Actions

Work Header

Salon Kak Martin

Summary:

Martin bantuin Seonghyeon keramas tapi nggak minta cash buat bayaran. Pakai apa dong?

Notes:

Ditulis setelah Seonghyeon upload video main salon-salonan sama Martin :3 Might a little messy karena nulisnya impulsif dan spontan uhuy hihi

Work Text:

Seonghyeon itu paling nggak bisa punya rambut lepek, seenggaknya dia harus guyur kepala dengan air dingin sebelum tidur. Selain bikin lengket dan gatal, rasanya juga nggak etis buat nemuin bantalnya yang dingin dan wangi dengan ribuan helai surai terkontaminasi oleh banyak partikel entah apa namanya dari luar sana. 

 

Namun permasalahannya hari ini, kedua lengannya teramat pegal untuk diangkat ke atas. Disadari sesaat ia berupaya mengganti baju yang dikenakannya di atas panggung tiga puluh menit lalu, bahkan Seonghyeon nggak sadar dia mengerang lumayan keras sebab ngilu menjalar dari bahu hingga pergelangan tangan. Lehernya pula ikut-ikutan kaku, menambah penderitaan yang sudah ada. Pun Seonghyeon rasanya nggak enak hati untuk meminta bantuan begitu memikirkan anggota grup lainnya mungkin juga sama lelahnya karena penampilan yang lumayan gila-gilaan. 

 

Jadilah kini Seonghyeon terduduk dengan nafas yang agak memburu setelah susah payah mengganti pakaian menyesakkan dengan kaos hitam polos yang longgar dan kelewat nyaman. Keringatnya masih mengalir di pelipis, turun melewati samping telinga pun akhirnya jatuh bak tetes air hujan. Linu sekali badannya, dan pikirannya akan cepat dibaca via raut wajah yang memang selalu gagal untuk dimanipulasi—Seonghyeon pula tak pernah berusaha menutupi. Martin menyenggol perlahan lengannya, nggak mengetahui seringan apapun sentuhan mampu buat Seonghyeon merasakan ngilu hingga tenggorokan. Hingga si anak pertama mendecak frustasi, keluar rengekannya tanpa banyak niat untuk terdengar terusik. 

 

“Ditekuk terus mukanya kenapa sih? Kayaknya tadi di panggung heboh banget.”

 

“Tanganku sakit banget,” keluhnya sambil memijat pelan bagian bisep yang memang sangat mengeras. Seonghyeon benar-benar butuh mandi air hangat tapi mereka masih punya agenda yang harus dibereskan di kantornya, dan ia tidak mau mandi kalau tidak langsung beristirahat. 

 

“Tanganku juga sakit loooh.” Itu Keonho yang menyahut dengan nada khas orang meledek, walaupun nggak sepenuhnya bohong sebab anak itu memang sedang dalam masa pengobatan di buku jarinya.

 

“Diem deh jangan adu nasib. Beneran sakit banget, kayak habis olahraga nggak pakai pemanasan tau.”

 

Si kakak tertua merogoh tasnya kendati tatapannya nggak pernah berpindah dari ponsel yang Seonghyeon pun nggak tau sedang menampilkan apa. Kemudian dikeluarkannya dari sana botol lotion yang punya efek panas khusus untuk sendi linu, yang punya wangi khas untuk orang pegal-pegal. James menatap Martin sebelum mengisyaratkannya untuk menangkap benda itu dari jarak kurang lebih tiga meter, pun ditangkap oleh laki-laki itu dengan piawai. “Sini, pake dulu krimnya biar lemes tangan kamu.”

 

Kaos bagian lengan digulung perlahan oleh Martin hingga terlihat seperti sleeveless, sesekali ia meringis tanpa menolak apapun yang Martin kerahkan untuk membuatnya merasa lebih baik. Krim dingin itu akhirnya menyebar pula di permukaan kulit bisep yang lumayan terbentuk untuk ukuran remaja sepertinya. Martin memastikan krim itu mengelilingi sempurna pada bagian yang menegang, pun ia melakukan hal yang sama pada bagian satunya sebelum kembali menurunkan gulungan baju ke posisi semula.

 

“Thank you, kakak.”

 

“Iya. Ada lagi gak yang sakit?”

 

“Nggak ada, tapi rambutku lepek banget…”

 

“Nggak selepek itu kok kelihatannya,” timpal Juhoon yang awalnya sibuk berkutat dengan buku bacaan dan telinga disumpal earphone. 

