Actions

Work Header

Semalam Di Hotel

Summary:

Seharusnya pukul 11 malam mereka sudah tertidur lelap sehabis perjalanan jauh. Tetapi entah kenapa malam itu mereka sulit tidur. Berbagai kerusuhan dari mengatur posisi tidur, rebutan selimut, menggigil kedinginan, sampai-sampai kejadian aneh serta seram juga turut menghampiri mereka yang terlelap.

Atau

Ohyul ngomel-ngomel karena kecapekan, Ryul ngatur semuanya dan melindungi adik-adiknya, Woojin jahilnya gak ketolongan dan maruk sama selimut karena kedinginan, kemudian Louis yang jadi korban kejahilan Woojin dan diam-diam ketakutan dengan hotel yang mereka huni.

Notes:

Disclaimer!

Di sini ada beberapa saat Jay Park ditulis abah, dan juga member LNGSHOT manggil dia abah. Oh ya, gak pakai panggilan hyung, tapi abang. Idk why I did some localization here. I hope yall enjoy it.

Penulisan cerita ini tidak bermaksud untuk ujaran kebencian, diskriminasi, dan sebagainya. Saya menulis ini untuk bersenang-senang, dan dibaca agar para Shotties senang.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Perjalanan ke luar kota kali ini memakan waktu sekitar 7 jam. Meski tidak melakukan apa-apa, hanya duduk manis di dalam mobil, tetap saja itu perjalanan yang memakan banyak tenaga dan melelahkan. Sampai-sampai semuanya menghabiskan waktu dengan tidur di bahu masing-masing.

 

Sesekali mereka berhenti di rest area atau hugeso. Membeli makanan-makanan kuliner yang ada di sana atau ke minimarket. Mereka juga harus membuang air.

 

Lalu akhirnya sampai pada hotel yang sudah diberitahu oleh Jay Park, bahwa mereka akan menginap di penginapan ini selama semalam, yakni malam ini, lalu esok siangnya berangkat pulang.

 

Ohyul yang terbangun duluan ketika mobil van berhenti, segera membangunkan yang lain.  “Bangun, kita udah sampai.” Bahunya jadi terasa pegal karena kedua adiknya itu tidur di kanan dan kirinya. Untung gak ada yang suka ngiler tidurnya. Mereka segera mengangkut tas masing-masing dan mengikuti langkah DPN beserta staff ke dalam hotel di tengah gelapnya malam.

 

Jam elektronik di hotel itu menunjukkan pukul 10 malam. Jay Park sempat melihat wajah mengantuk anak-anak yang baru saja mengumpulkan nyawa, sedikit tergelak melihatnya. Kemudian ia mengurusi check in di meja resepsionis, pengurusannya agak lama karena ada banyak orang yang dibawa, membuat member grup hip hop itu duduk di sofa dan saling mengerjapkan mata.

 

“Hotelnya sepi banget, ya…”

 

Meski penerangan di hotel itu terkesan mewah, dengan lampunya yang menghiasi langit-langit, suasana sepi di lobby hotel diam-diam terasa mencekam bagi mereka.

 

“Palingan ini karena udah malam, semua penghuninya pada tiduran,” ucap Ryul yang melihat-lihat sekitar, kelihatannya tidak merasakan keheningan yang aneh itu, karena ia dapat mendengar suara iklan di TV yang tampaknya menyala 24 jam.

 

Woojin refleks menggosok kedua tangannya, merasa kedinginan, padahal dari luar lobby hotel ini tampak hangat, rupanya tidak. Namun matanya menangkap Ohyul dan Louis yang menatap serius pada suatu hal.

 

Langsung saja anak itu menegur rekannya. “Bang Ohyul, Louis. Kalian ngelihat apa, sih?”

 

“Ah, itu… Kita lagi ngeliat lukisannya yang… aneh?”

 

“Itu bukan aneh lagi, kak. Malahan seram…”

 

Melihat raut wajah Louis yang berubah, membuat duo All Good jadi menoleh ke belakang secara bersamaan. Rupanya tidak jauh dari mereka ada sebuah lukisan berukuran 70x90, dengan gambar sesosok wanita yang berdiri tegak, kain indah menghiasi tubuh kurusnya. Mata wanita itu menatap lurus, seakan balas menatap kepada orang yang melihat lukisannya. Suasana lukisan itu suram, namun keberadaan wanita itu dihiasi oleh warna yang lembut seperti kuning kecoklatan.

 

“Aku ngerasa lukisan itu kayak natap kita, kak…”

 

“Kalian takut? Aku malahan ngerasa lukisan itu bagus, jadi pengin kufoto, deh.”

 

“Kak Ryul mau foto?” Woojin berseru tidak percaya ketika melihat abangnya itu malah mengeluarkan ponselnya.

 

“Kamu takut juga?”

“Enggak, kok!” sanggah anak itu. “Tapi…”

 

Siapapun tidak ada yang bisa menahan Ryul dengan pandangan uniknya itu. Santai sekali ia mengambil foto lukisan wanita itu, bahkan sampai selfie! Ohyul aja yang agak tegang lihat lukisan itu sampai menghembuskan napas, para bocah pun juga tidak habis pikir ama abang yang satu itu.

 

Bertepatan ketika Ryul balik. Ternyata Jay Park akhirnya selesai dengan urusan resepsionis, menyerahkan kunci kamar ke Ohyul. “Ayo, angkat barang-barang kalian semua. Kita dapat di lantai empat.”

