Work Text:
"Mas Nakul, ada laporan tambahan soal kasus Tuan Arjuna."
"Mas Kula, Tuan Bima nelpon kemarin, minta ditelepon balik buat janjian waktu sidang."
"Mas Nakula-"
"Mas Kula-"
"Mas-"
"Haahhhh!!!"
Helaan nafas keras terhembus, tubuh lelah setelah seharian kesana-kemari mengurus berbagai macam kasus tersandar tanpa tenaga dikursi kerja. Jam berdetik, waktu menunjukkan pukul 1 pagi. Waktu dimana harusnya semua orang sudah lelap dalam mimpi, tapi sosok dengan rambut biru muda itu malah masih berkutat dengan pekerjaan. Didalam kantornya yang kini sepi karna pegawai dan anak buahnya yang lain sudah pulang tepat waktu.
Hanya si rajin Nakula Nalendra yang masih bekerja sampai dini hari. Ditemani secangkir kopi dan tumpukan dokumen kasus yang sedang ia selidiki.
Nakula Nalendra, seorang detektif swasta yang sudah terkenal dan melanglang buana dikota Jagat Raya. Orang bilang, begitu sebuah kasus jatuh ke tangannya, tidak ada satupun pelaku yang akan lolos dari hukuman. Kantor detektif yang ia dirikan bahkan lebih terkenal daripada kepolisian; sesuatu yang masuk akal membuat kepolisian jadi agak memusuhinya sebagai pendiri kantor detektif itu dan juga detektif utamanya. Membuat konflik tak diinginkan.
Nakula tidak suka konflik, tapi pekerjaan memaksa bergelut dengan konflik dan pertikaian di sana-sini. Makanya, disaat seperti sekarang, dimana dia sangat lelah karna pekerjaan yang menumpuk dan konflik yang sulit dihindari, Nakula biasanya pergi ke sebuah bar di sudut kota.
Waktu sudah menunjukkan jam 2 pagi begitu Nakula tiba di bar itu. Jelas, kebanyakan orang yang tersisa disana, sudah teler dengan alkohol. Pengunjung yang tersisa bisa dihitung jari, mengingat bar juga biasanya tutup jam 3 pagi. Kebanyakan dari mereka sudah pulang atau pergi ke bar selanjutnya untuk lanjut berpesta. Hanya Nakula yang baru datang.
Ia disambut hangat, seorang bartender berkulit gelap dengan warna rambut yang kontras tersenyum kecil begitu melihatnya masuk, menyapanya sambil mengelap gelas alkohol.
"Pagi, Nakula. Seperti biasa pasti bergadang lagi ya."
Nakula duduk di counter, didepan bartender itu sambil menghela nafas. "Iya nih, Mas. Yang biasa ya," ia memesan.
Bartender itu bergerak gesit, menyiapkan minuman yang memang biasa dipesan oleh pria muda berambut biru itu. Sementara Nakula memperhatikan dari belakang dengan tangan menopang dagu. Maniknya memperhatikan setiap gerakan bartender itu, mengikuti kemana tangannya bergerak, sampai bagaimana bentuk tubuh kekarnya dari belakang.
Alasannya selalu datang ke bar ini hanya dikala bar sudah mau tutup. Agar ia bisa memperhatikan bartender itu lebih leluasa. Sebuah rahasia yang selama ini Nakula pendam sendiri, bahwasanya dirinya jatuh hati pada bartender berkulit gelap dengan rambut keemasan yang juga pemilik bar ini.
Sadewa Sagara.
Sadewa, dengan penampilannya yang manly, tubuhnya yang berotot dan pas, wajah tampan, kulit eksotis, dan mata keemasan yang indah. Nakula langsung jatuh hati begitu pertama kali melihat sosoknya di bar, pertemuan tak sengaja kala Nakula penat dan butuh hiburan, yang menjadi pertemuan rutin tiap kali ada kesempatan. Tapi Nakula tidak akan bisa mengatakan perasaannya. Tidak pada Sadewa yang jelas sekali lebih tertarik pada wanita-spekulasi Nakula acap kali melihat Sadewa flirting dengan pelanggan wanita. Dan yap, hubungan antar pria itu bukan hal umum dan masih tabu, Nakula juga masih ingin menikmati hubungan mereka saat ini yang baru beranjak menjadi teman dari customer dan pemilik bar.
