Work Text:
Mingyu itu sudah lama dekat dengan Wonwoo. Mingyu belum pernah berani untuk mengakui perasaannya, tapi yang ia rasakan jelas. Pertemanan yang nampaknya berjalan terlalu lama akhirnya ia ambil langkah lebih dulu.
Namun naas. Bukan tatapan senang dan persetujuan, malah wajah bingung dan kerutan alis yang ia dapatkan.
"Enggak, Min." Wonwoo menggeleng kepalanya keras, ia tidak ingin mendengar apapun yang ia dengar saat ini. "Kita itu temen, Min..."
Dibawah lampu taman, dinanungi gelapnya malam. Mungkin itu adalah jalan pertama bagi pertemanan mereka yang merenggang. Setelahnya mereka tak lagi berbicara, bahkan tidak menyapa. Lebih parah lagi ketika mereka berada di kampus yang sama. Yang dulu mereka banggakan karena masih bisa dekat, sekarang malah membunuh keduanya perlahan.
_________________________________________
"Serius udah gak ngobrol?" Seokmin terkejut.
Mingyu mengangguk.
"Kan, gua bilang juga apa Gyu. Hubungan kalian pasti bakal renggang." Jihoon menurunkan gelas yang sedang ia minum.
"Terus sekarang gimana?"
"Ya asing lah, gimana lagi?" Beo Seokmin.
Ah. Mingyu rasanya ingin mengutuk dunia selamanya. Perasaan ini sulit dibendung. Antara perasaannya yang masih besar juga kecewanya yang berjalan beriringan. Mingyu tak punya nyali untuk berbicara dengannya lagi setelah penolakan ditaman 3 bulan lalu. Rasanya ajaib juga bagi Mingyu untuk bisa melewati 3 bulan kejam itu, yang membunuhnya perlahan.
Setiap ada kesempatan tidak sengaja bertemu entah dikoridor kampus atau kelas yang sama, mereka sama-sama mengalihkan mata, membuang wajah, apapun mereka berdua lakukan agar tak menatap satu sama lain.
Tapi dengan perasaan yang hampir mengubur diri Mingyu hidup-hidup, Mingyu tak menyesali keputusannya untuk mengaku padanya. Wonwwo perlu tau, ia perlu lihat, ia perlu dengar. Apa yang Mingyu rasakan, apa yang ia inginkan, apa yang ia harapkan.
5 bulan berlalu. Rasanya Mingyu menjadi semakin bingung dengan perasaannya. Mingyu yang kemarin masih menolak mengakui bahwa Wonwoo menepis kehadiran dirinya dalam hidupnya, lambat laun mulai menerimanya.
Ia kira segala tentangnya akhirnya mulai memudar. Sampai saat dosen memanggilnya keruangannya sore itu.
Pak Roni, namanya. Beliau bilang Mingyu bisa mengisi untuk menjadi penjaga perpustakaan. Perasaan ini menghantuinya lagi. Penjaga perpustakaan sebelumnya itu Wonwoo. Mingyu dulu memang sempat mengajukan diri menjadi penjaga perpustakaan, supaya bisa bersama Wonwoo. Ternyata mereka hanya perlu 1 orang saja saat itu. Tapi saat ini, rasanya Mingyu tak ingin melihat wajahnya lagi.
Ia berikan gelengan pelan pada dosen itu sebagai penolakan. "Saya sekarang udah lumayan sibuk Pak, mungkin bapak bisa cari mahasiswa lain atau saya yang yang carikan."
Mingyu tak mau bertemu dengan Wonwoo lagi.
Pak Roni mengerutkan alisnya dan mulai memijat pelipisnya. "Karena Wonwoo mau transfer kampus, saya jadi bingung cari penggantinya. Dia kerjanya bagus disana—"
"Wonwoo transfer kampus?" Mingyu terbelalak mendengarnya. Suaranya meninggi saat bertanya. "Eh, maaf—"
"Kamu gak tau? Bukannya kalian temen deket? Makanya bapak nawarin kamu buat gantiin dia."
Rasanya langit seperti runtuh menimpanya. Mingyu diam seribu bahasa, tangannya mengepal kuat. Ia tak ingin bertanya lebih lanjut, tetapi membayangkan Wonwoo yang kini benar-benar musnah dari jarak pandangnya mulai menakuti dirinya.
"Kalau boleh tau, transfer ke kampus mana pak?"
"Luar negeri. Di Brooklyn." Jawabnya pelan.
