Actions

Work Header

Precious Path

Summary:

Sebuah keluarga kecil yang tidak sempurna. Yang pernah patah, yang pernah kehilangan, yang pernah tersesat. Namun pada akhirnya selalu menemukan jalan untuk pulang kepada satu sama lain.

Dan mungkin, itulah bentuk kebahagiaan yang paling sederhana sekaligus paling berharga.

Chapter 1: Kebahagiaan

Chapter Text

Jihoon tidak akan pernah melupakan betapa kencang jantungnya memompa dan air mata yang menumpuk dimatanya langsung mengalir ketika melihat pasangannya—yang sudah mengikrar janji pernikahan dialtar, berjanji akan selalu bersama dalam sehat maupun sakit, yang selalu ia puja kerupawanannya, seseorang yang ia cintai lebih dari siapapun di dunia ini— menggendong anak mereka yang masih merah di dekapannya.

Shinyu masih pucat dan berkeringat banyak, setelah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan buah hati mereka yang sudah ditunggu selama 9 bulan itu. Tetapi, ketika tubuh hangat yang mungil itu sudah ada didekapannya, Shinyu akhirnya bisa bernapas lega, benar-benar lega.

Bahkan ketika anak mereka sudah beralih didekapan Jihoon yang terisak, tidak bisa Shinyu deskripsikan betapa terharu dan bahagia dirinya. Jihoon tak henti-hentinya mengecupi wajah Shinyu yang berkeringat dan terus membisikkan betapa cintanya dirinya kepada Shinyu.

Tangisan anak mereka memenuhi ruang persalinan, begitu kuat hingga terasa seperti mengisi seluruh dunia mereka. Jihoon bahkan tidak sadar kapan lututnya melemas hingga ia terduduk di samping ranjang setelah perawat mengambil alih anaknya. Kedua tangannya gemetar saat menggenggam jemari Shinyu yang masih lemas akibat kelelahan. Air matanya terus jatuh tanpa bisa dihentikan.

"Terima kasih... Terima kasih, sayang..."

Shinyu hanya dapat merespon dengan senyuman lemah. Senyum yang biasanya begitu tenang itu kini terlihat jelas kelelahan. Kelopak matanya berat, tubuhnya masih terasa nyeri dari proses panjang yang baru saja ia lalui. Namun saat melihat Jihoon menangis seperti itu, dada Shinyu terasa hangat.

"Aku yang harusnya bilang terima kasih," bisik Shinyu agak serak.

Jihoon menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak. Aku yang harusnya berterima kasih, kamu yang paling hebat."

Ia kembali mengecup kening Shinyu, lalu pipinya, lalu ujung hidungnya dengan penuh rasa syukur seolah memastikan bahwa laki-laki itu benar-benar ada di hadapannya.

Selama berbulan-bulan Jihoon selalu terlihat tenang. Ia menemani kontrol kehamilan, menyiapkan kamar bayi, membaca buku-buku tentang menjadi orang tua, bahkan selalu tampak lebih siap daripada Shinyu.

Tetapi baru sekarang semua ketakutan yang selama ini ia sembunyikan muncul sekaligus. Ketakutan kehilangan Shinyu, ketakutan sesuatu terjadi saat persalinan, ketakutan bahwa ia tidak akan mampu melindungi keluarga kecil mereka.

Hari ini, ketakutannya telah luluh lantak menghilang melihat keadaan Shinyu dan anaknya.

Alis Shinyu bertaut ketika pekerjaan dokter di bagian bawah tubuhnya pasca melahirkan menyalurkan sengatan nyeri yang membuat napasnya sedikit tertahan. Ia memejamkan mata beberapa detik, berusaha meredakan ketegangan yang menjalar dari pinggang hingga perutnya.

Jihoon yang sedari tadi tidak melepaskan perhatiannya langsung menyadari perubahan ekspresi itu.

"Sakit? Biusnya udah hilang?" tanyanya.

Shinyu membuka mata dan mengangguk samar. Jihoon langsung menggenggam tangannya lebih erat. Tatapannya berubah sendu melihat wajah pucat pasangannya yang masih dibasahi keringat.

