
Martin ingin menahan Juhoon, menariknya kembali ke sisinya. Tetapi, Juhoon sendiri pasti sudah telat di kelas Aritmatikanya. Martin melihat Juhoon yang menghampiri James karena mereka satu kelas.
Keonho menyeringai ketika tarapan mata Martin jatuh kepada laki-laki itu. "Komunikasimu buruk." Ujar Keonho pelan.
Martin menatap tajam, ingin marah tetapi tidak bisa. Perkataan Keonho benar, komunikasi Martin buruk, tetapi bagaimana bisa Martin berkomunikasi jika dirinya sendiri saja tidak tau apa yang harus diberitakan kepada Juhoon.
Keonho pergi begitu saja usai meledek Martin sambil merangkulkan tangannya di pinggang Seonghyeon.
Saat Martin sedang sibuk mencoret-coret bukunya di perpustakaan, sebuah cokelat hadir dari samping bukunya. Ketika ia mendongakkan kepala, Juhoon hadir dengan senyuman yang paling cerah bagi Martin.
Martin terdiam, otaknya berproses, jemarinya ingin mengambil cokelat tersebut. Tetapi, saking lamanya Martin berproses, Juhoon melunturkan senyumnya.
Juhoon hampir menarik tangannya kembali, sebelum Martin dengan cepat menggenggam lengannya. Seakan tersadar, Martin langsung menghempaskan tangannya, dengan kikuk menatap Juhoon yang sekarang menyeringai. Juhoon mendekatkan dirinya pada Martin yang duduk.
"Maaf, aku otakku tadi fokus belajar." Martin mencari alasan yang masuk akal, Juhoon tidak curiga sama sekali.
"Makanya, supaya kamu fokus belajar aku kasih cokelat. Mau sekalian aku temani di sini?" Tanya Juhoon, menarik kursi di dekat Martin.
Martin menggeleng pelan, tidak mau Juhoon menemaninya karena takut bahwa ia tidak akan fokus belajar. Juhoon berpura-pura tidak melihat hal itu, ia kemudian melihat kedua tangannya di atas meja dan menaruh tangannya di sana.
"Kamu ngga bisa tidur kalau lampunya menyala," Ujar Martin pelan, takut mengganggu siswa lain yang memang sedang belajar sungguhan.
Juhoon menatap Martin dari bawah. Ia memperhatikan wajah Martin yang menurutnya tampan. "Sepertinya Briony sangat beruntung karena memilikimu." Terang Juhoon yang matanya sekarang setengah terkejam.
Martin seketika menggantungkan kegiatannya. Ia merasakan jantungnya yang berdegup kencang mendengar suara Juhoon yang mengantuk. Tidak, Martin tidak fokus kepada Juhoon yang mengatakan bahwa Briony beruntung memilikinya, yang Juhoon pikirkan adalah... dasar apa yang membuat Juhoon berpikir bahwa Briony beruntung memiliki Martin?
"Dari kapan kalian menjadi sepasang kekasih?" Juhoon terus bertanya, ia ingin menemani Martin belajar.
"Kami bukan sepasang kekasih," Martin berujar lirih, entah karena pada akhirnya jujur kepada Juhoon atau karena Martin yang tidak ingin Juhoon menggodanya.
"Padahal kalian cocok," Balas Juhoon. Napasnya sudah mulai teratur walaupun matanya masih enggan menutup sempurna.
Martin melirik Juhoon, lalu ia mengambil sarung tangannya di dalam saku celana. Tanpa perlu Martin berdiri, ia menaruh sarung tangan tersebut untuk menutupi mata Juhoon dan membuat sahabatnya itu tertidur nyaman.
Juhoon tanpa sadar tertawa diperlakukan seperti itu. "Kamu tau kalau aku beruntung kamu menjadi sahabatku, kan?" Gumam Juhoon.
Martin membiarkan tangannya di udara. Ia tidak pernah berpikir—sungguh—bahwa Juhoon akan mengatakan hal tersebut. Beruntung. Sahabat. Hal itu sudah membuat Martin menghangat, walaupun dalam hatinya ada sedikit rasa sedih.
Setelah memastikan bahwa Juhoon tertidur, Martin melepas sweater yang digunakannya dan menyelimuti Juhoon menggunakan sweaternya tersebut.
"Juhoon," Martin membangunkan Juhoon perlahan. Waktu hampir menunjukkan waktu jam malam, mereka berdua sudah disuruh untuk kembali ke asrama masing-masing. Juhoon menggeliat kecil, tidak lama kemudian ia terbangun, Martin membantu mengambil sarung tangannya yang menutupi mata Juhoon.
Juhoon melihat Martin yang sudah rapih, sahabatnya itu menunggu Juhoon bangun. "Sebentar, Martin. Aku masih mengantuk..." Ujarnya pelan, wajahnya ia sembunyikan di lipatan tangan.
Martin menunggunya. Selama apapun waktu yang dibutuhkan Juhoon, Martin akan tetap di sana.
"Sudah," Juhoon mengangkat kepalanya. Walaupun Martin dapat melihat matanya yang sesekali dan wajahnya yang terjatuh.
"Aku bisa menunggu." Sahut Martin. Tetapi, Juhoon yang keras kepala dan takut mengganggu waktu Martin tetap pada pendiriannya, Juhoon berdiri dengan cepat. Ia berjalan di depan, Martin mengikuti dari belakang.
"Kita berpisah di sini," Ujar Juhoon merasa sedih.
Martin terdiam, seakan menimang sesuatu. "Aku akan mengantarmu." Ungkap Martin dan langsung memimpin jalan, Juhoon ingin protes, tetapi Martin yang mencoba mengambil alih bagian yang memang miliknya, Juhoon merasa senang.
Di depan pintu asrama Hufflepuff, Juhoon seketika merasa canggung—bukan tidak nyaman—hanya karena ini adalah rutinitas mereka yang sudah terlalu lama untuk kembali terjalan.
"Kamu bisa pergi," Kata Juhoon, menyuruh Martin meninggalkan dirinya. "Nanti kamu ketauan Prefek, sebentar lagi mereka akan berkeliaran."
Martin terkekeh mendengar hal tersebut. "Baiklah."
"Hm, Juhoon?" Lanjut Martin saat Juhoon hendak mengetuk tong kedua untuk dapat membuat pintu terbuka. "Ya, Martin?"
Martin menggaruk lehernya. Ia terlihat gugup.
"Sebentar lagi 'kan pertandingan Quidditch, kamu mau ngga kalau setelah itu kita ke... Hogsmeade?" Martin bertanyaan dengan ketakutan yang menyelimutinya. "Balasan karena aku tidak sepenuhnya mentraktirmu di tahun ketiga." Martin buru-buru menambahkan alasan yang membuat Juhoon tertawa sedikit kencang.
Juhoon mendorong bahu Martin, merasa bahwa kelakuan Martin yang seperti malu-malu itu tidak diperlukan di sini, ketika bersama dengannya.
"Bawa semua Galleon mu, aku akan nagih banyak hal!"
Dan setelahnya, mereka tersenyum hangat. Martin berpamitan untuk kembali ke asrama Gryffindor dan Juhoon memasuki kamar Hufflepuff dan disambut oleh Naomi dan Justin yang sudah menunggunya di ruang Rekreasi.
Di sinilah mereka. Juhoon menatap ke bawah lapangan di mana Gryffindor dan Slytherin sedang berjalan sambil membawa sapu terbang. Seeker mereka adalah Martin dan Keonho, Juhoon di atas menatap ragu ke arah Martin yang terlihat berapi-api jika sudah bersama Keonho. Mereka akan memperebutkan siapa yang menang.
"Kamu akan dukung siapa?" Naomi bertanya sambil berteriak karena angin yang cukup kencang.
"Tentu saja aku dukung Martin!" Jawabnya dengan wajah berseri, memandang Martin seperti Martin adalah atlet kelas dunia yang digemari oleh Juhoon sewaktu kecil.
Naomi mengangguk-angguk, tidak merasa kaget dengan jawaban Juhoon.
Di lapangan, mereka sudah menaiki sapu terbangnya, Martin menggunakan Nimbus keluaran dua tahun yang lalu, begitupun Keonho. Mereka berebut memasukkan bola Quaffle ke salah satu tiga ring. Martin mengedarkan pandangannya untuk mencari Snitch.
Martin sesekali menghindar dari Beater yang akan memukulkan bola ke arah pemain lawan. Setiap mereka mau memukul Martin, Juhoon di tempat penonton menjerit tertahan dan merasa cemas. Juhoon berdoa harap-harap cemas untuk keselamatan Martin hari ini.
Ketika Martin melihat Snicth nya yang berada di antara Seonghyeon dan James. Martin mengarahkan Nimbus nya ke arah mereka, sebisa mungkin tidak menarik perhatian Keonho yang langsung mengikuti Martin. Intinya, siapa cepat yang mendapatkan Snitch akan mendapatkan poin 150 dan pertandingan berakhir, serta menjadi pemenang.
Tangan Martin terulur, sewaktu Martin hampir menangkapnya, Snitch tiba-tiba melakukan gerakkan ke kanan dengan sangat cepat. Membuat Martin memanuver mendadak.
Juhoon menggigit jemarinya merasa deg-degan, Juhoon sungguh khawatir dengan Martin kadang-kadang ia akan melompat kecil ketika Martin hampir menangkap Snitch kembali.
Juhoon yang selalu memperhatikan pergerakkan Martin di atas sana terkejut ketika bola Quaffle mengenai kaki kanan Martin dan membuatnya terdorong jauh.
"MARTIN!" Teriak Juhoon, matanya membola.
Tetapi, setelah beberapa detik yang cepat Martin kembali mengejar Snitch. Sialnya lagi, membuat Martin harus terkena bola di lengannya. Martin hampir kesulitan menjaga keseimbangan di sapu terbang.
Sesaat, Martin tidak dapat fokus. Matanya mencari—bukan Snitch—melainkan Juhoon yang menatapnya memberikan kekuatan. Seakan itu yang dibutuhkan Martin, ia segera mempercepat permainannya, dengan segenap hati Martin menangkap Snitch di ketinggian 10 kaki dari tanah.
Sorak gembira hadir dari penonton Gryffindor ketika Martin mengangkat tangan terdapat Snicth di sana. Setelah di nyatakan menang, Martin menjatuhkan dirinya dari ketinggian 10 kaki karena tidak sanggup menahan sakit di kaki dan tangannya.
Martin berguling.
Juhoon berlari cemas. Ia menangkap tubuh Martin. "APA YANG KAMU PIKIRKAN SAAT MENJATUHKAN DIRI?!" Juhoon meremas jubah Quidditch Martin karena rasa khawatirnya yang hampir tidak bisa dibendung.
"Aku baik-baik saja," Balas Martin tidak ingin Juhoon merasa khawatir.
"Mr. Kim. Permisi." Minerva segera mengambil alih siswanya. Ia mengangkat tongkatnya untuk diarahkan ke kaki Martin yang tulangnya retak.
"Episkey," Mantra yang sapa Minerva ucapkan di lengan Martin. Membuat Juhoon segera memeluk Martin erat.
Juhoon merasa senang.
Sesekali ia bahkan memeluk Martin erat, membuat orang di sekitar mereka menatapnya dengan berbagai macam arti. Ada yang iri, ada yang menatap aneh, ada yang suka, dan ada yang tertawa.
Tetapi, Juhoon tetaplah Juhoon. Ia tidak peduli dengan semua orang—Juhoon hanya peduli jika Martin di sampingnya—dirinya tau, bahwa semua akan baik-baik saja, bahkan lebih baik.
"Sudah semua?" Martin bertanya pelan ketika Juhoon sudah hendak membayar belanjaan mereka. Mereka sedang di toko Lelucon Zonko, tempat yang menjual berbagai macam alat lelucon, waktu ditanya Martin kenapa Juhoon memilih toko tersebut, jawabannya sederhana.
Juhoon ingin menjahili teman asramanya.
Juhoon mengangguk membalas pertanyaan Martin, ia sudah puas dengan alat-alat yang dibelinya. Pertama, Pelet Bau, dia akan menaruhnya ketika Justin sedang mandi. Kedua, Cangkir Teh yang Menggigit Hidung, untuk Naomi yang gemar meminum teh. Membayangkan hal itu, Juhoon sudah susah berhenti tertawa, air mata bahagianya bahkan sampai keluar.
"Setelah ini, ayo kita ke Kedai Teh Madam Puddifoot."
Ajakan Juhoo sukses membuat Martin hampir kesusahan bernapas.
Kedai Teh Madam Puddifoot adalah kedai yang sangat populer untuk kencan romantis. Dan Juhoon mengajaknya ke sana, membuat pikiran Martin yang tidak ingin mengakui bahwa dirinya mungkin memiliki perasaan yang lebih dari sahabat kepada Juhoon, membuatnya berhadap.
Juhoon mengibaskan tangannya, ketika matanya menatap pandangan Martin kepadanya yang terlalu lembut, membuat Juhoon merasakan jantungnya seperti ingin keluar. "Bu—bukan seperti itu! Aku hanya ingin coba tehnya."
Juhoon menjelaskan ajakannya yang ambigu.
