Work Text:
Yasa benar-benar menuruti perintah Silas untuk tidak membawa bawaan yang terlalu banyak. Terbukti ketika mata Silas menangkap presensi Yasa yang berdiri di tengah-tengah lalu-lalang manusia. Rambutnya kusut, sementara tangannya memeluk sebuah ransel hitam dengan erat.
Silas merasa dirinya sudah gila ketika samar-samar ia dengar lagu “Perahu Kertas” milik Maudy Ayunda terputar di kepala. Ia menggelengkan kepalanya untuk mengusir suara itu. Ini bukan waktu yang tepat untuk berandai-andai menjadi seorang aktor ftv yang cintanya bersemi di stasiun kereta api.
“Halo, Yasa.” Suara itu lembut menyapa gendang telinga Yasa, menyelusup di sela hiruk-pikuk stasiun. Yasa juga merasakan telapak tangannya digenggam oleh tangan yang lebih besar.
Ia menoleh ke kiri. Itu Silas. Lengkap dengan senyum manisnya dan mata yang tampak memikul rindu. Yasa menatap tanpa berkedip. Silas di hadapannya ini jelas seratus kali lipat lebih menawan daripada sosok Silas di foto profil Whatsappnya.
Keduanya meninggalkan stasiun yang semakin lama semakin padat itu. Mereka menuju sepeda motor Silas yang terparkir tak jauh dari sana. Jalanan akan macet di jam segini, dan membawa sepeda motor adalah pilihan yang cukup bijak agar mereka tidak terlalu lama terjebak di tengah-tengah lautan kendaraan yang berlomba-lomba membunyikan klakson.
“Yasa.” Silas memanggil namanya di tengah angin yang berhembus kencang.
“Apa?!” Yasa membalas dengan berteriak.
“Mau sgsjshsdfksldhfkspsl dulu ga?”
Yasa langsung mengernyit. Suara Silas tidak terdengar karena ditelan angin. Ia sedikit memajukan kepalanya ke depan.
“Hah? Mau apa, Kak?”
“Sgsjdgeuwjwhskshksk!”
“Kamu ngomong apa sih?” Ada tawa kecil di ujung kalimatnya. Ia merasa sedikit geli saat menyadari kalau mereka berdua sama budeknya.
“Skshdhdixgdkekshs loh!” Silas masih saja melanjutkan. Kali ini malah ngotot sedikit.
“Ohh iya boleh!” Yasa memutuskan untuk mengiyakan saja. Dia sudah pusing menebak-nebak maksud dari kalimat Silas yang berpacu dengan angin itu.
Mereka sampai di kediaman Silas dua puluh menit kemudian. Silas menyerahkan bungkus plastik berisi dua kotak martabak pada Yasa, lalu bergerak untuk membuka helm yang memeluk kepala pacarnya.
Iya, maksud dari kalimat Silas di perjalanan tadi adalah menawarkan Yasa martabak. Yasa bersyukur sekali memilih untuk mengiyakan ketimbang membalas dengan kalimat yang sama ngototnya.
Yasa satu jam yang lalu masih setia dengan cita-citanya menjadi seorang ilustrator andal. Namun setelah menyaksikan betapa mewahnya isi rumah Silas, cita-citanya berubah 180 derajat.
Jika meniti karir sebagai streamer game buatnya dinilai sudah terlambat, maka Yasa ingin selamanya menjadi kekasih seorang streamer game. Punya rumah dengan desain interior seapik ini adalah impiannya sedari kecil. Wastafelnya canggih sekali, ada sensor yang dapat mengalirkan air dengan otomatis tanpa menyentuh kerannya. Ia langsung teringat dengan wastafel kosnya yang harus diletakkan ember di bawahnya untuk menadahi saluran wastafel yang bocor.
Gak relate sama sekali.
“Kamu makan dulu. Di dapur ada ayam goreng. Makan banyak-banyak ya, Adek. Anggep aja rumah sendiri.”
Yasa langsung bilang amin dalam hati. Semoga dia beneran bisa punya rumah begini.