"Maaf kamu harus ngelewatin semua ini."

Shinyu sempat terdiam beberapa saat. Lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil.

"Aneh."

"Apa?"

"Aneh karena kamu yang minta maaf."

Jihoon menunduk, matanya kembali memanas. "Aku lihat kamu kesakitan daritadi."

"Tapi semuanya sepadan." Shinyu berucap tanpa melunturkan senyumannya.

Jihoon kembali menatap Shinyu, menatap mata sayu Shinyu yang menggelap di kantungnya. Rambut Shinyu yang terbungkus penutup kepala sama sekali tidak menutupi bagaimana lepeknya surai halus itu. Bahkan rona samar dikedua pipi Shinyu masih bisa Jihoon lihat, tidak mengurangi sama sekali kecantikannya.

"Cukup satu aja ya, sayang. Kayaknya aku nggak sanggup ngelihat kamu kesakitan kayak tadi." 

Shinyu menghela napas. Mungkin karena masih lelah, mungkin juga karena emosi yang masih terlalu penuh setelah semua yang terjadi hari ini, matanya kembali terasa hangat.

"Kamu bilang gitu sekarang, tapi kalau tiga tahun lagi dia mulai minta adik?"

Jihoon langsung menggeleng tanpa berpikir. "Nggak."

Jawabannya terlalu cepat hingga membuat Shinyu terkekeh kecil. Dokter dan beberapa perawat yang masih berada di ruangan itu bahkan ikut tersenyum mendengar respons panik Jihoon.

Jihoon sama sekali tidak peduli. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah bagaimana wajah Shinyu tadi berubah pucat, bagaimana tangannya gemetar saat menggenggam tangannya, bagaimana dirinya merasa tidak berdaya selama berjam-jam menyaksikan orang yang paling dicintainya berjuang.

Ia masih bisa mengingat setiap detiknya dan itu cukup membuat dadanya kembali sesak.

"Aku nggak bercanda," kata Jihoon lebih tegas.

Tangannya terangkat untuk mengusap pelipis Shinyu yang basah oleh keringat. "Kamu tadi hebat banget."

"Tapi aku nggak mau kamu harus ngalamin itu lagi cuma karena aku pengen punya banyak anak."

Tatapan Jihoon begitu tulus hingga membuat dada Shinyu menghangat. Selama kehamilan ini, Jihoon memang selalu memperlakukannya dengan sangat hati-hati. Setiap kali Shinyu mengangkat barang sedikit berat, Jihoon langsung muncul. Setiap kali Shinyu terlambat membalas pesan, Jihoon akan menelepon.

Saat usia kandungan memasuki bulan-bulan akhir, Jihoon bahkan hampir tidak pernah membiarkannya berjalan sendirian. Dan hari ini semua kecemasan itu akhirnya mencapai puncaknya.

"Kamu udah bikin aku bisa dipanggil Ayah, itu udah lebih dari cukup."

 

 


 

 

Tiga hari setelah rawat inap di rumah sakit dan akhirnya diperbolehkan pulang, Jihoon membawa keluarganya dalam mobil dengan perasaan yang berbunga-bunga. Bahkan senyumannya tak luntur sedikit pun sepanjang perjalanan. Digoda oleh Shinyu karena terlalu sering melirik Kyungmin—bayi mereka— tidak menghapus senyum itu dari wajahnya. Beberapa kali Jihoon memastikan Kyungmin masih bernapas dengan normal, membuat Shinyu sampai geleng-geleng kepala karena tingkahnya yang terlalu khawatir.

Hari itu terasa sempurna. Langit cerah, jalanan lenggang, dan Kyungmin tertidur pulas didekapan Shinyu setelah menyusu sebelum mereka meninggalkan rumah sakit. Setelah berbulan-bulan menanti dan melalui hari persalinan yang terasa seperti mimpi panjang, akhirnya mereka pulang sebagai keluarga yang utuh.

Sesampainya di rumah, pintu depan memang sudah terbuka. Ibu Jihoon sudah mengabari sejak pagi bahwa ia akan datang bersama beberapa anggota keluarga untuk menjenguk cucu pertama mereka.

