Actions

Work Header

We're Nothing, I swear.

Summary:

"Hei, Dazai," panggil Odasaku. Dazai lansung menengok ke Odasaku yang duduk di sampingnya itu.

"Kenapa, Odasaku?" tanyanya.

"Kamu kencan dengan Chuuya?"

Air yang sedang Dazai minum lansung menyembur dan membasahi meja. Matanya membelalak dengan lebar.

"Aku?! Dan Chuuya?! Kencan?!"

Ango yang melihat kejadian itu lansung menepuk-nepuk punggung Dazai, takut ia tersedak lagi.

"Zai, kamu tahu ngga kalau sudah ada rumor bahwa kalian berdua kencan?" Ango melanjutkan.

Dazai hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Ngga.. Aku? Dan si Chuuya?! Ngga banget! Pertama, aku heteroseksual, kedua, kami hanya sebatas teman dan rival, ketiga, aku ngga suka Chuuya!! Lagipula kalian kok bisa mikir kami kencan?!" Dazai membantah semua tuduhan yang terlontar.

"Ya karna..."

Notes:

Tiba-tiba aku kepikiran buat ini. Aku lagi lihat-lihat beberapa panel manga momen Soukoku, dan aku baru sadar kalau kadang tatapan Dazai ke Chuuya kayak melembut. Dari situ aku kepikiran, Dazai kayaknya memang punya soft spot (atau mungkin perasaan lebih?) buat Chuuya tapi dia ngga sadar hehe. Anyway, ini juga fanfict pertamaku

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Pagi, Chuuya!" sapa Dazai yang baru saja menginjakkan kakinya di kelas Chuuya. Chuuya yang merasa terpanggil itu berhenti membongkar tasnya dan segera menengok ke belakang. Wajah miliknya yang sebelumnya biasa saja berubah menjadi jengkel. 

"Apa? Jangan ganggu dulu, aku sibuk," jawab Chuuya ketus.

Mendengar balasan dari laki-laki bersurai jingga yang terdengar ketus itu, Dazai lansung memasang ekspresi ngambek miliknya yang kekanakan.

"Chuuya! Kamu paling tidak bisa balas sapaanku terlebih dahulu!"

Chuuya tak menjawab. Dia hanya memutar bola matanya dan memalingkan wajah. Dazai yang merasa terabaikan melangkah lebih dekat. Kini, Dazai sudah ada di belakang Chuuya yang tengah sibuk membuka satu persatu buku catatan miliknya. 

"Chuuya nyari apa?"

"Tugas matematika. Bukunya ngga ada di dalam tas! Masalahnya guru matematikaku ini killer! Bisa-bisa aku dihajar, cih."

Mendengar hal tersebut, Dazai tertawa. Hal ini membuat suasana hati Chuuya yang sudah buruk menjadi lebih buruk, membuat dirinya reflek memukul kepala Dazai dengan salah satu bukunya. 

"Aw! Sakit tahu!" Dazai meringis kesakitan, sedangkan Chuuya hanya menyeringai puas telah memukul Dazai. Tapi, melihat kembali ke buku-bukunya, Chuuya lansung kembali teringat dengan tugasnya itu. Chuuya menghela napas panjang, ia berhenti mencari-cari bukunya yang sudah pasti ternyata dia tidak bawa. Masalahnya, guru matematika ini tidak menerima alasan apapun, dan Chuuya sudah memastikan bahwa dirinya akan dibentak habis-habisan. Wajahnya berubah lesu, Chuuya membuka buku matematikanya.

"Jadi, kamu mau kerjakan ulang?" tanya Dazai. 

"Ya terus? Aku ngga mau ya disuruh guru itu berdiri di lapangan panas-panasan. Masalahnya, ini aku agak lupa jawabannya apa, sedangkan kelas masuk lima belas menit lagi."

Dazai yang mendengar keluhan Chuuya kemudian duduk di sebelahnya. Tanpa mengatakan apapun, ia lansung mengambil pulpen yang sedang Chuuya genggam. Lagi, dia juga mengambil buku matematika Chuuya dan membacanya sekilas. 

Chuuya mengangkat satu alisnya. 

"Oy, Dazai. Mau ngapain? Sini kembalikan pulpen sama bukuku!"

Chuuya yang ingin merebut pulpen dan bukunya kembali lansung ditepis oleh Dazai.

"Kamu mau tugasnya selesai ngga? Aku tahu kapasitas otakmu itu lebih bodoh daripada aku, jadi aku saja yang selesaikan ini."

Chuuya agak terkejut. Ya, Dazai memang genius, seharusnya tugas matematika Chuuya ini bukan apa-apa untuknya. Tapi Chuuya tahu Dazai bukan tipe orang yang berbaik hati dengan cuma-cuma. 

"Oke, tapi kenapa kamu mau bantu?"

Dazai terdiam sejenak. Sepertinya laki-laki bersurai brunet juga tak sadar dengan apa yang dilakukannya, namun Dazai dengan cepat menjawab (atau mungkin membuat) alasannya. 

"Heh, nanti kalau suasana hatimu jelek terus, kamu jadi ngga seru buat aku ganggu."

Chuuya terdiam, namun ekspresinya jengkel. Ah, tentu saja Dazai pasti akan begitu. Ia berharap apa? Jawaban manis dan tulus? Kalau benar-benar terjadi, artinya dunia sudah mau kiamat. 

Tujuh menit. Tujuh menit saja waktu yang Dazai butuhkan untuk menyelesaikan tugas matematika Chuuya. Dazai lansung mengembalikan buku-buku tersebut pada pemiliknya.

"Iya Chuuya, sama-sama."

"Cih, terima kasih," ucap Chuuya meski rasanya tidak sudi. Tapi dia tak bisa menyangkal bahwa Dazai telah membantu dan menyelamatkan hidupnya pagi ini. Dazai berdiri, kelihatannya akan pergi dari kelas Chuuya. Akhirnya, akhirnya si brunet pergi, batin Chuuya. Dan benar, Dazai berjalan menuju pintu kelas, dan berhenti sejenak di depannya.

"Chuuya, sebagai bayarannya, kamu jadi anjingku selama seminggu, dadah!"

"HEI DAZAI BRENGSEK! AKU NGGA PERNAH SETUJU DENGAN HAL ITU!"

Dan Dazai sudah menghilang. Chuuya ingin segera menyusulnya, namun tak ada lagi sisa jejak maupun siluet Dazai.

 

Chuuya merasa pundaknya ditepuk. Ia melihat ke belakang. Osamu Dazai. Ah, si brengsek ini sudah datang, padahal bel pulang sekolah baru saja dibunyikan beberapa menit lalu.

"Apa?!" bentak Chuuya.

"Mau nagih janji. Kamu jadi anjingku untuk seminggu!"

Chuuya yang mendengarnya reflek menendang kaki Dazai, namun kali ini Dazai berhasil memprediksi hal itu dan berhasil menghindar.

"Aku ngga pernah setuju soal hal itu ya, bajingan!"

Dazai hanya memasang wajah mengejek. Siswa-siswi lain yang melihat mereka hanya bisa menggelengkan kepala. Chuuya yang sadar bahwa saat ini dirinya dan Dazai jadi pusat perhatian lansung menarik tangan Dazai dengan kasar. Chuuya membawa Dazai menuju halaman belakang sekolah yang sudah kosong. 

