Actions

Work Header

Kelopak Terakhir

Summary:

"Jika hatimu tak memiliki ruang untuk belas kasih, maka fisikmu akan mencerminkan jiwamu yang sebenarnya."

Satu kutukan mengubah Shin Junghwan dari penguasa algoritma kota menjadi The Beast, binatang buas yang terperangkap di istana kacanya sendiri. Baginya, harapan telah mati bersama waktu yang terus berhitung mundur.

Sampai Choi Youngjae melangkah masuk ke penjaranya.

_____

"Satu kelopak terakhir. Satu kesempatan tersisa. Dapatkah kau mencintai monster yang tak lagi memiliki rupa manusia?"

Notes:

Disclaimer:
Kisah ini adalah Alternate Universe (AU) - Fairytale Retelling. Seluruh konsep dan elemen cerita Beauty and the Beast merupakan hak cipta milik Disney. Aku hanya meminjam visualisasi karakter dan memodifikasi jalan cerita ke dalam versi modern demi kesenangan kreatif bersama. No copyright infringement intended.

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Kelopak Pertama

Chapter Text

Kota Seoul pada tahun 2026 adalah sebuah rimba beton yang digerakkan oleh algoritma, angka-angka saham, dan kesempurnaan visual yang kejam. Di puncak hierarki sosial itu, tersebutlah nama Shin Junghwan. Ia adalah perwujudan dari segala hal yang dicemburui dunia. Pewaris tunggal Shin Corp, konglomerat bidang teknologi dan mode, dengan wajah yang dipahat seolah menantang definisi ketampanan manusia.

Namun, kesempurnaan fisik Junghwan berbanding lurus dengan kebekuan hatinya. Bagi Junghwan, manusia hanyalah angka yang bisa dikalkulasi, dan kelemahan adalah cacat produksi yang harus dibuang. Ia memimpin kerajaannya dari balik menara kaca setinggi delapan puluh lantai dengan tangan besi yang tak mengenal belas kasihan.

Hingga malam kutukan itu tiba.

Malam itu, badai salju prematur melanda Seoul di awal November. Di tengah pesta perayaan peluncuran produk terbaru Shin Corp yang diadakan di Distrik Gangnam yang mewah dan dihadiri kaum aristokrat kota, seorang wanita tua berpakaian gembel menyelinap masuk ke aula utama. Tubuhnya menggigil, pakaiannya basah kuyup, dan ia membawa setangkai mawar merah liar yang separuh membeku.

"Tuan Muda yang Agung," bisik wanita itu, suaranya parau memecah denting gelas sampanye. "Izinkan saya berteduh dari badai ini. Sebagai gantinya, terimalah mawar ini. Ia mekar di tengah dingin, sebuah simbol keindahan yang murni."

Junghwan, yang sedang berdiri di tengah lingkaran para direktur, menatap wanita itu dengan rasa jijik yang kentara. Matanya yang tajam menyapu penampilan kumal sang wanita dari atas ke bawah.

"Singkirkan makhluk kotor ini dari pandanganku," titah Junghwan dingin, suaranya memotong musik orkestra. "Tempat ini adalah distrik untuk mereka yang berkontribusi pada dunia, bukan untuk pengemis yang menjual sampah tanaman. Keamanan, seret dia keluar sebelum dia mengotori karpet sutra ini!”

Wanita tua itu mendongak. Di balik tudung kumalnya, matanya mendadak bersinar dengan cahaya keperakan yang mistis. Senyumnya berubah menjadi seringai dingin. "Kau melihat dunia hanya dari apa yang tertangkap oleh matamu yang congkak, Shin Junghwan. Kau mengira keindahan adalah hak istimewa yang bisa kau beli dengan uang dan kekuasaan."

Sebelum para penjaga sempat menyentuhnya, tubuh wanita itu memancarkan cahaya 

menyilaukan. Aula pesta berguncang. Para tamu menjerit, berlarian menyelamatkan diri ketika angin badai mendadak menjebol jendela kaca besar, menerbangkan tirai-tirai beludru. Wanita tua itu melayang di udara, bertransformasi menjadi sesosok figur anggun berkulit seputih porselen. Seorang penyihir dari masa lalu yang hidup di celah-celah modernitas.