Mingyu berusaha mengedarkan matanya menatap apapun disekitar. Rasa rindu, marah, kecewa, semuanya berlomba-lomba untuk menghampiri Mingyu. Ia kemudian pamit dari ruangan tersebut. Rasanya perasaannya bisa meledak jika terlalu lama mendengar tentangnya yang akan pergi.
Sejuta kalimat yang Mingyu ucapkan bahwa ia sudah tak peduli tentang Wonwok terkikis hari ini. Kakinya lemah, ia tak tau harus melakukan apa. Tubuhnya tau-tau sudah berada didepan pintu Kos yang ditempati laki-laki itu. Dengan perasaan tergesa-gesa ia gedur pintu itu. Namun nihil, tak ada jawaban. Jendela tertutup rapat, tak ada jejak sisa sandal atau sepatu.
Tidak. Tidak. Mingyu meremas rambutnya kasar. Ia tak tahan dengan perasaannya saat ini. Ia bingung harus apa, ia bingung kenapa. Tapi hatinya menuntun kakinya untuk menyapa wajah pria itu yang sekarang entah ada dimana. Sebelum ia pergi, sebelum segalanya benar-benar hilang.
Ia kendarai sepeda motornya yang ia tak pedulikan kecepatannya. Entah keberanian yang muncul dari mana, ia kali ini berdiri didepan gerbang rumah orang tua Wonwoo. Disapa oleh bibi yang membukakan gerbang dan rasa kecewa lain meraba hatinya. Bibi mengatakan Wonwoo saat ini sedang mengunjungi temannya entah dimana.
Yang Mingyu tau Wonwoo berteman dekat dengan Jeonghan, Soonyoung, dan Jun. Keringat dan dingin udara sudah menusuk kulitnya yang hanya tertutupi kaus pendek. Mingyu tak tau rumah mana yang jadi tujuan pria itu, dengan perasaan terburu-buru. Ia menghampiri satu-satu rumah itu, dan jawaban mereka semua sama. Wonwoo hanya mampir sebentar, dan kemudian pergi.
Mingyu tidak tau kenapa ia menghabiskan waktu dan tenaganya hanya untuk pria yang menolaknya mentah-mentah. Pria yang bahkan tak memberi kesempatan untuk hatinya. Pria yang... sudah menjadi sahabatnya selama 5 tahun.
Mingyu buntu. Pikirannya kini sudah berangan jauh, tatapannya kosong. Kakinya pelu menatap sisa jejak lelaki itu yang tak bisa ia gapai. Tangannya gemetar hebat. Akhirnya ia memilih untuk menghampiri rumahnya. Tangis yang sejak tadi ia tahan, perasaan yang sejak tadi menunggu untuk dilepaskan. Akhirnya berhamburan tak beraturan ketika ia pulang ke rumahnya.
Rumah yang Mingyu beli dengan ide bodohnya agar bisa tinggal bersama Wonwoo. Rumah yang dulu selalu menjadi pelariannya atas hiruk pikuk kehidupan. Rumah yang dulu berisikan dirinya dan pria bernama Wonwoo. Rumah yang... kini hanya menyisakan dirinya dan kenangan tentang pria itu.
Mingyu sudah terbaring di kasur selama 2 jam sejak kepulangannya tadi. Isakannya tak berhenti. Air matanya tak mau mengering, lengan baju bagian atasnya sudah basah ia gunakan untuk menyeka air yang turun dari matanya. Ia sedih. Ia takut.
Ketukan di pintu kemudian terdengar. Mingyu tak mengidahkan, ia tak ingin ada yang melihat dirinya saat ini. Mingyu saat ini terlalu menyedihkan.
Sampai suara itu mengudara.
"Mingyu."
Mata Mingyu yang berair membulat. Ia bahkan tak sadar dirinya sudah bangun dari tempat tidur dan langsung berlari menghampiri pintu depan. Disana berdiri, pria yang sejak tadi ia cari.
Tangannya menggigil. Bibirnya kering. Matanya sembab. Tatapannya sayu. Mereka ternyata merasakan hal yang sama.
Mingyu langsung menarik tubuh pria itu kedalam pelukannya. Masa bodo dengan kejadian di taman, masa bodo dengan hilangnya kontak mereka selama 5 bulan terakhir, masa bodo dengan salam pertemuan kembali yang mereka lewatkan. Sekarang yang mereka pedulikan adalah tautan pelukan yang erat, isak tangis yang makin membanjiri mata. Dan, rindu yang sudah lama mereka pendam dalam-dalam.
Mingyu meraba surai Wonwoo dan mengusap pria itu dengan halus. Isaknya masih mengalir, tapi ia tahan untuk melepas tautan pelukan dan menangkup pipi pria itu. Ia tatap wajahnya lekat-lekat, matanya yang merah, hidungnya yang merona dan kepalanya yang kini beristirahat di tangan Mingyu.