"Oke. Dazai kau memang brengsek!" 

Wajah Chuuya sekarang telah memerah akibat penuh dengan amarah. Sedangakan Dazai? Dia hanya menyeringai puas. Dazai selalu suka, selalu suka saat Chuuya mengekspresikan emosi emosi miliknya, dan juga Dazai senang melihat Chuuya mendidih. Untuknya melihat seseorang terpancing oleh Dazai itu menyenangkan untuknya, entah mengapa. Ada kepuasan tersendiri bagi hati Dazai. 

"Chuuya, begini caramu membalas aku? Kamu selamat dari guru killer itu karna aku bantu. Lagipula, jadi anjingku tidak seburuk itu juga."

"Kalau tahu begini, aku lebih baik dihukum dan dibentak guru itu! Jadi anjingmu itu adalah mimpi burukku yang terburuk!"

Dazai hanya memasang seringai puas. 

"Chuuya, menggonggong keras kepemilikmu itu ngga baik!" ejek Dazai.

Dazai dapat merasakan bahwa Chuuya semakin mendidih, dan betul sekali—Dazai ditendang oleh Chuuya sampai terjatuh.

"Hei! Kok gitu! Aku ngga nerima kekerasan fisik!" Dazai merengek.

"Cih, itu belum sebanding ya dengan semua yang telah kamu lakukan sebelumnya! Waktu itu kamu lansung asal minum jus anggurku! Terus kamu juga maksa aku traktir kamu, kamu suruh aku belikan kamu makanan dari kantin, dan masih banyak lagi! Yang kamu lakukan hanya terus-terusan merusak hariku! Kamu pernah ngga sih sadar atas kesalahan-kesalahanmu?! Aku membencimu, Osamu."

Dazai terdiam. Chuuya tak melihat Dazai memasang ekspresi apapun. Melihat Dazai yang biasanya memberi serangan balasan menjadi terdiam membuat Chuuya memikirkan kembali kata-katanya. Apa dirinya sudah berlebihan? Karna dibalik banyaknya hal menyebalkan yang Dazai lakukan, Chuuya akui dia juga berkali-kali membantu Chuuya. Misal membantu mengerjakan tugasnya seperti tadi, membujuk guru untuk tidak memarahi Chuuya, dan lainnya. 

Sunyi, suasana mereka yang awalnya panas dan membara kini terasa kosong, hanya ada angin lembut sore yang sejuk menyentuh kulit mereka. Tidak ada yang mampu mengatakan kata-kata apapun. Sampai akhirnya, Dazai yang awalnya terduduk di tanah berdiri.

"Ayo pulang, nanti keburu terlalu sore."

Dazai segera berjalan lebih dahulu, diikuti oleh Chuuya di belakangnya. Sepanjang perjalanan singkat menuju gerbang sekolah itu, tak ada salah dari mereka yang sanggup membahas kejadian tadi. Sepertinya, dinilai dari ekspresi Dazai yang untuk pertama kalinya terlihat kusut, mungkin dia juga memikirkan mengenai kata-kata Chuuya. Chuuya sendiri tidak tahu, apakah yang dia katakan tadi benar-benar seburuk itu atau memang seharusnya begitu? Kalau Chuuya bisa jujur, melihat Dazai memasang ekspresi selain senang, merajuk, ataupun ekspresi mengejek itu asing. Terutama, alasannya kali ini karena Chuuya.

Sampai di gerbang, mereka berdua berhenti melangkah. 

"Sampai jumpa besok, Chuuya."

Dazai melambaikan tangannya sambil berjalan, berbelok ke arah kanan. Chuuya juga (dengan ragu) melambaikan tangannya kembali juga. Dazai yang tenang tadi, bagi Chuuya kedengarannya seperti memaksa bahwa tidak ada yang terjadi di antara mereka. Chuuya menarik napas panjang, kemudian melihat warna langit yang sudah semakin oranye. 

Dari belakang, terdengar suara langkah kaki, mungkin sekitar dua orang.

"Kak Chuuya, kok belum pulang?" tanya suara familiar dari belakang Chuuya. Atsushi Nakajima, yang sudah pasti juga bersama Ryuunosuke Akutagawa.

Chuuya membalikkan badan dan memasang senyum kecut.

"Oh, hai kalian berdua..." sapa Chuuya dengan suara yang agak lebih pelan. Tentu saja Atsushi dan Akutagawa menyadari perubahan Chuuya—jelas sekali bahwa Chuuya kedengarannya lebih lesu daripada biasanya.

"Kak Chuuya, ada kejadian apa?" ujar Atsushi agak cemas. Chuuya lansung menggelengkan kepalanya.

"Tidak, tidak apa. Hanya ada sedikit masalah."

"Kalau hanya masalah kecil, kakak jarang sampai lesu begini." Akutagawa ikut menimbrung.

"Nanti aku ceritakan saja di jalan. Ayo cepat pulang."

 

Atsushi dan Akutagawa saling memandang satu sama lain. Mereka berdua masih sama-sama menunggu Chuuya untuk membuka mulutnya.

"Jadi, aku agak bertengkar dengan Dazai."

Chuuya akhirnya membuka mulutnya. Dia agak ragu apakah perlu untuk menceritakan masalah antara dirinya dan Dazai.

"Eh, kenapa kak?"

"Intinya Dazai ganggu aku seperti biasanya, terus kali ini aku beneran meledak banget, kemudian? Ntahlah, aku kayaknya ngomong sesuatu yang agak berlebihan. Masalahnya, Dazai ngga ngomong apapun soal hal itu, dan itu buat aku justru lebih... cemas."

Chuuya menceritakan secara garis besar sambil juga menahan perasaan bersalah. Ia juga menahan dirinya agar tak terlalu emosional di depan Atsushi dan Akutagawa, terlebih lagi ini masalah yang cukup kecil, bisa dibilang.

"Kita lihat saja nanti, kak. Kak Dazai bukan tipe orang yang terlalu memasukkan kata-kata ke dalam hati, kok..." Atsushi mencoba menenangkan Chuuya.

"Lebih baik kalian saling minta maaf. Lagipula, aku tebak kata-kata kakak juga bukan kebohongan atau dibuat-buat. Kak Dazai memang terkadang bersikap... begitulah." Akutagawa juga ikut berbicara.

Chuuya berjalan sambil hanya memandang ke bawah. Dia bingung kenapa tadi membiarkan dirinya dikuasai emosi, tapi disaat yang bersamaan, kata-kata Akutagawa juga ada benarnya. Dazai memang terkadang bersikap agak berlebihan juga, dan orang normal pasti akan mengatakan hal yang sama dengan Chuuya. Tapi, entah kenapa Chuuya merasa bersalah. Seharusnya tidak apa, bukan? Yang dia lakukan seharusnya tidak salah. Tapi melihat Dazai yang terdiam membuatnya berpikir dua kali atas kata-katanya, terutama saat Chuuya bilang dia benci Dazai. Benci itu kata yang kuat, bukan sekadar kesal atau ketidak sukaan dangkal lainnya.