Martin mengerjapkan matanya dan mengangguk kecil. "Ya. Tentu saja kau hanya ingin mencoba tehnya."
Entah kenapa, perkataan Martin barusan membuat Juhoon bingung. Apa maksud ucapannya? Kenapa Martin terlihat kecewa? Apakah Martin ingin kencan romantis di sana? Jadi, Martin kecewa harus bersama Juhoon di kedai yang populer untuk sepasang kekasih dan Juhoon hanya sahabatnya?
"Kalau gitu, kita kencan sebagai sahabat saja, Martin." Saran Juhoon yang sangat tidak berguna bagi Martin.
Martin yang mendengar itu semakin merasa tidak suka.
"Ya, ya? Jangan kecewa begitu karena kamu harus pergi bersama sahabatmu... kita bisa kok berpelukkan, seperti biasa." Paparan Juhoon membuat Martin memberhentikan langkah dan menatap Martin yang terlalu pendek baginya. Wajah Martin mengatakan seperti 'serius kamu berpikir seperti itu?'.
Juhoon pada dasarnya mengganggap mereka adalah sahabat tanpa rasa canggung walaupun sudah berjauhan selama satu tahun lebih, tetap tidak sadar dengan yang dirasakan oleh Martin yang sekarang mengepalkan tangannya erat.
Melihat reaksi Martin yang tidak biasa, membuat Juhoon takut. Ia mencolek lengan Martin, menyengir lebar seperti anak kecil yang membuat orang dewasa marah.
"Hehe. Ternyata kamu tidak mau, ya. Yasudah, kita beli Butterbeer saja." Juhoon berucap canggung.
"Tidak. Kita tetap ke Kedai Teh." Putus Martin yang membuat Juhoon melebarkan matanya tidak percaya.
Ia tanpa sadar memeluk Martin kembali.
Martin menjauhkan tubuh Juhoon. "Jangan seperti itu, orang-orang akan mengganggap kita beneran sepasang kekasih."
"Tidak masalah," Balas Juhoon dan membuat Martin buru-buru menengok, alisnya terangkat satu, berpikir bahwa telinganya mungkin salah dengar.
"Toh yang benar kita adalah sahabat." Lanjut Juhoon, membuat Martin retak di dalam.
"Tutup mulutmu!" Naomi melempar tubuhnya ke adah Justin yang sudah siap membuka mulut untuk menyapa Juhoon dan Martin yang sedang berjalan berdua menuju Kedai Teh Madam Puddifoot.
Justin menatap Naomi tidak senang, ia dengan susah payah melepaskan tangan Naomi di mulutnya. "Tanganmu bau busuk! Lagian 'kan Juhoon teman kita, seharusnya kita sapa!"
Keonho yang mendengar itu memasukkan tangannya ke saku celana, ia mengikis jarak antara dirinya dan Justin. "Biarkan kedua orang idiot itu berkencan." Sahut Keonho datar dan dalam.
Mendengar panggilan Keonho ke Juhoon membuat dirinya mendidih. "Wah, perkataanmu kasar sekali, Mr. Ahn." Sindir Justin.
"Kami setuju," Seonghyeon berujar. Wajah Justin sudah berbinar karena berpikir bahwa dia akhirnya ada yang bela.
"Sama Keonho," Perkataan James membuat Justin mendengus kasar.
"Apa maksudmu mengatakan mereka idiot?" Akhirnya, Justin bertanya penasaran.
"Amati saja tingkah mereka."
Juhoon memesan teh lemon balm.
Juhoon sedang stress karena sebentar lagi ujian akhir tiba. Ia sudah memikirkan ujiannya yang memiliki tingkat kesulitan tinggi. Jadi, untuk menghilangkan stress berlebihan, ia memilih teh yang akan meredahkan stress.
Juhoon memandangi tehnya yang terkena cahaya lampu. "Martin, aku merindukan saat-saat seperti ini." Aku Juhoon ringan.
"Apa sekarang kamu bisa menjelaskan kenapa kamu marah saat itu?" Tanya Juhoon hati-hati, takut membuat Martin sakit hati dan akhirnya meninggalkan dirinya sendirian di kedai.
Martin menatap bola mata karamel milik Juhoon. Tatapan itu terlalu rumit untuk Juhoon pahami.
"Kamu masuk Hutan Terlarang," Kata Martin akhirnya. Membuat Juhoon terkaget dan menatap hal lain karena ketauan bertindak nakal. Tetapi, perasaan Martin tidak berhenti di Hutan Terlarang.
Juhoon mengangguk lehernya pelan, ia menundukkan tubuhnya kecil kepada Martin. "Aku pikir tidak ada yang tau, aku minta maaf."
Tidak sesederhana itu. Martin ingin mengatakannya, tetapi itu hanya berhenti di ujung lidah.
"Kalau gitu... bisakah kita kembali seperti dulu?" Pertanyaan Juhoon terlalu sulit untuk Martin.
Apa maksudnya dari kembali seperti dulu? Juhoon yang memeluk Martin? Juhoon yang menaruh kepalanya di bahu Martin saat mau tidur? Juhoon yang menguasai kasurnya? Juhoon yang akan melukai bibirnya ketika menangis? Atau Juhoon yang memberikan kehangatan bagi Martin.
Martin tidak tau, karena Juhoon di matanya adalah Juhoon yang seperti itu. Baik dulu maupun sekarang. Tetapi kenapa Martin tidak bisa mengatakan bahwa mereka bisa seperti dulu. Martin dibuat bingung oleh dirinya sendiri, dan itu membuatnya frustasi bukan main.
"Martin?"
Martin langsung tersadar dari pikirannya sendiri.
Tatapan mereka bersipandang, Martin menatap Juhoon dengan tatapan yang sama—tatapan yang Juhoon lihat akhir-akhir ini—sulit diartikan. Dan bukan hanya Martin yang frustasi, Juhoon ikut frustasi karena tidak bisa mengartikan maksud tatapan Martin yang seperti itu.
"Kamu ngga bisa, ya?" Juhoon bertanya sedih.
Martin menyadari satu hal. Ia tidak suka Juhoon bersedih, bahkan ketika Juhoon mengerutkan keningnya sedih, Martin seperti ingin menghapus semuanya. Dan Martin menyadari satu hal lagi, Juhoon sangat ingin persahabatan mereka kembali, tetapi dirinya... tidak menginginkan itu. Martin menginginkan sesuatu yang lebih, sesuatu yang berbahaya bagi hubungan mereka yang selama belasan tahun dinamai dengan sahabat.
"Kalau itu maumu, aku bisa." Pada akhirnya, Martin mengambil sudut pandang Juhoon.
Juhoon menghela pas dan menyenderkan punggungnya yang tegang tanpa ia sadari. "Bukan aku, tapi kamu. Aku maunya keputusan dari kamu sendiri."
Martin kesulitan.
Jangan egois, ujar Martin dalam hati memperingati dirinya sendiri.
"Ya. Kamu bisa memelukku sesuka hatimu." Martin menyadari suaranya yang pecah.
Juhoon yang tidak menangkap hal tersebut menerbitkan senyumnya.
"Terima kasih," Balas Juhoon ringan.
Di sinilah mereka. Stasiun Hogsmeade karena akan berlibur musim dingin.
Juhoon dan Martin duduk berhadapan. Juhoon sesekali bercerita hal-hal yang dilewati Martin selama ini. Di kompartemen, bukan hanya ada mereka berdua, tetapi ada Keonho, James, dan Seonghyeon, serta Eugene. Naomi berkata ia akan bersama Justin di depan kompartemen mereka.
Juhoon menatap cokelat yang ada di tangannya, ia berpikir apakah harus memakannya atau tidak, karena jika ia memakannya, Juhoon harus terima dia akan tertidur selama perjalanan. Masalahnya, Martin duduk di depannya, bukan di samping Juhoon.
"Ya, ya. Martin tukar tempat duduk, aku tidak akan rugi dekat jendela." Keonho yang duduk di samping Juhoon mengalah. Oh, ayolah bagaimana bisa dia tidak mengalah di saat tatapan Juhoon seperti memohon kepada Martin.
Sekarang, Martin duduk di samping Juhoon yang langsung merasa segar. Juhoon sudah membuka bungkus cokelatnya, memakannya dengan lahap.
"Kalian tuh... deket bangat, ya?" Tanya Seonghyeon penasaran. Seonghyeon bukan orang bodoh yang tidak dapat melihat Martin yang sangat menyayangi Juhoon.
"Iya! Aku dan Martin deket banget. Kita udah ketemu dari kecil, waktu itu aku naik ke atas pohon dan terjatuh, lututku luka. Martin menggendongku susah payah, lucunya, dia tersungkur saat mau menurunkanku!" Juhoon menjawab dengan antusias, ketika Juhoon memakan cokelat. Ia akan cerewat dan setelahnya tertidur.
"Martin memarahimu?" Tanya James, ikut merasa tertarik.
Juhoon berpikir, ia menatap Martin yang hanya diam.
"Tidak... Martin tidak marah, dia hanya langsung berjongkok dan menggendongku sampai ke rumah. Lalu pergi, dan aku menempel padanya setelah itu setiap saat." Juhoon menyengir mengingat masa kecilnya yang akan ada di sana jika ada Martin.
Kedekatan mereka terlalu alami bagi siapapun. Martin tidak begitu mengizinkan orang dekat dengan dirinya, tetapi Juhoon saat itu, orangtua Martin sampai kaget ketika Martin meminta Juhoon menunggunya di kamar Martin karena laki-laki itu ingin ke supermarket sebentar.
"Oh, jadi Martin sudah menyayangimu dari sana."
Juhoon langsung tertawa.
"Tentu saja! Martin adalah sahabat terbaikku!" Jawabnya tanpa berpikir.
Martin fokus kepada pemandangan di luar kereta, ia mencoba menyembunyikan ekspresinya. Tetapi, Eugene yang memang daritadi adalah tanggapan Martin selama Juhoon berbicara dapat melihat mata Juhoon yang sempat bergerak acak.
Setelah beberapa saat, Juhoon menguap. Rasa kantuk sudah menghampiri Juhoon, dan Martin sudah merelekskan bahunya sebagai tempat tumpuan kepala Juhoon yang sedetik kemudian memang sudah bersandar.
"Martin, aku ngantuk."
Martin mengangguk kaku, ia sedikit menahan napas selama beberapa detik. "Ya, gunakan saja bahuku."
Juhoon mencari posisi ternyamannya, "Sinarnya terlalu terang." Padahal, di luar salju sedang turun.
Martin dengan cepat mengambil penutup mata yang sudah ia siapkan. Juhoon mengangkat kepalanya dan membiarkan Martin mengurus dirinya. Setelahnya, ia sudah kembali mencari posisi nyaman di bahu Martin.
Keempat orang di kompartemen menahan gemas dengan tingkah mereka berdua. Mereka hampir menjerit-jerit untuk menyadarkan dua orang yang satunya berharap, yang satunya lagi menganggap sahabat.
Tahun Kelima.
Martin sedang berada di meja belajarnya sebelum pintu terbuka dan Juhoon sudah mengeluh.
"Aku tidak sanggup! Tahun ini kita akan OWL!" Juhoon merebahkan dirinya di kasur Martin.
Martin melirik Juhoon sekilas, sebelum membaca buku berisikan materi OWL yang sangat tebal. Tahun kelima adalah tahun di mana mereka akan ujian, mereka harus mempersiapkannya dengan serius agar dapat lulus dengan nilai minimal yang sudah ditentukan agar dapat mengikuti mata pelajaran pilihan untuk tahun keenam dan ketujuh.
"Kenapa ya? Padahal kasur kita sama, tapi kasurku tidak enak." Juhoon menyamankan tubuhnya di ranjang Martin yang empuk. Ia bahkan mengambil bantal Martin dan memeluknya.
"Kamu lagi belajar?" Tanya Juhoon melihat punggung Martin.
Martin mengangguk.
"Oh, aku ganggu kamu." Begitu ujarnya, Juhoon hendak bangun dan pergi bermaksud untuk tidak mengganggu konsentrasi Martin.
"Tidur saja di sana, aku tidak terganggu." Tutur Martin tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya. Juhoon kembali merebahkan tubuhnya pelan-pelan, menyetujui Martin, karena memang Juhoon sebenarnya tidak mau juga pergi. Ia hanya ingin ngetes Martin saja.
Selama dua jam, Juhoon sudah membuka dan menutup matanya perlahan. Ia akan membuka, lalu menutup, membuka lagi, dan menutup lagi. Begitu terus karena Juhoon merasa bosan bukan main.
"Sini," Martin menepuk bangku di sampingnya, menyuruh Juhoon untuk duduk.
Juhoon dengan susah payah memaksa diri, ia duduk di samping Martin yang selama dua jam bisa fokus belajar. Sejujurnya, Juhoon juga bisa kok belajar fokus, kalau sama Martin. Eh, tidak, karena selama inipun Juhoon juga tetap bisa belajar sendirian kalau mau ujian tahunan.
"Martin, aku bosan." Ujarnya sedikit merengek, hanya sedikit, karena kalau banyak bukan seperti Juhoon.
"Cobalah dewasa sedikit." Balas Martin tajam, membuat Juhoon langsung terdiam.