Sebuah perapalan mantra tentang melupakan, tak rindu, tak ingat, tak peduli seakan runtuh saat Mingyu menatap mata Wonwoo. Ia rindu sekali pria itu. Ia rindu menyentuhnya. Jantungnya seperti diremas kuat ketika ia mengusap rona manis dipipi itu dengan ibu jarinya.
Ia sungguh cinta pria ini.
Dan perlahan mereka mendekatkan kepala mereka. Bukan nafsu, bukan hasrat tabu. Mereka berdua mempertemukan bibir dan menautkan rindu yang sudah terlalu berat untuk mereka bendung.
Kini Mingyu bawa tubuh lelaki itu yang masih menautkan ciuman manis padanya. Ia tutup pintu dan membawa tubuhnya kedalam kamar miliknya. Ia baringkan tubuh itu diatas tempat tidur.
Mingyu melepas lagi tautan bibirnya untuk memperhatikan raut wajah pria itu. Isakan kecil masih terpampang diwajahnya. Kemudian pria itu menarik senyum dan meniru gerakan Mingyu sebelumnya. Wonwoo bawa tangannya untuk menangkup kedua pipi Mingyu yang kini berada diatasnya. Ia usap dengan halus, seakan ia menyalurkan segala rindu yang tak pernah meninggalkan hatinya.
"Aku kangen kamu, Min." Ucap Wonwoo pelan.
Wonwoo kembali membawa Mingyu pada ciuman lain. Kali ini lebih dalam, lebih kuat. Mingyu mulai menangkap bagian bibir Wonwoo satu persatu. Dimulai dari bagian atasnya, kemudian turun ke bibir bawahnya. Hasrat Wonwoo tak kalah tinggi kali ini. Ia mulai mengeluarkan lidah dan menjilat bagian luar bibir pria yang sedang menciuminya dengan hangat. Ia mulai memasukkan lidahnya pada bibir Mingyu yang terbuka dan ciuman mereka semakin dalam kali ini.
Mereka berdua menggila. Menjamah bagian dalam rongga mulut masing-masing. Seakan dahaga mereka tak bisa mereka isi lagi dikemudian hari. Seakan dunia akan berakhir esok.
Mingyu melepaskan pakaiannya dengan terburu-buru dan langsung menangkap bibir itu kembali dalam mainan lidah mereka. Mingyu rindu, rindu bukan main.
Ciuman mereka kali ini lepas. Nafas mereka berderu-deru. Tatapan mereka tak lepas satu sama lain. Tatapan sayu diberikan pria yang berada dibawahnya itu. Wonwoo tersenyum manis ketika diangkat satu tangannya untuk mengusap rambut depan Mingyu yang kini basah tercampur keringat.
"You still love me, aren't you?"
Wajah Mingyu kini berubah sedih. "Why did you go?"
Wonwoo hanya membalas dengan senyuman lainnya dan kini kedua tangannya mengusap halus surai pria yang menatapnya dengan haru.
"Jangan bilang kamu pergi gara-gara aku? Gara-gara gak mau ngeliat aku? Kamu muak sama aku, iya? Gak tahan kalau satu kampus sama aku, bahkan sampe harus pindah negara juga? Kamu kenapa ngejauhin aku segitunya?
Wonwoo hanya diam. Kemudian Mingyu melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa kamu gak bilang aku kalo kamu mau pindah?" Air mata mulai mengisi pria itu. "Aku tadi panik dan nyariin kamu kemana-mana, ke semua tempat. Tapi kamu gak ada. Aku pikir—aku pikir kamu sengaja ninggalin aku. Wonwoo." Ia melirih menatap pria dibawahnya. "Aku takut kalo aku gak ketemu kamu lagi."
Wonwoo hanya membalas dengan kecupan pelan yang mengejutkan dilepas oleh Mingyu. Kali ini wajahnya berubah marah, alisnya bertaut.
"Kamu bilang kita temen! Kemarin aku nembak kamu rasanya kayak orang bego tau gak? Kamu buang aku gitu aja, gak ngobrol, bahkan gak nyapa kalau ketemu aku. Pesan aku gak ada satupun yang kamu bales, telfon aku gak ada yang pernah kamu angkat. Seolah-olah aku gak pernah hadir dihidup kamu, seolah-olah temenan kita selama 5 tahun gak ada artinya buat kamu." Mingyu terisak kembali. "Seolah-olah kamu benci sama aku—"
"—Mingyu, no. Never. Aku gak pernah benci sama kamu."