"Minumannya, Nakul." Sebuah minuman cantik tersaji didepan Nakula, alkohol buatan tangan Sadewa. "keliatannya kamu belum tidur beberapa terakhir ya, kantung matamu itu tebal."
Nakula tertawa kecil, mengangkat gelas alkohol yang tersaji dan menenggaknya sekali. "Tiga harian, tapi harusnya besok selesai penyelidikan. Aku udah bikin pengumuman juga, kalau kantorku bakal libur sebulan."
"Wih, lama juga ya sebulan."
"Iya, Mas. Aku butuh liburan. Malam ini terakhir kesini sebelum liburan."
"Mau jalan-jalan kah?"
"Iya nih, sendirian aja sih. Tapi lumayan lama, keliling dunia aja sambil santai."
Senyuman terulas diwajah Sadewa, menaruh gelas terakhir yang sudah ia lap ditempatnya sebelum menginstruksikan pegawai bar nya yang lain membersihkan bar dan mulai menutup toko karna pelanggan terakhir sebelum Nakula akhirnya pergi.
"Enak yo, jalan-jalan keliling dunia. Tapi kamu gak takut kah jalan sendirian? Kalau diculik gimana?"
Nakula tertawa. Merasa lucu mendengar pertanyaan Sadewa itu. Karna siapa pula yang akan menculiknya? Nakula pria dewasa berbadan tegap. Nakula juga bukan anak keluarga bangsawan yang akan ditebus kalau diculik. Tidak ada hal menarik juga dari diri seorang Nakula Nalendra. Dan sebagai detektif, Nakula juga jago membela diri. Setidaknya selama lawannya hanya 1-2 orang.
"Ya nggak mungkin lah ya, Mas. Aku nih bangkotan gini lho masa diculik." Ia terkekeh, menenggak habis alkohol di gelasnya lalu memesan segelas lagi.
"Siapa tau.. kamu ini kan detektif, pasti ada yang benci."
"Kalau itu bisa jadi, tapi aku ya bisa lah jaga diri."
Sadewa tidak langsung menyahuti, karna sudah berbalik untuk menyiapkan minuman lagi untuk pemuda langganannya bernama Nakula Nalendra itu. Tak lupa, ia juga menyiapkan cemilan ringan pendamping alkohol untuknya.
"Mas sendiri gak pernah kelihatan pergi, bar buka terus tiap hari kan?"
"Belum ada rencana aja. Betulnya mah aku juga mau jalan-jalan, cuma belum tau mau kemana." Sadewa berbalik, menyajikan alkohol dan cemilan yang ia siapkan didepan Nakula. "Bar-ku juga gak bisa ditinggal lama."
"Makasih Mas." Nakula langsung mencomot satu cracker dari piring cemilan dan memakannya. "Gak capek toh kerja terus?"
Sadewa tidak langsung menjawab lagi, menatapnya sesaat. Nakula bisa merasakan tatapan Sadewa kearahnya, tapi dari balik kacamata hitam yang dia pakai, Nakula tidak bisa menebak bagaimana arti tatapannya.
"...Gak juga. Tiap hari saya nunggu orang spesial datang."
Nakula diam, terfokus pada kalimat 'orang spesial' yang disebut Sadewa. Ia mengigit satu cracker lain sambil menunduk, merasa campur aduk sendiri.
Sadewa menunggu 'orang spesial' datang setiap hari. Apa itu artinya pria itu punya kekasih? Nakula menatap Sadewa yang kini kembali sibuk merapikan botol-botol alkohol kembali ke dalam rak. Sesekali menjawab dan menginstruksikan pegawainya yang sedang sibuk menutup bar. Satu kalimat itu terus terngiang, Nakula menopang pipi sambil menenggak alkoholnya perlahan. Maniknya terus memperhatikan Sadewa bergerak.
Nakula sebenarnya tau, kalau tidak mungkin orang sememesona Sadewa tidak punya orang yang disukai. Tapi sebagai orang yang menyukai bartender berkulit gelap itu, Nakula tetap menaruh harapan. Terutama karna Nakula sendiri tidak pernah melihat seorang Sadewa Sagara bersama wanita spesifik. Ya, Sadewa kerap flirting dengan pelanggan wanita, tapi Sadewa melakukan itu ke semua pelanggan wanitanya. Makanya begitu mendengar soal 'orang spesial' dari mulut pria itu langsung, Nakula merasa dadanya dihantam batu besar.
Ternyata inilah rasanya ditolak bahkan sebelum menyatakan cinta.
