Work Text:
Aku sudah hidup dipanti sejak, entahlah aku tak ingin mengingatnya sama sekali. Diriku yang lama, masih terlalu lugu dan bertanya hebat tentang alasan keberadaan diriku. Sekarang rasanya segalanya tak berarti.
Hingga tinggal menghitung waktu sampai aku lulus Sekolah Menengah Atas. Anak panti sepertiku sulit untuk bermimpi mendapat gelar kuliah. Tapi masa bodo dengan caranya, aku tetap ingin melakukannya. Karena ketika lulus sekolah, aku sudah menginjak umur dewasa dan tanpa disuruh pun aku akan menginjakkan kaki dari bangunan tua ini.
Aku tidak muda lagi. Aku paling tua diantara anak-anak disini. Tidak ada yang ingin merawat anak yang pikirannya sudah tumbuh dan berkembang sendiri tanpa bantuan. Mereka ingin anak yang masih muda, masih bisa mereka didik, masih bisa mereka berikan sedikit bagian dari diri mereka dengan membantu anak itu tumbuh. Dan aku jauh dari kategori itu. Mendapat orang tua asuh sudah lama aku kubur dalam-dalam. Aku pun tak tau kenapa mereka tak pernah memilihku, tak tau apa yang kurang dariku. Dan aku bangga dengan tabahnya diriku sejak dua tahun lalu yang mencoba mengabaikan segala kemungkinan itu dan mencoba menjalani kehidupanku sendiri. Rencana hidup yang sudah kubangun sedemikian rupa.
Sampai lelaki itu datang.
Sudah kubilang, tak ada yang menarik dari diriku untuk orang-orang berumur itu mengangkatku sebagai anak mereka. Apalagi kalau mereka harus membiayaiku kuliah yang mana pengeluarannya pasti tak sedikit dan mimpiku disebuah Universitas yang bagus. Aku egois tentang hal ini oke? Setidaknya aku ingin melakukan satu hal untuk diriku sendiri. Memprioritaskan diriku sendiri yang tak pernah kulakukan selama masa hidupku dibangunan dua lantai ini.
Tapi lelaki itu aneh. Ia ingin mengasuhku katanya? Aku yakin pengurus panti, Bu Ijah pun sudah menjelaskan bahwa siapapun yang ingin mengasuhku setidaknya mendengar satu permintaan dariku. Aku sebetulnya mencari aman saja, supaya aku bisa kabur dari sini. Toh sepertinya jarang ada orang yang rela untuk tiba-tiba membiayai seorang anak tak berpestasi yang tak mereka kenal hanya demi keinginan berkuilahnya semata? Tapi sekali lagi, pria itu aneh.
Ia sempat menghampiriku beberapa kali. Bertanya, menyapa, dan senyuman manis dari wajahnya yang sepertinya sudah memasuki kepala tiga. Aku memperhatikan matanya yang penuh senyum teduh. Atau seperti ada emosi terpendam didalamnya? Yang jelas pria ini baik.
Dan seperti dirasuki. Aku mau-mau saja diasuh orang ini. Ia bilang akan membiayai hidupku dan membiarkanku tinggal sendiri jika memang tak nyaman bersamanya. Tapi aneh, dia tak pernah bersama istrinya. Setiap kali datang, ia selalu sendiri dengan mobil hitamnya. Bu Ijah bilang, pria ini salah satu donatur panti. Jadi memang lebih baik bagiku untuk menerima tawarannya saja.
"Saya belum pernah menikah."
Sahut pria itu dengan senyum diwajahnya, yang hanya kubalas dengan anggukan pelan.
Seram. Batinku. Apa jangan-jangan orang ini semacam pedofil? Yang membiayai anak-anak tak bersalah lalu akan mulai menyicipi mereka satu-satu?
Aku itu memang tak kenal takut. Kulemparkan semua keluh kesahku kepada Bu Ijah, yang akhirnya dibalas oleh ketukan pelan dikepalaku oleh tangan keriputnya.
Bu Ijah menaikkan kacamatanya yang kuno itu dan berkata, "Pak Mingyu itu pria paling baik yang pernah ibu kenal, nak." Bu Ijah tersenyum lembut. "Kalau kamu memang tak ingin pun gak apa, nduk. Tapi Pak Mingyu bilang dia siap bayarin kamu kuliah."
Aku itu percaya Bu Ijah lebih dari siapapun, bahkan perannya sudah seperti ibuku sendiri. Lihat saja senyum manis diwajahnya yang mulai keriput dan tak menurunkan sedikitpun kecantikannya.
Entah karena rasa berhutangku pada wanita ini, atau egoku yang ingin mengambil kesempatan ini untuk mulai kuliah di ekhem... Internasional. Jadi, sepertinya keuntungan 50:50 buatku kan?
"Yaudah." Aku meraih tangan itu dan mengelusnya pelan. "Aku percaya Ibu."
Wanita manis itu tersenyum dan menyambut jawabanku dengan riang.
Dan sekarang disinilah aku. Kursi penumpang dengan laki-laki yang tadi memperkenalkan dirinya sebagai Pak Mingyu. Dia bilang, dia juga masih merasa belum nyaman jika harus dipanggil Ayah atau sebutan orang tua lainnya.
Mobilnya mahal. Aku bisa menebak dari bentuknya yang pendek dan kecil. Bu Ijah bilang, Pak Mingyu itu bukan orang biasa dan tentu saja aku bisa melihatnya dengan jelas. Jam tangan yang selalu berganti setiap dia mengunjungi panti. Mobilnya yang kelihatannya berumur lebih tua dari dirinya, dan justru itu yang membuatnya mahal kan?
"Saya tau, niat saya pasti dianggap aneh sama kamu. Tapi saya janji, saya itu tulus mau rawat kamu sebagai anak saya." Kata Pria yang sedang memegang kemudi itu.
Aku sudah memikirkan seribu cara melarikan diri darinya jika dia melakukan hal aneh. Dan sudah kubilang, aku itu terlalu berani orangnya.
"Kenapa Pak Mingyu gak pernah nikah?" Boom.
Aku seperti melempar granat dihadapannya. Dilihat dari dirinya yang tersentak sebentar dan membenarkan kacamatanya. Sepertinya ia menelan ludahnya kasar.
Pria itu terkekeh pelan. "Gak apa-apa. Nanti saya nikah kok."
"Kapan?" Aku merasa ingin mengutuk mulutku yang bergerak lebih cepat dari kepalaku.
Kemudian senyum terangkat dibibirnya. Senyum yang selalu ia tunjukkan. Senyum yang terlihat seperti dibuat-buat. Senyum yang terlihat menyimpan... Kesedihan.
"Kalau saya sudah meninggal."
Rasanya kita seperti saling melemparkan granat disini. Apa maksudnya kalau ia sudah meninggal? Tapi keraguanku tentang pria ini sebagai seorang pedofil agaknya menurun sedikit.
Kali ini aku membuang pandangan kearah jendela samping kiriku. Pikiranku sepertinya kali ini menang untuk tak bertanya banyak.
