Chapter Text
Aroma Kementerian Sihir setelah perang selalu sama: perkamen tua, debu mantra yang hangus, dan ketakutan yang dingin. Namun, bagi siapa saja yang berdiri di koridor lantai dua—Markas Besar Auror—aroma itu digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih intimidatif. Aroma ozon yang tajam, besi, dan sihir hitam yang pekat.
Itu adalah aroma milik Harry James Potter.
Pintu ganda mahoni yang menuju ke kantor Direktur Auror terbuka tanpa suara. Dari dalam, melangkah keluar sesosok pria yang membuat seluruh ruangan yang tadinya bising mendadak senyap. Harry James Potter tidak lagi menyerupai bocah laki-laki kurus dengan kacamata bulat yang pernah dipuja sebagai 'Anak yang Bertahan Hidup'. Perang, waktu, dan kebangkitan batinnya sebagai seorang Dominant Alpha Prime telah mengubahnya menjadi sesosok tiran.
Fisiknya teramat tampan, rupawan bak pahatan dewa kuno yang kejam. Rambut hitamnya yang dulunya berantakan kini dipotong rapi, membingkai wajah dengan rahang tegas dan tatapan mata hijau sepekat kutukan kematian—Avada Kedavra. Di usianya yang teramat muda, dia telah menduduki posisi tertinggi di departemen penegakan hukum. Dia dingin, sadis dalam mengesekusi musuh-musuh Kementerian, dan tak tersentuh oleh emosi manusia biasa. Julukan 'Tyrant' melekat padanya bukan sebagai ejekan, melainkan sebagai pengakuan atas kekuasaannya yang mutlak.
"Laporan interogasi dari sel bawah tanah, Sir," seorang Auror senior menyerahkan selembar perkamen dengan tangan yang sedikit gemetar. Pria paruh baya itu bahkan tidak berani menatap langsung netra hijau Harry. Tekanan feromon Alpha milik Harry terlalu mencekik, mendominasi setiap jengkal udara di koridor.
Harry mengambil perkamen itu tanpa ekspresi. Matanya memindai baris demi baris kata dengan cepat. "Katakan pada tim interogasi," suara Harry rendah, berat, dan memiliki getaran bariton yang mengirimkan rasa dingin ke sumsum tulang siapa pun yang mendengar. "Jika besok pagi mereka belum mendapatkan nama-nama jaringan penyelundup itu, aku sendiri yang akan turun ke sel. Dan kau tahu apa artinya itu."
"B-Baik, Direktur!" Auror itu membungkuk cepat dan segera mundur, seolah-olah baru saja lolos dari kandang naga.
Harry tidak peduli. Dunia sihir ini cacat, hancur oleh perang, dan hanya tangan besi yang bisa menahannya agar tidak runtuh sepenuhnya. Dia membalikkan tubuh, jubah hitam panjangnya berdesir elegan saat dia berjalan menuju perapian khusus di kantor pribadinya. Dia meraih segenggam bubuk Floo, melemparkannya ke dalam api hijau, dan menyebutkan tujuannya dengan artikulasi yang sempurna.
"Potter Manor."
Dalam sekejap mata, tekanan udara berubah. Bau darah dan mesiu dari Kementerian lenyap, digantikan oleh keheningan Potter Manor yang megah namun sepi. Harry melangkah keluar dari perapian marmer hitam di aula utama. Secara insting, dia langsung menekan feromon Alpha-nya yang agresif hingga ke titik terendah. Dia sengaja melakukannya. Bukan karena dia melunak terhadap dunia, melainkan karena dia tahu, di dalam rumah ini, ada mahluk yang terlalu rapuh untuk menahan beban sihirnya.
Aroma vanilla manis yang bercampur dengan keharuman bunga lili segar segera menyapa indra penciumannya. Itu adalah aroma feromon milik Submissive Omega Prime-nya.
Suara langkah kaki kecil yang tergesa-gesa terdengar dari arah koridor samping. Tak lama kemudian, sesosok pemuda mungil muncul.
Draco Lucius Malfoy—yang kini secara hukum bernama Draco Potter—berdiri di sana. Penampilannya adalah antipode dari segala hal yang diwakili oleh Harry. Draco teramat cantik, dengan kulit seputih porselen, helai rambut pirang platinum yang selembut sutra, dan mata abu-abu besar yang memancarkan kepolosan yang membingungkan bagi seseorang yang tumbuh di tengah keluarga Malfoy.
Sore ini, Draco mengenakan gaun pendek bergaya vintage berwarna pink pastel. Di bagian hem bawah gaunnya, terdapat sulaman gambar kelinci-kelinci putih kecil yang sedang melompat. Gaun itu mengekspos tungkai kakinya yang ramping dan mulus. Draco menyukai pakaian-pakaian seperti ini—lembut, lucu, dan feminin—sesuatu yang dulunya dilarang keras oleh Lucius Malfoy yang menginginkan putranya menjadi Alpha pewaris tunggal yang kaku.