 

Seonghyeon lama-lama cemberut, pun menggeleng untuk menolak pernyataan Juhoon yang ia yakin sangat-sangat jujur. “Iya tapi kan aku yang rasain, kak Juhoon. Nggak enak kayak ada kutu yang jalan.”

 

Tiga pasang mata langsung mendelik ke arahnya, Keonho dan James yang paling jelas memasang raut wajah dengan tersirat seruan ewww bahkan tanpa perlu dikeluarkan suara secara nyata. Sedangkan Juhoon hanya tertawa pelan melihat sinkronisasi dari kakak tertua dan anggota paling muda di grup mereka, pun Seonghyeon nggak memedulikan tatapan jijik itu sama sekali. 

 

“Keramas lah sana?” 

 

“Nggak bisa, tanganku sakit diangkat ke atas.”

 

“Dikeramasin aja di tempat yang buat creambath itu, jam segini harusnya udah sepi.”

 

Usul dari Juhoon langsung nyambung di pikiran Seonghyeon, tatapannya tanpa pikir dua kali di arahkan ke Keonho yang juga sudah mengarah kepadanya. Namun bukannya memberikan cengiran licik seperti pada umumnya, Keonho malah menggeleng sambil menggerak-gerakkan jari telunjuk ke kanan dan kiri. Penolakan mutlak yang buat Seonghyeon mendecak sebal. 

 

“Ayo dong bantuin aku, Keonho.”

 

“Nggak bisa Hyeon, kamu nggak liat bentukan tanganku nih?”

 

“Kamu bilang itu udah gak sakit!”

 

“Sakit kalau dipakai bantuin kamu.”

 

Seonghyeon melempar Keonho dengan bantal di sofa yang ia genggam sedari awal, tidak terlalu kencang sebab Seonghyeon langsung mengerang kesakitan. Mengundang khawatir Martin yang duduk menyimak di samping Seonghyeon, sesekali ia cuman tertawa atas obrolan yang menurutnya selalu lucu di tengah-tengah lima sekawan.

 

“Ayo sama aku aja mau gak?” Martin menawarkan diri penuh lapang dada, tangannya melingkar di bahu Seonghyeon hingga yang lebih muda mau tidak mau menempel kepada tubuh besar Martin dan terlihat tenggelam dengan mudah. Seonghyeon malahan menyandarkan kepalanya ke bahu sang kakak sangat pasrah, berpikirlah ia selama beberapa detik sebelum mengangguk mengiyakan. 


Rasa-rasanya Martin memang sudah terlatih untuk menerima segala keluhan yang asalnya dari mulut manis Eom Seonghyeon. Dalam berbagai konteks seperti menu makan malam, baju mana yang bagus untuk pergi ke bandara, pilihan film yang membosankan, atau ranjang Martin yang terlihat berantakan. Jadilah ia hanya tersenyum maklum atau sesekali terkekeh geli melihat Seonghyeon mengucap rentetan aduan kecil dengan keadaan rambut basah kuyup dan busa shampoo tebal.

 

“Aduh masuk telinga, kakaak.”

 

“Pas dibilas, telinga aku sambil ditutupin dong.”

 

“Belakang kepala aku masih gatal.”

 

“Airnya panasin dikit bisa nggak? Eh… Kepanasan! Dingin aja deh dingin, nggak usah panas.”

 

“Kak Martin! Busanya nyiprat ke mata!”

 

Martin menaruh pancuran airnya di wastafel yang menjadi tumpuan kepala Seonghyeon saat ini, tangannya mengusap lembut bagian mata yang lebih muda dengan tangan yang telah bersih dari busa. Kepalanya makin merunduk untuk memerhatikan Seonghyeon yang menutup sebelah mata sambil meringis sebab perih sedikit merambat ke bagian mata kanannya. 

 

“Maaf yaa, sakit nggak?”

 

Seonghyeon berkedip-kedip cepat sembari menyesuaikan kembali pencahayaan yang masuk ke penglihatan, namun bukannya mendapati langit-langit ruangan yang sedari tadi ditatapnya, malah ada wajah Martin yang kelewat dekat membuat ia bersemu merah. Terlalu dekat. Wajah Martin dilihatnya dengan posisi terbalik, ekspresinya khawatir dengan alis yang berkerut unik. Atraktif. Martin memang selalu menarik. Akhirnya Seonghyeon jadi tidak tahan untuk nyengir dan mengeluarkan tawa menggemaskan—setidaknya bagi Martin—ia merasa konyol dengan keadaan yang baru dirasakannya selama hampir satu tahun grup ini terbentuk.