 

Dazai membuka pintu kamarnya, dia melempar tas sekolahnya dan segera merebahkan dirinya yang masih memakai seragam itu di tempat tidur. Lelah. Terutama tadi Chuuya juga akhirnya meledak. Dazai sudah biasa menghadapi hal sejenis itu, bahkan ia sudah mendengar kata-kata yang lebih menyakitkan seperti "dasar iblis" ataupun "bocah setan". Kebencian? Itu hal-hal yang sudah biasa Dazai konsumsi, dan dia tahu bahwa itu konsekuensi dari perilakunya yang memang dia akui juga menyebalkan. 

Aku membencimu, Osamu.

Aku membencimu, Osamu.

Aku. Membencimu. Osamu.

Entah mengapa, kata kebencian yang datang dari Chuuya terasa agak menyesakkan—apalagi disitu Chuuya memanggilnya sebagai Osamu. Bukan Dazai, tapi Osamu. Dazai sendiri juga bingung dengan perasaannya, dan dia tahu bahwa Chuuya juga tidak serius dalam kata-katanya (terlihat dari eskpresi tidak enaknya setelah berkata demikian). Tapi tetap saja dirinya merasa gelisah. Baiklah, mungkin kali ini dia harus meminta saran dari teman-teman dekatnya. 

Dazai membuka ponsel yang sedari tadi ia simpan dalam saku celananya, kemudian membuka pesan grub "Lupin Trio".

 

Lupin Trio<3

Dazai: @Semua tolonggg

Oda: Ada apa, Dazai?

Ango: Tumben kamu minta tolong, biasanya cuma ngerusuh

Dazai: Ango kok gituuu🥺🥺🥺 Beneran, bantu plsplspls

Oda: Ada apa memangnya? Ada masalah?

Dazai: Yyaa begitulah kurang lebih. Aku sama Chuuya berantem

Ango: Kamu ngapain memangnya, Zai?

Dazai: Ya kuganggu kayak biasanya, tapi kali ini Chuuya marah banget (serem tau). Terus dia bilang "Aku membencimu, Osamu". Bayangin, dia bilang "Aku. Membencimu. Osamu."

Ango: Oke...? Biasanya kamu diomongin lebih jahat ngga reaksi apa-apa, tumben?

Dazai: Incqi2iqosndbej, aku juga ngga tau. Makanya aku minta tolong kalian

Oda: Mungkin karna kalian dekat? Biasanya kalau orang terdekat yg ngomong, memang rasanya lebih nyakitin.

Dazai: Tapi aku sama Chuuya ngga dekat?¿

Ango: Terserah kamu, Zai. Saranku sih minta maaf aja ke Chuuya kalau kamu mau memperbaiki hubungan

Dazai: Tapi ngomongnya gimana, aku gatau

Oda: Mau aku bantu buat permintaan maafnya?

Dazai: ODASAKU PENYELAMATKU<3

Ango: Good luck ya

Dazai: Oke Ango!

 

Sekitar satu jam Dazai dan Odasaku berdiskusi tentang apa yang harus dilakukan. Membuat permintaan maaf seharusnya cukup sepuluh menit juga bisa, tapi Dazai yang egonya cukup tinggi membuat hal tersebut agak lama.

"Ngga! Kelihatan banget aku kayak memohon."

"Odasaku, disitu kayak hidupku bergantung banget sama Chuuya, ganti!"

"Kenapa kedengarannya kayak aku ngga punya teman lain selain Chuuya? Ganti lagi!!!"

Begitu saja terus sampai satu jam berlalu. Dazai banyak bersyukur mengenai Odasaku yang mau bersabar menuruti dirinya.

 

Lupin Trio<3

Dazai: Ango, lihat ini.

Ango: Sudah selesai rencana minta maafnya?

Oda: Sudah. Rencananya Dazai mau kirim lewat chat setelah ini.

Ango: Wow, kenapa ngga besok aja di sekolah?

Oda: Dazai bilang dia malu.

Dazai: Mana ada aku malu?!!#_($ Kalau besok kesannya kayak kelamaan. Lebih baik segera diselesaikan.

Ango: Alasan aja. Oke, terserah kamu. Coba lihat.

Dazai: Bentar.

Dazai: Hei Chuuya, tentang kejadian tadi pulang sekolah, aku minta maaf. Kayaknya benar yang kamu bilang, aku sedikit berlebihan kadang.

Ango: Satu jam kamu dan Odasaku diskusi cuma buat dua kalimat???

Oda: Bocah ini egonya tinggi.

Dazai: HEI!! Kalian jahat, ngga ada yang berpihak padaku.

Oda: Kami ngga tau mau bela kamu gimana. Kalau mau menyalahkan Chuuya karna memukulimu, alasan dia valid.

Ango: Aku no komen, semoga lancar, Zai.

Dazai: Hmph, oke.

 

Dazai menutup pesan grub Lupin Trio. Ia menghela napas panjang, bohong kalau dia bilang dirinya tidak gugup. Ini pertama kali setelah bertahun-tahun dia meminta maaf kepada orang lain, terlebih lagi orang ini adalah Chuuya. Dazai memang bisa melihat ekspresi Chuuya yang jadi agak muram, entah karena Chuuya merasa bersalah atau memang Chuuya merasa dirinya merusak suasana antara mereka berdua. Oke, lupakan itu semua—kalau semua ini berakhir memalukan, Dazai bisa tinggal berpura-pura tidak ada yang pernah terjadi—bahkan bolos kalau dirinya mau. Dazai akhirnya membuka ruang pesan dengan kontak bernama "Chuuya Pendek" itu.

Dazai: Chuuya

Pesan terkirim. Dazai membuka permainan ponselnya sambil menunggu balasan dari Chuuya.

Chuuya: Kenapa?

Balasan datang cukup cepat. Dazai lansung mempersiapkan jarinya untuk mengirim permintaan maaf singkat itu.

Dazai: Hei Chuuya, tentang kejadian tadi pulang sekolah, aku minta maaf. Kayaknya benar yang kamu bilang, aku sedikit berlebihan kadang.

Chuuya: HAH

Chuuya: Aku ngga nyangka kamu minta maaf.

Dazai: Cuma kamu yang bisa aku ganggu. Kalau kamu ngga ada, aku bisa mati bosaaaan.

Chuuya: Kan. Permintaan maaf yang ngga tulus. Terserahlah.

Dazai: Chuuya! Ini tulus! Asal kamu tahu aku ngetiknya sampai satu jam!

Chuuya: Bohong banget. Apa-apaan ngetik begituan sampai satu jam.

Dazai: Serius.

Pesan Dazai hanya dibaca oleh Chuuya. Dazai sedikit merasa risau, jawaban Chuuya seperti tidak memaafkannya tapi diwaktu yang sama juga tidak terlihat seperti benar-benar marah.

Chuuya: Aku maafkan. Aku juga minta maaf soal kata-kataku yang agak kasar, Osamu.

Dazai terdiam sejenak. Aku membencimu, Osamu kini diakhiri terganti dengan aku juga minta maaf, Osamu. Dazai lega, pertama kalinya dia merasa lega atas menjaga sebuah hubungan, biasanya dia tidak peduli. 