Juhoon menatap ke arah luar jendela, cuaca sedang buruk. Petir menyambat dan hujan semakin deras, suasana ini adalah waktu yang pas untuk berdiam diri tanpa melakukan apapun.
Juhoon mengambil buku yang disodorkan oleh Martin, membawanya ke pangkuan dan membacanya pelan, hanya membaca tetapi tidak ia mengerti, karena bagaimanapun juga Juhoon ingin memahami. Juhoon sedang dalam kondisi dia tidak mau belajar.
"Kalau kamu seperti ini, OWL mau dapat nilai berapa?" Martin bertanya pelan, masih peduli pada Juhoon yang wajahnya sudah seperti orang dipaksa mengerti.
Juhoon mengangkat bahunya, "Tentu saja O, paling kecil A. Yang paling penting aku lulus."
Juhoon melihat betapa seriusnya Martin dalam belajar. Sahabatnya pasti tidak tidur semalaman. "Kamu harus tidur," Lirih Juhoon, takut Martin marah karena Juhoon menyuruhnya.
Martin menggeleng, ia tidak mau. Martin harus mendapatkan nilai sempurna di OWL.
Kamar terlihat lenggang, kamar Martin sangat nyaman bagi Juhoon. Selama bertahun-tahun, Juhoom tidak pernah absen untuk menginap. Tetapi, mengingat usia mereka yang sudah remaja akhir dan mau memasuki usia dewasa membuat sesuatu tanpa sadar berubah.
Juhoon lebih hati-hati di dekat Martin. Martin sendiripun, dari awal sudah hati-hati terhadap Juhoon.
Kalau ditanya bagaimana perasaan Martin yang berlebihan pada Juhoon. Selama liburan, Martin sudah mencoba mengendalikannya, dan Martin berhasil melakukannya.
Sampai detik ini.
Sampai Juhoon dengan beraninya menyender pada bahu Martin.
Martin meremas kertas bukunya, Juhoon justru memejamkan mata menikmati suara hujan yang terdengar dari balik jendela.
Tahan, Martin. Kamu harus menahan diri.
Semakin usia Martin yang bertambah, Martin mengetahui perasaannya terhadap Juhoon. Sahabatnya. Martin mengetahuinya, tetapi ia masih takut untuk mengakui. Karena mungkin, jika Martin mengaku, semuanya akan hancur.
Jadi, daripada Martin menghancurkan semuanya. Ia menjauhkan kepala Juhoon, membuat Juhoon menatapnya bingung.
"Kenapa?"
Martin menundukkan kepala, tulisan-tulisan buku menjadi lebih menarik. "Aku tidak bisa fokus," Balas Martin merasa bersalah karena harus berbohong.
Juhoon tersadar, kemudian ia menyengir. "Ah, iya. Maaf-maaf. Aku harus biasakan diri karena kita akan ujian!"
Dan Juhoon duduk bersandar di bangku, membiarkan Martin belajar tanpa mengganggunya.
Suasana di kompartemen sangat suram. Siswa tahun kelima dan ketujuh mempersiapkan ujian OWL dan NEWT'S yang akan menentukan masa depan mereka. Bahkan, James sudah duduk dengan buku yang terbuka lebar.
Juhoon sesekali melihat bukunya, ia akan membukanya dan membaca satu baris sampai akhirnya sadar bahwa matanya hanya membaca tanpa benar-benar masuk ke otak.
Juhoon ingin menggeram frustasi, tapi bukan hanya dirinya di sini. Juhoon bahkan melirik Martin yang sedang membalikkan halaman bukunya. Jadi, Juhoon hadap kanan ada orang baca buku, hadap kiri pun sama saja.
"Ada apa?" Martin bertanya pelan tanpa mengalihkan pandang dari bukunya yang menurut Juhoon pasti sangat menarik.
Juhoon menaruh bukunya, ia memainkan jemari. Lalu, tangannya memukul pelan kepalanya. Juhoon berpikir bahwa ia harus dewasa sekarang. Umurnya sudah 16 tahun, Juhoon sudah dewasa, tetapi entah kenapa kalau di samping Martin, ia merasa tidak perlu mengubah apapun.
"Tidak ada," Juhoon berujar pelan, ia menyenderkan kepalanya pada dinding kompartemen yang keras.
Martin tidak menanggapi lagi, bukan tidak mau, ia hanya tidak ingin Juhoon merasa tertekan jika terlalu banyak bertanya. Karena sejatinya Juhoon adalah orang yang pintar.
Beberapa bulan pertama, Juhoon tidak merasa kesepian, ia sesekali akan belajar sendiri di kamarnya atau bersama dengan Justin di ruang rekreasi. Mereka akan mencoba berlatih untuk praktik ataupun tulis.
Sesekali, mereka akan belajar gabungan.
Martin akan menjelaskan materi kepada yang lain dengan wajahnya yang lelah, walaupun begitu Martin tetap semangat mengajar. Seperti sekarang, tangan Martin tidak bisa diam ketika menjelaskan materi Herbologi.
Juhoon memperhatikan Martin. Selama beberapa menit dengan tangan yang menopang dagunya. Sampai akhirnya ia terbatuk sendiri ketika pikirannya justru mengatakan bahwa sekarang Martin sangat atraktif. Juhoon merasakan wajahnya yang memanas.
"Ada yang salah?" Naomi bertanya kepada Juhoon karena Juhoon menggeleng cepat, membuat Martin berhenti menjelaskan.
Juhoon membelalakkan matanya seolah tersadar dengan kelakuannya sendiri, ia menatap Martin dan dengan cepat memutuskan pandangan kala jantungnya berdegup kencang.
Juhoon berdiri, membuat suara berdencit. Ia dengan gugup berkata, "Aku harus kembali! Sampai jumpa." Lalu berlari tanpa menunggu jawaban apapun.
Martin yang melihat hal itu merasa ada yang tidak beres, apakah Juhoon sakit? Apakah penjelasannya susah dimengerti oleh Juhoon?
"Lanjutkan saja," Suruh Keonho membiarkan Juhoon pergi.
Martin pada akhirnya mengikuti saran tersebut, mereka belajar sampai waktu malam dan pergi.
"Naomi," Panggil Martin ketika Naomi hendak melangkah begitu saja.
"Ya?"
Martin berdeham sejenak. "Bisa tanyakan pada Juhoon apa dia baik-baik saja?"
Naomi bersipandang dengan Justin, Justin mengangguk mengerti. Ia akan bertanya pada Juhoon dan mengatakannya pada Martin. "Tentu."
Pagi harinya, suasana aula tidak begitu meriah. Juhoon menyantap makanannya seperti biasa, hanya saja yang berbeda adalah Juhoon tidak berani menatap meja Gryffindor, padahal sebelum ini Juhoon akan menatapnya dan bertemu dengan Martin lalu memberikan senyumannya. Tetapi sekarang, Juhoon tidak tau dengan tubuhnya, terutama jantungnya yang selalu berdegup tidak normal jika bersama Martin.
Jadi, yang bisa Juhoon lakukan adalah memaki dirinya malam itu.
Juhoon berjalan pelan, tidak bersemangat, ia akan belajar Ramuan yang satu kelas dengan Martin. Juhoon belum menemui Martin. Jadi, ketika Martin menghampirinya Juhoon langsung mundur dan pandangannya menatap acak—asal bukan ke Martin.
"Kamu kenapa?" Martin bertanya khawatir.
Baiklah, selama beberapa menit Juhoon sudah merasa normal. Jadi, Juhoon menatap wajah Martin yang sekarang... berbeda. Lalu, deg deg deg, kata kata itu berputar di telinganya.
"Juhoon? Kamu dengar aku, ngga?" Martin memegang bahu Juhoon, menyadarkannya.
Juhoon, "Dengar, kok..."
"Terus kenapa ngga dijawab?"
Pertanyaan itu membuat Juhoon bingung sendiri. Kenapa tidak dijawab, ya? Juhoon kayaknya tadi mau jawab, tapi waktu liat wajah Martin yang membuatnya sakit jantung, Juhoon jadi tidak bisa menjawabnya.
"Kamu sakit?" Martin mengecek suhu tubuh Juhoon menggunakan punggung tangannya. Perlakuan itu entah kenapa membuat Juhoon kesulitan bernapas. "Ke Hospital Wing's saja dulu, ya?" Sungguh, Martin merasa khawatir melihat wajah Juhoon yang sudah memerah.
"Kim Juhoon," Panggil Martin sekali lagi karena Juhoon yang tidak bisa serius.
"Martin?" Juhoon memanggil pelan, sangat pelan, seperti panggilan yang selama ini ditahan oleh Juhoon akhirnya bisa dikeluarkan.
Martin dengan sabar menunggu Juhoon berbicara.
"Ada yang aneh," Aku Juhoon. "Tubuhku sakit, kayaknya serius? Apa yang harus aku lakukan?" Juhoon bertanya panik, matanya sudah memerah.
Martin yang mendengar itu juga ikutan panik. Ia menarik lengan Juhoon untuk segera ke Hospital Wing's, membiarkan Juhoon untuk tidak mengikuti pelajaran Ramuan dulu.
"Mr. Kim?" Madam Pomfrey mengerutkan keningnya karena didatangi dua orang.
"Madam Pomfrey, Juhoon merasa ada yang salah dengan tubuhnya." Martin menjelaskan apa yang dirasakan oleh Juhoon.
Madam Pomfrey menyuruh Martin membantu mendudukkan Juhoon di ranjang dan meminta Martin untuk tetap mengikuti pelajaran karena sebentar lagi mereka akan ujian OWL. Martin hendak menolaknya, tetapi Juhoon menatapnya seakan-akan menyuruh Martin untuk mengikuti apa kata Madam Pomfrey.
"Bagian mana yang sakit?" Tanya Madam Pomfrey.
Juhoon memiringkan wajahnya. Ia merasakannya tadi, sekarang tidak. "Tadi seluruh badannya sakit."
"Sejak kapan?"
Juhoon menatap langit-langit. "Sejak Martin menjelaskan materi Herbologi untuk OWL?"
Madam Pomfrey sejenak memejamkan matanya, hal itu membuat Juhoon merasa canggung karena mungkin Madam Pomfrey tidak membutuh informasi yang seperti itu.
"Baiklah," Madam Pomfrey, seperti seorang profesional yang sudah banyak sekali menangangi kasus serupa. Ia menghilang dari pandangan Juhoon dan membawakan ramuan yang tidak Juhoon ketahui.
Ramauan itu adalah Ramuan Kedamaian. Berfungsi untuk seseorang yang sedang panik, cemas, dan tegang. Sangat pas sekali dengan kondisi Juhoon.
"Hanya ini, setelah itu kau harus berusaha mengaturnya sendiri."
Martin mendatangi Juhoon selesainya pelajaran Ramuan. Sampai membuat Juhoon harus meyakinkan bahwa dirinya sangat sehat, walaupun keadaan jantungnya sekarang tidak lagi sehat.
Besoknya, Juhoon merasa ia sudah baik-baik saja. Jadi, ketika Naomi mengajaknya untuk ikut belajar di perpustakaan, Juhoon mengikutinya.
Selama beberapa jam, Juhoon merasa tentram. Sampai akhirnya, pandangannya menemukan Martin memasuki perpustakaan. Seragam bagian tangannya dilipat sampai siku, melihat hal itu, Juhoon membuang muka.
Kenapa Martin sekarang terlihat berbeda?
Martin menyapa mereka sekilas dan pergi menuju meja tempat siswa Gryffindor berkumpul. Ketika mereka melihat Martin datang, wajah mereka terlihat senang dan mereka bertepuk tangan yang tidak menimbulkan suara.
"Liatinnya biasa aja dong," Ujar Naomi mengikuti arah pandang Juhoon yang sekarang mencibir.
"Memangnya Martin tampan apa disambut seperti itu?" Tanya Juhoon, suaranya seperti tidak senang.
Naomi tertawa mendengar hal itu, ia tidak mengira bahwa Juhoon akan bertanya hal-hal tentang Martin. Naomi memperhatikan Martin sebentar yang sudah mulai berdiskusi.
"Ya... siapa yang tidak suka sama Martin? Selain dia tampan, Martin juga cerdas! Zaman sekarang, orang cerdas nomor satu." Naomi mengatakannya sambil membayangkan bahwa kekasihnya nanti adalah orang yang cerdas. "Martin juga baik." Tambah Naomi membuat Juhoon semakin tidak senang.
"Oh, ya? Dia baik padaku tapi aku tidak suka, tuh." Tutut Juhoon tidak mau kalah.
Naomi menggeser bukunya, matanya menusuk Juhoon lebih dalam. "Ya 'kan orang lain, gimana sih, Juhoon. Lagipula, memangnya Martin baik hanya padamu?"
Naomi mendengar pertanyaannya sendiri ingin tertawa melihat reaksi Juhoon yang aneh. Seperti tidak terima bahwa sahabatnya baik kepada orang lain, bukan hanya padanya.
"Ah, benar. Martin baik pada semua orang." Juhoon menutup bukunya, ia menjadi tidak minat belajar di perpustakaan. Apalagi ketika ia berhasil menangkap seorang laki-laki yang ia ketahui bernama Thomas menatap Martin dengan tatapan memuja.