 

Semuanya menurut pada perintah abah, mengangkut tasnya masing-masing dan menuju lift. Jay Park beserta anak-anaknya mengambil lift kanan, para manajer dan staff di lift kiri.

 

Ey, bro. I feel something not good.” Louis tiba-tiba berbisik kepada Woojin yang ada di sampingnya, mereka berada di barisan paling belakang. Abah dan para abangnya yang memimpin di depan.

 

“Kenapa memangnya?”

 

“Kenapa kita dapat kamar di lantai empat, ya?”

 

“Hmm… iya juga, ya? Baru kali ini ada hotel yang punya lantai empat, kayaknya pemilik hotel ini gak percaya takhayul?”

 

“Aku pun juga berpikiran gitu. Tapi hawa hotel ini kerasa agak beda, terutama sehabis lihat lukisan itu—”

 

“Ah, udahlah! Mungkin cuman perasaanmu aja, Lui.” Woojin melambaikan tangan. Sebetulnya bukan karena ia tidak percaya pada perkataan Louis, tetapi ia sedang tidak ingin membahas hal-hal horror sekarang, bulu kuduknya tiba-tiba sudah berdiri, terutama rasa dingin yang masih menghinggapi tubuhnya.

 

Member termuda itu hanya dapat meneguk ludah, mengusap lengannya sendiri yang terasa dingin. Akhirnya mereka sampai ke lift, abah memencet tombol lantai 4. Sepertinya abah tidak kepikiran untuk membicarakan mengapa hotel ini memiliki lantai 4.

 

Hanya suara layar iklan di TV yang mengisi keheningan ketika lift naik.

 

Jay Park sempat heran melihat wajah anak-anaknya itu pada tegang, padahal tadi ngantuk. “Hei, kalian. Nanti jam 11 tidur, ya. Jangan begadang. Besok kita bakal berangkat pagi-pagi, jam 9 udah berangkat, loh.”

 

“Iya, bah…” sahut mereka bersamaan dengan nada setengah lesu.

 

"Gua kayak gak percaya kalian bisa tidur nyenyak di jam 10 malam."

 

"Kita bakal langsung tidur, kok!"

 

"Iya, bah. Aku yang bakal ingatin mereka nanti." Ohyul sebagai leader dan tertua mencoba meyakinkan abah.

 

"Pokoknya kalo ada satu yang ribut, laporin ke gua nanti. Bakal gua suruh dia tidur bareng gua."

 

Semua anak-anak langsung menatap ke dirinya dengan pandangan horror.

 

"Kok kalian kayak seogah itu ama gua?!”

 

"Kami bakal langsung tidur, kok, bah..."

 

"Gua tau nih siapa yang bakal ribut nanti malam."

 

Jay Park langsung menarik salah satu anak yang daritadi sibuk memalingkan muka agar tidak ditatap oleh dirinya. Anak yang memakai beanie berwarna abu-abu, menutupi rambut pirangnya yang panjang sebahu. Siapa lagi kalau bukan Woojin.

 

"Tidur ama gua aja ya." Jay Park langsung merangkul anak itu erat-erat.

 

"Enggak! Jangan gua!!" Woojin berteriak panik, membuat semua anak-anak langsung tertawa melihat reaksinya yang murni kaget ditarik oleh Jay Park.

 

"Dih, ogah banget lu ya ama gua."

 

"Kenapa gak Louis aja, sih? Dia kan anak kesayangan abah."

 

"Gak gak gak. Gak usah, bah. Aku bisa tidur sendiri, kok!" Louis langsung cepat-cepat menolak sembari menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Sempat panik dia kenapa diseret sama Woojin.

 

"Yahh, kalian nih kagak ada yang mau nyoba tidur bareng gua apa."

 

Pintu lift terbuka ketika Jay Park melepas rangkulannya dari Woojin. Mereka pun sampai ke kamar yang sesuai pesanan. Ohyul yang tadi memegang kunci langsung membukakan kamar.

 

"Ohyul, kalau ada yang ribut, langsung laporin. Kamar gua ada tepat di samping kamar kalian."

 

"Kalau misalkan kak Ohyul sendiri yang ribut gimana?"

 

"Gua langsung tarik dia buat tidur bareng gua aja.”

 

“Ah, abah ini gak percaya ama aku.” Ohyul bisa mendengar suara tawa rekan-rekannya, jadi malu sekaligus geli membayangkannya kalau ia harus tidur bareng DPN-nya sendiri.

 

Kamar hotel yang hangat menyambut keempat anak tersebut, disambut juga oleh bau wangi yang menenangkan pikiran. Ternyata Jay Park memesankan kamar dengan double bed.

 

Ohyul melihat adik-adiknya itu buru-buru melepas alas kaki dan langsung loncat di atas kasurnya, ia pun menegurnya. “Baju kalian kotor habis dari luar! Jangan naik ke atas tilam dulu!”

 

“Ahh!! Ternyata empuk banget!” Kelihatannya Woojin dan Louis sama-sama tidak peduli, asik menikmati berbaring di kasur yang empuk.

 

Sang leader itu hanya bisa menghembuskan napas lelah, sedangkan rekannya yang seumuran merapikan tas-tas yang dibawa masuk.

 

Waktu semakin berlalu. Sampai-sampai jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Semua anak-anak sudah bergantian mandi dan mengganti pakaian menjadi piyama.

 

Seharusnya jika menuruti perintah abah Jay Park, mereka bergegas tidur. Namun ada aja tingkah bocah-bocah ini pas malam-malam.

