Work Text:
Awan gelap mendominasi kota malam itu, berbanding terbalik dengan horizon pagi yang dihiasi warna biru cerah. Suara kencang dan kilauan petir yang beberapa kali menyambar begitu mencekam seolah alam memberi pertanda bahwa malam ini akan berlangsung panjang. Angin kencang berembus membawa udara dingin menyelimuti setiap sudut kota. Tak terkecuali penghuni rumah dua lantai bertembok putih yang terletak di ujung jalan itu.
Buna mengeratkan cardigan biru oversize yang membungkus tubuhnya sambil satu tangannya mengelus baby bump yang semakin nampak setelah trimester keduanya ini. Disebelahnya, putra sulungnya, Embege—atau yang lebih sering dipanggil Ege—sudah tertidur lelap sambil memeluk boneka dino berwarna hijau miskin kesayangannya.
Ia menoleh sambil tersenyum singkat sebelum mengelus sayang rambut yang jatuh pada kening sang anak. Pikirannya penuh akhir-akhir ini, begitu banyak yang dikhawatirkan. Mulai dari kehamilannya, harga rupiah yang semakin melemah, pengesahan RUU Polisi, dan puncaknya adalah ketika minggu lalu dia tidak sengaja mencium aroma lain pada kemeja kerja sang suami. Tidak, bukan bau kecut keringat seperti biasa, melainkan feromon omega—aroma pertamax yang per tanggal 10 Juni 2026 sudah naik ke Rp16.250.
Tangannya mengepal, kuku-kuku menekan dalam membentuk sabit pada telapak tangan kirinya. Buna menggigit bibir bawah menahan tangis tak bermaksud membangunkan Ege. Hatinya mencelos berusaha sekuat tenaga tak memikirkan kemungkinan itu, walau dalam hati ia tau betul apa yang terjadi.
Ini bukan perkara asing. Dua tahun yang lalu, sebelum adanya Embege, Prabs pernah pulang dengan aroma yang sama persis. Walau dulu pertamax masih Rp12.500, namun Buna yakin ia tak salah mengingat bau itu. Terlebih penting, Buna yakin betul siapa pemiliknya. Hanya ada satu nama yang muncul dalam benaknya. Bahlil—or "lil baby", according to his husband.
Buna benci ini. Ia harap bisa melupakan momen ketika dia menangkap basah pesan kotor yang dikirimkan antara sang suami dan selingkuhannya itu. Namun, hingga dua tahun berlalu, nyatanya Buna masih mengingat jelas setiap detailnya. Jadi, tolong pahami betapa takutnya ia ketika menyadari adanya kemungkinan Prabs kembali menjalin hubungan dengan omega tersebut.
Ia bisa saja beranjak pergi, meninggalkan pernikahan ini dan memulai hidup baru dengan kedua anaknya. Namun, tinggal di negara misogynistic, sexist, dan patriarchy seperti ini tentu sulit, apalagi masyarakat masih sering menganggap rendah title "janda". Selain itu, status Buna yang tak memiliki pekerjaan membuatnya mustahil untuk membiayai kehidupan anak-anaknya seorang diri.
Tangannya meraih handphone di atas nakas berharap menemukan notifikasi dari Prabs yang sudah tiga hari ini urusan pekerjaan ke luar negeri. Namun nihil. Justru pesan dari grup "Trio Sugeh" lah yang muncul. Grup WhatsApp yang berisikan dirinya dan dua teman dekatnya sejak SMA. Jarinya bergulir pada layar ponsel sambil matanya membaca pesan yang muncul.
raffi laundry: Teddd, kamu gpp kah??? kok ngilang2 sieee, raffi khawatir :(((
juna galakk: y nmnya jg org hml, ms mw 24/7 mgng hp.
raffi laundry: kamu jangan ngetik singkat2 ih junaa huaa raffi ga ngerti huhuu🥺
juna galakk: tcih.
Buna tersenyum singkat membaca interaksi kedua orang yang sikapnya saling bertolak belakang itu sebelum jari-jarinya menari diatas keyboard mengetik balasan.
Boleh call ga?
