Chapter Text
Belakangan ini tengah ramai perbincangan mengenai kriminal yang kabur di kawasan rumah sewa Eray. Tentang bagaimana masyarakat resah akan keselamatan mereka, dan tentang bagaimana adanya orang-orang asing yang berkeliaran di jalanan kompleks. Ada juga yang bahkan mendengar suara perkelahian dan kejar-kejaran pada malam hari.
Eray sendiri tak peduli lagi. Persetan dengan mereka. Habis sudah jiwa raganya dihajar pekerjaan.
Berangkat pagi, pulang malam. Tidur tak tenang dihantui suara-suara mendesak rekan dan atasan. Tak lagi nafsu dibuatnya ia tiap menyantap hidangan.
Persetan para kriminal, persetan cemasnya warga, persetan pula pria malang di depannya yang tergeletak mengenaskan.
๐๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ต๐ข๐ฏ.
Adalah apa yang ia jeritkan dalam benak lima belas menit yang lalu. Juga adalah apa yang ia jeritkan kini. Di ruang klinik terdekat, penuh kekesalan juga cemas saat pria yang sama memegang erat lengan jaket merahnya.
Lantai rumah sakit ditatapnya nanar, langit-langitnya kemudian.
๐๐ข๐ฉ, menyesal betul ia menuruti perintah hatinya.
ย
Pusing adalah apa yang ia rasa setelah membuka mata. Dan bingung adalah apa yang tepat menggambarkan apa yang ia pikirkan. Kemudian baru panik lah ia melihat ruangan yang betul-betul tak dikenalnya.
Dari posisinya kini dapat ia lihat pria di tengah usia dua puluhan melihatnya dengan mata membola. Rambut cokelatnya berantakan, jaket merah yang yang membalut tubuh rampingnya juga dikenakan asal-asalan. Raut wajahnya aneh, kesal, lega, danโฆ apa itu?
๐๐ฉ๐ข๐ธ๐ข๐ต๐ช๐ณ?
๐๐ฏ๐ฆ๐ฉ. Ia ingat pasti mereka tak pernah berjumpa. Baru kali ini pula ia melihat pria tersebut.
Tapi mungkin saja karena pria ini terlalu baik. Mengkhawatirkan orang asing yang baru pertama ia temui.
Bodoh. Naif sekali ia. Harusnya ia cukup tua untuk mengerti bahaya yang dibawa oleh orang asing.
Namun, mungkin saja lebih bodoh ia. Ia yang merasa takut manakala pria itu hendak berdiri, saat ia beranjak, hendak melenggang meninggalkannya.
๐๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ.
Berulang kali ia mengulanginya dalam benak, memaki diri sendiri karena takut ditinggal pergi oleh orang asing.
๐๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ!
Makin keras ia menjerit dalam benak saat tangannya dengan cekatan meraih lengan jaket merah tersebut.
Terlihat bahwa pria itu diliputi kekesalan, kemudian cemas saat kedua pasang netra mereka bertemu. Oh, maniknya serasi dengan surainya. Hangat, penuh kehangatan yang dilupanya.
Kini manik tersebut tak lagi bertemu dengan manik berbeda warna miliknya. Lantai rumah sakit yang tak menarik itu malah dapatkan atensinya, selanjutnya langit-langit yang juga tak menarik.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข?
๐๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ข๐ฌ๐ถ.
Ah, benar. Ia yang bodoh. Bodoh karena ingin atensi penuh orang asing yang menolongnya, bodoh karena dengan cepatnya berikan percayanya pada ia yang bahkan namanya tak diketahuinya.
๐๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ, ๐ฃ๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ.
ย
Agata, adalah nama yang Eray dapatkan setelah dengan hati-hati bertanya. Menggeleng ketika ditanyai alamat rumah atau nomor telepon keluarga. Bungkam sepenuhnya ketika dimintai kronologi tumbangnya ia di gang temaram sekitar rumahnya.
Mau tak mau, padahal jelas-jelas ia bisa menolak, Eray tampung pria dengan surai hitam bercampur merah tersebut. Bukan cat rambut, bawaan lahir seperti bagaimana ungu menghiasi ujung surai cokelatnya.
Kedua netranya indah, berbeda warna satu dengan yang lainnya. Merah di sisi satunya, biru di sisi lainnya.
Tanpa perlu ditelusuri lebih lanjut, pria ini tampan rupawan. Punya pesona tersendiri yang mampu menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.
