Actions

Work Header

Caine - The Elder

Summary:

Caine Chana, pria lembut sepertinya seorang Elder?

Work Text:

Embun pagi masih menelimuti bangunan megah yang dibangun diatas pulau buatan, bangunan setengah globe dilapisi kaca dan dikelilingi 7 villa mewah. didalam beberapa orang masih sibuk dengan kegiatan restock bahan makanan dan minuman yang akan dijual, Bimo, Istmo dan Hiku, mereka berbincang santai sembari bercanda. tak lama seseorang datang dari pintu utara masuk kedalam mereka bertiga langsung menolehkan pandangan ke orang tersebut, senyum manis dan lambaian lembut dari pria berambut merah yang jalan ke mereka.

"hallo",ucap surai merah dengan lembut lalu dibalas antusias hiku menghampirinya. "mamii, pagi banget mami bangunnya" hiku menghampiri caine dengan gembira, "kebetulan aja, kalian habis dari shift malam kah?" caine berbicara sembari duduk didepan counter. itsmo dan bimo juga bergabung, "iya mi, sekalian nge restock juga buat anak-anak yang lanjut jaga shift pagi" Bimo sebut.


"mau sarapan kah caine? kita ada stock steak kalo lapar, biar aku hangatin aja sekalian", istmo menawarkan sambil mutar untuk masuk ke counter.

caine, menggelengkan kepala, "oh ga papa, aku um ambil americano aja" ucap pria bermbut merah , biasanya caine akan menyiapkan sarapan untuk anak-anak yang lain, tapi untuk hari ini dia berencana bersantai saja.

Bimo bergerak menyiapkan minuman untuk caine dan juga meyiapkan satu potong donat straberry, "ini mih, sekalian aja sama donatnya". caine tersenyum dan menggangguk, "makasih ya"

matahari perlahan mulai muncul dan menghilangkan kabut disekitar, the dome beroperasi 24 jam, namun akan masih sepi ketika pagi masih bersantai dengan americanonya sambil mendengar candaan dan bincangan anak-anaknya,

"mii tau ga mi, bang bimo semalam digodain sama cewek mi" ucap hiku sambil senyum senyum, bimo yang dibicarakan langsung panik dan membela diri "engga mi, itu cuman mau kenalan doang" caine hanya terkekeh dikit, "iyaa"

"um btw, aman kah selama kalian jaga malam?" caine bertanya, istmo, bimo dan hiku bergeleng kepala "aman kok mi, ga ada yang macem-macem" bimo ucap sambil ngelap
gelas, caine ngangguk paham, mata emasnya melihat sekitar bangunan, sepi belum ada pelanggan, lalu dia beranjak dari duduknya "aku coba keliling sebentar ya"

Bimo dan hiku langsung berdiri dan siap untuk menemani mami merka, namun dihentikan oleh caine dengan bilang bahwa dia hanya jalan sekitar. walaupun ragu dan berat
hati mereka akhirnya mengiyakan dan melihat pria dengan pakaian santainya berwarna hitam melangkah keluar. "masih di the dome harusnya aman" ucap istmo.

pria berambut merah itu berjalan santai ke arah taman melihat embun yang masih ada. kakinya mebawa hingga ke pembatasan antara pulau dengan laut lepas, ia berhenti disana dan menatapi laut dengan kosong, nafasnya yang pelan, pikirannya yang kosong dan pandangan yang lurus menatap laut luas. "terlalu kosong", ia ucap dengan pelan.


"apanya yang kosong caine?" suara itu datang dari belakang, langkah kaki yang terdengar dan bau cerutu yang khas, caine tau orang yang dibelakangnya adalah sahabat dan partner bisnisnya. pria tersebut akhirnya berhenti disamping caine sambil menarik dalam cerutunya, "lengah dikit hilang ya kamu" sedikit bercanda dari nada berat pria tersebut
caine terseyum dan sedikit tertawa.

"pagi rion" mata emas itu akhirnya melirik kesamping. "kosong ya" ia ulangin ucapannya, lawan bicaranya hanya berdehem sebagai balasam.
"terlalu lancar, menurut kamu?" ucap pria bernama rion. caine menggelengkan kepala "tidak, aku hanya... bosan".

"tidak ada boneka yang bisa aku mainkan", suaranya sedikit diberatkan, pria berambut ungu itu hanya terkekeh kecil, mengenal yang disamping selama separuh hidupnya dia paham apa yang dimaksud. "tenang caine, tak lama kamu bisa bermain kok" caine yang mendengar tersebut akhirnya memalingkan kepalanya kesebelah. "oh, yang itu" caine melihat tangan kanannya "yon" caine ucap, yang dipanggil melirik ke sebelah, "yang ini, aku mau aku yang urus" mata dari rambut ungu itu melebar ketika mendengar kalimat tersebut dan seringai kejam mulai muncul diantara bibir dan cerutunya.

"as your wish, caine" yang disebut tersenyum manis dan balik menatap laut didepan.