Maka telepon sambungan tiga arah itu terjadi. Percakapan diawali dengan bertukar kabar satu sama lain dan Buna yang membagikan perkembangan janinnya sekarang. Hingga sekitar sepuluh menit berlangsung, si omega memutuskan untuk jujur mengenai apa yang sudah mengganggu hati mungilnya belakangan ini.
"Kayaknya Mas Prabs selingkuh lagi deh."
Hening sejenak dari kedua lawan bicaranya sebelum mendadak teriakan Juna menggelegar.
"Wah si anjing! Yang bener aja bininya lagi hamil malah selingkuh. Tunggu aja kantornya bakal gue acak-acak."
Suara Raffi juga terdengar, jauh lebih tenang. "Kamu yakin, Ted? Maksudku, kadang bumil kan emang sensian. No offense ya beb, cuma biar nggak salah paham aja."
"Lo jangan belain si gendut itu deh, Raff. Orang jelas-jelas track recordnya buruk, udah pernah selingkuh juga sebelumnya. Kriminal dia tuh, ibaratnya pelanggar HAM!", tuduh Juna dengan nada yang masih tinggi.
Buna memijit pangkal hidungnya pelan, melirik sang buah hati yang nampak tak terganggu sama sekali oleh teriakan Juna. Ia melepaskan satu helaan napas panjang sebelum kembali membuka mulut.
"Minggu lalu aku nyium feromon omega di bajunya Mas Prabs. Bau pertamax. Kayak punya Bahlil—"
Nama Bahlil seolah merupakan trigger word bagi Juna, karena sebelum Buna bisa menyelesaikan kalimatnya, suara Juna kembali lantang.
"Dih tuyul itu lagi! Emang omega kegatelan dia tuh. Laki lu juga nggak tau malu, Ted. Cocok dah mereka, anjing! Awas ya, ban mobil dia 'ntar gue ganti pake bansos."
Telepon tersebut berlangsung hingga empat puluh menit setelahnya—kebanyakan penuh dengan umpatan dan teriakan Juna serta Raffi yang berusaha menenangkannya. Walau demikian, Buna bersyukur karena paling tidak ia masih punya tempat sandaran di situasi rapuh seperti ini.
Jam dinding dihadapannya sudah menunjukan pukul 01.20, ketika Buna akhirnya merebahkan kepala dibantal empuk itu. Pikirannya kembali melayang ke ucapan Raffi tadi. Pengusaha laundry itu benar—Buna harus mencari tahu kebenaran sebelum berhadapan dengan Prabs. Ia meyakinkan dirinya bahwa ketakutan yang dimiliki memang rasional dan tidak berlebihan. Kepalanya mengangguk mantap membulatkan rencananya besok pagi.
Jika ada satu orang yang tahu pasti kebenarannya, itu adalah sahabat dekat Prabs, Gibran.
—
Matahari nampak gagah bersinar dengan bangga pada bentangan biru langit, melambangkan tibanya hari baru dengan harapan dan mimpi baru—atau setidaknya begitulah yang diharapkan Buna. Ia berdiri didepan bagunan sederhana bernuansa beige itu, kakinya seketika meragu untuk melangkah masuk.
Pagi tadi ia menghubungi Gibran meminta beta tersebut untuk bertemu pada jam makan siang karena "ada sesuatu yang mau aku bahas, Gib." Maka disinilah mereka, sebuah cafe kecil overpriced yang memang hanya sering didatangi oleh budak korporat dan mahasiswa yang mementingkan gengsi.
"Duh, maaf ya, tadi macet banget."
Gibran mengangkat wajahnya dari layar ponsel lalu menyungging senyum khasnya—senyum bodoh—sebelum menyapa pria hamil didepannya.
"Nggak apa-apa. Gue juga belum lama, kok. Oh, gue udah pesan duluan sih tadi. Lo pesan punya lo, deh."
Sambil menikmati makanan yang dihidangkan, mereka mulai asyik mengobrol. Percakapan bergulir lancar mengingat Buna memang orang yang naturally easy going—sesuatu yang diam-diam dikagumi oleh Gibran yang cenderung lebih pendiam.
