Chapter Text
Suara ketikan keyboard di divisi kreatif mendadak senyap begitu langkah kaki Mas Wonwoo terdengar mendekat. Mas Wonwoo, senior paling kalem se-kantor yang auranya mirip pangeran es di komik-komik, berjalan santai sambil membawa secangkir kopi hitam. Targetnya hari ini: mengecek hasil kerjaan anak magang/junior kesayangan semua orang, Kim Mingyu.
Dari kubikel pojok kanan, Seokmin sudah memasang radar kepo. Sementara Minghao, yang posisinya persis di seberang Mingyu, langsung menurunkan layar monitornya sedikit demi sedikit demi bisa menonton drama live gratisan.
"Mingyu, boleh lihat revisi proposal yang kemarin?" tanya Mas Wonwoo, suaranya yang nge-bass adem terdengar jelas di tengah sunyinya ruangan.
Mingyu yang tadinya lagi asyik nyemil dada ayam itu langsung tersedak. Dalam waktu satu detik, postur tubuh Mingyu yang tadinya bersandar malas langsung tegak lurus 90 derajat. Saking tegangnya, dia malah terlihat seperti robot protokol yang kehabisan baterai.
"B-bisa, Mas. Ini Mas, silakan," jawab Mingyu, suaranya naik dua oktaf.
Mas Wonwoo menarik kursi roda di sebelah Mingyu, lalu duduk agak mepet karena harus membaca layar monitor yang kecil. Di sinilah petaka dimulai bagi kesehatan jantung Mingyu. Wangi parfum perpaduan matcha dan wood milik Mas Wonwoo langsung menginvasi seluruh indra penciuman Mingyu.
"Ini bagian anggarannya sudah bagus," kata Mas Wonwoo sambil menunjuk layar. Karena jarak mereka dekat, helai rambut Mas Wonwoo hampir saja menyentuh bahu lebar Mingyu. "Tapi yang bagian lini masa coba digeser sedikit... eh, Mingyu? Lo dengerin gue, kan?" Mas Wonwoo menoleh. Jarak wajah mereka tinggal sejengkal.
Mingyu membeku.
Otaknya blank.
Dia cuma bisa melihat bibir Mas Wonwoo yang bergerak tanpa bisa mencerna satu kata pun. Matanya melotot, nafasnya ditahan, dan tangannya yang memegang mouse gemetaran hebat sampai kursor di layar komputer bergerak naik-turun tak beraturan kayak grafik rupiah yang lagi anjlok. Dari kejauhan, Seokmin mati-matian menggigit bantal lehernya supaya tidak tertawa kencang melihat muka Mingyu yang sudah merah padam mirip kepiting rebus. Sementara Minghao dengan kejamnya mengambil HP, lalu memotret tangan Mingyu yang gemetaran dari balik pembatas kubikel.
"Mingyu? Kok lo keringetan gini? AC-nya kurang dingin ya?" Mas Wonwoo mengerutkan kening heran, lalu menepuk bahu Mingyu pelan. "Ya udah, lanjutin dulu ya. Nanti kalau udah, taruh di meja gue."
Begitu Mas Wonwoo berdiri dan berjalan menjauh, Mingyu langsung merosot dari kursinya, megap-megap nyari oksigen kayak ikan maskoki keluar dari akuarium.
Satu detik kemudian...
BZZZ! BZZZ!
HP di kantong celana Mingyu bergetar brutal.
Grup chat "ELIT" (ide Seokmin yang artinya Ekonomi suLIT) meledak.
- - - - - • 💸👨💻💻 • - - - - -
Seokmin: Guys, ada yang sadar nggak sih akhir-akhir ini Mingyu rajin banget nanya kerjaan ke Mas Wonwoo
Minghao: Padahal udah dijelasin di SOP, di catatan, di email, di grup, bahkan di mimpi
Mingyu: ya gue cuma mau mastiin aja???
Seokmin: Mastiin kerjaan atau mastiin Mas Wonwoo masih single?
