Work Text:
Ruang rapat di gedung agensi NEST teramat dingin bagi Junghwan. Dengung halus dari air conditioner yang tersembunyi dibalik pelapis langit-langit jadi satu-satunya sumber suara di sana, membuat ruangan yang terang benderang dan diramaikan oleh lebih dari sepuluh orang terasa begitu mencekam untuknya. Dari kilapnya permukaan meja kaca, raut wajah Junghwan memantul samar, distorsi yang menampilkan ekspresi tegang di balik tumpukan naskah. Punggungnya tegak dan kaku di atas kursi kulit ergonomis yang seharusnya jadi dudukan nyaman. Jari-jemari kurus panjangnya sibuk ciptakan lecek pada ujung kertas akibat terus-terusan diremas. Ujung sepatunya sesekali beradu dengan kaki meja, menandakan betapa gugup dirinya pada siang hari ini.
Shin Junghwan bukan aktor pendatang baru. Ia telah cukup banyak terlibat proyek sebagai pemeran pendukung dan second lead, bahkan pernah satu kali mendapat peran sebagai pemeran utama walau hanya di web drama. Tetapi kali ini Junghwan memberanikan diri dalam menaikkan intensitas permainannya, yaitu dengan menerima tawaran sebagai pemeran utama dalam drama BL. Walau alasan terbesarnya bukan untuk menambah portofolio, sebenarnya. Melainkan untuk menguji dirinya sendiri, memecahkan teka-teki yang belum berani Junghwan ungkap selain kepada diri sendiri.
Fans dan general publik menyambut kabar keterlibatan Junghwan dalam proyek ini dengan antusiasme positif ketika beritanya pertama kali diterbitkan. Junghwan pun yakin dapat menyelesaikan pekerjaan ini dengan baik karena aktingnya dalam drama-drama terdahulu seringkali dapat pujian. Tapi di hari ini, ketika akhirnya dipertemukan dengan lawan mainnya —sosok yang akan menjadi pasangannya dalam drama— untuk pembacaan naskah pertama, keringat dingin tak bisa berhenti mengucur di pelipis Junghwan.
Di seberang mejanya, Kim Jiwoong duduk dengan posisi dan kepercayaan diri yang sangat kontras. Punggungnya bersandar santai dengan satu tangan tersampir di lengan kursi. Tidak ada ketegangan sama sekali dalam ekspresinya. Entah karena profesionalitasnya sebagai senior —baik dalam dunia akting maupun dalam proyek BL— tidak perlu diragukan lagi, atau merasa tidak terintimidasi di gedung agensinya selaku investor utama dalam proyek ini.
“Ok, mari kita mulai dari adegan satu.” Instruksi sutradara memecah lamunan Junghwan, membuatnya hampir menjatuhkan pulpen yang sejak tadi diputar-putar di antara jemari. “Seojun sedang membereskan meja kafe, lalu Siyoon masuk.”
Tanpa aba-aba yang rumit, Jiwoong bertransformasi detik itu juga. Usai satu tarikan nafas panjang, sorot mata tajam nan serius bergeser jadi hangat dan melankolis. Bahunya yang tegak sedikit merosot, memberi kesan lelah di antara rautnya yang tenang.
“Selamat datang.” Sapa Jiwoong —bukan, Seojun— dengan suara rendah yang membuat suasana pembacaan naskah menjadi hening. “Udah lama nggak liat kamu di sini.”
Junghwan tersentak. Ia terlalu sibuk menghafal teks, terjebak antara diksi dan tanda baca, sehingga hampir lupa untuk merespons. Kepalanya mendongak, pertemukan tatap dengan netra Jiwoong yang menusuk namun teduh. Lelaki itu telah sepenuhnya masuk dalam mode akting, akan tetapi bagi Junghwan intesitas tatapannya begitu nyata. Ia merasa terintimidasi oleh kharisma yang terpancar dari sana, serasa ditarik masuk ke dalam pusaran sorotnya.
“Ah, ya. Aku… banyak project dan baru selesai ujian, jadi baru bisa mampir sekarang.” Junghwan —maksudnya Siyoon— terbata-bata. Suaranya terdengar canggung dan kaku, terlalu fokus pada kata demi kata sehingga kehilangan emosi dalam dialognya.
Jiwoong tidak memutus kontak mata, seperti yang tertulis di dalam naskah. Kepalanya sedikit dimiringkan, membiarkan keheningan menggantung sebelum bibir penuhnya mengukir senyum tipis. Tipis sekali. “Dinding kafe ini udah kangen ditempel lukisan baru punya kamu.”