Begitu Jihoon membuka pintu, suara riuh langsung menyambut dari ruang tamu. Ayah Jihoon, saudaranya, serta beberapa kerabat lain yang datang lebih dahulu tampak tidak sabar melihat anggota keluarga terbaru mereka.

Suasana riuh itu membuat hati Shinyu ikut menghangat. Untuk sesaat ia merasa lega. Kyungmin bahkan belum genap seminggu berada di dunia, tetapi sudah begitu banyak orang yang menantikan kehadirannya.

Jihoon membawa bayi digendongannya dengan hati-hati masuk ke ruang tamu seolah sedang membawa benda paling berharga di dunia. Beberapa kerabat langsung mengerubungi mereka ketika selimut yang menutupi Kyungmin disingkap sedikit.

"Ya ampun, ganteng banget."

"Cucu pertama keluarga kita."

"Mirip Jihoon waktu kecil."

Pujian dan kekaguman mengalir tanpa henti. Jihoon terlihat begitu bangga hingga senyumnya nyaris tidak pernah lepas. Shinyu yang duduk di sampingnya hanya memandangi pemandangan itu dengan hati yang penuh.

Lalu ibu Jihoon maju mendekat. Wanita itu memperhatikan wajah Kyungmin selama beberapa saat sebelum tersenyum puas.

"Untung saja anak pertama kalian laki-laki."

Kalimat itu membuat beberapa orang menoleh, tetapi tidak ada yang langsung menanggapi. Ibu Jihoon sendiri tampak sama sekali tidak menyadari perubahan suasana yang terjadi.

"Kalau perempuan, ibu nggak mungkin ada di sini buat nyambut."

Ibu Jihoon mengatakannya dengan nada santai. Seolah itu hanyalah komentar biasa yang tidak akan melukai siapa pun.

Shinyu membeku, lalu senyum tipis yang tadi masih menghiasi wajahnya perlahan memudar. Ia menundukkan pandangan ke arah Kyungmin yang masih tertidur tanpa mengetahui apa pun. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang sulit dijelaskan.

Kalau perempuan?

Tidak akan disambut?

Tidak akan dirayakan seperti ini?

Tidak akan dicintai dengan kebanggaan yang sama?

Pikirannya langsung melayang pada sembilan bulan yang telah ia jalani. Semua rasa mual, ketidaknyamanan, ketakutan, hingga rasa sakit luar biasa saat melahirkan. Tiba-tiba semua itu terasa seperti sedang diukur berdasarkan jenis kelamin anak yang ia lahirkan.

Shinyu berusaha mengabaikannya. Ia bahkan sudah membuka mulut untuk memberikan senyum kecil dan berpura-pura bahwa ucapan itu tidak berarti apa-apa.

Namun sebelum ia sempat melakukannya, suara Jihoon terdengar lebih dulu.

"Bu."

Hanya satu kata tetapi seluruh ruangan langsung terdiam.

Jihoon masih berdiri dengan Kyungmin didekapannya. Senyuman yang sejak tadi tidak pernah lepas dari wajahnya kini menghilang sepenuhnya. Ia menatap ibunya dengan sorot mata yang tenang, tetapi begitu tegas hingga membuat beberapa anggota keluarga lain ikut menahan napas.

"Apa maksud Ibu?"

Ibunya terlihat bingung. "Hah? Nggak ada maksud apa-apa."

"Ada." Jawaban Jihoon datang tanpa ragu. "Mau Kyungmin laki-laki atau perempuan, dia tetap anak kami."

Ibunya terkekeh canggung, berusaha menganggap semuanya sebagai candaan.

"Ibu cuma bercanda."

"Aku nggak lihat bagian lucunya."

Ruangan semakin sunyi. Shinyu menoleh ke arah suaminya. Ia jarang melihat Jihoon seperti ini. Bukan marah meledak-ledak, melainkan kecewa dengan cara yang jauh lebih menakutkan.

"Aku nggak mau anakku tumbuh dengan perasaan kalau nilainya ditentukan dari dia lahir sebagai laki-laki atau perempuan," lanjut Jihoon. "Aku nggak peduli Kyungmin laki-laki atau perempuan."

"Yang aku peduli adalah dia lahir sehat."