Minghao: Nih ya Gyu masalahnya tiap Mas Wonwoo ngajarin, lu langsung buka notes. Bukan buat nyatet kerjaan, tapi buat nyatet hobi, makanan favorit, dan golongan darah
Mingyu: FITNAHHHHHH
Seokmin: Kemarin Mas Wonwoo bilang "kalau ada yang bingung, tanya aja ya"
Mingyu: Iya terus?
Minghao: Sejak saat itu lo bingung terus setiap hari😭
Mingyu keluar dari grup.
- - - - - • 💸👨💻💻 • - - - - -
.
.
.
Efek Mingyu yang bersebelahan jarak duduknya sama Mas Wonwoo kemarin ternyata punya khasiat yang lebih dahsyat daripada minum suplemen tiga botol sekaligus. Sejak jam delapan pagi, Kim Mingyu sudah stand-by di kubikelnya dengan kemeja yang disetrika super rapi, rambut klimis, dan senyum lebar yang mengerikan sampai-sampai Seokmin yang baru datang langsung istighfar karena mengira Mingyu kerasukan jin penunggu pantry. Mingyu mendadak menjelma jadi karyawan teladan; dia mengetik laporan dengan kecepatan penuh sampai suara keyboard-nya terdengar seperti senapan mesin, bahkan air galon di divisi mereka yang biasanya kosong berhari-hari langsung diganti oleh Mingyu sendirian sambil bersenandung lagu cinta popdut yang lagi trend. Minghao yang baru duduk sambil minum kopi cuma bisa menggelengkan kepala, tahu betul kalau motivasi mendadak sahabatnya ini seratus persen bersumber dari ruangan senior mereka di ujung lorong.
Semangat membara Mingyu makin menjadi-jadi saat melihat Mas Wonwoo keluar dari ruangannya membawa tumpukan dokumen tebal yang kelihatan berat. Jiwa pahlawan kesiangan Mingyu langsung berontak, membuat badannya otomatis berdiri dan setengah berlari menghampiri sang senior demi mencuri perhatian. Dengan senyum paling menawan yang dia punya, Mingyu langsung menyambar tumpukan dokumen itu dari tangan Mas Wonwoo sambil berkata dengan nada yang dibuat se-gentleman mungkin,
"Biar saya yang bawa ke ruang arsip, Mas. Mas Wonwoo istirahat aja!" Namun, saking semangatnya pamer kekuatan di depan gebetan, Mingyu tidak memperhatikan langkah kakinya sendiri. Sepatunya yang licin mendadak menginjak kabel rol yang melintang di dekat meja Seokmin. Dalam waktu kurang dari satu detik, Mingyu kehilangan keseimbangan, tubuh besarnya limbung ke depan, dan dengan suksesnya dia meluncur bebas lalu ndelosor di lantai koridor kantor dengan posisi tiarap persis seperti cicak jatuh dari plafon. Parahnya lagi, tumpukan dokumen di tangannya langsung terbang ke udara dan terhambur dengan estetik menutupi seluruh tubuh Mingyu yang sudah pasrah telentang di lantai. Suasana kantor langsung hening seketika, disusul suara Seokmin yang tersedak ludahnya sendiri dan Minghao yang buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat agar tawanya tidak meledak di depan umum. Mas Wonwoo langsung melotot kaget, buru-buru berjongkok di samping Mingyu yang pura-pura pingsan saking menanggung malu yang tak tertahankan.
Mas Wonwoo dengan panik menyingkirkan kertas-kertas dari muka Mingyu sambil menepuk-nepuk pipinya, bertanya dengan nada super khawatir,
"Mingyu! Lo nggak apa-apa? Ada yang patah nggak?!"
Sementara di bawah tumpukan kertas, Mingyu sebenarnya sedang merutuki nasibnya dan berdoa dalam hati agar bumi mendadak belah dua dan menelan dirinya hidup-hidup detik itu juga, meskipun di sisi lain hatinya agak kegirangan karena wajah Mas Wonwoo sekarang jaraknya dekat banget dan tangan halusnya lagi megang pipi dia.
