Actions

Work Header

Sayang..

Summary:

Memasuki tahun keempat dalam hubungan mereka. Till tersadarkan oleh Mizi dan Sua kalau dia dan Ivan tidak pernah memanggil satu sama lain secara romantis. Hal itu membuat Till menjadi berpikir macam-macam.

atau

Till dan Ivan akhirnya manggil "sayang"

Notes:

gara-gara fanart till ivan manggil sayang, aku jadi salting sendiri.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sebenarnya Ivan dan Till sudah lama pacaran, tapi karena masa pdkt mereka yang super duper memakan waktu itu, bikin gaya pacaran mereka jadi kaku. 

Sudah memasuki tahun keempat di hubungan romantis yang mereka jalani semenjak seragam putih abu-abu, tapi belum pernah ada panggilan spesial yang menunjukkan rasa sayang mereka.

Mizi pikir, Ivan yang akan memanggil Till dengan berbagai panggilan sayang duluan walau Till akan marah-marah karena malu.

Tapi ternyata Ivan tetap memanggil Til dengan panggilan jeleknya seperti “pendek”, “kecil”, “cumi-cumi”, entah atas dasar apa Ivan memanggil Till dengan makhluk air itu.

Itu lah yang menjadi alasan Mizi sekarang menginterogasi Till (ditemani Sua) di meja makan kantin fakultas mereka.

“Harusnya kalian udah biasa gak, sih?”

Mizi bertanya dengan mata berbinar penasaran, didukung oleh anggukan Sua yang membenarkan pertanyaan kekasihnya.

“Gue terbiasa kok dengan panggilan gak jelasnya itu, tapi kalau panggilan sayang agaknya..”

Till menggantung kalimatnya seiring dengan rona merah yang mulai memenuhi wajahnya.

“Tapi lu pernah nyoba manggil ‘sayang' ke Ivan?” 

Kali ini Sua ikut bersuara, mungkin dia juga kepalang penasaran pada hubungan romantis tanpa pernah ada panggilan spesial yang dijalani oleh temannya.

Till terdiam sebelum menjawab pertanyaan Sua. Wajah merah, pandangan ke samping, tangan yang disatukan karena gugup. 

Till malu sekali.

“P-pernah tapi–”

“HAH??” 

“Belum selesai!”

“Maaf! Aku kira Ivan yang bakal manggil kamu ‘sayang' duluan!”

Perkataan Mizi membuat wajah Till berubah menjadi sedikit sendu. Mizi dan Sua menatap satu sama lain, seperti berbincang melalui telepati tentang reaksi Till yang di luar dugaan mereka.

Mereka sadar topik ini menjadi hal yang sedikit serius dari yang mereka niatkan. Maka mereka dengan sabar menunggu Till untuk bercerita. Till menghela nafas sebelum menatap sepasang kekasih di depannya.

“Gue kira juga bakal gitu. Gue malu banget buat manggil ‘itu' duluan jadi selalu gagal dan akhirnya gue diem doang. Gue pikir.. Ivan yang bakal bikin gue nyaman dengan panggilan ‘itu'”

Mizi dan Sua terdiam beberapa saat. Melihat Till yang biasanya aktif dan cerewet menjadi galau karena masalah panggilan dari pacarnya membuat sepasang kekasih itu ingin membantu Till.

“Mungkin Ivan gak mau bikin kamu gak nyaman?” 

Asumsi Mizi mungkin ada benarnya, Till hampir percaya, sebelum Sua membuka mulut dan berkata.

“Atau mungkin Ivan udah bosen sama lu.”

“Baby!!”

Mizi mencubit pipi Sua dengan gemas. 

“Aduh!”

“Kamu, ih! Mana mungkin Ivan bosen sama Till, dia aja konsisten kok ngejar Till padahal waktu itu Till suka sama ak–”

“Mizi! Itu udah lama banget!” 

Till berteriak sedikit, memotong omongan Mizi. Kejadian paling memalukan di bangku kelas 10 itu tidak ingin Till ingat lagi. 