"Karena hatimu tidak memiliki ruang untuk belas kasih, maka fisikmu akan mencerminkan jiwamu yang sebenarnya," kutuk sang penyihir, suaranya menggema seperti guntur. "Kau akan menjadi monster yang ditakuti dunia. Menara kacamu ini akan terisolasi dari ingatan manusia. Dan mawar ini..." Ia melemparkan mawar merah liar itu ke dada Junghwan. "...akan mekar di dalam wadah kaca. Jika kau tidak bisa menemukan cinta sejati yang tulus menerima keburukanmu sebelum kelopak terakhirnya gugur, kau akan selamanya terperangkap dalam wujud binatangmu."

Cahaya itu meledak. Junghwan jatuh berlutut, mengerang kesakitan saat tubuhnya mulai bermutasi secara mengerikan. Kulitnya yang halus ditumbuhi bulu hitam yang lebat dan kasar, kuku-kukunya memanjang menjadi cakar yang tajam, dan struktur wajahnya bergeser menjadi rupa sesosok monster mengerikan yang menyerupai serigala dan singa. Tubuhnya membesar dua kali lipat, merobek kemeja desainer mahal yang dikenakannya.

Ketika badai mereda, aula pesta itu kosong melompong. Seluruh tamu, pelayan, dan dunia luar telah melupakan keberadaan Shin Junghwan. Menara kaca Shin Corp mendadak diselimuti kabut abadi yang tebal, terhapus dari peta digital maupun ingatan kolektif masyarakat Seoul.

Junghwan meraung ke arah langit malam, suara monster yang menggetarkan pondasi menara. Ia kini adalah Sang Beast, pangeran yang terbuang di dalam istana kacanya sendiri, ditemani oleh setanglai mawar ajaib yang mulai menghitung mundur sisa kemanusiaannya.


Beberapa kilometer dari distrik Gangnam yang gemerlap, terdapat sebuah sudut kota tua di daerah Seochon yang seolah menolak waktu. Di sanalah tinggal Choi Youngjae bersama ayahnya, Choi Seungcheol, seorang penemu eksentrik yang menghabiskan waktunya membuat mesin-mesin mekanis kuno dari barang bekas.

Youngjae adalah anomali di lingkungannya. Di era di mana semua pemuda sibuk menatap layar ponsel dan mengejar popularitas media sosial, Youngjae lebih memilih menghabiskan waktu di perpustakaan tua pinggir jalan, membenamkan dirinya dalam novel-novel klasik tentang petualangan, tempat-tempat jauh, dan cinta yang tulus. Wajahnya cantik dengan mata bulat yang selalu memancarkan rasa ingin tahu yang besar, dan senyumnya memiliki kehangatan yang bisa mencairkan es musim dingin.

"Lihat si Youngjae itu," bisik Bibi Park, pemilik toko sayur tetangga, saat Youngjae berjalan melewati pasar sambil membaca buku tebal, sekeranjang roti di tangan kirinya. "Dia anak yang sangat manis, tapi sayangnya agak aneh. Kepalanya selalu berada di atas awan, memimpikan hal-hal yang tidak nyata."

"Benar," sahut pemilik toko kain di sebelahnya. "Dia menolak semua pemuda di distrik ini. Bahkan Kim Dohoon, model terkenal yang sering masuk televisi itu, terobsesi dengannya. Tapi Youngjae mengabaikannya."

Kim Dohoon adalah "Gaston" versi modern. Pria tinggi semampai dengan senyum narsistik yang mengira bahwa seluruh dunia berputar demi dirinya. Dohoon menganggap Youngjae adalah trofi terakhir yang harus ia menangkan untuk melengkapi kesempurnaan hidupnya.

Sore itu, Dohoon mencegat Youngjae di depan rumahnya yang sederhana, bersandar pada mobil sport merahnya yang bising.

