Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-06-14
Updated:
2026-08-19
Words:
10,309
Chapters:
4/?
Hits:
124

Cupwan: Ucup dan Pak Awan

Summary:

This was written way back in 2022. Bisa dibilang, the origin story of Fallin’ Petals.

Originally posted at Hakgyo RPF.

Notes:

Selamat datang di proyek reservasi Cupwan. This was written way back in 2022. Bisa dibilang, the origin story of To Fallin’ Petals. Formatnya ditulis dalam mode text based roleplay, aku (kerangkejepit) menulis sebagai Claude, dan moodanggeun menulis sebagai Hyoseop.

Kalau sebelumnya sudah pernah baca Fallin’ Petals, Claude ini Vernon, Hyoseop ini Johnny. Kenapa nggak pakai tag johnsol? Karena… at this point jadinya emang original character yg minjem muka artis, sih. But maybe you can convince us? Idk?

Originally posted at Hakgyo RPF.

Chapter 1: Character Introduction

Chapter Text

Character sheet: Seo Hyoseop

  • Visualisasi: Johnny Suh (NCT)
  • Jenis kelamin: Lakik
  • Tempat, tanggal lahir: Medan, 28 Februari 2001
  • Kewarganegaraan: Korea Selatan
  • Sekolah: Jeonsa International High School
  • Kelas: 11
  • Domisili: Jeonsa 

 

Perkenalkan, Seo Hyoseop, 17 tahun. Bapak Korea Selatan dan Ibu Batak, Lahir di Medan, tapi dibesarkan di Jakarta. Setelah lulus SMP, karena Bapak dipindah kerjakan ke Jeonsa, akhirnya satu keluarga harus pindah ke Korea Selatan. Dan tentunya, dengan kemampuan bahasa Korea-nya yang cukup terbatas pada percakapan sehari-hari dengan Bapak, akhirnya Yusup disekolahkan di sebuah Sekolah Internasional.

Oh, Yusup adalah nama panggilan dari teman sekolahnya selama di Indonesia, omong-omong. Karena sekarang ia sudah berada di Korea, mungkin akan lebih baik untuk membiasakan diri dengan nama Hyoseop.

Sebenarnya, hidup Yusup, coret itu, Hyoseop bisa saja akan terus baik-baik saja meskipun ia berjuang sendirian di Korea. Yah, selama ini ia selalu baik-baik saja setiap kali bertemu dengan orang baru, kan? Kalau menurut ayahnya, ia adalah anak yang flexible and adaptable. Seandainya ia dilepaskan di hutan sendirian sekalipun, satu tahun kemudian dia akan masih hidup dengan kemampuan bertahan hidupnya yang kuat.

Hanya saja, berkat keberadaan Restu Drisana, Yusup merasa jauh lebih beruntung karena hidupnya selama di Korea Selatan menjadi jauh lebih berwarna. Benar, perempuan yang biasa dipanggil Icha itu adalah sahabatnya sejak bersekolah di Indonesia dan ikut pindah ke Korea Selatan karena ayahnya. Hyoseop tak akan menceritakan bagaimana detailnya, karena (1) seharusnya itu adalah tugas Icha, dan (2) Hyoseop bukanlah pencerita yang baik. Kalau bahas itu, nanti kisahnya akan jadi terlalu panjang dan tak ada habisnya. Katakanlah, it’s another story for another time.

Dan ketika Hyoseop berkata kalau hidupnya menjadi lebih berwarna, yang ia maksud adalah benar-benar berwarna dan sama sekali nggak membosankan. Setiap harinya selalu ada hal baru yang jauh lebih seru dan bisa mereka lakukan. Seperti kemarin ketika Icha memberitahunya kalau perempuan itu sudah mendapatkan izin (entah bagaimana caranya dan akses dari mana yang dia dapatkan) untuk membuka usaha tenda kecil-kecilan nggak jauh (kalau ditempuh dengan menggunakan sepeda) dari sekolah. Atau ketika ia mendapatkan ide untuk mentato bagian tubuh mereka yang tersembunyi (Hyoseop belum memutuskan di mana) secara permanen.

Jadi, entah saja ide apa lagi yang akan muncul berikutnya, kan? Bisa saja mendadak mereka bertukar celana dan skort di hari pertama sekolah pada tahun kedua mereka ini. Siapa tahu, kan? Semoga saja guru kelas mereka kali ini ususnya lebih panjang. 

 


Character sheet: Claude Hemlock

  • Visualisasi: Hansol Vernon Chwe (Seventeen)
  • Jenis kelamin: Laki-laki
  • Tempat, tanggal lahir: New York, 18 April 1991
  • Kewarganegaraan: Amerika Serikat
  • Mata pelajaran yang diajar: Theater (JIHS) 

 

Claude Hemlock telah dijejali les vokal, ballet, dan piano sejak usianya belum genap dua digit. Dulu, ia mengira bahwa kesibukannya adalah normal untuk anak seusianya. Ternyata, itu karena ibunya adalah wanita Asia.

(Stereotyping much. Sorry, Mom! Love you!)

Dari kelas-kelas itulah ia mengenal panggung hiburan. Tidak aneh pula jika sejak duduk di bangku SMP, Claude sudah bercita-cita untuk menjadi aktor teater Broadway. Pemuda Hemlock itu sangat berterima kasih dengan semua ilmu yang dijejalkan kepadanya sejak dini. Karena semua kelas itulah ia dapat terlibat dalam produksi teater profesional di usianya yang cenderung belia—tiga belas tahun. Bertambah pula portofolio karirnya dengan kesempatan mengikuti tur pementasan sembari mengenyam pendidikan tingginya di AMDA—jurusan teater, tentu saja.

Claude pikir, jika ia menginginkan sesuatu dengan fokus, jalan untuk meraihnya pun akan dimudahkan. Claude pikir (lagi), jalannya menuju panggung Broadway sudah selancar jalan tol dini hari. Mulus, tanpa ada yang menghalangi.

Claude Hemlock juga tidak menganggap figur idola Korea Selatan bernama Tiffany Young itu sebagai penghalang, namun ia akui aksisnya bergerak sedikit keluar jalur karenanya.