Chapter Text
Cahaya berkilauan menembus kaca patri yang indah, mengubah dunia kelabu yang semula suram menjadi pemandangan cahaya matahari yang memukau, seolah-olah berasal dari dunia lain. Aroma dupa yang harum mengambang di udara, menyambut para pendatang dan menenggelamkan mereka ke dalam kenangan masa lalu yang manis sekaligus menyakitkan.
Lantai yang dipenuhi deretan bangku kayu sederhana mengelilingi mimbar di bagian tengah, menyatu membentuk satu kesatuan yang harmonis. Seakan setiap garis dalam bangunan itu mengarah langsung ke pusat hati, menjadi satu-satunya jalan menuju surga.
Surga merentangkan pelukannya, melantunkan nyanyian penyambutan bagi semua orang, entah mereka layak memasukinya atau tidak.
Sebagian besar umat Kristen telah hadir. Aliran cahaya yang menembus kaca patri menerangi seluruh katedral, menciptakan pemandangan yang nyaris tidak nyata. Hari Minggu biasanya menjadi waktu bagi para umat untuk berkumpul di tempat ini, mengenang Dia dan memohon pengampunan, menjauhkan diri dari noda kehidupan duniawi dan mendekatkan diri pada kehidupan setelah kematian, saat hari penghakiman tiba. Namun tidak hari ini dan tidak di sini. Jumlah orang yang hadir jauh lebih banyak dari biasanya, dipenuhi suasana sukacita dan harapan.
"Bapa kami..." seseorang memulai doa di tengah keheningan yang khusyuk.
Lalu yang lain menyahut serempak, gelombang iman menyebar ke seluruh ruangan.
"Bapa kami yang ada di surga,
Dimuliakanlah nama-Mu.
Datanglah kerajaan-Mu.
Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga.
Berilah kami rezeki pada hari ini,
dan ampunilah kesalahan kami,
seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan,
tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.”
Orang yang baru datang itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, matanya dipenuhi kerinduan akan masa lalu.
Ia tidak segera duduk untuk beribadah.
Sebaliknya, Bart mengulurkan tangannya yang kasar, tangan yang telah ditempa oleh hampir separuh atau mungkin lebih, perjalanan hidupnya, lalu mengusap perlahan bangku-bangku kayu di dalam gereja, seolah sedang membangunkan kembali setiap kenangan yang tertidur di sana.
Napasnya yang semula berat dan tertahan perlahan menjadi lebih tenang.
Lebih ringan.
Seolah-olah ia sedang menerima pengampunan dari seseorang yang sepanjang hidupnya belum pernah memberinya pengampunan.
“Bodhin Tangwongwad.”
Sebuah suara tenang memanggil.
Orang yang namanya disebut itu menoleh dengan terkejut.
“Romo...”
Senyum tipis muncul di wajah Bart. Berbagai perasaan bercampur aduk di dalam dirinya rasa bersalah, kerinduan, dan keinginan untuk berbicara dengan sang pastor. Ia mengamati pria tua itu dengan saksama dan menyadari bahwa pria tersebut tidak terlihat marah seperti yang selama ini ia bayangkan.
Sebaliknya, pastor itu tampak senang melihatnya.
“Aku tidak pernah menyangka akan bertemu denganmu lagi,” ujar pria tua itu.
“Saya kira Romo tidak akan mengingat saya lagi. Sudah dua puluh tahun berlalu. Bahkan saya sendiri...” suara pemuda itu terdengar ragu.
“Tentu saja aku ingat.”
Pria tua itu tersenyum hangat.
“Bart Bodhin Tangwongwad. Aku mengingat semua anak-anakku.”
Nada suaranya yang penuh kebaikan justru membuat Bart semakin merasa bersalah.
“Bahkan ketika anak itu sendiri tidak tahu berterima kasih?”
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Bart, lebih karena rasa bersalah yang tertanam jauh di alam bawah sadarnya daripada karena pemikiran yang disengaja.
Pastor paroki yang berdiri di hadapannya tersenyum mantap. Ia mengulurkan tangannya yang dipenuhi kerutan usia dan meletakkannya di bahu Bart, menggenggamnya erat seolah hendak mengatakan sesuatu.
Namun sebelum sempat mengucapkan sepatah kata, seorang pria muda berpakaian putih dari kepala hingga kaki berlari menghampiri dan membisikkan sesuatu ke telinga sang pastor.
Tampaknya beliau dipanggil karena upacara tahbisan imam baru akan segera dimulai, sebuah upacara sakral yang membutuhkan perjalanan panjang hampir dua puluh tahun untuk mencapainya.
Mereka yang ingin ditahbiskan sebagai imam dalam Gereja Katolik harus menjalani pendidikan yang panjang, baik pendidikan umum maupun pendidikan keagamaan, sejak masa sekolah menengah hingga pendidikan seminari yang berkesinambungan. Mereka mempelajari teologi, doktrin gereja, bahasa-bahasa yang diperlukan untuk pelayanan, serta berbagai disiplin ilmu lainnya.
Karena itulah, tahbisan imam baru selalu menjadi peristiwa penting bagi Gereja. Dalam satu tahun, jumlah imam yang ditahbiskan biasanya hanya sedikit.
“Semoga Tuhan memberkatimu.”
Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan sang pastor sebelum ia berlalu pergi.
Bart berdiri terpaku.
Ia bahkan tidak sempat menjawab.
Tatapannya mengikuti arak-arakan yang mengiringi imam baru memasuki upacara. Jantungnya berdebar begitu keras seakan hendak meledak. Gelombang kenangan menyerbu tanpa ampun, membuatnya merasa seolah semua itu baru terjadi kemarin.
Atau bahkan beberapa jam yang lalu.
Rasa cinta dan rasa benci bercampur menjadi satu, membuatnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Pada akhirnya, Bart hanya bisa duduk di bangku yang biasa ditempatinya dan menyaksikan imam baru itu berjalan masuk dengan langkah tenang dan penuh wibawa.
“Tanrak...” gumam Bart tanpa disadari.