"Youngjae-ya!" sapa Dohoon, menurunkan kacamata hitamnya dengan gaya yang dilebih-lebihkan. "Berhentilah membaca buku-buku membosankan itu. Malam ini ikutlah denganku ke pesta eksklusif di Itaewon. Kamu harus bangga bisa bersanding dengan pria setampan aku."

Youngjae menghentikan langkahnya, menghela napas pelan tanpa melepaskan pandangannya dari halaman buku. "Terima kasih atas undangannya, Dohoon-ssi. Tapi aku harus membantu Ayah merakit mesin pemilah sampah otomatisnya malam ini. Dan sejujurnya, aku lebih suka menghabiskan waktu dengan cerita petualangan ini daripada pesta yang bising."

"Mesin sampah? Ayahmu itu sudah gila, Youngjae. Dia hanya membuang-buang uang untuk besi tua," ejek Dohoon tertawa meremehkan.

Mata Youngjae seketika berkilat marah. Ia menutup bukunya dengan suara keras. "Ayahku adalah seorang jenius, Dohoon-ssi. Dan dia memiliki hati yang jauh lebih berharga daripada mobil sport atau wajahmu di papan reklame itu. Permisi."

Youngjae melangkah masuk ke dalam pagar rumahnya, membanting pintu depan dan meninggalkan Dohoon yang menggerutu di luar, bersumpah dalam hati bahwa ia akan mendapatkan Youngjae bagaimanapun caranya.

Di dalam rumah, aroma oli dan besi menyambut Youngjae. Ayahnya, Seungcheol, sedang berkutat dengan sebuah mesin besar yang dipenuhi roda gigi.

"Ayah! Mesinnya sudah siap?" tanya Youngjae, kemarahannya langsung menguap digantikan senyum cerah.

"Hampir siap, Anakku!" seru Seungcheol dengan kacamata pelindung yang bertengger di dahinya. "Besok Ayah akan membawa prototipe ini ke pameran teknologi di pinggiran kota Incheon. Jika kita memenangkan kontes ini, kita bisa membayar semua hutang dan membuat perpustakaan kecil yang selalu kau impikan."

Youngjae memeluk ayahnya dari belakang. "Aku tidak butuh perpustakaan, Ayah. Aku hanya ingin Ayah tetap sehat. Berjanjilah untuk berhati-hati di jalan besok. Cuaca belakangan ini sangat tidak menentu."

Keesokan harinya, takdir mulai memainkan perannya yang kejam. Seungcheol berangkat mengendarai truk tua miliknya dengan mesin inovatif yang diikat di bagian belakang. Namun, di tengah perjalanan melintasi jalur perbukitan terpencil yang berbatasan dengan pinggiran Seoul, badai kabut yang sangat tebal mendadak turun secara tidak wajar.

Sistem navigasi GPS di truk Seungcheol mati total. Layarnya berkedip-kedip sebelum padam sepenuhnya.

"Aduh, ada apa dengan cuaca ini? Ini tidak ada di perkiraan cuaca tadi pagi," gumam Seungcheol panik saat pandangannya terhalang oleh kabut putih yang pekat.

Mencoba mencari jalan kembali, Seungcheol salah mengambil belokan. Truk tuanya terbatuk-batuk, mesinnya mati tepat di depan sebuah gerbang besi raksasa yang tampak kuno dan berkarat, kontras dengan struktur bangunan di baliknya yang berupa menara kaca modern pencakar langit yang menjulang tinggi menembus kabut. Tempat itu terasa sunyi, seperti kuburan massal di tengah hutan beton.

Dingin yang menggigit membuat tulang-tulang tua Seungcheol gemetar. Mencari perlindungan, ia turun dari mobilnya dan mendorong gerbang besi yang anehnya terbuka dengan sendirinya. Ia melangkah masuk ke pekarangan menara kaca tersebut. Anehnya, meskipun di luar sangat dingin, di dalam area pekarangan itu tumbuh tanaman-tanaman eksotis, dan sebuah pintu kaca otomatis terbuka lebar, memancarkan cahaya hangat dari dalam lobi.