Iya. Biasanya Dazai tidak peduli. Menyadari hal tersebut, Dazai lansung terbangun dari kasurnya, aku biasanya tidak peduli. Tapi kenapa merusak pertemanan dengan Chuuya terasa berat? Ah, mungkin memang benar karena Chuuya satu-satunya sumber kepuasan Dazai. Bagaimana tatapan Chuuya berubah saat Dazai mengganggu dirinya, bagaimana keningnya berkerut, bagaimana wajah Chuuya memerah karena amarah, itu memberi Dazai kepuasaan sendiri. Iya, benar karena itu—karena Chuuya satu-satunya orang yang memberi reaksi seru saat Dazai ganggu.


Ujian telah selesai, remedial telah selesai, sekarang hanya classmeet saja yang tersisa. Membosankan. Dazai merasa tidak ada yang seru dari melihat teman-temannya berlomba, kecuali ada momen memalukan. Jadi, dia memilih untuk menjadi penonton saja.

Di sisi lain, Chuuya sedang gugup. Dirinya juga tak tahu mengapa ia bisa punya ide untuk ikut lomba tulis dan baca puisi. Atsushi dan Akutagawa kini menemaninya di salah satu kelas kosong, menunggu gilirannya untuk dipanggil.

"Kak Chuuya, semangat! Kakak pasti bisa, waktu latihan, kakak udah bagus banget, kok!" Atsushi menyemangati. 

Akutagawa membaca-baca ulang puisi yang Chuuya tulis. "Seharusnya semua akan lancar, asal kakak tidak gugup."

"Arghhh! Aku menyesal, apa sih yang ada dipikiranku waktu daftar lomba ini..." 

Atsushi hanya mengusap pelan pundak Chuuya. Dirinya dan juga Akutagawa berharap yang terbaik untuk Chuuya, mereka berdua tahu kalau Chuuya sudah berusaha keras dalam puisi ini meskipun Chuuya mengaku bahwa dirinya tak ada niat menyeriusi hal ini.

 

Dazai duduk disalah satu bangku penonton yang paling depan. Disini, anak teater sedang... tentu saja berakting dalam sebuah drama. Dazai memandangi mereka tanpa ekspresi, membosankan. Hanya begini, nanti begitu, semuanya mudah sekali ditebak. Tidak adakah hal yang lebih menarik untuk bisa dia nikmati? 

"Haha! Begitulah," tawa dari anak yang duduk dari sebelah Dazai terdengar. Perempuan itu punya rambut berwarna merah muda, panjangnya kurang lebih sepunggung, serta matanya berwarna ungu. Dazai sepertinya tahu siapa dia—kalau tidak salah dia merupakan salah satu teman sekelas Chuuya yang dekat dengannya. Dazai mencoba mengingat-ingat nama perempuan di sampingnya itu. Ah, Yuan. Jujur saja, Dazai benar-benar terganggu dengan Yuan dan entah siapa di sampingnya yang asik tertawa, cukup berisik. 

"Haha! Kok begitu??! H-heii!" 

Kini, Yuan yang didorong-dorong oleh temannya jadi tanpa sengaja bersender ke Dazai. Dazai dapat merasakan kepala perempuan berambut merah muda itu ada di pundaknya. Yuan yang sadar akan hal itu lansung menjauhkan dirinya.

"Maaf, aku tidak sengaja!" kata Yuan.

Dazai memutar bolanya dan memalingkan wajah tanpa mengucapkan apapun. Menjengkelkan. Dazai tidak terlalu suka dengan kontak fisik, apalagi sampai bersender—lagi, dengan orang yang tidak dekat sama sekali. Sudahlah suasana buruk karena dia bosan, ditambah lagi dengan ini. Dazai menyilangkan lengannya sambil menatap ke arah lain, peduli apa dia dengan teater yang sedang berlangsung.

"Baiklah, sekarang kita akan lanjutkan ke sesi selanjutnya, membaca puisi!" ucap Ango yang kebetulan menjadi pembawa acara. 

"Kita sambut, Chuuya Nakahara!"

Dazai lansung memalingkan mukanya ke panggung. Chuuya? Ikut lomba? Puisi pula? Dazai tak menyangka, lebih lagi, Chuuya juga tidak bilang apa-apa kalau ternyata dia ikut lomba classmeet ini. Dazai jadi cekikikan sendiri, ia tak sabar menunggu Chuuya mulai—siapa tahu dirinya bisa mempermalukan Chuuya, karena Dazai tahu Chuuya bukan tipe orang yang tidak gugup di atas panggung.

Chuuya mengambil mikrofon yang diberikan. Detak jantungnya berdetak sangat kencang, kaki dan tangannya sedikit gemetar. Gawat. Dazai ada di bangku paling depan, sudah begitu memasang senyum mengejek seolah-olah menunggu Chuuya melakukan kesalahan. Chuuya menelan ludah, bagaimana kalau dia gagal. Matanya berlari kemana-mana, sampai akhirnya ia melihat Atsushi dan Akutagawa yang tersenyum dan memberi kode "semangat" dari barisan kedua. Chuuya menghela napas panjang, ia mulai membacakan puisinya.

“For the tainted sorrow:

Today too snow falls on it;

For the tainted sorrow:

Today too wind blows on it.”

(Diambil dari kutipan asli puisi Upon The Tainted Sorrow oleh penyair Chūya Nakahara.)

 

Dazai terdiam. Tidak ada celah untuk menjelek-jelekkan Chuuya yang sedang tampil—justru, ia tampil dan membacakan puisinya dengan indah. Tanpa sadar, senyum tipis terukir dibibirnya. Rasanya, Dazai sampai lupa cara bernapas. Rasanya, seluruh hal yang ada di sekitar menghilang dan hanya tersisa Chuuya. Rasanya, suara Chuuya terdengar lebih indah dari musik apapun saat Chuuya membacakan puisinya. Dazai bahkan tak lagi mendengar apa yang Chuuya bacakan, Dazai hanya fokus pada wajah Chuuya dan juga suaranya yang terdengar seperti melodi dan harmoni yang sempurna. Chuuya sekarang ini bagaikan seorang penari di atas panggung dan bergerak dengan lihai dalam intonasinya, Chuuya sekarang ini—

"Kagum boleh, tapi jangan sampai hilang fokus total juga, Dazai."

Odasaku menepuk Dazai yang sedang termenung. Dazai juga baru sadar dengan apa yang dia pikirkan, pipinya memerah sendiri.

"Terima kasih atas penampilannya, Chuuya. Mari kita beri tepuk tangan!"

Kerumunan penonton disitu lansung bertepuk tangan dengan meriah, Dazai juga bertepuk tangan pelan sambil mencoba melupakan dirinya yang sempat tercenung dalam penampilan Chuuya barusan.

"Penampilan sahabatmu itu bagus, ya," puji Odasaku yang duduk di sebelah Dazai.

"Pertama, Chuuya bukan sahabatku. Kedua, penampilannya biasa aja. Ya, kayak pembaca puisi pada umumnya."

"Kamu bicara begitu kayak tadi ngga melongok aja melihat penampilan—"

"Engga, Odasaku! Itu, itu tadi aku fokus merhatikan Ango!"

Odasaku hanya mengangguk-angguk saja. Kalau dia dorong lagi pembahasan ini, yang ada Dazai bisa berubah merah seperti tomat.

Chuuya lansung cepat-cepat turun dari panggung, dia lansung menuju kelasnya. Chuuya pelan-pelan mengatur napas setelah penampilan 'besar'nya. Chuuya tak tahu dia melakukannya dengan baik atau tidak, pikirannya kosong karena terlalu fokus dengan puisinya. Dia hanya berharap kalau dirinya membaca puisi itu dengan baik. Terutama, ketika ada Dazai yang pasti akan sibuk mencari celah dari kesalahan dirinya sekecil apapun itu.