"Maaf, kalau pertanyaannya gak enak didenger." Kataku pelan.
Pria itu tertawa. "Gak apa-apa, namanya juga saling kenal." Ia menoleh sebentar kearahku. "Kamu mau kuliah dimana? Udah persiapan tes?"
Aku menatap ke arah wajahnya lagi. "Udah. Tempat yang aku pengen mungkin agak mahal sih Pak, apalagi kemungkinan beasiswa anak panti itu—"
"Saya tanggung. Dimana aja terserah kamu."
Lalu kutumpahkan-lah segala keinginanku yang terpendam. Belajar tanpa tidurku, tangisan tengah malamku, impian-impian yang kukira tak akan pernah jadi nyata. Dan sesaat, semua beban dipundakku terasa terkikis. Hanya ada pria disampingku yang akan menanggung hidupku. Aku bisa merasakannya.
"Masa kuliah itu masa-masa paling indah buat saya." Ia membuat tatapan itu lagi, tatapan sedih, sayu, entahlah. Aku bisa melihat tenggorokannya yang menelan kasar. "Saya ketemu orang yang paling saya cinta disana."
Ah, sepertinya benangnya tersambung sedikit demi sedikit.
Pria itu terkekeh. "Saya tau kamu pasti mau tanya, kenapa saya gak nikah sama dia aja kan?"
Aku hanya mengangguk pelan. Shameless.
Pria itu tertawa lagi. Ada diam sementara dalam mobil ini. Udara hangat tadi seketika hilang dan hanya ada tatapan sedih pria itu. Tidak bukan sedih, lebih seperti kelelahan
"Dia sudah meninggal."
Ia menatapku dan menarik sudut bibirnya sebentar sebelum kembali menatap jalanan dihadapannya.
Benangnya tersambung lagi.
"Berarti nikah pas udah meninggal maksud om tuh, biar nikah ketemu dia di alam sana gitu om?"
Pria itu tertawa kencang. Jujur kencang sekali sampai ia menarik kacamatanya keatas sedikit dan mengelap ujung matanya. "Kamu itu anaknya terbuka dan jujur banget ya." Kemudian hening sementara dan ia menarik sudut bibirnya kembali. "Persis seperti dia."
Oh no, apakah aku ada hanya untuk menggantikan presensi siapapun orang itu?
"Mantan om?"
Pak Mingyu tersenyum sambil menatap jalan. "Saya masih tunangan dia. Kemarin, hari ini, dan seterusnya."
Oke, orang ini bukan pedofil. Tapi kesempatan kecil itu tetap ada kan? Tapi rasa raguku runtuh terlalu banyak pada pria ini. Jujur saja, ia terlihat menyedihkan.
Mengingatkanku pada Bu Ijah ketika ia membicarakan suaminya yang sudah lama wafat. Tapi pria ini, seperti masih berkabut dalam kesedihan itu. Seperti ia tak pernah lepas dari bayang-bayang orang yang ia sebut kekasihnya itu.
"Om tunangan sama dia?"
Pria itu mengangguk pelan. "Bahkan pesan terakhirnya, dia bilang buat jangan lepas cincin yang dia pakai apapun yang terjadi. Jadi, dia masih pakai benda itu bahkan sampe nutup mata." Ia tersenyum kembali.
Aku bahkan tak mengenal pria ini sampai bagian terdalam, atau siapapun tunangan yang ia sebut-sebutkan itu. Tapi rasanya, seseorang itu masuk kedalam hatiku dan membagi rasa sedih pria disampingku ini untuk kurasakan juga.
"Om..." Aku ragu. "Boleh gak aku nanya namanya siapa?"
Mobil sepertinya mulai memasuki area perumahan yang kutebak sebentar lagi kita akan sampai.
"Janji jangan kaget pas denger?"
"Hah? Ngapain kaget? Kan cuma nama?" Tanyaku bingung.
Pria itu terkekeh lagi. Ia mulai memberhentikan mobilnya dan kulihat sebuah rumah besar. Besar sekali, sepertinya belum pernah aku menginjakkan kaki dirumah sebesar ini.
Ia melepas sabuk pengaman dan menatap kearahku dalam-dalam sebelum membuka mulutnya.
"Wonwoo."
Ah, lagi-lagi tatapan itu. Sedih, cinta, kecewa, lelah, entahlah. Matanya membendung terlalu banyak emosi.
Tapi, tunggu sebentar. Wonwoo? Apakah ada didunia ini perempuan dengan nama Wonwoo? Mungkin saja ada. Ya, mungkin saja. Aku ini kan memang tak pernah merasakan dunia yang sebenarnya.
Pria itu lagi-lagi tertawa sampai matanya menyipit. Ia tarik kacamatanya yang turun keatas dan mulai menatapku dengan sayu lagi. Tapi kali ini senyumnya lebih cerah. Seolah bisa membaca pikiranku, ia melanjutkan kalimatnya. "Iya. Dia laki-laki."
───────────────────
Aku menurunkan barang-barangku dari mobil dengan ekspresi, entah ya. Kekasih yang sejak tadi ia bicarakan, yang sejak tadi ia ceritakan dengan penuh kasih, ternyata laki-laki? Ah, entahlah. Aku bingung dengan yang aku rasakan saat ini.
"Kalau kamu jijik sama saya dan mau balik gak apa-apa, dek. Nanti saya anterin balik."
Aku masih diam seribu bahasa dan menyibukkan tanganku dengan tas yang sebenarnya tak sulit untuk diambil, tapi aku pura-pura sibuk saja.
"Saya tetep bayarin kamu kok. Tapi kalau kamu gak suka sama saya dan mau pulang, saya ngerti."
Bagaimana aku menanggapi situasi ini ya?
"Kalau masih bingung, kamu disini gak bareng saya kok. Ada Ibu dan beberapa orang disini. Saya bakal kerumah saya yang diblok lain, biar kamu nyaman."
Setelahnya aku masih tak menjawab. Aku mengikuti langkah kakinya dari belakang dan ada seorang wanita paruh baya yang menyambutku. Pak Mingyu memeluk dan menyapa pipi dengan pipi wanita itu.
"Ibu," Sepertinya ibunya. "Aku bawa anaknya bu."
Ibu itu tersenyum lebar sekali saat melihat hadirku. Ia menghampiri dan memelukku erat. "Cucuku."
Rasanya hangat, aku senang bukan main. Pertama kalinya ada orang lain selain Bu Ijah dan anak-anak panti yang menganggapku sebagai bagian keluarga. Aku hampir menangis terharu, tapi kutahan tenggorokanku yang terasa berat ini.
Aku mulai memperkenalkan diri dan Ibu itu menjawab dengan, "Jangan panggil tante ya, panggil aja Mbah atau Nenek." Sahutnya.
Jangan salah, wanita ini tidak terlihat seperti seorang perempuan beumur. Ia modis bukan main. Tampilannya tidak seperti wanita tua pada umumnya, aku bahkan ragu memanggil wanita ini dengan sebutan Nenek.