“Aku tinggal ya, mau ngerjain jokian. Tenggat waktunya malem ini banget. Maaf ya, Sayang. Nanti abis makan nyusul ke ruang stream aja. Lantai dua di samping tangga.”
Yasa mengangguk patuh. Silas menggigit bagian dalam pipinya, menahan gemas. Ia sempat mengacak-acak rambut Yasa dengan sayang sebelum meninggalkan Yasa sendirian di dapur.
Yang diacak rambut, yang berantakan hati. Gimana, tuh?
🎮🎮🎮
Terhitung sudah sepuluh menit Yasa hanya berdiri di depan pintu ruangan stream Silas. Ia ragu untuk mengetuk pintu, takut mengganggu Silas yang sedang fokus bermain game. Saat telinganya mendengar suara hembusan nafas lega dari Silas, ia langsung memberanikan diri untuk mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
“Masuk.”
Mendengarnya, Yasa langsung mendorong pelan pintu yang terbuat dari kayu jati tersebut. Silas di ujung sana duduk di kursinya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
“Loh, laptop kamu mana?”
Yasa tentu saja bingung. “Lah, laptop buat apa coba?”
“Katanya mau ngerjain skripsi sambil aku pangku? Sini buruan. Aku mau main game nih.”
Di detik itu Yasa rasanya mau kabur sejauh mungkin, menghilang selamanya dari pandangan Silas. Namun pacarnya itu menunggu kedatangannya sambil menopang dagu dengan senyum paling manis sedunia.
Yasa mau balik badan saja tidak sanggup sebab kakinya terasa berat sekali untuk melangkah.
Ia akhirnya memasuki ruangan stream dengan langkah kecil-kecil. Makin dekat dengan Silas, makin pusing kepalanya. Lelaki di hadapannya itu seperti paham situasi, malah merentangkan tangan untuk mengundang Yasa masuk ke dalam dekapannya. Kurang ajar sekali.
“Ternyata kamu lebih mungil dari yang aku kira,” ujar Silas ketika pacarnya sudah berada di dalam pelukannya.
“Kamu juga lebih gede dari yang aku sangka.” Yasa membalas sekenanya, masih berusaha untuk mengatur posisinya senyaman mungkin di pangkuan Silas.
Silas terkekeh kecil. Ia membawa tangan kanannya ke atas kepala Yasa, sementara tangan kirinya merangkul pinggang yang lebih kecil agar tetap bertahan di posisinya. Ia menyisir helaian rambut Yasa dengan hati-hati. Ia memastikan tidak ada satupun helai yang luput dari sentuhannya.
Terakhir ia menyingkirkan anak rambut yang menghalangi kening Yasa, kemudian mendaratkan kecupan singkat di sana.
“Lanjut bibir, gak?” Masih sempat pula untuk menggoda sekali lagi.
Yasa sebagai pihak yang daritadi menerima saja, langsung bergerak cepat untuk mencuri satu ciuman di bibir Silas.
Mampus. Lu pikir lu doang yang bisa gitu, batin Yasa penuh kemenangan.
Silas nyengir lebar. Ciuman itu singkat, tapi berhasil melumpuhkan akal sehatnya selama beberapa saat. Sang pelaku menghindari kontak mata, memilih untuk menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher pacarnya.
“Ini kamu ga sambil streaming, kan?”
“Engga. Tapi kalo kamu mau, boleh aja sih.”
“Emang bisa streaming dadakan begitu? Harusnya hari ini kamu ga ada jadwal streaming, kan?” tanya Yasa heran.
“Kan bisa guerilla stream. Udah lama enggak juga aku.”
“Eh jangan. Aku belum siap viral karena pacaran sama om-om.”
“Sembarangan. Aku cuma dua tahun lebih tua dari kamu tau.”
Yasa cekikikan mendengar protes yang keluar dari bibir Silas. Sekali lagi ia memberanikan diri untuk mencium bibir yang lebih tua, lalu buru-buru menyembunyikan kembali wajahnya di lekukan leher pacarnya.
“Minimal biarin aku bales ciumannya dulu ga sih????”