 

Seperti Woojin yang iseng mau live, tapi kan gak ada izin yang diberikan, jarinya iseng mau pencet-pencet tombol live, eh kepencet betulan! Mana itu kamera ponsel Woojin ngarah ke Ohyul yang lagi garuk-garuk paha. Malu itu abang kalo aibnya terabadikan dalam live.

 

“Kamu itu gak mikirin apa Shotties kaget dapat notif live tapi malah udah berakhir!”

 

“Ya berarti mereka gak hoki lihat abang Ohyul garuk-garuk paha—”

 

“Oke! Cukup! Kita rapikan kasur buat siap-siap tidur ya!” Sikap leader-nya Ohyul langsung keluar, membuat kedua bocah langsung minggir dari atas kasur. Semuanya pun langsung membantu Ohyul, mengatur bagaimana mereka tidur nanti.

 

“Pokoknya aku di tengah.” Woojin menunjuk posisi di antara kedua abangnya.

 

“Iya, Woojin bahaya kalau di pinggir, dia kalau tidur bisa berputar 180 derajat, terus bisa guling-guling sembarangan,” timpal Ryul.

 

“Kamu ngomong gitu bikin aku jadi takut tidur di samping Woojin. Jangan-jangan aku bisa ditindih sama dia.” Ohyul berkacak pinggang sehabis mendengar penuturan itu.

 

“Palingan abang Ohyul cuman aku tendang, kok.”

 

“Aku di pinggir aja. Biar mudah ambil barang.” 

 

Louis duluan mengambil posisi di dekat nakas dan lampu tidur, disusul Woojin yang diputuskan samping Louis saja—karena mungkin tubuh besarnya bisa nahan Woojin jatuh dari kasur, para abang penasaran apakah percobaan ini akan berhasil atau tidak.

 

“Oke, asalkan kak Woojin enggak meluk-meluk pas tidur, ya.” 

 

Begitu kata Louis, yang langsung disambut reaksi heran dari Woojin.

 

“Aku gak jamin, sih. Habis aku kan tidur, gak bisa kontrol aku geraknya gimana-mana,” sahutnya membuat Louis langsung merasa keberatan. Dia mau tidur, bukan mau jadi gulingnya Woojin.

 

Akhirnya dibatalkan Louis samping Woojin.

 

Ohyul dan Ryul terpaksa berpikir keras mengenai susunan mereka tidur. Sampai akhirnya Ryul menjentikkan jari. “Begini aja deh. Dari kiri itu Ohyul, sampingnya Woojin, baru aku, dan terakhir Louis. Gimana?”

 

“Ya aku seneng di samping bang Ryul, sih. Tapi masalahnya…”

 

Tidak perlu kata-kata lanjutan dari member termuda itu, mereka sebetulnya sudah paham. Louis tidur di ujung sisi kanan, benar-benar berdampingan dengan kamar mandi. Ditilik dari raut wajahnya, ia takut tidur menghadap ke kamar mandi.

 

“Ya tidurnya gak usah hadap ke kamar mandi, lah!” Begitu solusi dari Woojin. Dia mah memang enak, posisinya di tengah-tengah. Kagak khawatir. Hadap kiri, ada Ryul, hadap kanan ada Ohyul. Asoy banget.

 

“Nanti lampu kamar mandi dimatiin, bakal gelap. Jadi gak usah khawatir kalo ada penampakan aneh-aneh.” Perkataan Ryul malah bikin Louis jadi makin takut.

 

“Udahlah. Gak usah mikirin ‘itu'. Mending nikmati kasurnya yang nyaman ini, pasti tidurnya enak.” Ohyul sama sekali tidak punya tenaga mengurusi mahkluk-mahkluk seram, kalaupun ada yang ganggu, ia tidak akan peduli. Yang penting tidur.

 

Akhirnya mereka semua mulai mengatur posisi, ada yang mengambil selimut tambahan dari lemari. Ohyul mengatur suhu AC yang padahal sudah tinggi namun tetap terasa dingin sekali. Hampir saja ia ingin merebut selimut Woojin, adiknya itu reflek kesal karena Ohyul sendiri sudah punya selimut kesayangannya, jadi tak usah ambil punya orang.

 

“Kamu ngerasa dingin banget gak, sih?”

 

“Ya, lihat aja aku pakai selimut 2 lapis. Aku nyesel bawa piyama tipis. Apa aku pakai jaket aja, ya?” Woojin berpikir sejenak. “Ah, tapi kan jaketnya mau kupakai besok.” Sehingga ia batal bangkit dari kasur, menarik selimutnya lebih tinggi sampai ingin menutupi wajah.

 

Klik! Sekitar mereka langsung gelap, hanya lampu tidur yang remang-remang, dari tadi menyala dan menerangi kamar mereka. Sontak membuat suasana kamar itu yang tadi terlihat hangat berubah drastis menjadi kamar tua yang mencekam dan mistis.

 

Louis sempat berteriak dengan suara melengking karena kaget lampunya mati. Rupanya Ryul yang mematikan lampu kamar agar mereka tak usah ribut lagi, bergegas tidur, nanti ditegur sama Jay Park atau manajer.

 

“Nah, lampu udah mati. Mending kita tidur sekarang.” Ohyul yang memang sudah kehabisan tenaga langsung mengambil posisi nyaman.