Kemudian peluknya berpindah ke tangan pria itu lagi. Mengusap pundaknya yang lebar dan menatapnya dengan, sayu. Ada apa sih dengan keluarga mereka dan ekspresi sedihnya?
"Aku mau pulang, Bu."
"Kamu yakin tidur disana? Atau mau kerumah Mamah mu saja, nanti Ibu yang telfonkan—"
Mamah?
"Gak apa bu. Mas kangen juga lagian sama rumah itu, udah sebulan gak kesana."
Ibu itu mengusap tangan pria itu, tatapannya sayu kembali. "Yowes, sampaikan salam ya."
Pria itu mengangguk pelan. Ia menatap kearahku sebentar dan memberi senyuman hangat sebelum berlarut pergi.
"Kamu lapar gak, sayang? Mbah sudah masak banyak buat kamu loh."
Malam itu diisi dengan percakapan singkat dan sebetulnya lebih banyak membicarakan tentang diriku. Aku suka Mbah, dia membuatku merasa diterima dan lebih terbuka. Rasanya mengingatkanku pada Bu Ijah dipanti.
Tentang kuliah, tentang orang tua kandungku yang entahlah dimana, tentang anak-anak panti, dan tentang Bu Ijah.
Aku merasa ada pertanyaan yang mengganjal tentang Pak Mingyu. Tapi aku tak berani membicarakan hal sensitif seperti hubungan dua orang laki-laki, apalagi salah satunya telah berpulang.
"Kamu boleh hias kamar kamu loh. Nanti Mbah ajak ke IKEA atau toko lain supaya kamu bisa hias-hias."
Aku sebetulnya berencana untuk tinggal sendiri saja daripada bersama Pak Mingyu itu. Tapi mengetahui aku juga tinggal bersama wanita ini, aku jadi tenang dan rasanya ingin tinggal lebih lama disini.
Aku mengangguk, dan sepertinya senyum senangku tak bisa tertahankan.
Malam itu aku tak bisa tidur. Rasanya aku langsung dihujani seribu informasi. Pak Mingyu yang kekasihnya—tunangannya yang ternyata sudah meninggal. Dan yang ternyata juga seorang laki-laki. Kemudian ada dua wanita yang ia panggil Ibu dan Mamah, entah apa hubungan ketiganya. Kepalaku berdenyut pusing. Tapi kamar ini nyaman sekali, ada aroma manis tersendiri dari sprei dan bantalnya. Mengingat semasa hidupku yang hanya menghirup deterjen murah diseluruh pakaian panti.
────────────────────
Pagi itu rasa kantuk masih menyelimutiku. Kemudian aku dibangunkan oleh suara bapak-bapak bernyanyi keras dengan speaker. Sepertinya lagu Pop atau sejenisnya, aku tak kenal lagu tua seperti itu.
Kulihat kearah jendela, ternyata benar seorang bapak-bapak. Ditonton Mbah yang sedang menyisip gelasnya dan duduk manis dikursi taman. Halaman belakang itu luas. Tamannya lebar, ada kolam renang, kursi meja, serta pohon rindang. Aku baru sadar mereka sekaya itu.
Sang bapak-bapak itu tak sengaja melihat diriku diatas jendela dan mulai melambaikan tangannya. "Selamat pagi, neng!" Suaranya keras dengan speaker karaoke itu.
Aku hanya bisa membuka jendela dan mengelurkan kepalaku sedikit sambil mengangguk pelan. "Pagi Pak." Sepertinya suaraku pun tak terdengar dari bawah sana.
Mbah melirik kearahku dan mulai mengajakku turun.
Aku sedikit tersesat dirumah itu, untungnya ada seorang wanita yang baru aku lihat pagi ini. Sepertinya salah satu pengurus rumah ini? Ia menunjukkan jalan kearah pintu belakang dan disanalah Mbah dengan laki-laki paruh baya itu.
Mbah mengusap rambutku pelan dan mengucap selamat pagi dengan lembut. Ia memperkenalkan ku dengan pria yang sedang memegang Mic itu. Katanya pengurus taman disini, atau lebih seperti tukang kebun pikirku.
Pak Ari namanya. Ia menyodorkan Mic yang ia pegang dan mengajakku untuk karaoke bersama. Aku mengambil benda itu dengan ragu, tak enak juga jika harus menolak melihat tatapan Mbah yang sepertinya tak sabar mendengarku bernyanyi.
Diserahkannya sebuah Tablet ke tanganku dan aku mulai menggerakan jariku diatas layar gawai itu dan memilih lagu Payung Teduh berjudul Resah.
Aku bukan penggemar berat Payung Teduh, tapi lagu ini kadang kali terdengar di panti yang mana membuatku hafal dengan sendirinya pada setiap bait lagu ini.
Aku mulai bernyanyi dengan suaraku yang sedikit bergetar, gugup. Pak Ari sepertinya menikmati lagu ini dilihatnya yang ikut bernyanyi bersamaku.
'Aku menunggu dengan sabar
Diatas sini, melayang-layang
Tergoyang angin, menantikan tubuh itu'
Lirik paling kusuka dalam lagu ini. Kunyanyikan dengan suaraku yang tak seberapa. Dan tanpa kusadari, sesosok pria berdiri menyandarkan tubuhnya diambang pintu. Dan bisa kulihat dengan jelas matanya yang berair.
Lagu hanya tinggal melantunkan iringannya, lirik sudah sepenuhnya kunyanyikan. Pria itu melepas kacamatanya dan dia mulai menutup matanya dengan telapak tangannya yang lain. Ia tak menyembunyikan tangisnya sama sekali, itu mengejutkan.
"Biarkan saja, kangen dia itu."
Aku sontak menoleh kearah suara itu. Mbah tersenyum manis kearahku. "Suara kamu bagus juga, nduk."
Aku hanya terkekeh. Dilihatnya Pak Ari juga menatap Pak Mingyu sebentar dan mulai menghembuskan nafas berat. Tapi tak ada yang menenangkan pria itu, aku merasa aneh.
"Kamu mau nyanyi lagi?" Tanya Pak Ari.
Aku melirik sebentar kearah Pak Mingyu yang sepertinya sudah hilang entah kemana.
"Kasihan ya Buk, si Mas itu." Tukau Pak Ari pelan.
Mbah hanya menyisip tehnya dan juga menghela nafasnya berat. "Sudah lama padahal, tapi rindunya masih belum punah juga."
"Udah berapa lama sih Buk, 10 tahun ya?"
Mbah hanya mengangguk pelan dan menyisip tehnya lagi.
Apakah yang mereka maksudkan pria bernama Wonwoo itu? Berarti mereka tahu hubungan dua orang laki-laki itu?
Kemudian Mbah mengajakku untuk duduk dikursi sebelahnya. Aku mendekat dan ia menuangkan teh dari teko cantik bermotif bunga ke gelas kecil yang kemudian diberikan kepadaku.