"Ehm… Gib, kayak yang aku bilang tadi. Ada yang mau aku tanyain. Aku mohon kamu jujur ya."
Beta tersebut langsung menegakkan posturnya diatas kursi, seketika mengantisipasi kemungkinan pertanyaan yang diajukan Buna. "…Oke?"
"Mas Prabs… selingkuh ya?" suara bergetar, pecah diujung kalimat.
Gibran menahan napas sepersekian detik lamanya. There it is, he should've known. Seharusnya dia tahu cepat atau lambat Buna akan curiga. Dalam benaknya ia menimbang-nimbang seberapa banyak kebenaran yang harus diijinkan keluar dari mulutnya. Seharusnya gampang, ia pandai berbohong—seperti yang diajarkan ayahnya. Namun melihat omega rapuh dihadapannya dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca, Gibran tak tahan untuk berkata sejujurnya.
Helaan napas panjang ia keluarkan, "Iya, Ted. Udah beberapa minggu ini dia emang lebih sering makan siang diluar. Di kantor juga gue perhatiin tingkahnya aneh."
Buna semakin merasa presensinya mengecil, seolah terhimpit oleh beban realita dikedua sisi. Kalimat Gibran bak tamparan kasar yang menariknya paksa dari mimpi indah, seperti pipa metal yang memukulnya dengan kuat dan telak.
"Siapa?"
"Lo tau siapa."
Selesai. Buna rasa dunianya selesai detik itu juga. Semuanya terlalu nyata—segala "kemungkinan" yang ada di pikirannya kini bukan sekadar kemungkinan, melainkan realita yang harus ia tanggung atas dosa mencinta terlalu dalam. Perlahan, ia mengangkat kepalanya, beradu tatap dengan pria dihadapannya, berusaha mengukir apa yang ia harapkan nampak seperti senyum ikhlas.
Tidak ada yang lebih Buna benci dibanding dikasihani orang lain. Maka dengan sekuat tenaga, ia berusaha tegar walau rasanya tombak tajam baru saja melubangi jantungnya.
"Oh….", pandangannya turun pada piring makanan yang mendadak tampak tak menggiurkan, "gitu ya… I see… makasih ya udah kasih tau."
"Ted, sorry. Gue nggak mau lo—"
"Nggak, aku nggak apa-apa, kok." Buna kembali memaksa senyum, walau percuma. Bahkan anak kecil pun tahu ia sedang tidak baik-baik saja. Pundaknya jatuh turun, dirinya serasa terekspos, seperti lembaran buku yang bisa bebas dibaca siapa saja. Buna benci ini.
"…Gib, aku— aku duluan— makasih sekali lagi." Ia baru saja akan melangkah pergi ketika tangan kanannya ditahan oleh sang beta.
"Gue anter."
"Nggak usah, makasih. Aku sendiri aja."
"Nurut aja, Ted. Lo lagi hamil, bahaya jalan sendiri."
Sepuluh menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil hitam milik Gibran yang dihadiahi ayahnya dari uang korupsi. Sayangnya suasana ramai siang itu menyebabkan macet berkepanjangan. Dalam hati, Buna mengutuk keadaan. Duh emang ya pemerintah nggak becus, coba aja infrastruktur kota dibenerin, ada regulasi transum, pasti nggak bakal kayak gini.
"Are you okay, Ted?"
Perkataan Gibran menariknya dari lamunan. Ia menoleh menatap pria berkemeja biru oligarki tersebut. "…Iya," balasnya singkat.
"Gue nggak maksud mau ikut campur ya, sorry banget. But don't you think it's best for you and your kids to leave him? I mean, ini bukan pertama kalinya lho. Lo terlalu baik buat Prabs, tau nggak?"
Buna menelaah suara bicara Gibran sejenak. Ada nada mencibir, nada kekhawatiran, dan kehati-hatian—mungkin takut menyakiti perasaannya. Alih-alih menjawab, Ia justru mengelus perutnya sambil menoleh keluar jendela, melihat pemandangan di luar. Ada warga yang merokok sambil berkendara, ada yang membuang sampah plastik sembarangan, ada pula beberapa pengguna motor yang menerobos masuk ke jalur pejalan kaki.