 

“Kalian ngerasa gak, sih, kamarnya jadi lebih dingin pas lampunya dimatiin. Hihi~”

 

Ada tangan yang tiba-tiba menggelitik bahu Louis di tengah kegelapan, sontak membuat anak itu jadi menjerit ketakutan. “EYYO BRO WHAT'S THAT?!! AAAAKKKK!!”

 

“Woojin!! Diem loh, ya! Jangan iseng sama Louis!” Nada Ohyul kini terdengar murka.

 

“Sumpah ya lu berdua mau tidur bareng abah?” Bahkan Ryul pun sampai geleng-geleng kepala lihat itu dua bocah. Woojin pun akhirnya berhenti iseng (enggak), meraih selimutnya, dan diam-diam mengambil ponselnya.

 

Ryul akhirnya baring di antara Woojin dan Louis, menarik selimut agar menutupi seluruh tubuhnya.

 

Beberapa menit berlalu, mereka semua sama sekali tidak bisa berbohong bahwa kamar terasa sangat dingin. Ohyul yang katanya paling kecapekan pun masih belum bisa terlelap, terus membolak-balikkan badannya kesana kemari.

 

Karena selimut diangkat tinggi-tinggi sampai setinggi bantal, kepala Woojin sama sekali tidak kelihatan. Mereka semua biasa saja, mungkin Woojin tenggelam dalam selimut, dan menyukainya. Tapi semuanya langsung terkejut ketika anak itu keluar dari selimut dan berseru kencang.

 

“Guys! Tahu, gak?! Gua habis cari hotel ini dan baca review-nya yang aneh!”

 

“LU LAGI LU LAGI!! Gua udah mau tidur, loh!” Ohyul mendecakkan lidah dan berseru kesal. Tetapi Woojin tak memedulikannya, ekspresinya serius, menunjukkan layar ponselnya ke seluruh rekannya.

 

“Ada orang yang bilang kalau hotel ini ada hantunya, loh!”

 

“KALO SOAL HANTU AKU GAK MAU DENGER!!” Louis langsung menutup wajah dan telinganya dengan bantal.

 

Sedangkan Ryul walau dalam hati kesal karena ada keributan lagi, sebenarnya penasaran dengan apa yang Woojin bilang. Sehingga tanpa pikir panjang lagi ia bertanya. “Emang review-nya gimana? Coba bacain.”

 

“Nih, ya. Jadi ada yang bilang. ‘Hotel ini aneh banget. Walaupun gua gak tidur di kamar lantai empat, tapi banyak kejadian janggal di hotel ini. Pokoknya gua gak mau nginep di hotel ini lagi!’.”

 

“Terus ada juga yang pendek. ‘Gua tidur di lantai 4, dan sumpah, gua langsung cabut padahal rencananya mau nginep dua malam'.

 

“Dan masih banyak review lainnya, bang. Ada sih yang ngasih bintang 5, gak cerita ada kejadian apa-apa. Tapi mayoritas ngalamin kejadian serem! Ih! Jadi merinding sendiri gua!”

 

Woojin mengusap-usap lengannya sendiri, dengan satu tangan masih scrolling. Wajahnya diterangi oleh cahaya ponselnya sendiri di tengah kegelapan. Ryul menyimak dengan serius dari awal, Louis yang menyembunyikan diri, dan Ohyul yang tadi merasa sebal, ikut memperhatikan juga, mengambil posisi duduk.

 

“Gua jadi keinget lukisan itu…” ucap Ohyul tiba-tiba. Pikirannya melayang ke lobby hotel lantai satu.

 

“Oh iya. Gua ada fotonya, nih.”

 

“Yaelah, gak usah ditunjukin juga, Ryul!”

 

“Cocok nih aku post. Mau di second account kita atau post weverse?”

 

Ohyul memijat dahinya sendiri. Kenapa rekannya jadi ikut kocak begini?

 

“Tapi aku sendiri… dah ngerasa aneh dari kita dapat kamar di lantai empat…”

 

Mereka mendengar suara mencicit Louis dari balik selimut. Adik bungsu itu perlahan-lahan membuka selimutnya dan menampakkan diri.

 

“Aneh memang. Padahal hotel itu biasanya gak punya lantai empat, loh.”

 

“Tapi kenapa abah ngerasa biasa aja?”

 

“Mungkin abah gak mau kita kepikiran. Sebetulnya ngerasa aneh juga, tapi disembunyikan dari kita.”

 

Mereka terdiam sejenak. Sampai tiba-tiba suara notifikasi dari masing-masing ponsel berbunyi, Woojin yang memegang ponselnya juga memberitahu ada pesan di group chat. Sehingga semuanya mengambil ponselnya.



LONGSYAATTT Ft. Abah



Abah: Heh gua kok denger dari luar, kalian masih belum pada tidur ya?

Apa semuanya mau tidur bareng gua nih?

 

Ohyul: Iya bah, ini kita mau tidur kok😁

 

Ryul: Ini Ujin mabar ama temennya

Udah kita tegur buat tidur tapi dia gak mau tidur

Katanya gak mau ikut jalan besok pagi

 

Abah: Oh iya kah? Yaudah tinggalin aja besok pagi nanti

 

Woojin: FITNAH WOI

Abah, abang Ryul fitnah aku😭

 

Abah: Louis udah tidur belum?

 

Louis: Udah bah

 

Abah: Loh belum tidur itu dek Louis

Main hape kamu berarti masih

Sama aja kayak kakak-kakakmu

 

Ohyul: Kan abah nanya ya dek Louis jawab lah😭

 

Louis: 😮‍💨

 

Abah: Ya tapi itu artinya masih pegang hape kan?