Ia tersenyum dan menyisir rambutku lagi.
"Bukan Mas saja yang kangen. Ibu juga jadi kangen anak ibu."
Pak Ari mematikan mesin karaoke."Dia pasti lagi bahagia diatas sana, Bu le." Ia kemudian pergi meninggalkan aku dan Mbah berdua ditaman ini.
"Nduk..."
Aku menatap dan membalas senyum manis itu.
"Mbah ngomong gini bukan untuk memberatkan kamu atau bagaimana. Tapi, baik-baik ya sama Om Mingyu? Eh, kamu manggilnya Om atau Bapak?"
Aku terkekeh pelan. "Om atau kadang Pak, mbah."
Mbah hanya mengangguk pelan. "Ora opo toh. Namanya juga belum nyaman sama si mas." Ia menyisip tehnya lagi. "Tapi, Mas Mingyu itu udah lama banget sedih. Apalagi sejak anak saya meninggal, dia dulu jarang pulang dan matanya selalu sembab."
Aku bertanya dengan ragu. "Anak Mbah?"
"Iya." Mbah tersenyum lembut. Ia mengusapkan tangannya lagi pada rambutku yang panjang sebahu ini. "Mas Wonwoo itu anak ibu paling baik, paling Mbah sayangi. Kalau ada kesempatan, Mbah mau tukar hidup Mbah sama anak kesayangan Mbah saja."
Aku terkejut mendengar kalimat itu. Jadi mereka tau hubungan Pak Mingyu dan pria bernama Wonwoo itu? Dan ternyata Mbah itu bukan ibu kandung Pak Mingyu, melainkan ibu pria yang bernama Wonwoo itu? Rasanya langit menimpa kepalaku lagi dengan sejuta informasi.
"Si Mas udah cerita sama kamu?"
Aku paham maksud pertanyaan terselubung itu dan hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Kamu jijik sama Mas?"
Aku menggeleng cepat. Sebetulnya sejak kemarin pun bukan perasaan jijik yang membuatku diam. Tapi rasa bingung dan limpahan emosi yang terlalu tiba-tiba untuk ku bendung. Aku bukan anak umur 10 tahun, aku tahu jelas susahnya memiliki hubungan sesama jenis dinegara ini. Karena itu pikiranku meracau, apalagi mereka sampai bertunangan dan salah satunya sudah berpulang. Aku tak mau berfikir begini, tapi tebakan buruk melucuti kepalaku tanpa aba-aba dan aku tak bisa melakukan apa-apa.
Aku ragu namun memberanikan diri membuka suara.
"Anak Mbah, tunangannya Pak Mingyu?"
Jantungku rasanya berpacu cepat bertanya tentang itu. Tapi Mbah hanya membalas dengan senyum dan anggukan pelan. "Iya, sayang."
Keheningan muncul diantara kami. Suara dedaunan dan pohon yang bergoyang tertiup angin. Keheningan yang nyaman. Sepertinya bukan hanya aku saja yang tenggelam dalam pikiran, Mbah pun terlihat seperti larut menatap tanaman-tanaman tertiup angin itu.
"Lagu yang kamu nyanyiin tadi itu lagu favorite anak saya. Makanya saya jadi kangen." Senyum lagi-lagi terukir diwajah keriput yang masih terlihat cantik itu.
"Payung Teduh?"
"Iya." Mbah mulai menatapku dengan seksama dan mengeluarkan suara dengan pelan. "Makanya tadi mas Mingyu nangis pas denger kamu nyanyi, kamu juga liat kan?"
────────────────────
Benang yang kukira makin terhubung, ternyata jauh lebih kusut dari yang kuduga. Tapi sekarang bukan perasaan bingung lagi yang menimpaku ketika melihat pria tinggi yang menjadi ayah asuhku itu. Tapi rasa... Kasihan. Aku bisa melihat dengan jelas matanya yang merah sedikit, sepertinya bekas tangisan tadi. Ia sepertinya benar-benar larut dalam tangisnya, sampai tak menyadari bahwa baik aku maupun Mbah menyaksikan luapan emosinya itu.
Om ini mungkin mencoba berbicara dan tertawa seperti biasa. Tapi aku itu seorang anak panti yang sudah terbiasa memperhatikan banyak emosi anak-anak. Terutama anak yang memendam rasa sedih terlalu menumpuk, sampai akhirnya yang bisa mereka lakukan hanya menekan perasaan itu hingga membunuh diri mereka sendiri. Dan Pak Mingyu melakukan itu.
Pak Mingyu menatap kearahku dan terseyum. "Kenapa nak?"
Aku hanya menggeleng pelan dan kembali menatap piring dihadapanku.
Aku melirik lagi wajah pria itu. Tatapannya sayu matanya mulai menatap kebawah meja. Dan entah kenapa memperhatikannya dapat mempengaruhi emosiku sendiri untuk merasakan rasa sedih yang sepertinya ia rasakan.
Aku bisa melihat jelas jarinya yang mengusap lembut cincin dijari manis kirinya. Aku boleh menebak kalau itu cincin tunangannya, kan?
Bibi dari dapur mulai menyajikan makanan dimeja makan. Entah sarapan seperti apa pada pukul 9 pagi, atau karena mereka tadi menungguku bangun?
Suasana tenang. Mbah dan Pak Mingyu itu akrab sekali, sampai aku awalnya mengira mereka punya hubungan darah.
"Nduk." Aku sontak menengok kearah Mbah. "Nanti Mbah sepertinya gak bisa ke IKEA buat beli barang-barang, sayang. Nanti Mbah lihat lagi ya jadwal kosong."
"IKEA?" Om Mingyu menyahut.
"Iya, sayang. Ibu tuh lupa hari ini ada arisan sama ibu-ibu komplek dan malah buat janji sembarangan sama Nduk."
"Yaudah. Sama mas aja."
Rasa canggung sepertinya sudah menggerogotiku mendengar ide tersebut. Membayangkan perlu berduaan kembali dengan Pak Mingyu setelah kejadian kemarin.
"Nduk mau sama Om Mingyu?"
Aku tidak tau harus menjawab apa dan hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Aku bukannya menolak presensi Pak Mingyu, sungguh. Tapi sepertinya aku tak kuat membendung emosi berat yang sedang dibawa pria itu. Yang sepertinya suatu saat bisa kurasakan juga.
"Mau." Kataku pelan.
Aku melihat sekilas senyum tergambar diwajah laki-laki berbadan tinggi itu. Aku juga tak bisa menolak ajakan apapun jika keluarga ini yang memintanya.
────────────────────
Sepertinya obrolan antara aku dan Pak Mingyu ditakdirkan untuk terjadi didalam mobil. Seperti saat ini.
"Maaf ya, saya ajak kamu. Padahal kemarin kita canggung."
Pria itu masih belum menyalakan mobilnya juga. Sepertinya menunggu apakah aku akan lari dan keluar dari mobil ini atau tidak. Tapi ya Tuhan, aku tidak sejahat itu juga.