 

“Nggak sakiiit. Lanjutin bilasnya, leher aku mulai pegel.”

 

Jari-jemari Martin yang memang terkenal panjang jadi sangat mudah untuk meraup belakang kepala Seonghyeon dengan pijatan-pijatan lembut nan menenangkan, busa shampoo yang tersisa dengan bersembunyi di belakang rambutnya disiram habis hingga tuntas pun Martin tidak berhenti mengarahkan air mengalir melewati kulit kepala Seonghyeon yang dikeluhkan gatal seperti ada kutu berjalan di atasnya. Tentunya hiperbola, sebab Martin tahu betul seberapa sering Seonghyeon memberi perhatian lebih atas kebersihan diri sendiri. Pijatan di kepala beralih turun ke tengkuk Seonghyeon hingga sang pemilik memejamkan mata rapat-rapat, kepalanya sedikit diangkat ke atas untuk membiarkan Martin memberinya lebih banyak tekanan di leher yang linu.

 

“Kan aku sering bilangin, tiap pemanasan tuh yang bener. Jangan cuman asal keringetan.” Martin berucap pelan, ujung pancuran air ditempelkan sempurna ke belakang kepala Seonghyeon membuat yang lebih muda bergidik kedinginan. Kendati begitu ia tak menyuruh Martin untuk menariknya menjauh, berarti Seonghyeon malahan menikmati.

 

Ia membalas teguran Martin dengan gumaman. Tangannya pelan-pelan diangkat tidak terlalu tinggi untuk mengusap bagian mata yang banyak terkena percikan air, kemudian ia membuka lagi matanya hingga beradu pandang dengan yang lebih tua.

 

“Udahan deh, kakak, dingin.”

 

“Masih lengket gak kepalanya?”

 

Seonghyeon menggeleng dengan senyuman puas, kedua lengannya ditekuk setengah untuk memberi Martin dua jempol seolah Martin benar-benar pekerja salon yang melakukan servis terbaik.

 

“Dua jempol untuk salonnya, kak Martin.”

 

“Bayar laah. Enak aja, emangnya aku lagi diskon grand opening?”

 

“Kakak lebih kaya dari aku!”

 

“Aku nggak terima cash,” sahut Martin mengundang alis Seonghyeon yang mengerut bingung. 

 

“Merem coba.”

 

“Apaan sih jangan aneh-aneh!”

 

Martin terkikik geli sebab kalau Seonghyeon setakut itu, seharusnya tinggal bangun saja dari rebahnya di kursi salon. Namun alih-alih melakukannya, yang lebih muda menurut juga untuk menutup matanya tanpa ragu. Pikir Martin begitu, sebab ia bisa melihat dengan jelas kedut bibir Seonghyeon yang sepertinya sudah menebak kemana arah dan tujuan Martin akan berlabuh. 

 

Dan benar saja: dua detik setelah Seonghyeon memejamkan mata, nafas hangat menggelitik pelan di ujung dagu hingga bagian rahangnya. Hidung mancung Martin menyapa di sana, di dagu dingin miliknya sebab mengikuti suhu ruangan. Pelan-pelan Seonghyeon juga merasakan dagu Martin yang sedikit panjang dan ramping turut jadi satu dengan indra penciumannya, sebelum akhirnya bibir sang kakak yang nggak pernah berhenti mengaplikasikan pelembab bibir jadi satu dengan ranum miliknya. Seonghyeon sedikit mengintip demi menemukan gambaran posisi di antara mereka, sayangnya ia hanya bisa menatap lekuk leher Martin dan jakun fenomenalnya yang membuat Seonghyeon buru-buru kembali menghalangi penglihatan. Ia membiarkan Martin menekan ciuman lembut yang sebetulnya jarang terjadi kendati keduanya memang menjalani hubungan semenjak beberapa bulan berlalu. 

 

Di detik Martin menarik dirinya menjauh, Seonghyeon tertawa kencang mendapati wajah sang kakak memerah total hingga garis rahang. 

 

“Udah ya, kak Martin. Lunas bayarannya.”