Junghwan menelan ludah, lidahnya kelu. Jika mengikuti instruksi dalam naskah, seharusnya setelah ini Siyoon membalas candaan dengan nada menggoda. Namun yang keluar dari mulut Junghwan malah seperti pengumuman berita di televisi.
Menyadari Junghwan semakin terpuruk dalam kecanggungan, Jiwoong memutuskan mengambil kendali. Ia tidak membiarkan momen itu mempermalukan Junghwan. Dengan lembut, ia menjatuhkan naskah ke meja dan kembali menyandarkan punggung ke kursi, memberi ruang bagi juniornya untuk bernafas.
“Maaf.” Jiwoong melambaikan tangan ke atas, memotong reka adegan pembacaan naskah. Ia tertawa bebas, nada riang yang jauh dari karakter Seojun. Bukan bermaksud menghakimi Junghwan, tapi mencairkan suasana dan memberinya pijakan agar ikut merasa santai. “Junghwan, jangan terlalu tegang. Anggap kita lagi ngobrol di kedai kopi beneran, bukan di ruang rapat.”
“Maaf, Kak, gue cuma—” Junghwan menghela nafas panjang sambil memejamkan mata sejenak, bahunya merosot turun usai tak berhasil menemukan padanan kata yang cocok untuk menggambarkan perasaannya. “...maaf.”
Jiwoong memberi senyum lebar yang Junghwan tangkap sebagai sinyal agar dirinya merasa lebih aman. “Nggak apa-apa. Itu sebabnya kita di sini, kan? Buat latihan. Nggak usah terlalu terpaku sama naskah, santai aja. Siyoon itu karakter yang bold dan berani, jangan takut buat tatap mata gue.”
Junghwan menatap seniornya, menyadari bahwa Jiwoong sama sekali bukan berniat menggurui, hanya mencoba meruntuhkan tembok kegugupannya. Ia mencoba mengais sisa-sisa kepercayaan diri yang sempat runtuh, menghimpunnya agar tidak menyulitkan rekan-rekan dalam proyek ini. Tenang, Junghwan harus tenang.
.
Setelah sesi pembacaan naskah selesai, ruang rapat semakin riuh oleh perbincangan staff dan properti yang tengah dirapikan. Junghwan sedang sibuk membereskan barang-barangnya dengan perasaan lega luar biasa karena berhasil menyelesaikan pembacaan naskah tanpa melakukan kebodohan lagi tatkala sebuah tangan menepuk halus pundaknya.
“Junghwan.”
Junghwan menoleh dan mendapati Jiwoong telah berdiri di samping kursinya. Gugup yang sempat sirna hadir kembali dengan senang hati. “E-eh… iya, Kak?”
“Sorry kalau kesannya aneh karena tiba-tiba nyamperin gini.” Jiwoong menyibak poni yang menutupi dahi, tanpa tahu efeknya untuk Junghwan di penghujung hari. “Kalau ada bagian naskah yang menurut lu terlalu susah buat diimprovisasi, atau mau ngulik karakter Seojun dan Siyoon lebih dalam, nggak usah ragu ya buat minta bantuan gue. No worries, gue nggak bermaksud sok senior. I’ve been in your position, gue paham kalau lu masih ngerasa canggung.”
Kepala Junghwan mendadak pening hingga ia harus pejamkan mata rapat-rapat selama beberapa detik. Lagi, ia melakukan kebodohan lagi. Bisa-bisanya sebagai seorang junior, Junghwan membiarkan Jiwoong menghampirinya lebih dulu untuk tawarkan bantuan.
“Kak, maaf, maaf banget.” Junghwan membungkuk sebanyak tiga kali saking merasa bersalah. “Harusnya gue yang nyamperin lu buat minta bantuan. Gue minta maaf karena udah bersikap nggak sopan.”
“Hah nggak, nggak.” Jiwoong mengibaskan kedua tangan di depan dada dengan panik. Tapi sedetik kemudian tawanya lepas. “Junghwan, santai. Jangan terlalu kaku gitu sama gue, gue gak gila hormat, kok.”
“K-kalau gitu, Kak.” Junghwan menggaruk belakang telinganya, tahu pasti dirinya kelihatan bodoh. Namun ia tidak bisa mundur, atau keberaniannya tidak akan muncul di lain waktu. “Boleh minta kontak lu…? Buat— biar gampang kalau gue mau tanya-tanya dan koordinasi. Kalau boleh…”
Jiwoong tidak membalasnya lewat kata, melainkan dengan senyum dan uluran tangan, meminta Junghwan serahkan telepon genggam miliknya. Telapak tangannya tak sengaja bersentuhan dengan ujung jari Jiwoong ketika ia memberikan benda elektronik itu. Dingin. Dingin yang menyengat sehingga jantungnya hampir loncat dari rongga dada.