"Enggak kok." Aku menggaruk tanganku yang sebetulnya tidak terasa gatal sama sekali. Gugup. "Aku juga pengen kenal Pak Mingyu lebih jauh."
Senyum terbit dibibir lelaki itu. Senyumnya lebar sekali sampai mulutnya terbuka sedikir dan menatapku dengan riang. Ia mulai menyalakan mobil dan rodanya mulai berputar dijalan komplek ini.
"Maaf ya saya kemarin bikin jadi canggung."
Aku menggeleng pelan, tak berani menatap lelaki itu. "Salah aku yang diem aja, malah jadi bikin salah paham." Kini pandanganku menatap pria itu yang juga melirikku sebentar. "Aku gak jijik sama Bapak.
Ekspresi riang terbit kembali diwajahnya. "Saya baru denger kamu panggil saya Bapak!" Nada bicaranya riang sekali.
Aku sontak merasa malu dan sepertinya pipiku memanas tanpa sadar. Aku juga memanggil sebutan itu tanpa sadar.
Aku bukannya tak menganggap dia sebagai ayah angkatku, oke? Hanya, rasanya masih belum terbiasa dan canggung saja.
"Kamu suka warna apa?" Tanyanya tiba-tiba.
"Pink."
"Oke, nanti kita cari barang-barang yang berhubungan dengan pink!"
Ia sepertinya yang paling semangat tentang ini. Aku sebetulnya menolak membeli barang baru hanya karena mereka ingin mengikuti mauku. Mau dikemanakan barang-barang yang sudah dikamarku itu jika harus diganti dengan barang baru? Aku rasanya tak enak. Tapi dilain sisi aku juga mengerti bahwa inj cara mereka menyambut dan mencoba membuatku nyaman.
"Kamu jago nyanyi ya?"
Mbah dan Pria ini sama saja, padahal suaraku jauh dari kata bagus.
Aku hanya jawab dengan tertawa pelan dan garukan di leher, yang lagi-lagi sebetulnya tidak gatal. Aku merasa tak sopan jika harus tak setuju dengan pernyataannya. "Bapak liat aku nyanyi?"
"Iya, tadi. Pak Ari tuh emang langganan nyanyi pagi-pagi. Kamu belum denger aja kalo dia nyanyi rock."
Aku sontak terkejut dan membulatkan mataku menatap Pak Mingyu.
Ia mengelurkan tawa. "Beneran tau!"
Pak Ari, menyanyi lagu rock? Kalau dilihat dari tampangnya yang berkumis, dengan sarung melingkari pinggangnya dan peci hitamnya mirip pak haji. Ia lebih cocok nyanyi lagu lawas seperti Rhoma Irama atau lagu pop yang beliau nyanyikan sebelumnya. Tapi lagu rock? Rasanya lucu sekali membayangkannya.
Ah, aku bukannya ingin merusak suasana. Tapi rasanya aku ingin bertanya sekali tentang adegan menangis pria ini sebelumnya saat mendengar lagu Payung Teduh itu. Aku yang biasanya tak kenal takut untuk bertanya ini merasa ciut dihadapan pria dengan bendungan emosi seluas lautan seperti Pak Mingyu.
Jadi yang bisa kutanyakan hanya, "Om tadi gak apa-apa?"
"Hm?"
Aku kemudian menggeleng pelan. "Enggak jadi."
"Yang saya nangis tadi?" Ia tertawa pelan. "Kamu liat ya ternyata?"
Aku berusaha menyudahi topik ini, tapi sepertinya Pak Mingyu berlapang dada dengan emosinya sendiri.
"Kamu gak perlu kaget kalo liat saya nangis, Pak Ari aja sampe bosen." Ia tertawa kembali.
Tidak tau harus aku apakan informasi tersebut. aku mulai menatap jalanan didepan. Seperti hari libur biasanya. Jalanan padat sekali, mobil mungkin akan lebih lama sampai tujuan.
"Kamu suka Payung Teduh?"
Akhirnya topik ini. Aku menggeleng pelan sebagai jawaban. "Sering denger di panti, soalnya Bu Ijah suka."
Pak Mingyu mengangguk. "Kalau saya suka banget."
Dia suka karena benar-benar suka atau, karena pria itu?
"Mbah pasti ngomongin Mas Wonwoo ya tadi?"
Aku mengangguk lagi sebagai jawaban.
Pak Mingyu terkekeh pelan. "Kayaknya hari ini kamu lebih ciut dibanding kemarin. Sebelumnya kamu kalau mau nanya langsung nanya tanpa dipendem."
Aku menghela nafas dan mulai memberanikan tekadku untuk membuka mulut. "Om tadi gak apa-apa?" Pertanyaanku yang tadi, yang belum ia jawab dengan benar.
Ia hanya menatapku dengan senyum. Hatiku rasanya berat lagi melihat tatapan sayu itu lagi. "Om kangen sama Wonu." Senyumnya masih terlihat sedih.
Wonu, panggilannya.
"Lagu tadi tuh lagu yang kadang Om denger kalau lagi sama Wonu, terutama di mobil ini. Dia bilang liriknya gak cocok sama hubungan kita, jadi saya gak perlu sedih kalau denger lagu itu katanya. Dia sebetulnya lebih sering puter lagu Akad-nya Payung Teduh, katanya lebih cocok kalau lagi berdua."
Aku tak bisa berkata-kata. Rasanya hatiku seperti ditusuk dari berbagai arah. Rasa sedih yang tak pernah meninggalkan lelaki berumur 39 tahun itu, sepertinya aku mulai mengerti sedikit demi sedikit.
Membayangkan pria yang tak pernah aku lihat wajahnya itu, duduk dikursi yang aku duduki saat ini. Bernyanyi riang mengikuti lirik bait lagu Akad itu. Dan mungkin, dengan Pak Mingyu yang tersenyum bahagia memegang kemudinya. Bukan dengan ekspresi sedih yang berusaha ia tahan saat ini.
"Besok om mau ikut?" Tanyaku tiba-tiba.
"Ngapain?"
"Karaoke, nanti aku ajak Pak Ari."
Ekspresi pria itu berubah senang dan tertawa. "Saya gak bisa nyanyi, dek."
"Aku juga gak bisa. Nanti ada Pak Ari, duet rocker aja nanti om berdua."
Tawa lagi-lagi menghujani mobil ini. "Malem ini aja gimana? Besok senin saya kerja dek."
"Oke, nanti malem. Ganggu tetangga gak ya?"
"Kedap kok dindingnya, aman. Emang mau karaoke ditaman kayak tadi?"
"Iya. Seru gak sih? Tapi dingin."
"Yaudah, nanti saya bakar-bakar deh. Habis ini sekalian kita beli sosis sama bahan-bahan lain."
"Emang gak repot, Pak?"
"Enggak akan."
Mobil hening kembali. Namun kali ini lebih nyaman.
"Saya boleh jujur gak sama kamu?"
"Apa?" Tanyaku.
"Kamu itu sebetulnya permintaan Mas Wonu."
