Actions

Work Header

a glass of fancy coke

Summary:

Soal Seungmin dan pelanggan setianya yang selalu pesan minuman yang enggak ada di menu.

Notes:

inspired by this

Work Text:

Terlepas dari kenyataan bahwa ia tak pernah bisa menikmati rutinitas minum dan mabuk-mabukan bahkan di titik terendah hidupnya, Jeongin selalu membenci bar; tempat yang pernah menghancurkannya sedemikian rupa.

Bagaimana tidak?

Dari dua orang paling penting dalam hidupnya, Jeongin mendapati yang satu berselingkuh dan yang lainnya berkhianat di tempat dan waktu yang sama.

Melihat bagaimana sang mantan kekasih dan mantan teman baiknya tenggelam dalam sentuhan dan cumbuan yang mereka bagi tepat di depan matanya, Jeongin jelas tak bisa hanya tinggal diam. Membiarkan setitik amarah dan kesedihan yang sudah ditahannya sepanjang jalan meluap begitu saja.

Saking kalapnya, ia merelakan sebotol Cabernet Sauvignon-nya digunakan untuk membasahi dua sejoli yang tengah di mabuk asmara itu alih-alih tenggorokannya. Menghadiahi dirinya sendiri dengan tatapan nyalang dari orang yang saat itu juga resmi jadi mantan kekasihnya, dan juga kepergian mereka yang disaksikannya dari balik pintu kaca. Menyisakan Jeongin yang runtuh-piuh sendirian di belakang.

Namun, entah bagaimana, ada yang berbeda dari speakeasy bar dengan papan nama Twilight di pintu mereka yang ditemukannya tepat setahun yang lalu. Tempat pertama dan satu-satunya bar yang akan selalu Jeongin kunjungi.

“Seperti biasa, 'kan?”

Jeongin tertawa kecil, balik memandangi Seungmin ㅡhead bartender Twilightㅡ yang kelihatan begitu antusias di tempatnya. Tak begitu peduli bahwa Jeongin bahkan belum memijakkan kakinya dengan sempurna melewati pintu kaca.

Mengambil tempat yang menyuguhkan langsung proses pembuatan berbagai macam minuman khas bar mereka, ia lantas menjawab seadanya. “Iya, tolong.”

Dengan itu, Seungmin beralih untuk melakukan pekerjaannya. Meninggalkan Jeongin yang tenggelam dalam suara dentingan dari kristal es yang menyinggung gelas dan desisan dari cairan berwarna pekat yang Seungmin tuangkan ke dalamnya.

A glass of fancy coke for you,” Seungmin berujar, mengulurkan hasil pekerjaan apiknya dan mengundang tawa lain dari sang tamu.

Thank you.”

Setelahnya Seungmin beranjak menuju ruang penyimpanan. Kembali meninggalkan Jeongin yang kini sibuk menilik cairan berkilau yang bisa didapatkan dengan harga jauh lebih murah di toko serba-ada. Tak habis pikir mengapa dirinya masih saja membuang-buang uang hanya untuk minuman karbonasi dalam gelas cantik dan lantunan musik jazz yang diputar semalaman suntuk, ketika di saat bersamaan ia membenci tempat itu dengan seluruh hidupnya.

Lalu, mengapa masih datang ke sana? Orang-orang sering kali bertanya seperti itu, tapi Jeongin tak pernah benar-benar menyuarakannya. Meski mungkin jawabannya berada tidak jauh darinya, Jeongin selalu berusaha menyangkalnya.

“Kenapa enggak diminum?”

Jeongin ditarik kembali ke realita. Melempar pandangan pada Seungmin yang baru saja selesai dengan kegiatannya mengeringkan gelas-gelas kristal, Jeongin lantas mengulas senyum getir dan menggeleng pelan, “Saya lagi mikir aja.”

Seungmin tahu dalam etika kerja, tidak seharusnya ia mencampuri urusan pelanggan. Namun, eksepsi selalu berlaku jikalau sudah menyangkut pelanggannya yang satu ini. “Soal apa?”

Jeongin lantas merebahkan kepalanya di permukaan marmer yang dingin. Ujung berhenti membuat gerakan memutari bibir gelas yang basah. Tanpa sadar berujar lirih, lebih kepada dirinya sendiri. “Saya masih enggak ngerti kenapa kamu selalu bisa punya soda di tempat ini, Seungmin.”

“Memangnya kenapa?”

“Aneh aja, tempat ini 'kan spesialisnya minuman beralkohol.”

“Tapi, itu 'kan permintaan pelanggan. Bahkan kalau kamu minta teh pun, akan saya sediakan. Lalu, apa masalahnya?”

Jeongin mengeryit. Mendapati Seungmin yang telah meninggalkan kain lap dan kini tengah menumpukan kedua lengannya di atas pantry bar menghadap dirinya.

Pertama kali Jeongin memesan soda di Twilight sebelum ia benar-benar mengenal Seungmin, ia ingat sempat dikira gila.

Sebenarnya, ia sendiri tidak tahu mengapa dirinya melakukan itu. Jeongin hanya ingat ia pernah minum soda di suatu bar saat dirinya sedang sangat kalut. Dan Twilight adalah satu-satunya tempat yang ia tahu. Namun, ketika Jeongin sengaja datang ke sana untuk minum soda lagi, seorang rekan kerja Seungmin yang melayaninya kala itu, mengatakan bahwa mereka tak lagi pernah menyimpan stok minuman karbonasi, barang satu jenis pun.