"Kak Chuuya! Gila, kakak tadi keren banget!" Atsushi menyanjung. Hal tersebut diikuti dengan anggukan pelan Akutagawa. Chuuya menyengih, meski baginya penampilan dirinya tadi tidak memuaskan (untuk Chuuya sendiri), paling tidak ia berhasil membuat Atsushi dan Akutagawa bangga padanya. Ya sudahlah, yang penting Atsushi dan Akutagawa tidak kecewa padanya.

"Ohh, chibi disini toh." Suara yang familiar—terlalu familiar bahkan terdengar.

"Kak Dazai..." cetus Akutagawa. 

Dazai menghiraukan Atsushi dan Akutagawa, dia lansung mendekatkan ke Chuuya.

"Apa?" Chuuya menyiapkan kesabarannya untuk mendengar celotehan Dazai.

"Ngga ada. Aku ngga nyangka kalau Chuuya bisa baca puisi. Aku kira Chuuya cuma bisa marah-marah."

"Brengsek! Kau kira aku marah karna apa?!" senggak Chuuya yang kini menarik kerah baju Dazai.

"Aduh, santai donggg. Aku cuma bercanda kok," kata Dazai. Chuuya melepas genggamannya. Dazai sedikit menjauh.

"Sudah ya, aku cuma mau lihat kalau kamu setelah di atas panggung tadi gemetar hebat atau engga. Dadah, Chuuya!"

Chuuya duduk dengan kasar disalah satu kursi. Baru saja dia tenang karena telah melewati mimpi buruknya (yaitu penampilan di atas panggung), Dazai justru datang menghancurkannya. Chuuya menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya agar tak dikuasai emosi.

"Kak, aku tahu penyampaian kak Dazai menjengkelkan, tapi tolong jangan dimasukkan ke hati, ya. Tadi maksud kak Dazai adalah kalau pembacaan puisi kakak bagus." Atsushi mencoba menenangkan Chuuya.

"Omong kosong."

"Tidak. Kalau memang buruk, kak Dazai pasti lansung bilang kalau penampilan kak Chuuya jelek, tapi dia justru bilang kalau kakak ternyata bisa," tutur Akutagawa. Chuuya memutar bola matanya, tapi memang tak bisa dibantah kalau perkataan Akutagawa ada benarnya. Chuuya berdiri dari kursinya.

"Sudahlah. Aku mau cari angin, males ngomongin soal Dazai."

Chuuya melangkah keluar dari kelas. Di tengah perjalanan menuju taman sekolah, di lorong, ia menabrak seseorang. Seorang laki-laki yang lebih tinggi darinya dengan rambut berwarna agak kemerahan. Oda Sakunosuke, sahabat dekat Dazai.

"Chuuya? Tidak apa?" Odasaku mengulurkan tangannya. Chuuya mengambil uluran tangan itu dan berdiri.

"Maaf, aku ngga sengaja nabrak kamu, kak Oda."

Odasaku tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya, berkata "tidak apa."

"Omong-omong, penampilanmu tadi benar-benar bagus, Chuuya," puji Odasaku yang sanggup membuat Chuuya sedikit memerah.

"Ahaha, terima kasih, kak. Biasa saja, kok," ucap Chuuya canggung.

"Tidak melebih-lebihkan, kok. Tadi Dazai saja sampai bengong melihat penampilanmu."

Chuuya termangu dan sedikit memiringkan kepalanya. Dazai? Bengong karena penampilannya? Candaan apa ini?

"Mana mungkin."

"Aku tidak bohong, Chuuya."

Sial. Membayangkan sang Osamu Dazai terpaku dengan pembacaan puisinya membuat Chuuya memerah karena malu. Odasaku hanya tertawa kecil.

"Ya sudah, aku duluan ya, Chuuya."

Odasaku pergi, sedangkan Chuuya masih membisu di tengah lorong. Tidak bisa dipercaya.


Liburan akan segera tiba. Sekolah mengadakan sebuah perjalanan liburan untuk para siswa. Dalam liburan tersebut, beberapa kelas digabung, (sialnya) termasuk kelas Dazai dan Chuuya. Lebih buruk lagi? Mereka berdua duduk sebangku dalam bus. Bayangkan menghabiskan waktu berjam-jam perjalanan bersama dengan teman yang tidak terlalu disukai. Ini jelas sekali sebuah penyiksaan. Tapi, Dazai ataupun Chuuya bisa apa? Yang ada mereka justru diomeli guru kalau sampai minta pindah.

Chuuya mencoba menggapai bagasi atas untuk menaruh tasnya. Bukan salah Chuuya kalau tingginya hanya sekitar 150 sentimeter. Bahkan setelah berjinjit, ia tak bisa menggapai bagasi tersebut. 

"Chuuya, perbanyak minum susu deh, saranku."

Dazai dari belakang Chuuya membantunya memasukkan tas Chuuya dalam bagasi tersebut—tentu saja wajib disertai dengan sebuah ejekan. Chuuya menginjak kaki Dazai dengan kuat, sanggup membuat Dazai sedikit meringis. 

"Ngga tahu diri!"

Chuuya hanya menyeringai dan tak membalas apapun, justru ia dengan santai duduk ke kursinya. Dazai? Ia juga ujung-ujungnya duduk sambil menyilangkan lengannya. 

Tujuan perjalanan mereka ini menuju akuarium. Seluruh siswa diabsen terlebih dahulu, dan kemudian bus segera berangkat. Sepanjang perjalanan, Chuuya tenang mendengarkan musik, sedangkan Dazai bermain permainan daring diponselnya, seperti biasanya. Namun, sinyal di jalan ini benar-benar buruk. Dazai memilih untuk mengakhiri permainannya dan mencoba memerhatikan sekitar. Dazai melihat wajah Chuuya yang terpancar sinar matahari. Kulitnya berwarna putih dan terlihat lembut, rambutnya berwarna jingga menjadi lebih menyala di bawah sinar matahari, serta matanya yang berwarna biru seperti langit siang menatap tenang ke arah luar jendela. Cantik. Dazai ingin sekali mengelus rambut jingga itu.

Semua biasa saja sampai mata biru langit itu bertemu dengan mata cokelat gelap Dazai. Sial, Chuuya sadar bahwa Dazai sedang memerhatikan dirinya. Mereka berdua saling memalingkan wajah masing-masing penuh canggung.

"Kamu... ngapain lihatin aku?"

"Engga. Aku ngelihat ke pemandangan luar kok!" bantah Dazai. Chuuya justru terkekeh.

"Jelas banget kamu ngelihatnya ke aku, Osamu."

Osamu. Chuuya selalu tahu kapan harus memanggil Dazai dengan nama depannya. Kalau sudah begini, entah kenapa Dazai merasa berat untuk lanjut mengelak. Jadi, Dazai hanya bisa terdiam membisu. Chuuya? Tentu saja cekikikan. Di tengah hal tersebut, Dazai kembali lagi memandangi Chuuya dan tawanya yang manis (begitu pikir Dazai). Berhenti tertawa, Chuuya lanjut fokus dengan musiknya.