"Aku mau tidur," Lanjut Juhoon dan setelahnya Naomi tertawa tertahan. Ia tidak tau bahwa menjahili Juhoon adalah sesuatu yang seru. Setelah ini ia akan mengatakannya kepada yang lain.
"Hei, Martin." Panggil James yang seperti bos besar.
Martin menaikkan satu alisnya bertanya.
"Nanti belajar lagi di perpustakaan?"
Juhoon menghampiri mereka, membatasi James dan Martin. "Aku akan belajar berdua saja dengan Martin."
Martin menunduk, merasa bahwa itu tidak mungkin terjadi. Tetapi, itulah kebenarannya. Jadi, James menunggu jawaban Martin.
"Ya. Aku akan belajar bersama Juhoon."
Juhoon menyeringai di hadapan James, ia tanpa sadar berucap yes dengan rasa senang yang membara. James menatap Juhoon aneh, sejak kapan Juhoon sesenang itu, padahal dari kemarin-kemarin mereka juga bersama.
James pergi begitu saja, Juhoon membalikkan badannya menghadap Martin. Juhoon menunggu reaksi tubuhnya yang aneh, tetapi tidak kunjung datang, dan Juhoon berpikir bahwa memang itu adalah kesalahan teknis.
"Nanti aku langsung ke perpustakaan, ya?"
"Nanti malam, Juhoon. Makan malam saja belum diadakan." Martin berujar sabar. Memandangi wajah Juhoon yang sudah lama tidak pernah ia perhatikan karena terlalu sibuk.
Tatapan Martin yang intens membuat Juhoon meneguk ludahnya, merasakan hawa panas yang datang entah dari mana. "Ada yang salah?" Juhoon menggaruk lehernya canggung.
Martin menggeleng masih dengan tatapan intensnya. "Tidak ada, kamu hanya—" Tangan Martin terangkat, menyelipkan rambut Juhoon yang sudah mulai memandang ke belakang telinganya.
Sukses.
Juhoon mengerjapkan matanya cepat, bingung harus bereaksi seperti apa dengan tindakan Martin yang tiba-tiba.
"—Cantik, seperti biasa."
Juhoon dengan kasar menarik diri, membenarkan jubahnya yang berantakkan. Ia menatap Juhoon dengan tatapan ketakutannya. Takut kepada pujian Martin, yang memang jarang memuji Juhoon.
"Aku... harus..." Juhoon mencari-cari alasan yang tidak akan membuat Martin curiga. "Ah! Aku dipanggil oleh Profesor Sprout!" Kata Juhoon cepat.
Martin menghalau langkah Juhoon, membuat Juhoon menelan ludahnya kasar. "Sekarang apa?" Juhoon merasa gugup.
"Kamu justru membuat jubahmu semakin berantakkan." Martin merapihkan jubah Juhoon seakan-akan sudah menjadi kebiasaan. Padahal tidak tahu saja bahwa di dalam diri Juhoon yang tenang, Juhoon sudah tidak bisa diam karena berpikir bahwa Martin menularkan penyakit berbahaya.
Di malam harinya, sewaktu Juhoon menyantap daging sapi bakar. Juhoon menatap kosong kehadapan Martin, ia memikirkan ajakkannya tadi, bahwa Martin dan dirinya akan belajar bersama, berdua. Tetapi, kenapa Juhoon merasa cemas yang berlebihan? Padahal dulu mereka sering berduaan di kamar Martin.
Juhoon menggeram kesal karena tidak menemukan jawaban apa yang terjadi. Selama ini, Juhoon tau apa yang ia rasakan, tertawa ketika bahagia, menangis ketika sedih. Tapi, perasaan ini terlalu kompleks, luas, dan seperti membutuhkan keberanian yang tidak dimiliki oleh Juhoon.
Di meja Gryffindor, Martin mengamati Juhoon yang aneh, terlalu aneh. Beberapa waktu ke belakang, Juhoon terlihat kaku di sekitar Martin. Terutama setelah malam Juhoon pergi begitu saja waktu Martin menjelaskan tentang Hebologi.
Sekarang, Juhoon sedang mengerutkan keningnya, merasa frustasi. Sungguh. Juhoon ingin meminta tolong pada siapapun.
Juhoon menatap malas ketika Thomas mendekati Martin. Ia detik itu juga menyelesaikan acara makannya dan berjalan lebar ke meja Gryffindor. Tindakan Juhoon begitu implusif.
"Martin, ayo sekarang!" Juhoon menekan setiap katanya, matanya menatap Martin seorang, membiarkan orang-orang menatapnya penasaran.
Martin yang baru membuka mulutnya memberhentikan kegiatannya. "Boleh aku makan sebentar?" Martin meminta izin.
Juhoon melirik piring Martin yang masih penuh, baru tersentuh sedikit. Lalu, seakan Juhoon baru sadar oleh tindakannya, ia mengangguk kaku.
"Oke. Aku tunggu di perpustakaan, kamu langsung datang ke sana, ya? Aku tungguin!" Tegas Juhoon menunjuk Martin yang menganggukkan kepalanya patah-patah.
Juhoon pergi dengan kaki yang sebisa mungkin tidak ia hentakkan ke lantai. Sekarang, Juhoon merasa kesal bukan main, merasa marah Martin didekati oleh laki-laki lain. Apakah sekarang Martin sedang mencoba mendekati seseorang? Intinya, orang itu yang harus Juhoon setujui!
Di lorong menuju perpustakaan, Juhoon menghentikan tubuhnya. Ia menatap lentera yang menyala menerangi jalannya.
"Aish! Kenapa aku mengatakan itu? Memangnya kenapa kalau Martin punya kekasih? Toh, nanti harus akrab denganku. Tapi kenapa aku tidak senang?" Juhoon bertanya sedih. Ia mengacak rambutnya frustasi.
Pokoknya, agenda Juhoon hari ini adalah: frustasi, stress, bingung.
"Kalau lagi berat, cerita saja ke aku." Martin menghampiri Juhoon dengan cepat, ia bahkan ikut mengacak rambut Juhoon.
"A—apa?" Juhoon menarik tali tak kasat mata yang dapat menolongnya.
Martin tertawa ringan, "Kalau Juhoon lagi ngga baik-baik saja, cerita ke Martin."
Mendengar hal itu, Juhoon merasa mau justru menginjak kaki Martin yang membuat sang empu kesakitan. Juhoon berjalan cepat meninggalkan Martin. Di belakangnya, Juhoon dapat mendengar Martin yang tertawa terbahak-bahak karena tingkah Juhoon.
Di perpustakaan yang hanya beberapa orang, Juhoon mengambil meja di tengah. Cukup untuk enam orang.
"Aku lebih suka kamu di sampingku," Kata Juhoon waktu Martin ingin mengambil kursi seberang.
Martin sedikit terbatuk, tetapi dengan cepat mengikuti keinginan Juhoon.
Karena duduk mereka yang bersampingan. Juhoon jadi dapat mendekatkan dirinya pada Martin dengan cepat, bahkan ketika Martin baru akan duduk, Juhoon sudah menggeser bokongnya agar mendekat pada Martin.
Martin yang merasa punggungnya kaku, segera merelekskannya. Ia harus menenangkan diri di dekat Juhoon. Apapun itu, yang penting dirinya tetap bisa dikendalikan.
Martin membuka bukunya yang tebal, Juhoon ikut membuka buku tulisnya, ia menulis satu dua kalimat sebelum pandangannya fokus menatap wajah Martin yang menjelaskan dengan detail dan poin apa saja yang harus diingat Juhoon.
Mata Juhoon menatap mata Martin, lalu turun ke hidung Martin yang mancung, turun lagi ke bibir Martin yang sibuk menjelaskan. Semakin turun ke lengan baju Martin yang dilipat sampai siku, setelah diam memperhatikan tangan Martin—yang selalu memberikan apa yang dibutuhkan Juhoon—pandangannya kembali ke arah bibir Martin yang sibuk menjelaskan.
Pikirannya sibuk, lidah Juhoon menjilati bibirnya yang kering.
Martin malam ini begitu tampan, Juhoon tidak heran jika Briony dan Thomas menyukai Martin. Lalu, pikiran itu muncul. Pikiran berbahaya dan terlarang dihubungan yang mereka namai sahabat. Bagaimana jika Juhoon mencium Martin sekarang? Bagaimana jika mereka berciuman di perpustakaan yang sepi pengunjung?
"Juhoon," Panggilan yang bergema datang.
Martin sudah sibuk melambaikan tangannya di depan wajah Juhoon yang sekarang memerah seperti tomat. Apa yang kamu pikirkan, Kim Juhoon! Memalukan. Juhoon memaki dirinya sendiri dalam hati karena pikirannya yang kotor.
Martin pasti marah kalau Juhoon berani membayangkan hal seperti itu tentang mereka.
"Juhoon, kamu lagi ada apa sih?" Martin bertanya kesal, sedikit menjauhkan bukunya.
"Aku... merasa tertekan karena ujian OWL." Alasan Juhoon sangat masuk akal, Martin tidak akan mencurigainya, karena mereka siswa tahun kelima.
Siapapun pasti merasa tertekan.
Martin sendiri tidak tau harus menanggapi seperti apa arena ia pun juga tertekan menghadapi OWL. Jadi, ia hanya bisa menghela napas dan memandang wajah Juhoon yang begitu menenangkan.
Demi Merlin, Martin ingin memeluk Juhoon dan menyembunyikan sahabatnya itu. Mata Martin juga melirik bibir Juhoon yang tebal, bibir yang sudah mengalihkan fokus Martin selama ini. Martin menetralkan jantungnya yang berdebar kencang, ia kemudian mendekatkan bukunya kembali.
"Tetap belajar, kamu sudah menculikku dari yang lain yang sungguhan mau belajar."
Keputusan Martin membuat Juhoon mendesah kecewa, pada akhirnya malam itu Juhoon benar-benar belajar sampai sesekali memejamkan matanya tertidur, tapi Martin tanpa belas kasihan menepuk bahunya dan membangunkan Juhoon.
Waktu berlalu begitu cepat, hari-hari dihabiskan oleh belajar untuk persiapan ujian. Martin mulai memberikan jarak kepada Juhoon tanpa sadar, merasa terlalu serius untuk ujiannya, Juhoon sendiripun mengerti, karena ia juga merasakan.
Mereka akan tetap bersapa, tersenyum dan tertawa kecil. Tetapi, semakin sempit waktu yang dimiliki, tekanan masih ada. Ujian OWL, ujian tahunan, tugas-tugas terus berdatangan tanpa ampun.
Bukan hanya Juhoon yang frustasi, semua orang frustasi. Sekarang, setelah sekian lama Juhoon belajar bareng, Juhoon memasuki kelas yang kosong, menggeser kursi tepat di samping jendela besar yang memberikannya cahaya matahari cukup.
Juhoon lebih senang seperti ini, matahari langsung mengenai wajahnya, pemandangan nyaman ke arah pohon ek raksasa di tengah kastil.
Juhoon mulai serius belajar, waktu berlalu dengan sangat cepat sampai akhirnya sinar matahari yang tadinya berwarna putih berubah menjadi oranye.
Karena hari yang sudah petang, Juhoon membereskan alat tulisnya, memasukkannya ke dalam tas. Kemudian, matanya melirik pohon ek tadi, di halaman sekitar pohon ek raksasa terdapat rerumputan yang luas dan asri untuk belajar.
Anak-anak Gryffindor membentuk lingkaran ruang diskusi. Juhoon menangkap siluet Martin yang cenderung lebih tinggi dari teman-temannya. Di samping Martin, Thomas menjelaskan sesuatu yang tidak dapat didengar oleh Juhoon. Martin menganggukkan kepalanya dan tersenyum puas usai Thomas selesai berbicara.
Semua orang dapat menangkap tatapan memuja yang Thomas berikan untuk Martin.
Juhoon yang melihat dari balik jendela meremas celana seragamnya, merasakan hatinya yang resah melihat tatapan itu. Bahkan Juhoon menyadarinya, bagaimana mungkin, Martin, yang satu asrama dengan Thomas tidak menyadarinya?
"Ada apa sih sebenarnya denganku...?" Juhoon bertanya lirih pada kelas yang kosong.
Juhoon tau bahwa ia tidak senang, Juhoon merasa sedih, tapi bukankah itu artinya Juhoon orang yang egois? Bagaimana bisa dia menjadi orang jahat hanya karena tidak suka ada yang menyukai Martin?
"Kenapa aku seperti anak kecil yang temannya hanya boleh buat dia?!" Juhoon berucap sedikit berteriak sebelum ia menggingit bibirnya pelan.
Thomas di bawah sana bersentuhan dengan jemari Martin yang sedang membereskan buku tebalnya. Juhoon mengerjap cepat karena tidak percaya hal itu akan ada dan menjadi adegan kisah Martin dan Thomas.
"Wah! Aku tidak bisa biarkan!"
Kata-kata itu begitu cepat, secepat Juhoon menghilang dari ruang kelas yang sepenuhnya kosong. Ia menuju asrama Hufflepuff, menaruh barangnya dengan kasar, dan keluar lagi sampai membuat Naomi dan Justin bahkan kebingungan karena wajah Juhoon yang sungguh mengkerut.