Di tangan Draco yang mungil, terdapat sebuah kemoceng bulu ayam berwarna putih.
"H-Harry..."
Cicitan lembut itu keluar dari bibir merah muda Draco. Tubuh mungil itu sempat tersentak kecil ketika melihat sosok tinggi besar Harry yang dibalut pakaian hitam. Itu adalah refleks traumatis yang belum bisa hilang sepenuhnya. Namun, alih-alih berlari menjauh seperti yang dilakukan orang-orang di Kementerian, Draco justru melangkah mendekat. Langkahnya pelan, ragu-ragu, dengan jemari tangan yang saling bertautan cemas di depan dada.
Sejak kecil, Draco mengalami penyiksaan mental dan tekanan berat dari orang tuanya untuk menyembunyikan identitas aslinya sebagai Omega Prime. Dampaknya tragis; Draco mengalami keterbatasan berbicara. Pikirannya sering kali bekerja terlalu cepat atau terlalu lambat, membuat kata-kata tersangkut di benaknya. Ketika dia berbicara, kalimatnya akan keluar terbata-bata, terputus-putus, menyerupai cara bicara anak kecil yang baru belajar mengeja dunia.
"P-Pulang... s-sudah... m-makan?" Draco mendongak, menatap Harry dari balik bulu matanya yang lentik dan panjang. Netra abu-abunya berkedip polos, penuh harap.
Harry menatap Omega di depannya. Wajah sang Direktur Auror tetap datar, sedingin es, tanpa ada kehangatan yang kasat mata. Namun, netra hijaunya memperhatikan setiap detail kecil pada diri Draco—memastikan tidak ada luka baru, memastikan Omega itu tidak kedinginan.
"Sudah, Draco. Aku sudah makan di Kementerian," jawab Harry pendek. Suaranya diusahakan selembut mungkin, meski bagi orang lain itu masih terdengar seperti perintah. "Kenapa kau memegang itu? Di mana Mipsy?"
Mendengar nama house-elf keluarga Potter disebut, Draco mengerucutkan bibirnya sedikit, tampak menggemaskan. "M-Mipsy... n-nakal. D-Draco... b-bisa. B-Bersih... r-rumah. D-Draco... b-bukan... b-pajangan."
Meskipun Potter Manor memiliki belasan house-elf yang bisa membersihkan seluruh kastel dalam sekejap mata, Draco selalu menolak untuk diam. Dia memilih menjadi seorang housewife. Dia akan menghabiskan waktu berjam-jam membaca buku fiksi di perpustakaan, mengelap vas-vas kristal yang sebenarnya sudah bersih, atau menyibukkan diri di halaman. Sesuatu di dalam jiwanya yang rusak merasa bahwa jika dia tidak berguna, dia akan dibuang lagi.
Harry menghela napas pelan, seutas gerakan yang hampir tak terlihat. "Kembali ke kamarmu jika kau lelah, Draco. Kau tidak perlu bekerja."
"T-Tidak... D-Draco... t-tanam... b-bunga," Draco berbalik sedikit, menunjuk ke arah jendela besar yang menghadap ke halaman depan manor dengan penuh semangat. Di luar, di bawah sinar matahari senja yang keemasan, terlihat petak-petak tanah yang tertata rapi. "U-Untuk... M-Mommy... L-Lily... D-Draco... s-suka... l-lili... p-putih."
Harry memandang lurus ke arah halaman luar melalui jendela kaca besar. Bunga lili putih. Draco menanamnya dengan tangan sendiri, mengotori jemari lentiknya dengan tanah, hanya untuk menghormati mendiang ibu Harry yang bahkan belum pernah dia temui. Hati Harry—yang diyakini seluruh dunia telah mati dan membatu—terasa berdenyut samar. Ada rasa hangat yang asing yang mencoba merayap masuk, namun dengan cepat Harry menekannya kembali ke dalam kegelapan batinnya.
"Lakukan sesukamu, Draco. Asalkan kau tidak kelelahan," ujar Harry datar.
Pernikahan mereka tidak didasari oleh cinta. Ini adalah pernikahan terpaksa yang lahir dari salah satu tragedi paling menjijikkan pasca-perang.
Ketika Voldemort jatuh, Lucius dan Narcissa Malfoy mendapati diri mereka berada di ambang kehancuran. Kekayaan mereka disita, nama mereka tercemar, dan bayang-bayang sel Azkaban menanti. Dalam keputusasaan yang gila, Lucius menemukan bahwa Draco—putra yang selama ini dipaksanya meminum ramuan penekan feromon agar terlihat seperti Beta atau Alpha mandul—ternyata adalah seorang Submissive Omega Prime yang sangat langka dan murni.
Bagi Lucius, Draco bukan lagi seorang putra. Draco adalah komoditas.