Aku bingung. Pria bernama Wonwoo ini mengenalnya atau bagaimana?
"Mas..." Aku tak yakin memanggil pria itu dengan sebutan apa. "Mas Wonwoo kenal aku?"
"Iya. Kamu niatnya mau kita asuh setelah nikah. Tapi Wonu udah pulang lebih dulu. Maaf ya saya telat bawa pulang kamu, harusnya udah dari lama." Senyumnya mengembang.
Dimana memangnya Mas Wonwoo itu pernah bertemu denganku? Apa ada bagian dalam ingatanku yang terkubur? Ditambah aku tak pernah melihat wujud Wonwoo yang dua hari ini tak henti-hentinya nama itu disebutkan didalam keluarga ini.
Wonwoo.
Berarti 10 tahun lalu saat mereka masih bertunangan? Aku masih berumur 8 tahun saat itu? Rasa-rasanya semakin aku dan Pak Mingyu mengobrol, makin banyak kotak pandora lain yang menunggu untuk dibuka.
"Om, aku boleh nanya gak? Mungkin agak gak enak dikit dihati Om."
"Apa aja boleh."
Aku menelan ludah ragu. "Om. Om sesayang itu ya sama Mas Wonwoo?"
Aku mengira rasa canggung dan udara sedih akan mengisi mobil ini sehabis pertanyaan itu. Tapi tidak.
Mobil mulai terparkir di area parkir IKEA. Pak Mingyu menatap menoleh kearahku sepenuhnya. Senyum bahagia. Sepertinya senyum paling bahagia yang pernah ia tunjukkan. Serta matanya terlihat penuh cinta kali ini, berbeda dengan tatapan sayu-nya sebelumnya.
Ia mulai menurunkan pandangannya kebawah dan mengusap cincin dijari manisnya, dengan usapan paling lembut yang ia berikan. "Mas sayang. Mas sayang banget sama Wonu. Kemarin, hari ini, dan seterusnya." Ia mengecup cincin itu dalam dan menutup matanya perlahan.
Rasanya Pak Mingyu tidak sedang menjawab pertanyaanku. Lebih seperti, ia membisikkan kata itu untuk laki-laki disana. Laki-laki bernama Wonwoo, yang namanya masih disebut hangat oleh pria itu. Seakan jiwanya masih digenggam dengan tangannya.
10 tahun. Dan pria ini masih mencintai lelaki itu dengan hebatnya.
───────────────────
"Om. Makasih ya udah bantu—"
"Eh kok makasih. Udah kewajiban saya sebagai ayah kamu. Inimah hal kecil."
Aku menggigit bibir ragu. "Maaf ya Om, aku masih belum nyaman untuk manggil Om pake sebutan Ayah atau—"
"Eh, gak apa-apa. Memang perlu waktu." Ia kemudian membelai rambutku dengan lembut. "Tapi boleh gak, Om panggil diri sendiri Ayah kalau ngobrol sama kamu?"
Kalimatnya membuatku bingung sebentar namun selanjutnya kubalas dengan anggukan mengerti.
"Oke! Habis ini... Ayah," Ia sepertinya masih canggung. "Em, Ayah bakal panggil Pak Ari kesini dan kita karaoke bareng!"
Aku bisa melihat raut senang diwajahnya.
"Oke." Awalnya memang perlu sedikit paksaan kan? "Oke Ayah." Lagi-lagi menggaruk tanganku yang sebetulnya tidak gatal.
Kini ia mengusap kepalaku dengan kedua tangannya. Aku bisa melihat senyum haru diwajahnya.
Aku melirik jam dinding yang baru dibeli tadi, tentu saja warnanya pink. Saat ini tepat pukul 6 sore. Pak Mingyu... Ayah bilang nanti jam 7 makan malam dan selanjutnya karaoke sambil bakar-bakar.
Aku merebahkan diri dikasur yang sekarang sprei nya sudah berwarna pink itu. Untung saja temboknya masih putih. Sepertinya aku akan pusing kalau seluruh sudut dan benda diruangan ini berwarna pink sepenuhnya.
Lagi-lagi pikiranku melayang soal Wonwoo. Entah kenapa ada dorongan dalam hati untuk memanggil pria itu dengan namanya saja. Nama Wonwoo, terasa akrab dan dekat. Aku masih penasaran dengan wajah pria itu. Wajah yang bisa membuat seseorang seperi Pak Mingyu kalut antara rasa cinta dan kesedihan. Ditambah tak ada foto keluarga yang dipajang disini. Aku jadi kesulitan mencari jejak pria bernama Wonwoo itu.
Aku juga merasa kagum pada seluruh orang dirumah ini yang sepertinya terbuka dengan seksualitas Pak Mingyu maupun anaknya Mbah. Bahkan tak jarang mereka masih menyebut nama Wonwoo dibeberapa kesempatan.
Seperti Mbah yang tadi pagi berbicara tentang Payung Teduh kesukaan anaknya. Seperti Bibi yang siang tadi berkata bahwa ia memasak makanan kesukaan Wonwoo. Pak Ari pun memberitahuku sebelum sarapan tadi tentang tanaman dihalaman belakang yang ternyata semuanya permintaan Wonwoo. Segala hal tentang rumah maupun keluarga ini, masih penuh dengan presensi pria itu. Seakan-akan ia masih disini. Seakan-akan ia masih merangkul mereka. Dan mungkin cepat atau lambat, pria bernama Wonwoo itu akan mulai merangkulku juga.
Aku tak menyangka Mbah akan berkaraoke sebelum makan malam. Tidak, lebih seperti sinden. Aku penasaran apakah tetangga bisa mendengar lantunan Mbah terutama kami semua sedang berada diruang terbuka.
Makan malam disajikan dimeja. Meja taman itu luas berbentuk persegi. Sepertinya mereka juga biasa makan disini, sehingga mejanya didesain lebih lebar dan kursinya yang banyak.
Kali ini lauknya tidak sebanyak makan malam kemarin. Mbah bilang karena habis ini akan makan bakar-bakar hasil Pak Mingyu, maksudnya Ayah. Jadi kita setidaknya memberi sedikit ruang pada perut.
Entah kenapa aku merasa lebih nyaman memanggil pria itu dengan sebutan Ayah. Daripada panggilan orang tua lainnya.
Baru saja aku berandai akan seperti apa Pak Ari jika bernyanyi lagu rock. Tepat 10 menit setelah makan malam selesai, ia mulai bernyanyi lagu Rocker Juga Manusia. Aku takut kalau-kalau tetangga akan mulai protes terhadap kerasnya musik rock ini dan juga karena suara ala penyanyi rock yang bisa mengambil nafas Pak Ari ini.
Pak Mingyu... Ayah disebelah sana, sedang membakar sosis dan beberapa makanan Frozenfood tertawa melihat aksi Pak Ari dan lagu rocknya.
Aku menghampiri Pak Mingyu, Ayah. Dan mulai mengambil alih bakar-bakar itu. Ayah mengizinkan dan segera mengambil satu lagi Mic untuk karaoke lagu rock itu bersama Pak Ari. Memang orang-orang aneh.