“Makasih, Kak. Tapi gue nggak ganggu kan, kalau ngehubungin lu?”
“HP gue biasanya sepi kok. Tapi kalau lagi sibuk mungkin bakal lama balesnya.” Kekehan Jiwoong meluncur seraya mengembalikan ponsel yang memorinya sudah bertambah oleh nomor kontaknya. “Kabarin aja kalau ada yang mau didiskusiin.”
.
Satu minggu berlalu, rutinitas Junghwan sedikit berubah. Lebih tepatnya rutinitas notifikasi ponselnya yang berubah. Bukan hanya pesan dari manajer yang mengingatkan soal agenda hariannya, namun pesan-pesan lain yang membuatnya memeriksa ponsel dengan sedikit lebih semangat lantaran merasa diperhatikan.
'Gimana menurut lu soal adegan di scene tiga? Seojun harusnya nggak keliatan sedih, kan? Lebih ke arah memahami karena udah biasa sendirian.'
Junghwan membaca notifikasi yang ia biarkan tanpa jawab selama tiga jam sambil tersenyum kecil. Kesibukan dijadikan alasan, padahal Junghwan hanya tidak mau kelihatan sebagai orang yang terlalu cepat membalas pesan. Selain itu dirinya perlu memikirkan jawaban matang-matang agar pendapatnya tidak berupa bualan kosong.
'Maksudnya kayak orang yang udah lama berdamai dengan kesepiannya, ya? Makanya dia nggak berargumen waktu Siyoon bilang nggak bisa sering ke kafe lagi.'
'Nah, pinter. You have great senses. Besok kita coba latihan dialognya ya, biar ketemu intonasi yang pas buat perdebatan di kafe.'
Hari demi hari, obrolan yang tadinya hanya seputar riset karakter bergeser ke hal-hal sepele. Jiwoong sesekali mengirimi Junghwan kabar soal kucingnya disertai foto, yang dibalas oleh gambar menu makan malam si junior. Junghwan sadar, pesan-pesan mereka bukan lagi berada dalam ranah pekerjaan, dan Jiwoong selalu mencoba untuk hadir saat mereka tidak sedang berada di ruangan yang sama.
Junghwan tidak lagi cemas saat memikirkan dialog dan eskpresi yang harus dihafalnya. Ia justru penasaran dan mulai menantikan waktu di mana ia bisa melihat perbedaan ketika Jiwoong sedang menjadi diri sendiri, dan ketika lelaki itu telah masuk ke mode Seojun.
Lampu studio menyala benderang, hasilkan perih pada kedua mata Junghwan yang overstimulated sebab bekerja non-stop untuk pengambilan adegan sejak pagi tadi. Ditambah lagi para kru yang sibuk mengatur set di sekelilingnya, penata rias yang berulang kali mendekat untuk menyeka kilap di dahi, serta gema instruksi sutradara perihal teknis kamera. Kafe luas sebagai lokasi shooting hari ini terasa menyempit, menghimpit dirinya dan Jiwoong berdua di dalamnya.
“Action!”
Sutradara memberi aba-aba, dan Junghwan harus kembali masuk ke mode Siyoon. Sama halnya dengan Jiwoong. Lelaki yang tadi membelakanginya kini memutar tubuh menghadap Junghwan, ekspresi main-mainnya berubah total menjadi Seojun yang melankolis.
“Aku ke belakang dulu, Siyoon. Banyak kerjaan yang harus diselesaikan.”
Junghwan —Siyoon— buru-buru menjangkau lengan Seojun tepat sebelum lelaki itu beranjak. Namun Junghwan terlalu fokus kepada naskah di kepalanya. ‘Tangan harus tepat di bawah siku, jari-jari menggenggam erat’. Gerakannya ragu, jadi alih-alih meraih lengan Jiwoong, jemari panjang Junghwan malah mencubit kain lengan kemeja seolah Jiwoong adalah benda panas yang berbahaya. (Well, tidak sepenuhnya salah).
“Cut!” Suara sutradara memecah konsentrasi, terdengar tidak puas oleh akting Junghwan. “Siyoon, lebih luwes! Kamu harus menahan Seojun dengan tegas, bukan malu-malu!”
Junghwan menunduk, pipinya merah sampai telinga. Setiap kesalahan kecil yang dilakukannya selama proses shooting selalu membuatnya merasa gagal dan menjadi beban, terutama untuk Jiwoong. Padahal respon yang Jiwoong beri menunjukkan sebaliknya. Ia justru mendekati Junghwan, merapikan sedikit kerah bajunya yang merasa kecil karena suara di kepala mengatakan semua perhatian kini sedang tertuju padanya.