"Chuuya dengar lagu apa?"

"Lagu apa aja yang ter-shuffle. Kenapa? Mau ikut dengar?"

Dazai menbeku. Seorang Chuuya Nakahara, seorang Chuuya tumben sekali menawarkan dirinya sesuatu, terlebih lagi menawarinya mendengar musik bersama. Dazai mencoba memasang wajah tanpa ekspresi sambil mengambil satu bagian lagi earphone yang Chuuya sedang pegang dan tawarkan pada Dazai. Oh, lagu pop pada umumnya yang sedang populer. Sampai, Dazai mendengar intro lagu yang cukup populer.

"Loh, Chuuya dengar band MSI?"

"Iya. Kenapa?"

"Aku juga."

Akhirnya, akhirnya ada suatu kesamaan positif antara Dazai dan Chuuya. Untuk pertama kalinya, mereka berdua akhirnya berbincang bersama tanpa ada pertengkaran, hanya sebuah obrolan biasa. Dimulai dari musik favorit dari band tersebut, dilanjut dengan hal-hal lain dan keluhan mereka bersama.

"Ternyata bukan cuma aku yang kurang suka Pak Mori."

"Kak Rimbaud itu insipirasi utamaku buat mulai nulis puisi."

"Fyodor dan Nikolai sepertinya pacaran."

"Kak Kouyou itu OSIS terbaik."

Begitu terus sampai mereka tak sadar bahwa bus akhirnya telah tiba di akuarium. Mereka berdua buru-buru turun dari bus. Tentunya, di depan mereka harus pesan tiket (dan sekolah yang bayar, pasti) terlebih dahulu. Gelang kertas yang terlingkar di lengan mereka adalah bukti masuk. Guru-guru meminta para murid berbaris, kemudian mereka dibebaskan untuk pergi, asalkan tidak jauh-jauh dan tidak sendirian, serta diwajibkan kembali paling lama dua jam lagi. 

Dazai agak bingung mau pergi ke mana sampai akhirnya tangan miliknya ditarik oleh Chuuya.

"Ayo lihat pinguin!" ucap Chuuya penuh antusias. Dazai tak berkata apapun dan hanya membiarkan dirinya ditarik oleh Chuuya. Jarang sekali Dazai melihat Chuuya bersikap penuh antusias begini, tanpa sadar melukis senyum dibibir Dazai.

Mereka berjalan sesuai petunjuk, dan akhirnya sampai. Ada juga beberapa murid lain seperti Tachihara, Higuchi, dan Kunikida disitu. Mereka saling sibuk mengobservasi pinguin.

"Chuuya, yang pendek sendiri ngingetin aku sama kamu," tunjuk Dazai ke salah satu pinguin kecil di gerombolan pinguin-pinguin yang lebih tinggi. Chuuya lansung memukul kepala Dazai.

"Diem. Aku bukan pinguin, bangsat."

Dazai hanya tertawa. Ia dapat melihat wajah Chuuya sekilas memerah. Wow, sepertinya Dazai harus terus-menerus menjahili Chuuya. 

Mereka berdua lanjut berjalan-jalan, entah melihat ikan, melihat aksi anjing laut, melihat penyelam dan sebagainya. Tidak lupa juga berfoto bersama. Tak terasa, dua jam telah berlalu. Sudah diinformasikan dari pesan grub untuk segera menuju pintu keluar. Dazai dan Chuuya segera berlari menuju pintu keluar.

Setelah absen, mereka semua diminta untuk kembali ke dalam bus dan duduk di tempat duduk masing-masing.

Chuuya duduk dengan lesu. 

"Capek, aku ngantuk."

"Tidur. Nanti aku bangunkan, janji."

Awalnya, wajah Chuuya menatap penuh keraguan (mengingat Dazai bisa saja melakukan 1001 hal saat dia sedang tidur). Namun, pada akhirnya, Chuuya menyandarkan kepalanya dengan santai ke kursi. 

Belum sampai sepuluh menit, Chuuya sudah ketiduran. Dazai yang baru sadar berujung memerhatikan Chuuya. Oh, wajah Chuuya yang tenang begini enak dipandang juga. Melihat Chuuya sudah tidur, ia membuka ponselnya dan membuka sosial media (berharap tidak terlalu lag, dan untungnya iya). 

Dazai dapat merasakan sebuah kepala dipundaknya. Chuuya. Chuuya tertidur dan tanpa sengaja bersandar kepundak Dazai. Hal itu lansung dipotret oleh Dazai untuk blackmailing Chuuya suatu hari. Tapi, apa sebenarnya Dazai membencinya? Tidak, sama sekali tidak. Ia tidak masalah kalau seseorang tertidur di sampingnya, dipundaknya, asalkan itu Chuuya.

"Beristirahatlah, Chuuya," bisik Dazai dengan lembut.

Chuuya merasakan seseorang menggoyangkan tubuhnya dengan kuat.

"Apa sih?!" bentak Chuuya sambil mengucek matanya yang baru saja ia buka.

"Sudah sampai, Chuuya."

Chuuya memaksa dirinya untuk sadar, kemudian memerhatikan sekitar. Bus sudah berhenti, satu persatu murid mulai keluar. Chuuya lansung berdiri untuk mengambil tasnya yang masih ada di bagasi—dan baru ingat kalau ia terlalu pendek untuk menggapai bagasi itu. 

"Sudah aku ambilkan tasmu, santai."

Wow. Dazai berbaik hati lagi? Kali ini tanpa mengucapkan satu kata pun hal buruk (belum, mungkin)? Chuuya sepertinya sedang mimpi.

Dazai menyodorkan sebuah tas berwarna hitam, milik Chuuya, dan Chuuya mengambilnya. Ia juga membuka isinya terlebih dahulu, siapa tahu ada barang yang Dazai curi.

"Aku ngga nyuri apapun, sumpah!"

Belum sempat Chuuya mengatakan apapun, guru sudah menyuruh mereka untuk keluar dari bus. Hanya tersisa mereka berdua saja yang masih ada di dalam bus. Segera, Dazai dan Chuuya keluar tergesa-gesa.

Dazai ingin segera pulang, ia merasa lelah. Tepat sebelum benar-benar melangkah pergi, ia merasakan pergelangan tangannya ditahan. Oleh siapa lagi kalau bukan Chuuya?

"Ugh, itu. Terima kasih, Osamu."

Dazai membisu, kemudian tertawa terbahak-bahak. Mendengar Chuuya berterima kasih padanya adalah salah satu hal terakhir yang dapat terlintas dalam pikirannya, dan siapa sangka bahwa hal tersebut benar-benar terjadi?

"Iya, iya. Akhirnya kamu tahu cara berterima kasih ya, Chuuya."

"Aku tarik ucapan terima kasihku!"


Setelah kurang lebih tiga minggu Dazai membusuk di kamar karena libur sekolah, akhirnya ia kembali. Dazai sudah sangat-sangat rindu dengan Odasaku, Ango, dan Chuuya. Bosan sekali hidupnya tanpa mereka semua.

Dazai melakukan hal seperti biasanya, masuk ke kelas, mengikuti pelajaran, dan menunggu jam istirahat. Anehnya, sudah beberapa kali orang-orang berbisik saat dia lewat. Sebenarnya sudah biasa hal seperti Dazai menjadi bahan omongan terjadi, tapi jumlahnya kali ini agak lebih banyak. Dazai tak mau ambil pusing, lebih baik dia fokus saja bertemu Odasaku dan Ango di kantin.