Nakula terkekeh sendiri. Menenggak alkohol lagi dan lagi. Pikirannya mulai melayang, kepalanya tertunduk, menatap kosong pada piring cracker didepannya. Dari awal sudah tidak ada harapan, Nakula mungkin harus mulai menata hati.
"Nakula?"
Nakula tidak menyadari kibasan pelan didepan wajahnya, terlalu melamun untuk sadar kalau Sadewa sudah ada didepannya lagi setelah mengurus penutupan barnya dan mengirim pegawainya pulang. Pria berambut campuran coklat dan emas itu memperhatikan gelas alkohol Nakula yang sudah hampir kosong.
"Hey, Nakula." Panggilnya sekali lagi, dan kali ini, akhirnya Sadewa mendapatkan atensi pria muda berambut biru itu.
"Uh, oh?" Seakan tersadar, Nakula menatap Sadewa lagi. Namun entah kenapa, pandangannya mengabur. Ia merasa agak pusing. Sepertinya alkohol yang ia minum berefek. "Iya Mas?"
"Kamu udah mabuk? Tumben, biasanya toleransimu tinggi." Ucap Sadewa.
"Haha, gak tau nih." Nakula berdeham, mengusap kepalanya yang mendadak pusing. Pandangannya semakin kabur, dan terasa sedikit berputar.
Aneh.
Biasanya dia tidak mabuk secepat ini hanya dengan 2 gelas alkohol..
"Kayaknya emang karna capek deh, Mas.. aku-ugh.." Nakula memegang kepalanya yang semakin berputar. "A-Aku pulang aja deh Mas..." Ia mendongak, menatap Sadewa lagi.
Wajah Sadewa dalam pandangannya buram, tapi Nakula bisa melihat senyuman disana. Dan entah kenapa, pandangannya semakin buram. Tubuhnya oleng, kepalanya kembali tertunduk diatas counter.
Aneh.
Ia tidak pernah mabuk sampai seperti ini-
"Kamu gak perlu khawatir. Istirahat aja disini, Nakula."
Nakula mendengar itu, berusaha mendongak menatap Sadewa lagi. Tapi kepalanya terasa sangat pusing. Ia ingin menggeleng menolak, tapi belum sempat membuka mulut, kepalanya jatuh keatas counter tanpa daya. Pandangannya semakin buram.
Disela kesadarannya yang terasa diseret menjauh, Nakula mendengar suara Sadewa lagi. Sayup-sayup tidak terlalu jelas, tapi Sadewa mengatakan sesuatu..
"... Sleep tight, my lo...e.."
Dan seluruh kesadarannya pun menghilang.
°°°
Cling
Nakula membuka matanya, mengernyit pelan begitu mendengar suara bergerincing entah dari mana. Disambut pemandangan ruangan asing yang tidak pernah ia lihat. Sebuah kamar dengan cat kombinasi abu-abu dan putih, yang interiornya tampak simple namun elegan. Kamar yang sangat berbanding terbalik dengan kamarnya yang berdinding putih kebiruan dengan interior minimalis dan rak-rak buku berisi dokumen-dokumen yang berhubungan dengan pekerjaan. Melihat pemandangan itu, Nakula sontak terperanjat bangun. Dan saat itulah ia menyadari suara gemerincing yang ia dengar tadi itu berasal dari kakinya sendiri.
Dari rantai besi yang terpasang dipergelangan kakinya.
"Apa ini?!" Nakula kaget, sontak berusaha melepaskan kakinya dari rantai belenggu itu. Tapi nihil, rantai itu terkunci. Nakula tidak akan bisa melepaskannya tanpa kunci. "Kok bisa jadi gini?! Ini dimana?!"
Nakula bangun dari tempat tidur dengan panik, rantai dikakinya cukup panjang. Membuatnya bisa bergerak dengan leluasa. Dan dia langsung berlari kearah jendela, mengecek keluar. Irisnya membesar begitu melihat pemandangan diluar. Orang-orang tampak begitu kecil, mobil-mobil berlalu lalang dijalan seperti mobil mainan. Ia berada disebuah gedung tinggi. Kemungkinan apartemen jika melihat interior kamar ini. Nakula segera mengecek tubuhnya sendiri, tidak ada luka, pakaiannya pun masih utuh. Hanya rantai yang terpasang dikakinya yang berbeda.
