Work Text:
Malam ini langit Nod-Krai sedang berpesta, mereka memamerkan benda-benda langit pada siapapun yang berada di tanah tanpa aturan. Gemerlap bintang, planet-planet lain pun dapat diintim lewat teropong umum, aurora biru yang dapat dilihat dengan mata telanjang, dan rembulan mutlak yang selalu memberkati tanah Nod-Krai. Seolah kemegahan yang ada di atas langit ini turut merayakan pernikahan sederhana yang sedang berlangsung di pinggir desa di Bani Bulan.
Pernikahan yang hanya dihadiri segelintir orang, bertempat di gereja kecil dan berlangsung di malam hari--yang satu ini agak aneh. Tetapi bagi pengantin, pernikahan di malam hari tidak aneh, malah sudah direncanakan jauh-jauh hari. Seolah malam hari adalah waktu yang cocok, karena alasan dari pihak pengantin wanita, katanya agar mendapatkan berkat di bawah sinar rembulan. Mempelai pria setuju, meski kepercayaan keduanya berbeda, diberkati di bawah sinar rembulan itu tidak buruk, bahkan jika saat mereka berciuman nanti, mempelai pria yang bernam Flins itu berpikir akan terasa romantis dan intim.
Kini Flins menunggu di depan altar, menanti pengantin wanitanya datang dan acara pernikahan di mulai. Ia menunggu dengan perasaan bahagia dan gugup yang silih berganti, berusaha mendominasi dirinya dan Flins bisa merasakan itu di denyut nadinya. Padahal menghadapi abyss tidak membuatnya sembelit, pun ketika ia harus berpidato di hadapan bangsawan dengan kekuasaan absolut mereka di tanah salju abadi, atau ketika kali pertama Flins mengajak Lauma; pengantin wanitanya, belahan jiwanya, calon istri dan jantung hidupnya, untuk menikah saja tidak gugup seperti ini. Membayangkan dan akan menggandeng Lauma di altar suci untuk ikrar sumpah hidup-semati itu.. mendebarkan.
Kini ia menatap ke arah tamu dan saksi pernikahannya, Flins tidak merasa gugup. Ia tidak merasa terintimidasi, untuk sesaat bahkan Flins merasa ia baik-baik saja. Di ruangan ini tidak ada yang membuat Flins merasa sembelit mendadak atau takut ingin menepi sebentar.
Satupun tidak ada.
Padahal disini ada pendeta sebagai pemimpin upacara pernikahan;Columbina Hyposelenia, kolega Flins; pak Nikita dan Illuga, tamu undangan yang terdiri dari teman dekat Flins dan Lauma; Ineffa, Jahoda dan Nefer, dan beberapa teman hewan yang berasal dari Bani Bulan. Ah, Flins hampir melupakan Aino yang menjadi gadis kecil yang membawakan bunga Lauma.
Akan tetapi, memikirkan Lauma kembali membuat sistem saraf Flins merasa tegang dan gugup. Pria ini berdehem pelan sembari membenarkan dasi kupu-kupunya yang entah kenapa menjadi agak sesak. Dari sudut mata, ia bisa melihat pak tua Nikita tengah tersenyum usil padanya, seolah mengatakan—aku tidak pernah melihat Flins gugup seperti ini.
Ya, lagipula kenapa Flins perlu terlihat gugup di depan koleganya? Apalagi tanpa alasan yang jelas? Konyol dan ia yakin orang-orang menganggapnya gila.
Kini ia berdehem pelan, membenarkan dasi kupu-kupu yang melingkar di lehernya. Entah kenapa, dasi ini terasa begitu sempit dan sesak, atau karena kegugupannya membuat dasi ini menjadi erat dengan sendirinya? Konyol. Flins pun melonggarkan dasinya dan ia melihat pendeta tersenyum geli karena dirinya. Ini memalukan dan agak konyol, Flins pun kembali berdiri tegak.
Waktu pernikahan pun dimulai. Lonceng di gereja kecil ini berbunyi, seolah mengumumkan bahwa ada pernikahan yang diselenggarakan. Saat itu pula Flins langsung menegakkan pundak.
Netranya menghadap pada pintu masuk gereja, ia menanti sosok wanitanya. Saat pintu perlahan dibuka, Flins menelan ludah pelan—sangat pelan seolah ia khawatir akan membuat semut di balik kayu di gereja ini terganggu. Ia bahkan menarik napas panjang dan menghembuskannya lewat bibir. Rasanya pasokan oksigen di sekitarnya juga menipis, seolah ada gejala alam aneh yang menimpa Flins selama proses. Seharusnya tadi ia membawa batu kristal yang dapat mengusir hal-hal buruk.
Pintu terbuka lebar, kini terlihat Lauma dengan balutan gaun pernikahan sederhana tengah tersenyum padanya, pada seluruh orang di dalam gereja ini.
Dalam waktu singkat, segala hal buruk yang Flins rasa serta pikirkan menjadi hening. Ia sepenuhnya menaruh atensi pada Lauma.