Setelah matanya menjelajah sekitar kantin, akhirnya ia menemukan tempat di mana Odasaku dan Ango duduk. Mereka berdua tengah sibuk membahas sesuatu—tebakan Dazai sih mereka sibuk membahas ujian akhir mengingat mereka sudah kelas 12.

Dazai duduk di samping mereka berdua.

"Hei, Dazai," panggil Odasaku.

Dazai menengok ke arah Odasaku dengan tatapan penuh tanya sambil meminum jus yang ia bawa.

"Kamu kencan dengan Chuuya?"

Jus yang diminum Dazai menyembur. Dazai tersedak sampai batuk-batuk, wajahnya terbelalak. Sedangkan Ango lansung menepuk-nepuk pelan punggung Dazai, berharap ia tak tersedak lagi.

"Aku? Dan Chuuya? Kencan?!"

"Ada rumor kalau kalian pacaran." Ango ikut-ikutan.

Dazai menggelengkan kepalanya dengan kuat.

"Gila! Kenapa kalian bisa kepikiran... kenapa bisa ada rumor itu juga?! Asal kalian tahu. Pertama, aku heteroseksual. Kedua, aku dan Chuuya bahkan bukan teman. Dan ketiga, aku ngga suka Chuuya!"

"Kamu yakin dengan hal itu, Dazai?"

Dazai mengangguk dengan kuat terhadap pertanyaan Odasaku.

"Ya pantas ada rumor, karna.. sebentar aku list. Pertama, kamu biasanya ngga mau bantu orang sama sekali bahkan kalau mereka memohon, sedangkan dengan Chuuya? Tanpa dia minta kamu biasanya tiba-tiba bantu. Kedua, kamu ngga pernah lihat Chuuya dengan tatapan dingin. Ketiga, kamu benci kalau dipegang, tapi ngga masalah kalau Chuuya gandeng atau tarik tanganmu. Keempat, waktu classmeet itu aku lihat kamu lansung menepis Yuan pas dia ngga sengaja bersandar ke kamu. Sedangkan Chuuya? Orang-orang sudah lihat gimana kamu ke Chuuya yang nyender ke pundakmu waktu jalan-jalan. Kelima, kalian–"

"Oke, Ango tolong berhenti!!! Itu.. itu..." Dazai menggaruk-garuk kepalanya, mencoba memikirkan alasan untuk menepis tuduhan yang ia dapati. Masalahnya, apa yang dikatakan Ango memang benar. 

Dazai diam membisu, dia juga membeku. Sial, sial, sial. Dazai baru sadar bahwa dirinya memang melembut dengan Chuuya. Dazai baru sadar kalau dirinya sedekat itu dengan Chuuya. Dazai baru sadar kalau mungkin dia... menyukai Chuuya?! Tidak. Tidak. Tidak. Osamu Dazai tidak mungkin menyukai Chuuya. Mereka bahkan tidak bersahabat dengan baik. Kini Dazai memukul kepalanya ke meja kantin.

"Dazai, jangan pukul kepalamu ke meja begitu." Odasaku menahan Dazai yang kini benar-benar berwarna merah lebih daripada tomat. Malu, sangat. Rasanya Dazai ingin meledak saja sekarang kalau dia bisa.

"Jadi, Zai... apa konfirmasimu?" tanya Ango.

"Haha... masa aku benar-benar suka Chuuya... tolong bilang aku cuma delusi."

Odasaku dan Ango yang melihatnya hanya bisa menghela napas.

"Ngga usah tarik kesimpulan dulu, Dazai. Coba kamu pikirkan pelan-pelan, apa kamu sebenarnya punya perasaan romantis atau platonik pada Chuuya," anjur Odasaku dengan bijak.

"Cara membedakannya gimana, Odasaku."

"Euh, gini. Kamu pikirkan perasaanmu pada kami, kemudian Chuuya. Lalu bayangkan secara romantis antara kami dan juga Chuuya. Nanti bisa dibedakan, kok," saran Ango ikut membantu.

Dazai melakukan yang Ango katakan. Tidak, Dazai tidak merasa luluh saat Odasaku ataupun Ango memanggilnya Osamu. Tidak, Dazai tidak menganggap Odasaku ataupun Ango cantik. Tidak, Dazai tidak sampai melongok saat melihat Odasaku ataupun Ango tampil. Iya, Dazai memang menganggap Odasaku ataupun Ango punya penampilan fisik luar biasa. Iya, Dazai juga terpesona saat Odasaku atau Ango berada di atas panggung—tapi hal-hal tersebut berbeda ketika itu Chuuya. Tidak, Dazai tidak bisa membayangkan hubungan romantis dengan Odasaku atau Ango, namun dengan Chuuya... Sial. Osamu sepertinya memang menyukai Chuuya.

"Odasaku, Ango... sekarang aku harus bagaimana." 

"Tidak perlu terlalu dipikirkan dulu, Zai. Kita lihat saja nanti, siapa tahu kamu tidak benar-benar suka Chuuya."

Dazai hanya mengangguk-angguk pada perkataan Ango.

 

"Atsushi Nakajima! Ryuunosuke Akutagawa!" Chuuya berteriak di kelas Atsushi dan Akutagawa. Kedua laki-laki yang tengah memakan bekal mereka sedikit terkejut melihat keberadaan Chuuya yang meneriaki mereka.

"Kak Chuuya, tenang. Ada apa?" tanya Akutagawa.

Wajah Chuuya memerah entah karena apa. Dirinya juga sedikit berkeringat, dan terlihat agak panik.

"Aku dengar. Aku dengar rumor antara aku dan Dazai kencan. Itu apa apaan?!?!?!"

Atsushi dan Akutagawa reflek saling memandang satu sama lain. Mereka memang sudah dengar banyak tentang rumor tersebut, tapi mereka memilih untuk diam.

"Euh, itu kak.. euh–"

"Ada juga fotoku tertidur dan bersandar ke Dazai!!! Ya Arahabaki, rasanya aku pengen meledak sekarang juga!!!"

Chuuya memukul-mukul kepalanya ke dinding penuh frustasi, dan Atsushi mencoba menghentikannya. 

"Kak Chuuya, tenang dulu. Toh ini cuma rumor," Akutagawa mengelus pelan pundak Chuuya.

"Aku ngga pernah suka Dazai, ngga akan. Aku ngga suka Dazai... Iya, aku ngga suka Dazai, kan?!"

Atsushi dan Akutagawa sama-sama menggelengkan kepala mereka. 

"Kak, tenang dulu, kak."

Wajah Chuuya memerah karena malu. Serius, ini akan jadi masa terburuk Chuuya di SMA. Dari semua orang, dia dijodohkan dengan Dazai? Masih ada orang seperti Yuan, atau mungkin Tachihara, tapi Dazai? Dazai?! Osamu Dazai?! Kepala Chuuya rasanya ingin meledak sekarang juga. Chuuya tidak suka Dazai. Chuuya tidak suka Dazai. Chuuya tidak suka Dazai?


Besok adalah hari valentine. Setelah diskusi panjang dengan Odasaku dan Ango, Dazai memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada Chuuya besok. 