Udah udah, tidur kalian semua

Apalagi itu Woojin. Mabarnya besok aja

Besok kita jalan pagi-pagi loh

Awas kalau telat bangun



“Udah, ah. Tiduran kita. Takutnya nanti abah datangin kita.”

 

Tok tok tok. Suara ketukannya pelan, tetapi terdengar jelas di mereka. Ah pasti manajer atau staff yang menegur mereka. Membuat mereka jadi menutup mulut masing-masing, memutuskan untuk tak membuat keributan lagi.

 

Jam telah menunjukkan pukul 12 malam. Waktu yang sangat malam sekali untuk bergegas tidur.



***



Suhu AC sudah dinaikkan sampai 26 derajat Celsius. Tetapi malam itu tetap terasa sangat dingin.

 

Semua member LNGSHOT sudah memejamkan mata, tertidur pulas dengan suara dengkuran masing-masing. Hanya satu anak saja yang belum tertidur nyenyak.

 

Pasalnya ada suara aneh yang mengganggu tidurnya.

 

Druk! Druk! Buk! Kreettt…

 

Louis berusaha mengabaikan suara itu.

 

Druk! Druk! Buk! Kreettt…

 

Kayak suara meja dipukul, kemudian didorong?

 

Druk! Druk! Buk! Kreettt…

 

Enggak. Bukan meja. Tapi…

 

Kepala orang yang dibentur.

 

Louis hampir menjerit ketakutan membayangkannya, teringat dengan film horror yang pernah ditontonnya.

 

Suara itu terdengar semakin jelas. Membuatnya resah. Ini bukan suara dari mimpinya, ia bisa mendengarnya dari kamar samping.

 

Siapa orang yang ribut-ribut di tengah malam begini?

 

Druk! Druk! Buk! Kreettt…

 

Suara itu terdengar semakin menakutkan di telinga Louis. Ia pun langsung menggoyangkan tubuh Ryul di sampingnya. Tidak susah membangunkannya, hanya sekali senggolan saja mata abangnya itu langsung terbuka.

 

“Bangun, bang… Denger suara itu, gak?”

 

DRUK! DRUK! Buk! Kreettt…

 

Louis mulai merasa panik sebab suaranya semakin nyaring, seakan-akan suara itu akan menghancurkan dinding kamar mereka. Ryul segera bangkit dari kasur, perlahan-lahan mendekati dinding kamar, sembari melindungi Louis yang ada di belakang—mengikutinya.

 

Druk! Druk! Buk! Kreettt…

 

Ia mendekatkan telinga ke dinding kamar yang terasa dingin bagai es batu, meraba-raba pelan. Suara itu lama kelamaan mengecil, bagai terendam. Louis yang ketakutan juga jadi mendekatkan telinganya, merasa aneh karena suara itu jadi mengecil.

 

Tepat saat mereka memfokuskan pendengaran. Sebuah suara yang mengejutkan tiba-tiba menyusul.

 

TOK! TOK! TOK!

 

Pintu mereka diketuk tiga kali dengan keras.

 

Suara gedebuk itu menghilang sementara sehabis suara ketukan pintu.

 

Ritmenya aneh, pikir Ryul.

 

Kalau DPN atau manajer yang mengetuk, tidak akan seperti itu.

 

“S-siapa itu…?” tanya Louis ke Ryul dengan suara bergetar.

 

“Gak mungkin abah atau manajer…!” bisiknya. Membuat Louis shock, kemudian kabur darinya dan bergegas balik ke kasur, bersembunyi di balik selimut sampai tidak terlihat helai rambutnya satupun.

 

Sedangkan Ryul, ia membeku di posisinya. Menatap cermat pintu kamar hotel yang lama kelamaan terasa menakutkan, menggetarkan hatinya yang ditegaskannya. Ia ingin mengecek lubang pintu hotel yang bisa melihat ke luar, siapa yang mengetuk pintu mereka? Lebih-lebih… siapa yang menunggu di luar sana?

 

Namun jam sudah menunjukkan pukul 3 malam. Ryul merasa gentar, sebab kalau dipikir-pikir lagi, staff hotel tidak mungkin datang di jam seperti ini.

 

Tok tok tok…

 

Suara ketukan itu kini mulai pelan. Membuatnya melangkah balik ke kasur.

 

Jangan. Jangan dicek. Bisa jadi orang jahat. Atau sesuatu yang lain menunggu di sana.

 

Satu-satunya tempat aman hanyalah di dalam kamar.

 

Begitu pikirannya. Ryul pun duduk di pinggir kasur, dilihatnya Louis yang bersemayam di balik selimut tebal, mendekat ke Woojin yang terlelap. Ryul memutuskan tidur di ujung dekat kamar mandi, karena tidak mungkin ia menyuruh Louis yang masih ketakutan kembali ke posisi semula.

 

Ia bisa mendengar suara setengah menangis Louis di sana, saking takutnya.

 

“Siapa itu, bang…?”

 

“Cuman orang iseng.”

 

Druk! Druk!

 

Suara itu kembali lagi. Membuat Louis kembali takut.

 

“Udah, gak usah didengerin. Tenang. Ada kita, kok.”

 

Ryul masuk ke dalam selimut, memejamkan matanya perlahan-lahan. Dan juga memeluk Louis agar anak itu tidak ketakutan serta kembali terlelap dengan aman dan nyaman, meski ia sendiri juga merasa khawatir dengan apa yang terjadi di luar.