Selama perjalanan Juhoon menghampiri Thomas, ia bertemu dengan teman-teman Slytherinnya yang menggoda Juhoon. Tetapi tetap Juhoon hiraukan.
"Hai, Jezlyn." Goda James sewaktu tidak mendapatkan perhatian Juhoon. Seonghyeon mengangkat tangan dan alisnya, "Hai, Cantik." Dan sukses mereka bertiga mendapatkan jitakkan dari Jezlyn. Keonho sampai membuka mulutnya lebar karena tidak percaya.
Di persimpangan menuju asrama Gryffindor, Juhoon menunggu Thomas dengan pikirannya yang masih belum jernih. Beruntungnya, Thomas sendirian. Juhoon langsung memasang badannya. Thomas lebih kecil dari Juhoon.
Thomas menaikkan alisnya merasa bingung, untuk apa anak Hufflepuff mendatanginya, terutama Juhoon, apakah laki-laki itu salah orang?
"Kamu suka sama Martin?" Juhoon langsung ke inti. Tidak seperti harapan Juhoon bahwa Thomas akan kaget, laki-laki di depannya justru hanya menampilkan wajah datarnya, tatapannya seperti mengatakan bahwa sungguh kamu menanyakan hal tidak penting itu padaku?
"Jangan suka sama Martin." Tegas Juhoon membuat Thomas sungguh menatapnya aneh.
"Kenapa tidak boleh?" Setelah sekian lama terdiam, akhirnya Thomas berbicara.
Juhoon mencari-cari alasan. "Karena Martin menyukaiku!" Balas Juhoon tanpa merasa gugup, alasan itu keluar begitu lancar. Sebuah kebohongan yang memalukan bagi Juhoon, dan sebuah kebenaran yang tidak dapat diakui Martin.
Thomas maju selangkah, berhasil membuat Juhoon terintimidasi.
"Lalu? Apa kau menyukai Martin juga?" Thomas bertanya rendah dan tajam.
Juhoon menelan ludahnya kasar, ia membalas tatapan Thomas dalam. "Tidak! Mana ada di dalam kamusku bahwa sahabat menjadi kekasih!" Setelah menyelesaikan kalimat yang seperti kawat besi di sekelilinh tenggorakannya, Juhoon merasa lemas.
Thomas mendengar itu menyeringai puas, ia puas sekali. Thomas tau, bahwa Martin memang menyukai Juhoon, seluruh anak Gryffindor tau itu. Jadi sekarang, yang ia butuhkan hanyalah pengakuan dari Juhoon.
Juhoon tidak menyukai Martin.
Tentu hal itu membuatnya senang. Paling tidak, Martin merasakan bahwa orang yang disukainya tidak membalas dengan perasaan yang sama.
"Baiklah, selamat malam, Juhoon." Thomas berlalu begitu saja. Setelah itu, Juhoon merasa bingung, tetapi kakinya tetapnbisa melangkah ke asramanya sendiri.
Di samping tong, Juhoon berjongkok, menyembunyikan wajahnya. Dadanya naik turun dengan cepat. Ada yang salah, ada yang salah dari pengakuannya tentang Martin. Tidak seharusnya Juhoon mengatakan hal itu, walaupun memang ia tidak menyukai Martin. Bukankah kalimatnya sangat jahat?
Dan lagi, bukannya hati Juhoon tenang, justru sekarang semakin gundah.
"Juhoon? Kenapa tidak masuk?" Naomi bertanya hati-hati, menghampiri Juhoon.
Sewaktu Juhoon mendongakkan kepalanya, wajah Juhoon ada jejak air mata dan tidak dapat berhenti. Naomi mensejajarkan tingginya.
"Ada apa? Kasih tau pelan-pelan..." Tutur Naomi lembut.
Juhoon mencoba menenangkan dirinya. "Aku salah."
Naomi kebingungan harus merespon apa.
Juhoon mendekatkan dirinya ke Naomi. "Aku tadi ke Thomas, aku marah, kesal, tidak senang anak itu terlalu dekat dengan Martin. Aku bertanya padanya apakah dia menyukai Martin... dan katanya iya, lalu dia menanyaiku." Juhoon menarik napasnya dalam. "Apakah aku menyukai Martin? Dan aku jawab tidak. Tapi sekarang hatiku resah, tidak tenang... aku merasa ada yang salah dengan semuanya. Kalau memang aku menyukai Martin... bukankah tandanya aku menghancurkan persahabat kami?"
Naomi merangkul Juhoon, "Kalau kamu menyukai Martin, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Naomi pelan, namun berhasil ditangkap Juhoon dan membuatnya terdiam.
Apa yang akan ia lakukan jika benar menyukai Martin? Juhoon tidak tau, selama ini Juhoon akan selalu memeluk Martin, menghampiri Martin dengan langkah riang dan ringannya. Sekarang, jika Juhoon mengakuinya... apa yang akan terjadi?
"Juhoon, aku mau kamu jujur sama perasaanmu sendiri. Apakah kau menyukai Martin?" Tanya Naomi hati-hati.
Juhoon menatap tangannya, pikirannya berkelana. Apa definisi suka yang sebenarnya? Bukankah itu semacam bahwa Juhoon ingin memiliki Martin dan setelahnya apa yang harus Juhoon lakukan? Karena bukan hanya itu yang Juhoon rasakan ketika bersama Martin.
"Aku ingin selalu dekat dengan Martin, aku ingin mendukung Martin, aku nyaman dengan Martin, aku—aku, aku ingin Martin baik-baik saja bahkan jika bukan sama aku." Jelas Juhoon kecil dan mampu didengar oleh Naomi.
Naomi yang mendengarnya tersenyum simpul, "Itu namanya jatuh cinta, Juhoon."
Pernyataan Naomi membuat Juhoon membelalakkan matanya dan menggelengkan kepala dengan cepat karena merasa tidak terima dengan perasaannya sendiri. "Itu tidak boleh!" Ungkap Juhoon.
"Memangnya ada yang melarang untuk menyukai sahabat sendiri? Tidak ada."
"Tapi aku tidak mau," Balas Juhoon.
Naomi mengangkat bahunya. "Kamu sendiri juga tidak bisa melarang perasaanmu. Tapi, kalau kamu memang tidak mau, batasi saja dirimu dari Martin."
"Apa? Itu tidak mungkin!" Juhoon berkata tidak terima disuruh menjauh dari Martin.
"Aku tidak menyuruhmu menjauh, batasi. Berhenti untuk selalu memeluk Martin, agar perasaanmu tidak semakin besar."
Juhoon berdiri, merasa tidak senang. Lalu, setelah dipikirkan lagi, itu benar, Naomi benar bahwa kalau Juhoon tidak ingin jatuh cinta sama Martin. Juhoon harus membatasi dirinya.
"Baiklah," Ujar Juhoon lemah, bahunya merosot.
Martin merasakan tenggorokannya yang sakit bukan main. Ia ingin berteriak atau bahkan sesegukan, tetapi suaranya tidak mau keluar. Tadi, saat hendak menuju asrama Gryffindor Martin mendengar Juhoon mengatakan bahwa tidak ada di dalam kamusnya sahabat berubah menjadi kekasih.
"Martin," Panggil Eugene pelan, berdiri tiga langkah di belakang Martin.
Martin menghapus air matanya, "Aku sudah tau itu. Tetapi mendengarnya langsung, aku tidak tau akan sesakit ini." Martin mengepalkan tangannya erat, menguatkan dirinya sendiri.
Eugene tidak bisa berkata-kata. Tidak ada yang dapat disalahkan dari perasaan mereka berdua.
Perasaan mereka valid. Sangat valid.
Di depannya, Martin tertawa, tawa yang menyakitkan dan hambar untuk didengar. "Aku harus terlihat baik-baik saja. Juhoon akan khawatir kalau aku sakit."
Eugene menggeleng walaupun tidak bisa dilihat oleh Martin.
"Eugene, aku tidak pernah menyangka rasa cintaku ke Juhoon akan sebesar ini. Dan sekarang, aku merasa takut dengan diriku sendiri." Pengakuan Martin begitu menyakiti Eugene, ia melihat Martin yang menunduk, setelah ini, tidak ada yang sama, semuanya tidak akan pernah bisa seperti awal.
Martin mencintai Juhoon, dan Juhoon tidak mencintai Martin.
Tetapi pada dasarnya, ikatan mereka lebih kuat dari itu.
Tekanan semakin berasa.
Tugas dan materi ujian berserakan di meja belajar Juhoon. Rambutnya berantakan, kantong matanya terlihat jelas. Saat hendak menuju aula besar untuk sarapan dengan bahu Juhoon yang merosot.
Juhoon memberhentikan langkah ketika ia melihat Martin dari kejauan yang hendak menuju aula juga, ia segera melarikan dir, langkahnya berhenti cepat di depan kaca yang menghasilkan pantulan dirinya. Juhoon memegang wajahnya.
"Jelek sekali wajahku..." Rintih Juhoon, wajahnya benar-benar seperti orang yang tidak mau mengurusi hidupnya.
"Katanya ngga mau, kok gitu saja kabur terus liat penampilan diri sendiri." Naomi berjalan santai dengan tangan yang diangkat dan disembunyikan pada belakang leher. Ia meledek Juhoon yang sekarang menatap datar dirinya sendiri di kaca tersebut.
"Jelek sekali wajahmu, Juhoon. Seriusan deh, Martin tidak akan suka."
Mendengar itu, bukannya marah, Juhoon malah menendang kaki Naomi, membuatnya kesakitan dan berteriak. "Itu perbuatan tercela! Minus 5 untuk Hufflepuff!" Ujarnya dengan nada bicara Profesor Snape.
Juhoon menjulurkan lidah tidak peduli. "Wajahku itu cantik kalau kata Martin. Yah, makanya dua gender suka padaku." Ujar Juhoon percaya diri, membuat Naomi memandanginya kesal dan kemudian tertawa.
"MARTIN!" Naomi berteriak dan menyapa Martin yang langsung membalasnya.
Martin menghampiri mereka dan gelagat Juhoon seperti orang yang baru ketahuan mencuri.
Martin terlihat tampan, ya, Juhoon akan akui sekarang. Tapi Juhoon langsung menundukkan kepalanya karena harus menahan diri, tidak bolej ketahuan. Tetapi, kenapa wajah Martin terlihat lelah? Ah, tidak-tidak, semua orang lelah karena OWL.
"Juhoon?" Panggil Martin pelan dan lembut. Naomi yang menangkap panggilan itu seakan mengerti dan langsung menghilang menuju aula besar.
Suara jantung Juhoon yang terdengar oleh dirinya sendiri membuat ia malu. Padahal Martin tidak mendengarnya, tapi karena Juhoon yang mengetahui dirinya merasa ini adalah memalukan. Bagaimana tidak, daritadi jantungnya terus menerus mengeluarkan bunyi deg deg deg yang mendesir dadanya, anehnya Juhoon merasa nyaman akan perasaan itu.
"Ya?" Tanya Juhoon setelah dapat mengendalikan diri. Ah, wajahnya pasti aneh, bagaimana jika Martin tidak menyukainya? Bagaimana jika Martin menganggapnya jelek?
"Juhoon. Kamu dengar aku tidak?" Martin bertanya lebih kencang, mencuri perhatian Juhoon sepenuhnya.
Juhoon menggaruk lehernya yang tidak gatal, salah tingkah yang memalukan. "Dengar, kok... telingaku terpasang."
"Aku serius," Balas Martin.
Juhoon melebarkan matanya kaget, apa-apaan reaksi Martin yang seperti itu. Kenapa Martin terlihat begitu tampan ketika serius? Ke mana saja Juhoon selama ini.
"Iya. Aku dengar, ada apa sih?"
Martin berdeham, matanya menatap Juhoon tegas. "Aku sudah putuskan ini. Aku butuh waktu sendiri sampai selesai ujian, bisa kau terima itu?"
Juhoon mengangguk-angguk. Lalu, matanya menatap Martin dan tangannya tanpa sadar memegang lengan Martin yang seketika menjadi kaku. "Kenapa? Aku ada salah lagi?"
"Tidak ada," Ujar Martin berat, memang pada dasarnya Juhoon tidak memiliki salah. Salahnya ada pada Martin, ia tidak bisa menampung lebih lama perasaannya kepada Juhoon jika terus dekat, padahal Juhoon sudah memberitahukannya bahwa Juhoon tidak suka pada Martin.
"Tapi kenapa..." Ucapan Juhoon menghilang, bahunya yang lemas semakin lemas. "Baiklah, aku mengerti." Ujarnya, meninggalkan Martin begitu saja dengan kesunyian.
Martin mengepalkan tangannya, ia menatap lantai kastil yang dingin. "Maafkan aku..." Ujarnya pelan kepada siapapun di sana.
"Kamu seperti orang yang habis ditolak cintanya." Pernyataan dari Keonho membuat Juhoon memincingkan matanya sambil mendengus. Saat ini merasa berada di sekitar rumah kecil milik Hagrid.
James, "Martin juga sama tadi."