Wanitanya adalah keindahan, Lauma berjalan dengan seperti hembusan angin di sudut perdesaan—lembut, menenangkan dan nyaman. Ya, Lauma terlihat yakin dan nyaman dalam setiap langkahnya. Itu hal yang bagus, Flins memesan heels terbaik ke designer dari Fontaine agar nyaman dipakai istrinya. Ia sering melihat Laumanya pegal atau tumitnya terluka setelah memakai heels untuk waktu yang lama. Itu menyakiti hatinya, Laumanya tidak perlu merasa sakit seperti itu. Jadi ia memastikan Lauma tetap nyaman di setiap langkahnya, termasuk di altar maupun di masa depan.
Lauma semakin dekat dengannya, Flins baru sadar ia menahan napasnya dari Lauma masuk sampai jarak sedekat ini. Astaga, Demi Yang Mulia Tsaritsa, demi Dewi Bulan, pun demi Penguasa Langit Yang Agung, jika dirinya lupa bagaimana bernapas malam ini, bagaimana Flins bisa ingat untuk bernapas di setiap waktu yang ia habiskan dengan Lauma nantinya? Disaat ia melihat Lauma bangun tidur, atau Lauma yang memegang barang antik berharga yang diam-diam ia yakini barang antik yang dipegang istrinya menjadi lebih bernilai dibanding sebelumnya, ataupun ketika Lauma menatapnya seolah ia adalah cinta di hidup wanita itu. Flins ingin mati muda tapi ia tidak bisa mati meninggalkan Lauma.
Kini Lauma yang berjalan sendiri di altar yang ditemani Aino di belakang sebagai gadis bunga itu berdiri di depan Flins, ia menatap lurus pada istrinya dan tersenyum. Ia mengalihkan pandangannya sebentar pada Aino, menggumamkan terimakasih karena sudah membantu Lauma. Kini Flins menggandeng istrinya untuk menghadap pendeta bersama.
"Kamu cantik," selalu cantik, dari kali mereka bertemu sampai sekarang, Lauma adalah wujud dari kata cantik dan indah. "Selalu cantik. Kamu gugup?" bisik Flins.
"Fufu, terimakasih. Aku gugup sedikit," Flins melirik istrinya dan mereka bertemu pandang untuk sesaat. "Tadi sudah minum herbal penenang, sekarang tidak terlalu gugup."
Lagi, Flins tersenyum meski bibirnya sudah melekuk ke atas. Apakah wajahnya secerah rembulan di langit sana? Mungkin lebih cerah dan siapapun yang hadir dapat melihatnya, bahkan pak Nikita maupun Illuga pasti bertanya-tanya; bagaimana gerangan orang yang biasanya menjalani hari seolah hidup itu pilihan yang bukan keharusan, kini terlihat ia memilih kehidupan dengan sadar.
Kini keduanya menghadap pendeta gereja, Columbina. Flins mengenggam erat tangan Lauma dan dibalas oleh wanita itu.
Columbina membuka pernikahan ini dengan berkat pada Dewi Bulan, berkat pada pengantin, dan berkat pada saksi pernikahan. Pujian religi dilanturkan dengan indah, siapapun hanyut dalam khidmat keagamaan apalagi pasangan pengantin. Mereka merasa berkat dan rohani yang disentuh langsung oleh Dewi Bulan dengan lembut. Kemudian Columbina melanjutkan dengan doa-doa untuk pengantin, agar kehidupan setelah ini dapat dijalankan berdua sampai akhir. Kemudian barulah pengikraran sumpah suci untuk mengikat Flins dan Lauma pada pernikahan.
Keduanya pun berhadapan, Flins mengenggam tangan Lauma dengan lebih lembut dari sebelumnya. "Saya, Kyryll Chudomirovich Flins, mengambil engkau, Lauma, menjadi istri saya," bahkan di hari pertama mereka bertemu.
"Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selamanya," bahkan jika harus berlutut dan merendahkan diri untuk terus bisa bersama dengan Lauma.
"Pada waktu susah maupun senang," bahkan jika Lauma tidak mencintai dirinya sendiri, Flins akan menemani Lauma, membantu wanita itu untuk kembali hidup dan mencintai dirinya sendiri.
"Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan," bahkan jika seluruh hartanya direnggut, mereka tidak bisa merenggut Laumanya, tidak dengan kebersamaan mereka.
"Pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai," jika nanti Lauma memutuskan dirinya siap memiliki anak, maka Flins senantiasa mengenggam tangan istrinya saat melahirkan, membantu Lauma dalam kegiatan sehari-hari, maupun ketika Lauma berpikir dirinya tidak cukup pantas, Flins akan selalu memberitahu Lauma.
Lauma hebat, Lauma sudah melakukannya dengan baik, dan Flins maupun anak mereka bersyukur memiliki Lauma di kehidupan mereka.
"Sampai maut memisahkan kita," bahkan jika nanti keduanya beruban, kehilangan sebagian memori kehidupan dan menjadi lemah, Flins akan menggandeng Lauma seperti ini, menuntun istrinya di kehidupan lansia atau mengantarnya kembali pada Celestia.
Flins mendedikasikan hidupnya pada Lauma, belahan jiwanya, cintanya, dan cahaya rembulannya di tengah malam yang sepi.[/]