***



Pukul tujuh pagi. Matahari terbit, sinarnya langsung menerangi hari yang telah tiba.

 

Ohyul yang tidur dekat jendela, jadi mengerjap-ngerjapkan matanya karena terkena sinar matahari di balik tirai. Sekaligus ia mendengar alarm dari ponselnya telah berbunyi. Ia bergegas bangkit dan mematikannya.

 

Laki-laki itu mengecek ponselnya, melihat ratusan notifikasi telah masuk. Waktu semakin berlalu ketika memainkan ponsel, tetapi setidaknya ia beranjak dari kasur dan membuka gorden, membiarkan cahaya matahari masuk lebih dalam.

 

Menyebabkan satu per satu rekannya bangun. Dari Ryul yang tersadar, menggosok matanya. Melihat itu Ohyul baru sadar jika Ryul tidur di ujung, dekat kamar mandi, bertukaran dengan Louis. Louis jadi tidur di samping Woojin.

 

“Ah, iya. Aku sama Louis memang tukaran. Soalnya… tadi malam…”

 

Ryul pun akhirnya menceritakan apa terjadi tadi malam. Cerita itu membuat Ohyul sampai meletakkan ponselnya dulu karena serius menyimaknya.

 

Selesai menceritakannya, baru Ohyul berkomentar.

 

“Ada yang ngetuk? Pantesan semalem gue kayak denger sayup-sayup. Tapi gue pikir itu mimpi atau kru kita iseng. Gue capek banget, badan gue remuk, jadi gue cuekin aja.”

 

“Lu denger suara buk buk itu, gak?”

 

“Denger juga, sih. Cuman… gua bodo amatin.”

 

“Sumpah ya, itu Louis sampai mau nangis dengernya, setakut itu dia.”

 

Panjang umur itu anak baru disebut namanya langsung terbangun dari tidurnya, kelihatannya tidak terlalu nyenyak sebab ia bahkan masih menguap ketika duduk di atas kasur. “Kenapa, nih? Cerita apa, bang?” tanyanya dengan mata masih setengah terpejam.

 

“Tadi malam.” Ryul menjawab singkat.

 

Louis langsung menoleh, menatap abangnya itu dengan mata melotot sedikit, tentu rekaman kejadian itu masih terekam jelas di kepalanya.

 

“Pantesan kamu jadi tidur dekat Woojin,” celetuk Ohyul, menunjuk jika mereka saja sampai berpelukan tidurnya, tetapi saling merebut tempat.

 

Louis meminggirkan tangan Woojin yang ada di atas tubuhnya, dan satu kaki abangnya lagi yang menindih bagian bawah tubuhnya.

 

“Aslinya mah aku ogah tidur samping dia. Bener-bener jadi guling aku. Cuman karena tadi malam aku jantungan denger suara aneh itu, makanya aku jadi ada di samping dia.”

 

Ohyul tergelak mendengar penjelasan Louis. Tetapi ada sedikit kekhawatiran yang tertinggal di dirinya sehabis mendengar cerita dari Ryul. “Tapi kamu gak papa, kan, sekarang? Aku dengar kamu sampai nangis ketakutan.”

 

“Gak papa, kok… Ah! Gak sampai nangis juga, kok, bang!”

 

Ohyul hanya mengacak rambut Louis dengan gemas, lalu akhirnya masuk ke kamar mandi.

 

Ketika Ohyul keluar dari kamar mandi lah, Woojin baru bangun—karena dibangunkan oleh dua rekannya, bisa-bisa Woojin ini gak ikut jalan.

 

“Oh…? Udah pagi? Jam delapan?? Gila, ya! Tidur gua nyenyak banget, selimutnya anget! Pagi semuanya!”

 

Di antara wajah-wajah member yang masih kuyu, tegang dan ketakutan dengan kejadian tadi malam. Cuman Woojin yang mukanya cerah, bahkan mengalahkan cerahnya matahari.

 

Ohyul yang tadi sudah kepikiran mau marahin itu bokem langsung memuntahkan omelannya. “Lu ya, Woojin! Semalem tidur jadi kepompong! Selimut lu ambil semua! Kita kedinginan, lu tidur kayak batu! Tahu gak, semalem kita hampir diculik hantu?!”

 

Woojin hanya mengedip-ngedipkan mata. “Hah? Hantu? Gue gak tahu, tuh. Kenapa memangnya tadi malem?” Balik bertanya ke semua rekannya dengan tampang tidak tahu menahu.

 

Louis langsung menimpuknya dengan bantal hotel karena sudah tidak bisa menahan kekesalannya lagi.



***



Lobby hotel lantai 1. Sarapan bersama DPN.

 

“Hah? Suara aneh pas jam 3 pagi? Juga ada yang ngetok di pintu kamar kalian?”

 

Semua member mengangguk kecuali Woojin yang sibuk meniup makanannya yang masih panas. Mereka telah menceritakan kejadian itu ke Jay Park.

 

Tampaknya bapak mereka itupun tidak tahu dengan kejadian yang mereka alami. “Gua gak denger suara aneh itu. Terus gua, manajer atau staff gak ada ya ngetok kamar kalian pas tengah malam.”

 

“Terus siapa dong…”

 

“Gua sendiri dah ngerasa suara ketukannya aneh. Gak mungkin orang dari kita ngetoknya keras begitu.”