Seonghyeon menatap James, "Seriusan? Wah, apakah sekarang episode di mana kalian ditolak oleh crush masing-masing?" Tanyanya dengan tawa kecil.
Naomi menggeleng kencang, tangannya terangkat mengambil perhatian. "Jangan seperti itu, kawan. Kasihanilah, Juhoon yang dari semalam menangis tidak mau berhenti."
Juhoon berteriak geram, entah untuk dirinya sendiri atau Martin. "Aku tidak sanggup! Aku menyerah! Aku akan... aku akan... mengambil hati Martin!" Itu seperti deklarasi.
Semua orang menatapnya, tidak kaget, hanya seperti: ya, aku tau kamu akan melakukan itu suatu hari nanti. Juhoon mencibir melihat reaksi teman-temannya yang tidak antusias.
"Kalian tidak mendukungku menjadi kekasih Martin?" Tanya Juhoon kesal, bibirnya mengkerucut.
Keonho menaikkan alisnya, "Oh? Jadi kamu bukannya ditolak Martin? Atau, apa sekarang kamu akan mengatakan: Martin, aku mencintaimu, maukah kau menjadi kekasihku sekarang?" Keonho memperagakan gerakkan anehnya yang membuat Juhoon ingin memukul.
"Mungkin akan langsung dicium oleh Juhoon." Naomi berucap tanpa rasa bersalah, yang sialnya membuat wajah Juhoon memerah seperti tomat. Pikiran tersembunyinya diketahui.
James dan Seonghyeon menunjuk wajah Juhoon. "Wah, tubuhnya jujur sekali."
"Maaf, ya. Tapi aku memang jujur orangnya."
"Oh, ya? Kemarin waktu kelas Herbologi kamu pura-pura sakit." Cetus Naomi dan membuat Juhoon kalah.
"Itu hal yang lain. Sudahlah, ayo belajar, kita akan ujian setelah ini!"
Besok adalah waktu ujian, semua orang mempersiapkannya dengan baik. Juhoon melihat kertas yang acak-acakkan, atau bahkan ramuannya yang sedikit sulit untuk dibuat. Semua orang sibuk, Juhoon sedang mengaduk ramuan sampai akhirnya yang warnanya cantik, berubah aneh sewaktu keringat Juhoon masuk.
"AH, SIALAN! AKU SUDAH MELAKUKAN INI TIGA KALI!" Juhoon menendang mejanya kesal. Besok adalah waktu ujian praktek ramuannya. Tetapi, ramuan yang dibuat Juhoon tidak berhasil hanya karena keringat yang masuk ke dalam kuali.
Saat Juhoon hendak memukul bukunya, pintu ruang kelas terbuka, menampilkan Martin yang sudah membawa banyak sekali buku. Tangan Juhoon berhenti di udara, bibirnya terbuka kaku ketika harus berhadapan dengan Martin tanpa direncanakan.
Karena yang Juhoon ketahui adalah: Martin meminta mereka berjauhan selama OWL.
Juhoon 'kan baik hati, makanya dia tidak menemui Martin selama ini. Jadi, sekarang ia bingung sendiri harus bagaimana, padahal kemarin saja Juhoon bisa tidur di tempat Martin tanpa rasa bersalah.
Setelah beberapa detik yang begitu canggung bagi Juhoon, akhirnya Juhoon merubah posisi. Tangan berada tepat di kedua sisinya, bahunya lurus, kaku.
Martin menunjuk keluar, "Aku akan cari yang lain."
"Martin!" Pekik Juhoon tertahan, bahkan dirinya kaget mendengar suaranya yang sedikit melengking.
Martin menaikkan alisnya, "Kenapa?"
Juhoon melirik kualinya. Ia kembali menatap Martin, hembusan panjang membuat Juhoon lebih tenang. "Bisakah kau menemaniku di sini? Aku tidak bisa fokus sekarang."
Begitulah Juhoon. Juhoon akan membutuhkan Martin, tubuhnya akan merasa tenang jika ada Martin di sampingnya, karena menurut Juhoon selama hidupnya: kalau ada Martin, semua akan baik-baik saja.
"Aku tau kamu meminta waktu—"
Martin memotong ucapan Juhoon, "Ya. Tentu saja aku akan menemanimu, Juhoon."
Martin mengambil tempat duduk paling dekat dengan Juhoon, ketika Martin sudah fokus dengan kegiatan belajarnya dan sesekali melambaikan tongkagnya untuk membentuk mantra, Juhoon sedikit menyesali permintaannya.
Juhoon tidak bisa fokus.
Tangannya gemetar, otaknya berpikir bahwa apapun yang akan Juhoon lakukan akan diperhatikan oleh Martin dan Martin akan menilai kelakuannya. Semua pikiran buruk keluar memenuhi diri Juhoon yang sekarang merasa tidak percaya diri.
Martin melihat Juhoon yang tidak melakukan apapun, tatapannya gelisah dan tangannya seperti ragu mengambil bulu ekor unicorn berwarna abu-abu. Apakah Juhoon tidak nyaman Martin ada di dekatnya? Tapi apa yang membuat Juhoon tidak nyaman, bahkan Juhoon tidak mengetahui perasaan cinta yang dimiliki Martin pada Juhoon.
"Kalau kamu ngga bisa fokus—"
Juhoon memberhentikan Martin yang hendak berdiri, tangannya menyentuh lengan Martin. "Ngga! Jangan pergi! Tetap di sampingku, aku hanya butuh waktumu satu jam. Apakah itu memberatkanmu?"
"Tidak. Kamu tidak akan pernah memberatkanku, Juhoon. Aku tidak suka pemikiranmu yang seperti itu." Ujar Martin merasa tidak senang, wajahnya bahkan mengeras, Juhoon meneguk ludah melihat betapa dominannya Martin sekarang.
"Boleh aku memelukmu?"
"Ya?" Beo Martin.
Juhoon tersentak. "Sewaktu kecil kita sering melakukannya."
Martin memeluk Juhoon tanpa banyak tanya, menyembunyikan wajah Juhoon pada dada bidangnya. Juhoon dapat merasakan wangi pinus yang menguar dari Martin. Juhoon bahkan merasakan Martin yang mengelus punggungnya, membuat tubuh Juhoon mendesir hebat.
"Tetapi sekarang kita sudah dewasa," Kata Martin pelan, hidungnya mencium pucuk kepala Juhoon yang wangi teh segar. Matanya terpejam menikmati momen yang diberikan oleh Juhoon. Martin merasakan hatinya yang diremas keras ketika mengingat bahwa Juhoon tidak menyukainya.
Juhoon merasakan pelukan yang Martin begitu erat, sangat erat, seperti tidak akan melepaskan Juhoon begitu saja.
"Martin?" Suara Juhoon sedikit susah keluar karena pelukan Martin.
"Sebentar saja, biarkan seperti ini."
Dan Juhoon membiarkan dirinya dipeluk dengan hangat oleh Martin.
Tahun kelima dijalani dengan naik turun. Ujian OWL dilaksanakan dengan suasana yang berat dan suram. Tetapi, Juhoon merasa senang sekarang. Bahwa setelah ini, Martin tidak akan menjauhinya. Bahwa setelah ini, Juhoon bisa mendekati Martin lebih dekat.
Tahun Keenam.
Martin merasakan dirinya yang sesak sewaktu Juhoon mengetuk pintu kamarnya, sudah hampir sepuluh menit Juhoon berdiri di depan kamarnya, dan Martin tidak bisa untuk membuka pintu, karena mungkin, jika Martin membuka pintu dan melihat wajah Juhoon. Martin tidak akan sanggup lagi menahan diri.
Diusianya sekarang yang tujuh belas tahun, mereka tidak lagi sama. Martin, tidak lagi sama. Ia bukan lagi seseorang yang akan menerima perlakuan Juhoon tanpa membawa perasaannya. Hal itu membuatnya terkekeh hambar, menyedihkan, memalukan. Hanya demi dirinya sendiri, ia rela membuat bingung orang yang dicintainya.
Apakah dirinya yang membuat persahabatan mereka hancur? Ya. Perasaan menjijikan itu datang dari Martin sendiri, membuatnya malu dari dalam, membuatnya harus berbohong yang sialnya tidak bisa Martin lakukan.
Ketukan pintu terdengar lebih lemah dari biasanya, Martin berdoa bahwa dua minggu lagi datang dengan cepat, karena jika Martin berada di Hogwarts, ia akan mudah menghilang dari jejak Juhoon.
Perlakuan Juhoon juga membuatnya bingung. Juhoon mengatakan bahwa laki-laki itu tidak menyukainya, tetapi kenapa Juhoon menjauhi Martin? Kenapa Juhoon datang dengan wajah cerianya dan tatapan penuh puja yang tidak dapat disembunyikan anak itu dengan baik? Kenapa Juhoon seolah-olah memberikan Martin yang selama ini ia inginkan?
Menyedihkan. Juhoon selalu seperti itu, itu hanya tindakan biasa bagi Juhoon. Memelukku, menempelkan bahunya tanpa rasa bersalah... ah, benar, karena memang Juhoon tidak pernah bersalah.
Pikiran itu membuat Martin semakin malu. Lalu, suara Ibunya terdengar lembut, memasuki indera pendengaran Martin.
"Sepertinya Martin sedang tidak ingin diganggu," Suara itu terdengar, Juhoon menarik tangannya dari gagang pintu.
Suara Juhoon yang mengecil dan tarikkan napas yang berat dapat ditangkap oleh Martin. "Tapi Martin tidak pernah mengunci pintunya." Ujarnya, terdapat kebingungan yang telanjang.
Martin menahan napas, itu memang sudah terjadi. Martin mengunci pintu, selalu, karena ia takut, sungguh takut.
"Juhoon, kalian sudah dewasa. Mungkin... Martin ingin memiliki ruang privasinya sendiri?" Suara Ibunya terdengar kembali, mencoba memberikan pengertian.
Tidak. Bagi Martin, jika itu Juhoon, ia akan membukanya lebar-lebar. Tapi untuk sekarang, itu menjadi kebenaran sementara.
Mata Juhoon memandang cahaya dari celah bawah pintu yang terlihat, Martin ada di dalam, lampunya menyala. Lalu, Juhoon melihat tangannya, itu benar, Juhoon tumbuh, Martin juga sama. Usia mereka sudah tujuh belas tahun, waktu di mana mereka membutuhkan ruang menyendiri.
Lalu, dengan keteguhan hati bahwa semua orang membutuhkan waktu. Juhoon kembali mengetuk pintu, membuat daun telinga Martin bergerak-gerak. "Martin? Kau mendengarku, kan? Aku akan pergi sekarang, jadi... nikmati waktu yang kamu butuhkan. Datangi aku, ya, nanti?" Suara Juhoon sungguh penuh harap, tenggorakannya tercekat.
Martin menganggukkan kepalanya dengan mulut yang menggigit pergelangan tangan, menghalau suara tangis yang akan keluar.
Suara kaki perlahan menjauhi kamarnya. Martin memohon ampun kepada Juhoon dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Ketika mereka akhirnya kembali ke Hogwarts, Martin merasa lega. Berbeda dengan Juhoon yang kecewa, ia ingin mendekatkan dirinya pada Martin, walaupun bukan sebagai sepasang kekasih, paling tidak mereka bisa selalu menjadi sahabat. Makanya, sekarang ketika Hogwarts begitu luas, dalam perspektif Juhoon yang baru saja sadar. Juhoon akan kesulitan memiliki waktu dengan Martin.
Saat mereka diumumkan akan ada Turnamen Triwizard yang mendatangi sekolah sihir lain, Hogwarts.
Suasana begitu meriah, berbeda dengan Martin dan Juhoon.
"Kamu mau ikut turnamen?" Eugene bertanya pelan, walaupun wajah Martin seperti orang yang tidak ingin diganggu.
Martin menatap meja Hufflepuff, fokusnya pada Juhoon dengan rambut yang hampir mengenai alis, wajah Juhoon cemburut, seperti tidak ada semangat diri.
"Ya, aku akan ikut." Balas Martin.
Thomas memandangnya berbinar, "Wah? Aku akan berdoa kamu yang terpilih dan memenangkan turnamen!"
Martin tidak membalas, ia melihat Juhoon. Memperhatikan bagaimana Juhoon hanya memainkan makanannya. "Dikejar, jangan diam saja. Jangan menyerah hanya karena Juhoon tidak menyukaimu."
"Itu sulit," Ujar Martin.
"Aku tau."
"Lalu kenapa mengatakannya padaku?"
Eugene memutar matanya, "Serius deh. Mengatakan itu gampang, tapi kamu harus yakin karena kamu sering mengatakannya, tubuhmu akan melakukan itu."
Martin melihat Juhoon yang berdiri. Martin menegakkan punggungnya ketika Juhoon menatapnya tajam, percaya diri dan langkahnya pasti. Ketika Martin hendak kabur, Eugene menahan lengan Martin.
Juhoon berdiri tepat di belakang punggung Martin. "Wah," Ujarnya mendengus kesal. "Kamu sungguh ngga mau lihat wajahku yang cantik?" Tanya Juhoon tajam, sukses membuat ketiga orang di depannya terkaget, terutama Thomas yang sekarang memandangi Juhoon tidak senang.