"Dimana ini?!" Nakula berlari menuju pintu, hendak keluar. Namun rantai dikakinya tidak sepanjang yang ia kira, Nakula tersandung. Jatuh terjerembab ke depan dengan keras. "Rantai apa ini!!" Ia geram.
Klek.
Nakula langsung menoleh kearah pintu yang terbuka, matanya terbelalak kaget. Karna sosok yang muncul dari pintu itu, membawa nampan berisi sepiring makanan, tidak lain tidak bukan adalah, "MAS DEWA?!"
Sadewa Sagara.
Bartender di bar langganannya, yang juga orang yang ia sukai diam-diam.
"Udah bangun ya?" Senyum manis terulas diwajah tampan Sadewa, tapi daripada terpana seperti biasanya, Nakula menatap pria itu dengan tatapan horror.
"Mas? Ini.. ini kenapa? Kenapa aku dirantai?" Tanyanya, suaranya nyaris tercekat.
Sadewa, dengan senyum kecilnya melangkah masuk. Pintu dibelakangnya tertutup otomatis, dan Nakula mendengar jelas bunyi 'klik' yang menandakan pintu itu juga otomatis terkunci lagi. Ditangannya, Sadewa membawa nampan berisi makanan, meletakkannya diatas nakas, sebelum menghampiri Nakula yang masih terduduk dilantai. Ia berjongkok didepan pria itu, menatapnya dengan tatapan yang kini, setelah Nakula lihat dengan jelas karna Sadewa tidak memakai kacamata hitamnya, tampak mencurigakan dan dingin, tapi juga penuh dengan obsesi. Tatapan yang pernah ia lihat dimata salah seorang klien yang ia tangani dulu, klien gila yang terobsesi dengan seorang mahasiswa 10 tahun dibawah usianya.
"Mas...?" Tenggorokan Nakula terasa sempit, refleks ia memasang sikap was-was dan bergerak mundur.
Senyuman Sadewa entah kenapa tampak mengerikan, tatapannya seperti hewan yang sedang menatap mangsanya. Membuat bulu kuduk Nakula merinding. Dengan lembut, pria berambut kuning itu mengusap sisi wajah Nakula, menyapu rambut birunya dengan sayang. "Kamu cantik. Makanya, mulai sekarang, kamu akan tinggal disini, Nakula."
Tentu saja, Nakula langsung menepis tangan Sadewa. Menatapnya tajam mengancam. "Apa-apaan ini, Mas?! Kamu udah gila ya?!"
Sadewa menatap tangannya yang baru saja ditepis, lalu mengedikkan bahu dengan santai. "Bisa dibilang begitu."
"MAS?! Jangan bercanda. Lepasin rantai ini sekarang juga, aku harus pulang." Nakula menggeleng, tidak ingin mempercayai apa yang terjadi sekarang adalah kenyataan. Sadewa pasti sedang mengerjainya. "Aku masih punya kerjaan lain, gak punya waktu buat candaan kayak gini, Mas."
Tapi bukannya membuka rantai dikaki Nakula, Sadewa malah meraih tangannya. Dengan penuh keintiman mencium punggung tangannya, membuat tubuh Nakula menegang dan bulu kuduknya kembali merinding.
"Pulang? Disini rumah kamu, sayang."
Tengkuk Nakula terasa dingin, jantungnya berdegup dengan rasa ngeri. Melihat tatapan berbahaya dimata emas sang pujaan hati. Tubuhnya membeku.
Senyum Sadewa melebar. Dengan kedua telapak tangan besarnya, menangkup pipi Nakula. Mengecup keningnya dengan lembut. "Mulai sekarang, kamu gak akan bisa kemana-mana. Aku mencintaimu, Nakula. Tetaplah disisiku."
Nakula selalu bermimpi mendengar kalimat itu dari Sadewa. Tapi tidak seperti ini...
Bukan rasa senang atau bahagia, Nakula merasakan horror luar biasa. Nakula memberontak, berusaha menjauh, tapi Sadewa bergerak lebih cepat. Entah dari mana, Sadewa menancapkan jarum suntik kecil ke pahanya, dan seketika, seluruh tubuhnya lemas. Tak berdaya jatuh dalam pelukan besar si surai kuning. Pandangannya menghitam, dan hal terakhir yang ia dengar, hanyalah "You're mine, Nakula Nalendra."
Sebelum ia kembali jatuh pingsan.
Nakula baru sadar, Sadewa bukanlah sosok yang ia kenal selama ini.