Till masih ingat dengan bodohnya menyatakan cinta ke Mizi melalui coklat dan bunga di depan Sua, yang saat itu sudah menjadi pacar Mizi, ketika hari terakhir masuk sekolah sebelum libur kenaikan kelas.

Till malu dan galau selama memulai semester baru, namun setelah itu baru lah dia menyadari kehadiran Ivan yang selalu ada di sampingnya.

“Justru karena itu baby, Ivan udah capek ngejar dia makanya semenjak pacaran gak ada perubahan.”

Perkataan Sua membuat Mizi terdiam memikirkan kemungkinannya. Mizi menggeleng pelan.

“Nggak, ah! Ivan romantis kan selama sama kamu, Till?”

Mizi menatap harap pada Till. Si empu menggedikkan bahunya tanda tidak yakin.

“Kalau romantis kayak ngasih bunga tiap kita date, selalu anter jemput, beliin barang tiba-tiba, dan selalu kontak fisik. Iya, dia romantis.”

Mizi mengangguk semangat, namun Sua menatap Till dengan tidak semangat. Dia pikir dia akan mendengar drama yang seru.

“Berarti ini masalah panggilan doang, kan.”

“Aku punya ide! Gimana kalau kamu tanya langsung ke Ivan?”

“Tanya apaan ke gue?”

Pertanyaan Mizi malah disambut oleh suara berat yang muncul dari belakang Mizi. Ivan menepuk pundak Mizi dengan pelan sebelum duduk di sebelah Till. 

Ivan mencium puncak kepala Till lalu kembali menatap Mizi dan Sua dengan senyum lebarnya. Matanya menunjukkan bahwa dia ingin penjelasan lebih lanjut atas ide Mizi tadi.

Mizi dan Sua kembali menatap satu sama lain. Kelakuan Ivan menunjukkan bahwa dia memang romantis seperti pacar pada umumnya. Tidak ada kejanggalan selain masalah panggilan yang membuat Till sedikit sedih. 

“Oh! Kayaknya udah waktunya Sua les ballet. Ayo, baby! Till jangan lupa ide aku ya!”

Mizi dengan cepat berdiri dan menarik Sua menjauh. Till hanya menggeleng pelan saat mendengar alasan konyol Mizi. Sua mana mungkin les ballet kecuali ada Mizi di dalamnya.

“Jadi.. apa aja yang kalian obrolin?”

Ivan menoleh ke arah Till dengan memiringkan kepalanya penasaran. Ivan terlihat sangat lucu, seperti anjing besar, hati Till mana kuat kalau begini.

Maka Till berdiri tanpa sepatah kata dan menarik Ivan keluar dari kantin menuju parkiran mobil.

“Kamu parkir di mana tadi?” 

Tanpa bertanya lebih lanjut, Ivan mulai mengarahkan Till pada mobilnya. Dia paham, topik yang Till bahas sebelumnya bersama Mizu dan Sua, memerlukan ruang privat untuk mereka berdua.

Ivan pikir mereka akan membahasnya di mobil, tapi dari parkiran kampus hingga sekarang di parkiran apartemen mereka, Till masih belum membuka mulutnya untuk membahas topik itu.

Ivan jadi penasaran berat. Memangnya topik apa yang buat pacar cantiknya ini kepikiran?

Sebelum Ivan sempat bertanya, Till lebih dulu keluar dari mobil dan berjalan masuk ke gedung apartemen mereka. 

Ivan segera mematikan mesin mobil, memastikan segala barang Till telah dia bawa sebelum mengunci mobilnya.

Ivan makin penasaran dengan topik yang dibahas mereka bertiga sebelum dirinya datang menghampiri.

Apa maksudnya sekarang Till malah menjawab singkat segala ocehannya?

Ivan bertanya tentang kelas Till hari ini, Ivan bertanya tentang makanan Till hari ini, hanya dijawab dengan “baik” atau "biasa aja" oleh Till.

Ivan bertanya tentang topik obrolan tadi dan hanya dibalas keheningan dari Till.

Sekarang Ivan dicuekin?

Till yang lebih dulu membuka pintu dan masuk ke apartemen mereka, disusul oleh Ivan yang kemudian menahan Till di lorong pintu masuk.