Eray jelas kesal. Kesal, bukan cemburu. Karena ketika keduanya pulang dari klinik, orang-orang di sekitar rumahnya menaruh atensi mereka kepada Agata.
Pria asing. Masih muda, tampan, dan tinggi. Bersanding pula dengan dirinya yang jarang menampakkan batang hidungnya kepada para tetangga tercinta.
Kombinasi sempurna untuk dapatkan tatapan serta bisikan dari mereka.
Eray menggeleng, mengusir kekesalan yang tak jelas setelah ia pikirkan matang-matang. Benar-benar kelelahan ia, bisa-bisanya ia naik pitam hanya karena hal demikian.
Ia buka pintu, persilakan pria di belakangnya masuk terlebih dahulu. Dimintanya Agata untuk duduk di ruang tengah. Status pasiennya yang buat Eray dengan enggan beranjak menuju dapur, ambil dua mangkuk untuk tuangkan bubur ayam dari tukang yang sudah tak ditemuinya selama tiga bulan.
๐๐ช๐ฃ๐ถ๐ฌ, bukan alasan, kenyataan pahit yang diungkapkan olehnya ketika ditanya kemana saja ia tiga bulan ini tak lagi membeli bubur ayam pengganjal perutnya di pagi hari.
Abang penjual untungnya paham. Mengangguk penuh simpati sebelum menambahkan lebih banyak suwiran ayam ke dalam racikannya.
"Biar semangat," ujarnya.
Eray tak enak, bayaran lebihnya juga ditolak mentah-mentah. Katanya jika tak sibuk, lebih sering-sering ia harus mampir, memesan seporsi bubur ayam sembari mendengarkan cerita si Abang mengenai keluarganya.
Eray tertawa saja. Lepas, nyata, bukan palsu atau paksaan. Tawa yang tak dibuat-buat untuk menghadapi rekan kerja ataupun atasan yang minta macam-macam.
Dan dari sudut pandangannya, Eray yakin tak salah lihat. Bahwa Agata memandanginya dengan seksama.
ย
Agata baru saja merenung ketika Eray tiba di ruang tengah. Pria dengan surai hangat itu membawa nampan berisi dua mangkuk bubur ayam dan dua gelas air.
Sang pemilik rumah mmenaruh salah satu mangkuk dan gelas di hadapan Agata. Sendok disodorkan tepat di depannya.
"Makan dulu. Kamu masih harus minum obat, 'kan?" suaranya mengudara. Datar, tanpa rasa khawatir yang dibuat-buat. Netral.
Agata mengangguk, sendok diraihnya, sesendok bubur masuk dalam mulutnya.
๐๐ฐ๐ธ.
Ia berkedip sekali, dua kali, sebelum dengan sadar mempercepat kunyahan dan masuknya sesendok bubur yang lain. Lahap ia makan.
Iniโฆ ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฌ. Benar-benar enak, bukan karena ia hampir tak pernah mendapat makanan layak beberapa hari terakhir. Hanya enak. Luar biasa enak!
"Pfft--"
Ia buru-buru mengangkat kepala. Netranya membola saat disodori pemandangan tawa lepas sesaat pria di hadapannya.
Eray, Eray Ryuki nama lengkapnya. Pria baik hati yang menolongnya. Penolong, penyelamatnya.
Agata tampak tenggelam dalam indahnya tawa singkat pria tersebut. Bagaimana ia buru-buru menutupi jejak-jejak tawa tersebut dengan meminum minumannya, bagaimana ia tampak malu dengan apa yang baru saja ia lakukan. Atau tentang bagaimana kedua pipinya bersemu kemerahan.
๐๐ฉ, ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข.
Tawanya, rasa bersalahnya, merah di kedua pipinya. Dan batuk yang menjadi pelajarannya setelah diam-diam menertawakan orang lain dan minum dengan buru-buru.
Indah, benar-benar ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฉ.
ย
Katakanlah Eray gila.
"Emang gila."
"Diem, Yot."
"Enggak, Ray, lu butuh disadarkan!" Pria di hadapan Eray, kawan lamanya menunjuk-nunjuk hidung bengir pria bersurai cokelat tersebut dengan garpu.
"Lu nampung orang tanpa asal-usul jelas di rumah lu, lu kasih dia makan, sediain tempat berteduh dari hujan dan panas, dan lu bisa-bisanya bersikap santai."