Suara Jihoon mulai bergetar ketika melanjutkan kalimat berikutnya. "Dan yang lebih penting, Shinyu selamat."

"Aku lihat sendiri dia kesakitan selama berjam-jam. Aku lihat sendiri dia mempertaruhkan nyawanya buat melahirkan anak kami. Jadi aku nggak mau dengar ada orang yang menganggap semua itu jadi lebih berharga cuma karena anak kami laki-laki."

Wajah ibu Jihoon berubah, kaget mendengar ucapan putranya. Beberapa anggota keluarga lain mulai terlihat tidak nyaman, tetapi tidak ada yang berani menyela.

Jihoon tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. "Kalau kehadiran Ibu di rumah ini memang bergantung pada anakku laki-laki atau perempuan, aku nggak butuh kehadiran Ibu."

Shinyu merasakan tenggorokannya mengencang. Bukan karena sedih, melainkan karena terharu. Karena Jihoon tidak membiarkannya menelan ucapan itu sendirian. Tidak menyuruhnya mengabaikan. Tidak meminta dirinya mengalah demi menjaga suasana.

Jihoon berdiri di depannya. Melindunginya dan melindungi anak mereka.

"Anakku akan dicintai karena dia anak kami," kata Jihoon lebih tegas. "Bukan karena dia laki-laki. Bukan karena dia perempuan."

Ia menunduk menatap Kyungmin yang masih tertidur damai. Seketika ekspresinya melunak. "Dan kalau suatu hari nanti kami punya anak perempuan, aku akan menyambutnya dengan kebahagiaan yang sama."

Lalu ia kembali mengangkat kepalanya menatap ibunya. "Kalau ada orang yang nggak bisa melakukan itu, berarti masalahnya bukan pada anakku."

Tidak ada yang menjawab.

Karena Jihoon sedang menunjukkan kepada semua orang bahwa keluarga kecil yang baru ia bangun bersama Shinyu akan selalu menjadi prioritasnya. Siapapun yang mencoba memberikan syarat untuk menyayangi anak-anaknya, bahkan keluarganya sendiri, tidak akan pernah mendapat tempat lebih tinggi daripada mereka.

 

 


 

 

"Maafin omongan Ibu tadi siang ya, sayang."

Shinyu yang awalnya akan menaiki ranjang setelah memeriksa kondisi Kyungmin di boks bayi di samping tempat tidur mereka, langsung melunakkan bahunya. Hari itu memang melelahkan. Kyungmin sempat agak rewel di tengah keramaian keluarga yang datang silih berganti untuk menjenguk.

Ada yang ingin menggendong, ada yang ingin berfoto, dan ada yang tidak bisa berhenti memuji wajah mungilnya. Namun menjelang malam, rumah akhirnya kembali tenang. Anehnya, Kyungmin yang sejak siang rewel justru tertidur nyenyak sekarang, seolah memahami bahwa kedua orang tuanya membutuhkan waktu untuk beristirahat dan berbicara setelah hari yang panjang.

Shinyu menoleh ke arah Jihoon yang sudah duduk di tepi ranjang. Rambut pria itu masih sedikit basah setelah mandi, sementara wajahnya memperlihatkan kelelahan yang tidak bisa disembunyikan. Meski begitu, tatapannya tetap tertuju pada Shinyu dengan rasa bersalah yang begitu jelas terlihat.

"Kenapa kamu yang minta maaf?" tanya Shinyu setelah duduk di sampingnya.

Jihoon menundukkan kepala sejenak. Jemarinya saling bertaut sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang. "Karena itu Ibu aku."

"Aku tahu Ibu sering ngomong tanpa mikir panjang," lanjut Jihoon lirih. "Tapi aku tetap merasa bersalah. Hari pertama kamu pulang ke rumah harusnya jadi hari yang bahagia. Hari pertama Kyungmin dikenalin ke keluarga juga harusnya jadi kenangan yang baik. Tapi malah jadi kayak gitu."

Shinyu memandangi wajah suaminya beberapa saat. Kemudian ia menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat dan menyandarkan kepala ke bahu Jihoon.

"Tau nggak?" bisiknya.