 

Lupin Trio<3

Dazai: Aku gugup... Kira-kira Chuuya besok jawab apa ya?

Oda: Apapun jawabannya harus siap kamu terima, Dazai. Begitulah risiko menyatakan cinta. Kalau tidak siap, jangan dipaksa.

Ango: Coba saja dulu. Ditolak ataupun engga itu urusan nanti. 

Dazai: Tetap aja, aku deg-degan parah. Serius, tanganku gemetar hebat. Aku bukan khawatir soal respon Chuuya, aku lebih takut gagal.

Oda: Sudah, mending kamu tidur aja. Jangan terlalu dipikirkan. Biasanya kamu masalah ginian jago pura-pura bisanya.

Dazai: Ini beda, Odasaku!!!(($+$$-# 

Ango: Sudah dulu ya. Aku ijin offline, mau belajar. Good luck untuk besok, Dazai.

Dazai menarik napas panjang. Bisa, seorang Osamu Dazai pasti bisa. Dazai sudah melalui hal-hal yang lebih menyeramkan, seperti debat dengan anak kuliahan, tampil pidato di acara formal yang cukup besar. Kalau hanya berkata "aku menyukaimu" seharusnya gampang, bukan?

Dazai buru-buru memasukkan buku-bukunya. Tak lupa, ia juga masukkan sebatang cokelat yang ia siapkan untuk Chuuya hari ini. Hari ini hari yang spesial, dan Dazai hanya bisa berharap semua berjalan dengan lancar.

Dazai sampai di kelasnya. Sesuai tebakannya, sudah ada seseorang yang meninggalkan cokelat untuk Dazai. Sebagai salah satu siswa terpintar dan tertampan di sekolah, bukan hal mengejutkan bahwa dirinya akan menerima cokelat, atau bahkan mendapatkan ungkapan cinta dari murid lainnya—entah adik kelas, seangkatannya, ataupun kakak kelas. Toh hal tersebut tidak penting, Dazai sudah punya target yang menjadi tujuannya tersendiri—Chuuya Nakahara, siswa kelas sebelah yang punya rambut jingga, mata biru langit dan pendek itu. Sejauh ini, rasa gugup Dazai sudah berkurang, justru ia merasa percaya diri.

Dazai seperti biasanya mengunjungi kelas Chuuya. Di sana ia menemukan Chuuya yang sedang sibuk dengan ponselnya. Pelan-pelan, Dazai berjalan ke belakang Chuuya.

"Dor!" Dazai mengejutkan Chuuya, dan membuat laki-laki yang sedang duduk itu sampai berdiri.

"Dazai... dasar kau brengsek!!!" Chuuya bersiap untuk menendang Dazai, yang berhasil dihindari oleh Dazai. 

Dazai memerhatikan meja Chuuya. Ada sebatang cokelat juga. Apa ada orang yang menyatakan perasaan pada Chuuya? Kalau iya, siapa? Setahu Dazai, Chuuya tidak terlalu dekat dengan banyak orang dan tidak seterkenal itu, hanya Yuan, Tachihara, dan Yosano yang menjadi teman dekat Chuuya—oh, juga Atsushi dan Akutagawa. Atau mungkin mulai banyak orang yang menyukai Chuuya semenjak dia berpuisi waktu itu? Sial, apa ini artinya saingan Dazai dalam mendapatkan hati Chuuya bertambah?

"Cokelat dari siapa?" tanya Dazai dengan ketus.

"Ini? Dari siapa tadi ya... kalau ngga salah namanya Shirase."

Shirase? Siapa lagi itu. Dazai mencoba mengingat-ingat seseorang bernama Shirase. Oh, laki-laki berambut putih, dikenal sebagai berandal. Kenapa dia bisa memberi cokelat pada Chuuya?

"Oh? Wow, kamu dapat penggemar, ya."

"Iya. Katanya dia terpesona waktu aku tampil baca puisi waktu itu."

Dazai tetap tenang dan diam. Shirase ini mengganggu jalannya saja. Kemana orang-orang ini sebelum Chuuya tampil puisi? Paling tidak, Dazai sudah kenal Chuuya sejak mereka kelas 10.

"Dazai, kenapa bengong?" tanya Chuuya memecah lamunan Dazai.

"Oh, engga. Aku makan cokelatnya, ya!" Dazai mengambil cokelat tersebut tepat sebelum Chuuya menepis tangan Dazai. Di depan Chuuya, Dazai lansung memakan cokelat tersebut di depan mata Chuuya.

"Dazai!!!" Chuuya memukul Dazai dengan bukunya. Ouch, agak sakit sih. Tapi Dazai tidak peduli, yang penting Chuuya tidak memakan cokelat pemberian orang lain ini.

 

Sekolah usai, akhirnya. Dazai cepat-cepat merapikan bukunya. Ia tidak peduli kalau buku itu jadi terlipat. Yang penting, dia harus segera menyatakan cintanya pada Chuuya, dia tidak boleh (takutnya) kedahuluan orang lain.

"Iya, dadah Yosano!" Chuuya melambaikan tangannya pada Yosana yang akan pulang. Dazai yang melihat kelas Chuuya sudah kosong—tersisa Chuuya dan dirinya saja lansung mengambil kesempatan.

"Chuuya, temani aku."

"Ke?"

"Taman belakang."

Chuuya mengangkat alisnya. Namun ujung-ujungnya dia mengangguk. Chuuya mengikuti Dazai dari belakang. Diperjalanan, Dazai sambil membaca ulang kata-kata penyemangat dari Odasaku dan Ango, serta apa saja yang harus ia ucapkan nanti. 

Tiba di taman belakang, Dazai menarik napas panjang. Angin sepoi-sepoi di sore hari itu meniup rambut jingga Chuuya yang bersatu dengan warna langit. Apa Chuuya selalu secantik ini? Rumput-rumput yang bergoyang pelan, pohon-pohon teduh di sekitar menjadi saksi bisu Osamu Dazai dalam mengutarakan perasaan sukanya pada Chuuya Nakahara, teman dekatnya sejak kelas 10.

"Jadi, ada apa?"

"Chuuya. Aku menyukaimu, sungguh. Awalnya aku tidak sadar akan hal ini, namun setelah kupikirkan ulang, hatiku selalu punya ruang khusus untukmu. Mereka luluh, mereka melembut hanya untukmu. Tidak, aku sudah memastikan bahwa perasaan ini memang dalam bentuk romantis. Chuuya, aku tidak akan memaksaku bersama diriku, tapi aku berharap kamu mau menerima cintaku."

Indahnya cinta anak muda. Jujur. Sederhana. Spontan. Itu yang membuatnya begitu tulus dan romantis. 

Dazai melihat Chuuya yang ada di depannya. Matanya terbelalak. Chuuya tertegun. 

"HAH?!"

 

End.

Notes:

Ini pertama kalinya aku buat fanfict di ao3, apalagi menyelesaikannya. Aku berharap semuanya tidak terlalu.. meh, dan semoga tidak terlalu out of character (aku berusaha agar tidak terlalu ooc). Semoga saja fanfict ini bisa dinikmati. Funfact, aku ngerjain ini rush in dan no revisi;( ngga sempat, serius. Also, smoga ao3 curse tidak mendatangiku<3