Kedua bahu ia angkat, "Ya," jawabnya asal-asalan.
"Edan! ๐๐ข๐ฏ๐ค๐ฆ๐ฏ ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฌ ๐ช๐ฌ๐ช!"
Kesal juga ia diteriaki. Dan yang lebih tak mengenakannya adalah dengan cara pelanggan kafe mengalihkan perhatian kepada keduanya. Memandang mereka dengan wajah penasaran dan kesal.
"Diem, Yot."
"Elu yang diem, Eray! ๐๐ฐ ๐บ๐ฐ๐ถ ๐ณ๐ฆ๐ข๐ญ๐ช๐ป๐ฆ ๐ฉ๐ฐ๐ธ ๐ค๐ณ๐ข๐ป๐บ ๐บ๐ฐ๐ถ'๐ณ๐ฆ ๐ง๐ฐ๐ณ ๐ญ๐ฆ๐ต๐ต๐ช๐ฏ๐จ ๐ข ๐ค๐ฐ๐ฎ๐ฑ๐ญ๐ฆ๐ต๐ฆ ๐ด๐ต๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ณ ๐ต๐ฐ ๐ด๐ต๐ข๐บ ๐ข๐ต ๐บ๐ฐ๐ถ๐ณ ๐ฑ๐ญ๐ข๐ค๐ฆ?!"
Do you realize how crazy you're for letting a complete stranger to stay at your place?
"Ya udah, sih!"
Ah, naik pitam juga ia. Gigitan agresif diberikannya kepada sepotong kue tak bersalah yang dipesannya. Setelah hampir tersedak ia meraih minuman dan menghabiskannya dalam sekali teguk.
Ia balas tunjuk pria di hadapannya, "Ini masalah gue juga. Kalaupun gue bakal kena sial, ini bakal jadi kesalahan gue."
"Lah, emang, 'kan?!"
Ck, teman macam apa yang tak memberikan dukungan kepada temannya. Teman palsu! Eray menuntut ganti rugi!
Yah, walaupun ia sadar dengan poin pembicaraan Ryoutaa. Membiarkan orang asing tinggal di rumahnya? Wah, keputusan tergila yang pernah ia buat selama hampir 27 tahun ia hadir di dunia.
Hampir tiga minggu Agata menumpang di rumahnya. Dan selama tiga minggu tersebut ia tak lagi menanyai apa yang sebenarnya dilalui pria dengan netra heterokromia tersebut sehingga saat pertama mereka berjumpa, ia tergeletak mengenaskan dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.
Eray memutar-mutar sedotan peduli lingkungan di antara jempol dan jari telunjuknya.
"Dia baik, kok. Bantuin gue bersih-bersih, nggak ngacak-acak rumah, nggak protes waktu gue bawain makan, dan pengertian waktu gue pulang dalam keadaan capek."
Pemilik manik cokelat hangat tersebut takut-takut menengok ekspresi kawannya ketika si pria dengan tindik di sebelah telinga tersebut diam. Bukan karena takut dimarahi, tapi karena malas dimarahi.
Berbeda. Jadi, tolong bedakan.
๐๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ.
Benar apa duganya, wajah Ryoutaa masam seluruhnya. Pria yang lebih muda terlebih dahulu menyodorkan selembar ๐ต๐ช๐ด๐ด๐ถ๐ฆ, memberi gestur ke sisi bibirnya. Eray meraihnya, ucapkan terima kasih singkat yang tak terdengar niatannya.
"Baik, Ray? Baik?" jeda sejenak sebelum badai menghadang, "Sekarang dia baik, besok pun mungkin masih baik. Tapi lusa, minggu depan? Nggak ada yang tahu, Eray!"
Ia ingin menyahut, memotong ucapan Ryoutaa yang mungkin tak akan ada habisnya. Tapi pria dengan manik merah muda tersebut terlebih dahulu membungkamnya dengan pertanyaan kurang ajar.
"Jangan bilang lo naksir dia?" Ryoutaa tertawa, sarkas. Sarkasme untuk Eray juga ia sendiri dengan pemikiran konyolnya.
Namun, ๐ด๐ฌ๐ข๐ฌ๐ฎ๐ข๐ต. Terdiam sempurna si surai hangat dibuatnya.
Tawa Ryoutaa juga langsung terhenti. Netranya melebar, mulutnya menganga tak percaya. Menolak percaya.