“Junghwan.” Lelaki itu berbisik rendah, hanya untuk didengar mereka berdua. “Jangan mikir soal di mana tangan Siyoon harus genggam Seojun, tapi pikirin alasannya. Siyoon nahan Seojun pergi karena nggak mau waktu mereka cepet berakhir, kan?”
Junghwan menelan ludah, akhirnya memberanikan diri angkat kepalanya lagi. Jiwoong dekat, terlalu dekat, menutupi bayang-bayang Junghwan dari pandangan orang lain. Sorotnya begitu teduh, membuat Junghwan nervous setengah mati namun secara bersamaan tak rela menggeser tatapannya karena terlalu menarik. Jiwoong bagai tentramnya angin, sementara Junghwan ialah kacaunya badai.
“Di adegan ini, Siyoon harus jujur soal perasaannya.” Jiwoong tak sedetik pun memutus kontak mata, menembus jauh ke dalam pertahanan diri Junghwan. “Kalau Siyoon takut Seojun pergi, tunjukin lewat genggamannya. Jangan takut. Setelah sutradara bilang action, artinya aku Seojun. Tapi Jiwoong tetep ada di sini, nggak kemana-mana.”
Kata-kata itu menenangkan, tapi sekaligus membuat dada Junghwan sesak. Seojun ada untuk Siyoon, dan Jiwoong ada untuk Junghwan. Begitu maksudnya?
“Action!”
Adegan diulang, Jiwoong dan Junghwan telah kembali ke posisi masing-masing. Kali ini Junghwan menarik nafas panjang sambil membuang semua teknis ajaran sutradara. Saat ia kembali menjangkau tangan Jiwoong, pikirannya bukan mengira-mengira posisi yang benar, tetapi mencari pegangan. Jari-jarinya melingkar mantap di lengan bawah Jiwoong, merasakan panas kulit di bawah kain kemejanya.
Jantungnya berdegup kencang menabrak tulang rusuk. Ia tidak lagi peduli pada sudut kamera. Sorot matanya tepat menghujam ke arah manik kelam milik Jiwoong. Untuk pertama kalinya Junghwan merasa bangga karena berhasil melawan gugup yang melumpuhkannya. Merasa berhasil menangkap Jiwoong sebagai Junghwan, bukan Siyoon menahan Seojun.
Tatapan mata Jiwoong melembut sesuai karakter, namun Junghwan berhasil menangkap kilat apresiasi di sana, merasa keberhasilannya diakui meski bukan lewat pujian berupa kata. Di tengah seruan puas sutradara, Junghwan menyadari satu hal menakutkan. Bukan hanya Siyoon yang ingin menahan Seojun, tapi Junghwan juga ingin menahan Jiwoong agar tidak pergi dari dunianya usai seluruh skenario berakhir.
.
Rintik hujan menderu di atap kafe, mengguyur keresahan Junghwan meski tak begitu banyak membantu. Agenda syuting hari ini telah berakhir, tetapi Junghwan bersikeras membujuk manajernya agar membiarkannya tinggal lebih lama di set meski mobil agensi telah siap sedia membanya pulang ke dalam hangatnya apartemen. Beberapa kru hilir mudik di sekitar, sesekali menanyai alasan mengapa Junghwan belum juga beranjak pulang, yang hanya dibalasnya dengan gelengan kecil.
Pantatnya masih setia menempel di kursi bar, jemari meremas erat kaleng kopi dari vending machine pemberian Jiwoong barusan. Tengkuknya berdesir, bukan karena dingin melainkan akibat teringat adegan tadi. Junghwan merasa terlalu transparan di depan kamera, merasa telah memperlihatkan sesuatu yang seharusnya belum waktunya diungkap kepada siapa-siapa. Ia takut sutradara terlalu pandai menangkap berbagai macam ekspresi, atau bahkan Jiwoong sebagai aktor senior, bisa membaca jelas gejolak yang tersembunyi di balik tatapannya.
“Masih kepikiran teguran sutradara tadi?”
Suara rendah Jiwoong memecah lamunan Junghwan. Entah untuk alasan apa, seniornya itu juga belum meninggalkan lokasi syuting dan malah memerintah manajernya untuk pulang lebih dulu. Ia masih setia duduk di kursi sebelah Junghwan, menemaninya bersama isi kepala yang sama riuhnya dengan suara hujan.
“Keliatan jelas ya, Kak?” Junghwan tersentak sendiri gara-gara nyaris keceplosan. “Maksudnya… keliatan kalau gue masih kepikiran? Akting gue sekaku itu, ya?”