Demi membeli kebebasan mereka dan mengamankan jalur pelarian ke luar negeri, Lucius dan Narcissa menjual Draco ke pasar gelap (Black Market) sihir tingkat tinggi. Mereka melelang kesucian putra mereka sendiri kepada para penyihir Pureblood tua yang kaya dan hidung belang untuk dijadikan pelacur mewah atau pemuas nafsu. Draco yang sejak kecil dididik untuk selalu patuh dan telah hancur secara mental, hanya bisa pasrah. Dia menerima nasibnya untuk dirantai di sebuah ruangan gelap, menunggu siapa pun yang membayar paling tinggi untuk menghancurkannya.
Namun, sebelum pelelangan itu selesai, informasi tersebut sampai ke telinga Regulus Black dan Severus Snape-Black. Pasangan Alpha dan Omega yang berhasil bertahan hidup dari perang itu selalu menganggap Draco sebagai anak mereka sendiri di masa lalu. Dalam keputusasaan karena tidak memiliki kekuatan politik yang cukup untuk melawan hukum pasar gelap internasional sendirian, Regulus dan Severus mendatangi satu-satunya pria yang memiliki kuasa mutlak atas hukum sihir saat itu: Harry Potter.
Harry masih ingat malam itu. Severus Snape, pria yang paling sinis yang pernah dikenalnya, berlutut di lantai kantornya bersama Regulus Black. Mereka memohon, menangis, meminta Harry menyelamatkan Draco dari tangan Lucius dan Narcissa.
“Tolong dia, Potter... Dia tidak tahu apa-apa. Dia anak yang tidak berdosa yang dihancurkan oleh ambisi orang tuanya,” ratap Severus malam itu.
Harry, yang memiliki rasa hormat mendalam pada Severus atas pengorbanannya dalam perang, akhirnya setuju. Menggunakan posisinya sebagai Direktur Auror, Harry memimpin penggerebekan besar-besaran di pasar gelap tersebut. Dia menghancurkan tempat itu, menyeret para pembeli ke penjara, dan secara pribadi memotong rantai sihir yang mengikat pergelangan tangan Draco yang gemetar.
Untuk memastikan tidak ada satu pun mahluk di dunia sihir yang bisa mengklaim atau menyentuh Draco lagi, Harry mengambil langkah paling ekstrem: dia menikahi Draco. Menjadikannya sebagai Omega sah dari seorang Alpha Prime yang paling ditakuti. Lucius dan Narcissa Malfoy akhirnya ditangkap atas dakwaan perdagangan manusia dan pengkhianatan tingkat tinggi, membusuk di sel Azkaban yang paling bawah tanpa ada kesempatan untuk melihat matahari lagi.
Harry tidak membenci Draco atas apa yang terjadi. Dia menerimanya di rumahnya, memberi Draco perlindungan mutlak, dan mentoleransinya sebagai teman satu rumah. Harry menganggap ini adalah tugasnya, sebuah tanggung jawab moral untuk menjaga mahluk yang telah kehilangan segalanya.
"D-Draco... b-buat... t-teh... H-Harry... m-mau?" tanya Draco memecah keheningan. Senyum polos dan tulus terukir di wajah cantiknya. Penampilannya dalam gaun pink berkelinci itu, dengan jemari yang masih memegang kemoceng bulu, tampak teramat kontras dengan suasana gelap yang biasanya melingkupi hidup Harry.
"Ya. Buatkan teh," jawab Harry pelan.
Draco mengangguk riang. Dia berbalik dan melangkah setengah berjinjit menuju dapur kastel, mengabaikan fakta bahwa Mipsy sang house-elf sudah mulai menangis di sudut ruangan karena tugasnya direbut lagi oleh sang nyonya manor.
Harry memperhatikan siluet ramping Draco yang menghilang di balik pintu kayu besar. Setelah memastikan Draco benar-benar pergi, Harry perlahan melepas jubah Auror-nya yang berat dan berbau besi darah. Dia melemparkannya ke atas sofa, lalu melonggarkan dasinya, menggulung lengan kemeja hitamnya hingga ke siku, menampilkan otot-otot lengannya yang kokoh dan dipenuhi beberapa bekas luka perang.
Dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi di aula besar, memejamkan mata hijaunya yang lelah.
Perlahan tapi pasti, aroma manis vanilla dan keharuman bunga lili segar yang menguar dari dapur mulai memenuhi indra penciumannya yang tajam. Aroma itu dengan lembut mengusir sisa-sisa kegelapan, ketegangan, dan bau darah yang seharian ini melekat di kepalanya akibat tugas-tugas kejam di Kementerian.
Harry James Potter mungkin adalah seorang tiran yang berdarah dingin, kejam, dan ditakuti oleh seluruh dunia sihir di luar sana. Namun di balik dinding kokoh Potter Manor ini, di hadapan seorang Omega kecil yang lambat bicara dan gemar mengenakan gaun merah muda bergamabr kelinci, sang Tiran tahu... dia telah menemukan satu-satunya suaka yang mampu menenangkan jiwanya yang bergemuruh.