"Nggak segampang itu, Gib," ucapnya final. "Kamu tau sendiri keadaan aku gimana. Anak otw dua, mana aku nggak kerja. Tau lah sesulit apa dapat kerja di Indo, kriterianya nggak masuk akal dengan gaji yang imut. Terus usia aku udah mau kepala tiga, yang ada dibilang omega expired kali, ya. Lagian rupiah udah mau dua puluh ribu, aku nggak punya pilihan selain bertahan buat Embege dan adek bayi," jelas Buna panjang lebar, lebih seperti curahan hati yang dia pendam selama ini.
"Kalo… gue ajak lo bareng gue aja… mau nggak?"
"Hah—"
Belum sempat Buna menjawab atau bahkan memproses perkataan Gibran, klakson mobil dibelakang mereka terdengar kencang, meminta mereka untuk segera maju. Sisa perjalanan pulang itu hanya diisi oleh keheningan. Tak satu pun yang memulai percakapan atau mengungkit kalimat terakhir Gibran.
Ketika tiba di rumah, Buna langsung merebahkan diri diatas ranjang king size mereka. Pikirannya berkelana pada masa depan. Haruskah ia meninggalkan suaminya? Namun bagaimana nasib Embege dan calon bayinya jika harus tumbuh tanpa sosok ayah? Bagaimana ia harus menjelaskan pada mereka bahwa ayahnya lebih memilih omega berbau pertamax tersebut.
Matanya menutup perlahan. Lelah mulai mengambil alih badannya, merayu sang pemilik untuk berpindah ke alam mimpi dan mencari ketenangan disana. Mungkin dalam mimpi, Buna memiliki suami yang akan memilihnya setiap saat.
—
Terhitung sudah dua bulan berlalu sejak pertemuan Buna dan Gibran. Sejak itu, hubungannya dengan sang suami semakin renggang. Setiap kali ia ingin membicarakan keadaan mereka, Prabs akan menghindar dengan berbagai alasan—"aku capek", "aku mau mandi", "nanti aja", dan sejumlah lainnya yang Buna sendiri tak ingat lagi. Tak hanya itu, suaminya juga sering pergi keluar negeri dengan alasan "kunjungan dinas". Perancis lah, Rusia lah, Jepang lah. Buna tak tahu mana dari antara itu yang betul-betul urusan pekerjaan, dan mana yang sebenarnya cuma alasan untuk berselingkuh.
Buna menahan semua rasa sakitnya seorang diri, berpikir jika ia tetap menunjukkan betapa tulusnya cinta pada Prabs, sang suami mungkin akan luluh dan kembali padanya. Semua demi Embege, ia mengingatkan dalam hati.
Hingga ketika suatu malam, Buna baru saja menempatkan diri diatas tempat tidur ketika matanya menangkap sesuatu diatas nakas. Sebuah kertas putih. Tangannya segera meraih carik kertas tersebut dan membacanya dibawah lampu temaram.
Mata Buna membulat sempurna menyadari isi kertas tersebut—sebuah surat tertanda Pengadilan Agama, dengan namanya dan sang suami sebagai tergugat dan penggugat. Tidak mungkin.
Prabs telah menggugat cerai dirinya.
Mata Buna memanas, napasnya tertahan di tenggorokan. Rasanya dunia seolah berputar cepat sedangkan dirinya diam di tempat. Selama ini ia sudah menahan rasa sakit demi keluarga mereka dan ini balasan yang ia dapatkan?
Kakinya segera melangkah menuju ruang kerja tempat suaminya berada. Tak lagi ia pedulikan suara pintu yang berdebum akibat ditendang. Prabs sendiri nampak terkejut dengan kemunculan mendadak Buna.
"Maksud kamu apa, mas?!" suara tinggi Buna terdengar. Surat itu ia angkat tinggi ke udara.
Prabs menetralkan ekspresinya. "Bisa baca, kan? Aku mau kita cerai."