 


 

Malam yang ditutupi awan hitam menyelimuti Kota Glorix, seluruh warga masih melakukan kegiatan sedikit tergesa setelah melihat cuaca malam yang nampaknya akan turun badai cahaya terang dari the dome semakin menyala dan tampak seperti tempat yang paling aman. didalam berkumpul berbagai kalayak seperti anak motor, medis yang lagi off duties, dan tentu Rion anak-anaknya yang kumpul dilantai dua the dome, Echi, Selia dan Ruby yang sedang bermain UNO sedangkan anak laki-laki terlihat heboh berkumpul di meja biliard.

sedangkan si kepala keluarga berbincang dengan dua hitmannya "yang akan jalani misi ini bukan aku yang mimpin, tapi caine. kalian paham dari sini apa prioritas kalian kan?" ucap rion menatap tajam dua pria yang berdiri didepannya. kean dan Riji mengangguk paham "kami mengerti pih".

rion menarik dalam cerutunya sebelum dia bangkit dari duduknya, mendekatkan diri ke mereka "gua ingin dia yang urus, kalian pantau saja dan jaga baik-baik jangan sampai ada kesalahan." ucap surai ungu dengan nada yang dibisikan, ia tidak ingin sedikit pun orang lain mendengar hal ini.

"apa cukup kita berdua aja pih? ajak anak-anak yang lain juga gimana?" Kean bertanya dan memastikan operasi ini cuman dijalankan tiga orang. Rion mengangguk kecil, "caine mau seminimal mungkin, tapi gua dan anak-anak yang lain pantau dari jauh. ini permintaan dari caine, dia mau permainannya tidak terlalu di perhatikan" Rion terkekeh keci lalu mengambil rokok di sakunya, "itu saja, lakukan perintahnya dan jalanin" kedua hitman tersebut mengangguk lalu berpencar.

surai ungu itu beralan menuju jendela, dilihatnya malam gelap menyeimuti the dome, ia sebenarnya ingin sekali ikut berpartisipasi dalam operasi ini, mengingat sahabatnya itu jarang sekali memunculkan diri atau bahkan memimpin misi. namun ia hargai prmintaan caine tanpa berpikir dua kali.

 

Berbeda di the dome yang terihat nyaman dan aman, di sebuah gedung tua jauh dari kota dan jalan besar, gedung yang hanya bisa di akses dengan kendaran tertentu bahakan menggunakan heli jika tidak ingin jatuh ke curam yang dalam. caine berdiri tegap di atap gedung, dengan jas mantel hitam pekat dan sarung tangan kulit yang tebal. penampilan yang sangat misterius untuk berada di tempat seperti itu. mata emasnya menatap kelangit yang kian menggelap, suasana yang sangat ia sukai, namun tatapan itu berubah ke arah kendaraan yang menghampiri gedung ini.

sebuah mobil jeep hitam sedikit kotor dari sisa perjalanan kemari, mobil tersebut berhenti dan pengemudi beserta penumpang didalam akhirnya keluar dari kendaraan. sosok dua pria tersebut melangkah kedalam gedung dan langsung memasuki area.

kedua pria tersebut berdiri tepat dibelakang pria berambut merah yang masih menatap kosong langit hitam, "area clear, tidak ada sedikitpun makhluk hidup kami temukan selain kita" ucap lelaki berambut hitam dengan tattoo di daerah wajah. caine tersadar dan perlahan menghadap kebelakang, seutas senyum lembut dari bibir pria berambut merah.

"mhm, mengerti" anggugkan tipis dari caine lalu ia berjalan mendekati dua riji dan rakean. "ini akan menjadi malam yang panjang."

dia ucap sambil berjalan kedepan dan diikuti oleh rakean dan riji. tapak sepatu dari caine terdengar berat dengan lankah yang tenang, didepan mereka, tiga polisi yang masih berpakaian tugas mereka, terduduk. tangan dan kaki diikat ketat hingga membuat ruam dikulit, mulut yang masih tertutup lakban hitam. mata mereka masih terpejam akibat dari benturan keras di dengkul sebelum mereka dibawa kemari.

caine menarik napas dalam, matanya terpejam sesaat dan terbuka menampilkan mata yang hampir tidak pernah ia perlihat kepada orang tersayangnya. mata emas itu menggelap, tajam dan penuh amarah yang terpendam, senyum yang tidak mengubah lekukan dimatanya membuat seperti orang yang sama sekali tidak mengenal kelembutan.

rakean dan riji bisa merasakan bulu kuduk mereka berdiri, semasa mereka menjadi anggota dan anak-anak yang selalu melihat caine dengan sifat lembut namun tetap ada tegas, momen seperti ini masih menjadi hal yang tabu bagi mereka.

sosok yang dihadapan riji dan rakean hanya pria berambut merah yang sangat ingin melakukan banyak hal dengan tangannya terhadap tiga kepolisian didepan mereka.

.
.
.
.
TBC