"Terus kenapa kemarin kamu nolak aku? Katanya temen gak seharusnya beginilah begitulah, tapi kamu sekarang malah begini. Kamu cium aku! Kita ciuman! Kita udah diranjang berdua begini! Kamu gila ya won? Begini kamu ke orang yang kamu sebut temen? Apa kamu mau ciuman sama aku cuma karena kamu kesepian? Atau sebenernya kamu juga takut gak ketemu aku lagi makanya kamu cium aku buat kesempatan terakhir? Kamu kira aku orang bego gitu ya yang bakal maafin kamu setelah buang aku gitu aja cuma karena kita ciuman?"
Nafas Mingyu memburu dengan tumpahan kalimat dan perasaan yang membendung dikepalanya terlalu berat.
Wonwoo masih mengusap pipi itu, ibu jarinya masih hangat menyapa rona merahnya.
"Udah marahnya?" Tanya Wonwoo lembut.
Amarah masih mengisi Mingyu, tautan alisnya masih disana. Dengan lirihan kecil ia membuka mulutnya."I love you."
Wonwoo terkekeh pelan mendengar ucapan tiba-tiba itu.
"Kok ketawa? Lucu ya liat orang tolol gara-gara cinta begini?"
"Mingyu, ya ampun gak gitu."
"Kenapa?"
"I love you too."
Mata Mingyu membulat. Hatinya terbagi dua antara perasaan senang yang terlalu membuncah dan keraguan.
"Kamu ngomong gini cuma karena kemarin 5 bulan gak ketemu atau gimana? Tiba-tiba kamu nganggep cinta aku tuh dari mana? Jangan campurin rasa kangen kamu sama cinta Wonwoo."
"Mingyu." Kini tangannya berpindah ke rambut bagian depan pria yang masih bernafas berat. Ia usap rambut itu dan menyeka dahinya. "I love you, i always am."
"Terus kenapa kemarin malah nolak aku?Kamu lagi sandiwara?"
"Aku masih takut waktu itu." Wonwoo kini menatap Mingyu dalam-dalam. "Ternyata aku lebih takut kalo gak sama kamu."
"That sounds like a bullshit."
"I love you."
"You just feel alone and starts saying nonsense."
"Mingyu. I love you."
"I love you more."
Wonwoo tersenyum. "Udah marahnya?"
Pria yang wajahnya sedang ditangkup itu hanya mengangguk pelan. Kemudian ia dekatkan badannya yang tak tertutup sehelai sutra pun untuk memeluk pria yang dibawahnya itu.
Wonwoo mengusap halus punggung pria itu. Mereka berdua melepaskan penat yang entah muncul dari mana. Melepaskan kegundahan dan pikiran racau mereka dengan pelukan hangat itu.
"Kamu berat."
Pria yang dimaksudkan hanya mengeratkan pelukan dan mengusap rambutnya diceruk leher Wonwoo.
"Maaf. I make you suffer and telling you all of those bullshits. Maaf Mingyu. Maaf. Aku rasanya pengen hukum diri sendiri karena udah buat kamu begini."
"I love you."
Wonwoo hanya terkekeh pelan. Tangannya mengusap menina-bobokan pria besar itu.
Wonwoo berbisik pelan. "Love you, always."
Entah bagaimana mereka bisa tertidur setelah pelukan itu. Wonwoo kini bangun dengan tangan yang melingkari pinggangnya.
Ia menengokkan kepalanya kearah kiri, dan melihat pria yang matanya masih sembab itu. Kasihan sekali pikir Wonwoo.
Ia menggunakan tangannya yang bebas dari pelukan Mingyu, dan mengusap kembali wajah itu. Wajah tertidurnya lucu.
Mingyu sepertinya bisa merasakan sentuhan hangat itu dan mulai menggeliat dalam pelukannya.
"Selamat pagi, sayang."
Mingyu terlelap lagi setelahnya. Wonwoo mengambil kesempatan itu untuk berjalan kearah dapur dan mulai memasak sesuatu. Tenaga mereka perlu diisi setelah luapan emosi kemarin.
Sudah 5 bulan Wonwoo tak berada dirumah itu. Rumah yang menemaninya saat masa-masa awal kuliah. Memori tentang Mingyu yang memaksanya untuk tinggal bersama. Mingyu yang selalu bisa Wonwoo andalkan. Mingyu yang tak kenal lelah jika harus bolak-balik mengantar dan menjemput Wonwoo. Mingyu yang selalu paling khawatir kalau Wonwoo mengalami sakit sedikit apapun. Mingyu yang, menjadi bagian hidupnya.