.
.
.
Belum sempat rasa malu akibat insiden meluncur gaya cicak itu hilang, Mingyu yang sudah berhasil dibangunkan oleh Mas Wonwoo dengan muka merah padam langsung mengajukan diri (lagi) untuk merapikan dan mengeprint ulang dokumen-dokumen yang sempat lecek dan kotor akibat lantai kantor. Mas Wonwoo yang merasa kasihan sekaligus khawatir akhirnya mengizinkan, sambil berpesan agar Mingyu pelan-pelan saja. Bukannya kapok, Mingyu yang terlanjur kepalang tanggung ingin terlihat serba bisa di depan sang senior malah kembali menyalakan mode "karyawan teladan kesetanan". Dia menyalin dokumen dengan kecepatan penuh dan langsung mengirim perintah cetak sebanyak lima puluh rangkap ke mesin printer andalan divisi mereka. Sambil menunggu kertas-kertas itu keluar, Mingyu berdiri tegap di depan mesin printer dengan gaya sok keren, sebelah tangannya bersandar di atas mesin, matanya sesekali melirik ke arah Mas Wonwoo yang sedang memperhatikannya dari kejauhan. Mingyu melempar senyum penuh percaya diri, seolah ingin membuktikan kalau insiden jatuh tadi cuma slip kecil seorang profesional.
Namun, mesin printer tua itu tampaknya tidak sanggup menerima beban kerja dan pesona Mingyu yang terlalu meluap-luap. Di lembar ke-15, mesin itu mendadak mengeluarkan suara berdecit yang sangat nyaring, diikuti bunyi klotak-klotak dari bagian dalam. Lampu indikatornya berkedip merah brutal, dan kertas-kertas di dalamnya langsung tersangkut alias paper jam. Panik karena Mas Wonwoo mulai berjalan mendekat untuk mengecek, Mingyu buru-buru menekan tombol apa saja secara acak. Bukannya bener, mesin printer itu malah mendadak batuk-batuk, mengeluarkan bunyi BZZZZT yang keras, dan sejurus kemudian langsung menyemburkan sisa serbuk toner hitam pekat dari lubang ventilasinya tepat ke arah wajah Mingyu.
PFFFUTTT!
Dalam sekejap mata, Mingyu membeku di tempat dengan posisi tangan yang masih bersandar sok keren, tapi seluruh wajah, kemeja putih rapi, dan rambut klimisnya sudah tertutup abu hitam pekat, menyisakan dua bola matanya saja yang berkedip-kedip polos. Suasana divisi yang tadinya tegang langsung pecah. Seokmin yang sudah tidak kuat menahan tawa akhirnya tumbang, berguling-guling di lantai sambil memegangi perutnya yang kram, sementara Minghao sibuk memukul-mukul meja kerja sambil tertawa tanpa suara sampai air matanya keluar.
Mas Wonwoo yang berada paling dekat langsung menghentikan langkahnya, menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya melotot antara pengen ketawa tapi juga kasihan setengah mati melihat juniornya yang sekarang sudah mirip karakter kartun yang habis kena ledakan bom. Dengan langkah gemetar menahan tawa yang sudah di ujung tanduk, Mas Wonwoo menyodorkan selembar tisu basah ke arah Mingyu sambil berkata lirih,
"Mingyu... lo mending ke toilet sekarang deh, sebelum tonernya masuk ke mata."
Mingyu cuma bisa mengangguk pasrah dengan sisa-sisa harga diri yang sudah minus, berjalan kaku menuju toilet sambil bersumpah dalam hati tidak akan menyentuh mesin printer itu lagi seumur hidup.
- - - - - • 💸👨💻💻 • - - - - -
● ELIT ●
Mingyu bergabung dengan grup.
Seokmin: Guys, ada yang tau kenapa Mingyu akhir-akhir ini semangat kerja?
Minghao: Karena ada Mas Wonwoo
Mingyu: tolong professional.