Jiwoong menyesap kopi kalengnya, kemudian meletakannya di atas meja sambil bergumam. “Dibanding kaku, lu lebih kayak lagi perang sama diri sendiri tiap kamera nyala. Nggak lepas. Lu keliatan takut ngebiarin perasaan lu keluar, malah jadinya dipaksa buat terlalu pakem sama naskah.”
“Gue— akting itu nuntut kejujuran, tapi gue takut terekspos kalau terlalu jujur.”
Junghwan menunduk, menyembunyikan diri dari tatap penuh selidik sampai kening Jiwoong terlipat. Ia tahu Jiwoong bukan orang bodoh yang kesulitan menangkap maksud ambigu dari kalimatnya. Tapi Junghwan juga tidak mau —belum mau— membeberkan lebih banyak hal di depan Jiwoong. Membiarkan Jiwoong menebak-nebak, dan memutuskan sendiri apakah akan langsung menembak Junghwan dengan kesimpulan tepat sasaran.
“Gue juga dulu ada di posisi lu.” Jiwoong terdiam sejenak, membiarkan suara hujan mengisi jeda di antara mereka. “Waktu pertama kali ambil proyek BL, gue takut malah bongkar rahasia yang gue sembunyiin rapat-rapat. Gue takut orang-orang terlalu fokus sama gue, bukan sama karakter di dramanya.”
Junghwan menoleh secepat sambaran kilat, tidak percaya Jiwoong akan membahas hal privasi walaupun telah jadi rahasia umum. Dan dengan kata lain, Jiwoong berhasil memecah kode yang Junghwan sampaikan meski tidak turut mengungkapkannya secara terang-terangan. Jiwoong adalah aktor yang telah terbuka mengenai orientasi seksualnya sebagai biseksual. Keberanian yang bagi Junghwan masih sangat jauh untuk dijangkau.
“Tapi proyek itu justru jadi gerbang buat gue.” Jiwoong kini tidak lagi menatap mata Junghwan, beralih pada tetesan air di jendela. “Gue sadar, semakin gue berusaha sembunyi, peran yang gue mainkan semakin nggak bernyawa. Sedangkan passion gue ada di sana, di dunia akting. Jadi setelah jujur dan menerima diri sendiri pelan-pelan, gue bisa sedikit lebih lega buat bernafas. Gue nggak perlu lagi takut rahasia kebongkar di depan kamera.”
Junghwan terdiam, mencerna kata-kata Jiwoong. Riskan membicarakan topik ini ketika di sekeliling mereka masih banyak orang berlalu lalang. Namun jika Junghwan mundur dan meminta untuk membahasnya di lain kesempatan, ia tak yakin keberanian yang sama akan muncul.
“Terus g-gimana… lu bisa yakin, kak? Maksud gue, ngerasa aman buat jujur sama diri sendiri dan publik, tanpa takut resikonya?”
“Gue takut, Junghwan. Sampai sekarang juga gue masih takut.” Tawa renyah lolos dari bibir Jiwoong. “Tapi lega karena berenti bohong sama diri sendiri lebih besar dari takutnya.”
Jiwoong kembali menjatuhkan tatapnya pada kedua obsidian gelap milik Junghwan, mengunci sorotnya yang selalu kelihatan segan di depan orang lain —atau setidaknya di depan Jiwoong. Junghwan berfantasi bahwa lelaki di sebelahnya ini telah berhasil membaca seluruh rahasia dan ketakutannya, termasuk soal perasaan pribadi akan lelaki itu sendiri. Meski Junghwan belum berhasil mendefinisikan apakah sekadar kagum yang akan berakhir ketika tiba saatnya mereka berpisah nanti.
“Tapi yang harus lu tau, lu gak perlu denger suara-suara yang bukan milik lu sendiri. Nggak perlu buru-buru kasih nama buat semuanya, nggak harus berani sekarang. Nggak ada yang bikin lu perlu buru-buru.”
Jiwoong menolehkan kepalanya ke depan, lalu menenggak sisa kopi kalengnya sampai habis. Sementara Junghwan masih betah menanamkan irisnya pada profil samping Jiwoong yang guratnya tampak jauh lebih dewasa. Sosok senior yang kadang kala mengintimidasi kini terasa lebih manusiawi. Ketakutan yang mencekik rongga dada perlahan melonggar, diganti kekaguman yang semakin menjadi-jadi.
Percakapan bersama Jiwoong mungkin meniupkan angin segar bagi Junghwan yang tengah meraba-raba identitas dan orientasinya. Tapi bagi perasaan yang lebih pribadi, bagi romansa yang tak pernah mati, justru menciptakan kabut beracun yang menggerogoti. Jika biasanya ia duduk bersama Jiwoong sambil menunggu set up lokasi, lama-lama Junghwan jadi menarik diri. Menyendiri di pojok ruangan, pura-pura sibuk menghafal isi naskah.