 

“Coba gua laporkan ke resepsionisnya, ya.” Jay Park bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan mereka yang sedang menghabiskan sarapan bersama.

 

Balik-balik, Jay Park membawa laporan mengejutkan.

 

“Kalian dengar suaranya di kamar samping kanan, kan?” Ia bertanya lebih dulu.

 

“Iya, pokoknya bukan suara dari kamar abah.”

 

“Gak ada orang yang tinggal di kamar samping itu.”

 

Raut wajah semua member seketika berubah menjadi pucat pasi, saling melirik satu sama lain dengan muka tegang, bahkan Woojin pun sampai berhenti menyuap makanannya, melongo sejenak.

 

“J-jadi siapa yang bikin ribut pas malam itu…?”

 

Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu sekarang. Jay Park hanya dapat mengusap wajahnya sendiri melihat kondisi ketiga anaknya, kecuali Woojin yang masih berselera menghabiskan makanan, bahkan ingin mengisi ulang jus jeruknya. Hanya anak itu saja yang tampaknya tidak ketakutan seperti rekannya.

 

“Yasudah. Habiskan sarapan kalian, ambil barang kalian di kamar, kita langsung pulang.”

 

“Katanya kita mau jalan, bah?! Ada syuting, kan?”

 

“Ya, itu jadi. Tapi kita cabut dari hotel ini sekarang. Kita gak jadi pulang pas selesai syuting.”

 

Itu bukan candaan, Jay Park serius. Sehingga member lain yang sarapannya belum habis segera menghabiskannya, lalu bergegas kembali ke kamar dan mengangkut barang masing-masing.



***




Awalnya itu suasana yang hening karena semua orang fokus membereskan barangnya.

 

Sampai ketika Ryul memecahkan suasana hening itu. “Kami minta maaf, ya, hantu-sunbaenim.”

 

“Hah? Bang Ryul napa minta maaf?”

 

“Mungkin kita mengganggu tempat dia di lantai 4 ini.”

 

“Bukannya dia yang ganggu kit—”

 

“Sst! Gua dah serius mau minta maaf, jangan bikin dia marah lagi!” Ryul menegur adiknya itu dengan ekspresi serius, membuat Woojin yang tadi pengin ngoceh jadi menutup kembali mulutnya.

 

Akhirnya mereka meninggalkan kamar tersebut. Ohyul mematikan AC-nya. Woojin sendiri masih merasa menggigil, padahal matahari bersinar cerah. Louis melihat-lihat lorong lantai 4. Jay Park, para manajer dan staff telah keluar dari kamar masing-masing, mengangkut peralatan mereka.

 

“Nih, kamar samping kalian ini gak ada siapa-siapa dari kemarin.”

 

“Eh abah jangan ungkit-ungkit lagi, dah.”

 

“Iya, bang Ryul aja udah minta maaf ke hantunya, bah.”

 

Jay Park langsung tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan anak-anaknya yang serius sekali, tawanya yang meledek itu kontras dengan suasana lorong yang terasa sangat sepi dan menakutkan bagi member LNGSHOT. “Tenang aja, pokoknya kalo ada gua, gak ada yang perlu kalian takutin!” serunya sembari tersenyum lebar menunjukkan gigi. 

 

Walaupun begitu anak-anaknya tetap terlihat ketakutan. Tawanya abah juga gak kalah serem soalnya—



***



Seluruh tas dan peralatan telah diletakkan di dalam van. Para member pun juga sudah masuk ke van dan duduk di kursinya.

 

Suasana di dalam van awalnya hening, mereka berempat sibuk dengan urusan masing-masing. Sampai suara bersin memecahkan keheningan tersebut.

 

“Hachimm!!” Woojin rupanya yang bersin, tidak hanya sekali, berkali-kali dirinya bersin.

 

Ohyul yang ada di sampingnya bingung, sekaligus khawatir apakah adiknya tiba-tiba terserang flu.

 

“Hachim! Aduh, dingin amat sih di dalam van. Tolong matiin dong AC-nya, bang!” seru Woojin sembari mengusap-ngusap hidungnya yang mulai kemerahan.

 

“AC-nya belum dinyalain, bang.” Louis yang menjawab, sedang mengipas-ngipas dirinya karena merasa kepanasan. Tentu kontras sekali antara Woojin dan Louis. Membuat kedua abangnya keheranan.

 

“Kok lu ngerasa kedinginan, sih? Padahal AC mati, loh,” tanya Ryul.

 

“Gak tau ah! Hachim! Dari semalem, gua bener-bener ngerasa kedinginan, kayak ada es di badan gua. Selimut-selimut tuh kagak ada yang mempan gua pake! Aneh deh!”

 

Mendengar itu, Louis tiba-tiba menjaga jarak dengannya, menjauhi Woojin sampai-sampai mukanya tertempel di kaca van. “FIX BANG WOOJIN KETEMPELAN SIH!”

 

“Ketempelan??”

 

Ohyul langsung tertawa kencang melihat ekspresi takut Louis dan Woojin yang jadi dijauhi. “BAHAHAHAH!! Semalem lu tidur paling nyenyak kayak simulasi mati, selimut buat bersama diembat semua. Nah sekarang setannya gak terima, makanya dia numpang di punggung lu biar ikutan dapet AC!”

 

“Hah?! Apaan sih! Jangan nakut-nakutin, dong! Masa' ada setan suka AC?!”