Seokmin: Professional apanya, kemarin Mas Wonwoo cuma bilang "pagi" terus mood lu bagus seharian
Minghao: Bahkan printer error aja lu senyumin
Mingyu: itu kebetulan
Seokmin: Kebetulan juga tiap Mas Wonwoo lewat lu langsung pura-pura sibuk
Minghao: Yg lucu tuh pas si mas ngajarin Mingyu
Seokmin: Oh iya. Pertanyaan yang harusnya selesai 2 menit jadi 20 menit
Minghao: Karna Mingyu selalu punya pertanyaan lanjutan
Mingyu: GUYS?? GAUSAH LEBAY??
Mingyu: namanya juga belajar
Seokmin: Belajar kerja apa belajar deketin senior? 😭
Minghao: Q3 target divisi: selesai.
Minghao: Q4 target Mingyu: nikah sama Mas Wonwoo.
Mingyu: SETOP STOP SAYA PUSING!!!
Seokmin: Si bego saltingnya jelek banget🤣🤣🤣
- - - - - • 💸👨💻💻 • - - - - -
.
.
.
Sementara di sudut lain kantor, tepatnya di ruangan divisi finansial yang letaknya agak terpisah, sirkel pertemanan Mas Wonwoo juga sedang mengalami kegempaan skala lokal setelah menyaksikan drama Mingyu si "cicak printer" dari balik kaca transparan. Begitu jam istirahat makan siang tiba, Wonwoo langsung diculik oleh tiga sahabatnya ke dalam pantry belakang agar bisa diinterogasi secara privat. Hoshi, yang sejak tadi pagi sudah gatal ingin menggoda, langsung melompat heboh begitu Wonwoo baru saja mendudukkan pantatnya di kursi plastik pantry. Dengan mata yang berbinar-binar jahil, Hoshi menyenggol lengan Wonwoo berkali-kali sambil menaik-turunkan alisnya,
"Ciyeeeeh! Uhuy, ada yang lagi dideketin brondong! Won, jujur deh, wangi parfum si Mingyu tadi nempel nggak di baju lo? Gila ya, itu anak kalau caper totalitas banget, ampe rela mukanya jadi item legam macem pantat panci buat narik perhatian lo!"
"Hoshi, berisik, kecilin suara lo," tegur Woozi, pacar Hoshi yang duduk di sebelahnya sambil menyilangkan dada.
Berbeda dengan Hoshi yang menganggap ini komedi romantis, Woozi memasang wajah serius andalannya. Dia menatap Wonwoo dengan pandangan menganalisis, memastikan sahabatnya itu tidak tertekan.
"Tapi serius, Won. Lo gapapa dideketin brondong kayak dia? Maksud gue, anak kayak Mingyu itu kan tipenya heboh banget, kontra banget sama lo yang kalem. Lo ngerasa keganggu nggak? Kalau lo risih, bilang ke gue, biar gue yang tegur dia pas minta anggaran divisi."
Jun, yang dari tadi sibuk mengunyah keripik singkong sisa Mingyu di meja pantry, tiba-tiba menyahut dengan wajah tanpa dosa dan suara asal bunyi khasnya, "Tapi kalau dipikir-pikir, Mingyu tadi pas mukanya item semua mirip karakter sate lilit berjalan ya? Lagian Won, kalau lo jadian sama dia, minimal lo nggak usah sewa ojek online lagi. Badan dia gede gitu, bisa sekalian jadi tameng angin di motor."
"Jun bangsat, kagak nyambung!" sahut Hoshi sambil melempar tisu bekas ke arah Jun, yang dibalas Jun dengan cengiran lebar.
Wonwoo sendiri cuma bisa menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang mendadak pening. Dia meletakkan cangkir kopinya, lalu bersandar lemas di kursi. Tatapannya kosong menatap meja pantry, mencerna semua kejadian hari ini.
"Gue... gak risih," aku Wonwoo pelan, membuat ketiga temannya langsung diam menyimak. "Gue cuma bingung. Dan jujur, nggak yakin."
"Nggak yakin kenapa?" tanya Woozi, nadanya melunak.