Ia mendengar derap langkah dari kamar. Tergesa-gesa. Mingyu menampakkan dirinya dengan rambutnya yang masih berdiri. Lucu.
"Maksudnya apa tadi?"
Wonwoo mengangkat alisnya. "Hm?"
"Kamu manggil aku sayang."
Wonwoo berfikir sejenak. "Karena aku sayang kamu."
"Bohong."
Wonwoo membuang nafas perlahan. "Kamu masih marah?"
"Oh, jelas. Kamu bilang gini terus tiba-tiba besok udah pergi ke Brooklyn? Kamu tuh sengaja ya mainin aku?"
"Mingyu."
Mingyu kemudian membuang nafas kasar dan berjalan kearah Wonwoo. Mingyu menjatuhkan kepalanya diatas bahu dan tangannya yang melingkar menangkup seluruh tubuh pria itu dalam peluknya.
"I'm not going to Brooklyn.".
Mingyu mengangkat kepalanya terkejut. "Wait, what?"
"I'm not!"
"Then why— kenapa Pak Roni bilang kamu—"
"It's my parents. Aku tuh kayak zombie tau selama 5 bulan, makanya orang tua aku pengen aku jauh dari kamu."
Mingyu terkejut. Ia mencoba meraba pipi itu, mengusapnya dengan halus. "Terus kenapa kos-an kamu kosong pas aku kesana?"
"How do you know i live there? Aku kan selama ini sama kamu sebelum 5 bulan itu, i didn't even told you."
Mingyu gugup dengan pertanyaan itu. Ia merasa kecil dan menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal itu. "Seokmin."
Wonwoo hanya mengangguk mengerti. "Seokmin ternyata."
"Terus ngapain kamu ke rumah temen kamu satu-satu? Kayak orang mau pergi tau gak?"
Wonwoo sontak tertawa mendengar pertanyaan Mingyu. "Kamu mampir ke semua rumah temenku? Oh my god, Mingyu!"
Mingyu mendekapkan kembali pelukannya pada tubuh itu, yang dibalas oleh sapuan usapan hangat dipunggungnya.
"Aku minta saran mereka satu-satu. Aku gak tau harus gimana, aku gak mau ninggalin kamu Min. Ternyata jalan yang bisa aku lakukan emang cuma baikan sama kamu dan jujur aja soal perasaanku." Wonwoo menangkap wajah itu lagi dengan tangannya. Supaya mata mereka bisa bertemu dengan jelas. "And here i am."
Kali ini suara Mingyu pelan. "Terus kenapa 5 bulan lalu kamu nolak aku kalo kamu emang cinta juga sama aku?"
Wonwoo kini melepaskan tangannya dari wajah itu. Ia mengusap kedua tangannya ragu. "I've told you I'm scared."
"Scared of what? Aku gak ngerti."
"See, kamu juga gak ngerti perasaanku. Makanya aku takut."
"It's because you didn't say anything, tell me!" Mingyu kali ini meninggikan suaranya.
Wonwoo menunduk. "Aku takut."
Kali ini Mingyu melihat jelas rasa takut pada air wajah pemuda itu. Eskpresi yang terpendam, ekspresi yang ditunjukannya 5 bulan lalu.
Mingyu kemudian menangkup wajah yang menunduk itu. Ia angkat sehingga bertemu dengan matanya.
"I'm sorry, I'm sorry, I'm sorry. I didn't mean to—"
Wonwoo memotong ucapan Mingyu dan mencuri kecupan singkat dibibirnya. Mingyu tertegun tak berkutik.
"Aku itu takut. Kita udah temenan 5 tahun tapi kamu baru jujur 5 bulan lalu. Aku mikir kayak, kamu nih beneran suka atau karena terbiasa sama aku dan kamu jadi bingung sama perasaanmu?"
"Wonwoo, no. Satu dunia boleh ragu sama aku, tapi kamu harus tau kalo aku beneran cinta sama kamu."
Wonwoo tersenyum. "So do i."
Mereka menarik dan menghembuskan nafas lebih jelas kali ini. Rasa takut seolah turun dari hati mereka dan digantikan dengan mata yang saling memandang. Lega.
Perasaan senang membuncah diantara mereka berdua. Tatapan hangat, sentuhan hangat, usapan hangat, pelukan hangat, dan... Ciuman hangat. Semuanya nyata. Pagi ini adalah pagi mereka. Hari ini adalah hari mereka. Sarapan hangat, obrolan meja makan yang mengalir sederas tumpahan rasa kasih mereka.
Selamat pagi, dunia.