Belum selesai. Mereka kemudian membawakan lagu Bring Me to Life dan Pak Ari membawakan nada perempuan. Ah, rasanya tidak cocok dengan kumisnya yang berbentuk persegi panjang itu.
Aku mulai membalik-balikkan beberapa tusukkan ini. Dan memisahkan yang sudah matang dipiring besar, membawanya ke meja persegi panjang itu. Entah kapan Pak Mingyu, Ayah menusuk beberapa makanan ini dan ia juga yang membumbuinya. Tugasku disini cukup mudah, hanya perlu membakar mengipas sebentar atau mengoleskan sedikit bumbu campuran yang aku tak tau apa isinya pada beberapa sisi.
Ayah sepertinya sudah selesai dengan agenda rock nya dan kembali menghampiriku. Ia ambil alih dan menyuruhku untuk duduk dikursi atau karaoke saja. Panas dan bau asap katanya. Kasihan tanganku katanya.
Antara menyanyi rock bersama Pak Ari, atau duduk menyantap hasil bakaran itu dan mengobrol bersama Mbah yang ternyata ikut bernyanyi juga tanpa Mic. Aku akhirnya mengambil kursi disebelah Mbah yang sedang menikmati hasil bakaran itu.
"Seru banget kamu ngide kayak gini, nduk."
Aku hanya terkekeh malu. Tadi itu hanya ajakan spontan, tapi aku tak menyangka akan disetujui Mbah dan suasananya menjadi nyaman seperti ini.
"Kamu tau banget cara buat Ayahmu itu seneng. Mas tadi sampe megang-megang tangan ibu dan katanya kamu ngajak main disini."
Aku hanya tertawa pelan. "Aku gak bantu apa-apa lagian, cuma kasih ide aja dan yang ngejalanin semuanya itu... Ayah." Sepertinya akhir-akhir ini aku punya hobi menggaruk area tubuhku yang tidak gatal.
Mbah mengusap rambutku lembut. Sepertinya usapan kepala oleh orang-orang dirumah ini akan menjadi hal paling kusuka.
Ayah kemudian menghampiri kami membawa hasil bakaran yang semuanya sudah selesai ia kipasi dengan penuh usaha.
Ayah... Aku mulai nyaman dengan panggilan itu.
Pak Ari kemudian menepuk pundak Ayah dan ikut mengambil salah satu kursi dimeja ini. Sekarang kami semua duduk bersama-sama, kali ini lebih lengkap dari pada makan biasa. Ada Bibi dan juga Pria yang tak kukenal yang ikut duduk dimeja ini.
"Kau itu sudah tua loh, masih nyanyi rock aja Ari." Pria asing itu mengambil hasil bakaran dan menatap pak Ari dengan tatapan kesal. Sepertinya mereka dekat pikirku.
"Rocker juga manusia." Jawab pak Ari yang hanya dibalas pukulan pelan dikepala dari pria asing itu.
Pak Ari kemudian menatap kearahku dengan mulutnya yang masih penuh dengan makanan itu dan membulatkan matanya. "Oh iya, neng. Kenalin ini Pak Sutyo, adik saya. Beliau satpam disini."
Aku mengangguk menatap pria yang disebut Pak Sutyo itu dan mengulurkan tanganku. Aku tau ini aneh rasanya berjabat dengan pria berumur. Tapi yasudah-lah.
Pak Sutyo mengangguk mengerti setelah mendengar perkenalanku dan meraih uluran tanganku yang kaku.
"Eh. Tak mau karaoke juga kau?" Pria bernama Sutyo itu sepertinya berbicara kearahku.
Aku menggeleng pelan. Malu sebetulnya, aku tak mengenal begitu banyak lagu selain Payung Teduh. Maklum, akses untuk mendengar musik itu sulit bagiku. Apalagi kalau harus berbagi dengan anak panti lain.
"Aku bingung mau nyanyi lagu apa."
Pria itu memukul meja pelan. "Hah! Lagu kotak aja, hafal kau?"
Pak Ari berdecak geram. "Mana ada anak-anak kau suruh nyanyi lagu tua begitu?"
"Hush." Mbah menengahi mereka. "Kalian ini sudah tua masih saja bertengkar."
Aku hanya terkekeh melihat adegan ini. Rasanya nyaman. Dambaan tentang makan malam hangat keluarga yang sudah lama kukubur ternyata masih bisa kugapai. Bahkan lebih baik dari yang kuharapkan.
"Ayah boleh request gak, nak?"
Aku sontak menoleh kearah suara itu mengudara. Ada Ayah yang sedang mengusap cincin dijari manis dengan ibu jarinya. Dan tangannya yang lain melepas kacamatanya.
Aku mengangguk pelan. "Boleh. Lagu apa?"
Aku kemudian bangun dari duduk dan mulai mengambil Mic yang menganggur diatas meja itu, tak lupa dengan gawai tablet yang sudah kupegang dengan siap.
Kali ini matanya juga menatap cincin itu. "Akad. Akad Payung Teduh."
Ah, perasaan ini menggerogotiku lagi. Wonwoo. Pria itu tak henti-hentinya hadir diantara kami. Dan sepertinya, aku pun sedikit demi sedikit mulai merasakan hadirnya.
Aku mengangguk pelan sebagai persetujuan dan mencari lagu yang dimaksud.
Sepertinya bukan hanya aku saja yang terkejut dengan permintaan lagu tersebut. Orang-orang disini pun sepertinya tau hubungan lagu itu antara Ayah dan pria bernama Wonwoo. Dan betapa berartinya lagu itu untuk mereka.
Lantunan pembuka mulai berirama. Pak Sutyo menggerakan badannya aneh mengikuti irama lagu. Diikuti dengan Pak Ari yang mengangguk-anggukan kepalanya.
Mbah pun sepertinya ikut melantunkan bait-bait lagu ini. Sepertinya kesukaan Wonwoo pada Payung Teduh mempengaruhi orang-orang disekitarnya.
Terutama Ayah. Pria yang tatapannya kini sudah berkelana bahkan sejak terompet awal pada lagu ini berkumandang. Ia mendekap cincin itu dengan tangannya yang lain. Terkadang matanya ia arahkan turun untuk menatap sambil mengusap benda perak itu.
Suasa ini tenang. Tapi bukan ini yang aku cari. Aku mengambil Mic lain dan mulai memberikannya pada Pak Ari. Pria itu bersemangat dan mulai berdiri dari kursi dengan satu kakinya yang bertumpu didudukan kursi.
Ia mulai menyanyikan lagu ini dengan suara rock khasnya. Aku tak pernah membayangkan akan mendengar lagu Payung Teduh dinyanyikan dengan suara serak-serak dan seperti akan merenggut nyawanya itu.