"Ya kalian lihat sendiri lah... Kim Mingyu itu gimana," kata Wonwoo sambil memperbaiki posisi kacamata setianya. "Dia itu ganteng banget, ramah ke semua orang, dan jujur aja, fansnya di kantor ini dari divisi seberang sampai divisi legal tuh banyak banget. Tiap hari ada aja yang naruh kopi atau camilan di mejanya. Gue ngerasa... apa iya anak seganteng dan sepopuler dia beneran naksir gue? Paling juga cuma bercanda, atau cuma ramah aja sebagai junior ke seniornya?"
Hoshi langsung menepuk jidatnya sendiri mendengar jawaban Wonwoo, "Ya ampun Mas Wonwoo sayang, mana ada orang ramah sampai rela mukanya meledak kena toner printer?! Itu namanya cinta mati, Won!"
Sementara Woozi cuma mengangguk-angguk paham, mengerti ketakutan Wonwoo yang cenderung realistis dan tidak mau buru-buru terbawa perasaan karena pesona fisik semata.
Dan Jun? Dia cuma manggut-manggut sambil menyahut asbun lagi, "Ya kalau lo ragu dia beneran tulus atau nggak, besok lo suruh dia benerin mesin fotokopi aja. Kalau meledak lagi dan dia tetep senyum ke lo, fix dia jodoh lo, Won."
.
.
.
Melihat reaksi teman-temannya yang masih sibuk berdebat, antara Hoshi yang heboh menyuruhnya membuka hati, Woozi yang menasihatinya untuk tetap rasional, dan Jun yang sibuk dengan teorinya sendiri; Wonwoo memilih untuk menarik diri secara mental dari hiruk-pikuk pantry. Dia hanya tersenyum tipis, membiarkan obrolan itu mengalir di sekitarnya sementara fokusnya perlahan melayang kembali pada rentetan kejadian beberapa jam lalu.
Jujur, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada riak kecil yang tidak bisa dia sangkal.
Wonwoo selama ini selalu menyukai ketenangan. Dia adalah tipe orang yang memetakan segala hal dalam hidupnya dengan rapi, terstruktur, dan dapat diprediksi. Namun, kehadiran Kim Mingyu seperti sebuah anomali besar yang merantak masuk dan mengacak-acak ritme hidupnya yang damai. Mingyu itu terlalu berisik, terlalu mencolok, dan terlalu……. bersinar. Setiap kali junior bertubuh bongsor itu berada di sekitarnya, atmosfer di sekeliling Wonwoo mendadak berubah menjadi penuh energi, sesuatu yang sebenarnya asing tapi anehnya mulai terasa hangat.
Saat insiden di koridor tadi, ketika Wonwoo berjongkok dan menyingkirkan kertas-kertas yang menutupi wajah Mingyu, ada satu detik di mana mata mereka bertemu. Wonwoo bisa melihat dengan jelas binar panik, malu, sekaligus ketulusan yang murni di bola mata cokelat milik Mingyu. Ditambah lagi dengan insiden printer yang mengubah wajah tampan itu menjadi hitam legam; alih-alih merasa ilfil, Wonwoo justru merasakan dadanya bergemuruh aneh. Ada rasa gemas, kasihan, dan letupan kecil yang tak familiar di hatinya melihat bagaimana kerasnya usaha pemuda itu hanya untuk tidak terlihat payah di matanya. Akan tetapi, ketakutan Wonwoo jauh lebih besar daripada letupan-letupan kecil itu.