"Permisi? Apakah ada orang di sini?" panggil Seungcheol canggung, melangkah masuk ke dalam lobi yang megah namun sepi seperti kota mati.

Tidak ada jawaban manusia. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Sebuah robot penyedot debu otomatis meluncur mendekatinya, diikuti oleh mesin pembuat kopi pintar yang mendadak menyala sendiri, menuangkan secangkir cokelat panas ke dalam cangkir porselen dan menyodorkannya ke arah Seungcheol melalui mini belt conveyor.

Sebenarnya, benda-benda ini bukanlah robot biasa. Mereka adalah para karyawan kepercayaan Junghwan. Sekretaris Hanjin yang kini berwujud komputer pusat gedung, dan Barista sekaligus Kepala Pelayan Jihoon yang ceria yang kini terjebak dalam wujud mesin pembuat kopi pintar. Mereka dikutuk bersama sang majikan, mempertahankan kesadaran manusia mereka di dalam perangkat elektronik gedung.

"Wah, teknologi di gedung ini luar biasa," gumam Seungcheol, meminum cokelat hangat itu untuk mengusir dingin. Ia berjalan lebih jauh ke dalam, melewati koridor-koridor beralas marmer hitam hingga tiba di sebuah rumah kaca raksasa di lantai dasar.

Di tengah rumah kaca itu, di bawah kubah kaca yang diterangi lampu sorot lembut, terdapat sebuah meja marmer. Di atasnya, di dalam tabung kaca kedap udara, melayang setangkai mawar merah yang memancarkan cahaya kemerahan yang redup.

Seungcheol terpaku. Ia teringat pada Youngjae. 'Ayah, jika Ayah melihat sesuatu yang indah di perjalanan, ceritakanlah padaku,' begitu pesan anaknya sebelum pergi.

"Youngjae pasti akan sangat menyukai mawar ini. Ini tidak terlihat seperti tanaman biasa," bisik Seungcheol. Tanpa memikirkan konsekuensinya, ia mengulurkan tangan yang gemetar, membuka penutup wadah kaca, dan memetik mawar itu.

ROOOAAARRR

Sebuah raungan mengerikan mengguncang seluruh dinding kaca menara. Lampu-lampu di dalam gedung mendadak berkedip merah, sirine bahaya berbunyi parau. Dari bayang-bayang pilar marmer, sesosok makhluk raksasa melompat turun dengan kecepatan kilat, mendarat tepat di depan Seungcheol dengan cakar yang terhunus.

Seungcheol berteriak, jatuh terduduk di lantai, mawar merah itu terlepas dari tangannya.

"Kau penyusup sialan!" geram Sang Beast, suaranya berat dan bergetar penuh kemarahan. Matanya yang merah menyala menatap Seungcheol dengan kebencian mendalam. "Aku memberimu kehangatan, aku membiarkanmu berlindung di bawah atapku, dan begini caramu membalas budi? Mencuri satu-satunya hal yang tersisa dari kemanusiaanku?!"

"Maaf... Maafkan aku, Tuan! Aku tidak bermaksud mencuri... ini untuk anakku... anakku yang menyukai mawar..." ratap Seungcheol, seluruh tubuhnya gemetar menghadapi monster di depannya.

"Kau akan membayar kelancanganmu ini dengan sisa hidupmu," desis Junghwan. Dengan satu lambaian cakarnya, pintu-pintu besi otomatis turun dari langit-langit, mengunci Seungcheol di dalam sel tahanan bawah tanah menara kaca yang dingin dan gelap.


Di Seochon, malam telah larut namun truk ayahnya belum juga kembali. Perasaan Youngjae didera kecemasan yang hebat. Ketika jam dinding menunjukkan pukul dua pagi, terdengar suara deru mesin di luar rumah. Youngjae berlari keluar, berharap melihat ayahnya.

Namun, yang ia temukan hanyalah truk tua ayahnya yang berjalan sendiri dengan sistem kemudi otomatis yang tampaknya telah diretas secara paksa dari jarak jauh oleh sistem komputer menara kaca untuk memulangkan kendaraan tersebut. Di dalam kabin truk, tidak ada siapa-siapa, hanya ada syal wol milik ayahnya yang tertinggal.