“Till, tolong jujur sama aku. Ada masalah apa?”

Suara Ivan yang pelan, hampir terdengar pasrah, membuat hati Till sakit tapi dia masih malu untuk menanyakan hal itu pada Ivan.

Mereka berdiri diam dalam keheningan selama beberapa menit, Ivan hampir saja menyerah tapi dia kembali memfokuskan perhatian pada pacarnya ketika dia menghela nafas pelan.

Till mendongak sedikit untuk menatap mata Ivan. Posisi Till yang terperangkap antara dinding dengan pacarnya yang atletis itu membuat Till menjadi semakin malu akan perbedaan besar tubuh mereka.

“Ivan..”

“Iya, Till?”

“Kenapa kamu mau pacarin aku?”

Hah?

Ivan gak salah denger, kan?

“..maksudnya?”

“Maksudnya? Apa alasan kamu pacarin aku?”

Alis Till mulai menyatu di tengah. Till terlihat seperti kebingungan dicampur rasa kesal sekarang.

“Uh.. gak ada alasan?” 

Jawaban macam apa itu?

Wajah Till seketika berubah menjadi sendu. 

Oh tidak, sepertinya Ivan salah langkah.

“Kamu cuma seneng godain aku? Atau kamu cuma penasaran sama aku? Atau mungkin.. kamu pacarin aku karena taruhan–”

“Jangan aneh-aneh, Till”

Pundak Till terlihat berjengit kaget, Ivan memotong perkataan Till dengan suara tajam dan wajah yang keras. Till kembali memasang wajah kesalnya.

“Terus apa alasannya?”

“Bukannya udah jelas?”

Ivan menggenggam satu tangan Till kemudian mencium telapak tangannya dan mengusak pelan pipinya pada tangan Till.

“Karena aku sayang sama kamu.”

Rona merah mulai menghiasi wajah Till. Pandangannya tertuju pada lantai yang terlihat dari jarak antara dirinya dan Ivan sekarang. Dia mengambil nafas dalam sebelum melontarkan pertanyaan yang mengisi pikirannya selama perjalanan ke apartemen.

“Terus.. kenapa kamu gak pernah manggil aku.. itu.”

Wajah Ivan terlihat sangat kebingungan sekarang. 

“Itu, apa?”

“Ih! Itu!”

Oh Tuhan. Ivan memang memiliki otak yang cerdas semenjak sekolah hingga sekarang di perkuliahan. Namun, ketika dihadapi oleh omongan tidak jelas dari pacar mungilnya ini, otak Ivan seakan-akan berhenti bekerja.

Ivan diam. Memandangi wajah cantik Till. Memikirkan segala kemungkinan yang dimaksud pacarnya. Tapi tidak ada setitik ide pun muncul di otaknya.

Sepertinya omongan orang tentang cinta membuat bodoh itu benar, Ivan merasakannya sekarang.

“Till, aku bener-bener gak tahu apa maksud kamu.”

Ivan berujar dengan pelan, berharap Till mengerti bahwa Ivan tidak bisa menebak apa yang dimaksud Till sekarang. Kedua tangan Ivan menangkup wajah Till, mengelus pelan pipi merah itu dengan ibu jarinya.

“Itu.. sayang..”

Suara Till yang terlampau lebih kecil dari biasanya membuat Ivan lengah dan tidak menangkap apa yang dikatakan oleh Till.

“Hah?”

Till menatap mata Ivan dengan kesal tetapi rona merah itu semakin terlihat dan memenuhi wajahnya. 

“Kamu gak pernah panggil aku sayang!”

Ivan berdiri dengan kaku, pergerakan lembut jarinya di wajah Till berhenti begitu saja ketika Till meneriakkan kalimat itu. 

Ternyata ini yang memenuhi isi kepala mungil pacarnya sampai seluruh omongan Ivan dicuekin?

Ivan terkekeh pelan. 

“Till, aku tahu kamu gak suka hal romantis yang bikin kamu malu. Inget gak waktu aku pertama ngasih bunga? Langsung kamu buang!”