Ketika sutradara meneriakkan ‘Cut!’ usai kamera merekam adegan Siyoon yang menatap Seojun penuh kerinduan, Junghwan langsung membalikkan badan, menghindari kontak mata dari Jiwoong, berjalan cepat menuju penata rias. Ia meminta riasannya diperbaiki di sana-sini meski wajah rupawannya sama sekali tak nampak cela. Nafas Jiwoong tertinggal di punggungnya tanpa perlu Junghwan menoleh.
‘Yang tadi confess itu Seojun.’ Junghwan berbisik pada diri sendiri dalam hati. ‘Bukan Jiwoong. Dia cuma ngikutin instruksi sesuai naskah.’
Suatu waktu ketika jadwal syuting lebih longgar dari biasanya, jajaran aktor dan kru sepakat membuat acara bonding kecil-kecilan di salah satu restoran BBQ. Jiwoong duduk di satu meja yang sama dengan Junghwan, namun entah sengaja karena sadar Junghwan menghindarinya beberapa hari belakangan, perhatian khusus yang biasanya tertuju pada Junghwan tak lagi ada. Ia justru lebih banyak bergurau dengan pemeran lainnya.
Junghwan menatap Jiwoong terus-menerus dari ujung meja, benar-benar sadar akan api cemburu yang berkobar di dada. Tetapi sesaat kemudian langsung merasa muak pada diri sendiri. Garis batasnya mengabur, profesionalitas sebagai aktor dan perasaan sebagai laki-laki biasa membaur.
‘Kenapa gue pengen dia cuma perhatian sama gue? Kebawa perasaan Siyoon yang jatuh cinta sama Seojun? Atau karena gue pengen diperhatiin Jiwoong sebagai Junghwan?’
Junghwan menatap pantulan dirinya di cermin rias keesokan hari, merasa terbebani perasaan sendiri. Proyek ini bukan lagi soal kamera dan naskah, tapi serangan besar ke zona nyamannya. Lamunan Junghwan terhenti saat ponsel di atas meja bergetar, ada pesan masuk dari Jiwoong.
‘Gue beliin kopi siapa tau lu butuh kafein.’
Junghwan rasanya mau menabrakkan kening ke cermin. Jiwoong memberikan ruang kemarin malam, memberi jarak, dan Junghwan merasa kecewa. Hari ini ketika perhatiannya telah kembali sesuai yang diinginkan, rasanya malah seperti torehan luka berdarah. Junghwan tidak mau kehilangan Jiwoong, namun terlalu takut menggenggamnya.
Proyek drama yang tengah mereka jalani akhirnya sampai kepada puncaknya. Malam itu di rooftop kafe yang sunyi, naskah menuntut Seojun dan Siyoon untuk berbagi momen kerentanan usai perdebatan panjang. Seojun seharusnya hanya membelai pipi Siyoon dan mencium keningnya. Sederhana.
Sebelum sutradara membuat gebrakan di detik-detik terakhir.
Tangan Jiwoong yang masih berada di pipi Junghwan turun menangkup rahangnya. Jemarinya yang besar teramat dingin, kontras dengan panasnya kulit pipi Junghwan. Ia mendongak sedikit, beri tatapan sayu pada Jiwoong ketika lelaki itu menyeret bibir penuhnya menelusuri tulang hidung bangir si junior. Tanpa sadar Junghwan memiringkan kepala sedikit, gerakan naluriah yang tidak terdapat dalam naskah.
Hingga akhirnya ranum Jiwoong mendarat di sepasang ranum tipis Junghwan, menekannya penuh tuntutan. Bukan ciuman lembut, melainkan ciuman penuh hasrat yang selama ini mereka simpan di balik dialog-dialog drama.
Junghwan sempat tersentak sejenak. Matanya terbelalak selama beberapa detik, namun ia memutuskan untuk ikut larut dan membiarkan kelopak mata terpejam secara sukarela. Tangan lebarnya bergeser dari pundak jadi meremas kerah jaket Jiwoong, takut lelaki itu lenyap jika ia melepaskan. Tangan Jiwoong yang menganggur pun rangkum sempitnya pinggang Junghwan, mengunci posisi mereka jadi semakin rapat. Dunia di sekeliling seolah musnah. Tidak ada sutradara di balik monitor, tidak ada kamera, tidak ada realitas.
Junghwan dapat merasakan detak jantung Jiwoong beradu dengan miliknya lewat dada yang bertubrukan. Ia merasa terbakar. Sadar bahwa ini bukan lagi sekadar akting.