"Ayah... tidak! Ini tidak benar," bisik Youngjae, air matanya mulai menetes. Ia melihat ke arah layar dasbor truk yang berkedip, menampilkan sebuah koordinat GPS samar yang menunjuk ke sebuah area kosong di peta digital.

Tanpa membuang waktu, Youngjae melompat ke kursi kemudi. Meskipun ia tidak pandai menyetir, rasa cinta kepada ayahnya memberinya keberanian instan. Ia memacu truk tua itu menembus kegelapan malam, mengikuti koordinat misterius tersebut hingga tiba di depan gerbang besi menara kaca yang diselimuti kabut tebal.

Youngjae turun dari truk, memegang sebuah senter kecil. Suasana di sekitar menara itu begitu mencekam, namun ia terus melangkah masuk, didorong oleh insting seorang anak. "Ayah! Ayah, di mana kau?!" serunya, suaranya menggema di lobi yang luas.

Ia mengikuti suara batuk yang lemah yang terdengar dari arah lift servis bawah tanah. Youngjae berlari menuruni tangga darurat yang gelap, hingga tiba di sebuah lorong berjeruji besi modern yang dikontrol secara elektronik. Di dalam salah satu sel, ayahnya terkulai lemas di atas lantai beton yang dingin.

"Ayah!" Youngjae menjatuhkan senternya, mencengkeram jeruji besi.

"Youngjae? Anakku, mengapa kau ke sini? Pergi, Nak! Pergi dari sini sebelum makhluk itu menemukanmu!" bisik Seungcheol dengan sisa tenaganya.

"Siapa yang melakukan ini padamu, Ayah?"

"Aku yang melakukannya."

Sebuah suara berat, dingin, dan penuh wibawa yang mengerikan terdengar dari kegelapan di ujung lorong. Youngjae berbalik dengan cepat, mengarahkan senternya ke arah sumber suara. Cahaya senter itu mengenai sesosok makhluk raksasa berbulu hitam dengan mata merah yang menyala, taringnya mencuat dari balik bibirnya yang menyeringai jahat.

Youngjae tersentak mundur, napasnya tertahan. Ketakutan primal mencengkeram dadanya, namun ia menolak untuk lari. Ia melihat ayahnya yang sakit, lalu kembali menatap sang monster.

"Tuan... tolong lepaskan ayahku. Dia sudah tua dan sakit-sakitan. Dia tidak akan bertahan lama di tempat dingin ini," mohon Youngjae, mencoba menahan getaran di suaranya.

"Ayahmu telah mencuri properti berhargaku. Hukum di tempat ini mutlak: pencuri harus dihukum," jawab Junghwan, melangkah maju hingga wajah monsternya terlihat jelas di bawah remang lampu lorong.

"Kalau begitu, ambil aku sebagai gantinya," kata Youngjae tegas.

Seungcheol terbelalak. "Tidak, Youngjae! Jangan lakukan itu!"

Junghwan menghentikan langkahnya. Ia menatap pemuda di depannya dengan rasa terkejut yang samar. Di era modern ini, di mana semua orang mementingkan diri sendiri, ada seorang pemuda yang rela menyerahkan kebebasannya demi Ayahnya?

"Kau bersedia tinggal di sini selamanya menggantikannya?" tanya Junghwan, memastikan ia tidak salah dengar.

"Ya. Asalkan Anda membiarkan ayahku pergi dan berjanji untuk merawat penyakitnya setelah dia keluar dari sini," jawab Youngjae, matanya yang bulat menatap lurus ke dalam manik mata merah sang monster, menunjukkan keteguhan hati yang luar biasa.

Junghwan menatap mata itu lama sekali. Ada sesuatu di dalam binar mata Youngjae yang membuat dadanya yang beku mendadak terasa nyeri, sebuah getaran aneh yang sudah lama tidak ia rasakan.

"Baiklah. Kesepakatan tercapai," kata Junghwan. Dengan satu jentikan cakarnya pada panel kontrol di dinding, pintu sel Seungcheol terbuka, sementara pintu jeruji di depan Youngjae bergeser mengurungnya.