Sebagai orang yang cenderung skeptis dan selalu berpikir realistis, Wonwoo sadar betul siapa Kim Mingyu di kantor ini. Mingyu adalah magnet sosial. Dengan paras yang rupawan, proporsi tubuh bak model, dan kepribadiannya yang seperti anak anjing besar yang menggemaskan, sangat mudah bagi siapa saja untuk jatuh cinta pada pemuda itu. Wonwoo sering melihat bagaimana para staf dari divisi lain sengaja berlama-lama di meja Mingyu hanya untuk mengobrol, atau bagaimana kotak-kotak bekal misterius kerap mendarat di kubikel juniornya itu. Hal itulah yang membuat Wonwoo menarik rem perilakunya dalam-dalam. Dia takut jika semua perhatian, sikap salah tingkah, dan kehebohan Mingyu selama ini hanyalah bagian dari sifat dasar Mingyu yang memang ramah dan suka menyenangkan semua orang. Wonwoo terlalu takut untuk menjadi terlalu percaya diri, lalu berakhir kecewa karena telah salah mengartikan kebaikan seorang junior. Dia tidak mau kehilangan ketenangan yang selama ini mati-matian dia jaga hanya karena terbawa perasaan oleh pesona sesaat seorang pemuda populer. Wonwoo menghela nafas pelan, menatap sisa kopi di cangkirnya yang mulai mendingin. Buru-buru dia menepis segala pikiran aneh yang sempat mampir di kepalanya.
Tidak, ini masih terlalu awal, dan dia tidak boleh se-naif itu.
Lagipula, apa yang terjadi hari ini hanyalah rentetan aksi konyol seorang junior yang kebetulan memang ceroboh dan hiperaktif, bukan sebuah plot drama romantis yang harus dia pikirkan sampai segitunya. Menyadari dirinya mulai berpikir terlalu jauh, Wonwoo langsung menarik kembali logikanya ke dunia nyata. Dia bertekad untuk melupakan semua kegemasan tidak penting itu dan mengunci rapat-rapat benteng pertahanannya.
Baginya, Kim Mingyu tetaplah seorang junior divisi kreatif yang perlu banyak dibimbing, tidak lebih dan tidak kurang. Setelah menghabiskan kopinya dalam satu tegukan, Wonwoo berdiri dan merapikan kemejanya, siap kembali ke kubikelnya sendiri dengan kepala dingin, sepenuhnya mengabaikan desiran aneh di dadanya demi menjaga professionalitas kerja yang tenang.
📱 [ Awas Tipes ] ───────────────────
Hoshi: WOI WOI WOI 😭 Mingyu tadi nyariin Wonwoo lagi njir
Wonwoo: Dia nanya kerjaan.
Hoshi: iya, kerjaan.
Hoshi: kerjaan nomor 1: cari alasan ngobrol sama Wonwoo
Jun: gue udah bilang dari awal dia naksir
Wonwoo: Dari mana kesimpulannya?
Jun: feeling.
Woozi: itu bukan bukti
Jun: tapi feeling gue jarang salah
Woozi: minggu lalu lu bilang mesin kopi kantor berhantu
Jun: DAN SAMPAI SEKARANG BELUM ADA YANG BISA BUKTIN KALO ENGGA.
Hoshi: fokus dong!!!
Hoshi: menurut gue Mingyu jelas banget naksir
Wonwoo: Nggak mungkin.
Hoshi: kenapa nggak mungkin?
Wonwoo: Ya kayak yg gue bilang tadi?
Wonwoo: Dia ganteng.
Jun: ...
Hoshi: ...
Woozi: Jeon Wonwoo. itu bukan alesan
Wonwoo: Ya bener kan? Dia ganteng, tinggi, ramah, temennya banyak. Banyak yang deketin juga.
Hoshi: jadi?
Wonwoo: Jadi kenapa dia harus suka gue?
Jun: nah tuh… dia udah mulai
Wonwoo: Mulai apa?
Hoshi: mulai fase "dia terlalu bagus buat gue." ))):
Woozi: pertanyaan yang lebih penting, apa Mingyu memang sering nyari Wonwoo?
Wonwoo: Ya... lumayan.
Hoshi: "Lumayan" dalam bahasa Jeon Wonwoo tuh berapa kali?
Wonwoo: Gimana ya nyong, masih sebatas kerjaan antara junior ke senior aja? Nothing special.
Jun: sebutin!!!
Wonwoo: Kemarin tiga kali.
Hoshi: TIGA KALI??? 😭
Woozi: dalam satu hari?