"Hm?"

"Aku sebenarnya lebih kaget sama reaksi kamu."

Jihoon menoleh. "Maksudnya?"

"Aku kira kamu bakal diam."

Alis Jihoon langsung berkerut. Seolah tidak mengerti bagaimana Shinyu bisa berpikir demikian. "Kenapa aku harus diam?"

Shinyu mengangkat bahu, "mungkin karena itu Ibu kamu."

Jihoon langsung menggeleng tanpa ragu. Ia meraih tangan Shinyu dan menggenggamnya erat.

"Justru karena itu Ibu aku."

"Kalau orang lain yang ngomong begitu, aku bisa langsung suruh mereka pergi. Tapi karena itu keluarga aku, aku yang harus ngomong. Aku nggak mau kamu atau Kyungmin merasa nggak dibela."

Dada Shinyu menghangat mendengar itu. Ia tahu tidak mudah menegur orang tua sendiri, apalagi di depan keluarga besar. Banyak orang memilih diam demi menjaga suasana atau menghindari konflik. Namun Jihoon tidak melakukan itu. Ia berdiri di depan Shinyu dan Kyungmin tanpa ragu sedikit pun.

"Aku nggak marah sama ibu kamu," kata Shinyu menimpali.

Jihoon mengangguk, tetapi ekspresi bersalahnya belum sepenuhnya hilang. Shinyu menatap ke arah boks bayi di samping mereka. Kyungmin masih tertidur pulas.

"Tadi aku sempat mikir," aku Shinyu setelah beberapa saat.

Jihoon langsung memperhatikannya. "Mikir apa?"

"Kalau misalnya Kyungmin lahir sebagai anak perempuan..."

Shinyu menelan ludah sebelum melanjutkan. "Apa dia tetap akan disambut seperti tadi?"

Jihoon tidak langsung menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Shinyu lebih erat. "Laki-laki atau perempuan, aku bakal nangis sama kerasnya waktu dia lahir."

Sudut bibir Shinyu terangkat sedikit.

"Aku serius."

"Aku juga serius." 

Jihoon menoleh hingga tatapan mereka bertemu. "Kalau yang keluar dari ruang persalinan hari itu anak perempuan, aku tetap jadi orang paling bahagia di dunia. Karena yang aku tunggu bukan anak laki-laki atau anak perempuan."

Tangannya terangkat mengusap pelan pipi Shinyu.

"Aku nunggu anak kita."

Kalimat sederhana itu membuat mata Shinyu kembali terasa hangat. Jihoon tersenyum sebelum melanjutkan dengan suara yang jauh lebih lembut.

"Dan terus terang, waktu hari persalinan itu... aku bahkan lebih takut kehilangan kamu daripada takut tentang apa pun yang terjadi sama bayinya."

"Waktu dokter bilang prosesnya bakal lama, aku terus-terusan berdoa satu hal."

"Apa?"

"Tolong pulangin mereka berdua ke aku."

Shinyu perlahan menyandarkan dahinya ke bahu Jihoon. Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan. Setelah hari yang panjang, setelah rasa sakit, ketakutan, kebahagiaan, dan kekecewaan yang datang bersamaan, mereka akhirnya berada di tempat yang paling mereka rindukan.

"Aku beruntung punya kamu, Jihoon."

"Aku yang lebih beruntung," sanggah Jihoon kemudian mengecup pucuk kepala Shinyu.

Malam semakin larut ketika percakapan mereka perlahan mereda. Kyungmin masih tertidur pulas di dalam boks bayi, sesekali mengeluarkan suara kecil yang membuat kedua orang tuanya reflek menoleh untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Setelah memastikan putra mereka benar-benar nyaman, Jihoon mengajak Shinyu untuk beristirahat.

Seperti beberapa hari sebelumnya, Jihoon membantu memeriksa kondisi luka jahitan Shinyu dengan sangat hati-hati. Ia sudah mempelajari semua instruksi yang diberikan perawat sebelum mereka pulang dari rumah sakit, bahkan menghafalnya lebih baik daripada Shinyu sendiri. Setiap gerakannya dilakukan dengan penuh perhatian, seolah takut menimbulkan rasa sakit sekecil apa pun pada pasangannya.