Sistem keamanan otomatis gedung langsung mengangkat tubuh Seungcheol ke atas kursi roda mekanis, menyeretnya keluar dari ruang bawah tanah menuju truk di luar, mengabaikan teriakan histeris sang ayah yang harus terpisah dari putra tercintanya.

Youngjae jatuh berlutut di dalam sel, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menangis dalam kesunyian menara kaca yang kini menjadi penjaranya.


Malam pertama di menara kaca terasa seperti mimpi buruk yang berkepanjangan bagi Youngjae. Namun, keesokan paginya, pintu sel elektroniknya terbuka secara otomatis. Sebuah suara ramah terdengar dari pengeras suara di dinding.

"Selamat pagi, Tuan Muda Youngjae. Tolong jangan takut. Anda akan dipindahkan ke kamar lantai atas," kata suara itu, yang merupakan Hanjin melalui sistem audio gedung.

Youngjae melangkah keluar dengan ragu. Ia diarahkan oleh lampu-lampu indikator di lantai menuju sebuah lift privat yang membawanya ke lantai 70. Ketika pintu lift terbuka, Youngjae terkesima. Ia tidak berada di dalam penjara bawah tanah lagi, melainkan di sebuah kamar penthouse yang sangat luas dan mewah, dengan jendela kaca setinggi langit-langit yang menyajikan pemandangan kota Seoul di balik selimut kabut. Kamar itu dipenuhi oleh rak-rak buku yang menjulang tinggi, berisi ribuan literatur klasik yang selama ini hanya bisa ia impikan.

"Apakah ini... kamarku?" tanya Youngjae pada kekosongan ruangan.

Sebuah monitor besar di dinding menyala, menampilkan avatar wajah digital yang tersenyum ramah. "Ya, Tuan Muda. Saya adalah Hanjin, manajer sistem gedung ini. Dan di samping Anda..." Sebuah robot pelayan beroda meluncur mendekat, membawa nampan berisi sarapan mewah lengkap dengan kopi hangat. "...adalah Jihoon, kepala pelayanan kuliner kami. Silakan nikmati sarapan Anda."

Youngjae tersenyum tipis, merasa sedikit terhibur oleh keramahan "benda-benda" di gedung ini. "Terima kasih, Hanjin-ssi, Jihoon-ssi. Tapi di mana pemilik tempat ini?"

"Tuan Besar... beliau sedang berada di sayap barat gedung. Beliau berpesan agar Anda mematuhi satu aturan: jangan pernah mendatangi kamarnya di lantai paling atas," jelas Hanjin serius.

Selama beberapa hari pertama, Youngjae menghabiskan waktunya dengan membaca buku di perpustakaan kamarnya. Namun, rasa ingin tahunya yang besar tidak bisa dibendung. Pada malam keempat, didorong oleh kebosanan dan hasrat bertualang, ia menyelinap keluar dari kamarnya saat seluruh gedung tampak tertidur.

Ia menaiki tangga darurat menuju lantai 80, lantai teratas yang dilarang. Di sana, suasananya sangat berbeda. Koridor tertutup oleh debu, kabel-kabel komputer bergantungan seperti akar pohon mati, dan suasana terasa begitu kelam.

Youngjae mendorong sebuah pintu kayu jati besar yang setengah terbuka. Di dalam ruangan itu, kekacauan merajalela. Cermin-cermin besar pecah berantakan, lukisan-lukisan potret diri seorang pria tampan (wajah asli Junghwan sebelum dikutuk) tampak dicakar hingga robek.

Di tengah ruangan, di atas sebuah meja kaca bulat, melayang mawar merah misterius. Kelopak-kelopaknya tampak sedikit layu, dan satu kelopak mendadak gugur ke atas meja saat Youngjae mendekat.

"Indah sekali..." bisik Youngjae, mengulurkan tangannya untuk menyentuh tabung kaca tersebut.

"JANGAN SENTUH ITU!!!"