Wonwoo: Iya.
Jun: ANDDDD yg pertama?????
Wonwoo: Tanya kerjaan.
Woozi: masuk akal
Jun: yGGGG kedua?
Wonwoo: Tanya kerjaan yang sama.
Hoshi: WKWKWKWK
Jun: yg ketiga?
Jun: (((masih antusias menyimak gue)))
Wonwoo: Ngembaliin pulpen.
Hoshi: OOOOHHH. udah kena pelet lo won
Wonwoo: Itu pulpen gue.
Hoshi: PULPEN BISA DITARO DI MEJA
Jun: bener. minyu sengaja nyari alasan tuh
Woozi: M-I-N-G-Y-U ya junhui.
Woozi: belum tentu juga loh guys “naksir”
Hoshi: ayangggg, sebagai orang yang dulu ngejar lu, gue udah samngad ahli di bidang ini
Woozi: ...
Jun: Hoshi ada benernya, gue s7
Hoshi: TERIMA KASIH.
Wonwoo: Kalian kebanyakan nonton drama
Jun: oke kalau gitu gini
Hoshi: tes sederhana
Jun: Besok jangan samperin duluan perkara MASTIIN KERJAAN DIA UDAH BENER ATO BELOM
Hoshi: jangan bantu duluan
Jun: liat berapa lama ampe Mingyu muncul
Wonwoo: Kalian aneh.
Woozi: tapi gapapa won? gak ada salahnya
Woozi: dan gue juga penasaran
Wonwoo: No. Kok lo jadi ikutan??
Woozi: kalau dia muncul dalam waktu kurang dari satu jam, Hoshi bakal ngomong "gue bilang juga apa" selama tiga bulan.
Hoshi: BENAR SEKALI YANGBEB 😌❤️✨
Woozi: tapi serius, Won.
Hoshi: wah mode bijak keluar.
Jun: diam semuanya, guru kehidupan mau bicara
Woozi: kalau emang si mingyu cuma nganggep lo senior yang baik, ya nggak ada ruginya
Woozi: tapi kalau ternyata dia memang tertarik sama lo, jangan langsung nolak kemungkinan itu cuma karena menurut lo dia "too good to be true"
Wonwoo: ...
Woozi: kadang suka seseorang bukan karena logis
Woozi: bukan karena paling ganteng, paling populer, atau paling banyak yang ngejar
Woozi: kadang ya karena nyaman aja
Hoshi: AWWWW YANGBEB KU 😭
Woozi: dan kalau dia emang suka sama lo, itu urusan dia
Woozi: akan jadi urusan lo, kalau lo mulai nyaman sama segala tingkah dia disekitar lo, Won.
Wonwoo: Damn, Ji. Sejak kapan lo jadi bijak perkara cinta?
Woozi: sejak pacaran sama orang yang nggak bisa diem lima menit.
Hoshi: 😭😭😭
Wonwoo: Yaudah mungkin lo ada benernya.
Wonwoo: Thanks ya Ji sarannya.
Wonwoo: Akan gue inget-inget.
Hoshi: WOOOHH ADA BENARNYA KATANYAAAA
Woozi: yg penting jangan kebanyakan asumsi ya, Won
Woozi: masih awal juga
Wonwoo: Oke.
Jun: gue juga mau kasih nasihat
Woozi: …
Hoshi: jangan
Wonwoo: …
Jun: kalau Mingyu nanti ngajak makan siang—
Hoshi: ???
Jun: terima aja
Wonwoo: ...
Jun: kalau ngajak ngopi, terima aja
Jun: kalau ngajak pulang bareng, terima aja
Jun: kalau ngajak nikah—
Woozi: sayang tolong kick junhui demi aku.
Hoshi: WKWKWKWK 😭
Jun: gue cuma baca masa depan
Wonwoo: Masa depan dari mana?
Jun: Feeling.
Woozi: Feeling yang sama kayak mesin kopi berhantu?
Jun: Justru karena gue bisa lihat yang tak terlihat. ✨
📱 [ ] ───────────────────