Tanda dari sutradara bahwa adegan ciuman boleh dirampungkan terdengar sangat jauh, bagai bisikan tidak penting. Di antara keduanya belum mau saling melepaskan. Ranum masih bertaut untuk beberapa detik yang terasa seperti selamanya.
“Sempurna. Kita wrap untuk hari ini!"
Instruksi lanjutan dari sutradara menjadi alarm bagi Junghwan yang lekas menarik diri. Nafasnya tersengal. Otomatis tatapannya tertuju pada Jiwoong yang sorotnya masih menyisakan sisa emosi karakter, membuat dada Junghwan mencelos seketika. Ia mundur sebanyak dua langkah, kemudian berjalan menjauh dengan langkah limbung menuju ruang istirahat.
“Junghwan.”
Tungkai panjangnya melangkah lebih cepat, abaikan panggilan Jiwoong yang mengikuti di belakang.
“Junghwan!”
“Nggak usah ngikutin gue, Kak!”
Tapi Jiwoong berhasil menyusul Junghwan ke ruang istirahatnya dan membanting pintu keras-keras. Di sisi lain, Junghwan tak lagi punya tenaga untuk melawan. Tubuh tingginya jatuh ke kursi rias, tangannya gemetar di pangkuan. Sementara Jiwoong berdiri beberapa langkah darinya, memperhatikan dalam diam.
"Gue nggak tau lagi, Kak! Gue udah nyoba ngejauh, jaga jarak. Tapi gue nggak bisa ngeliat lu sebagai Seojun!” Junghwan merasa dunianya runtuh. He’s blabbering, bahkan sebelum Jiwoong sempat membuka mulut. Pikirannya terlalu kacau dan Junghwan hanya ingin melepas penatnya. “Gue jadi bingung, dan gue jadi takut sama diri gue sendiri! Gue tadi cium lu sebagai Jiwoong, bukan Seojun…”
Junghwan mencengkeram rambutnya sendiri, sakit yang hebat melanda kepala. Ia sudah selesai dengan perasaan kalut ketika menyadari bahwa sebagai laki-laki, ia juga bisa tertarik secara romantis pada laki-laki lain. Junghwan sudah menerima, sudah berani jujur kepada dirinya. Tapi bukan itu yang jadi rintangan utama dalam pekerjaannya kali ini.
"Gue tau gue bisa suka laki-laki, tapi gue gak tau apa gue terobsesi karena peran ini, atau gue cuma gila. Gue benci karena gue nggak bisa profesional kayak lu, Kak! Sebenernya gue kenapa, sih?"
Jiwoong tidak langsung membalas dengan kata-kata. Ia memutar kunci, mengurung mereka dalam ruang sempit yang pengap. Langkahnya mendekat, tidak ada lagi karakter Seojun yang tersisa dalam sorotnya. Lelaki yang memegang kedua bahu Junghwan, dan memaksanya mendongak adalah Jiwoong.
"Siapa bilang gue profesional?" Suara Jiwoong nyaris seperti bisikan, penuh pengakuan yang selama ini ditahan. "Gue cuma lagi nahan diri biar nggak ngelakuin hal yang bikin lu gak nyaman di depan kamera."
"Ya… itu. Namanya profesional, kan?" Junghwan mengerjap beberapa kali, membuat Jiwoong tertawa karenanya.
"Gue tau, kok. Gue sadar lu punya perasaan yang lebih dari rekan kerja. Lu kayak naskah drama yang transparan buat gue baca, cuma perlu dibedah lebih dalam. Gue juga tau lu belum berani, kalau harus melangkah lebih jauh dari sekedar rasa suka. Dan lu gak perlu terburu-buru buat ngasih label ke diri lu." Jiwoong menatapnya dalam, tangannya perlahan berpindah untuk menyentuh pipi Junghwan dengan ibu jarinya. Menyentuh pipi lelaki yang diperhatikannya lebih dari sekadar lawan main. Lebih dari seorang senior kepada juniornya. "Nggak ada yang butuh lu untuk berani sekarang. Gue pun nggak. Pelan-pelan aja nikmatin perasaannya, gue nggak akan ke mana-mana.”
Junghwan seketika bungkam, gunakan punggung tangan untuk mengelap matanya yang basah. Ia baru saja meluapkan semuanya dengan teramat dramatis, dan rasa malu secara meledak-ledak menghantamnya sehingga ia merasa begitu konyol. Jadi, selama ini bukan hanya ia yang bertarung melawan gravitasi emosi? Jiwoong yang terlihat begitu tenang, yang selalu memberikan saran profesional, ternyata juga sama kacaunya?