Juhoon menepuk bahu Martin. "Tidak sopan, lho, membelakangi orang yang mengajakmu bicara, Martin Edwards!"
Martin langsung memutar tubuhnya, ia berdiri, Juhoon mencibir ketika tingginya Martin membuat ia mendongak. "Mending kamu duduk aja, aku jadi sulit bicara kalau kamu berdiri. Aku merasa diledek jika seperti ini."
Martin tanpa banyak bicara duduk, mengikuti perintah Juhoon. "Jangan membuatku lelah, ya? Sekarang, apa kamu ingin menjauhiku lagi? Seperti dulu? Kamu serius bakalan ngira aku biarin begitu saja?"
Martin memandang wajah Juhoon yang cerewet. Ah, benar. Wajah Juhoon sangat cantik untuk ukuran laki-laki.
"Aku sedang bicara! Kamu dengar aku tidak, sih?" Tanya Juhoon kesal. Martin justru malah berdiri, ia memegang lengan Martin dan mengajaknya keluar dari aula.
Sesampainya mereka di kelas kosong. Juhoon yang tadinya cerewet segera menutup mulutnya cepat. Jantungnya tidak sanggup jika hanya berdua dengan Martin.
"Oke. Sekarang aku dengar, apa yang ingin Juhoon katakan?" Martin bertanya lembut, meruntuhkan sebentar pertahanannya demi Juhoon.
Juhoon merasa otaknya eror. Wah, ia tidak bisa seperti ini.
"Katakan sekarang. Aku tidak punya waktu banyak." Martin mendengus, berpura-pura kesal, padahal di dalam dirinya ia begitu memuja Juhoon.
"Tidak ada. Aku hanya merasa kalau kamu menjauh dariku," Balas Juhoon, memainkan jemarinya.
"Aku tidak menjauh darimu," Lirih Martin, menatap Juhoon yang hanya terdiam dengan bibir bawahnya yang digigit. Martin tidak ingin menghentikannya.
Juhoon mengambil tangan Martin, memainkan jemarinya di sana. "Kalau gitu, peluk aku. Aku sedang berantakkan."
Martin menggerakkan matanya, wajahnya mengkerut. "... tidak bisa."
"Kenapa? Katanya kamu tidak menjauh." Juhoon sedikit merasa kesal.
"Kita sudah dewasa." Kata Martin hambar, lebih memperingati dirinya sendiri.
"Memangnya orang dewasa tidak boleh berpelukkan?"
Bukannya menjawab pertanyaan Juhoon, Martin menarik tangannya pelan. Ia memandangi Juhoon yang menunduk dalam, entah apa yang sedang dipikirkan oleh Juhoon. "Aku harus pergi, tidak ada yang ingin kau katakan, kan?"
Juhoon terdiam. Maka dari itu Martin memilih untuk pergi, meninggalkan Juhoon di ruangan kelas yang kosong dengan rasa sesak yang langsung menghampirinya. Kenapa Juhoon tidak bisa mengucapkan bahwa ia mencintai Martin? Kenapa? Kenapa bibirnya kelu? Kenapa tanpa disadari perasaan itu tertahan?
"Kamu sudah memasukkan namamu?" Tanya Eugene penasaran.
Martin mengangguk, baru saja ia memasukkan namanya ke Goblet of Fire, dan pemilihan akan dilangsungkan pada tanggal 31 Oktober.
"Wah, aku deg-degan banget!"
Semua siswa Gryffindor bersorak gembira ketika banyak yang memasukkan namanya, mereka akan mendukung siapapun yang mewakili Hogwarts.
Juhoon meletakkan dagunya pada tangan, melihat Martin yang asik bercanda gurau dengan Eugene. Lalu, bibirnya mencibir karena cemburu. Apa-apaan si Martin? Kenapa Martin terlihat baik-baik saja.
"Jangan terlihat cemburu banget," Naomi berkata pelan, berbisik di telinga Juhoon yang langsung mendengus tajam. Seonghyeon tertawa mendengarnya, Juhoon akhir-akhir ini selalu cemberut, atau semua hal terasa salah.
"Sudahlah, siapa di sini yang memasukkan namanya di Goblet of Fire?" Keonho bertanya antusias, hampir semua orang di sana tidak mengangkat tangan.
"Kalian seriusan tidak ikut?" Tanya Juhoon tidak percaya.
"Tentu saja! Lagipula apa yang bisa aku beri berikan di Triwizard. Turnamen itu sedikit mematikan!" James menjelaskan terkait yang ia ketahui tentang turnamen Triwizard.
"Tapi aku tidak sabar sih untuk menontonnya," Lanjut James dan mereka mengangguk bersama-sama. Tentu saja, pasti akan seru sekali dapat menonton turnamen dan mendukung sekolah mereka.
Malam hari tanggal 31 Oktober datang lebih cepat dari perkiraan.
Semua sekolah merasa tegang. Saat Dumbledore mendekatkan diri pada Goblet of Fire dan api piala tersebut berwarna biru serta mengeluarkan suara percikan diikuti oleh kertas yang diambil oleh Dumbledore.
"Damian Krum dari Durmstrang!" Suara pemberitahuan itu mengudara dan suara sorakan terdengar keras.
Berikutnya, Goblet of Fire kembali mengeluarkan kertas. "Jasmine Ravenscroft dari Beauxbatons!" Siswa perempuan Beuxbatons bernyanyi mendengar nama Jasmine yang terlihat begitu elegan dan bijaksana.
Saat terakhir kertas tersebut keluar dengan begitu magis. Siswa Hogwarts menantikan nama siapa yang keluar.
Dumbledore membaca kertas tersebut sejenak, "Martin Edwards dari Hogwarts."
Mendengar nama sahabatnya disebut, Juhoon mengangguk singkat, sampai akhirnya sadar bahwa Martin mengikuti turnamen yang mematikan. Matanya dengan cepat mencari Martin yang sedang dikerubungi oleh teman-temannya.
Bahu Juhoon digoyangkan oleh Naomi yang terlihat sangat bangga pada Martin. Juhoon sendiri bangga, kok. Hanya saja, ia bingung harus bereaksi seperti apa. Kenapa Martin tidak bercerita padanya bahwa dia mengikuti turnamen? Apakah Juhoon sudah bukan sahabatnya lagi? Kenapa Martin harus menyembunyikan tentang itu.
Entah kenapa, itu membuat Juhoon marah sekaligus kesal. Ketika makanan muncul di atas meja, Juhoon langsung mengambilnya dan memakan dengan cepat, sesudahnya pergi begitu saja. Prinsip Juhoon adalah: tetap makan ketika ia marah.
Martin mengamatinya, ia tau bahwa Juhoon kecewa. Tetapi, ini adalah satu-satunya kesempatan bagi Martin bahwa ia bisa menjauhkan dirinya dari Juhoon. Lalu kembali seperti dulu, Martin yang menganggap mereka adalah sahabat.
Di sisa hujan yang turun satu jam yang lalu, Juhoon melangkahkan kakinya menuju Hutan Terlarang. Ia kemudian mendudukkan dirinya pada batang pohon yang tumbang, di bawah kakinya Aragog kecil berdiri, matanya menatap lurus ke kegelapan. Tongkat Juhoon memancarkan cahaya, Juhoon termenung.
"Kamu seperti tidak baik," Ujarnya pelan, tetap pada posisinya yang tidak bergerak.
Juhoon justru mengamati tubuh itu, "Aku belum memberikan nama resmi. Boleh aku menamaimu Redred? Matamu merah dan banyak..." Ujarnya salah fokus ke hal lain.
Tetapi, Redred hanya mengatakan 'ya' yang mampu didengar Juhoon. Jadi, Juhoon sudah siap bercerita pada sahabat kecilnya yang spesial ini.
"Aku merusak persahabatanku bersama Martin karena aku memiliki perasaan padanya," Juhoon memulai dengan pengakuan yang besar, lebih kepada jujur dengan diri sendiri.
"Tapi, tidak ada yang tau, hanya teman-temanku dan mereka diam. Sekarang, Martin tidak mau memberitahukan hal penting padaku."
"Kamu mencintainya?" Pertanyaan Redred sedikit melenceng, ia hanyalah hewan yang mau menjadi teman cerita Juhoon.
Juhoon terdiam, dua detik, lima detik. Sebelum akhirnya mengangguk pelan, mengakui perasaannya kepada Martin dengan tenang. "Ya. Aku mencintai Martin sampai rasanya begitu salah." Ujar Juhoon pelan. Sungguh, Juhoon merasa malu dengan dirinya karena sudah merusak persahabatan mereka. Ia berharap, Redred memahami perasaan Juhoon.
"Kalau gitu, kamu cuman punya satu hal. Perjuangkan cintamu dan hancurkan persahabatan kalian, atau perjuangkan persahabatan kalian dan hancurkan dirimu." Redred berkata seperti pakar cinta.
Juhoon sedikit memujanya atas pemikiran yang luar biasa itu. Hanya ada satu. Persahabatan atau cinta. Juhoon menunduk, membiarkan kesunyian dan rasa dingin dari hujan menusuk tubuhnya.
"Kamu memilih yang mana?"
Apa yang harus Juhoon pilih atas semuanya?
Martin sebagai sahabatnya, atau Juhoon atas perasaannya sendiri?
Bolehkah Juhoon egois untuk kali ini?
Setelah berkelut dengan pikiran yang tidak akan ada habisnya. Juhoon menemukan jawaban, ia berdiri, sedikit membungkukkan diri kepada Redred dan berucap hormat. "Terima kasih."
Di pagi harinya saat Juhoon duduk di pinggir kasur, ia mendengar Justin yang berbicara dalam tidur, padahal hari sudah hampir siang, tetapi temannya itu belum juga bangun. Beberapa menit kemudian, Juhoon sudah rapih, ia sudah duduk di ruang rekreasi yang hangat.
"Katanya nanti mereka melawan naga!" Seru salah satu murid kelas tiga, Juhoon yang sedang bersantai mempertajam telinganya.
"Serius?"
"Iya, mereka juga udah pilih naganya. Martin dapat yang paling sulit!" Balas anak itu lagi.
Juhoon menegakkan punggungnya, Martin dapat yang paling sulit, jenis naga apa yang didapat oleh Martin? Juhoon berdiri dengan cepat, ia akan menghampiri Martin dan mencoba membantu sahabatnya... sebagai seseorang yang tidak ingin kehilangan cintanya.
Saat Juhoon menemui Martin yang tertidur di perpustakaan dengan posisi yang tidak nyaman setelah mencarinya duapuluh menit, Juhoon terdiam sebentar, memperhatikan wajah Martin yang tampan. Di lipatan mata Martin, air mata sedikit terbentuk dan Juhoon dengan tangan yang kaku menyentuhnya, merasakan kulitnya yang dingin.
Apa yang dimimpikan Martin sampai ia menangis bahkan dalam tidur?
"Martin," Juhoon menyentuh pelan bahu Martin, dan dengan cepat Martin terbangun. Ia tidak tahu bahwa dirinya akan tertidur di perpustakaan.
Martin memandangi Juhoon yang sekarang duduk di dekatnya, sedikit ada celah di antara mereka. Juhoon mengamati setiap wajah Martin, membuat Martin meneguk ludahnya susah payah. Tatapan Juhoon begitu lembut, membuat Martin menginginkan bahwa itu hanya miliknya.
"Jangan menghindariku." Juhoon menyentuh lengan Martin, ukuran perbedaan terlihat jelas, lengan Juhoon yang kecil dan milik Martin yang besar. Juhoon sedikit terkekeh.
"Kata mereka kamu dapat naga yang paling sulit? Apa kamu sekarang sudah tau harus melakukan apa?" Tanya Juhoon lembut, tidak memaksa Martin memberitahukannya.
Martin memperhatikan cara Juhoon yang berbicara. Martin merindukan Juhoon, sangat merindukannya sampai membuat Martin gila sendiri. "Aku sudah tau harus melakukan apa."
"Itu sebentar lagi, aku tidak bisa tenang."
"Aku tau," Balas Martin pelan.
"Aku khawatir," Lirih Juhoon.
Martin tersenyum simpul. "Itu sangat dirimu."
"Aku—"
Martin memotong perkataan Juhoon yang mungkin akan keluar batas. "Juhoon. Aku di sini."
Bahu Juhoon terguncang, Martin tau bahwa sahabatnya sudah dalam posisi menggigit bibir agar suara tangisnya tidak terdengar. Melihat hal tersebut Martin meruntuhkan egonya, ia memeluk Juhoon.
"Maafkan aku," Ujar Juhoon sambil terkekeh dalam pelukan Martin. "Aku niatnya mau membantu, tapi malah menangis." Akunya dan membalas pelukan Martin, merasa nyaman dan menang kecil. Tapi sungguhan Juhoon khawatir.
Juhoon merasakan punggungnya diusap kecil, "Terima kasih sudah mengawatirkanku." Martin memeluk Juhoon lebih erat.
"Bisakah kita terus seperti ini?" Juhoon mengangkat kepalanya, dagunya ia taruh di dada Martin yang terdengar sangat... cepat.