 

Ryul sontak memasang ekspresi serius. “Ada, Woojin. Itu namanya Roh Dingin. Dia suka sama orang yang kalo tidur ambil selimut orang. Jadi dia itu suka ngusap-ngusap badan orang yang maruk selimut itu, makanya tubuh lu menggigil terus.”

 

“AHHH UDAHLAH BANG RYUL!! JANGAN GITU! GUA JADI MAKIN TAKUT!! AHH MAMAH MAU PULANG!!!”

 

Van itu jadi penuh oleh teriakan histeris Woojin dan member lainnya yang tertawa melihatnya, puas menjahilinya. Padahal Woojin merasa jagoan sekali tidak terkena gangguan apa-apa seperti ketiga rekannya, tetapi rupanya dia sama saja.

 

Setidaknya, mereka telah meninggalkan hotel itu, dan takkan pernah kembali lagi. Siapa juga yang mau kena ganggu?




Bonus:



Beberapa bulan berlalu.

 

Ketika mereka dalam perjalanan luar kota, melewati sebuah tempat yang familiar di mata mereka.

 

Woojin yang duduk di dekat jendela tiba-tiba berseru. “Eh! Itu bukannya hotel horror itu, ya?” Menunjuk pada sebuah hotel yang tampak terbengkalai dengan mata terbelalak. Para abang dan adiknya menyusul melihat.

 

“Loh? Tutup ya?”

 

“Iya kayaknya. Padahal beberapa bulan lalu kita nginap di sana.”

 

“Wah syukur. Pasti gara-gara berhantu itu.”

 

Mendengar kata hantu membuat Woojin jadi flashback ke masa itu. Roh Dingin.

 

“Sumpah, jadi keingat gua kedinginan itu! Sekarang gua tidur pake selimutnya berlapis-lapis gara-gara kejadian itu.”

 

“Bukan selimut orang, kan? Setannya bakal makin suka kalo gitu.”

 

“Enggak ya!”

 

Penampakan hotel yang jadinya terbengkalai itu mulai menjauh dari mereka, sehingga mereka tidak berdesak-desakan melihat ke jendela.

 

Ryul tiba-tiba mengambil ponselnya dan mencari sesuatu di laman pencarian, mengetikkan nama hotel tersebut.

 

Lantas menemukan sesuatu yang membuat jantungnya mencelos.

 

“Ryul? Kenapa lu?”

 

“Gua nemu berita hotelnya tutup…”

 

“Memangnya kenapa, betulan gara-gara berhantu?”

 

Kini semua orang mendekat pada Ryul yang masih terpaku pada ponselnya.

 

“Katanya... hotel ini resmi berhenti beroperasi dan dikosongkan total sejak satu tahun yang lalu karena masalah sengketa tanah… Jadi hotelnya udah tutup dari tahun 2025…”

 

Sunyi senyap.

 

 

“S-setahun yang lalu… Berarti yang kita nginap beberapa bulan lalu itu… Apa…?” Louis berucap dengan suara mulai bergetar.

 

“Mbak resepsionis itu…?”

 

“Hotelnya tutup pas kita belum debut, kocak—Hachim!!” Woojin seketika bersin dan menggigil, membuat Ohyul jadi jaga jarak karena ada di sampingnya.

 

“LU KETEMPELAN LAGI, WOOJIN?!”

 

“ENGGAK BANG!!”

 

“Kayaknya kutukan hotel itu masih ada, ya.”

 

Begitulah hari-hari mereka, meski sudah berbulan-bulan meninggalkan hotel berhantu tersebut, yang ternyata sudah tutup setahun lalu.



End

Notes:

Kejadian horror yang dialami member LNGSHOT ini diambil dari kejadian nyata ketika saya kecil dulu menginap di suatu hotel luar kota. Mendengar suara aneh antara meja yang didorong atau kepala orang yang sedang dibentur. Suara itu ada dari awal malam ketika saya bersiap tidur sampai saya terbangun lagi di subuh hari. Suara itu berhenti ketika pagi tiba. Ternyata saat dicek samping kanan-kiri kamar saya, tidak ada siapapun, padahal jelas-jelas suara itu terdengar dari samping.

Cerita ini terus membekas di diri saya karena akhirnya kapok menginap di hotel itu. Ternyata hotelnya tutup dan berhenti beroperasi.

Begitulah cerita nyatanya. Selebihnya di cerita LNGSHOT ini, ada banyak tambahan agar ceritanya semakin seram. Jadi saya gak ngalamin diketok jam 3 pagi, dan menemukan fakta hotelnya udah ditutup setahun lalu.

Awalnya fanfic LNGSHOT ini saya rencanakan cerita komedi antara member yang gak bisa tidur pas nginap di hotel. Tetapi tiba-tiba genrenya saya ubah jadi horror karena ketika menjelaskan lukisan di hotel, kemudian mencari lukisan di hotel itu bagaimana saja, saya malah mendapatkan gambar lukisan di hotel Tugu Malang yang bikin kaget tengah malam. Gara-gara itu, saya ubah saja ceritanya jadi genre horror, saya masukkan kejadian seram yang pernah saya alami waktu kecil.

Padahal, kalian bisa saja mendapatkan cerita komedi member LNGSHOT yang malah begadang, lalu cerita-cerita horror, dsb. Tapi gara-gara jumpscare itu, saya urungkan (Yah, lagian ide saya mentok sih, jokes saya garing, susah nulis cerita komedi).

Begitulah. Sekian. Salam 4shoboiz. Semoga suka cerita saya yang ini, bakal kerja rodi untuk fanfic selanjutnya.