"Cerai?! Gila kamu ya. Aku lagi hamil anak kamu dan kamu minta cerai. Demi siapa? Demi omega lonte itu ya!"
PLAKK
Buna memegang pipinya yang terasa panas. Tak pernah sekalipun dalam tahun-tahun hubungan mereka Prabs bermain fisik padanya. Sungguh, rasanya ia tak lagi mengenal sosok alpha di hadapannya ini.
"Jaga mulut kamu ya, Teddy. Bahlil itu milik saya."
"Milik kamu?" tawa lirih Buna menggema memecah ketegangan disana. "Terus gimana sama aku, mas? Gimana sama anak-anak kita?"
"Sorry ye, aku nggak peduli. Aku juga nggak pernah mau punya anak. Embege kan memang nggak kita rencanain baik-baik. Kamu yang pengen, kan. Sekarang kamu yang urus. Aku cuma mau sama Bahlil. Dia cantik, nggak seperti kamu nggak tahu urus diri."
Kakinya seakan melemah hampir tak kuasa menahan beban dirinya. Buna bersandar pada tembok dibelakangnya, berusaha menopang bobotnya.
"Gila kamu, mas." suaranya hampir tak terdengar, terkubur dibawah tangisnya yang pecah tanpa izin. Ruangan sempit itu terasa begitu pengap, seolah semesta ikut menahan napas bersamanya.
"Memang aku gila. Kamu itu hanya seperti anjing yang menggonggong buatku. Aku mau kamu bawa anakmu pergi dari rumah ini malam ini juga."
"Malam ini?! Mau pergi kemana kami, mas? Kamu tahu sendiri aku nggak punya siapa-siapa."
"Bukan urusanku! Sudahlah, aku mau bawa Bahlil nginap disini."
"Kamu mau keman—"
Buna baru saja meraih tangan Prabs yang hendak berjalan keluar ruangan ketika dirinya justru didorong kasar ke belakang. Kekuatan dan waktu yang singkat itu tak memberinya kesempatan untuk menstabilkan posisi, detik berikutnya ia sudah mendarat dilantai dingin. Nyeri seketika menjalar ke seluruh tubuh, diikuti oleh teriakan Buna yang menggelegar.
"MAS! MAS PRABS— TOLONGIN AKU, MAS—"
Namun percuma, pria bertubuh gempal itu justru melengos, melanjutkan langkahnya. Alih-alih, teriakannya barusan justru membangunkan sang anak. Embege muncul dengan raut wajah bingung melihat keadaannya ibunya. Langkah kecilnya tampak hati-hati untuk mendekat, khawatir menyaksikan Buna yang berada dalam kesakitan. Hati Buna pun semakin teriris karena putra sulungnya harus menyaksikan ini semua, dalam hati ia mengutuk kebodohan dan keegoisan Prabs.
"Ege… Ege sayang… tolongin Buna ya—" kalimatnya terputus ketika gelombang sakit lainnya muncul mendadak menghantam dinding perut dan pinggulnya.
"Ege ambilin hp Buna di kamar Buna ya…"
Walau dengan air mata menggenang di pelupuk mata, anak berusia dua tahun itu tetap mengangguk dan berlari ke arah kamar orang tuanya.
Menit berikutnya, Buna menggulir daftar kontak di handphonenya, menimbang-nimbang siapa yang bisa ia mintai tolong diwaktu selarut ini. Ia anak sebatang kara, sedangkan kedua sahabatnya tinggal di kota yang berbeda. Matanya kembali memanas ketika ia tiba dikontak terakhir dalam daftar. Tidak ada satupun teman atau keluarganya yang tersisa. Ia benar-benar sendiri.
Hingga akhirnya satu nama muncul dibenaknya. Coba saja, pikirnya dalam hati. Dengan gerakan lincah, jarinya menelpon nomor tersebut sambil berharap dalam hati akan munculnya pertolongan.
Tiga detik berlalu….
Lima detik berlalu….
Buna hampir menyerah, sampai pada akhirnya—
"Hallo?"
"Hallo Gib, maaf aku ganggu. Kamu bisa bantu aku nggak?"