"Ray?"
"Diem."
"โฆ"
"โฆ"
"โฆ๐๐ข๐ฏ๐คโ"
ย
Ada alasan kuat mengapa Ryoutaa terkejut. Eray sadar akan hal tersebut.
Lebih dari lima tahun mereka berteman. Eray tahu tabiat Ryoutaa, begitu pula sebaliknya. Eray tahu Ryoutaa akan mengigau saat tidur, Ryoutaa tahu Eray butuh memeluk sesuatu agar tertidur.
Pemahaman di antara mereka juga sama kuatnya dalam urusan hati. Eray tahu Ryoutaa naksir berat dengan teman sekamarnya, Ryoutaa tahu bahwa mudah untuk buat Eray jatuh cinta.
Barista di kafe langganan mereka yang memberi senyum bisnis berhasil buat Eray hampir tersandung, kenalan Eray dalam video game sukses warnai pipinya dengan merah ketika pertama mereka bertemu.
Bahkan kawan lama dengan hobi serupanya, Eray merana sejadi-jadinya di hari kawannya itu menggandeng orang lain ke pelaminan.
"Bodoh banget dia kalau masalah cinta," komentar Ryoutaa.
Eray, dengan pipi dialiri air mata, kedua netra memerah dan bengkak, juga kepala pusing akibat dehidrasi melempar kulit kacang yang tersebar di sisinya.
"Bacot!"
Ryoutaa masih tak mau berhenti. Selalu ambil tiap kesempatan yang datang, kesempatan untuk mengejek kisah cinta ngenes Eray misalnya.
"Udahlah tiap jatuh cinta dapet jatuhnya doang, cintanya enggak."
"Takut ๐ค๐ฐ๐ฏ๐ง๐ฆ๐ด๐ด, pengen mengangumi dari jauh, eh, ujung-ujungnya keduluan sama orang lain."
"Sekalinya mau diseriusin, ternyata malah jadi simpanan."
Rizu, teman sekamar Ryoutaa, yang sedari tadi diam menyimak perseteruan dua temannya ini perlahan-lahan menjauhi Eray ketika aura suram di sekitar pria yang lebih tua menebal.
Sementara Ryoutaa masih berceloteh panjang lebar, membuat daftar panjang keapesan Eray dalam hal percintaan.
"Gue bilang bacot, ๐ด๐ฉ๐ช๐ฃ๐ข๐ญ!"
Meledak sudah Eray. Kali ini bukan saja kulit kacang yang dilemparinya, bungkus makanan, kunci motor, bahkan jaket malang yang tergeletak di dekatnya.
Ryoutaa yang tak sempat menghindar berkali-kali terkena lemparan Eray, si surai ungu itu mengaduh, meminta ampun kepada yang lebih tua.
"Ampun, Mas, ampun! ๐๐ข ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ข๐ญ๐ฆ๐ฏ๐ช ๐ฏ๐ฆ๐ฉ, janji, dah!"
"Bodoamat!"
Sekalipun benar apa yang dikata Ryoutaa, Eray masihlah kesal tiap si surai ungu itu mengungkitnya. Memang, memang benar kisah cintanya tak pernah ada yang berjalan mulus. Memang benar ia mudah jatuh cinta dan patah hati.
Tapi apakah perlu untuk diperjelas?!
"โฆRay, Eray? Kak?"
"Ya!"
๐๐จ๐ฉ, hampir saja piring di tangan ia lempar. Terkejut bukan main saat Agata meraih bahunya.
Ia buru-buru berbalik, menghadap yang lebih muda setelah piring ia letakkan di wastafel dan menutup keran. Sekarang ia dapat lihat dengan jelas pria dengan surai hitam dihiasi merah tersebut. Agata tepat berdiri di hadapannya, membuatnya terhimpit antara tamunya dan wastafel.
๐๐ฅ๐ถ๐ฉ. Eray butuh bendera putih untuk ia kibarkan. Jantungnya berdetak tak karuan, takut-takut ia bahwa detakan organ itu dapat di dengar pria dengan manik heterokromia tersebut.
"Ada apa, Gat?"
Dilihatnya Agata menatapnya dengan khawatir. Si pemilik manik heterokromia tersebut mengulurkan sebelah tangan, mengecek suhu yang lebih tua.
"Kecapekan kah, Ray? Istirahat dulu, gue aja yang lanjutin."