Hampir enggak ada yang minum soda di sini, jadi owner bar ngilangin minuman karbonasi dari menu untuk meminimalisir pengeluaran,” katanya. Mencoba menjelaskan pada Jeongin yang kelihatan linglung dan lebih memilih pergi setelah membuang uangnya untuk sesuatu yang sia-sia.

Maka dari itu, bukankah wajar jika Jeongin tidak mengerti bagaimana cara Seungmin selalu dapat menghidangkan segelas soda untuknya? Ketika sejak awal minuman itu tak seharusnya disediakan di sana?

“Bukannya aneh? Pesanan saya bahkan enggak pernah tercantum di menu kalian. Minho bilang kalau enggak pernah ada stok soda di gudang.”

Seungmin mengangguk setuju. Namun, dengan cepat ia menimpali, “Bukan masalah, saya selalu bisa nyediain soda kalau kamu mau.”

“Kenapa?”

Seungmin mengedikkan bahunya. Melukiskan senyuman yang tak dapat Jeongin artikan, “Mungkin karena kamu selalu mengingatkan saya dengan seorang pelanggan.”

Jeongin yang menangkap binar tak biasa pada dwi manik laki-laki itu lantas balas menatapnya jahil, berniat menggoda. “Pasti perempuan cantik, ya? Kamu suka sama dia, Seungmin?”

Satu anggukkan mantap Seungmin berikan, tanda ia terlanjur tertangkap basah. Sedangkan Jeongin berseru senang, berhasil melukiskan semburat merah di wajah laki-laki itu. Memikirkan cara lain untuk menggodanya lebih jauh.

“Siapa?”

“Rahasia.”

 


 

“Kamu beli soda lagi, Seungmin?”

Seungmin terperanjat. Menghentikan kegiatannya mengisi lemari pendingin khusus pegawai hanya untuk memandang sengit pada Minho ㅡmanajernyaㅡ yang lagi-lagi datang untuk mengganggu.

Pak Minho sendiri enggak pulang?” katanya retoris. Sementara lawan bicaranya justru malah menjadi-jadi, “Enggak bakal pulang kalau kamu masih belum mau cerita!”

Seungmin berdecak mendengarnya, “Ya udah enggak usah pulang aja, saya sih enggak mau nemenin.”

“Dih, jahat! Potong gaji!” yang lebih tua membalas sambil bersunggut-sunggut. Namun, pada detik berikutnya sudah kembali pada mode jahil dan membuat yang lebih muda menatap sangsi karena pertanyaannya.

“Jeongin sebegitu cantiknya, ya?”

Minho yang melihat Seungmin meraih cocktail shaker mengambil langkah mundur, tapi tak kunjung berhenti melancarkan aksinya, “Idih, galak banget pawangnya. Eh, kan belum jadi yaㅡups.”

“Ngomong apa sih, Pak? Pulang aja sana!”

Minho hanya tertawa, terhibur karena Seungmin yang tertangkap salah tingkah hanya karena sebuah nama. Setelah menyeka bulir-bulir airmata yang hanya sampai di pelupuk matanya, ia beranjak. Meninggalkan sang rekan dan soda berharganya, berniat untuk benar-benar pulang.

Namun, sebelum benar-benar meraih gagang pintu, ia dengan cepat berbalik untuk berseru, “Kamu tuh cemen banget deh Seungmin! Kalau suka tuh ya, bilang! Jangan cuma nyetok soda banyak-banyak padahal enggak tau orangnya bakal dateng lagi atau enggak.” Lalu mengambil langkah lebar-lebar untuk menyelamatkan diri.

Menyisakan Seungmin yang termangu. Teringat akan sebuah kisah lama tentang seorang pelanggan yang ditemuinya tepat setahun yang lalu.

 


 

Malam itu mendung. Dan entah apa yang terjadi, saat ia kembali dari ruang penyimpanan untuk mengisi ulang persediaan es. Dari total tiga pengunjung yang dilayaninya, hanya tersisa seorang pemuda di pantry bar. Ia menangis, dan lantai di bawahnya basah karena likuid merah.

Seungmin pikir orang itu itu terluka, tapi yang didapatinya hanyalah sosok yang sibuk meracau dan tengah tersambung dalam sebuah panggilan.

“Kak Felix tahu kan aku enggak bisa minum alkohol? Tadi aku bela-belain beli wine cuma buat nyiram orang brengsek kayak gitu. Sayang banget uangnya, padahal bisa dipake buat beli soda sampe diabetes,” katanya. Kepalanya terantuk-antuk dengan permukaan pantry yang keras guna menyembunyikan gumpalan airmatanya.

Suasana hati Seungmin yang malam itu suram seperti langit di luar, seketika berganti cerah. Sedikit banyak terhibur akan kelakukan lucunya. Laki-laki itu bahkan tak sadar tertawa di atas penderitaan sang pelanggan. Lalu, sebagai bentuk terima kasih, akhirnya ia merelakan soda yang sengaja disimpannya untuk disajikan.

Dan di luar dugaan Seungmin. Jeongin—nama si pelanggan malang—itu kembali berkunjung beberapa kali. Untuk memesan soda, kata rekan lamanya. Sayangnya, saat itu ia selalu datang terlambat dan pemuda itu sudah pergi begitu saja. Menyisakan segelas jus jeruk yang tak tersentuh dan beberapa lembar uang di atas meja.

Sejak saat itu lah, diam-diam Seungmin mulai sengaja membeli soda untuk berjaga-jaga. Berharap laki-laki itu akan datang di lain hari agar ia bisa melayani pesanan sodanya. Dalam gelas cocktail yang cantik dan bongkahan kristal es yang banyak, berharap hatinya tak lagi terluka.