Sebuah raungan menggelegar membuat Youngjae terlonjak. Junghwan melompat dari kegelapan langit-langit kamar, mendarat dengan keras di atas meja kaca hingga retak. Wajah monsternya berjarak hanya beberapa senti dari wajah Youngjae, napasnya yang panas memburu penuh amarah.

"Sudah kubilang jangan pernah datang ke sini! Kau sama saja dengan manusia lainnya, tidak punya rasa hormat, lancang, dan serakah!" bentak Junghwan, cakarnya siap mencabik.

Youngjae luar biasa ketakutan. Air mata kepanikan mengalir di pipinya. "Aku... aku tidak bermaksud... maafkan aku!" Ia berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju lift, mengabaikan teriakan panggilan dari sistem komputer Hanjin yang mencoba menahannya.

Youngjae berlari keluar dari menara kaca, melewati gerbang besi, dan terus berlari menembus kabut tebal dan hutan pinus yang mengelilingi area terisolasi tersebut, tidak peduli ke mana kakinya membawa, asalkan menjauh dari sang monster.

Pelarian Youngjae di tengah malam buta ternyata membawa bahaya baru. Hutan di pinggiran daerah terisolasi itu dihuni oleh kawanan serigala liar yang kelaparan karena musim dingin yang ekstrem.

Suara lolongan serigala terdengar bersahut-sahutan di belakangnya. Youngjae mempercepat langkahnya, namun kakinya tersangkut akar pohon, membuatnya jatuh tersungkur ke atas tanah yang membeku. 

Dalam kegelapan, sepasang mata hijau menyala mengepungnya. Tiga ekor serigala besar melangkah keluar dari balik semak-semak, menderam dengan liur yang menetes, siap menerkam mangsa empuk di depan mereka.

Youngjae memejamkan mata, memeluk lututnya, bersiap menghadapi ajal. Ayah, maafkan aku tidak bisa kembali, pikirnya pasrah.

SWUSH. ROARR.

Sebuah bayangan raksasa melesat dari atas pohon, mendarat dengan hantaman badai di depan Youngjae. Itu adalah Junghwan. Sang Beast telah mengejarnya sejak ia lari dari menara.

Pertarungan sengit terjadi di tengah kegelapan hutan. Junghwan bertarung dengan kebuasan alami seekor binatang, mencakar dan membanting serigala-serigala yang mencoba menyerangnya. Meskipun bertubuh raksasa, serigala-serigala itu berhasil melukai lengan dan punggung Junghwan dengan gigitan dan cakar mereka yang tajam.

Dengan satu raungan terakhir yang menggetarkan seluruh hutan, Junghwan melemparkan serigala alfa ke batang pohon hingga pingsan, membuat sisa kawanan serigala lainnya lari terbirit-birit ketakutan.

Keheningan kembali melanda hutan. Junghwan berdiri terengah-engah, darah hitam kental mengalir dari luka-luka di punggungnya. Ia menoleh perlahan ke arah Youngjae, tatapan matanya yang merah melembut, sebelum tubuh raksasanya ambruk tak sadarkan diri ke atas tanah salju.

Youngjae terpaku melihat pemandangan itu. Monster yang tadi membentaknya dengan kejam, kini tergeletak tak berdaya setelah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya.

Rasa kemanusiaan dan kebaikan hati Youngjae mengalahkan rasa takutnya. Ia merangkak mendekati tubuh Junghwan, meletakkan tangan kecilnya yang hangat di atas kepala besar sang monster yang berbulu kasar.

"Hei... bangunlah... tolong jangan mati," bisik Youngjae cemas. Dengan susah payah, dibantu oleh robot pelayan Jihoon yang diam-diam menyusul menggunakan kendaraan penjemput otomatis gedung yang meluncur ke lokasi kejadian, mereka berhasil membawa tubuh terluka Junghwan kembali ke menara kaca.

Notes:

Mengusir writerblock dengan menulis versi modern dari cerita disney favoritku. Semoga hasilnya masih enak untuk dibaca ya ;;-;;

Terima kasih yang sudah baca sampai sini ♡