๐๐ฉ ๐ฎ๐บ, ๐ญ๐ถ๐ต๐ถ๐ต๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ด.
Dengan pandangan kosong Eray mengangguk, membasuh tangan dan berjalan ke arah ruang tengah tanpa apapun terlintas dalam pikiran. Ia duduk, termenung sempurna tak menghiraukan acara berita yang ditampilkan di layar televisi.
Sudah bertahun-tahun ia merantau jauh dari kampung halaman, selama tahun-tahun itu pula ia lakukan apapun sendirian. Berpikir untuk tak merepotkan dan mengganggu orang lain. Jarang sekali ia biarkan orang-orang mengulurkan tangan, mendekat untuk membantu dirinya.
Pulang dari kantor dengan keadaan kelelahan, biasanya ia akan terlebih dahulu merapikan kediaman, dan tergeletak mengenaskan karena lelah.
Tapi sekarang ada Agata, rumah sewanya bersih ketika ia pulang. Tak perlu lagi ia repot membeli makan atau tidur dalam keadaan kelaparan karena terlalu malas memasak.
Setelah mandi, beranjak beberapa langkah ke dapur, ia akan temukan hidangan sederhana yang Agata masak. Ia hanya perlu mencuci piring setelah makan, itupun kadang-kadang karena Agata tak pernah membiarkannya.
Lalu setelahnya mereka akan duduk bersebelahan di sofa. Dengan bahu yang sesekali bersentuhan dan komentar singkat tentang tayangan tengah malam.
Eray terkadang akan curi-curi pandang, mencoba menengok ekspresi apa yang diberikan si surai hitam berhias merah tersebut.
Lalu ia akan buru-buru mengalihkan pandang kala manik heterokromia tersebut terfokus padanya, dengan pipi merona ia mengangkat topik asal-asalan agar pandangan intens tersebut tak lagi diberikan kepadanya.
Dan sialnya Agata akan terkekeh. Kekehan ringan tersamarkan yang buat rona pada kedua pipinya makin merah.
Eray lalu akan beralasan bahwa ia mengantuk. Terlalu lelah dengan kegiatan hari ini dan kemudian lari ke arah kamarnya.
Tawa Agata kemudian akan mengeras, sekali Eray menengok ke belakang, pria itu menggeleng heran dan meraih remot di meja untuk matikan tayangan yang dinikmati keduanya sebelumnya.
๐๐ฉ, ๐ด๐ช๐ข๐ญ! Rasanya kepala Eray berasap tiap mengingatnya.
Buru-buru ia menggeleng, mencoba mengusir kenangan indah itu jauh-jauh sebab Agata kini beranjak ke arahnya. Dengan santai si surai hitam tersebut duduk di sebelahnya, sebelah tangan menyelinap di atas sandaran sofa, tepat di belakang kepala Eray.
Entah mengapa Eray merasa akan ada yang berbeda setelah malam ini.
ย
Agata alihkan pandang ke sosok di sampingnya.
Di pertengahan acara yang disiarkan, Eray hampir saja terjerembap sebelum ia dengan buru-buru menangkap tubuhnya. Si surai hangat tersebut ternyata terlelap, tak terbangun meski dirinya hampir menghantam lantai. Agata terdiam sejenak, meneliti lebih jauh rupa Eray di rengkuhannya.
Kelopak matanya terpejam erat, sembunyikan netra sehangat kopi di pagi hari tersebut dengan bulu mata lebat ciptakan bayangan karena sorotan lampu di atasnya. Bibirnya sedikit terbuka, sesekali merengut dengan alis bertaut seakan tidurnya tengah disinggahi oleh mimpi buruk.
Rambut cokelat dengan ujung ungu tersebut terlalu dekat dengan hidung Agata, aroma shampo yang digunakan oleh orang yang kini menampungnya itu menguar menggelitiknya.
๐๐ข๐ฏ๐จ๐ช.
Aroma ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ต bercampur lavender, juga dengan ekaliptus samar oleh minyak angin yang dioleskan Eray di tengkuknya itu menggoda Agata untuk menghirupnya lebih dalam.
Tapi akal sehatnya terlebih dahulu menariknya menjauh dari batas kewarasan yang hendak dilewatinya. Berbisik padanya bahwa ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐๐จ๐ข๐ต๐ข, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ต. ๐๐ข๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ซ๐ข๐ถ๐ฉ ๐ญ๐ข๐จ๐ช. ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฏ๐จ๐ด๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐บ๐ข.
Tangan Agata yang melingkari tubuh Eray mengepal, netranya terpejam erat. Ia tarik napas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan. Kemudian ia pandangi kembali wajah rupawan dalam pelukannya.
Ia tampak damai. Tanpa masalah, tanpa beban dan bahaya. Ia ingin Eray selamanya hidup aman.
Kebaikan hati pria ini yang selamatkan dirinya jadi, sudah sepantasnya ia mengharap yang terbaik baginya, bukan?
Hanya sajaโฆ
Agata ingin sedikit serakah, ingin sedikit memanjakan diri walaupun hanya untuk malam ini. Karena sebentar lagi ia perlu pergi, menghilang dan tak kembali lagi kepada yang kini menempati hatinya.
Tubuh yang tak jauh berbeda darinya itu ia rengkuh. Rangkulan ringan pada pinggang dan pundak pria bersurai cokelat sebelum kepalanya ia telesakkan pada perpotongan leher Eray.
Sedikit lagi, sedikit lebih lama lagi. Lalu ia berjanji, ia berjanji hidup damai Eray tak lagi akan ia usik. Tak akan lagi ia mengharap balasan cinta darinya. Jadi, ๐ต๐ฐ๐ญ๐ฐ๐ฏ๐จ, tolong biarkan sebentarโ
"Gat?"
ย
Dalam lelapnya, Eray merasa hangat. Dan sedikit sesak dan tak nyaman pada leher dan punggungnya.
Sepertinya baru sejenak kepalanya berhenti bersuara, baru sejenak pula ia terpejam. Namun, rasa tak nyaman itu memaksa ia membuka mata, menengok sekeliling dengan heran sebelum akhirnya sadar bahwa kini ia dalam pelukan seseorang.
Dan orang itu adalahโฆ
"Gat?"
Eray rasakan tubuh yang merengkuhnya terperanjat, terkejut dengan panggilan mendadaknya. Napas yang menggelitik lehernya bahkan berhenti sejenak sebelum kembali menyapu kulit bersihnya yang terekspos.
Tapi Agata tak melepaskannya. Rengkuhannya malah mengerat, enggan melonggarkan barang sedetikpun sebelum bisikan ringan mengisi kekosongan di antara keduanya.
"Akan lebih baik kalau lo nggak bangun. Lebih baik lagi kalau lo pura-pura nggak tahu."
Serak, suara halus Agata kini serak.
"Kalau gini gue makin takut."
Eray mungkin tahu apa yang ditakutkan oleh Agata, mungkin juga ia tidak. Tapi ingin dirinya abai sejenak, abai dengan derita yang mungkin akan hampiri keduanya di masa mendatang.
Jadi, dengan abainya itu ia bawa kedua lengannya untuk merengkuh bahu lebar Agata. Dengan abainya itu ia berikan usapan sayang pada surai hitam berhias merah tersebut.
Agata tersentak, dapat ia rasakan bagaimana tubuh yang menempel erat padanya itu perlahan-lahan longgarkan rengkuhannya. Eray hanya diam ketika kepala Agata terangkat, perlihatkan ketidakberdayaan pada kedua manik berbeda warna miliknya.
Mungkin ini bukan waktu yang tepat, mungkin pula tak seharusnya ia lakukan, tapi akal sehatnya ucapkan selamat tinggal sebelum terjun bebas manakala Eray bawa wajah itu mendekat. Ia bubuhkan kecupan singkat di atas bibir Agata yang terkunci rapat.
Eray memejamkan kedua matanya erat-erat. Takut dengan balasan apa yang akan diberikan Agata setelah aksi kurang ajar sesaat.
Tapi sumpah serapah tak kunjung datang, pukulan atau tamparan juga tak mendarat. Malah tarikan kuat pada lengannya sebelum ciuman paksa yang menyinggahi bibirnya.
Eray membuka matanya lebar-lebar, terkejut dengan apa yang jadi balasan Agata sebelum kembali menutup manik hangat tersebut ketika pandangan intens manik heterokromia pria tersebut membalasnya.
Ia dengan patuh buka mulutnya ketika Agata menjilati bibir bawahnya. Lalu lidah pria tersebut menelesak masuk, mengajak sang tuan rumah berduel dalam pertarungan yang dengan mudah dimenangkan olehnya.