Salah tingkahnya Till memang jelek, dia hanya malu berat saat diberi buket bunga kecil ketika kencan pertama dengan Ivan. 

Tapi setelah itu Till ambil dan simpan baik-baik di kamarnya kok!

Ivan tersenyum lembut, tatapannya membuat Till merasa kakinya perlahan kehilangan kekuatannya. Seluruh orang pun dapat melihat tatapan penuh kasih sayang Ivan yang tertuju padanya.

Satu waktu, kakak tingkat Till yang bernama Hyuna pernah mengatakan.

“Pacar lu cinta banget sama lu ya, keliatan tuh dari natapnya.”

Till jadi merasa malu tapi juga senang. Till sangat dicintai oleh Ivan.

Ivan menarik Till menuju kamar mereka untuk merebahkan dirinya di atas kasur dengan Till di atas dirinya.

Ivan mengelus pelan kepala Till yang bersandar pada dadanya. Tangan satunya lagi melingkari seluruh pinggang ramping pacar cantiknya.

“Kamu mau aku panggil apa?”

Kalau ditanya Ivan seperti itu, Till jadi bingung.

“Apa aja kayaknya? Aku gak kepikiran panggilan lucu kayak Mizi sama Sua.” 

Ivan mengecup pucuk kepalanya kemudian mengarahkan wajahnya untuk memandang ke arah Ivan. Ivan mengecup kening, kedua kelopak mata, dan pipi.

“Sayang.”

Kemudian Ivan mengecup bibirnya lebih lama.

Astaga, hati Till ingin meledak.

Till menahan salah tingkahnya, tidak ingin merusak suasana yang diam-diam dia dambakan selama berpacaran dengan Ivan.

“Lagi..”

Till bercicit pelan, matanya berbinar memohon pada Ivan yang menahan gemas. 

Siapa Ivan jika berani menolak permintaan pacar cantiknya itu?

“Sayang.. sayangku yang cantik.”

Ivan mengucapkan panggilan itu seperti mantra penyembahan. Suaranya yang berat dan lembut seperti berputar-putar di dalam pendengaran Till. 

Kecupan-kecupan yang Ivan berikan pada wajah Till tidak berhenti. 

“Sekarang coba kamu.”

Till terkesiap. Dia belum menyiapkan mental untuk ini. Tapi melihat mata Ivan yang berbinar berharap pada dirinya membuat Till lebih berani.

“Ivan.. sayang..”

Astaga, ternyata mental Ivan juga belum siap untuk mendengar suara cantik itu memanggil dirinya dengan panggilan lucu. 

Ivan yang kepalang gemas pada pacar mungil di dekapannya, langsung mencium bibir kemerahan itu dengan lembut. 

Lumatan lembut itu pelan-pelan berubah menjadi sedikit menuntut. Didominasi oleh Ivan dan dibalas malu-malu oleh Till.

Ini bukan ciuman pertama mereka, tetapi ciuman setelah memanggil satu sama lain dengan romantis membuat suasana lebih hangat.

Ciuman itu terlepas ketika Till menepuk pelan bahu Ivan. Till tersenyum lembut pada Ivan. Rambutnya ikut bergerak ketika Till memiringkan kepalanya. Sinar matahari sore yang menembus jendela kamar mereka membuat Till terlihat bersinar lebih cantik.

“Sayang.. aku cinta kamu.”

Sepertinya Ivan bisa meninggalkan dunia dengan tenang setelah mendengar suara bidadarinya. Pernyataan yang membuat hati Ivan terenyuh hangat. 

Ivan ingin menikahi Till sekarang juga.

“Aku juga cinta kamu, sayangku, cantikku.”

Ivan membalas senyuman Till. Ciuman lembut penuh kehangatan itu kembali ditaruhkan di antara mereka. Mereka menghabiskan sisa waktu dengan saling mendekap satu sama lain hingga matahari tenggelam.

Menutup hari dengan perasaan hangat yang menyelimuti lembut suasana hati mereka. 

Notes:

seluruh kegiatan dilakukan kecuali persiapan sidang (doain gue pls)