Pak Sutyo ikut berdiri dan kemudian merebut Mic itu dengan paksa. Ia mulai menyanyikan bait lagu dengan nada yang tak kalah aneh. Nadanya jelek sekali, jujur saja. Nada yang ia nyanyikan entah kemana arahnya dan kepalanya kali ini dipukul pelan oleh Pak Ari.
"Jelek banget suara kau!" Teriak Pak Ari.
Kemudian Mic direnggut kembali oleh Mbah. Yang tak kusangka akan menyanyikan lagu ini dengan nada sindennya yang super tinggi. Entah kemana sudah lagu ini arahnya. Bahkan aku ragu Payung Teduh akan menerima lagu mereka dinyanyikan dengan rusuh seperti ini.
Aku melirik Ayah sebentar. Senyum tergambar diwajahnya. Tangannya masih setia mengusap cincin itu. Aku bisa merasakan dari tatapan senang dan tawanya yang mengudara. Ia seperti mencoba membagi perasaan senangnya pada siapapun disana. Pada siapapun usapan halus tangannya itu menjadi alasan.
Kini Ayah juga bangun dari kursi dan merebut Mic yang dipegang Mbah. Serius deh, sepertinya harus ada 5 Mic dirumah ini. Ayah mulai menyanyikan lagu ini dengan nada yang tertahan. Jelek pikirku spontan. Tapi masih lebih baik daripada nada tak beraturan pak Sutyo.
Suasana malam itu menyenangkan. Kami menyanyikan lagu lain bergantian dengan semangat. Bernyanyi bersama meski tanpa memegang Mic. Dan aksi rebutan Pak Sutyo dan Pak Ari yang masih berlanjut.
Kemudian satu lagu asing mengudara. Lagu ABBA kata Mbah, bertajuk Dancing Queen. Kita semua menari seperti orang aneh diatas taman. Ayah berdansa bersama Mbah dengan lantunan musik yang semangat. Dan Pak Ari dilain sisi mengibaskan rambutnya yang tak seberapa itu naik turun seperti penyanyi rocker. Pria itu aneh sekali. Pak Sutyo pun seperti melakukan gerakan ala tarian betawi.
Dengan dress selutut yang aku kenakan. Aku ikut berdansa mengikuti lagu. Menggerakan bajuku yang berputar kekanan dan kekiri serta tanganku yang tak henti bergerak keatas, samping, segala gerakan tari yang spontan kulakukan karena perasaan senang yang terlalu banyak.
Bahagia. Bahagia sekali dengan suasana ini. Malam yang seharusnya tenang kami isi dengan tarian ala kadarnya dan lantunan lagu serta nyanyian sinden dari Mbah.
Aku senang. Terlalu senang. Aku memperhatikan ekspresi Ayah sebentar yang emosinya sepertinya tak kalah naik sepertiku. Ia senang bukan main. Senyumnya mengembang hebat. Ia kemudian memindahkan tangannya dari tangan Mbah dan mulai berdansa bersamaku. Ia bawa badanku berputar dan senyum bahagia tergambar jelas diwajahnya.
Ia tersenyum padaku. Senyuman paling manis darinya yang pernah aku lihat. "Makasih, nak." Ucapnya dengan senyum paling merkah yang bisa ia tunjukkan.
Aku balas ucapan itu dengan tawa. Tawa paling bahagia yang pernah aku rasakan seumur hidupku.
Kemudian pikiran itu memelukku dengan hangat. Wonwoo, apa kamu menyaksikan kami bahagia juga saat ini?
Malam itu indah. Malam paling indah yang pernah aku rasakan. Tarian, nyanyian, semuanya bercampur dibawah gelapnya malam dan hanya diterangi oleh lampu taman.
Selamat malam dunia.
Dan sekali lagi kuedarkan mataku menatap Ayah yang masih bahagia bukan main.
Selama malam, kesedihan yang menyelimuti Ayah.
────────────────────
Extra part —
Ayah menemaniku tidur kali ini untuk pertama kalinya. Ia duduk dipinggiran kasur dan tangannya menyisir suraiku dengan halus. Kalau dipanti pasti aku akan dikatai tua bangka yang manja kalau meminta Bu Ijah mengelus kepalaku. Tapi biar saja yang ini, aku suka Ayah.
Aku menatap langit-langit kamar yang hari ini sudah penuh dengan beberapa tempelan berwarna pink.
"Ayah."
"Hm?" Ayah menatap kearahku.
Aku mulai menarik selimut dan guling. Merasa nyaman dan siap untuk memejamkan mata. "Ayah boleh cerita gak?"
"Cerita apa?"
"Apa aja, yang mau ayah omongin. Aku mau denger."
Sebetulnya sudah ada beberapa tebakan tentang cerita apa yang akan ayah bawakan. Tapi tak kusangka yang satu ini tepat sasaran.
"Kamu mau tau kenapa Wonu bisa kenal kamu?"
Aku mengangguk cepat. Ya, sangat ingin.
Ayah terkekeh pelan. "Kamu waktu itu masih umur 7 tahun sepertinya. Wonu bilang, kamu lagi nangis dipinggir jalan."
Mataku membulat, aku bahkan tidak ingat ada kejadian seperti ini dalam hidupku.
"Terus gak tau gimana, Wonu ajak kamu main. Beli eskrim, bahkan sampai keliling-liling kota katanya."
Sumpah, aku tidak mengingat sedikitpun momen itu.
"Terus?" Tanyaku.
"Terus pas udah mau sore Wonu anterin kamu pulang deh ke panti. Wonu waktu itu nangis-nangis ke Ayah pas pulangin kamu. Katanya kasihan liat kamu ditinggal disana, katanya takut kamu nangis dipinggir jalan lagi."
Ah. Wonwoo. Wonu.
"Makanya dia janji deh buat asuh kamu. Setahun setelahnya kita tunangan." Aku mencoba meraba ekspresi Ayah setelah kalimat itu, wajahnya senang. "Lalu gak lama Wonu berpulang."
Aku bahkan ragu untuk menunjukkan ekspresi saat ini. Yang jelas aku lagi-lagi merasakan kehadiran pria itu.
"Gitu ya..." Jawabku pelan. Ragu. Bahkan mengeluarkan suara sedikitpun aku seperti merasa bersalah.
"Kamu betah tidur disini?"
Aku mencoba berfikir. Kemarin pun aku bahkan hampir sulit tidur, kalau malam ini aku belum yakin. Mungkin ornamen-ornamen berwarna pink yang menyelimuti kamar akan membantu?
"Kalau mau, nanti Ayah ajak ke rumah ayah sekali. Biar kamu bisa milih lebih nyaman tinggal dimana."
Oh, benar juga. Hari pertama kedatanganku Mbah bilang bahwa Ayah tidur dirumahnya. Berarti rumah ini sepenuhnya milik Mbah, kan?
"Rumah ayah dimana?"
"Deket kok dari sini, masih satu perumahan."
Aku hanya mengangguk pelan dan mulai mengejapkan mata. Kurasakan sentuhan lembut dikepala dan sepertinya kecupan singkat mendarat didahiku.
"Selamat malam, nak."