Ciuman Agata terasa terburu-buru. Terasa seperti pria tersebut menahannya terlalu lama sebelum melepaskannya ketika Eray tak sengaja menciptakan retakan.
Napas Eray tersengal. Tak kuat ia dengan kegiatan ekstrim yang baru pertama dilakukannya. Ia memukul kecil bahu lebar Agata, meminta si surai hitam untuk memberinya jeda sejenak. Agata setuju, namun hanya sekejap sebelum ia kembali ๐ฅ๐ช๐ญ๐ข๐ฉ๐ข๐ฑ olehnya.
Kini Eray hanya bisa pasrah. Ia berikan kendali penuh atas tubuhnya kepada tamunya tersebut. Berjengit kaget saat tangan dingin Agata menyentuh belakang lehernya yang memanas.
Puas dengan lidahnya, Agata menjilati langit-langit mulutnya dari kanan ke kiri, dan berakhir mengabsen barisan giginya. Eray dibuat kacau, telinganya berdengung, kepalanya berdenyut, namun Agata masih tak rela melepaskan dirinya.
๐๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ช๐ฏ๐จ๐ด๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ด๐ข๐ฏ ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข๐ด ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ค๐ช๐ถ๐ฎ๐ข๐ฏ, ๐ฐ๐ฌ๐ข๐บ, ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฆ๐ต๐ช๐ด. Adalah apa yang dipikirkan oleh Eray sebelum ia mendorong pelan dada Agata. Ia butuh bernapas, dan ia tak mau kehilangan kesadaran karena berciuman.
Untungnya Agata menuruti permintaannya. Empunya surai hitam berhias merah tersebut menyudahi kegiatan panas mereka dengan ciuman ringan di atas belah bibir Eray yang membengkak.
Eray mengerjapkan dwi netranya beberapa kali. Kepalanya sedikit pusing, mungkin sebab kurangnya oksigen ke otak. Tapi ia tak melewatkan bagaimana Agata terkekeh.
"โฆKenapa ketawa?"
"Lucu banget kamu, ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ ciuman aja udah mau pingsan."
Alis Eray bertaut, jelas kesal dengan pernyataan sang tamu. Tapi hendak menyanggah pun ia tak bisa, karena memang benar pusing kepalanya sebab ciuman yang mereka lakukan.
Makin keras tawa Agata. Eray dapat lihat bagaimana tubuh si pemilik manik heterokromia tersebut bergetar, sebelum kedua lengan kuat memeluknya. Kepalanya menelesak di antara perpotongan leher, menggesek-gesekkan pipinya dengan kulit Eray yang memerah.
"Eray?"
Dengan kesal pemilik nama menyahut, "Hm."
"๐๐ถ๐ด๐ฉ ๐ฎ๐ฆ ๐ช๐ง ๐'m ๐ฃ๐ฆ๐ช๐ฏ๐จ ๐ต๐ฐ๐ฐ ๐ณ๐ถ๐ฅ๐ฆ. ๐๐ถ๐ต, boleh nggak kalau aku tidur sama kamu? Malam ini aja."
Harusnya Eray menolak. Kepalanya meneriakinya untuk mendorong pria yang memeluk pinggangnya tersebut, berkata bahwa ia tak boleh mengizinkan orang asing tidur bersamanya.
Atau harusnya Eray mengelak. Jika akal sehatnya masih di tempat, ia akan diteriaki orang gila karena selain tak ada status jelas di antara mereka, ia hanya tahu nama pria malang yang dengan iseng diselamatkannya itu.
๐๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข.
Tapi Eray abaikan semuanya. Karena bukannya mendorong jauh-jauh pria yang tak ia ketahui asal-usulnya tersebut, ia malah lingkarkan lengannya di sekitar leher si manik heterokromia tersebut.
"Semoga kamu bukan tipe yang berisik kalau tidur."
"Tenang aja. Aku nggak akan menganggu tidurmu," jawaban Agata kemudian diikuti dengan seruan kecil Eray karena pria itu tiba-tiba mengangkatnya.
Refleks, kedua kaki panjangnya ia lingkarkan di sekitar pinggang Agata. Karena posisi ini juga ia kini bertatap muka dengan sang tamu.
Dan tak selayaknya seorang tamu, Agata kembali melahap kedua belah bibir pemilik rumah yang sudah memerah merona sembari berjalan menuju kamar Eray yang tak tertutup rapat.
ย
โtbc.