"Kamu nggak capek?" tanya Shinyu yang memperhatikan keseriusan Jihoon.

Jihoon menggeleng tanpa mengalihkan fokusnya. "Capeknya hilang kalau liat kamu."

Beberapa hari terakhir, Jihoon memang memperlakukannya seperti porselen yang mudah pecah. Setiap kali Shinyu berdiri, Jihoon akan langsung mendekat. Setiap kali ia mengangkat sesuatu, meskipun ringan, Jihoon akan mengambil alih. Bahkan kini berjalan dari kamar menuju dapur saja sering kali diikuti tatapan khawatir dari suaminya.

Setelah semuanya selesai dan Shinyu berganti pakaian yang lebih nyaman, Jihoon kembali ke tempat tidur. Ia duduk di samping Shinyu dan tanpa banyak bicara merapikan beberapa helai rambut yang jatuh ke dahi pasangannya.

Tatapan mereka bertemu. Lalu seperti kebiasaan yang sudah berlangsung bertahun-tahun, Jihoon membungkuk dan mengecup belah bibir Shinyu dengan lembut. Melumat bibir atas dan bawah secara bergantian, memberikan gigitan kecil yang membuat keduanya tak dapat menahan senyum.

Kemudian satu kecupan lagi di keningnya.

Kemudian pipinya.

Lalu ujung hidungnya.

Gestur sederhana yang selalu berhasil membuat hati Shinyu tenang.

"Aku kelihatan jelek ya habis dari rumah sakit?" gumam Shinyu sambil terkekeh geli merasakan usakan surai Jihoon yang mengenai wajahnya.

Jihoon justru mengernyit. "Siapa yang bilang?"

"Aku sendiri."

"Berarti penilaianmu salah."

Shinyu tertawa mendengar keseriusan Jihoon.

Bagi Jihoon, bahkan dalam kondisi paling lelah sekalipun, Shinyu tetaplah orang yang sama yang membuatnya telah jatuh cinta bertahun-tahun, bahkan semakin dalam tiap harinya. Wajah pucat atau rambut yang belum sempat dirapikan tidak pernah mengurangi apa pun di matanya.

Melihat Shinyu masih tampak tegang, Jihoon kemudian menggeser duduknya dan menepuk pahanya sendiri.

"Sini."

Shinyu langsung mengerti. Dengan hati-hati ia merebahkan diri dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Jihoon.

Jemari Jihoon mulai memijat pelan bahu Shinyu yang terasa kaku setelah berhari-hari menggendong, menyusui, dan kurang tidur. Tekanannya tidak terlalu kuat, hanya cukup untuk membantu otot-otot yang tegang menjadi lebih rileks.

Mata Shinyu perlahan mulai terasa berat. Ia bisa merasakan jemari Jihoon menyisir rambutnya sesekali, lalu kembali memijat bahunya.

"Enak?" bisik Jihoon bertanya.

"Hm."

"Cuma hm?"

"Kalau aku ngomong banyak nanti malah nggak tidur."

"Ya udah, tidur aja."

Shinyu mengangguk samar. Tubuhnya yang sejak persalinan terasa lelah perlahan menjadi semakin ringan. Kehangatan tangan Jihoon, suara napas suaminya, dan ketenangan rumah yang akhirnya kembali sunyi membuat kantuk datang lebih cepat dari yang ia duga.

Sebelum benar-benar terlelap, ia sempat merasakan Jihoon membungkuk sekali lagi untuk mengecup puncak kepalanya.

Ketika napas Shinyu akhirnya berubah teratur, Jihoon menghentikan pijatannya. Ia tetap duduk di sana beberapa saat, memandangi wajah pasangannya yang tertidur pulas. Kemudian ia menoleh ke arah boks bayi, memastikan Kyungmin masih tidur dengan nyaman.

Melihat kedua orang yang paling dicintainya terlelap dengan tenang di bawah atap yang sama, Jihoon merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Kelelahan yang luar biasa.

Tetapi juga kebahagiaan yang jauh lebih besar daripada itu, karena keluarganya akhirnya lengkap.

 

tbc.