"Jadi..." Junghwan membuka suaranya yang sedikit parau. "Lu... juga sama gilanya, ya?"
Jiwoong melepaskan tawa. "Lebih dari gila kayaknya. Kadang gue harus gigit bagian dalem pipi supaya nggak senyum-senyum sendiri waktu lu natap gue dengan tatapan Siyoon yang… ya begitu lah.”
Junghwan merasakan panas menjalar ke seluruh wajahnya. Ia segera menepis tangan Jiwoong, lantas menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Gue bego banget, ya? Gue nangis-nangis di depan lu karena gue pikir gue satu-satunya orang yang tersiksa mental di sini."
Tawa Jiwoong semakin keras. Ia menarik kursi dan duduk di sebelah Junghwan. Menghilangkan jarak mereka sepenuhnya. "Lu nggak bego. Tapi emang lu terlalu jujur sih, buat seorang aktor.”
Junghwan mengintip dari sela-sela jari, memperhatikan Jiwoong yang begitu santai padahal baru saja mengungkapkan perasaan. (Benar, kan?) Sisi dramatis Junghwan perlahan tergantikan oleh rasa gemas yang aneh. Ia merasa seperti remaja yang baru saja tertangkap basah sedang naksir seseorang, tapi dalam versi yang jauh lebih dewasa.
"Terus..." Junghwan menurunkan tangannya, menatap Jiwoong dengan sorot ragu namun penuh harap. "...terus sekarang gimana?"
Jiwoong menyentil pelan ujung hidung Junghwan yang bulat menggemaskan. Sebuah gestur yang terlalu intim untuk disebut sebagai hubungan senior-junior. "Kita cari makan malem yang layak dulu abis ini. Gue laper, tadi sutradara keburu bilang ‘cut’ sih.”
“KAK!!! Tadi ciuman pertama gue sama cow— anjing!" Junghwan berhenti, menyadari apa yang baru saja ia katakan. Matanya membelalak, wajahnya lagi-lagi merah padam. "Ah, lupain! Jangan dengerin gue!"
Jiwoong justru tertawa terbahak-bahak melihat kepanikan Junghwan yang menggemaskan. Ia ingin menarik Junghwan ke dalam pelukan. Bukan pelukan akting, bukan pelukan dari seorang mentor, melainkan pelukan seorang lelaki kepada lelaki lain yang ia sukai. Namun nampaknya Junghwan belum siap untuk pelukan itu.
Tiga bulan setelah syuting selesai, kesibukan pasangan senior dan junior itu di industri hiburan sedikit melambat. In Between Lines telah dirilis dan mendapatkan respon yang luar biasa positif. Namun bagi Jiwoong dan Junghwan, kepuasan terbesar bukan datang dari angka penonton, melainkan dari apa yang terjadi setelah kamera dimatikan.
Senyum Junghwan melebar tatkala pintu pengemudi mobil pribadi Jiwoong dibuka dari luar, menampilkan pemiliknya dengan topi bisbol yang menutupi separuh wajah. Lelaki yang lebih tua menyerahkan paper bag berlogo cafe terkenal dekat apartemen Junghwan. Tidak ada sutradara yang mengatur posisi mereka, tidak ada naskah yang harus mereka ikuti.
"Dua ice americano, with extra ice buat kamu." Jiwoong menyerahkan segelas kopi hitam pekat diiringi senyum yang lebih akrab dibanding berbulan-bulan lalu.
Junghwan tertawa, melepas kupluk hoodie abu-abunya dari kepala. "Udah hafal ya."
”Dari jaman masih syuting juga kan aku yang beliin, kocak."
Junghwan tertawa seraya meraih telapak tangan Jiwoong, membiarkan jari-jari mereka tertaut di dalam heningnya mobil. Bebas dari ekspektasi publik sebagai dua orang aktor.
"Aneh.” Gumam Junghwan, menatap uap dingin dari gelas kopi. "Tiga bulan lalu, duduk di sebelah kamu kayak lagi ujian. Sekarang..."
"Sekarang?" Jiwoong memancing.
"Sekarang ini bisa aku gigit." Junghwan menarik punggung telapak tangan Jiwoong ke bibir, menggigitnya main-main. Undang keluhan dari lelaki itu.
Ia masih belum berani terbuka di depan publik, bahkan belum berani melabeli orientasinya secara pasti. Tapi kini Junghwan sadar, ia tidak butuh label untuk menjelaskan perasaan hangat yang menetap di dadanya saat menatap Jiwoong. Ia hanya butuh lelaki ini di hadapannya. Bersamanya.
Ia tidak perlu takut lagi di depan kamera. Ia hanya perlu jujur kepada diri sendiri.