"Aku harus menyiapkan diri," Kata Martin.
"Aku tidak akan menangis lagi." Juhoon mengaitkan jemarinya di belakang Martin, mengunci posisi mereka.
"Ini perpustakaan." Martin mencari alasan.
"Ayo kita cari tempat kosong," Saran Juhoon yang membuat Martin menghela napas lelah.
"Kamu menyayangiku, kan?" Pertanyaan aneh dari Juhoon membuat dada Martin berdesir.
Perasaan sayang apa yang dimaksud Juhoon? Karena semuanya terdengar masuk akal jika Martin mengatakan ya.
"Tentu, kamu selalu bertanya tentang itu."
Juhoon memainkan jemarinya di punggung Martin yang kaku. "Kalau sayang tidak akan menjauh," Kata Juhoon pelan, terdengar begitu sedih. "Kalau sayang... harusnya mendekat." Lanjut Juhoon, membuat Martin mengerutkan keningnya bingung.
Apa maksudnya?
"Juhoon," Martin ingin menjauhkan Juhoon. Tetapi karena penguncian yang dibuat Juhoon, Martin tidak bisa melepasnya.
"Apa salahnya seperti ini?" Juhoon terdengar kesal. "Kita hanya melakukan pelukan persahabatan."
"Jangan katakan itu," Balas Martin tajam, ucapannya tidak senang. Juhoon mengucapkan hal itu seperti itu adalah hal biasa, bahwa tidak ada apapun yang berubah di antara mereka.
Padahal, dalam diri Juhoon, ia mengatakannya karena takut Martin akan marah kalau Juhoon bermaksud lain.
"Baiklah, terserah kamu mau mengatakan apa!" Juhoon tetap tidak mau merubah posisi mereka.
"Juhoon!" Martin mencoba menyadarkan Juhoon.
"Tidak mau," Juhoon mengeratkan pelukannya.
"Juhoon," Suara Martin melembut, membuat Juhoon merinding. Wajahnya seketika memanas mendengar panggilan itu. Kemudian, ia melepaskan pelukannya dengan kaku dan pelan, menyembunyikan wajahnya dari penglihatan Martin.
"Aku akan tetap di sini!" Juhoon menaruh kepalanya di lipatan kedua tangannya di atas meja. Martin hanya diam, diamnya yang sedang menenangkan dirinya karena di dalam pikirannya terjadi berantakan akibat Martin yang terlalu senang.
Martin membiarkan Juhoon di sampingnya. "Aku dapat Hungarian Horntail, katanya bagian belakang naga itu sama bahayanya dengan bagian depan. Aku tidak akan menyuruhmu untuk tidak khawatir." Martin berbicara lirih, Juhoon tetap mendengarkan dalam posisinya yang dalam mode mengambek.
Martin menyentuh lambut Juhoon yang tebal, mengusaknya pelan, sedikit tersenyum yang tidak membentuk garis mata, tetapi tatapan Martin terlihat bahwa ia begitu mencintai Juhoon. "Khawatirkan saja aku sebanyak yang kamu mau," Tutur Martin begitu lembut dan pelan.
Membuat orang di seberang mereka yang dapat mendengar ucapan Martin sedikit terkekeh geli, orang gila macam apa yang menyuruh orang lain mengkhawatirkan dirinya? Biasanya, orang lain akan bilang: jangan khawatir, aku baik-baik saja.
"Kalian lucu, semoga selalu bersama terus, ya?" Siswa tahun kedua yang sedang membaca buku berbicara karena tidak mampu menahan gemas sekaligus geli yang ingin ia rasakan. "Ah, aku harus dapat kekasih sepertimu, Edwards." Lanjutnya sedikit merajuk.
Juhoon memperlihatkan matanya yang sudah menajam. "Dia milikku!" Serunya yang membuat Martin menegang kaku.
"Aku bilang 'seperti' bukan berarti itu harus kekasihmu!" Ujarnya memberi Juhoon perhatian.
Kata kekasihmu yang ditunjukkan anak kecil itu untuknya dan Juhoon sedikit membuat Martin salah tingkah. Ia terbatuk sedikit dan mengangkat jarinya kasar. Ia menunggu Juhoon memarahi bocah tersebut, mengatakan yang sebenarnya. Tapi, justru Juhoon mengulum bibirnya malu dan wajahnya memerah.
Hal itu sukses membuat Martin semakin bingung dan membuat dirinya berpikir ada harapan untuk mereka.
Saat mereka sudah selesai dengan kegiatannya, Martin berpisah dengan cepat.
"Naomi," Panggil Martin saat Naomi sedang bercanda dengan James. Mereka mungkin hendak menuju kelas bersama.
Mendengar panggilan Martin, Naomi berhenti sejenak dan menaikkan alis.
"Bisa kau berikan cokelat pada Juhoon? Agar ia tetap bisa tidur." Martin memberikan cokelat berbentuk kotak-kota. "Masukkan saja ke minumannya." Lanjut Martin, mendengar hal tersebut yang sangat perhatian membuat hati Naomi tersentuh dan ia pun tersenyum hangat.
"Tentu." Balasnya merasakan Martin yang begitu mencintai Juhoon. Betapa beruntungnya Juhoon memiliki Martin.
Hari di mana turnamen pertama sudah tiba.
Sesuai dengan permintaan Martin dan pemgetahuannya yang sudah bersama Juhoon belasan tahun, Juhoon sungguh sulit tidur beberapa hari terakhir. Bahkan, Naomi harus memberikannya cokelat lebih banyak dari biasanya sehari sebelum turnamen dimulai.
Juhoon dengan cepat berlari menuju tenda tempat di mana para juara berada.
Martin di dalam tenda mengepalkan tangannya, ia gugup, tentu saja, bagaimana jika dirinya melakukan kesalahan dan tidak selamat? Apa yang terjadi pada Juhoon setelahnya?
"Lihat kekasih siapa di sana?" Seorang jurnalis yang bertugas pada turnamen Triwizard mengatakan dengan nada halusnya ketika melihat Juhoon yang menatap Martin takut-takut.
Martin langsung menghampiri Juhoon.
"Martin?" Tanya Juhoon, memastikan bahwa di depannya adalah Martin, sahabatnya, seseorang yang ia cintai.
"Ini aku," Balas Martin lembut, seakan sudah tau kepada siapa ia berbicara.
Juhoon langsung memeluk Martin erat, mencurahkan perasaan khawatirnya pada Martin. Menghirup aroma pinus milik Martin yang menenangkan.
"Apapun yang terjadi, jangan tinggalin aku." Ungkap Juhoon, suaranya mengecil, memohon pada Martin yang membalas pelukan Juhoon sama eratnya.
"Iya. Aku ngga akan ninggalin kamu," Lirih Martin, berjanji pada dirinya sendiri bahwa dirinya akan selamat, bahwa nanti saat ia membuka mata, Juhoon ada di depan dirinya.
"Semangatin aku di luar sana, aku butuh kamu." Martin mengatakannya sambil melepaskan pelukan mereka, Juhoon sebenarnya tidak rela untuk benar-benar melepaskan Martin, ia bahkan sempat mencengkram erat baju Martin sampai kusut.
Martin menggenggam kepalan tangan Juhoon, mengelus jemarinya pada tangan Juhoon yang halus. "Serius, aku beneran butuh kamu, Juhoon." Martin mengucapkannya, bukan untuk Juhoon, tetapi lebih kepada dirinya sendiri.
Juhoon menggerakkan bibirnya, menimang apakah ia memang harus membiarkan Martin pergi.
"Mar—" Suara terputus saat Martin memeluknya kembali, jauh lebih erat, tetapi Juhoon merasakan bahwa beban yang dibawa Martin hilang saat ini. Jadi, Juhoon menyamankan dirinya pada pelukan Martin, "Aku juga butuh kamu, makanya kembali padaku nanti." Tutur Juhoon pelan.
Juhoon menggigit bibirnya saat ia melihat api dari mulut naga mengenai baju Martin di bawah sana. Walaupun kaki naga itu di rantai dan ada sebuah Telur Emas berisikan petunjuk tugas berikutnya yang harus diambil oleh Martin, naga tersebut tetap leluasa untuk menyerang Martin.
Martin kelihatan sulit bernapas, keringat deras bercucuran di wajahnya yang tampan. Semua orang tegang, bahkan Juhoon yang sudah mulai berpikir bahwa seharusnya ia ikut di dalam sana bersama Martin.
Tapi, Juhoon tau bahwa Martin pasti bisa.
Turnamen pertama berlangsung selama mungkin, sampai para juara berhasil merebut telur emasnya.
Martin mengularkan tangan perlahan, matanya memperhatikan naga tersebut, saat Martin hampir sampai, kakinya justru terkena sisik naga di bagian ekornya, hal itu sukses membuat Martin kesakitan. Ia bersembunyi di tempat kecil, membuat naga yang kurus namun mematikan itu kesulitan menangkapnya.
"MARTIN!"
Martin mendengar teriakkan Juhoon yang memilukan hatinya. Kakinya yang berdarah menghindar dengan tertatih saat naga tersebut mengeluarkan apinya.
Ia menggigit lengannya, berpikir apa yang harus ia lakukan ketika Telur Emas sekarang berada di seberangnya dengan kaki yang terluka. Pikirannya berkecamuk, bagaimana ia tetap selamat demi dirinya sendiri dan Juhoon. Lalu, saat matanya bersitatap dengan Juhoon yang menatapnya penuh keyakinan, Martin mengeluarkan tongkatnya.
"Accio!" Ujarnya, tidak lama kemudian sapu terbangnya berada di hadapan Martin. Ia langsung menaiki sapu tersebut tanpa ragu.
Martin membelokkan sapu terbangnya seperti orang yang sudah mahir, dan pada kenyataannya adalah Martin ahlinya dalam menggunakan sapu terbang. Ia menjauhi tempat yang berbentuk koloseum kecil.
Naga tersebut dengan ganas berhasil melepaskan rantainya, mengejar Martin yang dengan cepat melaju, sampai titik di mana dia berhasil mengambil Telur Emasnya dan naga tersebut segera diamankan.
Saat mendarat dengan kakinya yang berdarah, Martin sudah disambut dengan Juhoon yang mengeluarkan tongkatnya. Mengarahkan tongkat tersebut pada kaki Martin yang terluka.
"Vulnera Sanentur!" Ujar Juhoon lantang, membuat luka Martin tidak lama kemudian tertutup, dan Martin dapat melihat Juhoon yang menjatuhkan tubuhnya ke tanah karena merasa lega.
"Kamu benaran buat aku khawatir," Kata Juhoon sambil mengelap keringatnya yang keluar deras, ia daritadi panas dingin.
Martin terkekeh kecil melihat reaksi Juhoon. "Aku senang kamu khawatir," Balas Martin membuat Juhoon ingin memukulnya.
"Wah, ngeselin banget jadi orang!" Juhoon berdiri begitu saja. Ia kemudian pergi meninggalkan Martin yang sibuk memeluk Telur Emasnya itu.
Di langkah kecil mereka yang saling menyembunyikan perasaan, Martin beberapa kali menggoda Juhoon dengan memanggil nama laki-laki itu. Juhoon dengan wajah yang pura-pura kesal tetapi merasa penuh hanya menutupi telinganya tidak niat, berniat menggoda Martin kembali.
Juhoon dapat merasakan kaki Martin yang berjalan lebiu cepat, mensejajarkan langkahnya. Lalu, ketika sudah sejajar dengan Juhoon, secara otomatis kakinya mengikuti ritme Juhoon.
"Mr. Kim. Jangan mendiami sahabatmu ini." Martin sebisa mungkin tidak merasa kaku saat mengucapkannya di saat ia sudah tidak merasa seperti itu.
"Kamu bukan sahabatku lagi!" Ungkap Juhoon dengan nada bercandanya, Martin tertawa dengan hal itu, tetapi Juhoon tidak. Juhoon hanya memandangi Martin sampai Martin berhenti melangkah dan membalas menatap Juhoon.
Mata mereka bersitatap. Menyiratkan sesuatu yang masih takut untuk diakui.
Martin memutuskan lebih dulu, ia berdeham, mengatur dirinya agar tidak merasa salah. Ia bersumpah, bawa tatapan Juhoon membuatnya ingin egois, membuatnya ingin... menginginkan Juhoon detik ini juga.
Tidak ada di kamusku sahabat menjadi kekasih perkataan itu terngiang di telinga Martin. Membuat dadanya sesak dan berat. Juhoon tidak mungkin mencintainya.
Tetapi, Martin... ia merasa bahwa tadi Juhoon seakan mencintai dirinya.
"Aku—aku harus mandi." Martin berkata kencang dengan setengah berlari meninggalkan Juhoon yang merasa canggung dengan suasana di sekitar mereka.
Ah, lagi-lagi Juhoon tidak berani.
Lagi-lagi, Juhoon tidak tau harus memilih apa.
Lagi-lagi, mereka kabur.
Sekali lagi untuk kesekian kalinya, Juhoon menyembunyikan perasaannya.
Juhoon dengan bahu lemasnya menuju asrama Hufflepuff.
Pengakuan membutuhkan keberanian. Dan Juhoon maupun Martin, tidak memiliki itu.
